9 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Balita 2.1.1. Definisi.
Balita adalah anak dengan usia dibawah 5 tahun dengan karakteristik pertumbuhan cepat pada usia 0-1 tahun, dimana umur 5 bulan berat badan naik 2 kali berat badan lahir dan berat badan naik 3 kali dari berat badan lahir pada umur 1 tahun dan menjadi 4 kali pada umur 2 tahun. Pertumbuhan mulai lambat pada masa pra sekolah, kenaikan berat badan kurang lebih 2 kg per tahun, kemudian pertumbuhan konstan mulai berakhir (Soetjiningsih, 2014). Periode balita mencakup 2 tahun kedua kehidupan, sejak usia 1 sampai 5 tahun. Periode ini merupakan masa dimana pertumbuhan dan perkembangan anak sangat cepat.
Perilaku khas selama masa balita adalah memegang dan melepaskan. Setelah belajar bahwa orang tua dapat diprediksikan dan terpercaya pada orang lain.
Tantangannya adalah mendukung kemandirian dan otonomi sambil menjaga keamanan balita rasa ingin tahunya yang sangat tinggi (Kyle, 2014).
2.1.2. Pertumbuhan Fisik Balita.
Tinggi badan dan berat badan balita terus meningkat secara kontinu, meskipun peningkatan terjadi dengan kecepatan yang lebih lambat dibandingkan masa bayi.
Pencapaian tinggi dan berat badan cenderung terjadi dalam bentuk lonjakan dan bukan dalam bentuk linier. Pertambahan berat badan balita rata-rata adalah 1,4 sampai 2,3 kg per tahun. Panjang/tinggi badan meningkat rata-rata 7,5 cm per tahun. Balita umumnya mencapai sekitar setengah dari tinggi dewasa mereka pada usia 2 tahun. Lingkar kepala bertambah sekitar 2,54 cm sejak anak berusia antara 1 dan 2 tahun, kemudian bertambah rata-rata 1,27 cm per tahun sampai anak berusia 5 tahun. Fontanel anterior tertutup pada saat anak berusia 18 bulan. Ukuran kepala menjadi lebih proporsional terhadap sisa tubuh yang lain saat mendekati usia 3 tahun (Wahyuni, 2018).
Tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan Pertumbuhan adalah perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu bertambahnya jumlah ukuran, dimensi pada tingkat sel organ maupun individu anak. Anak tidak hanya bertambah besar secara fisik, melainkan juga ukuran dan struktur organ-organ tubuh dan otak. Pertumbuhan fisik dapat dinilai dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang, dan tanda-tanda seks sekunder (Soetjiningsih, 2013). Perkembangan adalah perubahan yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan.
Perkembangan menyangkut porses diferensiasi sel tubuh, organ dan sistem organ yang
berkembang sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi fungsinya, termasuk juga perkembangan kognitif, bahasa, motorik, emosi dan perkembangan perilaku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya. Perkembangan merupakan perubahan yang bersifat progresif, terarah, dan terpadu. Perkembangan motorik anak berlangsung secara sefokaudal dan proksimadistal (Soetjiningsih, 2013).
2.1.3. Perkembangan Psikososial dan Moral Anak.
2.1.3.1. Perkembangan Psikososial Anak.
Teori psikososial Erikson (2013), meliputi delapan tahap yang saling berurutan sepanjang hidup. Hasil dari tiap tahap tergantung dari hasil tahapan sebelumnya, dan resolusi yang sukses dari tiap krisis ego adalah penting bagi individu untuk dapat tumbuh secara optimal. Ego harus mengembangkan kesanggupan yang berbeda untuk mengatasi tiap tuntutan penyesuaian dari masyarakat. Berikut adalah delapan tahapan perkembangan psikososial menurut Erikson:
1. Tahap I : Trust versus Mistrust (0-1 tahun)
Dalam tahap ini, bayi berusaha keras untuk mendapatkan pengasuhan dan kehangatan, jika ibu berhasil memenuhi kebutuhan anaknya, sang anak akan mengembangkan kemampuan untuk dapat mempercayai dan mengembangkan asa (hope). Jika krisis ego ini tidak pernah terselesaikan, individu tersebut akan mengalami kesulitan dalam membentuk rasa percaya dengan orang lain sepanjang hidupnya, selalu meyakinkan dirinya bahwa orang lain berusaha mengambil keuntungan dari dirinya. Peran orang tua terutama ibu pada tahapan
ini sangat penting dalam asupan nutrisi anak, memenuhi kebutuhan nutrisinya akan menambah trust dan nyaman dalam pengasuhan orang tuanya.
2. Tahap II: Autonomy versus Shame and Doubt (l-3 tahun)
Dalam tahap ini, anak akan belajar bahwa dirinya memiliki kontrol atas tubuhnya. Orang tua seharusnya menuntun anaknya, mengajarkannya untuk mengontrol keinginan atau impuls-impulsnya, namun tidak dengan perlakuan yang kasar. Mereka melatih kehendak mereka, tepatnya otonomi. Harapan idealnya, anak bisa belajar menyesuaikan diri dengan aturan-aturan sosial tanpa banyak kehilangan pemahaman awal mereka mengenai otonomi, inilah resolusi yang diharapkan. Perkembangan psikososial anak dipengaruhi salah satunya oleh interaksi sosial. Peran orang tua disini menuntun dan mengontrol anak dalam interaksi sosial dan asupan nutrisinya, karena anak pada tahapan ini sudah mulai memilih apa yang dia suka, jadi ibu perlu mengenalkan banyka ragam makanan untuk pilihan pemenuhan nutrisi anak.
3. Tahap III : Initiative versus Guilt (3-6 tahun)
Pada periode inilah anak belajar bagaimana merencanakan dan melaksanakan tindakannya. Resolusi yang tidak berhasil dari tahapan ini akan membuat sang anak takut mengambil inisiatif atau membuat keputusan karena takut berbuat salah. Anak memiliki rasa percaya diri yang rendah dan tidak mau mengembangkan harapan-harapan ketika ia dewasa. Bila anak berhasil melewati masa ini dengan baik, maka keterampilan ego yang diperoleh adalah memiliki tujuan dalam hidupnya. Keluarga sangat berperan penting dalam proses belajar anak, orang tua harus aktif dalam tahapan ini. Termasuk
pemenuhan nutrisi yang adekuat akan menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam mengembangkan dirinya dan dalam pergaulan teman sebaya, secara fisik postur berat badan dan tinggi badannya normal.
4. Tahap IV: Industry versus Inferiority (6-12 tahun)
Pada saat ini, anak-anak belajar untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan dari menyelesaikan tugas khususnya tugas-tugas akademik. Penyelesaian yang sukses pada tahapan ini akan menciptakan anak yang dapat memecahkan masalah dan bangga akan prestasi yang diperoleh. Ketrampilan ego yang diperoleh adalah kompetensi. Di sisi lain, anak yang tidak mampu untuk menemukan solusi positif dan tidak mampu mencapai apa yang diraih teman- teman sebaya akan merasa inferior.
5. Tahap V : Identity versus Role Confusion (12-18 tahun)
Pada tahap ini, terjadi perubahan pada fisik dan jiwa di masa biologis seperti orang dewasa sehingga tampak adanya kontra indikasi bahwa di lain pihak ia dianggap dewasa tetapi di sisi lain ia dianggap belum dewasa. Tahap ini merupakan masa standarisasi diri yaitu anak mencari identitas dalam bidang seksual, umur dan kegiatan. Peran orang tua sebagai sumber perlindungan dan nilai utama mulai menurun. Adapun peran kelompok atau teman sebaya tinggi.
6. Tahap VI : Intimacy versus Isolation (masa dewasa muda)
Dalam tahap ini, orang dewasa muda mempelajari cara berinteraksi dengan orang lain secara lebih mendalam. Ketidakmampuan untuk membentuk ikatan sosial yang kuat akan menciptakan rasa kesepian. Bila individu berhasil mengatasi krisis ini, maka keterampilan ego yang diperoleh adalah cinta.
7. Tahap VII : Generativity versus Stagnation (masa dewasa menengah)
Pada tahap ini, individu memberikan sesuatu kepada dunia sebagai balasan dari apa yang telah dunia berikan untuk dirinya, juga melakukan sesuatu yang dapat memastikan kelangsungan generasi penerus di masa depan. Ketidakmampuan untuk memiliki pandangan generatif akan menciptakan perasaan bahwa hidup ini tidak berharga dan membosankan. Bila individu berhasil mengatasi krisis pada masa ini maka ketrampilan ego yang dimiliki adalah perhatian.
8. Tahap VIII : Ego Integrity versus Despair (masa dewasa akhir)
Pada tahap usia lanjut ini, mereka juga dapat mengingat kembali masa lalu dan melihat makna, ketentraman dan integritas. Refleksi ke masa lalu itu terasa menyenangkan dan pencarian saat ini adalah untuk mengintegrasikan tujuan hidup yang telah dikejar selama bertahun-tahun. Kegagalan dalam melewati tahapan ini akan menyebabkan munculnya rasa putus asa.
2.1.3.2. Perkembangan Seksual Anak.
Winata et al. (2017), dalam penelitiannya tahap perkembangan seksual anak dimulai sejak anak dilahirkan. Tahap perkembangan seksual anak tersebut mengikuti fase yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Freud menyusun fase tersebut dengan beberapa tahap yaitu oral stage, anal stage, phallic stage, latency stage dan genital stage.
1. Tahap mulut (oral stage), berlangsung sejak anak dilahirkan sampai berusia 12-18 bulan. Puncak kenikmatan bayi berada di mulutnya seperti mengunyah, menghisap dan menggigit dapat mengurangi tekanan yang dialami bayi.
2. Tahap anal (anal stage), berlangsung sejak usia 12-18 bulan hingga berusia tiga tahun. Pada saat ini pengenalan toilet training bisa dilakukan karena anak sudah memiliki sensitifitas dengan anus.
3. Tahap phallic (phallic stage), berlangsung sejak anak berusia tiga sampai enam tahun. Phallic berasal dari kata phallus yang berarti alat kelamin laki-laki;
pusat kenikmatan berada pada alat kelamin.
4. Tahap laten (latency stage), berlangsung saat anak berusia enam tahun hingga pubertas. Saat ini anak menaruh perhatian sangat khusus pada masalah seksual dan mengembangkan keterampilan sosial serta intelektualnya.
5. Tahap genital (genital stage), masa ini berlangsung sejak pubertas hingga masa dewasa.
Tahap perkembangan seksual ini tidak berdiri sendiri. Menurut Freud perkembangan alami manusia selalu terhubung antara perkembangan biologis, sosial dan emosional.
Oleh karena itu, pakar setelah Frued mengkaji pandangan lain seperti perkembangan emosional. Di antara pakarnya adalah Erikson. Ia mengatakan bahwa anak di usia dua tahun sudah memiliki kemandirian untuk melakukan aktivitas yang dirasa mampu untuk ia lakukan (autonomy).
2.1.3.3. Perkembangan Moral Anak.
Nuraidah (2017), tahap perkembangan menurut Hurlock ada tiga yaitu:
1. Perkembangan kuantitas menuju kualitas, bahwa pada tahap awal perkembangan moral, anak tidak memperhitungkan unsur motivasi. Ketika usianya semakin bertambah, anak akan mulai memahami bahwa kualitas suatu perubahan harus diperhitungkan dalam menilai benar atau salah, atau yang
biasa disebut dengan tingkatan heteronomous yang artinya setiap aturan dipandang sebagai hal yang datang dari luar dan dianggap sakral karena aturan tersebut merupakan hasil pemikiran orang dewasa.
2. Ketaatan mutlak menuju inisiatif pribadi, yang pada tahap ini, disebut dengan tingkatan autonomous (otonomi) yang artinya anak-anak akan mulai bermain dengan peraturan yang dapat diubah sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Dan apabila terjadi pelanggaran, maka anak dapat memprotesnya dengan lantang.
Karena pada tahap ini anak memiliki kepekaan yang tinggi terhadap ketidakkonsistenan orang tua bila orang tuanya melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan yang diajarkannya.
3. Kepentingan diri menuju kepentingan orang lain, bahwa pada tingkatan ini moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar- standar orang lain. Pada tahap ini anak mulai dapat memutuskan sesuatu dari banyak pilihan yang mereka pertimbangkan kemudian mengambil keputusan berdasarkan kode moral pribadi.
Tahap perkembangan moral menurut Piaget ada dua yaitu sebagai berikut:
1. Heteronomous Morality adalah tahapan perkembangan moral pertama menurut Piaget. Tahap ini berlangsung kira-kira usia empat sampai tujuh tahun. Pada tahap ini, keadilan dan aturan dianggap sebagai bagian dari dunia yang tak bisa diubah, tidak dikontrol oleh orang.
2. Autonomous Morality adalah tahap perkembangan moral kedua menurut Piaget, yang tercapai pada usia 10 tahun atau lebih. Pada tahap ini, anak mulai mengetahui bahwa aturan dan hukuman adalah buatan manusia dan bahwa,
dalam menilai suatu perbuatan, niat pelaku dan konsekuensinya harus dipikirkan.
Kohlberg memaparkan bahwa tahap perkembangan moral, ada 3 sebagai berikut : 1. Preconventional reasoning (penalaran prakonvensional) adalah level terbawah
dari perkembangan moral dalam teori Kohlberg. Pada level ini, anak tidak menunjukkan interaksi nilai-nilai moral. Penalaran moral dikontrol oleh hukuman dan ganjaran eksternal.
2. Conventional reasoning (penalaran konvensional) adalah tahap kedua atau tahap menengah dalam teori Kohlberg. Pada level ini, interaksi masih setengah-setengah (intermediet). Anak patuh secara internal pada standar tertentu, tetapi standar itu pada dasarnya ditetapkan oleh orang lain, seperti orangtua atau oleh aturan sosial.
3. Postconventional reasoning (penalaran post-konvensional) adalah level tertinggi dalam teori Kohlberg. Pada level ini moralitas telah sepenuhnya diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar eksternal. Anak mengetahui aturan-aturan moral alternatif, mengeksplorasi opsi, dan kemudian memutuskan sendiri kode moral apa yang terbaik bagi dirinya.
2.2. Gizi Pada Balita 2.2.1. Definisi.
Status gizi dapat pula diartikan sebagai gambaran kondisi fisik seseorang sebagai refleksi dari keseimbangan energi yang masuk dan yang dikeluarkan oleh tubuh (Marimi, 2013). Masalah gizi anak secara garis besar merupakan dampak dari
ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran zat gizi (nutritional imbalance), yaitu asuoan yang melebihi keluaran atau sebaliknya, di samping kesalah dalam memilih bahan makanan untuk di santap (Arisman, 2009).
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Dibedakan antara status gizi lebih, kurang, dan buruk. Secara klasik kata gizi hanya dihubungkan dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk membangun. memelihara jaringan tubuh, mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh, serta menyebimbangkan energy. Tetapi, sekarang kata gizi mempunyai pengertian lebih luas, disamping untuk kesehatan, gizi dikaitkan dengan potensi ekonomi seseorang, karena gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktifitas kerja (Almatsier, 2010).
Status gizi seseorang dinilai dengan mengumpulkan informasi mengenai pasien dari beberapa sumber. Skrining nutrisi, riwayat kesehatan pasein, temuan pemeriksaan fisik, dan hasil laboratorium dapat digunakan sebagai informasi untuk menentukan kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pasien (A.C Ross, dkk, 2014).
2.2.2. Klasifikasi.
2.2.2.1. Gizi Lebih.
Ketidakseimbangan antara asupan energi dengan kebutuhan gizi yang mempengaruhi status gizi seseorang. Ketidakseimbangan positif terjadi apabila asupan energi lebih besar daripada kebutuhan sehingga mengakibatkan kelebihan pada berat badan atau
gizi lebih. Kedaan gizi yang melebihi berat badan normal memiliki kerugian karena penampilan kurang menarik, gerakan menjadi lamban, dan mudah letih (Guthrie, 2010). Peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat tertentu, terutama di perkotaan menyebabkan perubahan dalam gaya hidup, terutama pola makan. Pola makan berubah ke pola makan baru yang rendah karbohidat, rendah serat kasar, dan tinggi lemak sehingga menjadikan mutu makanan ke arah tidak seimbang.
Penanggulangan masalah gizi lebih adalah dengan menyeimbangkan masukan dan keluaran energi melalui pengurangan makan dan penambahan latihan fisik.
Penyeimbangan masukan energy dilakukan dengan membatasi konsumsi karbohidrat dan lemak serta menghindari konsumsi alkohol (Almatsier, 2010).
2.2.2.2. Gizi Kurang.
Menurut Moehji (2015) Gizi kurang adalah kekurangan bahan-bahan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Gizi kurang merupakan suatu keadaan yang terjadi akibat tidak terpenuhi asupan makana. Gizi kurang dapat terjadi karena seseorang mengalami kekurangan salah satu zat gizi atau lebih di dalam tubuh (Almatsier, 2009).
2.2.3. Kebutuhan Gizi Balita.
Menurut Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat (2010), kebutuhan gizi balita harus tercukupi dalam proses tumbuh kembang. Zat makanan atau zat gizi adalah bahan dasar penyusun bahan makanan, yaitu:
2.2.3.1.Karbohidrat.
Karbohidrat yaitu salah satu sumber energi yang sangat diperlukan bagi tubuh manusia. Produk dari gula sederhana mengalami polimerisasi serta juga membentuk polisakarida. Glukosa merupakan bentuk dasarnya, lalu karbohidrat akan dipecah oleh sistem pencernaan menjadi glukosa dan kemudian diserap oleh darah untuk digunakan oleh tubuh. Sehingga gula darah dapat digunakan ketika tubuh membutuhkan energi (Mitayani dan Sartika, 2010). Susunan kimia karbohidrat terdiri Hydrogen (H), Carbon (C) dan Oksigen (O2). Terdapat berbagai macam karbohidrat yang terdapat pada makanan yang dikelompokkan menjadi polisakarida, disakarida, dan monosakarida (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat. 2010).
2.2.3.2.Protein.
Protein merupakan bagian dari semua sel hidup dan bagian terbesar tubuh sesudah air.
Protein tidak dapat digantikan oleh zat lainnya, karena mempunyai fungsi yang khas yaitu memelihara serta membangun sel-sel dan jaringan pada tubuh manusia (Almatsier, 2010). Protein sama halnya seperti lemak dan karbohidrat yang dibangun oleh unsur Hidrogen (H), Carbon (C) dan Oksigen (O2), dan juga mengandung senyawa Nitrogen (N). Protein nabati didapatkan dari tumbuh-tumbuhan, sedangkan protein hewani didapatkan dari hewani (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2010).
2.2.3.3.Lemak.
Lemak merupakan salah satu senyawa organik yang terdiri dari Oksigen (O2).
Hidrogen (H), dan juga Carbon (C). Lemak merupakan bersifat larut dalam pelarut lemak, seperti petroleum, benzene, eter dan lain-lain.
2.2.3.4.Vitamin.
Vitamin pada tahun 1912 digunakan pertama kali oleh Cashimir Funk (Polandia).
Penemuan zat dalam dedak beras ini dapat menyebuhkan beriberi. Zat tersebut dibutuhkan oleh tubuh untuk hidup “vita” dan mengandung unsur N (amine), sehingga
diberi istilah vitamin.
2.2.3.5.Mineral.
Mineral adalah zat gizi yang diperlukan jumlah sedikit dalam tubuh, yang berfungsi sebagai:
a) Bahan pembentuk dengan berbagai macam jaringan tubuh, seperti gigi dan tulang.
b) Menganalisis reaksi pemecahan protein, lemak, karbohidrat, maupun menganalisis pembentukan protein dan lemak dalam tubuh.
c) Mengatur proses pembentukan dasar.
2.3. Stunting 2.3.1. Definisi.
Adriani dan Wirjatmadi (2014) mengemukakan, dalam standar antropometri penilaian status gizi stunting didasarkan pada indeks PB/U atau TB/U. Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Masalah stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan meningkatnya risiko kesakitan, kematian dan hambatan pada pertumbuhan baik motorik maupun mental. Stunting dibentuk oleh growth faltering dan catcth up
growth. Growth faltering merupakan kondisi kegagalan pertumbuhan yang ditandai dengan laju pertumbuhan yang melambat karena ketidakseimbangan antara asupan energi dengan kebutuhan biologis untuk pertumbuhan, hal ini sering terjadi pada usia 15 bulan pertama kehidupan dengan insidensi tertinggi pada usia 3-12 bulan. Catcth up growth merupakan periode singkat setelah pertumbuhan yang melambat ketika berat badan dan tinggi badan mampu meningkat pesat yaitu sekitar 2 kali lipat dibandingkan dengan peningkatan berat badan dan tinggi badan anak normal seusianya. Stunting dibentuk oleh growth faltering dan catch up growth yang tidak memadai yang mencerminkan ketidakmampuan untuk mencapai pertumbuhan optimal, hal tersebut menunjukkan bahwa kelompok balita yang lahir dengan berat badan normal dapat mengalami stunting bila pemenuhan kebutuhan selanjutnya tidak terpenuhi dengan baik.
2.3.2. Faktor Penyebab Stunting.
Kemenkes (2017), menyatakan bahwa stunting disebabkan oleh faktor multidimensi intervensi paling menentukan pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).
2.3.2.1. Praktek pengasuhan yang tidak baik.
a. Kurang pengetahuan tentang kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan.
b. 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI ekslusif.
c. 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima MP-ASI.
2.3.2.2. Terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC (ante natal care), PNC (post natal care) dan pembelajaran dini yang berkualitas.
a. 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun tidak terdaftar di PAUD.
b. 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi suplemen zat besi yang memadai.
c. Menurunnya tingkat kehadiran anak di Posyandu (dari 79% di 2007 menjadi 64%
di 2013).
d. Tidak mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi.
2.3.2.3. Kurangnya akses ke makanan bergizi.
a. 1 dari 3 ibu hamil anemia.
b. Makanan bergizi mahal.
2.3.2.4. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.
a. 1 dari 5 rumah tangga masih BAB di ruang terbuka.
b. 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih.
2.3.3. Klasifikasi.
Penilaian status gizi balita yang paling sering dilakukan adalah dengan cara penilaian antropometri. Secara umum antropometri berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) yang dinyatakan dengan standar deviasi unit Z (Zscore). Stunting dapat diketahui bila seorang balita sudah ditimbang berat badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Jadi secara fisik balita akan lebih pendek dibandingkan balita seumurnya (Adriani et al., 2014).
2.3.4. Pemeriksaaan Antropometri Stunting.
Antropometri berasal dari kata “anthropos” (tubuh) dan “metros” (ukuran) sehingga antropometri secara umum artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan gizi. Dimensi tubuh yang diukur, antara lain: umur, berat badan, tinggi badan.
2.3.5. Umur.
Umur adalah suatu angka yang mewakili lamanya kehidupan seseorang. Usia dihitung saat pengumpulan data, berdasarkan tanggal kelahiran. Apabila lebih hingga 14 hari maka dibulatkan ke bawah, sebaliknya jika lebih 15 hari maka dibulatkan ke atas.
2.3.6. Tinggi Badan Atau Panjang Badan.
Ialah indikator umum dalam mengukur tubuh dan panjang tulang. Alat yang biasa dipakai disebut stadiometer. Ada dua macam yaitu: „stadiometer portabel’ yang memiliki kisaran pengukur 840-2060 mm dan „harpenden stadiometer digital’ yang memiliki kisaran pengukur 600-2100 mm. Tinggi badan diukur dalam keadaan berdiri tegak lurus, tanpa alas kaki dan aksesoris kepala, kedua tangan tergantung rileks di samping badan, tumit dan pantat menempel di dinding, pandangan mata mengarah ke depan sehingga membentuk posisi kepala Frankfurt Plane (garis imaginasi dari bagian inferior orbita horisontal terhadap meatus acusticus eksterna bagian dalam). Bagian alat yang dapat digeser diturunkan hingga menyentuh kepala (bagian verteks).
Sentuhan diperkuat jika anak yang diperiksa berambut tebal. Inspirasi maksimum pada
saat diukur untuk meluruskan tulang belakang. Pada bayi yang diukur bukan tinggi melainkan panjang badan. Biasanya panjang badan diukur jika anak belum mencapai ukuran linier 85 cm atau berusia kurang dari 2 tahun. Ukuran panjang badan lebih besar 0,5-1,5 cm daripada tinggi.
Tabel 2.1.
Penilaian Status Nutrisi Berdasarkan Indeks BB/U, TB/U, BB/TB.
Indeks Yang Dipakai
Batas Pengelompokan
Status Gizi
BB/U < -3 SD
-3 s/d < -2 SD -2 s/d 2 SD
>2 SD
Gizi Buruk Gizi Kurang
Gizi Baik Gizi Lebih
TB/U < -3 SD
-3 s/d < -2 SD -2 s/d 2 SD
>2 SD
Sangat Pendek Pendek Normal Tinggi
BB/TB <-3 SD
-3 s/d <-2 SD -2 s/d 2 SD
>2 SD
Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk
2.3.7. Penatalaksanaan Medis Pada Stunting.
Table 2.2.
Penatalaksanaan Medis Pada Stunting.
Faktor Penyebab Intervensi
Praktek pengasuhan yang tidak baik.
• Penguatan intervensi paket gizi pada ibu hamil dan balita seperti pemberian makanan tambahan (PMT), pemberian vitamin A dan TTD (tablet tambah darah).
Terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC (ante natal care), PNC (post natal care) dan pembelajaran dini yang berkualitas.
• Pembinaan dalam peningkatan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan.
• Pembinaan dalam peningkatan pelayanan antenatal.
• Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan untuk kesehatan ibu dan anak.
• Cakupan penduduk yang menjadi peserta
penerima bantuan iuran (PBI) melalui JKN/KIS.
• Pengendalian penyakit filariasis, kecacingan dan pengadaan obatnya.
Kurangnya akses ke makanan begizi.
• Hasil pengembangan tabel komposisi pangan Indonesia.
• Penyediaan makanan tambahan bagi ibu hamil kurang energi kronis (KEK).
• Penyediaan makanan tambahan bagi balita kekurangan gizi.
• Peningkatan surveilans gizi dan pengadaan obat gizi (Vit A, TTD).
Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.
• Pembinaan Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
2.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Gizi Pada Balita 2.4.1. Faktor Eksternal.
Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi diantaranya adalah Marimi (2013):
2.4.1.1.Pendapatan.
Pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas makanan, karena dengan pendapatan yang memadai dapat menyediakan semua kebutuhan anak balita yang primer maupun yang sekunder. Pendapatan yang meningkat akan menyebabkan semakin besarnya total pengeluaran termasuk pengeluaran untuk pangan. Rokhana (2015), mengemukakan rendahnya pendapatan merupakan rintangan lain yang menyebabkan orang tidak mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan. Sehingga tinggi rendahnya pendapatan sangat mempengaruhi daya beli keluarga terhadap bahan pangan yang akhirnya berpengaruh terhadap status gizi seseorang terutama anak balita karena pada masa itu diperlukan banyak zat gzi untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
2.4.1.2.Pendidikan.
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat tentang status gizi yang baik. Tingkat pendidikan juga dapat menentukan mudah tidaknya seseorang menerima suatu pengetahuan atau informasi, semakin tinggi pendidikan seseorang, maka pendidikan dan informasi gizi mudah diterima yang akhirnya dapat mengubah perilaku makan yang lebih baik dan dapat meningkatkan status gizi anak balita. Ulfani et al. (2011), dalam penelitiannya mengemukakan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang untuk mengimplementasikan pengetahuannya dalam perilaku khususnya dalam hal kesehatan dan gizi. Dengan demikian, pendidikan ibu yang relatif rendah akan berkaitan dengan sikap dan tindakan ibu dalam menangani masalah kurang gizi pada anak balitanya.
2.4.1.3.Pekerjaan.
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Zahrotunnisa (2018), dalam penelitiannya menyatakan bahwa status pekerjaan ibu sangat menentukan perilaku ibu dalam pemberian nutrisi pada balita. Ibu yang bekerja berdampak pada rendahnya waktu kebersamaan ibu dengan anak sehingga asupan makan anak tidak terkontrol dengan baik dan juga perhatian ibu terhadap perkembangan anak menjadi berkurang.
2.4.2. Faktor Internal.
Faktor internal yang dapat mempengaruhi status gizi antara lain (Marimi, 2013) : a) Usia Orang Tua
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi pada anak.
b) Kondisi Fisik Anak
Seseoarang yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan semuanya memerlukan jenis makanan khusus karena status kesehatan sedang tidak baik.
Anak pada periode ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk mempercepan pertumbuhan dan perkembangan.
c) Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan penurunan nafsu makan maupun menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan. Terdapat pengaruh yang cukup besar dari penyakit infeksi terhadap keadaan gizi seseorang.
Penyakit infeksi tersebut antara lain seperti diare dan demam, penyakit tersebut dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan, dimana makanan yang dikonsumsi menjadi berkurang, sehingga dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada status gizi.
2.5.Konsep Keluarga 2.5.1. Definisi.
Friedman, (2010) mendefinisikan keluarga adalah unit dari masyarakat dan merupakan ,‟lembaga‟ yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat, hubungan
yang berat antara anggotanya dengan keluarga sangat menonjol sehingga keluarga sebagai lembaga/unit layanan perlu diperhitungkan. Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adaptasi, dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental dan emosional serta sosial individu yang ada di dalamnya, dilihat dari interaksi yang reguler dan ditandai dengan adanya ketergantungan dan hubungan untuk mencapai tujuan umum (Zaidin Ali, 2010). Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling bergantung (Zaidin Ali, 2010). Dari ketiga definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat, terdiri dari dua orang atau lebih yang tergabung dalam hubungan darah, perkawinan dan saling ketergantungan yang mempunyai hubungan untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional serta sosial dari tiap anggota.
2.5.2. Fungsi Keluarga.
Fungsi keluarga menurut Friedman, (2010) adalah : 2.5.2.1. Fungsi afektif.
Fungsi afektif merupakan hubungan sosial yang positif berhubungan dengan hasil kesehatan yang lebih baik, umur panjang, dan penurunan tingkat stres. Sebaliknya, kehidupan keluarga juga dapat menimbulkan stres dan koping disfungsional dengan akibat yang dapat menganggu kesehatan fisik (misal tidur, tekanan darah tinggi, penurunan respon imun).
2.5.2.2. Fungsi sosialisasi.
Fungsi sosialisasi adalah proses perkembangan atau perubahan yang terjadi atau dialami seseorang sebagai hasil dari interaksi dan pembelajaran peran sosial.
Sosialisasi dimulai dari sejak lahir dan keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosilalisasi.
2.5.2.3.Fungsi reproduksi.
Fungsi reproduksi adalah fungsi keluarga untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.
2.5.2.4. Fungsi ekonomi.
Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti makanan, pakaian, perumahan, dan lain-lain.
2.5.2.5. Fungsi perawatan keluarga.
Fungsi untuk menyediakan makanan, pakaian, perlindungan dan asuhan kesehatan / keperawatan. Kemampuan keluarga melakukan asuhan keperawatan atau pemeliharaan kesehatan memengaruhi status kesehatan keluarga dan individu.
2.5.3. Tipe dan Bentuk Keluarga.
Beberapa tipe keluarga menurut (Friedman, 2010), antara lain adalah sebagai berikut : 2.5.3.1.Nuclear Family.
Keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak yang masih menjadi tanggungjawab dan tinggal dalam satu rumah, terpisah dari anak keluarga lainnya.
2.5.3.2. Extended Family.
Satu keluarga yang terdiri dari satu atau dua keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah dan saling menunjang satu sama lain.
2.5.3.3. Single parent family.
Satu keluarga yang dikepalai oelh satu kepala keluarga dan hidup bersama dengan anakanak yang masih bergantung kepadanya.
2.5.3.4. Nuclear dyed.
Keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri tanpa anak, tinggal dalam satu rumah yang sama.
2.5.3.5. Blended family.
Suatu keluarga yang terbentuk dari perkawinan pasangan, yang masing-masing pernah menikah dan membawa anak hasil perkawinan terdahulu.
2.5.3.6. Three generation family.
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi, yaitu kakek, nenek, bapak, ibu, dan anak dalam satu rumah.
2.5.3.7. Single adult living alone.
Bentuk keluarga yang hanya terdiri dari satu orang dewasa yang hidup dalam rumahnya.
2.5.3.8. Middle age atau ederly couple.
Keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri paruh baya.
2.6. Karakteristik Keluarga 2.6.1. Definisi.
Menurut Rahayu (2014), salah satu faktor yang menentukan terjadinya masalah kesehatan di masyarakat adalah ciri manusia atau karakteristik. Karakteristik adalah suatu ciri khas yang dimiliki oleh seseorang atau lembaga organisasi yang sudah melekat padanya. Unsur karakteristik keluarga antara lain :
2.6.1.1. Tingkat Pendidikan.
Pendidikan sebagai suatu proses atau kegiatan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan individu atau masyarakat. Ini berarti bahwa pendidikan adalah suatu pembentukan watak yaitu sikap disertai kemampuan dalam bentuk kecerdasan, pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan formal yang ada di Indonesia adalah tingkat SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi. Tingkat pendidikan sangat menentukan daya nalar seseorang. Tingkat pendidikan yang lebih baik memungkinkan seseorang dapat menyerap informasi lebih baik dan dapat berpikir secara rasional dalam menanggapi setiap masalah yang dihadapi. Menurut Thompson dalam Rahayu (2014), mengatakan bahwa Pendidikan merupakan pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan perilaku, pikiran dan sikapnya.
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka seseorang akan dapat lebih mudah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan menyerap kemajuan teknologi.
Kemajuan yang dicapai oleh suatu bangsa antara lain sangat ditentukan oleh tingkat
pendidikan penduduknya. Dalam kaitannya dengan pendidikan, keluarga mempunyai peranan penting, terutama dalam proses pembentukan pribadi seseorang.
2.6.1.2. Jumlah Pendapatan.
Jumlah pendapatan yang baik memungkinkan anggota keluarga untuk memperoleh yang lebih baik misalnya di bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan karier dan lain sebagainya. Demikian pula sebaliknya jika pendapatan lemah maka hambatan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Keadaan ekonomi atau penghasilan memegang peranan penting dalam meningkatkan status kesehatan keluarga. Demikian bila penghasilan tinggi maka pemanfaatan pelayanan kesehatan dan pencegahan penyakit juga meningkat dibandingkan dengan penghasilan rendah akan berdampak pada kurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan dalam hal pemeliharaan kesehatan karena daya beli obat maupun biaya yang dikeluarkan dalam mengunjungi pusat pelayanan kesehatan. Dalam hal ini keadaan ekonomi atau penghasilan memegang peranan penting dalam meningkatkan status kesehatan keluarga dan perkembangan anak (Notoatmodjo, 2014).
2.6.1.3. Status Pekerjaan.
Pekerjaan adalah sekumpulan kedudukan (posisi) yang memiliki persamaan kewajibandan tugas-tugas pokoknya. Dalam kegiatan analisis jabatan, satu pekerjaan dapat diduduki oleh satu orang yang tersebar diberbagai tempat. Dalam arti luas pekerjaan adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi (Santosa, 2014).
2.6.1.4. Jumlah anak.
Menurut Rahayu (2014), jumlah anak adalah jumlah anak yang dimiliki oleh ibu balita > 2 orang (tidak sesuai program Keluarga Berencana) dan < 2 orang (sesuai program Keluarga Berencana). Jumlah anak yang banyak pada keluarga dengan sosial ekonomi yang cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak, terutama jika jarak terlalu dekat. Sedangkan pada keluarga dengan sosial ekonomi yang kurang, jumlah anak yang banyak mengakibatkan kurangnya kasih sayang dan perhatian pada anak, juga kebutuhan primer seperti makanan, sandang dan perumahan tidak terpenuhi yang pada akhirnya akan berpengaruh pada perkembangan anak.
2.7.Pola Asuh 2.7.1. Definisi.
Pola asuh adalah suatu keseluruhan interaksi orang tua dan anak, dimana orang tua yang memberikan dorongan bagi anak dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan dan nilai-nilai yang dianggap paling tepat bagi orang tua agar anak bisa mandiri, tumbuh serta berkembang secara sehat dan optimal, memiliki rasa percaya diri, memiliki sifat rasa ingin tahu, bersahabat dan berorientasi untuk sukses (Tridhonanto, 2014).
2.7.2. Macam-Macam Pola Asuh.
Menurut Tridhonanto (2014), pola asuh terbagi : 2.7.2.1. Pola Asuh Otoriter.
Pola asuh otoriter adalah sentral artinya segala ucapan, perkataan, maupun kehendak orang tua dijadikan patokan (aturan) yang harus ditaati oleh anak-anaknya. Supaya taat, orang tua tidak segan-segan menerapkan hukuman yang keras kepada anak. Pola asuh otoriter merupakan cara mendidik anak yang dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak tanpa kompromi dan memperhitungkan keadaan anak. Orang tualah yang berkuasa menentukan segala sesuatu untuk anak dan anak hanyalah objek pelaksana saja. Jika anak membantah, orang tua tidak segan-segan akan memberikan hukuman, biasanya hukumannya berupa hukuman fisik. Akan tetapi apabila anak patuh maka orang tua tidak akan memberikan pengahargaan karena orang tua mengganggap bahwa semua itu adalah kewajiban yang harus dituruti oleh seorang anak. Dalam hal ini orang tua menentukan apa yang perlu dikonsumsi anak tanpa memberikan penjelasan, melarang jika anaknya menentukan menu makanan, orang tua memarahi dan menghukum jika anaknya menolak makan serta tidak memuji pada anaknya jika menghabiskan porsi makan.
2.7.2.2. Pola Asuh Demokratis.
Pola asuh demokratis adalah gabungan antara pola asuh permisif dan otoriter dengan tujuan untuk menyeimbangkan pemikiran, sikap dan tindakan antara anak dan orang tua. Pola asuh demokratis merupakan suatu bentuk pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan itu tidak mutlak, orang tua
memberikan bimbingan yang penuh pengertian kepada anak. Pola asuh ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melewati batas-batas atau aturan-aturan yang telah ditetapkan orang tua. Dalam pola asuh ini ditandai sikap terbuka antara orang tua dengan anak. Mereka membuat aturan-aturan yang telah disetujui bersama. Anak diberikan kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginannya. Jadi dalam pola asuh ini terdapat komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak, menggambarkan orang tua memberikan pengarahan dan pengertian pada anak jika akan mengkonsumsi makanan, menawarkan dan menjelaskan menu makanan, memberikan pujian jika anak menghabiskan porsi makan, terdapat komunikasi dua arah antara orang tua dan anaknya.
2.7.2.3. Pola Asuh Permisif.
Pola asuh permisif ini orang tua justru merasa tidak peduli dan cenderung memberi kesempatan serta kebebasan secara luas kepada anaknya. Jadi pola asuh permisif yaitu orang tua serba membolehkan anak berbuat apa saja. Orang tua membebaskan anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua memiliki kehangatan dan menerima apa adanya. Kehangatan, cenderung memanjakan, dituruti keinginnannya. Sedangkan menerima apa adanya akan cenderung memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat apa saja. Pola asuh orang tua permisif bersikap terlalu lunak, tidak berdaya, memberi kebebasan terhadap anak tanpa adanya norma- norma yang harus diikuti oleh mereka. Mungkin karena orang tua sangat sayang (over affection) terhadap anak atau orang tua kurang dalam pengetahuannya. Orang tua
membiarkan anak mengkonsumsi apa saja sesuai keinginannya, menuruti kemauan anak dan mengalah sekalipun anak menolak makan.
Ibu yang memberikan perhatian/dukungan lebih terhadap anaknya dalam hal pemberian makanan akan berpengaruh positif kepada keadaan status gizi anak, dimana digambarkan termasuk kategori baik dalam pemberian makan menunjukkan tinggi badan anak normal. Pemberian makanan pada bayi dan anak merupakan landasan yang penting dalam proses pertumbuhan. Di seluruh dunia sekitar 30% anak dibawah lima tahun yang mengalami stunting merupakan konsekuensi dari praktek pemberian makan yang buruk dan infeksi berulang (Wijogowati, 2010). Hal ini juga sesuai dengan pendapat Rahim, 2011 bahwa peran keluarga terutama Ibu dalam mengasuh anak akan menentukan tumbuh kembang anak. Perilaku Ibu dalam menyusui atau memberi makan, cara makan yang sehat, memberi makanan yang bergizi dan mengontrol besar porsi yang dihabiskan akan meningkatkan status gizi anak.
2.8. Kerangka Teori
Skema 2.1 Kerangka Teori
(Sumber: modifikasi dari Marimi (2013), Rahayu (2014) dan Kemenkes (2017))
Ketergantungan pada orang tua Faktor yang
mempngaruhi gizi pada balita.
Eksternal :
Pendapatan orang tua
Pendidikan orang tua
Pekerjaan orang tua
Terbatasnya layanan
kesehatan ANC, PNC dan pembelajaran dini yang berkualitas
Kurangnya akses ke makanan bergizi
Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi
Pemenuhan zat gizi
Balita (at risk)
Faktor yang mempngaruhi gizi
pada balita.
Internal :
Praktek pengasuhan yang tidak baik
Usia orang tua
Kondisi fisik anak
infeksi Gizi pada balita
(stunting)