TASAWUF DAN EKONOMI
Muhammad Aminudin, Irfan Noor, Muhammad Rusydi Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin
[email protected] , [email protected] , [email protected]
Abstract
The relationship between Sufism and economics lies in the application of spiritual principles in modern economic practices. Amid challenges such as consumerism, materialism, and social inequality, Sufism offers values like simplicity, sincerity, sharing, and social responsibility that can create a fairer and more sustainable economy. These Sufi principles help create an economic system that focuses not only on material gain but also on social and spiritual well-being, in line with the teachings of Islamic economics that emphasize justice and balance.
Keywords: Sufism, economics, spiritual principles, Islamic economics.
Abstrak
Hubungan antara tasawuf dan ekonomi terletak pada penerapan prinsip-prinsip spiritual dalam praktik ekonomi modern. Di tengah tantangan seperti konsumerisme, materialisme, dan kesenjangan sosial, tasawuf menawarkan nilai-nilai seperti kesederhanaan, keikhlasan, berbagi, dan tanggung jawab sosial yang dapat menciptakan ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip tasawuf membantu menciptakan sistem ekonomi yang tidak hanya berfokus pada keuntungan materi, tetapi juga pada kesejahteraan sosial dan spiritual, sejalan dengan ajaran ekonomi Islam yang mengutamakan keadilan dan keseimbangan.
Kata kunci: tasawuf, ekonomi, prinsip spiritual, ekonomi Islam, kesejahteraan social.
Pendahuluan
Di era modern ini, dunia menghadapi beragam tantangan dalam aspek ekonomi yang semakin kompleks. Masyarakat global, terutama di negara-negara berkembang, terperangkap dalam pusaran konsumerisme, materialisme, dan ketidakadilan ekonomi yang semakin meresahkan. Kehidupan sehari-hari banyak dipengaruhi oleh prinsip-prinsip kapitalisme yang mengutamakan keuntungan materi, sementara nilai-nilai moral dan spiritual sering kali terpinggirkan. Fenomena konsumsi berlebihan, ketergantungan pada riba, serta kesenjangan sosial yang semakin lebar, menjadi gambaran nyata bahwa perekonomian saat ini sering kali berjalan tanpa memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan jiwa manusia.
Dalam konteks ini, pendekatan ekonomi yang hanya berfokus pada aspek material dan rasional sering kali mengabaikan dimensi spiritual yang sesungguhnya sangat penting untuk keseimbangan hidup. Banyak individu merasa terjebak dalam hidup yang serba mengejar keuntungan dan harta, tetapi kehilangan ketenangan batin, kedamaian, serta tujuan hidup yang lebih tinggi. Kehilangan arah ini sering kali menimbulkan stres, kecemasan, dan keputusasaan, yang mencerminkan kegagalan ekonomi dalam menciptakan kehidupan yang seimbang dan harmonis.
Namun, dalam tradisi Islam, terdapat sebuah pendekatan yang dapat memberikan solusi terhadap permasalahan ini, yaitu tasawuf atau sufisme. Tasawuf tidak hanya mengajarkan tentang cara mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga tentang bagaimana mengatur kehidupan sehari-hari dengan nilai-nilai luhur yang dapat memengaruhi sistem ekonomi secara keseluruhan. Prinsip-prinsip tasawuf, seperti kesederhanaan, keikhlasan, berbagi, dan tanggung jawab sosial, dapat menjadi landasan untuk menciptakan sistem ekonomi yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan berorientasi pada kesejahteraan umat.
Oleh karena itu, penting untuk melihat hubungan antara tasawuf dan ekonomi dalam menghadapi tantangan zaman sekarang. Integrasi nilai-nilai spiritual dalam praktek ekonomi tidak hanya dapat memperbaiki kualitas hidup individu, tetapi juga membantu menciptakan tatanan sosial yang lebih adil dan berkelanjutan. Artikel ini akan membahas bagaimana tasawuf, dengan prinsip-prinsip yang mengedepankan moralitas, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial, dapat memberikan perspektif baru dalam mengatasi permasalahan ekonomi di dunia modern. Dengan memahami hubungan antara tasawuf dan ekonomi,
diharapkan dapat tercipta sebuah ekonomi yang lebih berkelanjutan, etis, dan berfokus pada kesejahteraan umat, bukan sekadar keuntungan materi belaka.
Metode
Metode interpretatif fokus pada pemahaman mendalam terhadap makna teks dan konsep yang ada, dengan menafsirkan prinsip-prinsip tasawuf dalam konteks ekonomi. Dalam hal ini, peneliti akan menggali bagaimana ajaran tasawuf, seperti ikhlas, zuhud, syukur, dan berbagi, diterapkan dalam ekonomi Islam untuk menciptakan sistem yang lebih etis, adil, dan berkelanjutan.
Beberapa aspek yang dapat diinterpretasikan:
1. Prinsip Tasawuf dalam Ekonomi
Bagaimana ikhlas (niat tulus) dan zuhud (kesederhanaan) mempengaruhi tindakan ekonomi, seperti berbisnis atau mengelola keuangan?
2. Tantangan Ekonomi Modern
Tasawuf menawarkan solusi terhadap masalah seperti konsumerisme dan materialisme yang berkembang dalam masyarakat modern.
3. Kesejahteraan dalam Islam
Penafsiran bagaimana tasawuf membantu mencapai keseimbangan antara kebutuhan dunia dan akhirat dalam konteks ekonomi.
4. Etika Ekonomi
Tasawuf mendukung prinsip keadilan sosial dan tanggung jawab, yang relevan dengan ekonomi Islam yang adil.
Dengan metode ini, peneliti berusaha memahami dan menafsirkan hubungan antara tasawuf dan ekonomi, serta bagaimana ajaran tasawuf dapat memperkaya pandangan ekonomi dengan nilai-nilai spiritual dan etika.
Pembahasan
A. Pengertian Tasawuf
Imam Ghazali mengutip pendapat Abu Bakar Al-Katany yang menyatakan bahwa tasawuf adalah budi pekerti. Barang siapa yang memberikan bekal budi pekerti kepada seseorang, maka ia memberikan bekal dalam tasawuf. Hamba yang jiwanya menerima perintah untuk beramal, sesungguhnya sedang melakukan suluk dengan nur Islam. Begitu pula ahli zuhud yang jiwanya menerima perintah untuk mengamalkan akhlak terpuji, karena mereka menjalani suluk dengan nur iman.1
Mahmud Amin An-Nawawy mengutip Al-Junaid Al-Baghdady yang mengatakan bahwa seorang hamba tidak akan menekuni amalan tasawuf tanpa aturan tertentu. Tanpa tertuju pada Tuhan, ia merasa tidak ada hubungan dengan Tuhan dan tidak memanfaatkan waktu untuk beribadah kepada-Nya. 2
Menurut Asy-Syekh Muhammad Amin, tasawuf adalah ilmu yang digunakan untuk mengetahui keadaan jiwa, cara membersihkannya dari sifat buruk, dan mengisinya dengan sifat terpuji. Tasawuf juga mengajarkan cara melakukan suluk, yaitu langkah-langkah menuju keridhaan Allah, serta meninggalkan larangan-Nya dan mengikuti perintah-Nya.3
Dari segi bahasa, Harun Nasution menyebutkan lima istilah terkait tasawuf, yaitu: al-suffah (orang yang berpindah bersama Nabi dari Mekkah ke Madinah), saf (barisan), sufi (suci), sophos (bahasa Yunani: hikmat), dan suf (kain wol).4
Secara linguistik, tasawuf dapat dipahami sebagai sikap mental yang memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bijaksana. Sikap jiwa ini pada hakikatnya adalah akhlak mulia.
1 H Mustafa, Akhlak Tasawuf (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 24.
2 Mustafa, 20.
3 Muhammad Amin Al-Kardy, Tanwiirul Qulub Fi-Mu’aamalah Alaamil Ghuyub (Surabaya: Bangkul Indah, n.d.), 16.
4 Harun Nasution, Falsafah Dan Mistisme Dalam Islam (Jakarta:
Bulan Bintang, 1983), 56–57.
Dari segi istilah, pendapat para ahli tasawuf sangat bergantung pada sudut pandang mereka. Ada tiga sudut pandang utama dalam mendefinisikan tasawuf, yaitu:
1. Manusia sebagai makhluk terbatas,
2. Manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, 3. Manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan.
Jika dilihat dari sudut pandang ini, tasawuf dapat diartikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah SWT.
Jika kita menghubungkan ketiga definisi tasawuf tersebut, maka tasawuf pada intinya adalah upaya melatih jiwa untuk membebaskan diri dari pengaruh duniawi, sehingga tercermin akhlak mulia dan kedekatan dengan Allah SWT.
Tasawuf juga dapat diartikan sebagai usaha untuk memperoleh kecintaan dan kesempurnaan rohani. Selain itu, tasawuf juga merupakan perpindahan dari kehidupan biasa menjadi kehidupan sufi yang tekun beribadah dan selalu bersih jiwa dan hati, ikhlas hanya karena Allah SWT.5
Adapun beberapa definisi tasawuf menurut tokoh-tokoh terkemuka adalah:
1. Syekh Junaidi Al-Baghdady:
“Tasawuf adalah keadaan berserta Allah tanpa perantara.”
2. Syekh Ma’ruf Al-Karkhi:
“Tasawuf adalah mencari hakikat dan meninggalkan segala sesuatu yang ada di tangan makhluk.”
3. Dzun Nun Al-Mishri:
“Sufi adalah orang yang tidak merasa lelah karena mencari dan tidak merasa susah karena kehilangan harta.”
4. Sahal At-Tustari:
5 Labiz MZ, Memahami Ajaran Tashawwuf (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2001), 13.
“Sufi adalah orang yang bersih dari kekeruhan, penuh pemikiran, hanya memusatkan perhatian pada Allah, dan tidak terpengaruh oleh manusia. Baginya, harta benda setara dengan tanah liat.”
5. Ibnu Khaldun:
“Tasawuf adalah ilmu syariat yang muncul dalam agama, yang pada dasarnya adalah bertekun dalam ibadah, memutuskan hubungan dengan selain Allah, hanya menghadap kepada-Nya, dan menolak hiasan duniawi.”
6. Bisyar Al-Hafi:
“Sufi adalah orang yang hatinya bersih hanya untuk Allah.”
7. Bardar bin Husin:
“Sufi adalah orang yang memilih Al-Haq (Allah) sebagai satu- satunya tujuan hidupnya.”
8. Abu Ali Ahmad Al-Huzbari:
“Sufi adalah orang yang memakai kain wol untuk membersihkan jiwa, menahan hawa nafsu dengan kepahitan, menempatkan dunia di bawah kakinya, dan berjalan sesuai dengan sunnah Rasulullah.”
9. Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA):
“Tasawuf adalah cara membersihkan jiwa dari pengaruh benda duniawi agar mudah menuju Tuhan.”
10. Abul Fida, seorang pakar sejarah Islam, mengungkapkan bahwa tasawuf sudah ada sejak zaman Rasulullah, yang dikenal dengan istilah Ashabi Ash-Suffah (mereka yang duduk di sekeliling Ka’bah). Beberapa ahli berpendapat bahwa istilah tasawuf baru dikenal pada tahun 200 H. Namun, tasawuf tetap dianggap sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah untuk mencari keridhaan-Nya.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah, membersihkan diri dari sifat tercela, dan menghias diri dengan sifat terpuji. Selain itu, tasawuf juga merupakan cabang ilmu agama.
B. Pengetian Ekonomi
Kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti rumah tangga dan nomos yang berarti aturan, sehingga secara harfiah ekonomi berarti aturan rumah tangga. Tokoh pertama yang menulis tentang ekonomi adalah Aristoteles dari Yunani, yang dianggap sebagai ahli ekonomi pertama.
Secara istilah, ekonomi adalah ilmu yang mempelajari berbagai tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas.
Ekonomi adalah cabang ilmu pengetahuan yang sangat luas. Ilmu ekonomi sering disebut sebagai The oldest art and the newest science, yaitu seni tertua dan ilmu pengetahuan yang termuda.
Masalah ekonomi muncul sejak awal kehidupan manusia, dimulai dengan Nabi Adam AS yang menghadapi kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
Pada zaman awal kehidupan manusia, ekonomi belum ada dalam bentuk ilmu, tetapi lebih berupa seni untuk mencukupi kebutuhan, seperti seni berburu, menangkap ikan, dan menabung.
Seiring waktu, pemikiran ekonomi berkembang pesat melalui para filsuf, cendekiawan, dan negarawan.
Aristoteles, seorang filsuf Yunani yang terkenal, berperan penting dalam perkembangan ekonomi. Ia adalah murid Plato dan guru bagi Iskandar Agung.6 Dalam bukunya Politica dan Etika Nicomachea, ia mengembangkan dasar-dasar teori nilai, pertukaran, pembagian kerja, serta teori tentang uang, suku bunga, dan riba.
Perkembangan ilmu ekonomi semakin pesat setelah terbitnya buku An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations oleh Adam Smith pada tahun 1776. Ia sering dianggap sebagai Bapak Ilmu Ekonomi.7 Pemikiran-pemikiran dalam buku ini masih relevan dan memengaruhi ahli ekonomi hingga saat ini. Saat ini, dunia telah mengalami perkembangan teknologi yang jauh berbeda dengan zaman Adam Smith, begitu pula dengan sistem ekonomi yang semakin kompleks dan rumit.
6 Suherman Rosyidi, Pengantar Teori Ekonomi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, n.d.), 5.
7 Sukirni Sadono, Mikro Ekonomi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), 3.
Analisis ekonomi dapat dibedakan menjadi tiga kategori menurut Sukirni Sadono,8 yaitu;
1. Ekonomi Deskriptif
Ekonomi deskriptif menggambarkan keadaan nyata dalam perekonomian, seperti analisis terhadap petani di Jawa Tengah.
Setiap ilmu pengetahuan bertujuan menganalisis kenyataan yang ada di alam semesta dan kehidupan manusia.
2. Teori Ekonomi
Teori ekonomi menggambarkan hubungan dalam kegiatan ekonomi dan meramalkan peristiwa ekonomi yang terjadi akibat perubahan dalam keadaan tertentu. Teori ekonomi memberikan gambaran umum mengenai sistem ekonomi dan bagaimana ia berfungsi.
3. Ekonomi Terapan
Ekonomi terapan berkaitan dengan kebijakan ekonomi yang diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi, kestabilan harga, pengangguran, dan distribusi pendapatan yang merata.
C. Hubungi Tasawuf dan Ekonomi
Tasawuf atau sufisme memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk dinamika kehidupan masyarakat, terutama dalam hal ekonomi. Meskipun terkadang mendapat kontroversi, tasawuf tetap memiliki peran besar dalam mengatasi tantangan kehidupan manusia, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Dalam konteks Islam, tasawuf bukanlah sesuatu yang terpisah dari syariat, melainkan merupakan bagian dari ajaran Islam yang menyentuh aspek spiritual dan penghayatan diri. Ia bertujuan untuk membimbing individu mengenal dirinya dan Tuhannya, yang pada gilirannya dapat memberikan pencerahan dalam segala aspek kehidupan, termasuk ekonomi.
Meskipun tasawuf sering dipandang sebagai sesuatu yang lebih bersifat spiritual dan personal, prinsip-prinsip yang diajarkan dalam tasawuf dapat memberikan perspektif yang kuat dalam mengatur perekonomian, terutama dalam konteks umat Islam. Ekonomi dalam Islam tidak hanya mengurusi aspek materi, tetapi juga terkait erat dengan moralitas dan etika, yang dalam hal ini tasawuf memberikan nilai-nilai yang penting untuk mencapainya.
1. Tantangan Ekonomi dalam Masyarakat Modern
8 Sadono, 10–11.
Masyarakat modern sering kali dipengaruhi oleh prinsip materialisme, rasionalitas, dan sekularisme. Keadaan ini berisiko menciptakan kehampaan spiritual, yang pada gilirannya dapat mengarah pada kecemasan dan stress, karena masyarakat tersebut kehilangan pegangan moral dan keilahian. Hal ini terlihat dalam sejumlah fenomena negatif, seperti:
Konsumerisme
Masyarakat modern sering kali terjebak dalam pola hidup konsumtif, yang tidak hanya menyebabkan pemborosan, tetapi juga bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan kesederhanaan.
Riba
Sistem keuangan berbasis riba yang sering diadopsi oleh masyarakat dapat menyebabkan pelanggaran terhadap prinsip- prinsip keuangan Islam yang mengharamkan riba.
Materialisme
Fokus pada kekayaan dan kepemilikan materi sering mengaburkan tujuan hidup yang seharusnya lebih mengutamakan keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Kesenjangan Ekonomi
Sistem kapitalisme sering kali memperlebar jurang antara yang kaya dan miskin, tanpa memperhatikan prinsip keadilan sosial yang ada dalam ajaran Islam.
2. Prinsip Tasawuf dalam Ekonomi
Tasawuf menawarkan prinsip-prinsip yang dapat diterapkan dalam konteks ekonomi untuk menciptakan sistem yang lebih etis dan manusiawi. Beberapa prinsip utama dalam tasawuf yang relevan dengan ekonomi adalah:
Ikhlas (Niat yang Tulus)
Dalam ekonomi, niat yang tulus sangat penting. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap tindakan, termasuk dalam bisnis dan pekerjaan, harus didorong oleh niat yang ikhlas, yaitu untuk mendapatkan ridha Allah dan memberi manfaat bagi orang lain.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)
Wara' (Menjauh dari Hal yang Diragukan)
Dalam tradisi tasawuf, wara' mengajarkan untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang diragukan hukumnya (syubhat). Dalam konteks ekonomi, ini berarti menghindari transaksi yang tidak jelas kehalalannya atau yang berisiko mendekati larangan Allah, seperti riba atau penipuan. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada yang samar-samar." (HR. Bukhari dan Muslim)
Zuhud (Tidak Terikat pada Duniawi)
Tasawuf mengajarkan agar seseorang tidak terlalu terikat dengan kekayaan dan kenikmatan dunia. Fokus utama seharusnya adalah kehidupan akhirat. Dalam konteks ekonomi, ini berarti tidak menjadikan kekayaan dunia sebagai tujuan utama hidup, tetapi sebagai alat untuk berbuat baik. Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepada kalian: "Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah"
kalian merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kalian puas dengan kehidupan dunia ini saja, sementara kehidupan akhirat lebih baik?" (QS. At-Taubah: 38)
Syukur (Bersyukur atas Nikmat)
Syukur mengajarkan kita untuk menghargai setiap nikmat yang diberikan oleh Allah. Dalam ekonomi, ini bisa berarti mengelola rezeki yang diterima dengan baik, menyadari bahwa semua itu adalah karunia dari Allah, dan menggunakan kekayaan tersebut untuk kebaikan. Allah SWT berfirman:
"Jika kamu bersyukur, Kami akan menambah nikmat kepada kalian." (QS. Ibrahim: 7)
Kesederhanaan dan Moderasi
Tasawuf sangat menekankan pada kehidupan yang sederhana dan tidak berlebihan. Kesederhanaan dalam hidup dan moderasi dalam mengelola sumber daya ekonomi akan menciptakan keseimbangan dan menghindarkan dari sikap boros yang merugikan. Allah SWT berfirman:
"Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (QS. Al- A'raf: 31)
Berbagi dan Kedermawanan
Salah satu prinsip utama tasawuf adalah berbagi dengan orang lain. Dalam ekonomi Islam, ini sejalan dengan kewajiban zakat, sedekah, dan membantu mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:
"Bukanlah kebajikan itu dengan menghadap wajahmu ke timur atau barat, tetapi kebajikan itu adalah iman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, dan orang yang meminta-minta." (QS. Al-Baqarah: 177)
Tanggung Jawab Sosial
Dalam tasawuf, tanggung jawab sosial menjadi penting. Setiap individu diajarkan untuk mempertimbangkan dampak dari tindakan mereka terhadap masyarakat. Dalam konteks ekonomi, hal ini tercermin dalam prinsip tolong-menolong dan kerja sama yang saling menguntungkan. Allah SWT berfirman:
"Saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan jangan saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan."
(QS. Al-Maidah: 2)
Integrasi antara tasawuf dan ekonomi Islam memberikan perspektif yang lebih manusiawi dan lebih mendalam dalam menghadapi permasalahan ekonomi yang muncul di masyarakat modern. Dengan menekankan pada nilai-nilai spiritual, etika, kesederhanaan, keadilan, dan tanggung jawab sosial, tasawuf membantu menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan, etis, dan adil, serta memberikan keseimbangan antara kebutuhan duniawi dan tujuan akhirat. Prinsip-prinsip ini tidak hanya relevan dalam kehidupan individu, tetapi juga dalam menciptakan sistem ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan umat.
Simpulan
Tasawuf dan ekonomi, meskipun berasal dari dua bidang yang berbeda, memiliki keterkaitan yang erat dalam konteks kehidupan manusia. Tasawuf adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan membebaskan diri dari sifat buruk dan mengembangkan akhlak mulia, sementara ekonomi adalah ilmu yang mempelajari cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dalam kondisi terbatas.
Dalam ekonomi Islam, prinsip-prinsip tasawuf seperti ikhlas, wara', zuhud, syukur, kesederhanaan, kedermawanan, dan tanggung jawab sosial memberikan panduan moral yang kuat untuk mengatur kehidupan ekonomi. Prinsip-prinsip ini membantu mendorong praktik ekonomi yang lebih etis dan manusiawi, yang tidak hanya memperhatikan aspek materi, tetapi juga keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Tasawuf menekankan pentingnya niat yang tulus, menjauhi transaksi yang tidak jelas kehalalannya, dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan ekonomi. Dalam masyarakat modern yang sering terjebak dalam materialisme, konsumsi berlebihan, dan kesenjangan ekonomi, ajaran tasawuf menawarkan solusi dengan menekankan kesederhanaan, keadilan, dan berbagi.
Secara keseluruhan, integrasi tasawuf dengan ekonomi Islam dapat menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan umat, dengan menekankan aspek spiritual dan moral dalam menjalani kehidupan ekonomi.
Daftar Pustaka
Al-Kardy, Muhammad Amin. Tanwiirul Qulub Fi-Mu’aamalah Alaamil Ghuyub. Surabaya: Bangkul Indah, n.d.
Mustafa, H. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 1997.
MZ, Labiz. Memahami Ajaran Tashawwuf. Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2001.
Nasution, Harun. Falsafah Dan Mistisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1983.
Rosyidi, Suherman. Pengantar Teori Ekonomi. Jakarta: Raja Grafindo Persada, n.d.
Sadono, Sukirni. Mikro Ekonomi. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.