1
Agama Islam
MODUL PERKULIAHAN
U002100001
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Agama Islam
Dosen : Vindy Oktaviani, S.Pd, M.Pd.
Abstrak Sub-CPMK
Pada pertemuan ini akan dijelaskan mengenai pengertian, sumber hukum dan kerangka agama Islam
Memahami dengan baik tentang Pengertian dan Kerangka dasar dari ajaran agama Islam.
Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh
Latar Belakang
Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dan rasul sebagai utusan-Nya yang terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Agama Islam adalah satu-satunya agama yang di akui di sisi Allah SWT. Ajaran dan ketentuan-Nya yaitu Al-qur’an dan Sunnah. Sehingga beruntunglah bagi mereka yang telah menjadi pengikutnya kemudian dapat pula melaksanakan dan mengamalkan ajaran Islam secara baik dan benar. Islam lahir membawa akidah ketauhidan dan melepaskan manusia kepada ikatan berhala-berhala, serta benda- benda lain yang posisinya hanyalah sebagai makhluk Allah SWT dan ajaran Islam di dukung oleh kerangka dasar agama Islam yaitu akidah, tauhid, dan akhlak.
Sebagai agama terakhir, Islam diketahui memiliki karakteristik yang khas dibandingkan dengan agama-agama yang datang sebelumnya. Melalui berbagai literatur yang berbicara tentang Islam dapat dijumpai uraian mengenai pengertian agama Islam, sumber, dan ruang lingkup ajarannya serta cara untuk memahaminya. Dalam upaya memahami ajaran Islam, berbagai aspek yang berkenaan dengan Islam itu perlu dikaji secara seksama, sehingga dapat dihasilkan pemahaman Islam yang komprehensif. Hal ini penting dilakukan, karena kualitas pemahaman keislaman seseorang akan mempengaruhi pola pikir, sikap, dan tindakan keislaman yang bersangkutan. Kita barangkali sepakat terhadap kualitas keislaman seseorang yang benar-benar komprehensif dan berkualitas. Untuk itu uraian di bawah ini diarahkan untuk mendapatkan hasil pemahaman tentang Islam yang demikian itu. Selama ini kita sudah mengenal Islam, tetapi Islam dalam potret yang bagaimanakah yang kita kenal itu, tampaknya masih merupakan suatu persoalan yang perlu didiskusikan lebih lanjut.
Oleh karena itu kita perlu memiliki akidah dan menjaganya jangan sampai rusak serta tidak menyimpang dari aqidah yang sebenarnya. Apalagi mencampur adukkannya dengan suatu kepercayaan yang dapat merusak akidah. Yang mana akidah berarti
“keyakinan”, keyakinan bahwa Allah itu Maha Esa yang menjadi pegangan hidup setiap pemeluk agama Islam. Dan Akidah juga berarti ikatan yang kuat antara sesama manusia dalam satu keyakinan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai Khaliq.
Pengertian Agama Islam
Perkataan Islam berasal dari bahasa Arab, yang berasal dari kata kerja "salima".
Kata Islam adalah bentuk mashdar. Dari segi sematik, Islam mengandung makna selamat, sejahtera dan damai. Kata Islam satu akar dengan kata salam. Dari kata salam tersebut timbul ungkapan assalamu'alaikum yang telah membudaya dalam masyarakat Indonesia, artinya semoga selamat, damai, sejahtera.
Menurut Prof. Dr. Muhammad Abdullah Draz, arti sebenarnya kata Islam adalah penyerahan diri secara total terhadap kehendak Allah tanpa perlawanan. Begitu juga menurut Prof. Dr. M. Tahir Azhary, Islam berarti penundukan diri sepenuhnya (secara total) setiap makhluk Allah SWT (terutama manusia), terhadap kehendak dan ketetapan- Nya (Sunnatullah ).
Orang yang secara bebas telah memilih untuk patuh dalam makna menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Allah disebut Muslim. Seorang Muslim adalah orang yang menerima petunjuk Tuhan dan menyerahkan diri untuk mengikuti kemauan Ilahi.
Artinya seorang Muslim adalah orang yang melalui penggunaan akal dan kebebasannya, menerima dan mematuhi kehendak dan petunjuk Tuhan. (Mardani, 2017:19)
Hal ini sesuai dengan apa yang oleh Allah SWT, sebagaimana terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur'an berikut:
1. QS. An-Nisaa' (4); 125:
Agama Islam
Pengertian Agama Islam
Sumber Ajaran
Islam
Manusia Menurut Agama Islam
Kerangka Dasar Agama
Islam
نۡ مَوَ
هُهَ وَ مَلَ أَ مَّمَ ا نٗي"دِ نُسَ أَ نۡ نۡ نۡ نۡ
ۥ وَ "سَ مَ وَ هُوَ "هُ لَ"لِ نٞ نۡ
عَ بَتَّ ٱ
وَ فٗي"نٗحَ مَي"هُ/رَٰ "إِ ةَلَ"مَ اۗ نۡ
ذَخَتَّ ٱ هُلَلِ ٱ لٗاي"لَخَ مَي"هُ/رَٰ "إِ نۡ
١٢٥
125. Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya).
2. QS. Ali Imran (3): 67:
ا فٗي"نٗحَ نَا كَ نُ"كِ/لِوَ ا=ي"نِارَٰ نِ لَاوَ ا =ي"دِوَهَي مَي"هُ/رَٰ "إِ نَا كَ نۡ نۡ امَ
نُ"مَ نَاكَ امَوَ امَّ"لَ Aمَ نۡ
نُي"كَ"رَٰ مَّ نۡ نۡ ٱ ٦٧
67. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.
3. QS. Ali Imran (3): 84:
نۡ قُ
"بِ انٗمَاءَ
"هُلَلِ ٱ مَي"هُ/رَٰ "إِ G/ىٰٓلَعَ لَ"زِ نِأَ آ مَوَ ا نٗ لَعَ لَ"زِ نِأَ آمَوَ نۡ نۡ
وَ بَوَقُ يوَ قَ/حَٰ "إِوَ لَي"عِ/مَّ "إِوَ نۡ نۡ نۡ
"طِابَ أَ نۡ نۡ ٱ /ىٰٓ سَوَمَ يَ"تَّوَأَ آ مَوَ
وَ /ىٰٓسَي"عَوَ
نَوَ Aي"بَنٗلِٱ نُ نِوَ هَ مَ حَأَ نُ بِ قُرَٰ فٗنِ لَا "هَبِرَّ نُ"مَ نۡ نۡ نۡ دٖ نۡ نۡ
ۥ هُلِ
نَوَمَّ"لَ مَ نۡ
٨٤
84. Katakanlah (Muhammad), “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.”
Secara konseptual Islam adalah Ad-diin (the religion). Termonologi ini ditegaskan dalam QS. Ali-Imran(3):19 dan juga di QS.Ali-Imran(3):85
1. QS. Ali-Imran(3):19
نَ"إِ
نُيدِّلِ ٱ دِّنٗ"عَ
"هُلَلِ ٱ /لَ "إِ
اۗ نۡ نۡ ٱ امَوَ
فَلَتَ نۡ ٱ نُي"ذَلِ ٱ
_اوَ تَّوَأَ
بَ/تَ"كِ نۡ ٱ
مَهُءَآ جَ ا مَ "دِّ بِ "مَ لَا"إِ نۡ نۢ
مَ "عِ نۡ نۡ ٱ
"تِ/ياc "بِ فٗ ي نُمَوَ هَنٗ بِ ا بِ نۡ نۡ نۡاۗ نۡ نۢ نۡ
"هُلَلِ ٱ نَ"إِفَ
هُلَلِ ٱ عَي"رَٰسَ
"بَاسَ"حَٰ نۡ ٱ ١٩
19. Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
Berdasarkan beberapa ayat di atas bahwa nama Islam diberikan oleh Allah SWT bukan ciptaan manusia, atau dengan kata lain, mmang menurut Al- Qur'an, Islam adalah nama agama yang diwahyukan oleh Allah untuk manusia.
Secara terminologis, agama Islam adalah agama penutup dari semua agama yang diturunkan berdasarkan wahyu Ilahi (Al-Qur'an) kepada Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril, untuk diajarkan kepada seluruh umat manusia sebagai way of life (pedoman hidup) lahir dan batin dari dunia sampai dengan akhirat, sebagai agama yang sempurna, sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Maaidah (5):3
Berdasarkan firman Allah tersebut di atas jelaslah bahwa agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah agama Islam,sedangkan Muhammad SAW adalah nabi penutup dari seluruh Nabi.
Ali Hasan, sebagaimana dikutip oleh Aminuddin, mendefinisikan agama Islam sebagai kepercayaan buat keselamatan dan kebahagian dunia dan akhirat yang diwahyukan Allah kepada manusia dengan perantaraan Rasul.
Agama Islam didefenisikan juga sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yang diturunkan dalam Al-Qur'an dan tertera dalam As- Sunnah berupa perintah, larangan, dan petunjuk untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Menurut Somad Zawawi, Islam merupakan ajaran Allah yang diwahyukan untuk mengatur tata kehidupan manusia melalui para Rasul, dari Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad SAW. Adapun "Islam" yang
dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah “Din” yang diturunkan kepada Nabi terakhir, Muhammad SAW dengan melalui risalah Al-Qur'an sebagai penyempurna millah-millah sebelumnya.
Penamaan Islam mempunyai perbedaan yang mendasar dengan agama-agama lainnya, yang menempatkan Islam pada tempat istimewa yaitu penamaannya tidak dihubungkan dengan pembawanya dan tempat di mana agama itu lahir. Jadi Islam bukanlah "pikiran” Muhammad SAW, sekalipun Islam dengan Nabi Muhammad SAW tidak bisa dipisahkan. Islam adalah nama yang diberikan olah Allah SWT melalui firman-firman-Nya dalam Al- Qur'an:
1. QS. Ali-Imran (3):85:
نُمَوَ
رَٰ غَ "غِ تَ ي نۡ نۡ
" مَ/لَ "إِ نۡ نۡ ٱ يَ"فَ وَ هُوَ هُ "مَ لَ بَ ي نُلَفَ ا نٗي"دِ نۡ نۡ
"ةِرَٰ"خَGأَ نۡ ٱ نُ"مَ
نُي"رَٰ"سَ/خَ نۡ ٱ ٨٥
85. Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.
2. QS. Al-Maidah (5):3:
مَرَٰحَ
نۡ
مَكِ لَعَ نۡ
ةَتَ مَّ نۡ نۡ ٱ وَ
مُدِّ لِ ٱ مَ لِوَ نۡ
"رَٰي"زِنٗ "خَ نۡ ٱ لَ "هُأَ آ مَوَ
"رَٰ غَ"لِ نۡ
"هُ لَلِ ٱ
"هُ"بِ
ۦ ةَ قُ"نٗخَ مَّ نۡ نۡ ٱ وَ
وَ
ةِذَوَ قُ مَّ نۡ نۡ ٱ وَ
ةَ يدِرَٰتَمَّ نۡ ٱ
ةَحَٰي"طِنٗلِ ٱ وَ
لَ كَأَ آمَوَ
عَبَ سَلِ ٱ ىٰٓلَعَ حَ"بِذَ ا مَوَ تَ كَذَ ا مَ لَا"إِ نۡ نۡ
"بَ صُAنٗلِٱ تَّ نَأَوَ
_اوَمَّ "سَ تَ نۡ نۡ
"بِ
/لِ أَ
مِۚ "نۡ نۡ ٱ "فَ كِ"لِ/ذَ #$اۗ%نۡ نۡ
مُ ي نۡ نۡ ٱ سَ"ئِي
نُي"ذَ لِ ٱ وَ هُ شَ تَّ لٗافَ كِ"نٗي"دِ نُ"مَ _اوَرَٰ نۡ نۡ نۡ نۡ فٗكَ
مِۚ نۡ نۡ ٱ شَ
مُ ي نۡ نۡ ٱ
مَكِلِ تِي"ضِرَّوَ يَ"تَمَّ "نِ كِ لَعَ تِ مَّ أَوَ كِنٗي"دِ كِلِ تِ مَّ أَ نۡ نۡ نۡ نۡ نۡ نۡ نۡ نۡ نۡ
مَ/لَ "إِ نۡ نۡ ٱ "نُمَّفَ نٗي"دِ مِۚ
=رَٰطِ &نۡٱ
" لِّإِ "نِا جَتَمَ رَٰ غَ uةَ صُمَّ مَ يَ"فَ
'دٖ(نۡ )دٖ نۡ نۡ
نَ"إِفَ
هُلَلِ ٱ ي"حَرَّ وَفٗغَ نٞ نٞ
٣
3. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam
binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik.
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Ditinjau dari ajarannya, Islam mengatur berbagai aspek kehidupan manusia yang meliputi:
1. Hubungan Manusia dengan Allah (Hablum Minallah)
Hubungan manusia dengan Allah melalui ibadah. Ibadah merupakan tujuan utama manusia diciptakan. Allah berfirman dalam QS. Adz- Dzariyaat: 56.
امَوَ
تِ لَخَ نۡ
نُ"جَ نۡ ٱ سَنِ"إِ نۡ ٱ وَ
"نَوَدِّبَ ي"لِ لَا"إِ نۡ
٥٦
56. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
2. Hubungan Manusia dengan Manusia (Hablum Minannas).
Agama Islam mempunyai konsep-konsep dasar mengenai kekeluargaan, kemasyarakatan, kenegaraan, perekonomian dan lain-lain.
Konsep-konsep dasar tersebut memberi gambaran tentang ajaran-ajaran yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan sama dalam berbagai aspek kehidupannya, Seluruh konsep tersebut bertumpu pada satu nilal, yaitu saling tolong menolong antara sesama manusia.
3. Hubungan Manusia dengan Makhluk lainnya/Lingkungannya
Seluruh benda-benda yang diciptakan oleh Allah yang ada dalam alam ini mengandung manfaat bagi manusia. Alam raya ini wujudnya tidak terjadi begitu saja, akan tetapi dicipatakan oleh Allah dengan
sengaja dan dengan baik, semuanya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, perhatikan firman Allah berikut:
1. QS. Luqman (31): 20:
نۡ لِأَ
نَأَ _ا رَٰتَّ نۡ
هُلَلِ ٱ يَ"فَ ا مَ مَكِلِ رَٰخَسَ
"تِ/وَ/مَّ سَلِٱ ا مَوَ
يَ"فَ
"ضِ أَ نۡ نۡ ٱ هُمَّعِ"نِ كِ لَعَ غِبَ أَوَ نۡ نۡ نۡ
ۥ نٗ"طِابِوَ ةِرَٰ "هَ/ظَٰ
*+اۗ
نُ"مَوَ
"سِا نٗلِ ٱ يَ"فَ لَ"دِّ /جَي نُمَ
"هُ لَلِ ٱ لَاوَ "عَ "رَٰ غَ"بِ 'دٖ,نۡ نۡ
ي"نٗAمَ /تَ"كَ لَاوَ ىدِّهُ دٖ دٖ
٢٠
20. Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.
2. QS. Al-An’aam (6): 165:
وَهُوَ
ي"ذَلِ ٱ فَ"ئِG/لَخَ كِلَعِجَ نۡ
"ضِ أَ نۡ نۡ ٱ قُ فَ كِ ضَ بِ عَفَرَّوَ نۡ نۡ نۡ
عَي"رَٰ سَ كَبِرَّ نَ"إِ كِ/ىٰتَّاءَ آمَ يَ"فَ كَوَلَ يلِ /جَرَّدِ بِ نۡاۗ نۡ نۡ دٖ -دٖ.نۡ
"بَاقُ"عِ نۡ ٱ هُنِ"إِوَ
ۥ ي"حَرَّ وَفٗغَلِ نۢ نٞ
١٦٥
165. Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Islam sebagai agama wahyuyang memberi bimbingan kepada manusia mengenai semua aspek hidup dan kehidupan, dapat diibaratkan
seperti jalan raya yang lurus dan mendaki, memberi peluang kepada manusia melaluinya sampai ke tempat yang dituju, tempat tertinggi dan mulia. (Mohammad Daud Ali, 2018:50)
Sumber Ajaran Islam
Kalangan ulama terdapat kesepakatan bahwa sumber ajaran Islam yang utama adalah Alquran dan Sunah, sedangkan penalaran atau akal pikiran sebagai alat untuk memaham Alquran dan Sunah. Ketentuan itu sesuai dengan agama sendiri sebagai wahyu yang berasal dari Allah SWT yang penjabarannya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, dan di dalam Alquran surah An-Nisa ayat 59, kita dianjurkan agar menaati Allah dan Rasulnya serta Ulil Amri (pemimpin) yang berbunyi:
ىٰٓ"لِوَاوَ لَ_وَسَرَٰلِا اوَعِ_ي"طِاوَ هُ/=لَلِا اوَعِ_ي"طِا اG_وَنٗمَ/ا نُ_ي"ذَلِا اهَAياG/ي
"لَ_وَسَرَٰلِاوَ "هُ/=لَلِا ىٰٓلِ"ا هُ_وَAدِرَٰفَ uءَ_يَشَ _يَ"فَ _مَتَ_عَزَانٗتَّ _نَ"افَ كِ_نٗ"مَ "رَٰ_مَ _لَاا /مِۚ
…لٗا_ي"وَ_أَتَّ نُسَ_حَاوَ †رَٰ_يخَ كَ"لِ/ذَ "خَ/ _لَاا "مُ_وَي_لِاوَ "هُ/=لَلِا"بِ نَ_وَنٗ"مَ_ؤْتَّ _مَتَ_نٗكَ _نَ"ا اۗ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.
Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al- Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir.
Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat).” (QS. An-Nisa, 4: 59)
Penjelasan mengenai sumber ajaran Islam tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Alquran, Asy-Syafi'i mengatakan bahwa Alquran bukan berasal dari akar kata apa pun, dan bukan pula ditulis dengan memakai hamzah. Lafal tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertian kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sementara itu. Al-Farra berpendapat bahwa lafal Alquran berasal dari kata Qarain jamak dari Qarinah yang berarti kaitan, karena dilihat dari segi makna dan kandungannya ayat-ayat Alquran itu satu sama lain saling berkaitan. Al-
Asy'ari dan para pengikutnya mengatakan bahwa lafal Alquran diambil dari akar kata Qarn yang berarti menggabungkan sesuatu atas yang lain, karena surat-surat dan ayat-ayat Alquran, satu dan lainnya saling bergabung dan berkaitan.
Manna Al-Qaththban, secara ringkas mengutip pendapat para ulama pada umumnya menyatakan bahwa Alquran adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, dan dinilai ibadah bagi yang membacanya, (Manna 'Al- Qaththan, 1973 : 21). Pengertian itu demikian senada dengan yang diberikan Al- Zarqani menurutnya Alquran adalah lafal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW mulai dari awal surah Al-Fatihah, sampai dengan akhir surah An-Nas.
Pengertian Alquran secara lebih lengkap dikemukakan oleh Abd. Al-Wahhab Al- Khalaf. Menurutnya, Alquran adalah firman Allah yang diturunkan kepada hati Rasulullah, Muhammad bin Abdullah melalui Jibril dengan menggunakan lafal bahasa Arab dan maknanya yang benar, agar ia menjadi hujjab bag Rasul, bahwa ia benar-benar Rasulullah menjadi undang-undang bagi manusia memberi petunjuk pada mereka, dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah dengan membacanya.
Di dalam Alquran dikenal istilah qiraat. Qiraat merupakan mazhab yang dianut seseorang imam dalam membaca Alquran yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW. Qiraat ini beraneka ragam namun qiraat yang diterima sebagai Alquran adalah qiraat yang mutawatir. Di antara qiraat yang mutawatir adalah:
1) Ibnu Katsir qari’ Makkah 2) Ibnu Amir qari’ Syam 3) Nafi’ qari’ Madinah
4) Abu Amru bin Al-'Ala qari’ Bashrah 5) Hamzah
6) Ashim 7) Al-Kasa’i
Alquran juga mengandung berbagai jenis hukum secara garis besar dikategorikan kepada tiga hukum yaitu:
1) Hukum-hukum berkenaan dengan I'tiqad 2) Hukum-hukum berkenaan dengan amal 3) Hukum-hukum berkenaan dengan akhlak
Hukum-hukum yang terkait dengan amal terbagi kepada dua:
1) Hukum-hukum yang berkenaan dengan ibadah, seperti salat, puasa, zakat, dan seterusnya.
2) Hukum-hukum yang berkenaan dengan muamalat, hukum yang berkenaan dengan muamalat terbagi lagi menjadi beberapa bagian:
a. Hukum Ahwal Syakhsiyah yang terkait dengan umah tangga.
b. Hukum Al-Madaniyah seperti jual beli, sewa menyewa, penggadaian dan lain sebagainya.
c. Hukum murafa'at yaitu terkait dengan peradilan dan kesaksian.
d. Hukum jinayah berkenaan dengan tindakan kriminal.
e. Hukum perundangan berkenaan dengan politik pemerintahan dan prinsip-prinsipnya.
f. Hukum pemerintahan dan Negara Islam serta hubungan antara Negara.
g. Hukum perekonomian dan finansial.
Secara ringkas dan global Alquran mengandung maksud maksud tertentu.
Ada 5 maksud dari Alquran, yaitu:
1) Pesan tauhid dan perintah mengesakan Allah
2) Perintah beribadah yang dapat menghidupkan hati dan mengukuhkannya di dalam jiwa
3) Janji dan ancaman berupa surga dan neraka
4) Penjelasan mengenai jalan kebahagiaan dan bagaimana menjalaninya begitu pula mengenai jalan kesesatan.
5) Kisah dan sejarah
2. Sunah segala sesuatu yang dihubungkan kepada Rasulullah SAW baik itu perkataan, perbuatan maupun persetujuannya begitu pula akhlaknya. Sunah merupakan sumber ajaran kedua setelah Alquran. Sunah ini memiliki empat fungsi terhadap Alquran yaitu:
1) Mengukuhkan dan menguatkan hukum-hukum yang ada di dalam Alquran.
2) Menjelaskan dan merincikan hukum-hukum yang ada di dalam Alquran 3) Menetapkan hukum yang tidak tertera di dalam Alquran
4) Menghapus hukum yang ada di dalam Alquran namun fungsi keempat ini masih menjadi bahan perdebatan
Sunah yang menjadi hujah dalam penetapan hukum yang tentunya adalah sunah yang mutawatir atau diriwayatkan oleh orang banyak dari orang banyak
hingga sampai kepada kita yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk berdusta.
Yang kedua adalah sunah yang sahih, syarat kesahihan sunah ini ada 4:
1) Ketersambungan sanad
2) Diriwayatkan oleh yang adil dan dabit 3) Tidak mengandung 'illat (cacat)
4) Tidak bertentangan dengan sunah yang lebih kuat darinya.
Sunah yang tidak dapat dijadikan hukum syara' ada tiga macam:
1) Sesuatu yang muncul dari tabiat kemanusiaan Rasulullah SAW seperti berdiri, duduk, tidur makan dan minum kecuali jika ada pesan beliau Saw untuk mengikutinya dalam hal ini.
2) Sesuatu yang bersumber darinya berupa pengalaman kemanusiaan dalam hal-hal urusan dunia seperti berdagang, bercocok tanam yang bukan bagian dari misi risalahnya.
3) Sesuatu yang bersumber dari Rasulullah SAW namun dalil syara' menunjukkan bahwa sesuatu tersebut khusus baginya saja dan bukan menjadi hukum syara’ bagi umat Islam. Seperti menikahnya beliau SAW dengan lebih dari empat istri.
3. Ijma merupakan sumber ketiga dari ajaran Islam. Ijma adalah konsensus atau kesepakatan seluruh mujtahid umat Islam dalam satu hukum pada satu masa. Ijma' ini tentunya juga bukanlah tidak berdasarkan kepada dalil syar'i namun ia berdasarkan dalil syara yang ada, lima' terbagi dua:
a) Ijma' sharih di mana setiap mujtahid mengutarakan pendapatnya hingga membuat suatu kesepakatan.
b) Ijma'sukuti di mana ada sebagian mujtahid yang tidak mengemukakan pendapatnya ia hanya berdiam dan tidak membantah
4. Qiyas, Sumber ajaran Islam keempat yang disepakati adalah qiyas. Qiyas berarti menyamakan atau memperkirakan satu kasus yang tidak ada nas menjelaskan mengenai hukumnya kepada satu kasus yang ada nas syara menjelaskan mengenai hukumnya karena adanya persamaan kedua kasus tersebut dalam hal sebab atau ilah bagi hukum ini. Qiyas ini menjadi hujah sesuai dengan tuntunan Nabi SAW ketika mengutus Mu`az bi Jabal menjadi Qaddhi di Yaman, Demikianlah sumber ajaran yang disepakati oleh jumhur ulama adapun sumber-sumber hukum yang masih diperdebatkan antara lain:
a) Istihan, maksudnya adalah berpalingnya seorang mujtahid dari hasil qiyas yang terang kepada qiyas yang tersembunyi atau dari hukum yang umum kepada
hukum pengecualian karena dia menemukan sesuatu yang membuatnya berpaling dari kesimpulan awal
b) Mashlahah Mursalah, ini adalah kepentingan umat Islam yang tidak ditetapkan oleh syari hukumnya untuk diwujudkan dan tidak ada pula dalil yang menetapkannya atau membatalkannya
c) Al-Istishhab, maksudnya penetapan hukum atas sesuatu dengan hukum yang sama dengan sebelumnya hingga ada dalil yang mengubah hal tersebut
d) Mazhab Sahabat, berarti pendapat seorang sahabat mengenai hukum
e) Uruf, disebut sebagai kebiasaan atau adat istiadat manusia (Fadlan Kamali Batubara, 2019: 52-56)
Manusia Menurut Agama Islam
Manusia adalah makhluk yang sangat menarik. Oleh karena itu, ia telah menjadi sasaran studi sejak dahulu, kini, dan kemudian hari. Hampir semua lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia, karya dan dampak karyanya terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan hidupnya. Para ahli telah mengkaji manusia menurut bidang studinya masing-masing, tetapi sampai sekarang para ahli masih belum mencapai kata sepakat tentang manusia. Ini terbukti dari banyaknya penamaan manusia, misalnya homo sapien (manusia berakal), homo economicus (manusia ekonomi) yang kadangkala disebut economic animal (binatang ekonomi), dan sebagainya.
Al-Quran tidak menggolongkan manusia ke dalam kelompok binatang (animal) selama manusia mempergunakan akalnya dan karunia Tuhan lainnya. Namun, kalau manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Tuhan yang sangat tinggi nilainya yakni pemikiran (rasio), kalbu, jiwa, raga, serta pancaindera secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi hewan seperti yang dinyatakan Allah di dalam al-Quran surat al-A'raf(7): sebagai berikut:, ... "mereka
Renungan Sufi
Yang harus dikerjakan ialah amal ibadah yang engkau sukai dan semangat dalam melakukannya, sedangkan yang harus diabaikan ialah hawa nafsu dan
urusan dunia yang sering memengaruhi.
(Ibnu Atha’illah al-Iskandari, Al-HIkam)
(maksudnya manusia) punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), punya telinga tetapi tidak mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka (manusia) yang seperti itu sama (martabatnya) dengan hewan, bahkan lebih rendah (lagi) dari binatang."
Di dalam al-Quran manusia disebut antara lain dengan bani Adam (QS. al-Isra' (17):70), basyar (QS. al-Kahfi (18):110), al-insan (QS. al-Insan (76):1), an-nas (QS. an- Nas (114):1). Berbagai rumusan tentang manusia telah pula diberikan orang. Salah satu di antaranya, berdasarkan studi isi al-Quran dan al-Hadis, berbunyi (setelah disunting) sebagai berikut: Al-insan (manusia) adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman (kepada Allah), dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak). Bertitik tolak dari rumusan singkat itu, menurut ajaran Islam, manusia, dibandingkan dengan makhluk lain, mempunyai berbagai ciri, antara lain ciri utamanya adalah:
1. Makhluk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang baik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna. "Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS. at-Tin (95): 4). Karena itu pula keunikannya (kelainannya dari makhluk ciptaan Tuhan yang lain) dapat dilihat pada bentuk dan struktur tubuhnya, gejala-gejala yang ditimbulkan jiwanya, mekanisme yang terjadi pada setiap organ tubuhnya, proses pertumbuhannya melalui tahap-tahap tertentu.
2. Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin dikembangkan) beriman kepada Allah. Sebab sebelum ruh (ciptaan) Allah dipertemukan dengan jasad di rahim ibunya, ruh yang berada di alam gaib itu ditanyai Allah, apakah mereka mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (“Alastu bi rabbikum?: Apakah kalian mengakui Aku sebagai Tuhan kalian?”). Serentak dan semuanya mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (“Balâ syahidnâ: Ya, kami akui (kami saksikan) Engkau adalah Tuhan kami”). (QS. al-A'raf (7):172). Dengan pengakuan itu, sesungguhnya sejak awal, dari tempat asalnya manusia telah mengakui Tuhan, telah bertuhan, berketuhanan. Pengakuan dan penyaksian bahwa Allah adalah Tuhan ruh yang ditiupkan ke dalam rahim wanita yang sedang mengandung manusia itu berarti bahwa manusia mengakui (pula) kekuasaan Tuhan, termasuk kekuasaan Tuhan menciptakan agama untuk pedoman hidup manusia di dunia ini.
Ini bermakna pula bahwa secara potensial manusia percaya atau beriman kepada ajaran agama yang diciptakan Allah Yang Maha Kuasa.
3. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Tugas manusia untuk mengabdi kepada Allah dengan tegas dinyatakan-Nya dalam al-Quran surat az- Zariyat (51):56. Terjemahannya sebagai berikut, "Tidaklah Kujadikan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku." Mengabdi kepada Allah dapat dilakukan manusia melalui dua jalur, jalur khusus dan jalur umum. Pengabdian melalui jalur khusus dilaksanakan dengan melakukan ibadah khusus, yaitu segala upacara pengabdian langsung kepada Allah yang cara dan waktunya telah ditentukan oleh Allah sendiri sedang rinciannya dijelaskan oleh Rasul-Nya, seperti ibadah shalat, zakat, saum, dan haji. Pengabdian melalui jalur umum dapat diwujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang disebut amal saleh yaitu segala perbuatan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat, dengan niat ikhlas untuk mencari keridaan Allah.
4. Manusia diciptakan Tuhan untuk menjadi khalifah- Nya di bumi. Hal itu dinyatakan Allah dalam firman-Nya. Di dalam surat al-Baqarah (2):30 dinyatakan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Perkataan "menjadi khalifah" dalam ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah menjadikan manusia wakil atau pemegang kekuasaan-Nya mengurus dunia dengan jalan melaksanakan segala yang diridhai-Nya di muka bumi ini.
5. Di samping akal, manusia dilengkapi Allah dengan perasaan dan kemauan atau kehendak (seperti telah disinggung di atas). Dengan akal dan kehendaknya manusia akan tunduk dan patuh kepada Allah, menjadi muslim; tetapi dengan akal dan kehendaknya juga manusia dapat tidak percaya, tidak tunduk dan tidak patuh kepada kehendak Allah, bahkan mengingkari-Nya (kafir). Karena itu, di dalam surat al-Kahfi (18):29 Allah menegaskan, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu.
Barangsiapa yang mau beriman hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang tidak ingin beriman, biarlah ia kafir”
6. Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Ini dinyatakan Tuhan dalam firman-Nya yang kini dapat dibaca dalam al-Quran surat at-Thur (52) ujung ayat 21 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut: ... “Setiap orang (manusia) terikat (dalam arti bertanggung jawab) terhadap apa yang dilakukannya.”
7. Berakhlak. Berakhlak adalah ciri utama manusia dibandingkan dengan makhluk lain.
Artinya, manusia adalah makhluk yang diberi Allah kemampuan untuk membedakan yang baik dengan yang buruk. Dalam Islam kedudukan akhlak sangat penting,
menjadi komponen ketiga agama Islam. Kedudukan itu dapat dilihat dari Sunnah Nabi yang mengatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Suri teladan yang diberikan Nabi semasa hayatnya merupakan contoh yang seyogyanya diikuti oleh ummat Islam. Selain dari keteladanan beliau, butir- butir akhlak banyak sekali terdapat dalam al-Quran. Ajaran akhlak yang berasal dari al-Quran dan al-Hadis berlaku abadi, selama-lamanya. Perwujudannya kelihatan pada sikap yang dilanjutkan dengan perbuatan baik atau buruk.
Kerangka Dasar Agama Islam
Agama Islam merupakan satu sistem yang di dalamnya terhimpun kerangka dasar yang mengatur manusia, baik hubungan manusia dengan Tuhannya (vertical) maupun hubungan antar manusia, dan hubungan manusia dengan alam atau makhluk lainnya (horizontal). Kerangka dasar ajaran Islam ini tergambar dalam sebuah Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim dari Umar r.a., sebagi berikut : (a) Iman, (b) Islam dan (c) Ihsan.
Aspek iman merupakan landasan yang utama, berisi ajaran atau ketentuan- ketentuan tentang akidah. Aspek ini disebut juga dengan al-ahkam al-I'tiqadiyah. Aspek yang kedua adalah Islam, yang disebut juga aspek syariah dalam arti sempit. Aspek kedua ini berisi ajaran atau ketentuan-ketentuan yang mengatur perbuatan (amaliyah) manusia, berlandaskan aspek pertama, aspek ini disebut juga dengan ahkam amaliyah.
Aspek ketiga adalah ihsan, berisi ajaran atau ketentuan-ketentuan tentang etika atau akhlak. Aspek ketiga ini disebut juga dengan ahkam khuluqiyah.
Ketiga aspek tersebut satu sama lain saling berkaitan. Iman yang benar dan kuat kepada Allah SWT, akan melahirkan perbuatan (amal) yang baik dan benar, dalam bentuk ibadah (pengabdian) kepada-Nya. Ibadah yang benar kepada Allah SWT, akan melahirkan perilaku atau akhlak yang baik. Kalau diibaratkan pohon, aspek pertama ibarat akar,aspek kedua ibarat daun, dan aspek ketiga ibarat buah. Kalau akarnya (iman) kuat, akan menumbuhkan daun (amal) yang baik dan lebat, dan daun yang lebat, maka akan menumbuhkan buah (ihsan, akhlak) yang baik. Aspek-aspek agama Islam ini dapat dijelaskan dengan ringkas sebagai berikut:
a. Ahkam I'tiqadiyah
Ahkam I'tiqadiyah adalah aspek akidah atau teologi, yaitu sistem keyakinan (keimanan) yang bersifat monoteisme dalam Dinal-Islam. Disiplin ilmu dalam aspek ini disebut ilmu tauhid, ilmu kalam atau ilmu ushuluddin atau teologi.
Dalam aspek ini dibicarakan antara lain tentang unsur-unsur iman (rukun iman), yaitu : (a) Iman kepada Allah SWT, (b) Iman kepada Malaikat, (c) Iman kepada
kitab-kitab suci, (d) Iman kepada para Rasul, (e) Iman kepada hari akhir, dan (f) Iman kepada Qadar (kepastian dari Allah SWT).
Ilmu yang mempelajari masalah-masalah akidah ini dinamakan ilmu kalam atau ilmu ushuluddin atau ilmu aqaid.
b. Ahkam ‘Amaliyah
Ahkam ‘Amaliyah berisi seperangkat kaidah yang mengatur perilaku manusia, yang mencakup dua hubungan yaitu manusia dengan Tuhan nya (ibadah) dan hubungan manusia dengan makhluk lainnya (muamalah). Disiplin ilmu aspek ahkam ‘amaliyah disebut ilmu fiqih.
c. Ahkam Khuluqiyah
Dalam aspek ini, Din al-Islam mengatur tentang Ahkam Khuluqiyah berisi seperangkat norma dan nilai etika atau bagaiman seharusnya manusia berperilaku dengan baik, baik dalam hubungan dengan Tuhan nya, maupun hubungan dengan sesama makhluk lainnya. (Mardani, 2017:26)
Kisah Inspiratif
Seorang Amir di Daftar Nama Orang-orang Miskin
Malik Win Dinar bercerita kepada kami; Ketika datang ke Syam, Umar bin menginstruktikan kepada mereka untuk menulis nama-nama orang miskin Al Khattab pergi berkeliling, lalu berhenti di dekat Homs. Kemudian, ia mengintruksikan kepada mereka untuk menulis nama-nama orang miskin yang ada di sana.
Lantas, mereka pun membuat catatan daftar nama orang-orang miskin seperti yang diminta oleh Umar dan menyerahkannya kepadanya. Ternyata, di antara nama nama orang-orang miskin tersebut, tertulis nama Said bin Amir, amir Homs.
Siapakah Said bin Amir?" Tanya Umar.
“Amir kami," jawab mereka
“Amir kalian?" Kata Umar
“Ya”,jawab mereka
"Bagaimana bisa amir kalian miskin? Di mana ransumnya? Di mana ransumnya? Di mana gajinya?” kata Umar dengan nada takjub dan heran.
"Wahai Amirul Mukminin, dia tidak pernah menyimpan suatu apa pun di tangannya,” kata mereka kepada Umar.
Lalu, Umar menangis. Kemudian, dia mengambil uang sebanyak seribu dinar dan memasukkannya ke dalam kantong, lalu mengirimkannya kepada Said bin Amir sambil berpesan, “Tolong sampaikan juga salamku kepadanya, dan sampaikan kepadanya bahwa uang ini dikirim oleh Amirul Mukminin kepadanya untuk ia gunakan memenuhi kebutuhannya.”
“Tidak, bahkan lebih besar dari itu,” jawab Said.
“Jika begitu, ada apa sebenarnya dengan dirimu?” kata istrinya kembali.
“Tidak, bahkan lebih besar dari itu
"Duria telah mendatangiku Fitnah telah masuk menemuiku" kata Said.
“Jika begitu, lakukan apa saja yang engkau inginkan terhadapnya," kata Istrinya.
"Apakah engkau bisa bantu saya?" Tanya Said kepada istrinya.
“Ya”, jawab sang istri.
Lalu, dia mengambilkan sehelai kerudung dan memberikannya kepada Said kemudian, Said bin Amir menggunakannya untuk membungkus dinar-dinar tersebut menjadi beberapa bungkus. Kemudian, bungkusan-bungkusan tersebut diletakkan di dalam sebuah kantong. Kemudian, dia mengumpulkan dan membariskan sejumlah pasukan, lalu membagi-bagikan semua dinar-dinar tersebut kepada mereka.
Melihat hal itu, sang istri berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Seandainya engkau sisakan sedikit dinar tersebut untuk engkau gunakan memenuhi
keperluanmu!"
Said lantas berkata kepadanya, "Saya mendengar Rasulullah bersabda:
Seandainya ada seorang perempuan dari penghuni surga menengok ke arah penduduk bumi, niscaya bumi akan dipenuhi aroma harum minyak kesturi”.
Dan, demi Allah saya akan memilih mereka daripada dirimu Si istri pun terdiam.(Ibnu Jauzi terj, 2017:354)
Daftar Pustaka
Fadlan Kamali Batubara, 2019, Metodologi Studi Islam, CV Budi Utama: Yogyakarta, Ibnu Ibnul Jauzi, 2017, 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah, Jakarta: Pustaka Al-
Kautsar
Mardani, 2017, Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi,Depok: Prenadamedia Group
Mohammad Daud Ali, 2018, Pendidikan Agama Islam, Depok: Rajawali Pers