Analisa Besi dengan Spektrofotometri UV-Vis
Siti Anik Mahbubah(1)*, Andini Nabila Alkamalia(2),Syabila Eldryssa (3),Widhy Rafi Imani(4) Dr. Eng. Nurlaili Humaida,S.T.,M.T.
Departemen Teknik Kimia Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember
01 Maret 2023 Abstrak
Air memiliki banyak kandungan salah satunya adalah besi (Fe). Kadar besi yang tinggi pada air dapat menurunkan baku mutu. Analisa besi dapat dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis.
Spektrofotometri UV-Vis adalah salah satu metode analisa logam dengan berdasarkan pengukuran energi cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu dengan spektrofotometer sebagai instrumennya. Tujuan Percobaan ini adalah untuk mengetahui cara menentukan absorbansi dan konsentrasi (
2+¿
Fe¿ ) pada sampel air PDAM dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Dan apakah setiap sampel layak diguakan sebagai air untuk kebutuhan baku mutu air minum dan higiene sanitasi. Percobaan dimulai dengan pembuatan larutan reagen yaitu larutan buffer ammonium asetat dan fenantrolin 0,1%.
Selanjutnya adalah tahap kalibrasi alat dengan menggunakan larutan blanko aquadest. Kemudian pembuatan kurva standar FeSO4 dengan konsentrasi 10 ppm; 20 ppm; 30 ppm; 40 ppm; dan 50 ppm kemudian diukur nilai absorbansi masing-masing larutan dan didapatkan nilai absorbansi berturut-turut adalah 0,157 nm; 0,215 nm;
0,287 nm; 0,433 nm dan 0,512 nm. Dilanjutkan dengan menentukan konsentrasi 2+¿
Fe¿ pada sampel.
Didapatkan kadar besi pada sampel air PDAM Gubeng, Gayungan, Sidoarjo, Kenjeran dan Bubutan secara berturut-turut adalah 0,028 ppm; 0,081 ppm; 0,103 ppm; 0,40 ppm; 0,405 ppm; dan 1,698 ppm. Sampel air PDAM Gubeng, Gayungan dan Sidoarjo sesuai dengan PERMENKES No. 492 Tahun 2010. Untuk air PDAM Gubeng, Gayungan, Sidoarjo dan Kenjeran sesuai dengan PERMENKES No. 32 Tahun 2017. Sedangkan air PDAM Bubutan tidak memenuhi ambang batas kadar besi untuk kebutuhan air minum dan higiene sanitasi yaitu 0,3 mg/L dan 1 mg/L.
Kata kunci : Air, Besi, Spektrofotometri UV-Vis 1.0 Pendahuluan
Air merupakan merupakan senyawa yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan digunakan hampir diseluruh kegiatan sehari-hari. Seperti untuk keperluan air minum, sanitasi, pertanian dan industri. Sumber air bersih yang ada di Indonesia diantaranya berasal dari air atmosfer yang merupakan air yang terjadi karena proses penguapan yang kemudian terkondensasi dan akhirnya jatuh sebagai air hujan, salju dan es, lalu ada air permukaan yang merupakan hujan yang mengalir di permukaan bumi misalnya air sungai, air rawa atau danau, dan yang terakhir adalah air tanah yang merupakan air yang bergerak di dalam tanah biasanya diantara butur-butir tanah atau retakan batuan [ CITATION Sut06 \l 1033 ]. Akan tetapi, sumber air bersih di Indonesia banyak yang tercemar karena pembuangan limbah seperti limbah rumah tangga, pertanian, dan limbah industri yang sembarangan tanpa mempertimbangkan dampaknya ke lingkungan. Hal ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena banyak unsur-unsur kimia pada limbah yang merupakan racun dan dapat mencemari lingkungan. Selain itu, juga berdampak kepada kesehatan masyarakat disekitar, diantaranya dapat menyebabkan gatal-gatal, dan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang dapat meyebabkan penyakit diare, tifus, hepatitis dan berbagai penyakit lainnya.
Kadar besi dalam air yang digunakan untuk kebutuhan higiene sanitasi tidak boleh lebih dari 1 mg/l sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017 Tentang Standar Baku Mutu Kesehatan lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Air minum kadar
2023, Vol 1, No. 1
besi air yang digunakan sebagai baku mutu air minum tidak boleh melebihi 0,3 mg/L. Kadar besi yang tinggi pada air dapat menyebabkan air menjadi bau dan keruh serta Prinsip kerja spektrofotometri UV-Vis adalah berdasarkan penyerapan cahaya atau energi radiasi dari suatu larutan.
[ CITATION Leo22 \l 1033 ]. Jumlah cahaya yang diabsorbsi atau ditransmisikan oleh molekul- molekul didalam larutan bergantung pada sampel. Karena tiap sampel akan menyerap cahaya pada gelombang tertentu. Oleh karena itu, perlu dilakukan kalibrasi agar pengukuran yang dilakukan bisa lebih teliti. Spektrum UV-Vis sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif konsentrasi dari analit didalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer [ CITATION Leo22 \l 1033 ].
Berdasarkan pembahasan tersebut, percobaan analisa besi dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis bertujuan untuk mengetahui cara menentukan absorbansi dan konsentrasi (
2+¿
Fe¿ ) pada sampel dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Untuk mengetahui kadar besi pada setiap sampel yang telah disiapkan yaitu air PDAM Gubeng; air PDAM Gayungan;
dan air PDAM Sidoarjo; air PDAM Kenjeran; dan air PDAM Bubutan. Dan apakah setiap sampel layak digunakan sebagai air untuk kebutuhan baku mutu air minum.
2.0 Tinjauan Pustaka
Air merupakan bahan alam yang diperlukan untuk kehidupan manusia, hewan dan tanaman, air juga merupakan sumber energi serta berbagai penunjang keperluan lainnya [CITATION Sas \l 1033 ].
Tak dapat disangkal bahwasannya air memanglah sumber kehidupan utama bagi makhluk hidup disamping dengan adanya oksigen. Air bersih merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan manusia dan menjadi sumber daya alam yang memiliki fungsi sangat vital. Air bersih digunakan manusia untuk keperluan sehari-hari mulai dari minum, mandi, memasak, mencuci, serta keperluan lainnya[CITATION Zul \l 1033 ].
Berdasarkan macam macam sumber air yang ada, terdapat beberapa penggolongan air yang dapat digunakan. Berikut ini penggolongan air berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang pengendalian Pencemaran Air pengelompookan air menurut peruntukannya yaitu:
1. Golongan A merupakan air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung 2. Golongan B merupakan air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum
3. Golongan C merupakan air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan 4. Golongan D merupakan air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha
diperkotaan, industri, pembangkit listrik tenaga air.
Menurut golongan yang telah di jabarkan, maka sampel air yang digunakan dalam praktikum kali ini (air PDAM) termasuk kedalam jenis air golongan B, atau air yang dapat digunakan sebagai air minum. Adapun berikut ini baku mutu air golongan B:
Tabel 1. Baku Mutu Kualitas Air Golongan B
No Parameter Satua
n
Kadar Maksimum
1. Air raksa mg/L 0,001
2. Amoniak bebas mg/L 0,5
3. Arsen mg/L 0,05
4. Barium mg/L 1,0
5. Besi mg/L 5,0
6. Fluorida mg/L 1,5
7. Kadmium mg/L 0,01
8. Klorida mg/L 600
9. Kromium mg/L 0,05
10 Mangan mg/L 0,5
2023, Vol 1, No. 1
. 11
. Nitrat, sebagai N mg/L 10
12
. Nitrit, sebgai N mg/L 1,0
13 .
Oksigen terlarut
(DO) mg/L >6
14
. pH mg/L 5-9
15
. Selenium mg/L 0,01
16
. Seng mg/L 5
17
. Sianida mg/L 0,1
18
. Sulfat mg/L 400
19
. Sulfida mg/L 0,1
20
. Tembaga mg/L 1,0
21
. Timbal mg/L 0,1
Air sendiri termasuk zat yang bersifat sebagai universal solvent (pelarut berbagai macam zat) oleh karena itu air sangat mudah tercemar oleh kondisi lingkugannya. Air dapat tercemar oleh berbagai kontaminan antara lain padatan tersuspensi, minyak, logam berat, detergen, padatan terlarut dan sebagainya. Oleh karena itu air di alam harus melewati tahap pengolahan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk keperluan tertentu[CITATION Ken17 \l 1033 ]. Pada air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) sendiri, telah dilakukan pengolahan melalui beberapa proses, daintaranya proses kimia, fisik, dan bakteriologi. Sehingga hal tersebut menjadikan air PDAM yang dihasilkan dapat langsung dikonsumsi dan diminum namun masih perlu adanya pemasakan terlebih dahulu terhadap air [ CITATION Wij20 \l 1033 ]. Selain itu dengan adanya proses pengolahan air PDAM sebelum dilakukan pendistribusian, juga dimaksudkan agar dapat diperoleh standar baku mutu air golongan B yang dapat digunakan sebagai salah satu sumber air minum. Adapaun menurut Peraturan Kementrian Kesehatan Nomor 492 tahun 2010, standar baku mutu air minum adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Baku Mutu Kualitas Air Minum No
.
Jenis Parameter Satuan Kadar maksimum yang
diperbolehkan 1. Parameter yang langsung berhubungan dengan kesehatan
a. Parameter Mikrobiologi
1.) E.Coli Jumlah per
100 ml sampel
0
2.) Total Bakteri Koliform Jumlah per 100 ml sampel
0
b. Kimia organik
1.) Arsen mg/l 0,01
2023, Vol 1, No. 1
2.) Fluorida mg/l 1,5
3.) Total Kromium mg/l 0,05
4.) Kadmium mg/l 0,003
5.) Nitrit mg/l 3
6.) Nitrat mg/l 50
7.) Sianida mg/l 0,07
8.) Selenium Mg/l 0,01
2. Parameter yang tidak langsung berhubungan dengan kesehatan a. Parameter fisik
1.) Bau Tidak berbau
2.) Warna TCU 15
3.) Total zat padat terlarut (TDS)
mg/l 5
4.) Kekeruhan NTU 5
5.) Rasa Tidak berasa
6.) Suhu ℃ Suhu udara ± 3
b. Parameter kimiawi
1.) Aluminium mg/l 0,2
2.) Besi mg/l 0,3
3.) Kesadahan mg/l 500
4.) Khlorida mg/l 250
5.) Mangan mg/l 0,4
6.) pH 6,5-8,5
Adapaun menurut Peraturan Kementrian Kesehatan Nomor 32 tahun 2017, standar baku mutu air untuk kebutuhan higiene sanitasi adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Baku Mutu Kualitas Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi
No. Jenis Parameter Satuan Kadar maksimum yang diperbolehkan
A. Parameter Fisik (wajib)
1. Kekeruhan NTU 25
2. Warna TCU 50
3. Zat padat terlarut (Total Dissolved Solid)
mg/l 1000
4. Suhu ℃ Suhu udara ± 3
5. Rasa Tidak berasa
6. Bau Tidak berbau
B. Parameter Biologi (wajib)
1. Total Colifrom CFU/100 ml 50
2. E. Coli CFU/100 ml 0
C. Parameter Kimia Wajib
1. pH 6,5 – 8,5
2. Besi mg/l 1
3. Fluoride mg/l 1,5
4. Keesadahan ( CaCO3¿ mg/l 500
2023, Vol 1, No. 1
5. Mangan mg/l 0,5
6. Nitrat, sebagai N mg/l 10
7. Nitrit, sebagai N mg/l 1
8. Sianida mg/l 0,1
9. Deterjen mg/l 0,05
10. Pestisida total mg/l 0,1
Tambahan
1. Air raksa mg/l 0,001
2. Arsen mg/l 0,05
3. Cadmium mg/l 0,005
4. Kromium (valensi 6) mg/l 0,05
5. Selenium mg/l 0,01
6. Seng mg/l 15
7. Sulfat mg/l 400
8. Timbal mg/l 0,05
9. Benzene mg/l 0,01
10. Zat organik ( KMNO4¿ mg/l 10
Adapaun kemungkinan terburuk yang terjadi jika Sumber air PDAM tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu akan menjadikan air tersebut memiliki kandungan logam Fe yang tinggi dan akan berdampak terhadap kesehatan manusia diantaranya bisa menyebabkan keracunan (muntah), kerusakan usus, penuaan dini hingga kematian mendadak, radang sendi, cacat lahir, gusi berdarah, kanker, sirosis ginjal, sembelit, diabetes, diare, pusing, mudah lelah, hepatitis, hipertensi, insomnia [ CITATION Sup15 \l 1033 ]. Tatkala, keberadaan Fe dalam air juga dapat menimbulkan rasa anyir pada air serta menyebabkan air menjadi berwarna kuning. Tak hanya itu, pertumbuhan bakteri besi pada air secara keseluruhan juga akan menambah kekeruhan dalam air[ CITATION Kur20 \l 1033 ].
Besi dalam air dapat bersumber dari dalam tanah sendiri di samping dapat pula berasal dari sumber lain, diantaranya dari larutnya logam besi, cemaran dari besi atau endapan buangan industri.
Senyawa besi dalam jumlah kecil di dalam tubuh manusia berfungsi sebagai pembentuk sel-sel darah merah, tetapi zat besi yang melebihi dosis yang diperlukan oleh tubuh dapat menimbulkan masalah kesehatan, dan apabila terakumulasi di dalam tubuh, Fe dapat menyebabkan beberapa gangguan kesehatan, misalnya pada manusia menyebabakan iritasi pada kulit dan mata, mengganggu pernafasan dan dalam jangka panjang menyebabkan kanker[ CITATION Kur20 \l 1033 ].
Oleh karena itu diperlukan metode untuk mengurangi kadar besi (Fe) dalam air. Metode tersebut antara lain yakni dengan cara oksidasi, cara koagulasi, cara elektrolit, cara penukar ion, cara filtrasi kontak, dan pengolahan dengan bakteri besi. Cara pengolahan harus disesuaikan dengan bentuk senyawa besi yang terkandung dalam air. Untuk menghilangkan zat besi yang berbentuk senyawa organic dan koloid perlu dilakukan koagulasi dengan membubuhkan bahan koagulan.
Dengan pembubuhan koagulan tersebut, koloid dalam air akan bergabung dan membentuk gumpalan yang kemudian mengendap [CITATION Kur17 \l 1033 ]. Selain itu, media filtrasi dan aerasi juga merupakan media yang umum digunakan dalam penurunan kadar besi dalam air. Filtrasi merupakan proses penyaringan untuk menghilangkan zat padat yang tersuspensi serta menurunkan kadar besi melalui bahan (media) yang berpori. Sedangkan Aerasi adalah suatu proses penambahan udara/oksigen dalam air dengan membawa air dan udara ke dalam kontak yang dekat, dengan cara
2023, Vol 1, No. 1
menyemprotkan air ke udara (air ke dalam udara) atau dengan memberikan gelembung-gelembung halus udara dan membiarkannya naik melalui air (udara ke dalam air) [ CITATION Ras16 \l 1033 ].
Adapun metode yang dapat digunakan untuk menentukan kadar besi dalam air yakni mengguna Analisa spektrofotomeri UV-Vis.
Spektrofotometri UV-Vis adalah salah satu metode analisa logam dengan berdasarkan pengukuran energi cahaya oleh suatu sisitem kimia pada panjang gelombang tertentu [CITATION Day02 \l 1033 ]. Sinar ultraviolet (UV) mempunyai rentang panjang gelombang 200-400 nm serta sinar tampak (visible) mempunyai rentang panajng gelombang 400-800 nm [ CITATION Oth93 \l 1033 ]. Spektrofotometri merupakan salah satu analisis instrumental yang berhubungan dengan segala sesuatu tentang interaksi sinar dengan molekul. Hasil interaksi tersebut dapat menimbulkan satu atau lebih peristiwa seperti pemantulan, pembiasan, penyerapan, fluoresensi, fosforesensi, dan Ionisasi.
Spektrofotometri termasuk dalam suatu metode analisis struktur kimia secara kualitatif dan kuantitatif[ CITATION Ari13 \l 1033 ]. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spectrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk perbedaan absorbansi antara sampel dan blanko ataupun pembanding[ CITATION Has15 \l 1033 ].
Spektrofotometeri UV-Vis biasanya digunakan sebagai analisa kuantitatif daripada analisisa kualitatif. Metode spektrofotometeri UV-Vis telah digunakan untuk analisis kadar Fe , ammonium, dan fosfat. Untuk analisis kadar besi. Beberapa senyawa pengompleks yang dapat digunakan adalah molybdenum selenit, difenilkarbazon, fenantrolin dan Alizarin Red S (ASR).
Dalam review artikel ini, akan dikaji terkait penerapan metode spektrofotometri dalam penentuan kadar besi (Fe) dalam beberapa jenis sampel air[ CITATION Lex21 \l 1033 ].
Pada spektrofotometri UV-Vis ada beberapa istilah yang digunakan terkait dengan molekul, yaitu kromofor, auksokrom, efek batokromik atau pergeseran merah, efek hipokromik atau pergeseran biru, hipsokromik, dan hipokromik[ CITATION Suh17 \l 1033 ]. Kromofor merupakan molekul yang akan mengabsorbsi sinar dengan kuat pada daerah UV-Vis. Auksokrom merupakan gugus fungsi yang mengandung PEB (Pasangan Elektron Bebas) berikatan kovalen tunggal yang mengikat kromofor untuk mengintensifkan absorbasian UV-Vis pada kromofor tersebut, baik panjang gelombang maupun intensitasnya.
Pada umumnya terdapat dua tipe spektrofotometri UV-Vis, yaitu:
1. Single-beam instrument
Gambar 1. Skema Spektrofotometri Single-beam instrument 2023, Vol 1, No. 1
Single-beam instrument dapat digunakan untuk kuantitatif dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang tunggal. Single-beam instrument mempunyai beberapa keuntungan yaitu sederhana, harganya murah, dan mengurangi biaya yang ada merupakan keuntungan yang nyata.
Beberapa instrumen menghasilkan single-beam instrument untuk pengukuran sinar ultra violet dan sinar tampak. Panjang gelombang paling rendah adalah 190 sampai 210 nm dan paling tinggi adalah 800 sampai 1000 nm. Sedangkan untuk double-beam dibuat untuk digunakan pada panjang gelombang 190 sampai 750 nm[ CITATION Suh17 \l 1033 ].
2. Double-beam instrument
Gambar 2. Skema Spektrofotometri Double-beam instrument
Double-beaminstrument mempunyai dua sinar yang dibentuk oleh potongan cermin yang berbentuk V yang disebut pemecah sinar. Sinar pertama melewati larutan blanko dan sinar kedua secara serentak melewati sampel. Sumber sinar polikromatis, untuk sinar UV adalah lampu deuterium, sedangkan sinar visibel atau sinar tampak adalah lampu wolfram. Monokromator pada spektrometer UV-Vis digunakaan lensa prisma dan filter optik. Sel sampel berupa kuvet yang terbuat dari kuarsa atau gelas dengan lebar yang bervariasi. Detektor berupa detektor foto atau detektor panas atau detektor dioda foto, berfungsi menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel dan mengubahnya menjadi arus listrik. Diagram spektrofotometer UV-Vis (Double-beam)[ CITATION Suh17 \l 1033 ].
Adapun berikut ini klasifikasi sinar tampak beserta warna komplementernya dihubungkan dengan Panjang gelombangnya:
Tabel 4. Klasifikasi Sinar Tampak dan Warna Komplementer dengan Panjang Gelombang Panjang Gelombang
(nm)
Warna Warna
Komplementer 400-435 Violet/ungu/lembayun
g
Hijau kekuningan
435-480 Biru Kuning
480-490 Biru kehijauan Jingga
490-500 Hijau kebiruan Merah
500-560 Hijau Ungu kebiruan
560-580 Hijau kekuningan Ungu
580-610 Jingga Biru kehijauan
610-680 Merah Hijau kebiruan
680-800 Ungu kemerahan Hijau
2023, Vol 1, No. 1
Kelebihan dari instrumen Spektrofotometer UV-Vis yaitu dapat digunakan untuk menganalisis banyak zat organik dan anorganik, selektif, mempunyai ketelitian yang tinggi dengan kesalahan relatif sebesar 1%-3%, analisis dapat dilakukan dengan cepat dan tepat, serta dapat digunakan untuk menetapkan kuantitas zat yang sangat kecil. Selain itu, hasil yang diperoleh cukup akurat, dimana angka yang terbaca langsung dicatat oleh detektor dan tercetak dalam bentuk angka digital ataupun grafik yang sudah diregresikan[ CITATION Roh21 \l 1033 ].
3.0 Metode Penelitian 3.1 Variabel Penelitian
Dalam percobaan analisa besi ini menggunakan sampel air PDAM Gubeng Surabaya; PDAM Bubutan Surabaya; PDAM Sidoarjo; PDAM Gayungan Surabaya; PDAM Kenjeran sebagai variabel bebas. Kemudian variabel terikat pada percobaan ini adalah absorbansi dan hasil analisa dari proses spektrofotometri UV-Vis. Dan yang terakhir variabel kontrol dalam percobaan ini adalah ammonium asetat,fenatrolin 0,1%, HCl pekat, FeSO4 dan aquadest.
3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Pada percobaan analisa besi ini diperlukan berbagai peralatan laboratorium untuk segera melakukan penelitian,diantaranya ada pengaduk kaca, gelas beaker, gelas ukur, labu ukur, hot plate, pipet tetes, Kuvet, erlenmenyer, thermometer, corong, dan spektrofotometer UV-Vis. Selanjutnya bahan bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi ammonium asetat, aquadest, FeSO4, HCl pekat, dan fenatrolin 0,1%.
Gambar 3. Spektrofotometer UV-Vis (Sumber: AliExpress.com) 3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Membuat Larutan Reagen
a. Pembuatan Larutan Ammonium Asetat
Ambil ammonium asetat sebanyak 125 mg dan masukkan kedalam labu ukur, lalu ambil aquadest sebanyak 150 ml dengan gelas beaker. Setelah itu, tuangkan aquadest kedalam labu ukur yang berisikan ammonium asetat untuk melarutkan ammonium asetat dan homogenkan keduanya, lalu tambahkan asam asetat (CH3COOH) secara perlahan kedalam labu ukur hingga mencapai batas tera pada labu ukur 500 ml.
b. Pembuatan Fenantrolin 0,1%
Ambil 100 mg fenantrolin 100 mg dan masukkan kedalam labu ukur, lalu ambil ambil aquadest sebanyak 100 ml dengan gelas beaker. Setelah itu, tuangkan aquadest kedalam labu ukur yang berisikan fenantrolin dan homogenkan. Kemudian tuangkan larutan fenantrolin kedalam gelas beaker, lalu panaskan larutan fenantrolin pada hot plate hingga suhu larutan mencapai 80℃.
3.3.2 Tahap Kalibrasi
Siapkan larutan blanko (aquadest), lalu ambil 50 mL aquadest dan masukkan kedalam labu ukur. Lalu tambahkan 2 tetes HCl pekat, 10 mL larutan buffer ammonium asetat dan 2 mL fenantrolin 0,1% pada masing-masing larutan standar. Setelah itu, masukkan larutan blanko kedalam kuvet dan
2023, Vol 1, No. 1
letakkan pada spektrofotometer dengan pengaturan nilai absorbansi sama dengan 0 dan nilai transmitan sama dengan 100 dan pada panjang gelombang 510 nm.
3.3.3 Pembuatan Kurva Standar
Siapkan alat dan bahan, lalu FeSO4 400 ppm sebagai larutan induk. Kemudian encerkan dengan variable 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, 50 ppm masing-masing sebanyak 50 mL. Dari perbandingan konsentrasi dan volume dari larutan induk dan larutan standar didapatkan volume FeSO4 400 ppm untuk membuat larutan FeSO4 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 ppm berturut-turut adalah 1,25 mL; 2,50 mL; 3,75 mL; 5,00 mL; 6,25 mL. Setelah semua larutan standar dihomogenkan hingga berwarna kuning, Setelah itu tambahakan 2 tetes HCl pekat, 10 mL larutan buffer ammonium asetat dan 2 mL fenantrolin 0,1% pada masing-masing larutan standar. Lalu masukkan larutan standar kedalam kuvet dan pasang pada spektrofotometer dengan pengaturan nilai absorbansi sama dengan 0 dan nilai transmitan sama dengan 100 dan pada panjang gelombang 510 nm. Kemudian ukur dan catat nilai absorbansi masing-masing larutan standar.
3.3.4 Penentuan Konsentrasi Fe2+ Pada Sampel
Ambil air PDAM sebanyak 50 ml, lalu tambahkan 2 tetes HCl pekat,10 ml larutan buffer ammonium asetat, 2 ml fenatrolin 0,1 % pada masing-masing larutan sampel. Lalu masukkan larutan sampel kedalam kuvet dan pasang pada spektrofotometer dengan pengaturan nilai absorbansi sama dengan 0 dan nilai transmitan sama dengan 100 dan pada panjang gelombang 510 nm. Kemudian ukur dan catat nilai absorbansi masing-masing larutan.
4.0 Hasil dan Pembahasan
Tujuan dari percobaan analisa kadar besi dengan menggunakan metode spektrofotometri adalah untuk mengetahui cara menentukan nilai absorbansi dan konsentrasi besi ( 2+¿
Fe¿ ) pada air PDAM dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dan membandingkan hasil analisa terhadap Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 429/MENKES/PER/2010. Spektrofotometer merupakan salah satu alat yang digunakan untuk analisis laboratorium yang terdiri dari dua bagian yaitu spektrometer dan fotometer. Spectrometer merupakan alat yang menghasilkan sinar dari spektrum dengan panajng gelombang tertentu serta fotometer yaitu alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorbsi [ CITATION Nov20 \l 1033 ]. Spektrofotometri UV-Vis adalah salah satu metode analisa logam dengan berdasarkan pengukuran energi cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu [CITATION Day02 \l 1033 ]. Sinar ultraviolet (UV) mempunyai rentang panjang gelombang 200-400 nm serta sinar tampak (visible) mempunyai rentang panjang gelombang 400-800 nm [ CITATION Oth93 \l 1033 ]. Dimana warna sinar tampak dapat dihubungkan dengan panjang gelombangnya seperti pada Tabel 4. [ CITATION Sou22 \l 1033 ].
Prinsip kerja spektrofotometri UV-Vis adalah berdasarkan penyerapan cahaya atau energi radiasi dari suatu larutan. [ CITATION Leo22 \l 1033 ]. Jumlah cahaya yang diabsorbsi atau ditransmisikan oleh molekul-molekul didalam larutan bergantung pada sampel. Karena tiap sampel akan menyerap cahaya pada gelombang tertentu. Oleh karena itu, perlu dilakukan kalibrasi agar pengukuran yang dilakukan bisa lebih teliti. Spektrum UV-Vis sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif konsentrasi dari analit didalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer [ CITATION Leo22 \l 1033 ].
Percobaan diawali dengan tahap preparasi larutan reagen yaitu larutan buffer ammonium asetat dan fenantrolin 0,1%. Lalu dilanjutkan dengan tahap kalibrasi spektrofotometri dengan menggunakan aquadest sebagai blanko. Kalibrasi dilakukan untuk menentukan perbedaan (deviasi) antara pembacaan alat ukur dengan bahan ukur (yang digunakan sebagai standar) dengan (taksiran) nilai yang benar [ CITATION Ira \l 1033 ]. Tujuan kalibrasi spektrofotometer adalah untuk mengetahui nilai perbedaan dari pembacaan alat dengan membandingkan nilai standar, sehingga dapat menjamin
2023, Vol 1, No. 1
data yang benar dan valid [ CITATION Asr22 \l 1033 ]. Setelah itu, dilanjutkan dengan preparasi sampel. Sampel yang digunakan air PDAM Gubeng; air PDAM Gayungan; dan air PDAM Sidoarjo;
air PDAM Kenjeran; dan air PDAM Bubutan.
Kemudian dilanjutkan dengan tahap pembuatan kurva standar dari larutan FeSO4 variable konsentrasi 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 ppm sebanyak 50 mL dengan pengenceran dari larutan induk FeSO4 400 ppm. Setelah semua larutan standar dihomogenkan hingga berwarna kuning, masing-masing larutan standar ditambahikan 2 tetes HCl pekat. Fungsi penambahan HCl pekat adalah untuk mereduksi Fe3+ menjadi Fe2+ untuk memperoleh pengukuran yang akurat dengan memastikan semua ion Fe yang akan dianalisa dalam bentuk ion Fe2+. Besi dalam keadaan Fe2+ akan lebih stabil dibandingkan besi Fe3+ [ CITATION Ari \l 1033 ]. Sehingga terjadi reaksi yang tidak memberikan perubahan warna, dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
Lalu ditambahkan 10 mL larutan buffer ammonium asetat dengan tujuan untuk menjaga pH larutan.
Karena reaksi antara 2+¿
Fe¿ dan fenantrolin dapat terjadi pada rentang pH 2 samapai 9, namun pH optimum untuk pembentukan kompleks pada pH 4,5 yang bisa dicapai dengan menggunakan larutan buffer [CITATION Kes \l 1033 ]. Apabila jika pH terlalu basa akan terbentuk endapan Fe (OH)2
sedangkan jika pH terlalu asam tidak akan terbentuk komplek Fe (II) [ CITATION Day02 \l 1033 ].
Sehingga pada reaksi ini terjadi reaksi yang tidak memberikan perubahan warna, dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
Terakhir ditambahakan 2 mL fenantrolin 0,1 %, karena dengan menggunakan reagen fenantrolin kompleks besi (II) fenantrolin dapat membentuk kompleks dengan warna yang stabil dalam waktu yang lama [CITATION Mor \l 1033 ]. Penambahan fenantrolin bertujuan untuk pembentukan senyawa kompleks karena fenantrolin merupakan ligan dalam pembentukan komplek dimana tiga molekul fenantrolin akan bergabung dengan satu molekul Fe2+ membentuk senyawa Fe (II) fenantrolin sehingga larutan dapat diukur oleh spektrofotometer UV-Vis [CITATION Kha \l 1033 ].
Sehingga terjadi reaksi yang memeberikan perubahan warna dari kuning menjadi orange-merah, sesuai dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
Warna orange-merah yang dihasilkan memiliki warna komplementer hijau-biru. Warna komplementer terbentuk ketika cahaya putih yang berisi seluruh spektrum panjang gelombang melewati suatu medium larutan kimia berwarna yang tembus cahaya bagi Panjang-panjang gelombang tertentu tetapimenyerap panjang-panjang gelombang lain yang berakibat medium tersebut akaan tampak berwarna bagi pengamat. Kemudian masing-masing larutan dimasukkan kedalam kuvet dan dipasang pada sapektrofotometer untuk mengukur nilai absorbansinya. Spektrofotometer diatur dengan nilai absorbansi sama dengan 0, transmitan sama dengan 100 dan panjang Gelombang 510 nm. Panjang gelombang yang digunakan pada percobaan penentuan kadar besi ini adalah 510 nm, karena pada panjang gelombang 510 nm ion besi ( 2+¿
Fe¿ ) lebih banyak menyerap cahaya monokrimatis yang dipancarkan oleh sumber sinar [ CITATION Kis23 \l 1033 ]. Setelah didapatkan
2023, Vol 1, No. 1
FeSO4+2HCl(p)→ FeCl2+H2SO4 (1)
CH COO¿
¿3¿ Fe¿
FeCl2+2CH3COONH4→¿
(2)
C12H8N2 Fe¿ 2+¿
2+¿+3C12H8N2→[¿¿3]¿ Fe¿
(3)
hasil nilai bsorbansi dari masing masing larutan standar yang terdapat pada Tabel 5. selanjutnya dibuat Grafik 1. sebagai kurva standar yang menyatakan hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi pada larutan standar FeSO4 .
Kurva standar atau juga disebut kurva kalibrasi merupakan hubungan antara respons instrument dan sejumlah (konsentrasi) tertentu dari analit yang sudah diketahui, yang mana dari kurva kalibrasi tersebut didapatkan persamaan garis (Kurva regresi Linear) yang menyatakan hubungan anatara konsentrasi dan absorbansi [ CITATION deL22 \l 1033 ]. Fungsi dari kurva standar adalah untuk menentukan konsentrasi suatu zat Dalam suatu sampel yang tidak diketahui dengan membandingkan yang tidak diketahui kedalam seperangkat sampl standar dari konsentrasi yang telah diketahui [ CITATION Nis20 \l 1033 ].
Tahapan prosedur yang terakhir adalah analisa kadar Fe2+ pada sampel air PDAM. Sebanyak 50 mL air PDAM ditambahkan 2 tetes HCl pekat, 10 mL ammonium asetat dan 2 mL fenantrolin 0,1 %.
Setelah itu larutan sampel dimasukkan kedalam kuvet dan dipasang pada spektrofotometer dengan pengaturan nilai absorbansi sama dengan 0, transmitan sama dengan 100 dan panjang Gelombang 510 nm. Fungsi penambahan HCl pekat adalah untuk mereduksi Fe3+ menjadi Fe2+ untuk memperoleh pengukuran yang akurat dengan memastikan semua ion Fe yang akan dianalisa dalam bentuk ion Fe2+. Ammonium asetat ditambahkan sebagai larutan buffer yang berperan menjaga pH larutan agar Fe2+
dan fenantrolin dapat bereaksi dengan sempurna, selain itu, jika pH terlalu basa akan terbentuk endapan Fe (OH)2 sedangkan jika pH terlalu asam tidak akan terbentuk komplek Fe (II). Penambahan fenantrolin bertujuan untuk pembentukan senyawa kompleks karena fenantrolin merupakan ligan dalam pembentukan komplek dimana tiga molekul fenantrolin akan bergabung dengan satu molekul Fe2+ membentuk senyawa Fe (II) fenantrolin sehingga larutan dapat diukur oleh spektrofotometer UV- Vis [CITATION Kha \l 1033 ]. Panjang gelombang yang digunakan pada percobaan penentuan kadar besi ini adalah 510 nm, karena pada panjang gelombang 510 nm ion besi ( 2+¿
Fe¿ ) lebih banyak menyerap cahaya monokrimatis yang dipancarkan oleh sumber sinar [ CITATION Kis23 \l 1033 ].
Tabel 5. Data Hasil Uji Larutan Standar dengan Spektrofotometer UV-Vis Konsentrasi
(ppm)
Absobansi (nm)
10 0,157
20 0,215
30 0,287
40 0,433
50 0,512
2023, Vol 1, No. 1
10 20 30 40 50
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
0.16
0.22
0.29
0.43
0.51 f(x) = 0.09 x + 0.04
R² = 0.98
Kurva Standart Larutan Fe2SO4
FeSO4 Linear (FeSO4) Linear (FeSO4) Linear (FeSO4)
Konsentrasi (ppm)
Absorbansi (nm)
Grafik 1. Hubungan Absorbansi dengan Konsentrasi pada Larutan Standar FeSO4
Berdasarkan Grafik 1. diperoleh nilai R (linearitas) sebesar 0,9752 dengan persamaan regresi linear y = 0,0928x + 0,0424. Dengan y adalah nilai absorbansi dan x adalah nilai konsentrasi.
Persamaan regresi linear diperoleh dari nilai slope 0,0928 dan intersep 0,0424 sehingga konsentrasi Fe dalam sampel dapat dicari dengan cara memasukkan absorbansi yang terukur kedalam persamaan regresi linear dari kurva kalibrasi yang diperoleh. Kelayakann suatu kurva kalibrasi diuji dengan uji kelinearan kurva. Nilai R menyatakan bahwa terdapat korelasi yang linear antara konsentrasi dan absorbansi, dan hampir semua titik terletak pada satu garis lurus dengan gradien yang positif [ CITATION Nad20 \l 1033 ]. Nilai R2 yang baik berada pada kisaran 0,9 ≤ R2≤1 , semakin dekat nilai korelasi dengan 1, baik positif maupun negatif makan semakin kuat korelasi yang terjadi [ CITATION Kar221 \l 1033 ].
Tabel 5. Data Hasil Uji Sampel dengan Spektrofotometr UV-Vis N
o Sampel Absorbans
i
Konsentrasi
(ppm) Keterangan
1 Air PDAM Gubeng 0,045 0,028017241 Layak Konsumsi
2 Air PDAM
Gayungan 0,05 0,081896552 Layak Konsumsi
3 Air PDAM Sidoarjo 0,052 0,103448276 Layak Konsumsi
4 Air PDAM Kenjeran 0,08 0,405172414
Tidak Layak
Konsumsi
5 Air PDAM Bubutan 0,2 1,698275862
Tidak Layak
Konsumsi
Berdasarkan Tabel 5. didapatkan kadar Fe2+ pada sampel air PDAM Gubeng; air PDAM Gayungan; dan air PDAM Sidoarjo; air PDAM Kenjeran; dan air PDAM Bubutan secara berturut- turut adalah 0,028 ppm; 0,081 ppm; 0,103 ppm; 0,40 ppm; 0,405 ppm; dan 1,698 ppm. Berdasarkan PERMENKES No. 492 Tahun 2010 terdapat air PDAM Gubeng; air PDAM Gayungan; dan air PDAM Sidoarjo dikatakan layak untuk dikonsumsi dan digunakan sebagai baku mutu air minum yaitu 0,3 mg/L. Untuk air PDAM Gubeng; air PDAM Gayungan; dan air PDAM Sidoarjo; air PDAM Kenjeran dikatakan memenuhi kualitas sebagai air untuk kebutuhan higiene sanitasi menurut PERMENKES No. 32 Tahun 2017 yaitu 1 mg/L. sedangkan air PDAM Bubutan tidak memenuhi standar baku mutu untuk kebutuhan air minum dan air untuk kebutuhan higiene sanitasi. Tingginya kadar Fe dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya karena air baku untuk air PDAM daerah Surabaya berasal dari sungai Kalimas dan sungai Jagir yang sudah tercemar menjadi tempat pembuangan limbah, selain itu juga dalam proses pengolahan terjadi kontak antara air dengan alat berbahan besi yang berkarat. Lalu konsentrasi besi yang tinggi dalam air dapat dirasakan dan dapat menodai kain dan perkakas dapur, dimana rasa dan bau logam yang amis pada air, disebabkan karena bakteri yang mengalami degradasi, besi dalam konsentrasi yang lebih besar, akan memberikan suatu rasa pada air yang menyebabkan rasa metalik, menimbulkan warna kecoklat-coklatan pada pakaian putih, meninggalkan noda pada bak-bak kamar mandi dan peralatan lainnya [ CITATION Mis19 \l 1033 ]. Apabila Kadar besi dikonsumsi melebihi batas maksimum yang telah ditetapkan pemerintah dengan terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama, maka dapat mengakibatkan sirosis pada hati, hemochromatosis, diare, koma, irritability dan sakit perut serta Fe yang terakumulasi didalam alveolus dapat mengakibatkan berkurangnya fungsi paru-paru sehingga menyebabkan kematian [ CITATION Lex21 \l 1033 ]. Selain itu, apabila kadar besi dalam air melebihi 10 mg/L maka air akan berbau seperti telur busuk [ CITATION Feb15 \l 1033 ].
2023, Vol 1, No. 1
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5 0.55 0
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55
10 20
30
40
50 f(x) = 105.08 x − 3.71
R² = 0.98
Hubungan Konsentrasi dengan Absorbansi pada Larutan Standar Fe2SO4 dan Sampel Air PDAM
Lar.Standar Linear (Lar.Standar) Gubeng Gayungan
Sidoarjo KenjeranAbsorbansi (nm) Bubutan
Konsentrasi (ppm)
Grafik 2. Hubungan Konsentrasi dengan Absorbansi pada Laritan Standar dan Sampel Air PDAM Berdasarkan Grafik 2. diperoleh diperoleh nilai R (linearitas) sebesar 0,9752 dan kurva kalibrasi larutan standar FeSO4 menunjukkan persamaan regresi linear yang menyatakan hubungan antara konsentrasi dan absorbansi larutan standar adalah sebagai berikut: y = 0,0928x + 0,0424.
Perolehan kadar Fe2+ pada sampel air PDAM Gubeng; air PDAM Gayungan; dan air PDAM Sidoarjo;
air PDAM Kenjeran; dan air PDAM Bubutan secara berturut-turut adalah 0,028 ppm; 0,081 ppm;
0,103 ppm; 0,40 ppm; 0,405 ppm; dan 1,698 ppm dimasukkan kedalam grafik. Menurut Rahman dan Saleh terdapat beberapa treatment yang dilakukan untuk mengurangi kadar besi pada air, yaitu aerasi, sedimentasi dan filtrasi. Yang pertama adalah aerasi, aerasi merupakan treatment yang dilakukan dengan memasukkan udara kedalam air, udara yang masuk kedalam air akan mengubah Fe menjadi Fe(OH)3 yang tidak larut dalam air kemudian barulah diendapkan ke dasar air. yang kedua sedimentasi merupakan proses pengendapan partikel-partikel padat yang tersuspensi dalam cairan karena pengaruhh gravitasi (gaya berat secara alami). Yang terakhir adalah filtrasi air yang mana menyaring partikel-partikel dan juga kotoran organik maupun anorganik yang terdapat dalam air [ CITATION Ras16 \l 1033 ].
5.0 Kesimpulan
Berdasarkan data dari percobaan yang telah dilakukan dari analisa kadar Fe pada lima sampel air PDAM yang berbeda dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis, dapat disimpulkan bahwa:
1. Kadar besi pada sampel air PDAM Gubeng; air PDAM Gayungan; dan air PDAM Sidoarjo;
air PDAM Kenjeran; dan air PDAM Bubutan secara berturut-turut adalah 0,028 ppm; 0,081 ppm; 0,103 ppm; 0,405 ppm; dan 1,698 ppm.
2. Hasil kadar besi yang didapat pada sampel air PDAM Gubeng; air PDAM Gayungan; dan air PDAM Sidoarjo sesuai dengan PERMENKES No. 492 Tahun 2010. Untuk air PDAM Gubeng; air PDAM Gayungan; air PDAM Sidoarjo; dan air PDAM Kenjeran dikatakan memenuhi kualitas sebagai air untuk kebutuhan higiene sanitasi menurut PERMENKES No.
32 Tahun 2017. Sedangkan air PDAM Bubutan tidak memenuhi ambang batas kadar besi untuk kebutuhan air minum dan higiene sanitasi yaitu 0,3 mg/L dan 1 mg/L. Hal ini
2023, Vol 1, No. 1
dikarenakan air baku untuk air PDAM daerah Surabaya berasal dari Kalimas dan sungai Jagir yang sudah tercemar menjadi tempat pembuangan limbah dan juga dalam proses pengolahan terjadi kontak antara air dengan alat berbahan besi yang berkarat.
2023, Vol 1, No. 1
Daftar Pustaka
Adhani, R., & Husaini. (2017). Logam Berat Sekitar Manusia (1st Ed.). Banjarmasin: Lambung Mangkurat University Press.
Ariwanto , B. (2013). Pendayagunaan Sensor Pergeseran Serat Optik Untuk Pendeteksi Sinyal Fotoakustik Pada Bahan Cairan Ai(Oh)3. Jurnal Fakultas Teknik , I(1), 5-6.
Ariyanti, D., & Sugiarso, D. (2018). Optimalisasi Ph Larutan Penyangga Dan Pereduksi K2c2o4 Untuk Penentuan Kadar Fe(Ii)- 1,10-Fenantrolin Secaraspektrofotometri Sinar Tampak. Akta Kimia Indonesia, 3(2), 190-202.
Asrori , M., Rezika, W. Y., Salim, A. T., Indarto, B., & Nudiansyah, R. T. (2022, Oktober 30). Kalibrasi Alat Ukur Temperatur Dan Kelembapan Kereta Rel Diesel Elektrik. Jurnal Teknik Terapan, 1(2), 36-41.
Day, R. A., & Underwood, A. L. (1999). Analisis Kimia Kuantitatif (Edisi Ke Vi Ed.). (H. Wibi, Penyunt., & L.
Sopyan, Penerj.) Jakarta: Erlangga.
Delima, M., Sinay, H., & Kurnia, T. S. (2022, Oktober). Kadar Tanin Tepung Buah Lindur (Bruguiera Gymnorrhiza)Setelah Perlakuan Lama Perendaman. Biopendix Jurnal Biologi Pendidikan Dan Terapan, 9(1), 125-131.
Febriana, L., & Ayuna, A. (2015). Studi Penurunan Kadar Besi (Fe) Dan Mangan (Mn) Dalam Air Tanah Menggunakan Saringan Keramik. Jurnal Teknologi, 7(1), 35-44.
Gandjar, I. G., & Rohman, A. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hasibuan , E. (2015). Pengenalan Spektrofotometri Pada Mahasiswa . Jurnal Fakultas Kedokteran Usu , I(1), 4.
Irawan, A. (2019, Februari 19). Kalibrasi Spektrofotometer Sebagai Penjaminan Mutu Hasil Pengukuran Dalam Kegiatan Penelitian Dan Pengujian. Indonesian Journal Of Labolatory, 1(2), 1-9.
Karlina, A. C., Supriatna, A. M., & Amalia, V. (2022). Analisis Kadar Nitrit (No2–N) Pada Sampel Air Permukaan Dan Air Tanah Di Wilayah Kabupaten Cilacap Menggunakan Metode Spektrofotometer Uv-Vis. Prosiding Seminar Nasional Kimia 2021. 7, Hal. 1-7. Bandung: Gunung Djati Conference Series.
Kencanawati , M., & Mustakim. (2017). Analisis Pengolahan Air Bersih Pada Wtp Pdam Prapatan Kota Balikpapan. Jurnal Transukma, Ii(02), 105-106.
Kesawa, A. A. (2016). Pengaruh Penambahan Ion Sb3+ Dalam Analisis Besi Dengan Aagen Pengompleks 1,10- Fenantrolin Pada Ph 4,5 Menggunakan Metode Spectrofotometri Uv-Vis. Jurnal Sains Dan Seni, 5, 2337-3520.
Khaira, K. (2013, Juni). Pennetuan Kadar Besi (Fe) Air Sumur Dan Air Pdam Dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri. Jurnal Saintek, 5(1), 17-23.
Kishioka, S. (2023, Januari 1). Higher-Order Derivative Electronic Absorption Spectral Measurements Of Tris(1,10-Phenanthroline) Iron(Ii) Complex In An Optically-Transparent Thin-Layer Spectroelectrochemical Cell. Journal Of Electroanalitycal Chemistry, 928, 1-6.
Kurniawan , P., Kasmiyatun , M., & Soebiyono. (2020). Reduksi Kandungan Logam Berat Fe Pada Air Sungai Jetis Salatiga Secara Adsorbsi Menggunakan Karbon Aktif . Jurnal Teknik Kimia Universitas 17 Agustus 1945 Semarang , I(1), 12-13.
Kurniawati, S. D., Santjoko, H., & Husein , A. (2017). Pasir Vulkanik Sebagai Media Filtrasi Dalam Pengolahan Air Bersih Sederhana Untuk Menurunkan Kandungan Besi (Fe), Mangan (Mn) Dan Kekeruhan Air Sumur Gali. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 9(1), 20-25.
Leo, R., & Daulay, A. S. (2022, April). Penentuan Kadar Vitamin C Pada Minuman Bervitamin Yang Disimpan Pada Berbagai Waktu Dengan Metode Spektrofotometri Uv. Journal Of Health And Medical Science, 1(2), 105-115.
Lexia , N., & Ngibad , K. (2021). Aplikasi Spektrofotometri Terhadap Penentuan Kadar Besi Secara Kuantitatif Dalam Sampel Air . Jurnal Pijar Mipa , Xvi(2), 242-246.
Misa, A., Duka, R. S., Layuk, S., & Kawatu, Y. T. (2019, April). Hubungan Kedalaman Sumur Bor Dengan Kadar Besi (Fe) Dan Mangan (Mn) Di Kelurhan Malendeng Kecamatan Paal 2 Kota Manado. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 9(1), 62-68.
Morti, T., Destiarti, L., & Idiawati, N. (2018). Penentuan Kadar Besi (Fe) Pada Air Gambut Menggunakan Spektrofotometri Ultra Violet-Visible Dengan Perbandingan Pengompleks Fenantrolin Dan Alizarin Red S. Jurnal Kimia Khatuistiwa, 109-117.
Nadhila, H., & Nuzlia, C. (2020). Analisi Kadar Nitrit Pada Air Bersih Dengan Meetode Spektrofotometri Uv- Vis. Amina, 1(3), 132-138.
Nisah, K., & Nadhifa, H. (2020). Analisis Kadar Logam Fe Dan Mn Pada Air Minnum Dalam Kemasan (Amdk) Dengan Metode Spektrofotometri Serapan Atom. Amina, 2(1), 6-12.
Noviyanto, F. (2020). Penetapan Kadar Ketoprofen Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis. Bandung: Media Sains Bandung. Dipetik Maret 13, 2023
Othmer, K. (1993). Encyclopedia Of Chemical Technology (Fourth Edition Ed., Vol. 10). New York: John Wiley & Sons.
2023, Vol 1, No. 1
Rasman, & Saleh, M. (2016). Penurunan Kadar Besi (Fe) Dengan Sistem Aerasi Dan Filtrasi Pada Air Sumur Gali (Eksperimen). Higiene, Jurnal Kesehatan Lingkungan, 2(3), 159-167.
Rohmah , S. A., Muadifah , A., & Martha , R. D. (2021). Validasi Metode Penetapan Kadar Pengawet Natrium Benzoat Pada Sari Kedelai Di Beberapa Kecamatan Di Kabupaten Tulungagung Menggunakan Spektrofotometri . Jurnal Sains Dan Kesehatan , Iii(2), 121-122.
Sasongko , E. B., Widyastuti , E., & Priyono, R. E. (2014). Kajian Kualitas Air Dan Penggunaan Sumur Gali Oleh Masyarakat Di Sekitar Sungai Kaliyasa Kabupaten Cilacap. Jurnal Ilmu Lingkungan , Xii(2), 72- 82.
South, E. J. (2022). Spektrofotometri Dan Kromatografi. (Andriyanto, Penyunt.) Klaten, Jawa Tengah:
Lakeisha.
Suhartati , T. (2017). Dasar Dasar Spektrofotometri Uv-Vis Dan Spektrofotometri Massa Untuk Penentuan Struktur Senyawa Organik (1 Ed.). Bandar Lampung : Aura .
Supriyantini, E., & Endrawati , H. (2015). Kandungan Logam Berat Besi (Fe) Pada Air, Sediman, Dan Kerang Hijau (Perna Viridis) Di Perairan Tanjung Emas Semarang. Jurnal Kelautan Tropis , Xviii(1), 38-45.
Sutrisno, C. T. (2006). Sanropi Sutrisno Totok, Dkk, 2006.Teknologi Penyedian Air Bersih. Jakarta : Rineka Cipta. (6 Ed.). Jakarta: Rineka Cipta.
Wijayanti , J. A., Anita, D., Dewi, E., & Yuliati, S. (2020). Produksi Air Minum Dari Air Pdam Dengan Cara Dimasak Dan Menggunakan Metode Reverse Osmosis. Jurnal Teknik Kimia , I(01), 55-61.
Zulhilmi , Efendy , I., Syamsul , D., & Idawati . (2019). Faktor Yang Berhubungan Tingkat Konsumsi Air Bersih Pada Rumah Tangga Di Kecamatan Peudada Kabupaten Bireun. Jurnal Biology Education, Vii(2), 110-111.
2023, Vol 1, No. 1
Apendiks
Pengenceran Larutan standar FeSO4 400 ppm menjadi 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 ppm
Volume Standar sebanyak 50 mL 1. 10 ppm
C1×V1=C2× V2 400×V1=10×50 V1=500
400 V1=1,25mL 2. 20 ppm
C1×V1=C2× V2 400×V1=20×50 V1=1000
400 V1=2,5mL 3. 30 ppm
C1×V1=C2× V2 400×V1=30×50 V1=1500
400 V1=3,75mL 4. 40 ppm
C1×V1=C2× V2 400×V1=40×50 V1=2000
400 V1=5mL 5. 50 ppm
C1×V1=C2× V2 400×V1=50×50 V1=2500
400 V1=6,25mL
Tabel Absorbansi Larutan Standar Konsentras
i (ppm)
Absorbans i (nm)
10 0,157
20 0,215
30 0,287
40 0,433
50 0,512
Tabel Absorbansi Larutan Sampel 2023, Vol 1, No. 1
Sampel Air PDAM
Absorbans i (nm)
Gubeng 0,045
Gayunga
n 0,05
Sidoarjo 0,052 Kenjeran 0,08
Bubutan 0,2
2023, Vol 1, No. 1
2023, Vol 1, No. 1
Lembar Revisi
Praktikum : Analisa Besi dengan Spektrofotometri UV-Vis Kelompok : 1B
Tanggal Revisi
Tanggal Kembali
Keterangan Tanda
Tangan 16 Maret 2023 16 Maret 2023 Pembagian air sudah dibahas dibagian
awal jadi tidak perlu diulang Penomoran tabel, gambat dan grafik dibenarkan lagi
Bahasa asing di italic Header diperhatikan lagi
Prosedur di pembahasan singkat saja Keterangan grafik/gambar dibawah dan tabel diatas
Font dan format grafik disamakan 21 Maret 2023 22 Maret 2023 Judul di bold
Abstrak max 250
Axis grafik lebih diperbesar rangenya Sampelnya no line dan tidak perlu ada angkanya
23 Maret 2023 24 Maret 2023 Font abstrak 10 Font 11
Format tabel disamain 24 Maret 2023 24 Maret 2023 ACC
2023, Vol 1, No. 1