• Tidak ada hasil yang ditemukan

4071 12146 1 PB

N/A
N/A
Fani Dwi Rahma

Academic year: 2024

Membagikan "4071 12146 1 PB"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

144

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PEKERJA BAGIAN PEMASANGAN BESI

DI PT. X TAHUN 2021

Wulan Putri Indah Permatasari1*, Decy Situngkir2, Izzatu Millah3, Rini Handayani4

1,2,3,4 Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul Provinsi DKI Jakarta

*[email protected]

ABSTRAK

Kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Kelelahan diatur secara sentral oleh otak. Kelelahan diklasifikasikan dalam dua jenis, yaitu kelelahan otot berupa tremor atau prasaan nyeri pada otot dan kelelahan umum ditandai dengan kurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan karena monontoni, intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan dan keadaan gizi. Hasil studi pendahuluan berdasarkan kuesioner yang dilakukan penulis pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X terhadap 10 pekerja diketahui sebagai berikut: 7 (70%) pekerja yang mengalami kelelahan kerja tinggi, 3 (30%) pekerja yang mengalami kelelahan kerja rendah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X tahun 2021. Penelitian dilakukan pada bulan Juni - Februari 2022, lokasi penelitian ini di PT. X. Penelitian dilakukan menggunakan metode Kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional serta menggunakan kuesioner dari IFRC. Metode pengambilan sampel, Total Sampling dengan jumlah sampel 38 responden. Data analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chi Square. Hasil univariat menunjukkan bahwa proporsi tertinggi kelelahan kerja tinggi sebesar 32 (84,2%), usia beresiko ≥ 35 tahun 20 (52,6%), masa kerja beresiko ≥ 5 tahun 25 (65,8%), beban kerja tingkat tinggi 29 (76,3%), dan status gizi beresiko 19 (50%). Hasil bivariat terdapat hubungan antara variabel beban kerja (PR=6,828;95% CI=1,064- 43,925), status gizi beresiko (PR=1,875;95% CI=1,054-3,336) dengan kelelahan dan tidak terdapat hubungan antar usia (PR=1,21;95% CI=0,494-1,379), masa kerja (PR=1,23;95% CI=0,490-1,336) dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian pemasangan besi. Diharapkan PT. X bisa mengurangi dan mencegah terjadinya kelelahan kerja yang dialami oleh pekerja bagian pemasangan besi.

Kata kunci: Beban Kerja, Kelelahan Kerja, Masa Kerja, Status Gizi, Usia

ABSTRACT

Fatigue is a protective mechanism of the body so that the body avoids further damage so that recovery occurs after rest. Fatigue is regulated centrally by the brain. Fatigue is classified into two types, namely muscle fatigue in the form of tremors or feelings of pain in the muscles and general fatigue characterized by a lack of will to work caused by monotony, intensity and duration of physical work, environmental conditions and nutritional conditions. The results of the preliminary study based on a questionnaire conducted by the author on the iron installation workers at PT. X of 10 workers is known as follows: 7 (70%) workers who experience high work fatigue, 3 (30%) workers who experience low work fatigue. This study aims to determine the factors associated with work fatigue in the iron installation workers at PT. X in 2021. The study was conducted in June - February 2022, the location of this research at PT. X. The research was conducted using a quantitative method with a cross sectional approach and using a questionnaire from the IFRC. Sampling method, Total Sampling with a sample size of 38 respondents. Data analysis univariate and bivariate analysis with Chi Square test. Univariate results showed that the highest proportion of high work fatigue was 32 (84.2%), age at risk 35 years 20 (52.6%), working period at risk ≥ 5 years 25 (65.8%), high workload 29 (76.3%), and nutritional status at risk 19 (50%).

Bivariate results showed a relationship between workload variables (PR=6.828; 95% CI=1.064-43.925), nutritional status at risk (PR=1.875; 95% CI=1.054-3.336) with fatigue and there was no relationship between age (PR=1 ,21;95% CI=0,494-1,379), years of service (PR=1,23;95% CI=0,490-1,336) with work fatigue on workers in the iron installation section. It is hoped that PT. X can reduce and prevent fatigue experienced by workers in the iron installation section.

Keywords: Workload, Work Fatigue, Working Period, Nutritional Status, Age

(2)

145 PENDAHULUAN

Kelelahan adalah keadaan kompleks yang disebabkan oleh faktor biologi pada proses kerja dan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Berbeda dari kelelahan yang terjadi dari respon fisik tubuh, stres kerja merupakan bentuk respon psikologis dari tubuh terhadap tekanan-tekanan, tuntutan-tuntutan pekerjaan yang melebihi dari batas kemampuan yang dimiliki, baik dari tuntutan fisik dan keadaan sosial yang menggangu pelaksanaan tugas yang timbul dari interaksi seseorang dengan pekerjaannya, sehingga dapat menimbulkan terjadinya stres kerja (Vanchapo, 2020).

Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Kelelahan diatur secara sentral oleh otak. Kelelahan diklasifikasikan dalam dua jenis, yaitu kelelahan otot berupa tremor atau prasaan nyeri pada otot dan kelelahan umum ditandai dengan kurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan karena monontoni, intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan dan keadaan gizi (Tarwaka, 2014).

Data yang didapat dari Kementrian Ketenagakerjaan angka kecelakaan kerja menunjukan tren yang meningkat. Pada tahun 2017 angka kecelakaan kerja yang dilaporkan sebanyak 123.041 kasus, sementara itu sepanjang tahun 2018 mencapai 173.105 kasus, kasus- kasus dengan fatalitas tinggi masih didominasi oleh kasus kecelakaan lalu lintas da kecelakaan pada perusahaan di industri pengelolaan dan kontruksi. Dengan salah satu faktor penyebab kejadian adalah kondisi kelelahan pada pekerja (Kemenaker, 2018).

Data dari ILO tahun 2018 menyebutkan bahwa lebih dari 1,8 juta kematian akibat kerja terjadi setiap tahunnya di kawasan Asia dan Pasifik. Bahkan dua pertiga kematian akibat kerja di dunia terjadi di Asia. Di tingkat global, lebih dari 2,78 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Selain itu, terdapat sekitar 374 juta cedera dan penyakit akibat kerja yang tidak fatal setiap tahunnya, yang banyak mengakibatkan absensi kerja (International Labour Organization, 2018). Menurut penelitian Faiz (2014) Gambaran kelelahan kerja didapatkan bahwa dari 42 pekerja terdapat 22 (52,4%) pekerja yang mengalami kelelahan kerja dan 20 (47,6%) pekerja tidak mengalami kelelahan kerja.

PT. X bergerak dalam bidang pembangunan dan jasa kontruksi. Kegiatan utama PT. X adalah menjalankan usaha seperti pembangunan gedung, apartemen, hotel, jembatan dan lain- lain. Salah satu proyek yang sedang berjalan saat ini yaitu pembangunan apartemen yang berlokasi di Jakarta Pusat. Untuk saat ini pekerjaan di PT. X terdapat empat unit yaitu bagian pemasangan besi, bagian pemasangan kayu, bagian pengocoran dan bagian perancah.

(3)

146

Berdasarkan Observasi proses kerja pada pemasangan besi di PT. X yaitu yang pertama dilakukan dengan cara melihat gambar dan ukuran yang sudah dibuat oleh tim engineering. Selanjutnya desain shop drawing yang sudah diberikan kepada bar bending schedule dan planning. tim bar bending schedule memberikan shop drawing kepada supervisor, selanjutnya supervisor menginstruksikan ke mandor besi untuk mulai melakukan persiapan fabrikasi besi sesuai gambar dan desain engineering, untuk pemotongan besi menggunakan bar cutter, untuk pembengkokan besi menggunakan bar bending dan diikat menggunakan kawat ikat sesuai dengan shop drawing yang di intruksikan oleh supervisor.

Setelah besi dirakit menggunakan kawat ikat bendrat dengan kuat dan dikencangkan menggunakan tang gegep. Proses selanjutnya yaitu dilakukan pengecekan besi oleh tim quality control apakah jumlah dan posisi besi sudah terpasang dengan benar sesuai dengan gambar. jika PT. X, quality control dan mandor sudah setuju kemudian PT. X menginfokan quality control owner untuk dilakukan join inspeksi dan diadakan berita acara bahwa besi sudah di cek kelayakan dan keserasian dengan shop drawing. Jika owner sudah setuju baru dilakukan untuk ke tahap selanjutnya bekisting dan persiapan pengecoran. Jam kerja pada pekerja pemasangan besi di PT. X adalah hari senin sampai minggu mulai pukul 7.30 – 17.00 WIB dengan waktu istirahat pada pukul 11.00 – 12.00 WIB dan jam kerja lembur dari pukul 17.00 – 22.00 WIB dengan waktu istirahat pada pukul 18.00 – 19.00 WIB.

Hasil studi pendahuluan berdasarkan kuesioner yang dilakukan penulis pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X terhadap 10 pekerja diketahui sebagai berikut: 7 (70%) pekerja yang mengalami kelelahan kerja tinggi, 3 (30%) pekerja yang mengalami kelelahan kerja rendah. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat permasalahan kelelahan kerja yang dirasakan oleh pekerja pada bagian pemasangan besi. Dilihat dari dampak yang diraskaan akibat kelelahan kerja adalah pekerja merasa sering cemas, sulit berkosentrasi, menurunnya motivasi, badan terasa tidak enak dan menurunnya prestasi kerja. Selain itu kelelahan juga berdampak bagi perusahaan yaitu dapat menurunkan angka absensi pekerja. Dampak tersebut dapat merugikan perusahaan secara tidak langsung baik finansial maupun produktivitas.

Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja bagaian pemasangan besi di PT.X tahun 2021. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara usia,masa kerja,beban kerja, dan status gizi dengan kelelahan kerja.

(4)

147 METODE

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional dimana variabel indenpenden dan variabel dependen akan diukur pada waktu yang bersamaan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X tahun 2021. Lokasi penelitian dilaksanakan di PT. X Jakarta Pusat. Penelitian ini dimulai dari bulan Juni - Februari 2022. Penelitian dilakukan setiap hari Senin dan Selasa pada pukul 08.00 hingga pukul 17.00 WIB. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pekerja yang termasuk kedalam jenis pekerjaan bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021. Perhitungan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus pengujian hipotesis untuk dua proporsi dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 38 responden. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode Total Sampling. Dengan analisis data univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square. Penelitian ini sudah lolos persyaratan kaji etik dengan nomor : 0922-01.038/DPKE-KEP/FINAL- EA/UEU/I/2022.

HASIL

Tabel 1.

Distrubusi Responden Berdasarkan Kelompo Kelelahan Kerja, Usia, Masa Kerja, Beban Kerja Dan Status Gizi Pada

Pekerja Bagian Pemasangan Besi Di PT. X Tahun 2021 Katakteristik N = (38) %

Kelelahan Kerja

Tinggi 32 84,2

Sedang 6 15,8

Usia (Tahun)

>35 20 52,6

<35 18 47,4

Masa Kerja

>5 25 65,8

<5 13 34,2

Beban Kkerja

Tinggi 29 76,3

Sedang 9 23,7

Status Gizi

Beresiko 19 50

Tidak Beresiko 19 50

Sumber : Data Primer, 2022

(5)

148

Berdasarkan tabel 1 dari 38 responden diketahui proporsi tertinggi terdapat pada pekerja mengalami kelelahan kerja yaitu sebanyak 32 pekerja (84,2%). Proporsi tertinggi pada variabel kategori usia yang beresiko yaitu sebanyak 20 pekerja (52,6%). Proporsi tertinggi masa kerja terdapat pada masa kerja ≥5 tahun yaitu sebanyak 25 pekerja (65,8%).

Proporsi tertinggi beban kerja terdapat pada beban kerja tinggi yaitu sebanyak 29 pekerja (23,7%). Proporsi variabel status gizi dalam keadaan kesimbang terdapat pada responden yang mengalami status gizi kategori beresiko dan tidak beresiko yaitu masing-masing sebanyak 19 responden (50%).

Tabel 2.

Hubungan Antara Usia, Masa Kerja, Beban Kerja, Status Gizi Terhadap Kelelahan Kerja Pada Pekerja Bagian Pemasangan Besi di

PT. X Tahun 2021

Variabel

Kelelahan Kerja

p-value Nilai PR (95%CI) Tinggi Sedang

n % n %

Umur (Tahun)

>35 11 55 45 20

0,687

0,825 (0,494- 1,379)

<35

12 66,7 33,3 18

Masa Kerja

>5 14 56 11 25

0,659

0,809

<5

9 69,2 4 13 (0,490-

1,336) Beban Kerja

Tinggi 22 78,4 7 24,1

0,001

6,828 Sedang

1 11,1 8 88,9

(1,064- 43,925) Status Gizi

Beresiko 15 78,9 4 21,1

0,046

1,875 Tidak Beresiko

8 42,1 11 57,9 (1,054-

3,336)

Sumber : Data Primer, 2022

Tabel 2 menunjukan bahwa hasil analisis bivariat pada uji chi square bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan PR 6,828 (95% CI:1,064-43,925) yang berarti responden dengan kategori beban kerja akan berisiko 6,828 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan tinggi dibandingkan dengan kategori responden beban kerja yang tidak beresiko, status gizi 1,875 (95% CI: 1,054-3,336) yang berarti responden dengan kategori status gizi akan beresik 1,875 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan tinggi

(6)

149

dibandingkan dengan kategori responden status gizi yang tidak beresiko, dan menunjukan tidak terdapat hubungan antara usia usia pekerja terhadap kelelahan kerja sebesar 1,21 (1/0,825) (95% CI: 0.494-1,379), artinya pekerja dengan usia yang tidak beresiko akan 1,21 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan tinggi dibandingkan dengan pekerja pada kelompok usia yang beresiko, masa kerja pekerja terhadap kelelahan kerja sebesar 1,23 (1/0,809) (95% CI: 0.490-1,336), artinya pekerja dengan masa kerja yang tidak beresiko akan 1,23 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan tinggi dibandingkan dengan pekerja pada kelompok masa kerja yang beresiko.

PEMBAHASAN

Gambaran Kelelahan Kerja Pada Pekerja Bagian Pemasangan Besi

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diperoleh bahwa proporsi tertinggi pada variabel kelelahan kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X adalah pekerja yang mengalami tingkat kelelahan kerja tinggi dengan jumlah 32 pekerja (84,2%). Kelelahan kerja terjadi pada pekerja bagian pemasangan besi disebabkan oleh aktivitas fisik yang berlebih dilakukan pada pekerjaan seperti melakukan pemotongan besi, pembengkokkan besi, pemasangan besi dan mengangkat besi selain itu akibat jam kerja yang cukup panjang menyebabkan pekerja merasa mudah jenuh, sebaiknya di adakan perenggangan otot beberapa menit untuk menghilangkan rasa jenuh dan pekerja dapat fokus kembali. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Faiz (2014) diperoleh dari hasil total dari 42 responden bahwa proporsi responden yang mengalami kelelahan tinggi sebanyak 22 pekerja (52,4%).

Kelelahan kerja merupakan suatu pola yang timbul pada suatu keadaan yang secara umum terjadi pada pekerja, dimana pekerja tidak sanggup lagi untuk melakukan pekerjaan.

Orang yang mengalami kelelahan kerja biasanya mengalami gejala-gejala seperti perasaan lesu, menguap, mengantuk, pusing, sulit berpikir, kurang berkosentrasi, kurang waspada, persepsi yang buruk dan lambat, kaku dan canggung dalam gerakan, gairah bekerja kurang, tidak seimbang salam berdiri, tremor pada anggota badan, tidak dapat mengontrol sikap, dan menurunnya kinerja jasmani dan rohani (Tarwaka 2013).

Tindakan perbaikan berdasarkan klasifikasi kuesioner subjektif kelelahan. Kelelahan rendah belum diperlukan adanya tindakan perbaikan, kelelahan sedang mungkin diperlukan adanya tindakan, kelelahan berat diperlukan adanya tindakan perbaikan dan untuk kelelahan sangat berat diperlukan adanya tindakan perbaikan segera mungkin (Tarwaka 2014).

(7)

150

Berdasarkan pengamatan, pada pekerja bagian pemasangan besi masuk ke dalam kategori kelelahan tinggi yang diperlukan adanya tindakan perbaikan oleh perusahaan.

Sementara ini perusahaan masih belum ada perbaikan mengenai kelelahan kerja karena tidak adanya sarana dan prasara yang disediakan oleh perusahaan untuk pekerja yang sedang merasakan kelelahan dan juga membutuhkan waktu istirahat kemudian kurangnya anggaran untuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan pekerja, perusahaan menetapkan target kepada pekerja sehingga pekerja fokus untuk mengejar target agar mendapatkan bayaran yang sesuai.

Dari hasil observasi lapangan peneliti juga melihat bahwa di area pemasangan besi belum tersedianya air minum yang disediakan secara gratis oleh perusahaan, hal ini sesuai dengan hasil kuesioner yang menjelaskan bahwa pekerja sering merasakan kehausan setelah bekerja.

Peneliti menyarankan untuk dilakukan senam ringan untuk perenggangan otot per 2 jam sekali untuk mencegah rasa lelah yang dirasakan pekerja dan diperlukan adanya penyediaan air minum gratis di area pemasangan besi agar dapat meminumnya apabila pekerja merasa haus.

Gambaran Usia Pada Pekerja Bagian Pemasangan Besi

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa proporsi tertinggi pada variabel usia pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X adalah pekerja yang termasuk kedalam usia beresiko dengan jumlah 20 pekerja (52,6%). Arianda (2020). diperoleh dari hasil total dari responden bahwa proporsi tertinggi terdapat pada usia beresiko yaitu dengan jumlah 25 pekerja (55,6%) dari 45 responden.

Faktor umur dapat berpengaruh terhadap waktu reaksi dan perasaan lelah. Pekerja yang berumur lebih tua akan terjadi penurunan kekuatan otot. Tetapi keadaan ini diimbangi dengan stabilitas emosi yang lebih baik dibandingkan dengan pekerja yang berumur muda, sehingga dapat berakibat positif dalam melakukan pekerjaan (Setyowati, dkk 2017).

Menurut Tarwaka (2016) menyatakan bahwa pada umumnya keluhan kesehatan mulai dirasakan pada usia kerja 25-65 tahun. Keluhan pertama beresiko dirasakan pada usia 35 tahun dan tingkat keluhan akan terus meningkat sejalan dengan ketahanan otot mulai menurun sehingga risiko terjadinya keluhan kesehatan serta rasa lelah akan meningkat. Proses menjadi tua disertai kurangnya kemampuan untuk bekerja oleh karena perubahan-perubahan pada organ tubuh, system kardiovaskuler, hormonal dan lain-lain.

Berdasarkan pengamatan, bahwa perusahaan melakukan perekrutan pekerja berdasarkan umur paling muda 18 tahun. Dari umur tersebut perusahaan bisa menilai layak atau tidak masuk kedalam perusahaan dilihat dari riwayat kesehatan calon pekerja baru. Jika

(8)

151

sudah lengkap adminstrasinya mulai dari ktp dan riwayat kesehatan tidak ada kendala barulah calon pekerja diterima di perusahaan kemudian perusahaan juga belum adanya batasnya usia maksimum yang ditetapkan didalam lingkup perusahaan yang mengakibatkan pekerja yang berusia lanjut masih bisa bekerja di perusahaan. Kemudian pekerja memiliki pekerjaan yang memerlukan kekuatan fisik, oleh karena itu penetapan usia maksimum sangat penting diterapkan diperusahaan.

Gambaran Masa Kerja Pada Pekerja Bagian Pemasangan Besi

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa proporsi tertinggi pada variabel masa kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X adalah pekerja yang termasuk kedalam masa kerja beresiko dengan jumlah 25 pekerja (65,8%). Hal ini sejalan dengan penelitian Indrawati (2018). Pada variabel masa kerja proporsi tertinggi terdapat pada masa kerja beresiko yaitu dengan jumlah 25 pekerja (55,6%) dari 45 responden.

Tingkat pengalaman kerja seseorang dalam bekerja akan mempengaruhi terjadinya kelelahan kerja. hal ini dikarenakan orang yang lebih berpengalaman mampu bekerja secara efisien. Pekerja dapat mengatur besarnya tenaga yang dikeluarkan oleh karena seringnya melakukan pekerjaan tersebut. Selain itu, telah mengetahu posisi kerja yang terbaik atau nyaman untuk dirinya, sehingga produktifitasnya terjaga (Tarwaka, 2014). Masa kerja adalah suatu kurun waktu atau lamanya tenaga kerja bekerja disuatu tempat. Masa kerja dapat mempengaruhi baik kinerja positif maupun negatif, akan memberi pengaruh positif pada kinerja personal karena bertambahnya masa kerja maka pengalaman dalam melaksanakan tugasnya semakin bertambahnya masa kerja maka akan muncul kelelahan pada tenaga kerja (Suma’mur, 2013).

Berdasarkan hasil kuesioner pada pekerja bagian pemasangan besi diketahui bahwa responden lebih banyak dengan masa kerja (≥5 tahun) dibandingkan dengan masa kerja (<5tahun). Hasil observasi dari para pekerja pada bagian pemasangan besi di PT. X para pekerja memiliki pengalaman dalam hal pemasangan besi, maka dari itu pekerja mampu bertahan ≥ 5 tahun masa kerja, hal tersebut termotivasi karena kewajiban hidup yaitu memberi nafkah kepada keluarga yang harus dicukupi kebutuhannya dan untuk menopang ekonomi keluarga. Oleh karena itu para pekerja memilih bertahan dengan pekerjaan yang dijalani sekarang untuk alasan tersebut. Dalam hal ini pekerja pemasangan besi mampu menjalankan pekerjaan dengan baik.

(9)

152

Gambaran Beban Kerja Pada Pekerja Bagian Pemasangan Besi

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa proporsi tertinggi pada variabel beban kerja di pekerja bagian pemasangan besi di PT. X adalah pekerja yang mengalami beban kerja tinggi yaitu dengan jumlah 29 (76,3%) pekerja. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Usman et al. (2019) pada variabel masa kerja proporsi tertinggi terdapat pada masa kerja beresiko yaitu dengan jumlah 34 pekerja (64%) dari 50 responden.

Beban kerja yang besar dapat menyebabkan menurunnya kinerja otot yang berakibat kelelahan pada pekerja. Kelelahan dapat mengganggu pekerjaan, menurunkan produktivitas, meningkatkan kesalahan, bahkan berpotensi mengakibatkan kecelakaan. Apabila pekerja telah lama melakukan pekerjaan dari jumlah waktu yang semestinya, pekerja bisa saja mengalami sakit atau bahkan pingsan saat bekerja. Hal tersebut membahayakan nyawa dari para pekerja, terutama untuk pekerja yang bekerja dengan risiko yang besar seperti pekerja konstruksi bangunan (Anies, 2014).

Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara yang didapat dengan menggunakan metode kuesioner NASA-TLX pada pekerja bagian pemasangan besi, dalam pembobotan yang memiliki nilai tertinggi yaitu terdapat pada indikator kebutuhan waktu sebayak (41,7%) , tingkat usaha sebanyak (37,5%) dan performansi (33,3%). Perusahaan mencari tau kemampuan pekerja kemudian perusahaan membuat target sesuai dengan kemampuannya, perushaan menjalin hubungan atau melakukan pendekatan kepada pekerja sehingga terjalin kenyamanan satu sama lain dan mendorong pekerja untuk bisa saling bekerja sama dan bantu membantu.

Berdasarkan hasil observasi, situasi performansi yang terjadi di bagian pemasangan besi adalah pekerja dituntut untuk menyelesaikan setiap langkah pekerjaan tanpa ada satupun kesalahan, pekerja juga diminta untuk teliti dalam melakukan pekerjaannya. Untuk jenis pekerjaan pemasangan besi masuk kedalam pekerjaan yang cukup berat dengan jam kerja yang cukup panjang aktivitas pekerjaan yang sangat banyak, kegiatan yang dilakukan dalam pekerjaan pemasangan besi yaitu seperti membengkokkan besi, mengangkat besi, memotong besi, mengikat besi dengan kawat dan memasang besi sehingga menjadi kerangka bangunan kemudian pekerja diwajibkan untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu agar taget yang sudah di sepakati bisa terlaksana sesuai dengan batas.

Gambaran Status Gizi Pada Pekerja Bagian Pemasangan Besi

Berdasarkan hasil penelitian, status gizi dianalisis dalam dua kategori yaitu status gizi yang beresiko dan status gizi yang tidak beresiko. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa

(10)

153

pekerja di PT. X memiliki proporsi dalam keadaan seimbang terdapat pada responden yang mengalami status gizi kategori beresiko dan tidak beresiko yaitu masing-masing sebanyak 19 responden (50%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Apriliani (2019) pada dengan kategori normal pekerja tertinggi sejumlah 38 pekerja (62,2%).

Status gizi adalah ekspresi keadaan seimbang serta variabel tertentu atau mewujudkan berasal nutriture pada bentuk variabel tertentu. Maka dapat disimpulkan bahwa status gizi seseorang menunjukan kekurangan atau kelebihan gizi seorang yg dapat menyebabkan resiko penyakit eksklusif. Lebih dari itu status gizi dapat mempengaruhi kelelahan yaitu Jika seseorang mengalami status gizi buruk atau kurang normal maka akan mempercepat kelelahan kerja (Supariasa, 2016).

Berdasarkan pengamatan, Peneliti melihat perusahaan belum menyediakan adanya kantin sehingga makanan yang di konsumsi pekerja tidak dipantau dengan baik oleh perusahaan, kemudian perusahaan juga belum mempunyai program mengenai gizi pekerja

=kemudian untuk pemeriksaan IMT kepada pekerja belum juga ada dan perlu dilakukan karena dengan mengetahui status gizi pekerja dapat ditentukan kebutuhan gizi yang sesuai serta pemberian intervensi gizi bila diperlukan. Oleh karena itu diperlukan adanya pemeriksaan IMT pekerja dan program mengenai pemenuhan gizi yang cukup atau seorang ahli gizi bagi para pekerja guna untuk menjaga kestabilan tubuh pekerja. Mengenai makan pekerja, perusahaan tidak menyediakan makan khusus bagi pekerja untuk itu pekerja mencari makan sendiri dikarenakan budget yang kurang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tetapi perusahaan hanya memberikan vitamin 1 bulan 2 kali dan juga pemberian susu dan juga puding. Peneliti menyarankan untuk pemberian vitamin 1 minggu sekali, dikarenakan beban kerja tinggi membutuhkan tenaga yang extra dan pemberian susu dan puding sebaiknya 1 minggu sekali.

Hubungan Antara Usia Terhadap Kelelahan Kerja Pada Pekerja Bagian Pemasangan Besi di PT. X Tahun 2021

Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia terhadap kelelahan kerja. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Agustina (2019) didalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja terhadap stres kerja pada pekerja.

Faktor umur dapat berpengaruh terhadap waktu reaksi dan perasaan lelah. Pekerja yang berumur lebih tua akan terjadi penurunan kekuatan otor. namun keadaan ini diimbangi menggunakan stabilitas emosi yang lebih baik dibandingkan dengan pekerja yg berumur

(11)

154

muda, sebagai akibatnya bisa mengakibatkan positif pada melakukan pekerjaan (Setyowati, dkk 2017).

Menurut Suma'mur (2014) Seseorang yang berusia muda sanggup untuk melakukan pekerjaan yang bersifat berat dan seseorang yang berumur lebih tua memiliki penurunan kekuatan otot dalam melakukan pekerjaan yang bersifat berat. Pekerja yang memiliki usia lebih tua akan merasa cepat lelah dan tidak banyak dapat melalukan pekerjaan tertentu.

Kemampuan melakukan pekerjaan yang baik pada setiap individu berbeda dan dipengaruhi juga oleh usia setiap pekerja.

Dalam penelitian ini didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara usia dengan kelelahan kerja. Hal ini kemungkinan ada faktor lain yaitu beban kerja. Berdasarkan hasil stratifikasi usia dengan beban kerja, diketahui bahwa pekerja dengan kategori usia berisiko memiliki beban kerja dengan proporsi tertinggi mengalami kelelahan tinggi yaitu sebayak 11 (78,6%) pekerja, sedangkan pada kategori usia yang tidak berisiko yang memiliki beban kerja proporsi tertinggi mengalami kelelahan tinggi yaitu sebanyak 11 (73,3%) pekerja.

Sedangkan pada kategori usia yang berisiko yang tidak memiliki beban kerja proporsi tertinggi mengalami kelelahan kerja rendah sebanyak 6 (100%) pekerja dan pada usia yang tidak berisiko dan tidak memiliki beban kerja proporsi tertinggi mengalami kelelahan rendah sebanyak 2 (66,7%) pekerja. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa pekerja dengan usia >35 tahun dan usia ≤ 35 tahun tetapi mempunyai beban kerja maka tetap memungkinkan berpotensi mengalami kelelahan kerja.

Berdasarkan hasil analisis antara usia dengan kelelahan kerja yang di stratifikasikan dengan status gizi, Hal ini kemungkinan ada faktor lain yaitu status gizi. diketahui bahwa pekerja dengan kategori usia berisiko memiliki status gizi dengan proporsi tertinggi mengalami kelelahan tinggi yaitu sebayak 7 (63,6%) pekerja, pada kategori usia yang tidak berisiko dan mengalami staus gizi memiliki jumlah yaitu 8 (100%) pekerja mengalami kelelahan tinggi. Sedangkan pada kategori usia yang berisiko dan mengalami status gizi proporsi tertinggi yaitu mengalami kelelahan rendah sebanyak 5 (55,%) pekerja dan pada kategori usia yang tidak berisiko mengalami status gizi proporsi tertinggi yaitu mengalami kelalahan rendah sebanyak 6 (60,0%) pekerja.

Berdasarkan hasil penelitian umur tertinggi pada pekerja yaitu 40 tahun sedangkan umur terendah 25 tahun. Hal ini dikarenakan perusahaan tidak menetapkan standar umur maksimum dalam penerimaan kerja, pekerja yang memiliki umur beresiko biasanya lebih rentan terkena penyakit, karena kondisi fisiknya mulai menurun. Dilihat dari hasil penelitian pekerja berusia beresiko lebih tinggi dibandingkan dengan usia yang tidak beresiko. Penulis

(12)

155

menyarankan bagi perusahaan untuk menetapkan standar usia maksimum dalam penerimaan pekerja baru.

Hubungan Antara Masa Kerja Terhadap Kelelahan Kerja Pada Pekerja Bagian Pemasangan Besi di PT. X Tahun 2021

Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja terhadap kelelahan kerja. Hal ini sejalan dengan penelitian Tarigan (2018) Bahwa tidak ada hubungan masa kerja dengan kelelahan kerja.

Masa kerja dapat mempengaruhi tenaga kerja baik positif juga negatif. Masa kerja akan memberikan dampak positif kepada pekerja Bila menggunakan semakin lamanya seorang bekerja maka pekerja tadi semakin banyaknya pengalaman pada melakukan tugasnya.

sebaliknya akan memberikan pengaruh negatif Jika semakin lamanya seseorang bekerja maka akan menimbulkan kebosanan dan kelelahan kerja yang berujung pada kerusakan organ tubuh (Zuniawati, 2019).

Hasil penelitian menunjukan berarti tidak adanya hubungan antara masa kerja dengan kelelahan kerja pada pekerja pemasangan besi di PT. X, hal tersebut dikarenakan masa kerja yang dimiliki responden masih tergolong sudah cukup lama sehingga berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara pekerja merasa bosan dan mudah mengantuk karena tidak ada jeda disela-sela pekerjaan seperti peregangan otot 10-15 menit agar pekerja dapat fokus kembali hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya kelelahan kerja. Selain itu terdapat variabel lain yang lebih berhubungan yaitu variabel beban kerja dan status gizi.

Berdasarkan hasil analisis antara masa kerja dengan kelelahan kerja yang di stratifikasikan dengan beban kerja, menunjukan bahwa pekerja dengan kategori masa kerja berisiko mempunyai beban kerja dengan proporsi tertinggi mengalami kelelahan tinggi yaitu sebayak 13 (76,5%) pekerja, sedangkan pada kategori masa kerja tidak berisiko yang memiliki beban kerja proporsi tertinggi mengalami kelelahan tinggi yaitu sebanyak 9 (75%) pekerja. Sedangkan pada kategori masa kerja yang berisiko yang tidak memiliki beban kerja proporsi tertinggi mengalami kelelahan rendah sebanyak 7 (87,5%) pekerja dan pada masa kerja yang tidak berisiko dan tidak memiliki beban kerja proporsi tertinggi mengalami kelelahan rendah sebanyak 1 (100%) pekerja.

Berdasarkan hasil analisis antara masa kerja dengan kelelahan kerja yang di stratifikasikan dengan status gizi, Hal ini kemungkinan ada faktor lain yaitu status gizi.

Berdasarkan hasil stratifikasi masa kerja dengan status gizi, diketahui bahwa pekerja dengan kategori usia berisiko memiliki status gizi dengan proporsi tertinggi mengalami kelelahan tinggi yaitu sebayak 9 (69,2 %) pekerja, pada kategori usia yang tidak berisiko dan

(13)

156

mengalami status gizi memiliki jumlah yaitu 6 (100%) pekerja mengalami kelelahan tinggi.

Sedangkan pada kategori usia yang berisiko dan mengalami status gizi proporsi tertinggi yaitu mengalami kelelahan rendah sebanyak 7 (58,3%) pekerja dan pada kategori usia yang tidak berisiko mengalami status gizi proporsi tertinggi yaitu mengalami kelalahan rendah sebanyak 4 (57,1%) pekerja.

Berdasarkan hasil observasi, pekerja yang sudah lama mengetahui trik untuk menyelesaikan pekerjaan dengan efektif dan efesien, pekerja juga mampu mengantur waktu dengan baik sehingga mampu mencapai target yang diinginkan perusahaan. Pekerja yang masa kerja > 5 tahun mampu mengerjakan pekerjaan lebih cepat dibandingkan dengan pekerja yang< 5 tahun karena sudah terbiasa dalam mengerjakan pekerjaaan tersebut.

Hubungan Antara Beban Kerja Terhadap Kelelahan Kerja Pada Pekerja Bagian Pemasangan Besi di PT. X Tahun 2021

Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara beban kerja terhadap kelelahan kerja. Responden yang memiliki beban kerja beresiko proposi tertinggi yaitu dengan kategori kelelahan kerja tinggi yaitu sebanyak 29 pekerja (76,3%), sedangkan pekerja yang memiliki status gizi yang tidak beresiko proporsi tertinggi yaitu dengan kategori kelelahan rendah sebanyak 9 pekerja (23,7%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Ardiyanti (2017) dan penelitian Hayono (2010) yang menyatakan ada hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja. Dari nilai Prevalens Ratio (PR) artinya responden dengan usia yang beresiko akan 6.828 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan tinggi dibandingkan dengan responden yang termasuk beban kerja yang tidak beresiko.

Beban kerja yang besar dapat menyebabkan menurunnya kinerja otot yang berakibat kelelahan pada pekerja. Kelelahan dapat mengganggu pekerjaan, menurunkan produktivitas, meningkatkan kesalahan, bahkan berpotensi mengakibatkan kecelakaan. Apabila pekerja telah lama melakukan pekerjaan dari jumlah waktu yang semestinya, pekerja bisa saja mengalami sakit atau bahkan pingsan saat bekerja. Hal tersebut membahayakan nyawa dari para pekerja, terutama untuk pekerja yang bekerja dengan risiko yang besar seperti pekerja konstruksi bangunan (Anies, 2014).

Beban kerja merupakan suatu kapasitas pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan pekerja. Semakin berat beban kerja maka akan semakin sedikit waktu yang dimiliki seseorang untuk bekerja tanpa kelelahan dan hambatan fisik yang berarti, negitu pula sebaliknya. Jika mampu kemampuan bekerja lebih tinggi dari persyarakatn pekerjaan makan akan timbul rasa

(14)

157

bosan, sebaliknya jika kemampuan pekerja lebih rendah dari persyaratan pekerjaan maka akan timbul kelelahan yang berlebih (Tarwaka, 2014).

Berdasarkan hasil observasi, pekerja harus kosentrasi dalam melakukan pekerjaannya dan juga menjaga kestabilan fisik dan mental sehingga ketika bekerja dapat meminimalisir kesalahan. jika pekerja mengalami kesalahan saat bekerja akan memakan waktu untuk proses pemasangan ulang dan pekerja akan mendapatkan teguran keras oleh atasannya karena tidak kosentrasi dalam melaksanakan pekerjaannya. Kemudian pekerja mengaku memiliki perasaan tertekan dan kecemasan dalam menyelesaikan pekerjaannya karena tidak boleh ada kesalahan satupun.

Peneliti menyarankan agar perushaan lebih memperhatikan pekerja yang bekerja lebih baik dan memberikan bonus atau kenaikan gaji yang sepadan dengan tenaga pekerja kemudian jika pekerja lambat dalam melakukan pekerjaannya tidak diberikan sanksi namun pekerja dibayar sesuai dengan kinerja pekerja.

Hubungan Antara Status Gizi Terhadap Kelelahan Kerja Pada Pekerja Bagian Pemasangan Besi di PT. X Tahun 2021

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa adanya hubungan antara status gizi dengan kelelahan. penelitian dihasilkan bahwa pekerja di PT. X mempunyai proporsi dalam keadaan seimbang terdapat pada responden yang mengalami status gizi kategori beresiko dan tidak beresiko yaitu masing-masing sebanyak 19 responden (50%). Dari nilai Prrvalens Ratio (PR) status gizi pekerja terhadap kelelahan sebesar 1.875 yang berarti pekerja yang memiliki status gizi beresiko lebih beresiko 1.875 kali untuk mengalami kelelahan dibandingkan dengan pekerja yang status gizinya tidak beresiko.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tarigan (2018) bahwa ada hubungan antara status gizi dengan kelelahan kerja. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Atiqoh (2014) juga menunjukkan bahwa ada hubungan antara status gizi dengan kelelahan kerja.

Status gizi adalah ekspresi keadaan seimbang serta variabel tertentu atau mewujudkan berasal nutriture pada bentuk variabel tertentu. Maka dapat disimpulkan bahwa status gizi seseorang menunjukan kekurangan atau kelebihan gizi seorang yg dapat menyebabkan resiko penyakit eksklusif. Lebih dari itu status gizi dapat mempengaruhi kelelahan yaitu Jika seseorang mengalami status gizi buruk atau kurang normal maka akan mempercepat kelelahan kerja (Supariasa, 2016).

(15)

158

Menurut Tarwaka (2012) bahwa selain jumlah kalori yang tepat, penyebaran persediaan kalori selama masa bekerja adalah sangat penting. Status gizi kurang atau lebih sering disebut undernutrion merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari energi yang dikeluarkan. Status gizi berhubungan erat serta berpengaruh di produktivitas dan efisiensi kerja. dalam melakukan pekerjaan tubuh memerlukan tenaga, apabila kekurangan baik secara kualitatif maupun kuantitatif kapasitas kerja akan terganggu.

Berdasarkan hasil dalam penelitian ini, bahwa pekerja yang mempunyai status gizi beresiko dapat mengalami kelelahan dengan kategori tinggi dibandingkan menggunakan pekerja yang memiliki status gizi tidak beresiko. Dilihat dari waktu kerja yang cukup panjang, pekerja membutuhkan istirahat yang cukup agar pekerja lebih sehat dan bugar. Pekerja juga harus memperhatikan gizi makanannya dengan cara makan yang teratur 3x sehari dan mengkonsumsi air mineral yang cukup. Hal ini dapat dilihat dari pekerja dengan status gizi beresiko mempunyai risiko lebih tinggi terkena kelelahan dibandingkan dengan status gizi yang tidak beresiko.

Berdasarkan hasil observasi, bahwa pekerja besi belum banyak yang mengetahui mana makanan yang sehat bergizi dan mana yang makanan membahayakan kesehatan. Untuk mengatasi hal ini peneliti menyarankan untuk perusahaan agar dilakukan seminar tentang pemaparan makanan sehat dan makanan bergizi terhadap seluruh pekerja khususnya pekerja pemasangan besi.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada responden bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021 terkait Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kelelahan Kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021 dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Gambaran distribusi kelelahan kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021 dengan proporsi tertinggi adalah pekerja yang mengalami kelelahan kerja tinggi.

2. Gambaran distribusi usia pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021 dengan proporsi tertinggi adalah usia yang beresiko ≥35 tahun.

3. Gambaran distribusi masa kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021 dengan proporsi tertinggi adalah masa kerja yang beresiko ≥5 tahun.

(16)

159

4. Gambaran distribusi beban kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021 dengan proporsi tertinggi adalah beban kerja tinggi yang beresiko ≥29.

5. Gambaran distribusi status gizi pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021 dengan proporsi status gizi beresiko dan tidak beresiko seimbang.

6. Tidak ada hubungan signifikan antara usia dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021.

7. Tidak ada hubungan signifikan antara masa kerja dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021.

8. Ada hubungan antara signifikan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021.

9. Ada hubungan signifikan antara status gizi dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian pemasangan besi di PT. X Tahun 2021.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini

DAFTAR PUSTAKA

Anies. 2014. Kedokteran Okupasi Berbagai Penyakit Akibat Kerja Dan Upaya Penanggulangan Dari Aspek Kedokteran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Yogyakarta.

Apriliani,. 2019. “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kelelahan Kerja Pada Petugas Pemadam Kebakaran Di Suku Dinas Pemadam Kebakaran Dan Penyelamatan Jakarta Selatan.” ARKESMAS (Arsip Kesehatan Masyarakat) 4(1):162–67. doi:

10.22236/arkesmas.v4i1.3139.

Atiqoh, J., I. Wahyuni, and D. Lestantyo. 2014. “FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PEKERJA KONVEKSI BAGIAN PENJAHITAN DI CV. ANEKA GARMENT GUNUNGPATI SEMARANG.”

Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro.

Faiz, Nurli. 2014. “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kelelahan Kerja Pada Pekerja Bagian Operator Spbu Di Kecamatan Ciputat Tahun 2014.”

Indrawati, Kharun Nufus. 2018. “Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kelelahan Kerja Pada Tenaga Kerja Bagian Kandang Di Pt Charoen Pokphand Jaya Farm 3 Kecamatan Kuok.” Jurnal Ners 2(1):56–71.

International Labour Organization. 2018. International Labour Organization, ILO. 2018.

National OSH Month.

(17)

160

Kemenaker. 2018. Kementerian Ketenagakerjaan, Kemenaker. 2018. “No Title.” Hanif Dhakiri, January 15.

Setyowati. dkk. 2017. “Hubungan Beban Kerja, Postur Dan Durasi Jam Kerja Dengan Keluhan Nyeri Leher Pada Porter Di Pelabuhan Penyebrangan Ferry Merak- Banten.

Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal). Volume 5. Nomor 5. Oktober 2017 : 356-368.”

Suma’mur. 2013. Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja (HIPERKES) Edisi 2. Jakarta:

CV Sagung Seto.

Tarigan, Tigana Evi. 2018. “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kelelahan Kerja Pada Pekerja Struktur Di PT. X Andal Rekacipta Pratama Tahun 2018.”

Tarwaka. 2013. Ergonomi Industri, Dasar-Dasar Pengetahuan Dan Aplikasi Di Tempat Kerja, Edisi Ke-1. Surakarta: Harapan Press. Diakses 8 februari 2020.

Tarwaka. 2014. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja : Manajemen Dan Implementasi K3 Di Tempat Kerja.

Usman, Syarif, Indah Yuliani, Kelelahan Kerja, Karyawan Produksi, and Factor Kelelahan.

2019. “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kelelahan Kerja Pada Karyawan Produksi PT Gerbang Sarana Baja Jakarta Utara.” 2(1):141–46.

Vanchapo, A. R. 2020. Beban Kerja Dan Stress Kerja. Pasuruan: CV. Pasuruan: CV.

Penerbit Qiara Media.

Zuniawati, D. 2019. Kejadian Lumbago. Gosyen Deepublish.

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan konsumsi cairan dengan kelelahan Tabel 3 menunjukan bahwa dari 48 responden yang diteliti, yang mengalami kelelahan ringan dengan kategori konsumsi cairan yang

BBLR beresiko memiliki status gizi kurang pada usia 1-5 tahun dibandingkan yang tidak BBLR, penelitian yang lain juga menyebutkan bahwa anak yang BBLR pertumbuhan dan

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis antara kecukupan asupan energi dan status gizi dengan tingkat kelelahan kerja yang terjadi pada pekerja bagian produksi cocoa

Hubungan Beban Kerja, Status Gizi Dan Usia Dengan Tingkat Kelelahan Pekerja Operator Bagian Dyeing di PT.. Tesis, Universitas

hipotesis pada penelitian ini adalah ada hubungan antara status gizi dan asupan. energi dengan kelelahan kerja pada pekerja

ini menunjukkan status gizi lansia yang mengikuti posyandu lansia cenderung lebih banyak memiliki status gizi normal dibandingkan dengan lanjut usia yang tidak

Hasil analisis hubungan antara variabel pada penelitian yang telah dilaksanakan dapat diketahui bahwa pekerja pengrajin yang termasuk dalam kategori status gizi beresiko

Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai adalah mengetahui hubungan faktor internal (usia, status gizi,) dan faktor eksternal (beban kerja, keluhan) terhadap tingkat