Oleh karena itu, penelitian ini berjudul “Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank dengan Metode CAMEL dan Metode RGEC pada Bank Muamalat Indonesia (BMI) Tbk Periode 2013-2015”. Bagi Almamater IAIN Jember: penelitian ini dapat dijadikan referensi literatur mengenai Analisis Komparatif Tingkat Keberlanjutan Bank dengan metode CAMEL dan metode RGEC.
Metode CAMEL (Capital, Asset Quality, Management, Earning, Liquidity)
Metode RGEC (Risk Profile, Good Carporate Governance, Earning, Capital)
SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Kajian Terdahulu
Analisis perbandingan tingkat kesehatan bank dengan metode CAMEL (studi kasus Bank Mandiri dan BCA). 11 Yohanes Welly Widjaya, “Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Menggunakan Metode CAMEL (Studi Kasus Bank Mandiri dan BCA)” (Skripsi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, 2009).
Kajian Teori
- Perbankan Syariah a. Pengertian Bank
- Tingkat Kesahatan Bank a. Pengertian Kesehatan Bank
- Laporan Keuangan
37 Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan no. 10/SEOJK.03/2014 tentang Penilaian Tingkat Kekuatan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. 39 Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan no. 10/SEOJK.03/2014 tentang Penilaian Tingkat Kekuatan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Sumber Data Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Tinjauan pustaka dalam penelitian ilmiah merupakan bagian penting dari langkah metode penelitian secara keseluruhan. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tinjauan pustaka adalah suatu kegiatan penelitian yang bertujuan untuk melakukan pengkajian secara serius terhadap teori-teori dan konsep-konsep yang berkaitan dengan topik yang akan diteliti sebagai landasan untuk melanjutkan ke tahap penelitian selanjutnya.
Analisis Data
Metode analisis deskriptif ini akan digunakan dalam upaya mencari dan mengumpulkan data, menyusun, menggunakan dan menafsirkan data yang ada. Rasio yang digunakan untuk menghitung kualitas aset adalah rasio KAP, yaitu rumusnya sebagai berikut. Rasio yang digunakan untuk menghitung manajemen adalah rasio NPM, yaitu rumusnya sebagai berikut.
Rasio yang digunakan untuk menghitung keuntungan (profitabilitas) menggunakan empat rasio, yaitu rasio ROA (Return On Asset). Rasio ini digunakan untuk mengetahui perbandingan keuntungan. Kedua rasio NIM tersebut menggunakan rumus pendapatan bunga bersih dibandingkan total aset produktif. Ketiga rasio yang digunakan adalah rasio BOPO (biaya operasional dan pendapatan operasional) bila menggunakan sumber daya yang ada di perusahaan. Rasio yang digunakan untuk menghitung likuiditas adalah rasio LDR (Loan to Deposit Ratio), yaitu perbandingan antara total kredit yang disalurkan dengan total dana pihak ketiga (DPK) yang tertagih oleh bank.
Rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) akan mencerminkan kemampuan bank dalam menyalurkan dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank yang bersangkutan. Penilaian laba didasarkan pada dua rasio, yaitu rasio ROA (Return On Asset) dan rasio NOM (Net Operation Margin). 2) Rasio NOM (Net Operation Margin).
Keabsahan Data
Begitu pula dengan meningkatkan ketekunan, peneliti dapat memberikan data deskriptif yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati. Sebagai bekal bagi peneliti untuk meningkatkan ketekunannya, hal ini dilakukan melalui membaca berbagai referensi buku serta hasil penelitian atau dokumentasi terkait temuan yang diteliti dan membaca kembali dengan cermat laporan keuangan tahunan Bank Muamalat. Dengan membaca maka wawasan peneliti menjadi lebih luas dan tajam, sehingga dapat diperiksa apakah data yang ditemukan benar/dapat dipercaya atau tidak.
Tahap-tahap Penelitian
- Sejarah Bank Muamalat Indonesia (BMI)
- Visi dan Misi Bank Muamalat Indonesia a. Visi
- Produk Bank Muamalat a. Pendanaan
Ide pendirian Bank Muamalat Indonesia bermula dari seminar perbankan dan bunga perbankan yang diadakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18-20 Agustus 1990 di Cisarua-Bogor. Kondisi tersebut membuat Bank Muamalat memasuki era baru dengan keikutsertaan Islamic Development Bank (IDB) yang berkantor pusat di Jeddah, Arab Saudi, sebagai salah satu pemegang saham asing yang resmi diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). . pada tanggal 21 Juni 1999. 1999-2002 Bank Muamalat terus berupaya dan berhasil mengubah keadaan dari rugi menjadi untung.
Pada tahun 2009, Bank Muamalat memulai proses transformasi, salah satunya dengan membuka kantor cabang internasional pertama di Kuala Lumpur-Malaysia dan tercatat sebagai bank pertama dan satu-satunya di Indonesia yang membuka jaringan bisnis di Malaysia. Pada tahun 2012, tepat pada usianya yang ke 20 tahun, Bank Muamalat memperkenalkan logo baru (rebranding) dengan tujuan menjadi bank syariah yang Islami, Modern dan Profesional. Proses transformasi yang dilakukan Bank Muamalat telah membawa hasil yang positif dan signifikan terlihat dari aset Bank Muamalat yang sampai dengan tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar Rp.
20.000 (dua puluh ribu rupiah) per bulan dan pembayarannya dapat otomatis didebet dari rekening Bank Muamalat Indonesia atau dapat ditransfer dari bank lain. Pembiayaan yang diberikan kepada end user untuk keperluan pembelian kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor) melalui perusahaan multifinance yang bermitra dengan Bank Muamalat Indonesia.
Penyajian Data dan Analisis
- Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode CAMEL Pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk (BMI) Periode
- Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode RGEC Pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk (BMI) Periode 2013-
- Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode CAMEL Dan Metode RGEC Pada PT. Bank
Sumber : Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan Bank Muamalat Indonesia (BMI), data yang diolah oleh peneliti. 2) Risiko likuiditas. Dalam memitigasi risiko reputasi, Bank telah melakukan hal tersebut. : a) Bank mengelola risiko reputasi dengan cara menangani pengaduan nasabah serta mengelola dan memelihara pemberitaan negatif di media agar tidak berdampak negatif terhadap Bank. 6 Risiko reputasi rendah hingga menengah memuaskan 2 7 Risiko strategis rendah hingga menengah memuaskan 2 8 Risiko kepatuhan rendah hingga menengah memuaskan 2 9 Risiko imbal hasil wajar menengah hingga tinggi 4 10 Risiko investasi straight moderat hingga tinggi 4.
7 Risiko Stratejik Moderate Satisfactory 2 8 Risiko Kepatuhan Moderate Satisfactory 2 9 Return Risk Moderate to High Fair 4 10 Risiko Investasi Moderate to High Fair 4. Komitmen Bank Muamalat Indonesia dalam penerapan dan penyampaian laporan GCG kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dijalankan dengan baik. oleh Bank Muamalat Indonesia (BMI) secara berkesinambungan dengan implementasi yang semakin baik. Hal ini merupakan wujud komitmen Bank Muamalat Indonesia (BMI) dalam implementasi Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.
12/13/DPbs tanggal 30 April 2010 tentang Penerapan Good Corporate Governance bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS), khususnya Pasal 62 dan Pasal 63 tentang kewajiban Bank atas Laporan Pelaksanaan GCG kepada OJK dan lainnya pemangku kepentingan .76 . 1) Prinsip-prinsip GCG Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan hasil Self-Assessment yang dilakukan Bank Muamalat Indonesia terhadap penerapan Good Corporate Governance selama tahun 2013 sampai dengan tahun 2015, diperoleh hasil penilaian sebagai berikut.
Pembahasan Temuan
- Metode CAMEL a. Capital (permodalan)
- Metode RGEC
- Perbandingan antara metode CAMEL dan RGEC a. Capital (permodalan) CAMEL dengan Capital RGEC
Pada tahun 2013, KAP yang dimiliki Bank Muamalat sebesar 0,98% dan nilai tersebut termasuk dalam kategori sehat. Rasio ROA Bank Muamalat pada tahun 2013 sebesar 1,31% dan nilai tersebut berada pada peringkat ke 2 dengan kategori baik/sehat. Penilaian risiko inheren Bank Muamalat Indonesia pada tahun 2013 berada pada peringkat moderat dan kualitas penerapan manajemen risiko pada peringkat memuaskan.
Penilaian risiko inheren Bank Muamalat Indonesia pada tahun 2013 berada pada peringkat rendah dan kualitas penerapan manajemen risiko berada pada peringkat memuaskan. Penilaian risiko inheren Bank Muamalat Indonesia pada tahun 2013 berada pada peringkat rendah hingga sedang dan kualitas penerapan manajemen risiko berada pada peringkat memuaskan. Penilaian risiko inheren Bank Muamalat Indonesia pada tahun 2013 berada pada peringkat rendah hingga sedang dan kualitas penerapan manajemen risiko berada pada peringkat memuaskan.
Rasio NOM pada tahun 2013 yang dimiliki Bank Muamalat sebesar 1,13% dan nilai tersebut termasuk dalam peringkat 4 yaitu peringkat tidak sehat. Rasio NOM Bank Muamalat pada tahun 2015 adalah sebesar 0,18%, dengan nilai tersebut Bank Muamalat berada pada urutan ke 5 dari segi kondisi.
Kesimpulan
Oleh karena judulnya cukup baik maka dapat diartikan bahwa kondisi keuangan Bank Muamalat yang diukur dengan metode RGEC cukup baik dalam mendukung perkembangan usaha dan mengantisipasi perubahan kondisi perekonomian dan sektor keuangan. Bank Muamalat memiliki kemampuan keuangan yang memadai untuk mendukung rencana pengembangan usaha berdasarkan manajemen risiko jika terjadi perubahan signifikan di sektor perbankan. Penilaian tingkat kesehatan dengan metode CAMEL dan metode RGEC merupakan dua peraturan Bank Indonesia (BI)/Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang digunakan untuk menilai tingkat kesehatan bank.
Metode CAMEL menilai tingkat kesehatan bank dengan menggunakan faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, profitabilitas dan likuiditas. Metode RGEC menilai tingkat kesehatan bank dengan menggunakan faktor profil risiko, Good Corporate Governance, profitabilitas dan permodalan. Perbandingan tersebut terdapat pada faktor-faktor yang terdapat pada metode CAMEL dan juga pada metode RGEC, sedangkan perbedaannya terdapat pada cara perhitungan/rasio yang digunakan pada metode CAMEL.Faktor permodalan diukur dengan rasio CAR dengan menggunakan Bassel 1, yaitu dalam perhitungan ATMR hanya digunakan ATMR untuk risiko pembiayaan/kredit dan ATMR untuk risiko pasar, risiko likuiditas pada metode CAMEL menggunakan rasio FDR/LDR, sedangkan rasio ini tidak digunakan dalam RGEC.
Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa penilaian tingkat kesehatan Bank periode 2103-2015 dengan menggunakan metode CAMEL mendapat peringkat sehat, sedangkan metode RGEC mendapat peringkat cukup sehat. Perbedaan ini disebabkan karena perbedaan rasio yang digunakan dan metode CAMEL justru memberikan gambaran yang efektif mengenai tingkat kesehatan bank. Namun metode CAMEL tidak memberikan kesimpulan yang menjadi pedoman penelitian, karena faktor-faktor yang digunakan memberikan penilaian yang sifatnya bisa berbeda-beda. sedangkan metode RGEC menekankan pentingnya kualitas manajemen.
Saran
Analisis perbandingan tingkat kesehatan bank umum konvensional dan bank umum syariah berdasarkan peringkat bank berbasis risiko. Analisis tingkat kesehatan Bank Muamalat Indonesia dengan menggunakan metode capital, aset, manajemen, earnings, likuiditas (CAMEL) periode 2011-2013. Analisis tingkat kesehatan Bank Muamalat Indonesia periode 2012-2014 menggunakan pendekatan RGEC (risk profile, good corporate governance, earnings, capital).
Analisis Perbandingan CAMEL dan RGEC Dalam Menilai Tingkat Kesehatan Bank Pada Unit Usaha Syariah BUMN Studi Kasus PT. Tesis ini berjudul “Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank dengan Metode CAMEL dan Metode RGEC pada PT. Asli Laporan Keuangan yang dimuat di sini adalah di Indonesia. Catatan atas laporan keuangan terlampir merupakan satu kesatuan dengan laporan keuangan. secara keseluruhan Catatan atas laporan keuangan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS PT BANK MUAMALAT INDONESIA TBK Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2015 (disajikan dalam ribuan rupiah kecuali dinyatakan lain). Laporan keuangan asli yang disertakan di sini adalah dalam bahasa Indonesia. l Catatan atas laporan keuangan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan. Penjelasan atas laporan keuangan juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan.
3. Bagaimana perbandingan tingkat kesehatan Bank Muamalat (BMI) Tbk dengan menggunakan metode CAMEL dan metode RGEC periode 2013-2015.