TEORI BELAJAR
A. Definisi Belajar
“a process of progressive behavior adaptation.”
Jadi belajar merupakan suatu proses adaptasi (penyesuaian) perilaku yang bersifat progresif.
Skinner (1958)
“a relatively permanent change in behavior which occurs as a result of practice or experience.” Penekanan dari definisi ini adalah bahwa perubahan perilaku itu bersifat relatif permanen (tetap). Juga perubahan perilaku itu merupakan akibat latihan atau pengalaman.
Morgan dkk (1984)
“a change in performance as a result of practice.”
Belajar merupakan perubahan penampilan sebagai akibat latihan. Baik pengertian belajar dari Skinner maupun Mc Geoch menunjukkan bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku atau performance.
Menurut Mc Geoch perubahan perilaku tersebut merupakan hasil latihan, sedang menurut Skinner tidak jelas merupakan hasil dari apa.
Mc Geoch (1956)
“A precise definition of learning is not necessary, so long as we agree that the inference to learning is made from changes in performance that are the result of training or experience, as distinguished from changes such as growth or fatique and from changes attributable to temporary state of the learner.”Penekanan dari definisi ini adalah bahwa perubahan performance hasil belajar itu merupakan hasil dari latihan atau pengalaman bukan
perubahan hasil pertumbuhan atau kelelahan atau keadaan sementara dari individu yang belajar, misalnya saja karena obat-obatan
Hilgard (1956)
“Perubahan perilaku atau performance yang relatif permanen, sebagai hasil latihan atau pengalaman dan bukan karena
pertumbuhan atau kelelahan atau karena obat-obatan.”
Berdasarkan pandangan dari para ahli tersebut dapat dikemukakan beberapa prinsip dalam belajar yaitu :
Belajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan timbulnya perilaku (change in behavior or performance). Ini berarti setelah belajar, individu mengalami perubahan perilaku, baik yang bersifat nyata (overt behavior) maupun yang tidak nyata (inert behavior). Perubahan perilaku tersebut bisa dari segi kognitif, afektif maupun psikomotor.
Perubahan perilaku tersebut juga bisa bersifat aktual, namun bisa juga bersifat potensial. Bersifat potensial artinya tidak nampak pada saat itu, tetapi akan nampak (actual) pada waktu yang lain.
Perubahan perilaku sebagai akibat belajar itu bersifat relatif permanen, berarti berlaku dalam waktu yang relatif lama. Perubahan itu tidak akan menetap terus menerus, sehingga dapat berubah lagi sebagai akibat aktivitas belajar yang lain.
Perubahan perilaku baik yang aktual maupun potensial merupakan dampak dari latihan atau pengalaman. Ini berarti perubahan itu terjadi karena faktor kematangan individu, bukan karena faktor kelelahan atau obat-obatan (Walgito, 2005).
Perubahan perilaku dalam 3 (tiga) hal tersebut dimungkinkan karena dalam belajar terjadi proses yaitu :
Proses mengaitkan pengetahuan yang diterima sama dengan pengetahuan yang telah dimiliki
ASOSIASI
Proses mengintegrasikan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki
AKOMODASI
Proses perpindahan suatu tahap pemikiran yang satu ke tahap pemikiran berikutnya apabila individu mengalami masalah yang bertentangan
(disequilibrium) yang diakhiri dengan adanya keseimbangan (equilibrium) (Piaget, 1952)
EQUILIBRASI
B. Belajar sebagai
Proses dan Sistem
INSTRUMENTAL INPUT
OUTPUT
ENVIRONMENT INPUT
PROCESS
RAW INPUT
C. Jenis-Jenis Teori Belajar
Percobaan Pavlov
Teori Belajar Asosiatif
01
Percobaan Skinner
Teori Belajar Fungsionalistik
02
Percobaan Bandura
Teori Belajar Albert Bandura
04
Perobaan Kohler 03
Teori Belajar Psikologi Kognitif
1. Teori Belajar Asosiatif (Pavlov)
Teori belajar ini menggunakan anjing sebagai binatang percobaan. Dalam percobaannya, anjing yang semula tidak mengeluarkan air liur pada waktu dibunyikan bel, kemudian setelah diberikan makanan bersamaan dengan bunyi bel, maka keluar air liur.
Setelah dilakukan secara berulang-ulang, walaupun tidak disertai dengan pemberian makanan, hanya dibunyikan bel, air liur tetap keluar. Peristiwa tersebut disebut kondisioning atau pengondisian, yaitu pemberian stimulus berbentuk makanan bersamaan bunyi bel. Ini berarti terjadi asosiasi antara stimulus dengan responnya. Pavlov menyimpulkan bahwa perilaku itu dapat dibentuk melalui kondisioning atau kebiasaan. Dalam kehidupan sehari-hari teori ini dapat diaplikasikan dengan membiasakan anak mencuci kaki sebelum tidur atau membiasakan menggunakan tangan kanan untuk menerima pemberian sesuatu dari orang lain.
2. Teori Belajar Fungsionalistik (Skinner)
Teori belajar ini disimpulkan dari percobaan Thorndike dengan kucing sebagai binatang percobaannya dalam percobaan Skinner dengan tikus sebagai binatang percobaan. Periksa percobaan Torndike dan Skinner.
Dari percobaan Thorndike dapat disimpulkan adanya beberapa hukum dalam belajar, yaitu : hukum kesiapan, hukum latihan, dan hukum efek.
Menurut hukum ini, kegiatan belajar bisa mencapai hasil yang baik kalau ada kesiapan untuk belajar. Tanpa adanya kesiapan yang baik dapat diprediksikan hasilnya akan kurang memuaskan. Di samping kesiapan, agar belajar dapat mencapai hasil yang baik harus ada latihan. Makin banyak latihan, dapat diprediksikan makin baik hasilnya. Dengan kesiapan dan latihan akan diperoleh efeknya.
Dari percobaan Skinner tampak bahwa hewan percobaan harus berbuat/melakukan aktivitas agar dapat mencapai tujuannya (makanan).
Karena itu kondisioning Skiner disebut kondisioning Operan, sedang kondisioning Pavlov disebut kondisioning Klasikal.
Menurut Skinner dalam kondisioning Operan ada 2 (dua) prinsip umum, yaitu :
(a) Setiap respons yang diikuti reward (reinforcing stimuli) akan cenderung diulangi.
(b) Reward yang merupakan reinforcing stimuli akan meningkatkan kecepatan terjadinya respon.
3. Teori Belajar yang Berorientasi Psikologi Kognitif (Kohler)
Pertama, seekor kera harus menemukan solusi untuk meraih seiris pisang yang diletakkan disisi luar kendang. Dalam studinya, ada problem “tongkat”. Kera harus menggabungkan bbrp tongkat scra Bersama-sama shng bisa mencapai pisang
Kedua, ada problem “kotak” dalam hal ini, kera harus memindahkan kotak itu dibawah pisang atau menumpuk satu kotak diatas yg lain untuk mencapai pisang.
Kesimpulan dari percobaan Kohler unsur yang penting dalam belajar adalah pemahaman (insight) walaupun coba-coba (trial and error) tidak ditolak.
Belajar yg penting bukan mengulangi hal-hal yang harus di pelajari, tetapi mengerti/memperoleh insight.
Insight barulah berfungsi bila ada persepsi terhadap masalahnya.
4. Teori Belajar Menurut Albert Bandura
Teori Bandura disebut a social cognitive theory.
Disebut demikian karena psikologi tidak dapat mengharapkan hasil dalam bukunya tanpa melibatkan manusia; dan Bandura menekankan peranan reinforcement dan faktor kognitif dalam teorinya.
Walaupun Bandura dapat menerima pendapat Skinner bahwa perilaku dapat berubah karena adanya reinforcement, tetapi ia juga berpendapat bahwa perilaku dapat berubah tanpa adanya reinforcement secara langsung, tetapi melalui vicarius reinforcement yaitu hasil dari orang lain dan konsekuensi dari perilakunya atau (internal reinforcement/self reinforcement).
Teori belajarnya disebut observational learning theory atau social learning theory. Dengan demikian apabila dicermati maka dapat dikatakan teori Bandura merupakan penggabungan pandangan behavioristik dengan psikologi kognitif. Sebagian ahli mengelompokkan teori Bandura dalam Behaviorisme (misalnya Schultz dan Schultz 1992), dan sebagian lagi mengelompokkannya dalam Psikologi Kognitif (misalnya Hergenhanh dan Oslon 1997).
Definisi
D. Belajar yang Bermakna
Oleh Ausubel (dalam Woolfolk 1998) belajar seperti itu diberi nama Belajar yang Bermakna (Meaningful Verbal Learning). Penguasaan materi pelajaran yang baru tidak terlepas dengan penguasaan materi sebelumnya. Oleh karena itu Ausubel memberi definisi Belajar yang Bermakna sebagai:
”Proses menghubungkan informasi yang potensial bermakna ke pengetahuan yang telah diketahui secara mantap oleh pembelajar”. (The process of making potentialy meaningful information to what the learner already knows in a subtantive way”. (Ausubel (dalam Entwistle 1987)).
Dengan demikian jelas bahwa belajar yang bermakna bukan menghafal (rate memorization), karena dalam menghafal materi yang dipelajari tidak dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki oleh pembelajar (Ausubel dalam Woolfolk, 1998).
Agar siswa termotivasi sehingga belajar menjadi bermakna Ausubel mengajukan konsep model pembelajaran expository yaitu pembelajaran yang diberikan dengan bentuk penjelasan, atau pemaparan fakta-fakta dan ide-ide. Pembelajaran model ini diajukan secara sistematis artinya berurutan sesuai struktur kognitif siswa.
Dari kedua pandangan yaitu pandangan Ausubel dan pandangan atau teori information processing oleh Atkinson dan Shiffrin penulis dapat menyimpulkan bahwa belajar yang bermakna dari Ausubel menekankan belajar yang menghasilkan pemahaman, yang diperoleh karena pengetahuan baru yang diberikan selalu dikaitkan pengetahuan lama atau pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa. Sedang Atkinson dan Shiffrin menekankan disamping diperolehnya pemahaman menghasilkan kemampuan untuk memecahkan masalah,mengingat kembali memori, strategi untuk memahami dan menghasilkan bahasa, karena adanya fungsi kontrol dalam kognitif individu karena dalam struktur kognitif individu terdapat fungsi kontrol.
Jadi jelaslah belajar yang bermakna dalam arti yang mendasar adalah
belajar yang mampu menghasilkan pemahaman dan kemampuan memecahkan
masalah, mengingat kembali memori dan memahami dan menghasilkan
bahasa.
Agar ada gambaran yang konkrit tentang belajar yang bermakna akan dikemukakan contoh yang dikemukakan oleh Smith (1975, dalam Woolfolk 1998) dan Slavin (1991). Sesuai dengan susunan kata-kata yang tidak bermakna, kurang bermakna dan bermakna yang diajukan Smith tersebut, Slavin (1991) mengemukakan contoh yang senada sebagai berikut.
1. ENSA FLES HMEN MATN SNOI TEHA CRSO IAKT SIAE OTIN TNES ESNA NRAE.
2. EASIER THAT NONSENSE INFORMATION TO MAKES THAN SENSE IS LEARN.
3. INFORMATION THAT MAKES SENSE IS EASIER TO LEARN THAN
NONSENSE.
KESIMPULAN
Jadi, belajar yang bermakna adalah proses penguasaan pengetahuan baru ketika pengetahuan baru tersebut masuk akal bagi siswa, dan dapat dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, serta mampu memecahkan masalah, mengingat kembali memori, memahami dan menghasilkan bahasa siswa. Dengan demikian pengetahuan baru tersebut dikuasai (acquisition) oleh siswa, selanjutnya dapat ditransfer ke dalam bidang-bidang yang lain.
Aspek-aspek belajar bermakna
Selecting
mereduksi sebagian besar materi studi sehingga yang tersisa berupa inti yang sangat penting. Hal ini dilakukan dengan memberikan perhatian khusus kepada suatu bagian bidang studi tertentu, seperti fakta dan definisi, atau memperluas hubungan atau menerapkan cara pemecahan yang berguna.
01 Relating
mengkaitkan bagian- bagian bidang studi ke setiap bagian yang lain, ke keseluruhan dan ke konsepsi pengetahuan sebelumnya.
02
Concretizing
menghubungkan isi materi bidang studi ke hal-hal yang konkret yang telah diketahui seperti pengalaman
pribadinya sendiri, image visual yang konkret, kejadian dalam kehidupan sehari-hari, penerapan secara praktis.
03 Analizing
menguji terus dan tahap demi tahap secara detail mencakup informasi faktual dalam materi studi.
04
Aspek-aspek belajar bermakna
Structuring
Menyusun bagian-bagian yang terpisah dari isi materi bidang studi ke dalam suatu
keseluruhan yang
terorganisasi dan meng- integrasikan pengetahuan yang baru diperoleh ke dalam pengetahuan yang telah dimiliki.
05 Personalizing
membuat pengetahuan menjadi bagian dari dirinya, ketika sikap dan kegiatan diubah, dan hal-hal yang berada di sekeliling (sosial, fisik, kimia, juridis dan seterusnya) dapat dimengerti dengan cara baru.
06
Being Active
menyelidiki sesuatu, menyimpulkan sendiri berdasarkan fakta dan argumen, mengecek logika dari argumen pengarang, membangun interpretasi dan opini sendiri.
07 Memorizing &
Rehearsing
memisahkan fakta dengan mengulanginya beberapa kali (Vermunt
& Van Rijswijk, 1988;
Vermunt, 1992 dalam Ajisuksmo, 1996)
08