Ampas Bubuk Kopi sebagai Karbon Aktif untuk Menurunkan Kadar COD dan TSS dalam Limbah Cair Industri Tempe
Rafa Diah Kirani1*, Munawar Ali2
1,2Teknik Lingkungan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Indonesia
*Koresponden email: [email protected]
Diterima: 9 Oktober 2023 Disetujui: 11 Oktober 2023
Abstract
Recently, the quality of river water, one of the vital sources of water, has been increasingly threatened by pollution from various industrial activities, including the tempe industry. The tempe industry is common in Indonesia and uses water in various stages of its production. However, the wastewater from the tempe industry often contains hazardous pollutants such as COD, BOD, and TSS, which are often discharged without adequate treatment. This research aims to assess the effectiveness of activated carbon derived from coffee grounds as an adsorbent in reducing COD and TSS levels in the tempe industry's wastewater. The study also includes an analysis of the quality of the activated carbon from coffee grounds and the determination of the optimum dosage of activated carbon. In the quality test of the activated carbon, activated carbon from coffee grounds meets the criteria in terms of moisture content and iodine adsorption capacity. However, its ash content exceeds the standard limits. The research found that the optimum dosage of activated carbon is 8 grams per 250 ml with a contact time of 40 minutes. In reducing COD levels, activated carbon from coffee grounds can reduce the levels by up to 60%, while the reduction in TSS levels reaches 78%. These results indicate that the use of activated carbon from coffee grounds is an effective, cost-effective, and environmentally friendly alternative in addressing the problem of tempe wastewater pollution.
Keywords: tempe industry wastewater, activated carbon, coffee grounds waste, sustainable wastewater treatment
Abstrak
Dewasa ini, kualitas air sungai, salah satu sumber air penting, semakin terancam oleh pencemaran akibat berbagai aktivitas industri, termasuk industri tempe. Industri tempe adalah industri yang umum di Indonesia dan menggunakan air dalam berbagai tahap produksinya. Namun, limbah cair dari industri tempe sering mengandung polutan berbahaya, meliputi COD, BOD, dan TSS, yang seringkali dibuang tanpa pengolahan yang memadai. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji efektivitas karbon aktif yang berasal dari ampas bubuk kopi sebagai adsorben terhadap penurunan kadar COD dan TSS di dalam limbah cair industri tempe. Penelitian ini juga mencakup analisis kualitas karbon aktif ampas bubuk kopi dan penentuan dosis optimum karbon aktif. Dalam uji kualitas karbon aktif, karbon aktif ampas bubuk kopi memenuhi syarat dalam hal kadar air dan daya serap terhadap iodin, meskipun kadar abunya melebihi batas baku mutu.
Penelitian ini menemukan bahwa dosis optimum karbon aktif adalah 8 gr/250 ml dengan waktu kontak selama 40 menit. Dalam penurunan kadar COD, karbon aktif ampas bubuk kopi mampu mengurangi kadar sebesar 60%, sementara penurunan kadar TSS mencapai 78%. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan karbon aktif ampas bubuk kopi adalah alternatif yang efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan dalam mengatasi masalah pencemaran limbah tempe.
Kata Kunci: limbah cair industri tempe, karbon aktif, ampas bubuk kopi, pengolahan limbah berkelanjutan
1. Pendahuluan
Air adalah salah satu kebutuhan vital bagi kehidupan dan penggunaannya dalam banyak aspek kehidupan sehari-harinya, seperti kegiatan industri, sanitasi kota, pertanian, dan banyak lagi [1], [2]. Salah satu sumber air yang vital adalah sungai. Namun, dengan meningkatnya jumlah penduduk, kualitas air sungai semakin menurun akibat pencemaran, termasuk pencemaran dari berbagai aktivitas industri, salah satunya adalah industri tempe [3]. Industri tempe adalah industri yang mudah ditemui di Indonesia, karena tempe telah menjadi makanan tradisional yang popular dan digemari oleh masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun. Dalam proses pembuatan tempe, air memiliki peran penting dan digunakan dalam hampir setiap tahap produksi, seperti perebusan, perendaman, pencucian, dan peragian [4]. Namun, industri tempe
juga menghasilkan limbah cair yang mengandung polutan berbahaya bagi lingkungan, seperti COD, BOD, dan TSS. Sayangnya, limbah ini seringkali dibuang begitu saja tanpa melalui proses pengolahan yang memadai [4]. Baku mutu limbah hasil pengolahan tempe diatur oleh peraturan lingkungan Republik Indonesia, yang mengharuskan kadar BOD, COD, dan TSS dalam limbah mencapai tingkat tertentu.
Untuk mengatasi masalah limbah cair dari tempe, metode alternatif yang bisa diterapkan yaitu adsorpsi memakai karbon aktif. Karbon aktif merupakan substansi solid yang berporositas tinggi dan permukaannya luas, sehingga sangat efisien dalam menyerap zat pencemar dalam air [5]. Karbon aktif tidak hanya berasal dari batu bara dan kayu, tetapi juga dapat dihasilkan dari bahan alami lainnya, seperti ampas bubuk kopi. Ampas bubuk kopi mengandung bahan yang dapat menyerap berbagai polutan, termasuk logam berat dan senyawa organik seperti COD dan BOD dalam air limbah [6]. Pemanfaatan ampas bubuk kopi sebagai bahan dasar karbon aktif dapat menjadi alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan dalam mengatasi permasalahan limbah tempe [7]. Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa penggunaan karbon aktif yang berasal dari ampas kopi dapat efisien dalam mengurangi konsentrasi COD dan logam terlarut dalam limbah cair [3], [8].
Oleh sebab itu, studi ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan karbon aktif yang dihasilkan dari ampas bubuk kopi sebagai adsorben dalam mengurangi kadar COD dan TSS dalam limbah cair dari industri tempe. Penelitian ini juga memiliki tujuan khusus, yakni untuk menilai kualitas karbon aktif dalam ampas kopi, menentukan dosis optimal karbon aktif, dan mengukur sejauh mana efektivitasnya dalam mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan yang timbul akibat limbah cair industri tempe. Manfaat dari penelitian ini meliputi pengembangan alternatif yang lebih berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan dalam pengolahan limbah tempe, serta pengurangan timbulan sampah ampas kopi.
2. Metode Penelitian Gambaran Penelitian
Metode dalam penelitian ini terdiri dari dua tahap utama: pertama, pembuatan karbon aktif dari ampas bubuk kopi, dan kedua, pelaksanaan proses adsorpsi, diikuti oleh analisis hasil eksperimen. Studi ini menggunakan pendekatan desain eksperimental dengan dua jenis variabel: variabel bebas, yang mencakup dosis karbon aktif dan waktu kontak, dan variabel kontrol, yaitu pH dan suhu. Variasi dosis karbon aktif terdiri dari 4 gr/250 ml, 6 gr/250 ml, dan 8 gr/250 ml, sementara variasi waktu kontak mencakup 20, 30, 40, 50, dan 60 menit. Parameter yang diuji dalam eksperimen adalah COD dan TSS. Volume air limbah yang digunakan adalah sebanyak 250 ml, dan kecepatan pengadukan disetel pada 100 rpm.
Pembuatan Karbon Aktif dari Ampas Bubuk Kopi
Proses pembuatan karbon aktif melibatkan langkah-langkah yang cukup intensif. Pertama-tama, Pengeringan dilakukan pada 2000 gram ampas kopi yang berasal dari kedai kopi. Pengeringan menggunakan oven selama 5 jam pada suhu 105ºC. Ampas kopi yang telah mengalami proses pengeringan kemudian ditransformasi menjadi karbon aktif melalui proses karbonisasi yang dilakukan menggunakan furnace pada suhu tinggi, yakni 600°C, selama 4 jam. Hasil dari proses karbonisasi tersebut disaring menggunakan ayakan berukuran 100 mesh, dan rendemennya dihitung untuk menentukan jumlah karbon aktif yang dihasilkan. Setelah itu, karbon aktif yang telah mengalami proses karbonisasi diaktivasi secara kimia. Karbon aktif diaktivasi dengan cara merendamnya dalam larutan aktivator HCl 0,1 M selama 2 jam.
Kemudian, untuk memastikan penghilangan sisa HCl yang mungkin masih ada dalam karbon aktif ampas kopi, karbon aktif tersebut disaring dengan menggunakan kertas saring dan dicuci dengan air demineral (akuades) hingga mencapai pH 6 atau mencapai kondisi netral. Selanjutnya, karbon aktif dikeringkan kembali dalam oven dengan suhu 150°C selama 3 jam.
Prosedur Proses Adsorpsi
Untuk melakukan proses adsorpsi, disiapkan 15 erlenmeyer berkapasitas 500 ml. Kemudian, memasukkan 250 ml sampel limbah industri tempe ke dalam setiap erlenmeyer. Lalu menambahkan variasi dosis karbon aktif sebanyak 4 gram, 6 gram, dan 8 gram ke dalam erlenmeyer sesuai dengan tujuan penelitian. Erlenmeyer yang berisi air limbah dan karbon aktif kemudian ditempatkan dalam shaker. Proses pengadukan dilakukan dengan kecepatan 100 rpm, dengan berbagai waktu kontak yang berbeda, yaitu 20, 30, 40, 50, dan 60 menit. Setelah proses adsorpsi selesai, air limbah yang telah disaring diambil dengan menggunakan kertas saring. Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap parameter COD dan TSS pada air hasil penyaringan.
Analisis
Pada tahap analisis, sejumlah prosedur dilakukan untuk mengevaluasi karbon aktif yang dihasilkan serta dampaknya terhadap air limbah. Dilakukan analisis rendemen yang menghitung persentase karbon aktif yang dihasilkan. Dilakukan analisis kadar air untuk mengukur kadar air dalam karbon aktif dengan
mengukur perubahan berat sebelum dan setelah proses pengovenan menggunakan rumus. Sementara itu, prosedur analisis kadar abu melibatkan pengukuran perubahan berat sebelum dan setelah proses pengabuan.
Selain itu, dianalisis daya serap iodin oleh karbon aktif dengan metode titrasi. Terakhir, analisis parameter COD dan TSS yang dilakukan sesuai dengan metode SNI 6989.73:2009 dan SNI 6989.3:2019 untuk mengetahui efektivitas karbon aktif dalam mengurangi pencemaran dalam air limbah.
3. Hasil dan Pembahasan
Kualitas Karbon Aktif Ampas Bubuk Kopi Sebagai Adsorben dalam Penurunan Kadar COD dan TSS Pada Limbah Cair Industri Tempe
Setelah menyelesaikan proses pembuatan karbon aktif dari sisa ampas kopi, kami berhasil menghasilkan 200 gram karbon aktif. Kemudian, kami melakukan pengujian untuk menilai kualitas karbon aktif yang dihasilkan. Pengujian mencakup pengukuran kadar air, kadar abu, dan kemampuan penyerapan iodin dari karbon aktif ampas bubuk kopi, dan hasilnya tercatat dalam Tabel 1. Dalam penelitian ini, kami memberikan perhatian khusus pada kadar air dalam karbon aktif karena tingkat kelembaban ini memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitasnya. Sesuai standar SNI 06-3730-1995, kadar air maksimum yang diizinkan dalam karbon aktif adalah 15%.
Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kadar air dalam karbon aktif yang kami hasilkan hanya sebesar 2%, yang sesuai dengan standar tersebut. Kadar air dalam karbon aktif dapat diperkecil dengan menjalani proses aktivasi tambahan [6]. Jika semakin banyak air yang terkandung, daya serap adsorben juga berkurang karena permukaan sudah penuh dengan air [9]. Karbon aktif pada penelitian ini diaktivasi menggunakan HCl. HCl yang merupakan asam kuat dapat menghilangkan senyawa hidrokarbon yang terbentuk pada proses karbonisasi [6]. Aktivasi karbon dilakukan untuk meningkatkan daya adsorpsi karena proses ini dapat membersihkan pori-pori karbon agar terbuka lebih besar [10].
Tabel 1. Hasil Uji Kualitas Karbon Aktif Ampas Bubuk Kopi
Parameter Baku Mutu (Serbuk) Hasil Uji Keterangan
Kadar air Maks. 15% 2% Memenuhi SNI 06-3730- 1995
Kadar abu Maks. 10% 51,8% Tidak Memenuhi SNI 06-3730-1995
Daya serap terhadap I2 Min. 750 mg/g 1142,37 mg/g Memenuhi SNI 06-3730- 1995 Sumber: Hasil Analisis (2023)
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar abu pada karbon aktif yang berasal dari ampas bubuk kopi mencapai 51,8%, melebihi batas maksimum yang diatur dalam standar SNI 06-3730-1995, yang memperbolehkan kadar abu maksimal sebesar 10%. Kadar abu ini mengindikasikan bahwa terdapat mineral yang terperangkap dalam karbon aktif dalam jumlah tertentu. Tingginya nilai kadar abu ini disebabkan oleh adanya sisa mineral yang terperangkap dalam karbon aktif dari ampas bubuk kopi. Keberadaan mineral- mineral ini dapat menghambat kemampuan karbon aktif dalam menyerap zat yang akan diadsorpsi karena mineral-mineral tersebut dapat menyumbat permukaan karbon aktif [9].
Di sisi lain, hasil pengujian menunjukkan bahwa kapasitas penyerapan karbon aktif yang berasal dari ampas bubuk kopi terhadap iodin mencapai nilai sekitar 1142,37 mg/g. Nilai ini telah memenuhi standar yang ditetapkan dalam SNI 06-3730-1995, yang menetapkan nilai minimum sebesar 750 mg/g. Pengujian kapasitas penyerapan karbon aktif terhadap iodin bertujuan untuk mengukur jumlah mikropori yang ada dalam karbon aktif tersebut. Semakin banyak mikropori yang terbentuk, maka kemampuan karbon aktif menyerap zat dengan molekul kecil, seperti iodin, akan semakin baik [9]. Berdasarkan hasil yang didapat, dapat disimpulkan bahwa daya serap karbon aktif yang berasal dari ampas bubuk kopi dalam penelitian ini dapat dianggap memadai.
Dosis Optimum Karbon Aktif Ampas Bubuk Kopi dalam Penurunan Kadar COD dan TSS pada Limbah Cair Industri Tempe
Limbah cair dari industri tempe umumnya memiliki karakteristik yang mencakup tingkat kepekatan tinggi, kental, bersifat asam, berwarna kuning hingga kecokelatan, keruh, serta beraroma tidak sedap. Tabel 2 menyajikan hasil pengujian awal dari limbah cair industri tempe.
Tabel 2. Hasil Uji Awal Limbah Cair Industri Tempe Parameter Hasil Uji Baku Mutu Satuan
COD 20800 300 mg/L
TSS 820 100 mg/L
pH 5,78 6 – 9 -
Sumber: Hasil Analisis (2023)
Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa parameter COD dan TSS dalam limbah cair tersebut bernilai sangat tinggi yang jelas melebihi standar baku mutu yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini, pengolahan limbah cair industri tempe dilakukan menggunakan adsorpsi yang melibatkan karbon aktif dari ampas bubuk kopi. Dalam rangkaian penelitian ini, variasi waktu kontak pengadukan sebesar 20, 30, 40, 50, dan 60 menit, serta variasi dosis sebesar 4, 6, dan 8 gram, digunakan untuk menguji efektivitas pengolahan. Setiap sampel memiliki volume sebesar 250 ml, dan kecepatan pengadukan adalah sebesar 100 rpm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu kontak pengadukan yang optimal sangat dipengaruhi oleh dosis adsorben yang digunakan. Dengan peningkatan dosis adsorben, penyerapan pencemar dalam limbah cair menjadi lebih efisien dalam waktu yang lebih singkat [11]. Selengkapnya mengenai hasil pengolahan dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Grafik Hubungan Waktu Kontak dengan Penentuan Dosis Optimum Karbon Aktif Ampas Bubuk Kopi dalam Penurunan COD
Sumber: Hasil Analisis, 2023
Gambar 1 memperlihatkan kadar COD paling rendah terjadi ketika dosis adsorben sebanyak 8 gram per 250 ml dengan waktu kontak selama 20, 30, 40, 50, dan 60 menit. Hasilnya secara berturut-turut adalah 8736 mg/L, 8736 mg/L, 8320 mg/L, 8320 mg/L, dan 8320 mg/L. Meskipun kadar COD masih jauh dari standar baku mutu, penurunan tersebut dianggap cukup baik. Penurunan ini terjadi karena peningkatan jumlah adsorben yang meningkatkan kemampuan penyerapan polutan dalam limbah cair [12]. Peningkatan jumlah adsorben yang digunakan diikuti dengan pertambahan luas permukaan adsorben yang digunakan sehingga adsorben dapat menyerap lebih banyak polutan [6]. Hasil menunjukkan bahwa dosis optimum dengan penurunan paling besar terjadi ketika waktu kontak mencapai 40 menit. Dapat diperhatikan bahwa penurunan kadar COD semakin signifikan selama interval waktu 20, 30, dan 40 menit. Namun, setelah mencapai 40 menit, terjadi stabilisasi pada kadar COD, yang kemudian mulai menurun seiring dengan peningkatan waktu kontak. Penyebabnya adalah kelebihan zat organik dalam limbah cair dari industri tempe, yang mengakibatkan pori-pori adsorben terisi dengan cepat dan menghambat efisiensi proses penyisihan [13].
Gambar 2. Grafik Hubungan Waktu Kontak dengan Penentuan Dosis Optimum Karbon Aktif Ampas Bubuk Kopi dalam Penurunan TSS
Sumber: Hasil Analisis, 2023
Dalam hal penurunan kadar TSS, Gambar 2 menunjukkan bahwa dosis optimal terletak pada variasi dosis 8 gr/250 ml dengan waktu kontak 40 menit. Konsentrasi TSS pada berbagai waktu kontak, yaitu 20, 30, 40, 50, dan 60 menit, secara berurutan adalah 220 mg/L, 200 mg/L, 180 mg/L, 200 mg/L, dan 200 mg/L.
Seperti pada kasus COD, penurunan TSS paling signifikan terjadi pada waktu kontak mencapai 40 menit, setelahnya terjadi kestabilan. Penurunan kinerja adsorben setelah 40 menit dapat disebabkan oleh jenuhnya pori-pori adsorben karena terisi oleh padatan tersuspensi dalam limbah [13]. Semakin lama adsorben jenuh, semakin baik kualitasnya dalam proses regenerasi [14]. Jika adsorben terus menerima beban, hal ini dapat mengakibatkan adsorben mencapai titik jenuhnya, di mana semua pori-pori sudah terisi penuh oleh adsorbat, sehingga laju adsorpsi menurun dan mungkin terjadi proses desorpsi.
Pengurangan kadar TSS mencerminkan efektivitas adsorpsi yang baik oleh karbon aktif dari ampas bubuk kopi. Karbon aktif tersebut mampu menyerap partikel-partikel padatan tersuspensi dalam limbah, mengurangi kekeruhan air, dan mengendapkan zat pencemar. Proses ini melibatkan adsorpsi dan pemampatan oleh karbon aktif ampas bubuk kopi, yang membentuk kristal-kristal dengan struktur yang tidak teratur. Proses ini efektif dalam mengendapkan mikroorganisme dan bahan pencemar yang menjadi penyebab kekeruhan dalam limbah cair dari industri tempe [15]. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa dosis optimum dan efektivitas terbaik tercapai pada dosis 8 gr/250 ml dengan waktu kontak 40 menit.
Efektivitas Karbon Aktif Ampas Bubuk Kopi dalam Penurunan Kadar COD dan TSS Pada Limbah Cair Industri Tempe
Gambar 3. Grafik Hubungan Dosis dan Waktu Kontak terhadap Efektivitas Karbon Aktif Ampas Bubuk Kopi dalam Penurunan COD
Sumber: Hasil Analisis, 2023
Dalam penelitian ini, telah dievaluasi efektivitas penggunaan karbon aktif yang berasal dari ampas bubuk kopi dalam mengurangi kadar COD limbah cair industri tempe. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa karbon aktif ampas bubuk kopi dapat berhasil menurunkan kadar COD pada limbah cair industri tempe hingga mencapai 60%, seperti yang tergambar dalam Gambar 3. Temuan ini mengindikasikan potensi besar dari bahan adsorben alami ini dalam mengatasi masalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah cair. Hasil penelitian ini juga selaras dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh [15], yang menunjukkan bahwa proses adsorpsi menggunakan karbon aktif ampas bubuk kopi mencapai hasil yang optimal pada kondisi pH netral. Namun, penting untuk diperhatikan bahwa dalam penelitian ini, limbah cair industri tempe memiliki pH yang bersifat asam dan tidak mengalami perubahan yang signifikan selama proses adsorpsi. Hal ini menjadi tantangan dalam pengolahan limbah cair tersebut karena kondisi pH yang tidak sesuai dengan kondisi optimal adsorpsi.
Hasil yang didapat juga menunjukkan hasil yang serupa dengan studi yang dilakukan oleh [16], di mana penggunaan karbon aktif dari ampas bubuk kopi berhasil menurunkan kadar COD hingga 60% pada limbah batik. Temuan ini menunjukkan bahwa karbon aktif ampas bubuk kopi dapat menjadi bahan adsorben yang efektif dalam berbagai konteks pengolahan limbah. Sebagai perbandingan, hasil penelitian ini bahkan lebih unggul dibandingkan dengan penelitian sebelumnya oleh [13], yang menggunakan karbon aktif dari eceng gondok untuk mengatasi limbah cair tempe. Dalam penelitian tersebut, penurunan parameter COD hanya mencapai 26%, yang lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian ini. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan karbon aktif ampas bubuk kopi memiliki keunggulan yang signifikan dalam mengurangi pencemaran pada limbah cair industri tempe dibandingkan dengan bahan adsorben alternatif.
Gambar 4. Grafik Hubungan Dosis dan Waktu Kontak terhadap Efektivitas Karbon Aktif Ampas Bubuk Kopi dalam Penurunan TSS
Sumber: Hasil Analisis (2023)
Selain COD, penelitian juga mengkaji efektivitas karbon aktif yang dihasilkan dari sisa ampas bubuk kopi dalam hal pengurangan kadar TSS dalam limbah cair industri tempe. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa karbon aktif yang berasal dari ampas bubuk kopi mampu memberikan hasil yang sangat baik dalam mengurangi kadar TSS dalam limbah tersebut. Berdasarkan data pada Gambar 4, efisiensi tertinggi dalam mengurangi kadar TSS mencapai 78%, menunjukkan bahwa penggunaan karbon aktif dari ampas bubuk kopi merupakan salah satu solusi yang efektif dalam mengatasi masalah TSS dalam limbah cair industri tempe. Hasil ini juga sejalan dengan temuan penelitian lain yang relevan. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh [15] menunjukkan bahwa penggunaan karbon aktif dari ampas bubuk kopi untuk mengurangi parameter TSS pada limbah dari laundry juga berhasil mencapai hasil yang baik, yakni mencapai 70%. Selain itu, penelitian oleh [17] menemukan bahwa penggunaan karbon aktif dari biji asam Jawa dalam mengatasi limbah cair dari tahu dapat mengurangi parameter TSS hingga mencapai 68%. Selanjutnya, penelitian oleh [13] mengungkapkan bahwa penggunaan karbon aktif dari eceng gondok dalam menghadapi limbah cair industri tempe dapat mengurangi parameter TSS hingga mencapai 73%.
4. Kesimpulan
Dapat diambil kesimpulan dari hasil penelitian bahwa karbon aktif ampas bubuk kopi memiliki potensi yang signifikan dalam mengatasi pencemaran limbah cair tempe. Kualitas karbon aktif ampas bubuk kopi telah diuji dan memenuhi syarat dalam hal kadar air dan daya serap terhadap iodin. Meskipun kadar abu melebihi batas baku mutu, hal ini tidak memengaruhi kemampuan adsorpsi karbon aktif tersebut.
Dalam penurunan kadar COD, penelitian ini menemukan bahwa dosis optimum adalah 8 gr/250 ml dengan waktu kontak 40 menit. Efektivitas karbon aktif ampas bubuk kopi dalam menurunkan kadar TSS juga baik, mencapai penurunan hingga 78%. Sedangkan untuk parameter COD mampu mencapai penurunan hingga 60%. Hasil ini mengindikasikan bahwa salah satu solusi efektif mengatasi masalah TSS dan COD dalam limbah cair industri tempe adalah karbon aktif ampas bubuk kopi.
Secara keseluruhan, studi ini mengungkap potensi besar karbon aktif ampas bubuk kopi dalam mengatasi pencemaran limbah cair. Penggunaan bahan adsorben alami ini tidak hanya efektif dalam mengurangi kadar COD dan TSS, tetapi juga ekonomis dan ramah lingkungan. Dengan begitu, studi yang telah dilakukan memberikan dampak positif di bidang pengelolaan limbah cair yang berkelanjutan.
Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengoptimalkan proses pengolahan limbah cair ini dan mengatasi permasalahan lain yang terkait dengan air limbah industri.
5. Daftar Pustaka
[1] R. N. K. Setioningrum, L. Sulistyorini, dan W. I. Rahayu, “Gambaran Kualitas Air Bersih Kawasan Domestik di Jawa Timur pada Tahun 2019,” Ikesma, vol. 16, no. 2, 2020, doi:
https://doi.org/10.19184/ikesma.v16i2.19045.
[2] U. Hanum, F. Ramadhan, F. Armando, M. Sholiqin, dan S. Rachmawati, “Analisis Kualitas Air dan Strategi Pengendalian Pencemaran Air di Sungai Pepe Bagian Hilir, Surakarta,” Pros. SAINTEK Sains dan Teknol., vol. 1, no. 1, hal. 376, 2022.
[3] Z. Sartika, M. Mariana, dan M. D. Supardan, “Penurunan Kadar COD, BOD dan Nitrit Limbah Pabrik Tahu Menggunakan Karbon Aktif Ampas Bubuk Kopi,” J. Serambi Eng., vol. 4, no. 2, hal.
557–564, 2019, doi: https://doi.org/10.32672/jse.v4i2.1334.
[4] M. R. R. B. Pakpahan, R. Ruhiyat, dan D. I. Hendrawan, “Karakteristik Air Limbah Industri Tempe (Studi Kasus: Industri Tempe Semanan, Jakarta Barat),” J. Bhuwana, vol. 1, no. 2, hal. 164–172, 2021, doi: https://doi.org/10.25105/bhuwana.v1i2.12535.
[5] I. Irmanto dan S. Suyata, “Optimasi Penurunan Nilai BOD, COD, dan TSS Limbah Cair Industri Tapioka Menggunakan Arang Aktif dari Ampas Kopi.,” Molekul, vol. 5, no. 1, hal. 22, 2010, doi:
https://doi.org/10.20884/1.jm.2010.5.1.73.
[6] W. F. Putri, “(Pithecellobium lobatum) Sebagai Adsorben Dalam Menyisihkan Kadar COD Dan TSS Pada Limbah.,” 2020.
[7] J. R. Darmawan, “Penentuan Nilai Derajat Keasaman Dan Waktu Kontak Optimum Pada Proses Adsorpsi Limbah Cair Industri Tahu Menggunakan Adsorben Ampas Kopi Yang Teraktivasi HCl Untuk Menurunkan Kadar Amonia (NH3),” Cilacap, 2022.
[8] A. F. Samosir, B. Yulianto, dan C. A. Suryono, “Arang Aktif dari Ampas Kopi sebagai Absorben Logam Cu Terlarut dalam Skala Laboratorium,” J. Mar. Res., vol. 8, no. 3, hal. 237–240, Agu 2019, doi: 10.14710/JMR.V8I3.25265.
[9] I. Kurniaty dan M. Rahmawati, “Pengaruh Massa Adsorben Arang Aktif dari Ampas Kopi untuk Menyerap Zat Warna Rhodamin-b,” 2022.
[10] G. Padmasari dan A. Melati, “Sintesis Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Aktivator HCl,”
Pros. Semin. Nas. Fis. Festiv., vol. 1, hal. 1–4, Mei 2020, Diakses: Okt 04, 2023. [Daring]. Tersedia pada: https://sunankalijaga.org/prosiding/index.php/fisfest/article/view/733.
[11] L. Fitriah dan D. Agustini, “Serbuk Biji Asam Jawa (Tamarin Dusindica L) untuk Pengelolaan Limbah Industri Cair Tempe (Studi Kasus Mataram),” J. Sains Teknol. Lingkung., vol. 7, no. 2, hal.
272–279, 2021, doi: https://doi.org/10.29303/jstl.v7i2.193.
[12] A. Silvi Reyra, S. Daud, S. Reni Yenti, dan M. Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Riau, “Pengaruh Massa dan Ukuran Partikel Adsorben Daun Nanas terhadap Efisiensi Penyisihan Fe pada Air Gambut,” J. Online Mhs. Fak. Tek. Univ. Riau, vol. 4, no. 2, hal. 1–9, Okt 2017, Diakses:
Okt 04, 2023. [Daring]. Tersedia pada: https://www.neliti.com/publications/204512/.
[13] L. Cundari et al., “Efektivitas Karbon Aktif Eceng Gondok (Eichornia crassipes) pada Pengolahan Limbah Cair Tempe,” JST (Jurnal Sains dan Teknol., vol. 11, no. 2, hal. 403–410, 2022, doi:
https://doi.org/10.23887/jstundiksha.v11i2.49422.
[14] N. Hendrasarie dan R. Prihantini, “Pemanfaatan Karbon Aktif Sampah Plastik untuk Menurunkan Besi dan Mangan Terlarut pada Air Sumur,” Jukung (Jurnal Tek. Lingkungan), vol. 6, no. 2, hal.
136–146, 2020, doi: https://doi.org/10.20527/jukung.v6i2.9256.
[15] R. Suhariyanto, E. Purwanti, D. Setyawan, dan F. H. Permana, “Kemampuan absorben arang aktif ampas kopi dalam mengurangi kadar limbah industri laundry,” Pros. Semin. Nas. Pendidik. Biol., hal. 189–194, Mar 2019, doi: 10.1016/J.JHAZMAT.2004.12.006.
[16] C. Febrianti, M. Ulfah, dan K. Kusumastuti, “Pemanfaatan Ampas Kopi sebagai Bahan Karbon Aktif untuk Pengolahan Air Limbah Industri Batik,” agriTECH, vol. 43, no. 1, hal. 1–10, Feb 2023, doi: 10.22146/AGRITECH.68014.
[17] P. K. Rahmasari, N. Mahmudati, dan E. Purwanti, “Analisis Kemampuan Remediasi Karbon Aktif Biji Tamarindus indica L. pada Limbah Cair Tahu,” Semin. Nas. VI, hal. 336–343, 2021.