1
MODUL PERKULIAHAN
U002100001
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Al-QUR’AN DAN SUNNAH
Dosen : Vindy Oktaviani, S.Pd.,M.Pd
Abstrak Sub-CPMK
Pada pertemuan ini akan dijelaskan mengenai pengertian Al-Qur’an, kharakteristik, kandungan dan sejarah turunnya Al- Qur’an, pengertian Sunnah, macam-macam Sunnah, kedudukan sunnah sebagai hujjah
Memahami dengan baik tentang pengertian, kharakteristik, kandungan dan sejarah turunnya Al-Qur’an
Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh
Al-Qur’an dan Sunnah
Latar Belakang
Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan pedoman hidup manusia yang mana manusia harus berpegang teguh pada keduanya supaya selamat dunia dan akhirat. Al- Qur’an sebagai pembina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi ini. Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur jasmani dan akal juga jiwa. Pembinaan akal menghasilkan ilmu, pembinaan jiwa mengahasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmani menghasilkan keterampilan. Dengan pembinaan tersebut akan tercipta makhluk yang seimbang dalam hal dunia maupun akhirat, ilmu dan iman.
Al-Qur'an adalah kitab suci agama Islam. Umat islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup Wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantara Malaikat Jibril. Dan sebagai Wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW, sebagaimana terdapat dalam surat Al-Alaq ayat 1-5. Al-Qur'an merupakan salah satu kitab yang mempunyai sejarah panjang yang dimiliki oleh umat Islam dan sampai sekarang masih terjaga keasliannya. Al-Qur'an dalam pengumpulannya mempunyai dua tahap yaitu tahap petama pengumpulan Al-qur'an dalam arti menghafal Al-Qur'an pada masa Nabi, tahap kedua dalam arti penulisan Al-Qur'an, hal ini dinamakan penghafalan dan pembukuan Al-Qur'an.
Dan Al-Qur'an juga memiliki multi fungsi dan selalu mempunyai hubungan yang pasti dalam fenomena-fenomena kehidupan, hal ini diantaranya mukjizat, akidah, ibadah, mu'amalah, akhlak, hukum, sejarah, dan dasar-dasar sains. Untuk itulah materi ini: sangat penting untuk dipelajari, karena sangat disayangkan jika umat Islam tidak tahu apa itu Al- Qur'an tersebut. Hal inilah penulis berkeinginan membahas tentang Al-quran.
Al-Qur’an diturunkan Allah kepada manusia untuk dibaca dan diamalkan. Ia telah terbukti menjadi pelita agung dalam memimpin manusia mengurangi perjalanan hidupnya. Tanpa membaca manusia tidak akan mengerti akan isinya dan tanpa mengamalkannya manusia tidak akan dapat merasakan kebaikan dan keutamaan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an.
Di era globalisasi ini, banyak sekali pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat dikarenakan para generasi kita masih banyak yang belum mampu untuk membaca Al-Qur’an secara baik apalagi memahaminya. Oleh karena itu, sebagai orang tua harus mengusahakan sedini mungkin untuk mendidik dan membiasakan membaca Al-
Qur’an. Dengan membaca Al-Qur’an atau mendengarkan bacaan AlQur’an dengan mengambil hikmah serta meresapi isinya niscaya akan mendapat petunjuk dari Allah swt, serta menenangkan hati. Itulah yang dinamakan rahmat dari Allah SWT. (Muhammad Thalib, 2005:11)
A. ALQUR’AN
Pengertian Al-Qur’an
Secara etimologis, kata Al-Qur'an mengandung arti bacaan atau yang dibaca.
Lafal Al-Qur'an berbentuk isim mashdar dengan makna “isim maf’ul”. Lafal Al-Qur'an dengan arti bacaan, misalnya terdapat firman Allah, QS. Al-Qiyaamah (75): 16-18 :
هِبِ رِّ حَتُ لَا كۡ
ۦ هِبِ لَ جَ تَلِ كَنَا سَلِ كۡ
ٓۦ ,نَّإِ ١٦ هِعَ جَ ا نَ لَعَ كۡ كۡ
ۥ هِنَاءَ قُوَ كۡ
ۥ ١٧
فَ هِ:نَ رِّقُ اذَإِفَ كۡ
ٱ بِ,تُ
كۡ
هِنَاءَ قُ كۡ
ۥ ١٨
16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat- cepat (menguasai)nya. 17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. 18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
Kemudian dipakai kata "Al-Qur'an" untuk Al-Qur'an yang dikenal sekarang ini. Kata
"Al-Qur'an digunakan dalam arti sebagai nama kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Bila dilafazkan dengan menggunakan alif-lam berarti keseluruhan yang dimaksud dengan Qur'an, sebagimana firman Allah dalam QS. al-Isra’(17):9:
AL-QUR’AN
Pengertian AL-Qur’an
Karakteristik Al- Qur’an
Isi Kandungan
Al-Quran Sejarah
Turunnya Al- Qur’an
Hikmah diturunkanny
a Al-Qur’an
,نَّإِ
اذَ :هَٰ
ٱ نَّاءَ قُ كۡ كۡ
رِّ شِّبِيُوَ مُوَ أَ يَهَٰ يَتَ,لَلِ يدِ يُ كۡ كۡ
ٱ نَينَمِ مُ كۡ كۡ
ٱ نَيُذَ ,لِ
نَّوَلَمُ يُ كۡ
تِ:حَلَ:,صَّٰلِ ٱ اPرِّيبِكَ اPرِّ أَ هُلِ ,نَّأَ كۡ كۡ
٩
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu´min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”
Secara terminologis, definisi Al-Qur'an, yaitu sebagai berikut:
a. Menurut al-Zarqani, Al-Qur'an adalah lafal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dari permulaan surah al-Faatihah sampai akhir surah an-Naas.
b. Menurut Dr. Sulaiman Abdullah, Al-Qur'an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab, riwayatnya mutawatir. Oleh karena itu, terjemahan Al-Qur'an tidak disebut Al-Qur'an dan orang yang mengingkarinya baik secara keseluruhan maupun bagian rinciannya, dipandang kafir. Adapun yang merupakan sendi fundamental dan rujukan pertama bagi semua dalil dan hukum syariat, merupakan Undang-Undang Dasar, sumber dari segala sumber dan dasar dari semua dasar.
c. Menurut Manna al-Qathan, Al-Qur'an adalah dasar agama dan sumber tasyri, sebagai hujah (dalil) Allah yang cocok sepanjang zaman, yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya untuk diikuti perintahnya.
d. Menurut Suparman Usman, Al-Qur'an adalah kalamullah (firman Allah) yang mengandung mukjizat diturunkan kepada Rasulullah SAW, dalam bahasa Arab, yang diriwayatkan secara mutawatir, terdapat dalam mushaf, dan membacanya merupakan ibadah yang dimulai dari surah al-Faatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas.
e. Menurut Bakri Syaikh Muhammad, Al-Qur'an adalah firman Allah yang diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul melalui perantaraan Al-Amin, Malaikat Jibril AS, yang termaktub dalam mushaf-mushaf yang disimpan (dihapal) dalam dada, yang diriwayatkan kepada kita secara mutawatir dan membacanya dianggap ibadah, yang dimulai dengan surah al-Faatihah dan ditutup dengan surah an- Naas."
f. Menurut Safi Hasan Abu Talib, sebagaimana dikutip oleh Romli SA, Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan dalam bahasa Arab dan maknanya dari Allah SWT, melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, ia merupakan dasar dan sumber utama bagi syariat." (Mardani, 2019:77)
Dalam hubungan ini Allah sendiri menegaskan dalam firman-Nya dalam QS. Yusuf (12): 2:
نَّوَلَقُ تُ كُ,لَعَ,لِ اPUيبِرِّعَ اVنَ:ءَ قُ هِ:نَ زَنَأَ آ,نَإِ كۡ كۡ كۡ كۡ
٢
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”
Kharakteristik Al-Qur’an
Dari beberapa definisi Al-Qur'an di atas, jelaslah bahwa Al-Qur'an mempunyai ciri ciri khas dan keistimewaan sebagai berikut:
1. Lafadz dan maknanya datang dari Allah dan disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan jalan wahyu. Nabi tidak boleh mengubah baik kalimat maupun pengertian nya selain dari menyampaikan seperti apa yang diterimanya. Oleh karena itu, tidak boleh meriwayatkan Al- Qur'an dengan makna, dan dengan demikian maka Al-Qur'an berbeda dengan hadis baik hadis Qudshi maupun Hadis Nabawi, karena keduanya merupakan ungkapan kalimat dari Nabi dan merupakan perkataan Nabi yang diungkapkannya dari makna yang diilhamkan Allah atau yang di wahyukan Allah kepadanya. Jadi dari segi ini tak berbeda antara Hadis Qudshi dan Nabawi. Perbedaannya terletak pada bahwa Hadis Qudshi disampaikan Rasul dengan menjelaskannya bahwa itu dari Allah, sedang Hadis Nabawi ialah yang keluar dari lidah Nabi tanpa menghubungkannya dengan Allah.
Demikian juga halnya denga tafsir Al-Qur'an sekalipun berbahasa Arab, tidak boleh dinamakan sebagai Al-Qur'an, karena kalimat- kalimat tafsir sekalipun sesuai lafadz dan maknanya dengan Al-Qur'an merupakan kreasi para ahli tafsir, bukan kalam Allah yang maha agung.
2. Bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan lafadz dan gaya bahasa Arab (QS. Az- Zukhruf/43: 3).
نَّوَلَقُ تُ كُ,لَعَ,لِ اPUيبِرِّعَ اVنَ:ءَ قُ هِ:نَ عَجَ ا,نَإِ كۡ كۡ كۡ كۡ
٣
“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).”
3. Bahwa Al-Qur'an disampaikan diterima dengan jalur tawattur yang menimbulkan keyakinan dan kepastian tentang kebenarannya. Adapun yang dihafal dalam hati, dibukukan dalam mushaf dan disebarkan ke seluruh negeri Islam bertubi-tubi, tanpa berbeda dan diragukan di dalamnya, baik ayat maupun susunannya. (QS. Al-Hijr/15:9)
انَ ,زَنَ نَ نَ ا,نَإِ كۡ كۡ
رِّ ذَلِ كۡ ٱ هِلِ ا,نَإِوَ
ۥ نَّوَظُفِ:حَلِ
٩
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Sejarah Turunnya Al-Qur’an
Al-Quran adalah sumber agama (juga ajaran) Islam pertama dan utama. Menurut keyakinan umat Islam yang diakui kebenarannya oleh penelitian ilmiah, al-Quran adalah kitab suci yang memuat firman-firman (wahyu) Allah, sama benar dengan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah sedikit demi sedikit selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, mula-mula di Mekkah kemudian di Medinah. Tujuannya, untuk menjadi pedoman atau petunjuk bagi umat manusia dalam hidup dan kehidupannya mencapai kesejahteraan di dunia ini dan kebahagiaan di akhirat kelak. (Mohammad Daud Ali, 2018 )
Al Qur'an mulai dirurunkan di Mekkah, tepatnya di Gua Hiro pada tahun 6 M, dan berakhir di Madinah pada tahun 633 M., dalam jarak waktu kurang lebih 23 tahun beberapa bulan.Wahyu Ilahi yang diturunkan sebelumn hijrah disebut ayat Makiyah yang merupakan 19/30 dari Al-Qur'an. Surah dan ayat-ayatnya pendek-pendek dan gaya bahasanya singkat-padat (ijaz), karena sasaran yang pertama dan utama pada periode Mekkah ini adalah Arab asli (suku Quraisy dan suku-suku Arab lainnya) yang sudah tentu mereka paham benar akan bahasa Arab. Mengenai isi surat/ayat pada umumnya berupa ajaran/seruan bertauhid yang murni (pure monoteisme) atau Ketuhanan yang Maha Esa secara murni dan juga tentang pembinaan mental dan akhlak.
Adapun ayat Al-Qur'an yang diturunkan sesudah hijrah disebut surah/ayat Madaniyah yang merupakan 11/30 dari Al-Qur'an. Surah dan ayat-ayatnya yang panjang dan gaya bahasanya panjang lebar dan lebih jelas (ithnab), karena sasarannya bukan hanya orang-orang Arab asli, melninkan juga non-Arab dari berbagai bangsa yang telah
mulai banyak masuk Islam dan sudah tentu mereka kurang/belum menguasai bahasa Arab. Mengenai isi surat-surat/ayat Madaniyah pada umumnya berupa norma-norma hukum untuk pembentukan dan pembinaan suatu masyarakat/umat Islam dan negara yang adil dan makmur yang diridha'i oleh Allah SWT (Baldatun Thayyibatun wa Robbun Ghafur).Al-Qur'an mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad pada malam Qadar tanggal 17 Ramadhan pada waktu Nabi telah berusia 40 Tahun bertepatan denan 6 Agustus 610 M. Ayat yang pertama turun adalah al-‘Alaq(96) 1-5.
Ayat-ayat yang permulaan turun ini menunjukan bahwa Al-Qur'an mengajak manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan. Tema pembahasannya pun ilmu pengetahuan, dan apa yang dibawanya dasar ilmu pengetahuan. Allah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Menurut menurut Mohd. Idris Ramulyo, ayat yang terakhir turun adalah QS. al- Maa'idah (5): 3. Turunnya ayat ini pada waktu Rasulullah SAW di padang Arafah pada hajjul wada’ (haji perpisahan), yang tidak lama kemudian Rasulullah SAW wafat. Dengan sempurnanya turunnya Al-Qur’an itu, maka menjadi lengkaplah syariat Islam. (Mardani, 2019:84)
Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an
Al-Qur'an diturunkan oleh Allah SWT dengan tiga tahap. Pertama ke Lauhil Mahfudz; kedua ke Baitul Izzah dan ketiga atau tahap terakhir ke bumi. Mengenai bagaimana cara dan kapan penurunan Al-Qur'an pada tahap pertama tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah SWT dan yang diberi ilmu kegaiban oleh-Nya. Pada tahap pertama Al-Qur'an diturunkan sekaligus atau tidak terpisah-pisah.
Hikmah penurunan Al-Qur'an ke Lauhil Mahfuzh, antara lain:
1. Kembali kepada hikmahnya yang umum yang berkaitan dengan wujud Lauhil Mahfuzh itu sendiri, bahwa ia merupakan catatan yang menyeluruh mengenai segala ketentuan Allah, baik yang telah dan akan terjadi di alam maujud. Ia merupakan bukti nyata dan petunjuk atas keagungan, ilmu, iradat, dan keluasan kekuasaan Allah. Meyakini hal ini akan mendorong semakin mantap dan teguhnya iman seseorang kepada Allah, membangkitkan ketenangan dalam dirinya dan menimbulkan rasa positif terhadap setiap apa yang telah diberikan oleh Allah kepada makhluk-Nya, baik yang menyangkut hidayah, syariat, kitab-kitab-Nya maupun semua ketentuan untuk hamba-hamba-Nya, sehingga dengan begitu ia memiliki sikap hidup yang baik, baik waktu susah maupun pada waktu senang.
2. Mengimani Lauhil Mahfuzh berikut segala yang tercatat di sana akan berpengaruh positif terhadap konsistensi seorang mukmin untuk selalu berusaha ke arah yang baik, mengerjakan ketaatan, menjauhi murka dan perbuatan yang mendurhakai Allah, karena ia yakin dan sadar bahwa semuanya itu tercatat di sisi-Nya, dalam Lauh-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Qamar (54):53:
]رِّطَتَ _مِ يبِكَوَ يغِصَ _لَكَوَ كۡ رٖ رٖ
٥٣
53. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.
Penurunan tahap berikutnya adalah dari Lauhil Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia, dengan sekaligus. Dalil Al-Qur'an yang menjelaskan penurunan tahap ini menurut Zarqani adalah: QS. adh-Dhuhan: 2, QS. al-Qadr: 1 dan QS.
al-Baqarah (2): 185. Az-Zarqani agak berbeda dengan ulama lain yang menggunakan ayat-ayat di atas, dalam penerapannya sebagai dalil turunnya Al- Qur'an. Umumnya ulama menggunakan ketiga ayat di atas, justru sebagi dalil- dalil turunya Al-Qur'an ke bumi (al-'Alaq: 1-5 ), sedangkan Zarqani mengunakan semuanya sebagai dalil turunnya Al-Qur'an ke Baitul Izzah, dengan argumentasi sebagai berikut:
Bahwa ayat-ayat di atas menegaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan dalam waktu satu malam, bukan dalam sejumlah malam. Kata Lailatun, baik dalam QS. Adh-Dhuhan maupun dalam QS. al-Qadr sangat menunjukan arti demikian, yakni Al-Qur'an turun pada satu malam. Padahal Al-Qur'an turun kepada Nabi bukan dalam satu malam, tetapi pada 22 tahun, 2 bulan, 22 hari. Dengan demikian, haruslah dipahami bahwa ayat-ayat tersebut bukanlah sebagai dalil turunnya Al-Qur'an kepada Nabi, tetapi turunnya Al-Qur'an di tempat lain, yaitu Baltul Izzah.
Hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim, berasal dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah SAW bersabda: "Al-Qur'an diturunkan dengan sekaligus ke langit dunia pada malam al-Qadr, kemudian semudah ini diturunkan (ke bumi) dalam waktu dua puluh tahum". (HR. al-Hakim).
Hikmah diturunkannya Al-Qur'an secara berangsur-angsur dalam 10 tahun di Madinah, yaitu sebagai berikut:
1. Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan Orang akan enggan melaksanakan suruhan dan larangan, sekiranya suruhan dan larangan itu
diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dari riwayat Aisyah.
2. Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan mansukh, sesuai dengan kemaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al-Qur'an diturunkan sekaligus, (ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).
3. Turunnya suatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan akan lebih berpengaruh di hati.
4. Memudahkan penghapalan, dan menguatkan hati. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam QS. al-Furqaan (25): 32:
لَاقُوَ
نَيُذَ,لِ ٱ هِ لَعَ لَزَنَ لَا لِ dاوَرِّفِكَ كۡ كۡ
نَّاءَ قُ كۡ كۡ ٱ دِ حِ:وَ Pةٗ لَ جَ
ةٗۚ كۡ
هِبِ تِبِثَنَلِ كَلِ:ذَكَ
ۦ Pلٗايتُ تُ هِ:نَ ,تُرَوَ دَاؤَفَ كۡ كۡ كَۖ
٣٢
32. Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).
5. Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagaimana di katakan oleh Ibnu Abbas r.a. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al-Qur'an diturunkan sekaligus.
Isi Kandungan Al-Qur’an
1. Tauhid (doktirn tentang kepercayaan Ketuhanan Yang Maha Esa).
Sekali pun Adam sebagai manusia pertama dan Nabi pertama adalah seorang monoteisme/muwahhid (percaya kepada keesaan Tuhan) dan
Renungan Al-Qur’an
Kalau saja Allah tidak menguatkan Musa Alahisalam, niscaya beliau tidak sanggup mendengar Kalam Allah; sebagaimana gunung tidak sanggup menahan munculnya cahaya Allah hingga hancur. Pembaca AlI-Qur'an seyogyanya mengagungkan Allah di dalam hatinya di waktu membacanya,
seakan-akan Allah berbicara kepadanya dengan kalam itu.
(Imam Al Ghazali, Ihya Ulumuddin)
mengajarkan tauhid kepada keturunannya/umatnya, namun kenyataan tidak sedikit manusia keturunannya itu yang menyimpang dari ajaran tauhid. Mereka ada yang menyembah api, matahari, dewa-dewa dan sebagainya. Untuk meluruskan kepercayaan mereka yang telah menyimpang dari Allah itu dan untuk membimbing mereka ke arah yang lurus yang diridhai oleh Allah, maka diutuslah para Nabi/Rasul secara silih berganti.
2. Janji dan Ancaman Allah
Allah menjanjikan kepada setiap orang yang beriman dan selalu mengikuti semua petunjuknya akan mendapatkan kebahagiaan hidupnya di dunia maupun di akhirat, dan akan dijadikan khalifah (penguasa) di muka bumi ini.
Sebaliknya Allah akan mengancam kepada siapa saja yang ingkarmkepada- Nya dan memusuhi Nabi/Rasul-Nya serta melanggar perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, akan mendapatkan kesengsaraan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.
3. Ibadah
Tujuan hidup manusia di dunia adalah beribadah kepada Allah SWT, QS.
Ad-Dzaariyaat (51):56.
4. Jalan mencapai kebahagiaan
Jalan dan Cara Mencapai Kebahagiaan setiap manusia yang beriman pasti bercita-cita ingin mendapatkan kebahagiaan hidupnya di dunia maupun di akhirat. Allah SWT dalam Al-Qur'an telah memberikan petunjuk-Nya bahwa manusia harus menempuh jalan yang lurus-jalan yang diridha'i oleh Allah SWT, dengan cara menghayati dan mematuhi segala aturan agama yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
5. Cerita-Cerita/Sejarah Sejarah Umat Manusia Sebelum Nabi Muhammad SAW.
Di dalam Al-Qur'an terdapat cerita-cerita tentang para Nabi dan Rasul beseta umatnya masing-masing. Cerita-cerita tersebut diungkapkan oleh Al- Qur'an dengan tujuan sebagai berikut:
a. Agar dijadikan pelajaran oleh umat Muhammad SAW bagaimana nasib orang yang taat kepada Allah dan bagaimana nasib umat yang ingkar kepada-Nya.
b. Sebagai hiburan bagi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau, agar Nabi dan sahabat-sahabatnya tetap berteguh hati/ tidak berkecil hati dalam menghadapi segala macam hambatan dan tantangan dalam menjalankan dakwah Islamiah.
B. SUNNAH
Pengertian Sunnah
Secara etimologi, al-Sunnah yaitu cara atau jalan yang terpuji ataupun tercela.
Secara terminologi, al-Sunnah adalah sebagai berikut:
a. Menurut Prof. Dr. Suparman Usman, al-Sunnah adalah perkataan, perbuatan, dan penetapan (qauliyah, fi'liyah dan taqririyah) Nabi Muhammad SAW, merupakan penjelas (bayan) terhadap Al-Qur'an.
b. Menurut Imam Subki dalam kitab Matan Jami' al-Jawani, sebagaimana dikutip oleh Romli SA, al-Sunnah adalah segala perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi Muhammas SAW.
c. Menurut Abdul Wahab Khalaf, sebagaimana dikutip oleh Romli SA, al-Sunnah adalah sesuatu yang bersumber dari Rasulullah SAW baik berupa perkataan, perbuatan dan ketetapan. (Mardani, 2017:127)
Kedudukan Sunnah sebagai Hujjah
Argumentasi tentang kedudukan sunnah sebagai hujah didasarkan pada beberapa ayat Al-Qur'an, As-Sunnah, Ijma' sahabat dan logika. Dalil tersebut sebagai berikut:
1. Di dalam Al-Qur'an banyak sekali ayat yang memerintahkan kaum Muslimin untuk mentaati Rasul, antara lain:
a. QS. Ali Imran (3); 32:
كۡ قُ
dاوَعَيطِأَ
هِ,لَلِ ٱ وَسُ,رِّلِ وَ
كَۖ ٱ
,نَّإِفَ dا ,لِوَتُ نَّإِفَ كۡ
هِ,لَلِ ٱ _بُّحَيُ لَا نَيُرِّفِ:كُ كۡ ٱ
٣٢
SUNNAH
Pengertian sunnah
Kedudukan Sunnah sebagai
Hujjah
Fungsi Sunnah/
Hadis
Macam-Macam Sunnah/Hadis dan
sejarah pembukuannya
32. Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir"
2. Di antara beberapa hadits Rasulullah yang memerintahkan kepada kaum muslimin agar selalu berpegang teguh kepada sunnahnya, adalah riwayat Imam Ahmad dari Abi Najih al-Irbadh bin Sariyah r.a., yang menceritakan bahwa Rasulullah memberikan nasihat kepada kita dengan suatu nasihat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata. Lalu kami bertanya kepada beliau “Hai Rasulullah, tampaknya nasihat ini nasihat (pamitan) terakhir Lalu Rasulullah menasihati kita, sabdanya: "Aku manasehatkan kepadamu agar kamu hanya takwa kepada Allah, taat dan patuh, biarpun seorang hamba sahaya memerintahkan kamu. Sungguh orang hidup lama (berumur panjang) di antara kamu nanti, bakal mengetahui adanya pertentangan-pertentangan yang hebat. Oleh karena itu hendaklah kamu berpegang teguh pada sunnahku, Sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah dengan taringmu. Jauhilah mengada-adakan perkara, sebab perkara yang diadaka-adakan itu adalah bid'ah. Padahal setiap bid'ah adalah tersesat dan setiap yang tersesat itu di neraka".
3. Ijma' para sahabat bahwa selama mereka tidak mendapatkan ketentuan hukum suatu kejadian di dalam Al-Qur'an, maka mereka meneliti Hadis-Hadis yang dihafal oleh sahabat dan tak seorang pun di antara mereka yang mengingkari sunnah Rasulullah apabila yang diriwayatkan oleh sahabat lain itu dapat diyakini kebenarannya.
Fungsi Sunnah/Hadis
1. Menjelaskan hukum yang telah dinyatakan Al-Qur'an.
Fungsi pertama dari Hadis adalah menjelaskan hukum yang telah dinyatakan dalam Al-Qur'an. Penjelasan Hadis terhadap Al-Qur'an itu bisa berupa pengkhususan sesuatu yang umum atau pemuqayyadan sesuatu yang mutlak atau lainnya. Yang jelas Hadis itu menerangkan atau memerincikan suatu hukum yang dinyatakan dalam Al-Qur'an secara umum atau global.
2. Memperkuat hukum yang telah dinyatakan oleh Al-Qur'an.
Fungsi kedua dari Hadis adalah memperkuat hukum yang telah dinyatakan dalam Al-Qur'an. Jadi, dengan demikian hukum suatu perkara itu sumbernya adalah dari Al-Qur'an dan Hadis. Penguatan oleh Hadis terhadap hukum-hukum yang telah diterapkan dalam Al-Qur'an dapat dilihat dalam beberapa kasus seperti haramnya membunuh tanpa hak, sumpah palsu, pencurian, dan lainnya.
3. Menjelaskan sumber hukum yang mandiri (independen)
Fungsi ketiga dari Hadis adalah menjadi sumber hukum yang mandiri, maksudnya, Hadis itu menetapkan suatu hukum yang belum ada ketetapannya dalam Al-Qur'an. Jadi, dengan demikian Hadis secara independent menentukan hukum tanpa ada sumbernya dari Al-Qur'an. Hal ini dibenarkan karena Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk mentaati Rasul-Nya. Dan Allah sendiri yang menyatakan bahwn barang siapa yang mentaati Rasul-Nya berarti telah mentaati-Nya. Hadis-Hadis yang menentukan hukum secara independen ini antara lain seperti sabda beliau: "Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Seorang wanita itu tidak boleh dinikahi bersama bibinya dari pihak ayah dan bibinya dari pihak ibu". (HR. Bukhari-Muslim)
Dan seperti sabda beliau: "Dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "diharamkan menikahi perempuan disebabkan karena persusuan, seperti diharamkan menikahi perempuan karena sebab kelahiran (nasab)". (HR.
Bukhari-Muslim) Berdasarkan uraian di atas, maka Imam Syafi'I menyebutkan dalam kitab al-risalah sebagaimana dikutip oleh Abdul Wahab Khalaf, Syafi' menyatakan, "bahwa sepengetahuan saya tidak ada ulama yang menyangkal dari ketiga fungsi sunnah di atas." Dengan demikian, melihat ketiga fungsi sunnah terhadap Al-Qur'an mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan tidak dapat dipisah. Tanpa sunah, Al-Qur'an tidak dapat dimengerti.
Macam-macam Sunnah/Hadis
Dilihat dari segi bentuk, maka Sunnah/Hadis diklasifikasikan ke-
1. Sunnah Qauliyah, yaitu Hadis-hadis yang diucapkan langsung oleh Nabi SAW, dalam berbagai kesempatan terhadap berbagai masalah, yang kemudian dinukil oleh para sahabat dalam bentuknya yang utuh seperti apa yang diucapkan oleh Nabi tersebut. Contoh Sunnah Qauliyah, misalnya yaitu: “Sesungguhnya semua amal itu didasarkan pada niat, dan setiap orang akan memperoleh apa diniatkan”.
2. Sunnah Fi’liyah, yaitu Hadis-hadis yang berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan oleh Nabi SAW yang dilihat dan diketahui oleh para sahabat kemudian disampaikan kepada orang lain. Misalnya hal-hal yang berhubungan tata cara pelaksanaan ibadah. Contoh berikut ini yang berasal dari Umar yang menjelaskan cara Rasulullah bertakbir dalam shalat: "Adalah Rasulullah apabila la hendak mengerjakan shalat Ia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dua sisi bahunya seraya bertakbir-mengucapkan Allahu Akbar, jika la ingin ruku', Ia lakukan seperti itu juga dan demikian pula ketika bangkit dalam ruku".
3. Sunnah Taqririyah, yaitu perbuatan dan ucapan para sahabat yang dilakukan di hadapan atau sepengetahuan Rasulullah, tetapi beliau mendiamkan dan tidak menolaknya. Sikap diam Rasulullah tersebut dan tidak menolak atas perbuatan atau ucapan para sahabat itu, dipandang sebagai persetujuan beliau.
Hadits dilihat dari jumlah orang yang meriwayatkan
Hadits dilihat dari segi kualitasnnya
1. Mutawatir
Hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak dan tidak terhitung jumlahnya.
2. Masyhur
Hadis yang lapis pertamanya beberapa orang sahabat atau lapis keduanya beberapa orang tabi’in, setelah tersebar di nukilkan oleh orang banyak.
3. Ahad
Hadis yang diriwayatkan oleh seseorang atau lebih tetapi tidak cukup terdapat padanya sebab- sebab yang menjadikannya ke tingkat masyhur.
1. Hadis Sahih
Hadits yang sanadnya bersambung ke Nabi Muhammad SAW, melalui rawi-rawi yang kharakteristik moralnya baik (’adil) dan kapasitas intelektualitas yang mumpuni, tanpa ada kejanggalan atau catat baik dalam matan maupun sanadnya.
2. Hadis Hasan
Hadis yang diriwatakan oleh perawi yang adil, hafalannya kurang sempurna, sanadnya bersambung, tidak terdapat keganjilan (syadz) dan tidak terdapat catat (illat).
3. Hadis Dha’if
Hadis yang kehilangan syarat-syarat hadis shahih dan hadis hasan.
4. Hadis Mau’dhu
Hadis palsu atau hadis yang dibuat- buat oleh seseorang dan dikatakan sebagai sabda atau perbuatan Nabi
Hadis dilihat dari segi diterima atau ditolaknya
Hadis dilihat dari segi siapa yang berperan dalam berbuat.
1. Hadis Maqbul
Hadis yang diterima dan dapat dijadikan hujjah atau alasan dalam agama. Yang termasuk dalam hadis ini adalah hadis sahih dan hadis hasan.
Adapun hadis dha’if ulama berbeda pendapat, ada yang menerima dengan catatan hadis tersebut sebagai motivasi untuk beramal, bukan sebagai hukum.
2. Hadis Mardud
Hadis yang ditolak dan tidak boleh dijadikan hujjah dalam agama yaitu hadis mau’dhu’
1. Hadis marfu’
Hadis yang disandarkan kepada nabi Muhammad
2. Hadis mauquf
Hadis yang disandarkan kepada sahabat
3. Hadis maqthu’
Hadis yang disandarkan kepada tabi’in.
Sunnah /Hadits yang Boleh Dijadikan Hujjah 1. Sunnah yang mutawatir
2. Sunnah/Hadis Sahih 3. Sunnah/Hadis Hasan Sejarah Pembukuan Hadis
Pada zaman Nabi, Hadis tidak ditulis, bahkan tidak pula dihafal. Menurut riwayat, pencatatan dan penghafalan Hadis dilarang oleh Nabi karena dikhawatirkan bercampur dengan hafalan Al-Quran sebagai firman Allah. Dan menurut satu riwayat ketika Umar bin Khatab menjadi khalifah, beliau merencanakan untuk mencatat/membukukan Hadis, tetapi tidak meneruskan rencana itu karena khawatir bercampur dengan Al-Qur’an.
Pembukuan Hadis terjadi pada abad ke dua hijriyah, yakni ketika Umar bin Abdul Azis menjadi Khalifah, beliau memerintahkan beberapa orang yang mengumpulkan Hadis-hadis yang mereka peroleh. Ketika pada tahun 140 H. Malik bin Annas (Imam Malik), menyusun satu buku yang berisi Hadis-Hadis Nabi, yang diberi nama dengan dengan “Al-Muwatha".
Pada abad ketiga Hijriah, terjadi pembukuan Hadis secara besar-besaran oleh Al- Bukhari, Al-Muslim, Abu Dawud, An-Nasa'i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, yang kita lihat banyak dipakai sekarang ini. Para sahabat sangat teliti dalam menerima suatu Hadis yang dikatakan datang dari Nabi. Seperti Abu Bakar, baru mau menerima suatu Hadis apabila ada saksi yang menguatkan, dan Ali Abi Thalib, baru mau menerima suatu Hadis, bila si pembawa Hadis telah disumpah. Penerima Hadis demikian ketatnya, karena pada masa Nabi Hadis memang tidak dicatat dan tidak pula dihafal, hingga terkadang sulit mengetahui Hadis. Seperti diriwayatkan bahwa, Al-Bukhari mengumpulkan 600.000 Hadis, tetapi setelah beliau teliti kembali, ternyata yang dianggapnya benar dari Nabi hanyalah 3.000 Hadis (hanya 12%).
Kisah Inspiratif
Kisah Seseorang yang Sabar dan Tabah Menghadapi Ujian
Muhammad bin Muawiyah Al-Azraq bercerita kepada kami , bahwa salah seorang gurunya pernah bercerita kepadanya; Alkisah, Nabi Yunus A.S bertemu dengan Malaikat Jibril A.S.
“Wahai Jibril, tunjukkan kepadaku siapa penduduk bumi yang paling rajin ibadahnya,” kata Nabi Yunus kepada Malaikat Jibril.
Lantas, Yunus dibawa kepada seorang laki-laki yang kedua tangan dan kakinya buntung dimakan penyakit kusta. Laki-laki itu berucap, "Ya Allah Engkau memberiku nikmat dua tangan dan dua kaki menurut kehendak-Mu. dan Engkau mencabut nikmat itu dariku menurut kehendak-Mu, dan Engkau masih memberiku harapan kepada-Mu."
"Wahai Jibril, yang saya minta adalah engkau memperlihatkan kepadaku seseorang yang paling rajin puasa dan shalat," kata Yunus kepada Jibril.
Jibril berkata, "Sebelum mengalami ujian seperti itu, dia adalah sosok yang rajin puasa dan shalat seperti yang engkau maksud. Saya juga telah diperintahkan untuk menghilangkan penglihatannya."
Lantas, Jibril pun menunjuk ke arah kedua mata orang itu, lalu kedua matanya pun meleleh.
Lalu, orang itu berkata, "Ya Allah, Engkau memberiku nikmat dua mata
sekehendak-Mu dan menghilangkan nikmat itu dariku sekehendak-Mu, dan Engkau masih memberiku harapan kepada-Mu."
"Mari, silakan engkau berdoa kepada Allah dan kami juga akan berdoa kepada-Nya bersamamu, maka Allah akan mengembalikan kedua tanganmu, kedua kakimu dan kedua matamu seperti semula, sehingga engkau bisa kembali beribadah seperti dulu lagi," kata Jibril kepada orang tersebut.
Orang itu berkata, "Saya tidak ingin melakukannya."
"Kenapa?" Tanya Jibril.
"Jika memang Allah mencintaiku dengan cara seperti ini, maka cinta-Nya lebih saya sukai dari semua itu," jawab orang tersebut.
"Wahai Jibril, saya tidak pernah melihat satu orang pun yang lebih tinggi tingkatan ibadahnya dari orang ini," kata Nabi Yunus kepada Malaikat Jibril.
"Wahai Yunus, ini adalah jalan terbaik menuju kepada Allah, tidak ada yang
Daftar Pustaka
Ahmad Sukardja dan Mujar Ahmad Syarif, 2012, Tiga Kategori Hukum: Syariat, Fikih dan Kanun, Jakarta: Sinar Grafika
Amir Syarifuddin, 2008, Ushul Fiqh, Edisi 3, Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group Ibnu Ibnul Jauzi, 2017, 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah, Terj. Abdul Hayyie Al-
Kattani, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
Imam al-Nawawi, 2001, al-Taqrib wa al-Taisir li Ma’rifati Sunan al-Basyir al –Nadzir, Dasar-Dasar Ilmu Hadis, Terj.Syarif Hadi Masyah, Jakarta: Pustaka Firdaus.
Kementrian Agama Republik Indonesia.1410 H/1989. AlQur’an al-Karim
Mardani, 2017, Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi,Depok: Prenadamedia Group
Mohammad Daud Ali, 2018, Pendidikan Agama Islam, Depok: Rajawali Pers
Muhammad Thalib, 2005, Fungsi dan Fadhilah Membaca Al-Qur’an, Surakarta : Kaffah Media