• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1 makalah kelompok 5 kebijakan publik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "5.1 makalah kelompok 5 kebijakan publik"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PENGURANGAN PENGGUNAAN SAMPAH PLASTIK MELALUI KEBIJAKAN PLASTIK BERBAYAR DI INDONESIA

Disusun oleh :

Dessy Permatasari Saputri (135030100111089) Hararis Ali Adnan (135030100111094) Muhammad Iqbal Ramadhan (135030101111032)

JURUSAN ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan atas izin-Nya pula kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul

“PENGURANGAN PENGGUNAAN SAMPAH PLASTIK MELALUI KEBIJAKAN PLASTIK BERBAYAR DI INDONESIA” tepat waktu. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah seminar kebijakan publik.

Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang ada relevansinya dengan penyempurnaan makalah ini sangat saya harapkan dari pembaca, dan akan saya pertimbangkan guna perbaikan di masa yang akan datang. Akhirnya tidak lupa penyusun memohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, mengingat penyusun adalah manusia biasa dan masih dalam tahap pembelajaran. Semoga makalah ini mampu memberikan manfaat dan mampu memberikan nilai tambah kepada para pembacanya.

Hormat kami,

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

………1

1.2. RUMUSAN MASALAH ………2

1.3. TUJUAN ... ..2

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. LANDASAN KEBIJAKAN PLASTIK BERBAYAR ………3

BAB 3 PEMBAHASAN 3.1. GAMBARAN UMUM ………5

3.2. PROSES FORMULASI KEBIJAKAN ………5

3.3. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ………6

3.4. ANALISIS MASALAH ………8

BAB 4 PENUTUP 4.1. KESIMPULAN ………..11

4.2. SARAN ………..11 DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Negara Indonesia adalah negara di asia tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada diantara benua Asia dan benua Australia serta antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Negara indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dimana indonesia memiliki lebih dari 13.466 pulau. Pulau-pulau tersebut

terbentang dari Sabang sampai ke Merauke. Dengan banyaknya jumlah pulau yang dimiliki oleh indonesia maka negara indonesia tidak hanya sebuah negara yang memiliki jumlah pulau yang banyak tetapi jumlah penduduk yang banyak pula. Menurut sensus pada tahun 2010, penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 237 juta jiwa sehingga menempatkan indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar ke-4 di dunia.

Banyaknya jumlah penduduk indonesia maka menggambarkan banyaknya jumlah tuntutan kebutuhan masyarakat. Kebutuhan tersebut terdiri dari kebutuhan sandang, papan, dan pangan. Selain tuntutan kebutuhan ysng tinggi, masyarakat indonesia juga menghasilkan sampah rumah tangga yang tinggi pula, khususnya sampah plastik.

Menurut survei, dari prosentasi keseluruhan jumlah volume sampah di indonesia, sampah plastik merupakan jenis sampah yang memiliki jumlah terbanyak. Sampah plastik ini berasal dari sampah-sampah individu maupun rumah tangga. Masing-masing individu di Indonesia setidaknya menghasilkan sampah plastik sekitar 4 ton per tahunnya. Dilihat dari hasil survei yang menggambarkan bahwa setiap individu menghasilkan 4 ton sampah plastik setiap tahunnya maka dapat digambarkan pula bahwa seluruh penduduk Indonesia dapat menghasilkan ribuan ton sampah plastik setiap tahun. padahal plastik adalah salah satu bahan yang sangat sulit terurai. Agar sampah-sampah plastik tersebut terurai maka membutuhkan waktu hingga ribuan tahun.

Sampah plastik merupakan salah satu masalah serius yang perlu diatasi. Sampah plastik ini bisa menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir dikarenakan bahan

(5)

dari sampah plastik yang sulit terurai sehingga menyebabkan terjadinya penumpukan sampah plastik dimana-mana dan pada akhirnya menyebabkan tersumbatnya aliran air.

Maka dari itu, untuk mengatasi permasalahan penumupukkan sampah plastik tersebut, pemerintah Indonesia membuat sebuah kebijakan baru yang diharapkan dapat

mengurangi terjadinya penumpukkan sampah plastik. Untuk lebih mengetahui terkait kebijakan tersebut, kami telah menyusun sebuah makalah yang berjudul

“PENGURANGAN PENGGUNAAN SAMPAH PLASTIK MELALUI KEBIJAKAN PLASTIK BERBAYAR DI INDONESIA.”

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan sebelummnya, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah, yaitu :

1.2.1. Bagaimana gambaran mengenai kebijakan plastik berbayar?

1.2.2. Bagaimana proses pembuatan dan penerapan kebijakan plastik berbayar tersebut?

1.3. Tujuan

Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :

1.3.1. Untuk mengetahui bagaimana gambaran mengenai kebijakan plastik berbayar 1.3.2. Untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan dan penyusunan kebijakan plastik

berbayar

(6)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Landasan Kebijakan Plastik Berbayar

Kebijakan plastik berbayar ini berlandaskan pada Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang harga dan mekanisme penerapan kantong plastik berbayar. Dalam surat edaran tersebut disebutkan bahwa harga kantong plastik dikenakan biaya minimal sebesar Rp 200,- per kantongnya, dan jumlah tersebut sudah termasuk pajak pertambahan nilai.

Ketentuan-ketentuan lain yang dimuat dalam Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.1230/PSLB3-PS/2016 tersebut antara lain :

 Pengusaha ritel tidak lagi menyediakan kantong plastik secara cuma-cuma kepada konsumen. Apabila konsumen masih membtutuhkan kantong plastik maka konsumen diwajibkan membeli kantong plastik dari gerai ritel;

 Terkait harga kantong plastik pemerintah, BPKN, YLKI, dan APRINDO menyepakati harga jual kantong plastik selama uji coba penerapan kantong plastik berbayar sebesar minimal Rp 200,- per kantong sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN);

 Harga kantong plastik akan dievaluasi oleh pemerintah dan pemerintah daerah bersama APRINDO setelah uji coba berjalan sekurang-kurangnya 3 bulan;

 Terkait jenis kantong plastik yang disediakan oleh pengusaha ritel, pemerintah, BPKN, YLKI, dan APRINDO menyepakati agar spesifikasi kantong plastik tersebut dipilih yang menimbulkan dampak lingkungan paling minimal dan harus memenuhi standar nasional yang dikeluarkan oleh pemerintah atau lembaga independen yang ditugaskan untuk itu;

 APRINDO menyepakati bahwa mereka berkomitmen mendukung kegiatan pemberian insentif kepada konsumen, pengelolaan sampah, dan pengelolaan lingkungan hidup

(7)

melalui tanggungjawab sosial perusahaan (corporate social responsibility atau CSR) dengan mekanisme yang akan diatur oleh masing-masing pengusaha ritel.

 Ketentuan ini juga berlaku untuk usaha ritel modern yang bukan anggota APRINDO.

Sebelum SE KLHK S.1230/PSLB3-PS/2016, sudah ada surat edaran lain terkait penerapan kebijakan kantong plastik berbayar yaitu, Surat Edaran Direktorat Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Berbahaya dan Beracun KLHK Nomor : SE-06/PSLB3-

PS/2015 tentang Langkah Atisipasi Penerapan Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Pada Usaha Ritel Modern (“SE 6/2015”). Dalam surat edaran ini dijelaskan bahwa salah satu arah kebijakan pemerintah dalam rangka pengurangan sampah, khususnya sampah kantong plastik adalah penerapan kebijakan kantong plastik berbayar diseluruh gerai pasar modern di Indonesia.

(8)

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Gambaran Umum Mengenai Kebijakan Plastik Berbayar

Kebijakan plastik berbayar ini adalah kebijakan yang dilandaskan pada

S.1230/PSLB3-PS/2016 tertanggal 17 Februari 2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi volume limbah sampah plastik yang menumpuk dan sulit terurai. Kebijakan ini diterapkan di DKI Jakarta dan 24 kota lainnya. Untuk aturan pemberlakuan plastik berbayar dan tarif biaya yang dikenakan ini diserahkan pada pemerintah daerah masing – masing.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan bahwa akan diadakan sebuah evaluasi dari sebuah kebijakan tersebut selama 3 bulan sekali.

3.2 Proses Formulasi Kebijakan

Formulasi kebijakan sebagai bagian dalam proses kebijakan publik merupakan tahap yang paling krusial karena implementasi dan evaluasi kebijakan lainnya dapat

dilaksanakan apabila tahap formulasi kebijakan telah selesai, disamping itu kegagalan suatu kebijakan atau program dalam mencapai tujuan – tujuannya sebagian besar bersumber pada ketidaksempurnaan pengolahan tahap formulasi (Wibawa; 1994; 2).

Tahapan – tahapan yang harus dilakukan dalam sebuah proses formulasi kebijakan, antara lain :

 Perumusan Masalah Kebijakan

Dalam perumusan masalah kebijakan ini maka perlu mengidentifikasikan masalah yang akan dipecahkan kemudian membuat perumusan yang sejelas – jelasnya terhadap permasahan tersebut. Kegiatan ini merupakan upaya untuk menentukan masalah identitas masalah kebijakan dengan terlebih dahulu mengerti dan memahami sifat dari masalah tersebut sehingga akan mempermudah dalam menentukan sifat proses perumusan kebijakan.

(9)

 Penyusunan Agenda Pemerintahan

Jika masalah publik yang telah di identifikasi begitu banyak jumlahnya, maka para pembuat keputusan akan memilih dan menentukan masalah mana yang seharusnya memperoleh prioritas utama untuk diperhatikan secara serius dan aktif, sehingga biasanya agenda pemerintah ini mempunyai sifat yang khas, lebih konkrit, dan terbatas jumlahnya.

 Perumusan Usulan Kebijakan

Tahap ini merupakan kegiatan menyusun dan mengembangkan serangkaian tindakan yang perlu dilakukan untuk memecahkan masalah.

 Pengesahan Kebijakan

Sebagai suatu proses kolektif, pengesahan kebijakan merupakan penyusunan dan penerimaan secara bersama terhadap prinsip – prinsip yang diakui dan diterima (conforming to

recognized principles or accepted standards). Landasan utama untuk melakukan pengesahan adalah variabel-variabel sosial seperti sistem masyarakat seperti sistem nilai masyarakat, ideologi negara, sistem politik dan sebagainya.

Dalam kebijakan plastik berbayar tentunya pemerintah telah melalui sebuah proses formulasi kebijakan sehingga muncullah kebijakan tersebut. Pemerintah sudah melakukan sebuah evaluasi mengenai permasalahan, penyusunan agenda, perumusan usulan

kebijakan yang berupa alternatif-alternatif dari permasalahan krusial yang tejadi di indonesia, dan melalui tahapan-tahapan selanjutnya dalam sebuah proses formulasi kebijakan.

Permasalahan sampah plastik di indonesia merupakan salah satu masalah krusial yang telah dievaluasi oleh pemerintah dan dirasa harus segera diatasi. Oleh sebab itu,

pemerintah melakukan sebuah formulasi kebijakan mengenai sampah plastik. Dimulai dari kegiatan mengevaluasi permasalahan tersebut sampai ke akar-akarnya yang kemudian disusunlah sebuah agenda pemerintahan dan mulai membuat alternatif-alternatif

pemecahan masalah yang nantinya akan terpilih salah satu alternatif untuk menjadi sebuah keebijakan yang disahkan dan diterpakan ioleh pemerintah.

3.3. Implementasi Kebijakan

Dalam proses implementasi kebijakan plastik berbayar, pemerintah pusat

menyerahkan mekanisme pelaksanaan pemberlakuan platik berbayar dan tarif biaya yang

(10)

1. Bandung

Bandung merupakan salah satu daerah yang menerapkan dan

mengimplementasikan kebijakan plastik berbayar. Kebijakan tersebut mulai

diterapkan pada 21 Februari 2016. Walikota Bandung memberlakukan tarif sebesar Rp 500,- per kantongnya.

Walikota Bandung, Ridwal Kamil menyambut baik kebijakan tersebut bahkan sebelum kebijakan itu diberlakukan, Pemkot sudah memberlakukan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2011 mengenai pengelolaan sampah dan retribusi pelayanan

persampahan. Ridwan turut menjelaskan Bandung sudah mencetuskan gerakan pungut sampah sejak tahun 2014. Selain itu, Ridwan Kamil juga mengatakan bahwa besarnya manfaat ekonomi yang didapat melalui sistem kantong plastik bebrbayar ini hingga Rp 365 miliar per tahun.

Akan tetapi, beberapa masyarakat Bandung mengatakan bahwa kebijakan plastik bebrbayar tersebut kurang efisien dikarenakan pemberlakuan tarif yang

ditentukan tidak besar. Masyarakat akan tetap memilih untuk membeli kantong plastik tersebut karena biaya yang dikarenakan tidak terlalu besar. Kebijakan tersebut akan lebih efektif dan terasa dampaknya apabila penarikan biaya lebih besar atau lebih mahal lagi, karena dengan begitu masyarakat akan memilih untuk tidak membeli kantong plastik dan secara otomatis dapat mengurangi pemakaian dan sampah plastik.

2. Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan sistem kantong plastik berbayar seharga Rp 5.000,- untuk setiap kantong di seluruh tempat perbelanjaan baik pasar swalayan, minimarket maupun pasar tradisional. Deklarasi pemberlakuan kantong plastik berbayar dilakukan karena sebagian besar sampah di Jakarta berasal dari kantong plastik yang baru bisa terurai antara 500-1.000 tahun ke depan.

Uji coba kantong plastik di Jakarta telah dilakukan sejak sebulan lalu dan akan dievaluasi sebagai tindak lanjut untuk membuat regulasi ke dalam peraturan gubernur (Pergub) atau peraturan daerah (Perda). Seluruh hasil penjualan kantong plastik yang disediakan oleh perusahaan retail minimarket dan pasar swalayan akan dialokasikan untuk pembinaan edukasi konsumen dengan harapan masyarakat sadar untuk

mengurangi sampah.

3. Balikpapan

(11)

Sistem kantong plastik berbayar mulai digalakkan di beberapa kota di

Indonesia. Begitu juga di Balikpapan. Pada tanggal 21 Februari 2016, telah dilakukan pengenalan mengenai kebijakan ini langsung. Tarif yang diberlakukan untuk

sekantong plastik adalah sebesar Rp1.500 yang berlaku untuk 45 usaha ritel di Balikpapan. ditargetkan 142 usah ritel lagi untuk diberlakukan sistem ini.

Ada penurunan jumlah sampah plastik sebesar 30% dengan diberlakukannya sistem kantong plastik berbayar ini. Tercatat saat ini, setiap harinya selalu ada 13%

sampah plastik dari 490 ton total sampah. Hal ini berarti ada sebanyak 60 ton sampah plastik tiap harinya. Penerapan plastik berbayar yang diterapkan ini mampu

mengurangi jumlah sampah plastik sebesar 30%. Diberlakukannya sistem ini bukan berarti penyiksaan terhadap konsumen. Malah akan menumbuhkembangkan rasa cinta lingkungan tentang bahaya plastik itu sendiri. Dana yang didapat dari penjualan kantong plastik nantinya akan digunakan tiap ritel untuk melakukan kegiatan sosial.

Hal ini sesuai dengan edaranWali Kota Balikpapan.

Selain beberapa kota yang telah menerapkan kebijakn tersebut, ada pula pemerintah daerah yang menolak untuk menerapkan kebijakan plastik berbayar. Salah satunya adalah kota Solo.

1. Solo

Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo menolak adanya sistem plastik berbayar.

Alasannya, bagi warga yang mampu, masih akan membeli katnong plastik saat berbelanja. Hal tersebut, menurut Rudy, tidak akan mengurangi penggunaan kantong plastik. Rudy menjelaskan bahwa solusi untuk mengurangi bahkan menghilangkan penggunaan kantong plastik bukan dengan cara meminta konsumen untuk membeli kantong plastik saat berbelanja, melainkan peritel menyediakan tas belanja dari bahan kain.

Lebih jauh lagi, Rudy menjelaskan bahwa pengusaha retail memiliki program CSR (Corporate Social Responsibility) yang bisa digunakan untuk pembuatan tas pengganti kantong plastik. Dengan dasar tersebut, Rudy berharap pengusaha bisa

(12)

3.4. Analisis Masalah

Indonesia adalah salah satu negara yang masuk ke dalam jajaran negara dengan produksi sampah terbesar di dunia. Mengingat jumlah penduduk indonesia yang mencapai angka ratusan juta jiwa maka limbah sampah rumah tangga juga mencapai angka yang tinggi. Sebagian besar limbah sampah yang dihasilkan adalah berupa sampah plastik. Kebijakan plastik berbayar adalah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk menangani permasalahan ini dengan tujuan agar dapat mengurangi penggunaan plastik.

Menurut analisis kelompok kami, indonesia dapat dikatakan sebagai ‘negara kumuh’.

Mengapa demikian? Karena kita dapat menemui banyaknya sampah yang menumpuk dibeberapa kota yang memiliki jumlah penduduk terpadat. Hal ini dapat mengakibatkan sumber penyakit bagi masyarakat, tidak hanya itu dengan penumpukkan sampah juga dapat menyebabkan terjadinya beberapa bencana alam. Limbah sampah yang menumpuk sebagian besar merupakan sampah plastik yang notabene bahan plastik adalah salah satu bahan yang sangat sulit terurai. Butuh ribuan tahun agar bahan-bahan tersebut dapat terurai.

Kebijakan plastik berbayar dengan mengenakan tarif minimal Rp 200,- per

kantongnya menurut kelompok kami adalah salah satu jalan keluar permasalahan sampah yang baik. Kami membuat sebuah analisis SWOT dalam kebijakan ini, analisis tersebut adalah :

Strenght

Kebijakan ini memiliki sebuah kekuatan yaitu dapat mengurangi penggunaan plaastik sehingga dapat mengurangi volume sampah pula. Hal itu dapat terjadi ketika pemerintah masing-masing daerah memberlakukan tarif yang tinggi untuk setiap kantong plastik, karena dengan pemberlakuan harga yang tinggi untuk setiap kantong plastik masyarakat akan enggan membelinya karena mereka harus mengeluarkan biaya yang tinggi untuk sebuah kantong plastik yang pada akhirnya akan dibuang dengan percuma.

Weakness

Sisi kelemahan dari kebijakan ini adalah penerapan tarif minimal yang hanya Rp 200,- per kantongnya. Dengan harga tersebut dirasa masih mudah untuk masyarakat tetap membeli kantong tersebut.

Opporunity

(13)

Peluang yang akan terjadi dari kebijakan ini adalah dapat mengurangi penggunaan sampah plastik. Penumpukkan sampah yang menjadi salah satu faktor terjadinya bencana alam seperti banjir karena sampah-sampah yang menyumbat aliran air akan sedikit berkurang.

Treath

Dengan pemberlakuan tarif minimal Rp 200,- per kantongnya tidak akan mengurangi jumlah sampah plastik dalam jumlah yang banyak. Masyarakat akan tetap membeli kantong plastik jika biaya yang dikenakan masih tergolong murah. Masyarakat tidak akan merasa kebertan dan akan tetap membeli kantong plastik serta pada akhirnya jumlah tumpukkan sampah plastik tidak berkurang dan justru akan bertambah.

Pada akhirnya, dari analisis yang kami buat tersebut dpat dilihat jika penarikan tarif biaya Rp 200,- per kantong tidak begitu berarti secara signifikan bagi pengurangan

penggunaan kantong plastik. Masyarakat akan tetap memilih membeli plastik dengan harga tersebut. Lain halnya jika pemerintah daerah yang menerapkan kebijakan ini berani untuk menarik tarif yang lebih besar bagi sebuah kantong plastik, masyarakat tentunya akan merasa enggan dan berpikir dua kali untuk mengeluarkan biaya yang mahal bagi sebuah kantong plastik.

Selain itu, kita juga harus memperhatikan siapa yang diuntungkan dengan adanya kebijakan ini. Tarif yang dikenakan oleh masing-masing ritel disetiap daerah hendaknya digunakan untuk program CSR (corporate social responsibility) perusahaan. Hasil dari penarikan biaya kantong plastik dapat digunakan untuk kegiatan – kegiatan sosial seperti diberikan kepada orang – orang yang membutuhkan.

(14)

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kebijakan plastik berbayar merupakan sebuah kebijakan baru yang ditawarkan oleh pemerintah guna mengurangi sampah plastik di Indonesia. seperti yang kita ketahui bahwa di Indonesia penumpukan sampah terjadi dimana – mana dan dapat menyebabkan

beberapa hal negatif. Sebagian besar limbah sampah berasal dari sampah plastik yang notabene dibuat dari bahan – bahan yang sudah terurai.

Kebijakan ini mengatur mengenai mekanisme penerapan dan juga penarikan biaya bagi setiap kantong plastik yang oleh pemerintah pusat diserahkan kepada masing – masing pemerintah daerah untuk menjalankan kebijakan tersebut seperti apa dan berapa besar biaya yang digunakan untuk sebuah kantong plastik.

Pro kontra kebijakan tersebut sedang berkembang dikalangan masyarakat. Daerah yang sudah menerapkan kebijakan ini adalah sebanyak 24 kota, seperti Bandung, Jakarta, dan Balikpapan. Masing – masing daerah tentu berbeda mengenai mekanisme penerapan dan tarif yang dikenakan. Kebijakan ini memiliki poin penting yaitu bertujuan untuk mengurangi limbah – limbah sampah yang dihasilkan rumah tangga, pasar, ataupun industri – industri lainnya.

4.2 Saran

Saran yang dapat kami tawarkan ialah agar kebijakan ini dapat diterapkan di seluruh daerah di Indonesia. selain itu, penerapan tarif biaya yang dikenakan untuk sebuah

kantong plastik hendaknya dalam jumlah yang tinggi tidak hanya Rp 200,- saja. Mengapa demikian? Agar masyarakat merasa enggan membeli kantong plastik dengan harga tinggi padahal kantong tersebut pada akhirnya akan dibuang.

(15)

Selain itu pemerintah juga harus menerapkan peraturan bahwa biaya dari kantong plastik tersebut dapat disalurkan untuk kegiatan – kegiatan sosial seperti membantu masyarakat yang kekurangan. Dengan demikian, tidak hanya penggunaan plastik yang berkurang tetapi juga masyarakat yang membutuhkan juga dapat memperoleh keuntungan dari kebijakan ini sehingga semua merasa sejahtera.

DAFTAR PUSTAKA

2016. Awasi Penerapan Plastik Berbayar, Ini Langkah BLH, (http://kaltim.prokal.co/), (online), diakses pada tanggal 29 Februari 2016 pukul 20.00 WIB

2016. Haruskah membayar Kantong Plastik di Supermarket? (http://www.hukumonline.com), (online), diakses pada tanggal 29 Februari 2016 pukul 19.07 WIB

Kurniawan, Roni. 2016. Warga Bandung Nilai Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Kurang Efektif, (http://jabar.metrotvnews.com/ ), (online), diakses pada tanggal 29 Februari 2016 pukul 19.17 WIB

Sumantri, Arga. 2016. Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Dievaluasi per 3 Bulan,

(http://news.metrotvnews.com), (online), diakses pada tanggal 29 Februari 2016 pukul 19.15 WIB

Syamsuri. 2012. Formulasi Kebijakan, ( http://kebijakanpublik12.blogspot.co.id), (online), diakses pada tanggal 29 Februari 2016 pukul 19.05 WIB

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian, upaya Pemerintah Desa melalui BUMDes untuk mewujudkan desa mandiri juga menghadapi kendala sosial yang terjadi yaitu munculnya kecemburuan antardukuh terkait dengan dana

Permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan pelayanan yang ada di Pemerintah Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Tembalang antara lain masih banyak keluhan masyarakat baik secara

1) Semua variabel terkait dengan kompetensi sangat memengaruhi core competensi dan berdampak pada kualitas hasil audit. 2) Laporan hasil pengawasan internal pemerintah

Sistem Pendukung Keputusan.. menanganinya dengan cara mengadaptasikan sistem terhadap kondisi-kondisi perubahan yang terjadi. 8) Pengguna merasa seperti di rumah.