• Tidak ada hasil yang ditemukan

2621-1130 ISSN (Online)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "2621-1130 ISSN (Online)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

(2)

ISSN (Cetak) : 2621-1130 ISSN (Online) : 2621-1149

(3)

EDITORIAL TEAM Ketua Penyunting

Masykur Arif, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep Penyunting Pelaksana:

Syafiqurrahman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Penyunting:

Abd. Warits, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Mohammad Takdir, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Ach. Maimun, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Fathor Rachman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Moh. Wardi, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nahzatut Thullab, Sampang.

Moh. Dannur, Institut Agama Islam (IAI) ِAl-Khairat, Pamekasan.

IT Support:

Faizy, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep, Indonesia Alamat Redaksi: REDAKSI JPIK

Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D)

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)

Jl. Bukit Lancaran PP.

Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep 69463 Email:

[email protected] Website:

http://jurnal.instika.ac.id/index.php/jpik

Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Jawa Timur, Indonesia. Terbit 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Maret dan September. Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman menerbitkan hasil penelitian, baik penelitian pustaka maupun lapangan, tentang filsafat dan pemikiran serta ilmu-ilmu keislaman meliputi bidang kajian pendidikan Islam, politik, ekonomi syariah, hukum Islam atau fikih, tafsir, dan ilmu dakwah

(4)

ISSN (Cetak) : 2621-1130 ISSN (Online) : 2621-1149

234-354 Kontribusi Pendidikan Pesantren dalam Membentuk Intelektualitas dan Spritualitas Santri

Abbadi Ishomuddin

255-278 Analisis Dampak Maklumat Kapolri Nomor MAK/2/III/2020 terhadap Sektor Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 di Desa Rombiya Timur

Abdul Wahid dan Ach Hamdan

279-300 Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan PSG (Pemulung Sampah Gaul) di SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

Ah Mutam Muchtar dan Masyhuri

301-325 Perkawinan Antar Agama dan Dampaknya Terhadap Psikologi Pendidikan Anak Abdul Halim dan Mohammad Hosnan 326-343 Studi Komparasi Hukum Islam

dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (Human Trafficking)

Moh Jazuli dan A Washil

(5)

344-366 Program Zero Waste Sebagai Implementasi Pendidikan Cinta Lingkungan di PPA Lubangsa Utara Fadhilah Khunaini

367-384 Studi tentang Tujuan Pendidikan Islam Menurut Azyumardi Azra

Mohammad Afnan dan Muhammad Nihwan 385-405 Urgensi Pendidikan Islam Tradisional Dalam

Menciptakan Manusia Ideal Moh. Naqib dan A. Faisol Rizal

406-425 Analisis terhadap Pemikiran Ahmad Baso tentang Penyemaian Pendidikan Karakter di Pesantren M Faizi dan Yondriani Akbar

426-451 Konsep Ulul Al-bab dalam Tafsir Al-Mishbah Dan Pengembangannya dalam Pendidikan Islam Moh. Shalahuddin A. Warits, Moh. Asyari Muthhar, dan Muthmainnah

(6)

ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN AHMAD BASO TENTANG PENYEMAIAN PENDIDIKAN

KARAKTER DI PESANTREN

M Faizi

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep [email protected]

Yondriani Akbar

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep [email protected]

Abstrak

Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) yang secara khusus membahas tentang pemikiran Ahmad Baso tentang Pendidikan Karakter. Dari hasil analisis penulis terhadap buku-buku Ahmad Baso didapat pemahaman bahwa menurut Ahmad Baso, pesantren sejak awal mengedepankan Pendidikan karakter. Pesantren memiliki karakter tersendiri seperti kesederhanaan, kemandirian, dan juga ketaatan kepada guru. Karakter-karakter ini bisa menjadi pembentuk santri yang tidak hanya dalam hal intelektual, tapi terutama dalam hal moral.

Kata Kunci: pesantren, Pendidikan karakter, ahmad baso

Pendahuluan

Pendidikan modern dewasa ini telah dihadapkan pada dilema pendidikan yang amat substansial, yaitu pendidikan hanya menitikberatkan kepada transmisi sains dan mengabaikan pendidikan karakter. Padahal, pendidikan sains yang tidak disertai pembinaan karakter akan membawa proses dehumanisasi yang bagi pembangunan nasional dapat menyebabkan lemahnya dan bahkan hilangnya nilai- nilai patriotisme: cinta Tanah Air, disiplin nasional, rasa kebanggan nasional, dan rasa tanggung jawab nasional. Oleh sebab itu, banyak orangtua memilih pesantren bagi anak-anaknya sebagai alternatif untuk mewujudkan impian mereka, yakni memiliki anak yang melek sains, berakhlak, dan berkarakter.

(7)

Fadhilah Khunaini dan Nailatul Ufa, Analisis Hukum Peralihan Risiko|407

Maka kita, masyarakat Indonesia, boleh saja bangga dengan mengenyam pendidikan ala Barat dan Eropa, kita juga boleh bangga dengan mengenyam pendidikan ala Timur Tengah. Tetapi, kita mesti lebih dari bangga akan mengenyam pendidikan ala Indonesia, adalah tidak lain pendidikan ala pesantren. Oleh karena itu, bagi masyarakat Indonesia yang saat ini sedang studi di Barat maupun di Timur Tengah, adalah hanya sebatas menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Dan mereka setelah selesai menempuh studinya, ke tanah air kita mesti bertitik temu pada karakter nasionalisme bangsa, yaitu tidak lain bangga akan pendidikan pesantren itu sendiri. Maka dari itu, spirit Barat, Eropa, atau Timur Tengah seyogianya menjadi pengokoh bukan peroboh bagi pendidikan nasional kita.

Oleh sebab itu, menjadi menarik untuk kita ungkap tentang bagaimana seharusnya pesantren menjadi pondasi utama untuk menyuarakan ke publik tentang pentingnya pendidikan karakter. Sejak berapa abad yang lalu pesantren telah berrhasil mendidik dan mampu melahirkan anak bangsa yang berkarakter. Serta pesantren mampu menjadi contoh pada lembaga-lembaga yang lain tentang penanaman pendidikan karakter. Sebagai contoh bagi lembaga-lembaga lain dimaksud salah satunya dalam hal empat dasar struktural kepesantrenan sebagaiana disampaikan Ahmad Baso, yaitu roh pesantren sebagai pendidikan kebangsaan, tradisi berguru, nyaantri dan ngaji kitab kuning.1

Kenapa harus pesantren untuk menjadi contoh, sebab hanya pesantren-lah yang mampu menerapkan pendidikan karakter dengan baik.2Pesantren berupaya mengajak anak bangsa ini untuk mandiri tidak hanya dalam persoalan ekonomi dan politik, melainkan juga dalam hal kebudayaan dan kajian-kajian pengetahuan. Dalam bidang

1Ahmad Baso, Pesantren Studies 2b—Kosmopolitanisme peradaban kaum santri di masa colonial--, Juz kedua: Sastra Pesantren dan jejaring Teks-teks Aswaja- Keindonesiaan dari wali Songo ke Abad 19 (Jakarta: Pustaka Afid, 2012), hlm. 233- 234.

2 Ahmad Baso, Pesantren Studies 2a—Kosmopolitanisme peradaban kaum santri di masa colonial--, Juz pertama: pesantren, jaringan pengetahuan dan karakter kosmopolitan-kebangsaannya,(Jakarta: Pustaka Afid, 2013), hlm.

51.

(8)

408 | JPIK Vol. 3 No.2, September 2021: 406-421

kultur, Adinegoro menjelaskan bahwa anak bangsa ini juga harus mempunyai pengetahuan yang dikembangkan—tahu dan berilmu—

menjadi cita-cita awal. Ada kebanggaan tersendiri untuk tahu tentang dirinya sebagai bangsa, punya tradisi sendiri, dan percaya diri bahwa mereka bisa melakukan kajian pengetahuan secara bebas dan mandiri.

Lalu bagaimana untuk mencapai semaksimal mungkin dalam hal penanaman pendidikan karakter? Maka semestinya kita harus memperhatikan bahwa pesantren pertama-pertama hadir sebagai pendidikan keagamaan bagi anak bangsa ini. Misal, yang mereka adopsi adalah pendidikan ala Wali Songo, para ulama waliyullah penyebar Agama Islam di tanah Jawa hingga keberbagai daerah di Nusantara.

Namun, yang menjadi persoalan hari ini adalah pendidikan seperti yang deterapkan para wali atau pada gilirannya pesantren yang mampu menerapkan pendidikan karakter mulai dilupakan. Pendidikan khas pesantren itu mulai terkikis dengan adanya sekolah-sekolah formal. Dalam sekolah formal kita sulit untuk menerapkan pendidikan yang betul-betul mampu “memamusiakan manusia”. Sebab tidak banyak lembaga formal yang mengedepankan pendidikan keagamaan, lebih-lebih lembaga pendidikan negeri, melainkan menomorsatukan pendidikan sains semata. Sehinga tidak heran jika banyak lulusan dari lembaga tersebut, tidak memiliki kemampuan yang cukup, lebih-lebih tidak memiliki nilai moral tinggi.

Jadi, secara tidak langsung dengan adanya lembaga pendidikan formal tersebut kita kehilangan ruh pendidikan pesantren. Nah, dengan demikian maka tugas kita sebagai insan akademik harus mampu untuk menyegarkan kembali pendidikan pesantren yang benar-benar ideal.

Tentu untuk menyuarakan pendidikan pesantren yang kita kenal dengan “pendidikan karakter” harus dimulai dengan tawaran-tawaran dari hasil penelitian, seperti yang kami akan tulis ini.

Berkaitan dengan pendidikan karakter, penulis akan mengungkap pemikiran Ahmad Baso secara teoritis dan praktis.

Sebagaimana mafhum, Ahmad Baso banyak meneliti dan mengkaji tentang pesantren; mulai dari corak, bentuk-bentuk kegiatannya hingga pada out put dari pesantren itu sendiri. Gagasan Baso tentang pesantren

(9)

Fadhilah Khunaini dan Nailatul Ufa, Analisis Hukum Peralihan Risiko|409

tertuang dalam Buku “Pesantren Studies” yang memuat lengkap seputar kepesantrenan.

Di antara gagasan Ahmad Baso ialah mengungkap tentang bagaimana seharusnya menjadi santri; cara berguru; nilai-nilai keteladanan seorang kiai; corak pendidikan pesantren dilengkapi dengan comtoh-contoh kongkretnya, hingga pada bagaimana cara menjaga karakter pesantren agar tidak hilang dalam diri seorang santri.

Singkatnya, dalam jangka panjang, tidak ada istilahnya “alumni santri”, yang ada ialah “alumni yang santri”.

Pesantren dan Pendidikan Karakter

Pesantren sebenarnya berasal dari kata santri, yang kemudian mendapat awalan pe-an sehingga apabila disusun pesantrian, namun dalam tata tulis Jawa huruf /a/ dan /i/ bila bertemu menjadi /e/.

Pesantren artinya adalah kumpulan santri, ada pula yang mengertikan proses menjadi santri (orang yang berbudi luhur). Dalam hal ini, apabila tergabung antara kata “pondok” (dalam bahasa arab berarti

‘tempat tidur’) dan “pesantren” menjadi “pondok pesantren”, maka berarti tempat dari kumpulan santri yang sedang belajar untuk mendapatkan ilmu yang luhur. Tempat dari para santri ini sifatnya sementara waktu, yakni ketika sedang belajar saja. Santri membutuhkan tempat karena mereka berasal dari daerah yang jauh sehingga membutuhkan tempat tersendiri untuk memfokuskan belajarnya.

Pondok pesantren menjadi tempat dari para santri untuk mendapatkan pengetahuan dan ajaran agama dari seorang kiai. Dalam praktek pengajarannya, pondok pesantren memiliki konsep pengajaran agama Islam berdasarkan kepada al-Qur’an dan Hadits, juga kitab- kitab Islam seperti Safinah, Aqa’id, kitab kuning, dan kitab lainnya yang merupakan karya dari tokoh Islam. Di pondok pesantren, membaca al-Qur’an menjadi pembelajaran utama dan dasar bagi seorang santri untuk bisa membaca dengan baik dan benar. Hal ini dilanjutkan dengan pembelajaran lainnya, bahkan ada juga pondok pesantren yang membekali para santri dengan materi umum seperti bertani dan berternak dengan hasil dinikmati bersama saat hari-hari besar saat Mulud dan hari Raya.

(10)

410 | JPIK Vol. 3 No.2, September 2021: 406-421

Pondok pesantren merupakan “agen perubahan” 3 dengan membentuk pelajaran pada santri, maupun masyarakat yang ada di sekitarnya. Masuknya Islam di Nusantara mengerahkan pada tata cara peradaban baru melalui pakaian yang menutup aurat, hidup bersuci, disiplin, cara membangun keluarga, pertanian, peternakan, bahkan hingga pertumbuhan ekonomi. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan memberikan pengaruh yang sangat besar pada pengetahuan masyarakat.

Dalam perkembangan Islam di Nusantara, pesantren memiliki peranan yang cukup penting sebagai agen perubahan dan pembentukan pola fikir masyarakat. Ulama yang datang ke Nusantara mengajarkan Islam dengan memberikan pendidikan dan pemahaman untuk hidup dalam persdaban yang lebih baik. Ulama (baik yang datang dari arab dan Persia, India, Maupun Cina) ternyata banyak membuat pondok pesantren untuk memberikan arahan hidup dalam keimanan dan cara menjalani hidup sehari-hari yang dipenuhi berkah. Dalam fakta sejarah diketahui bahwa syaikh maulanan Malik Ibrahim membangun pesantren dengan mendidik orang-orang disekitarnya untuk mempelajari agama, tata hidup sehari-hari, dan belajar ilmu kanuragan. Hal ini tidak lepas dari konsep ajaran Islam yang sebagai petunjuk sebagaiman tertuang di dalam al-Qur’an dan Hadits, yang ditransformasikan dengan budaya lokal. Boleh dikatakan bahwa pesantren menjadi tempat pencerahana bagi masyrakat dalam jaringan intelektual sehingga menjadi pembaharuan atas dimensi lokal Nusantara.4

Secara sederhana pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerjasama sebagai keluarga, masyarakat dan bernegara, dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Lawrence Kohlberg menyimpulkan hasil

3 Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren –Perhelatan Agama dan Tradisi--, (Yogyakarta: LkiS,) Hlm. 201-208. Dalam bab tersebut Abdurrahman Mas’ud banyak menjelaskan kegigihan KH. Hasim Asy’ari dalam mengembangkan pesantren tebuireng jombang, yang kemudian menjadi inspirasi terhadap beberapa kiai setelah beliau dalam mengelola pesantren meraka. Perubahan yang dilakukan oleh KH.

Hasyim Asy’ari ialah menanamkan nilai-nilai kegamaan pada santri-santrinnya yang kemudian harus diamalkan dalam hidup bermasyarakat.

4 Andik Wahyun Muqoyyidin, “Kitab Kuning dan Tradisi Riset Pesantren di Nusantara” Ibda’; Jurnal Kebudayaan Isalam, Volume 12 Nomor 2, (Juli-Desember 2014), hlm. 119-146.

(11)

Fadhilah Khunaini dan Nailatul Ufa, Analisis Hukum Peralihan Risiko|411

penelitian empiriknya terhadap perkembangan moralitas5 dari berbagai latar belakang agama, yaitu Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, dan Islam, bahwa agama dan institusi agama tidak memiliki pengaruh terhadap perkembangan moral seseorang. Teori yang dihasilkan dikenal dengan teori kognitif-developmental, yaitu 3 (tiga) tingkatan dan 6 (enam) tahapan perkembangan moral yang menegaskan bahwa pada intinya moralitas mewakilil seperangkat pertimbangan dan putusan rasional yang berlaku untuk setiap kebudayaan, yaitu prinsip kesejahteraan dan prinsip keadilan. Pendekatan Kohlberg yang sangat empirik tersebut tidak mempertimbangkan potensi suci (homo devinans and homo religious) yang dimiliki oleh setiap manusia yang sangat berpengaruh dalam proses perkembangan moral dan pembentukan perilaku.

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter di Pesantren

Proses pembelajaran pertama yang diberikan pesantren kepada anak didik adalah dasar-dasar keimanan (tauhid atau rukun iman) dan pelajaran fiqih atau cara-cara menjalankan kewajiban agama (rukun Islam). Maka, tidak heran kalau karakter pertama yang diajarkan dan dicontohkan oleh sang guru kepada santrinya adalah watak alim.

Sebutan “alim” dalam masyarakat bangsa kita menunjukkan bahwa seorang guru, kiai atau ulama mengajarkan sikap-sikap beragama yang buka sekedar teori, tapi juga contoh, amalan, dan suri tauladan. Sang kiai menjadi pembimbing para santri dalam segala hal, yang mendampingi para santri selama 24 jam sehari. Sehingga kaum santri menyaksikan sendiri di depan matanya contoh-contoh yang baik dari gurunya, yang kemudian secara langsung—tanpa instruksi atau paksaan—mengikuti sendiri amalan-amalan yang baik itu.6

Lebih dari itu, amalan-amalan keagamaan juga dirasakan makin sempurna dengan mengikuti contoh ideal pelaksanaannya oleh sang

5 A. Mafudz Anwar Dkk, Pendidikian Karakter; Pendidikan Menghidupkan Nilai untuk Pesantren, Madrasah, dan Sekolah, (Jakarta: The Asia Oundation, Yayasan Paramadina, dan Association for living Values Education [ALIVE], 2015) Indonesia, hlm. 82.

6 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren –Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai--, (Jakarta:LP3ES, Anggota IKAPI, 1982), hlm. 171-174.

(12)

412 | JPIK Vol. 3 No.2, September 2021: 406-421

kiai. Seperti halnya cara Rasulullah sahallahu alaihi wasallam mengajarkan ibadah shalat kepada para sahabatnya dengan

“memperbanyak melihat cara Nabi melakukannnya”. Demikian pula yang ditunjukkan oleh sang kiai dalam mengajarkan amalan-amalan keagamaan sehari-hari. Intinya, makin banyak melihat sang guru—

artinya, berinteraksi secara rapat dengannya dan tidak menjauh—akan makin sempurna pelaksanaan ibadah tersebut. “Adat kalakoean sang goeroe di dalam hidoepnya sehari-hari jang penoeh dengan kedjoedjoeran dan kesoetjian itoe, mempengaruhi djuga atas sikap kehidoepan, levenshouding-nja, moerid-moeridnja”, demikian yang ditulis Dokter Soetomo tentang pengajaran pesantren.

Jadi, kehidupan sehari-hari, amalan beserta sikap sang kiai lalu menjadi pedoman, dan bukan sekedar retorika. Sang kiai menjadi cermin dimana sang santri mengamati karakter idealnya. Dan watak

“alim” adalah tipikal cerminan ideal tersebut. Dan karakter ke-alim-an yang paling tinggi di mata orang-orang pesantren adalah sikap ikhlas dan wara.7

Proses belajarnya santri kepada kiai dengan cara senantiasa mengikuti keteladanannya setiap hari, merupakan sebuah pembelajaran yang efektif. Dalam hal ini, orang-orang jawa menyebutnya dengan

nderek simbah” atau “nderek kiai”. Sementara di kalangan masyarakat Bugis, dikenal ungkapan “gutta mato” (senantiasa mengikuti petunjuk sang guru-ulama). “Nderek kiai” atau “gurutta mato” adalah satu cara pesantren membentuk kepribadian kaum santri.

Karena praktik latihan dan proses berguru itu tidak dilakukan dengan cara duduk di dalam kelas dengan jadwal-jadwal pasti. Pesantren dan proses berguru di sana merupakan sebuah proses bermasyarakat, satu cara menjalani kehidupan di dunia ini sebagai persiapan menuju ke gerbang akhirat.

Pembelajaran “nderek kiai” atau “gurutta mato” berjalan dan berlangsung mengalir, tanpa ada pengarahan dari sang guru. Seorang guru tidak memberitahu apa yang mesti dikerjakan, namun ia akan

7 Ahmad Baso, Pesantren Studies 2a, (Jakarta: Pustaka Afid, 2013), hlm. 56- 57.

(13)

Fadhilah Khunaini dan Nailatul Ufa, Analisis Hukum Peralihan Risiko|413

menegur jika terdapat kesalahan dan kekeliruan. Seluruh elemen pesantren saling berinteraksi dan kemudian membentuk satu kesatuan dalam proses tanpa ada pengarahan dan rencana sebelumnya, dalam artian semuanya dilaksankan secara bersama-sama dalam proses. Dan itulah arti bermasyarakat dalam ungkapan “nderek kiai” atau “gurutta mato”. Seperti halnya proses menuntut ilmu pada kiai-ulama tidak akan berhenti, bahkan untuk meminta bacaan dan aji-aji sekalipun, proses berkebudayaan dan bermasyarakat juga tidak akan pernah berhenti. Tradisi dan paktik kebudayaan mereka—dalam lingkup tradisi pesantren—lahir setiap hari, setiap kali dipentaskan dan dipanggungkan, dihadirkan, diinvensi. Segalanya menjadi baru dan aktual, karena secara spiritual ada usaha untuk melakukan adaptasi, aktualisasi, dan interpretasi. Dalam tradisi pesantren dikenal tiga unsur pokok basisnya yang melanggengkan proses berguru dan bermasyarakat tersebut: desa, kitab kuning dan rumah kiai-masjid- pondok. Singkatnya, filosofi “nderek kiai” atau “gurutta mato”

menegaskan satu prinsip panutan hidup, yang sekaligus merupakan jiwa kebudayaan dan kemasyarakatan kaum pesantren.

Karakter berguru ini muncul misalnya dalam sosok pangeran Diponegoro selama nyantri di Tegalrejo, Yogyakarta, di tahun 1990- an. Seperti yang ia tulis dalam Babat Dipanagara: “Untuk meniru apa yang dilakukan oleh para ulama, kami kerapkali pergi ke Pasar Gede [kini Kota Gede], Imogiri (Jimatan), Guwa Langse dan Selarong.

Apabila ke Pasar Gede dan Imogiri, kami biasa berjalan kaki. Tapi apabila ke Guwa Langse dan Selarong, kami naik kuda dengan banyak pengiring. Di kedua tempat terakhir ini, kami sering menolong petani menuai atau menanam padi. Memang semestinya para pembesar menyenangkan hati rakyat kecil.

Jadi, berguru atau “nderek kiai” harus memastikan tercapainya pendidikan karakter yang ideal di mata kalangan santri dan mustami’- nya. Di sana tradisi digerakkan, diamalkan, hingga ditampilkan di depan khalayaknya.8

Berguru, “nderek kiai” atau “guratta mato”, dengan demikian, adalah sebuah usaha untuk hidup bersama tradisi. Bukan mengartikan

8 Ibid., hlm. 60.

(14)

414 | JPIK Vol. 3 No.2, September 2021: 406-421

tradisi sebagai mumi atau fosil yang mati, tapi sesuatu yang hidup, tumbuh dan menjadi bagian dari masa kini. Maka dalam konteks nyantri ini, sang guru hadir seperti halnya sutradara. Di dalam sebuah kelompok yang menonton sebuah pertunjukan, sutradara adalah seorang pencipta. Dia menciptakan dirinya lewat pemain dan segala sesuatu yang nampak dalam tontonan. Dan tontonan yang kemudian dinikmati oleh penonton adalah ciptaan dari berbagai pribadi pemain, namun pada akhirnya adalah suara jiwa langsung dari sang sutradara, sang ideolog yang memainkan peran—dan itu adalah kiai—ulama.

Seperti inilah lakon yang dimainkan sang kiai sebagai ideolog, yang menggerakkan tradisi, sekaligus mentradisikan gerakan. Masing- masing santri dan komunitas pesantren menjalankan peranannya, tapi ruh dari lakon itu adalah tetap berasal ari sang guru.

Metode pembelajaran penyemaian karakter tidak hanya fokus pada proses nyantri dan bermukim di pesantren, dan tidak juga melalui pergaulan sehari-hari dengan ulama atau nderek kiai. Prosesnya, seperti jaman dulu, para ajar berguru dalam situasi-situasi khusus, dalam momen krusial, dimana sang kiai-ulama diharapkan kehadirannya. Bisa juga dengan cara sowan, berdiskusi serta meminta pendapat atau nasihat dari para kiai-ulama-ideolog. Dalam istilah jawa, hal demikian dinamakan “jejer pandita”. “Jejer pandita” berarti audiensi, silaturrahim atau sowan pada seorang ulama, guru atau kiai.9 Dalam ha ini, para kiai-ulama menempati posisi sebagai ideolog- agamawan yang memberikan petuah dan nasihat kepada para ajar (santri).

Implementasi Pendidikan Karakter di Pesantren

Menurut Ahmad Baso, implementasi pendidikan karakter ialah terletak pada kemandirian dan kesederhaan. Di pesantren sikap mandiri tidak hanya menjadi gagasan, melainkan benar-benar dipraktikkan.

Sebagai salah satu lemabag pendidikan islam di indonesia, pesanrtren memberikan perhatian penting terhadap nialai dan praktik

9 Ibid., hlm. 72

(15)

Fadhilah Khunaini dan Nailatul Ufa, Analisis Hukum Peralihan Risiko|415

kemandirian. Para santri sejak dini dididik untuk menjadi pribadi yang mandiri aagar bertanggung jawab terhdap apa yang dilakukan dan masa depan kehidupannya. Masa-masa penanaman kemandirian di pesantren inilah yang sering kali disebut banyak kalanbgan memberikan kontribusi pada pembentukan kepribadian manusia yang bertanggung jawab.

Potret dari kemandirian di pondok pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta misalnya, dapat diketengahkan sebagai salah satu contohnya. Di pondok pesantren ini, kemandirian santri atau siswa MASPA (Madrsah Aliyah Sunan Pandanaran) ditanamkan melalui pemberian kewenangan untuk mengelola organisasi. Baik inttra sekolah seperti OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) maupun ekstra sekolah seperti IPNU (Ikatan pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan pelajar Putri Nahdlatul Ulama). Organisasi-organisasi ini tidak saja ditujukan untuk memepersiapkan santri atau siswa agar bertanggung atas sikap, keputusan dan tindakan yang dipilihnya, tetapi juga sebagai wahana pendewasaan yang mandiri.10

Selanjutnya, pengalaman berorganisasi menjadi rujukan bagi santri atau siswa dalam mengambil keputusan dan merespon berbagai persoalan. Menurut pengasuh pesantren ini, KH. Mu’tashim Billah, kemandirian sangatlah penting. Terlebih orang tuanya, KH. Mufid, mengamanatkan agar tidak meminta bantuan terkecuali jika bantuan tersebut datang dengan sendirinya kepesantren ini. Meskipun berpegang pada amanah ini, perkembangan pesantren cukup pesat baik dari segi fisik maupun capaian prestasi anak didiknya.

Praktik kemandirian juga menjadi perhatian di pesantren Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon. Dalam kesempatan wawancara, KH.

Marzuki Wahid, salah satu pengasuh pondok pesantren tersebut menjelaskan bahwa kemandirian tidak hanya diajarkan kepada santri melalui kitab kuning, namun juga memlalui pembelajran secara mandiri dan keeteladanan para pengasuh yang lebih mengutamakan

10 A. Mafudz Anwar Dkk, Pendidikian Karakter; Pendidikan Menghidupkan Nilai untuk Pesantren, Madrasah, dan Sekolah, (Jakarta: The Asia Oundation, Yayasan Paramadina, dan Association for living Values Education [ALIVE]) Indonesia, hlm. 211-218.

(16)

416 | JPIK Vol. 3 No.2, September 2021: 406-421

prinsp swadaya dalam membangun dan mengembangkan pondok pesantren. “kemandian adalah suatu yang penting untuk membina kepribadian yang tangguh dan siapm pakai, ini yang kami tanamkan kepada para santri agar mereka lebih siap saat terjun ditengah masyarakat, termasuk menghadapi berbagai tantangannya, bukan menjadi pribadi yang cengeng,” katanya.

Bentuk Penyemaian Pendidikan Karakter di Pesantren

Bentuk-bentuk penyemaian atau penanaman pendidikan karakter;11 seperti penaman kesederhanaan, kemandirian, kedisiplinan dan lain sebagainya dilakukan dengan cara disampainkan dalam bentuk pengajian dan pada praktiknya dilakukan dengan acara memberikan contoh-contoh, yang dalam hal ini dilakukan seorang kiai.

Dalam sebuah pesantren seorang kiai dituntut untuk pandai (alim) dalam memberikan atau menyampaikan ilmu pengetahuan pada santri, kemudian pengetahuan (ilmu) tersebut harus benar-benar dipraktikkan dalam kehidupannya sehari-hari. Adanya pengamalan-pengamalan ilmu dari seorang kiai itu ialah sebagai media keteladanan bagi santri yang didiknya.

Berkenaan dengan penanaman pendidikan karakter di pesantren, Ahmad Baso banyak menyinggung dalam bentuk pengajian-pengajian kitab klasik. Dengan dilaksankannya pengajian kitab-kitab klasik tersebut merupakan media pembelajaran praktis dalam mentransmisikan ilmu-ilmu keagamaan. Nilai etis dengan adanya pengajian kitab-kitab klasik ialah sebagai corak pendidikan pesantren yang syarat dengan nilai. Ahmad Baso sangat mengapresiasi terhadap pengajian-pengajian keagamaan dengan melalui kitab-kitab klasik, karena semua disiplin keilmuan pesantren; karakter pesantren dapat terungkap [tertuang] dalam sistem pengajian itu sendiri.

Salah satu bukti bahwa pengajian kitab klasik menjadi pondasi utama survivalitas pendidikan pesantrten sayarat dengan nilai ialah karena semua ilmu baik yang berifat teoritis maupun praktis bersumber

11 Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 48-50.

(17)

Fadhilah Khunaini dan Nailatul Ufa, Analisis Hukum Peralihan Risiko|417

dari kitab klasik.12 Atau bahkan semua pengetahuan yang bersifat duniawi dan ukhrawi baik dalam study bersosial [berhubungan sesama manusia], maupun tata cara beribadah [dalam berhubungan dengan tuhan] semuanya diajarkan dalam kitab kalsik.

Ada beberapa alasan dan bukti kongkret dari pemikiran Ahmad Basoh bahwa ngaji kitab merupakan sesuatu yang signifikan dalam menanankan pendidikan karakter ialah menceritakan sejarah peradaban Banten:

“Ngaji kitab juga mengarahkan perhatian kita pada salah satu karakter Din Arap Jawi ini. Ini seperti dikisahkan dalam sejarah Banten. Utusan kesultanan Banten berangkat ke Mekah, dan bertemu dengan Syarif Mekah Zaid (1631-1666). Dalam teks disebut “Sultan Sarip Jahed”. Selain mengurus soal pemberian gelar sultan kepada raja Banten, utusan itu juga membawa tiga buah kitab (Markum, Mantahi, dan Wujudiyah) untuk memperoleh penjelasan dari ulama Al- Haramain. Ini terjadi sekitar tahin 1633-1634.” 13

Walaupun demikian, tidak semua kisah inspiratif dan agamis seperti di atas dapat dibenarkan, akan tetapi harus jelas silsilah keilmuan yang akan disampaikan itu, serta siapa pula yang menyampaikannya. Dalam artian, semua kitab yang dijadikan sumber pengetahuan itu harus jelas sanadnya, sebab tidak semua kitab klasik memuat pengetahuan [ajaran islam moderat; koherensip].14 Dalam pembahasan keilmuan ini, Ahmad Baso membatasi rujukan yang dapat dijadikan dasar dengan batasan mu’tabarah.15

Jadi, sistem ngaji kitab di pesantrten, tidak semua kitab bisa dipelajari melainkan ada peringkat-peringkat tertentu yang memang sudah teruji kebasahannya. Dengan beberapa kitab pilihan yang telah

12 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren –Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai--, (Jakarta: LP3ES, Anggota IKAPI, 1982), hlm. 50-60.

13 Ahmad Baso, Pesantren Studies 2a…, hlm. 156.

14 Achmad Muhibbin Zuhri, Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari tentang Ahl Al- Sunnah wa Al-Jamaah, (Surabaya: Khalista Surabaya, 2010), hlm. 61-65.

15 Kitab-kitab mu’tabarah dalam mengkaji ilmu-ilmu [ajaran-ajaran islam]

penting diperhatikan dalam rangka menjaga terhadap teks-tek otoritaif yang telah diyakini kebsahannya. Orentasi dengan dengan sikap komitmen terhadap kitab mu’tabarah itu ialah sebagai upaya kehati-hatian kita pada silsilah keilmuan yang diakui dan diyakini keberannya dalam jangka masa panjang.

(18)

418 | JPIK Vol. 3 No.2, September 2021: 406-421

menjadi rujukan utama santri di pesantren-pesantrten seharusnya dipelajari [dikaji] dengan baik. Bagi Ahmad Baso, ngaji kitab seharusnya dipahami dan dilakoni dengan beragam cara, beragam teknik dan strategi. Tetapi yang lebih relevan dan penting juga ditelaah ialah bagaiman tradisi ngaji kitab ini membentuk peradaban suatu negeri dan mewarnai karakter kebudayaan atau cultur-nya. Kasus Banten, dari komunikasi kraton hingga pesantren di pedalaman, memberi kita pelajaran bagus, bahwa ngaji kitab tidak sekedar ngaji lalu tamat pada satu kitab, setelah itu selesai.

Pengalaman ulama dan peantren Banten dala ngaji kitab membantu kita memahami bagaimana praktik-praktik ini di kalangan pesantren dan mustami’-nya di seluruh pelosok Nusantara.

Memperkaya hakikat keislaman Ahlus sunnah Wa Al-jamaah (Aswaja) maupun wawasan ke-Nusantara-an mereka. Pada kalangan ulama dan santri, ngaji kitab ikut menjaga dan memelihara tradisi “sunnah”, cara beragama Aswaja (istilah kaum orentalis,”ortodoksi”).16 Sementara pada mustami’ pesantren, ngaji kitab membantu memperkuat pilar- pilar “jamaah”, yakni wawasan kebangsaan mereka yang diikat oleh simpul-simpul ke-Aswaja-an tadi. Jadi, dengan adanya tradisi ngaji kitab di pesantren dapat melahirkan generasi bangsa berkarakter. Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa semua karakter pendidikan pesantren; pendidikan berbasis nilai bersumber dari sistem ngaji kitab.

Namun yang perlu bedakan dalam sistem ngaji kitab, seperti yang disampaikan di atas tadi yakni ngaji kitab mu’tabarah dan ngaji kreatif yang bebas atas kitab mu’tabarah.

Simpulan

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pesantren menurut Ahmad Baso merupakan tempat yang bagus untuk penyemaian Pendidikan karakter. Sejak awal, pesantren memiliki nilai- nilai Pendidikan karakter yang khas seperti kemandirian, kesederhanaan, ketaatan kepada guru dan lainnya. Karenanya

16 Ahmad Baso, Pesantren Studies 2a…, hlm. 164.

(19)

Fadhilah Khunaini dan Nailatul Ufa, Analisis Hukum Peralihan Risiko|419

pesantren merupakan temapat yang ideal untuk penyemaian Pendidikan karakter santri sehingga bisa terbentuk santri yang memiliki kecerdasan intelektual disertai dengan keunggulan moral.

Daftar Pustaka

Baso, Ahmad, Pesantren Studies 2a—Kosmopolitanisme peradaban kaum santri di masa colonial--, Juz pertama:

Pesantren, Jaringan Pengetahuan Dan Karakter Kosmopolitan-Kebangsaannya,Tangerang Selatan: Pustaka Afid, 2013.

Baso, Ahmad, Agama NU untuk NKRI, Tengerang Selatan:

Pustaka Afid, 2013.

Baso, Ahmad, Pesantren Studies 2b—Kosmopolitanisme Peradaban Kaum Santri di Masa Kolonial--, Juz kedua:

Sastra Pesantren dan jejaring Teks-teks Aswaja- Keindonesiaan dari wali Songo ke Abad 19, Jakarta:

Pustaka Afid, 2012.

Baso, Ahmad, Pesantren Studies 4a buku IV –Khittah Republik Kaum Santri dan Masa Depan Ilmu Politik Nusantara: Juz Pertama, Akar Historis dan Fondasi Normatif Ilmu politik- kenegaraan Pesantren, Jaringan dan Pergerakannya se- Nusantara Abad 17dan 18, Tangerang Selatan: Pustaka Afid, 2013.

Darmaningtyas, Pendidikan yang memiskinkan, Yogyakarta:

Galang Press, 2004.

Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren; Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES, Anggota IKAPI, 1982.

Djaali, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

(20)

420 | JPIK Vol. 3 No.2, September 2021: 406-421

Hadi, Sutrisno, Metodologi Riset, Yogyakarta: Yayasan Fakultas UGM, 1984.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta:

Rakesarasin, 1996.

Mas’ud, Abdurrahman, Intelektual Pesantren; Perhelatan Agama dan Tradisi, Yogyakarta: LKiS. 2004.

Purwati, Eni, Dkk, Pendidikan Karakter; Menjadi Berkarakter Muslim dan Muslimah Indonesia, Surabaya: Kopertais Press, 2012.

Syarbini, Amirullaoh, Buku Pintar Pendidikan Karakter;

Panduan Lenkap Mendidik Karakter Anak di Sekolah, Madrasah, dan Rumah, Jakarta: Prima Pustaka, 2012.

Tim Penulis Rumah Kitab, Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren, Jakarta: Rumah Kitab, 2014.

Uniarso dan Zamroni, Pendidikan pembebasan dalam Perspektif Barat dan Timur, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.

Wahid, Abdrurrahman, Menggerakkan Tradisi, Yogyakarta:

LkiS, 2010

Warsito, Hermawan, Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta:

PT. Gramedia Pustaka Utama, 1997.

Wiyani, Novan Ardy, Pendidikan karakter berbasis Iman dan Taqwa, Yogyakarta: Penertbit teras, 2012.

Zuhri, Achmad Muhibbin, Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari

tentang Ahl Al-Sunnah wa Al-Jamaah, Surabaya: Khalista

Surabaya, 2010.

(21)

Fadhilah Khunaini dan Nailatul Ufa, Analisis Hukum Peralihan Risiko|421

Referensi

Dokumen terkait

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan, salah satunya didukung oleh kurikulum yang berperan sebagai motor penggerak dalam melaksanakan pendidikan. Pada

Ilah-ilah ini pada umumnya diyakini sebagai roh para leluhur yang datang kembali ke dunia (seringkali disebut Nanyu). Selain itu dapat juga merupakan roh yang da- tang

Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan salah satunya didukung oleh kurikulum yang berperan sebagai penggerak dalam melaksanakan pembelajaran. Pada umumnya

Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan salah satunya didukung oleh kurikulum yang berperan sebagai penggerak dalam melaksanakan pembelajaran. Pada umumnya

Pondok pesantren Modern Darul Hikmah berada di tengah masyarakat yang beragam, dan sebagai lembaga pendidikan dan dakwah pondok pesantren ini ikut berperan dalam mengelola

Sebagai contoh, dengan adanya fenomena menjamurnya lembaga non struktural, nantinya perlu dipilah peran yang dapat dilakukan lembaga non struktural sehingga tidak mengambil

Pendekatan semiotika struktural dalam studi agama dan sosial Pesantren sebagai salah satu lembaga Islam merupakan “tanah subur” analisis semiotika, yang meliputi jaringan intelektual

disampaikan pembina dan pengajar santri pondok pesantren Darul Istiqamah Amamotu yaitu: “Kita sebagai seorang guru harus memberikan contoh karena kalau kita tidak memberikan contoh