• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA FAKTOR RESIKO KANKER SERVIKS DIKAITKAN DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "ANALISA FAKTOR RESIKO KANKER SERVIKS DIKAITKAN DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

Kanker leher rahim (cervical cancer) adalah kanker yang terjadi pada leher rahim, suatu daerah pada alat kelamin wanita yang merupakan pintu masuk rahim, yang terletak di antara rahim (rahim) dan lubang kelamin (vagina) (Purwoastuti dan Walyani 2015). Kanker serviks adalah keganasan sel-sel yang timbul pada leher rahim (Kemenkes, 2017) Kanker leher rahim dapat berasal dari selaput lendir pada permukaan leher rahim, yang tumbuh secara lokal dan dapat menyebar ke rahim, jaringan paraservikal dan organ panggul ( Bermudez), Bhatla dan Leung, 2015 ).

Tabel 1.1. Rencana Target Capaian Luaran
Tabel 1.1. Rencana Target Capaian Luaran

Faktor Resiko Kanker Serviks

Namun teori tersebut tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Nugrahaningtyas, 2014) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara obesitas dengan kanker serviks. Wanita yang pernah mengalami infeksi menular seksual juga memiliki risiko tinggi terkena kanker serviks.

Tanda dan Gejala

Pada penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningsih (2015), diketahui bahwa sebagian besar responden yang memiliki paritas < 3 kali berisiko mengalami lesi prakanker serviks 24.930 kali lebih besar kemungkinannya untuk mengalami lesi prakanker serviks dibandingkan dengan responden yang paritas >3 kal. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara paritas dengan kejadian lesi prakanker serviks (p=0,05).

Stadium Kanker Serviks

Pada stadium III, kanker sudah menyebar ke sepertiga bagian bawah vagina, namun belum sampai ke dinding panggul. 1A2 Lesi telah menembus membran dasar * 3 mm tetapi < 5 mm dengan diameter permukaan tumor < 7 mm.

Gambar 2.1. Stadium Kanker Serviks
Gambar 2.1. Stadium Kanker Serviks

Pencegahan Kanker Serviks

Perilaku manusia dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: perilaku tertutup merupakan respon terhadap suatu stimulus yang tidak dapat diamati dengan jelas oleh orang lain dan perilaku terbuka merupakan respon terhadap stimulus berupa perbuatan atau praktek yang dapat diamati oleh orang lain (Notoatmodjo , 2015). Perilaku pencegahan kanker serviks adalah kegiatan atau kegiatan dalam upaya pencegahan kanker serviks. Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, dimana faktor opini dan emosi yang terlibat sudah terlibat.

Menurut Newcomb dalam Notoatmodjo, 2014 menyatakan bahwa sikap adalah kemauan atau kemauan untuk bertindak daripada pelaksanaan motif-motif tertentu. Sikap dapat diwujudkan dalam tindakan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti adanya sarana atau prasarana Mencegah kanker serviks dengan mengendalikan faktor risiko (Mazarico et al., 2014; Skrining dengan tes Pap jika hasil tes sebelumnya mengandung rendah - Lesi prakanker stadium 1 atau lesi prakanker derajat tinggi dengan tepi potongan bebas tumor harus dipantau setiap 1 tahun.

Pengobatan Kanker Serviks

Karena kanker dapat kambuh, disarankan untuk melakukan pemeriksaan ulang dan tes Pap setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Histerektomi adalah prosedur pembedahan yang bertujuan mengangkat rahim dan leher rahim (total) atau salah satunya (subtotal). Tujuan radioterapi adalah untuk menghancurkan sel-sel tumor di leher rahim dan menghancurkan kelenjar getah bening parametrium dan panggul.

Pengobatan kuratif adalah membunuh sel kanker dan sel yang telah menyebar ke lingkungan atau telah menyebar ke kelenjar getah bening panggul, sekaligus memenuhi kebutuhan jaringan sekitar yang sehat seperti rektum, kandung kemih, usus halus dan ureter. Jika sel kanker sudah masuk ke dalam rongga panggul, radioterapi hanya bersifat paliatif dan diberikan secara selektif pada stadium IV A. Jika kanker sudah meluas dan pada stadium akhir, digunakan kemoterapi sebagai paliatif untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik.

Kualitas Hidup

  • Pengertian Kualitas Hidup
  • Kualitas Hidup Terkait Kesehatan
  • Kualitas Hidup pada pasien kanker serviks
  • Kerangka Teori

Pandangan kualitas hidup yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah definisi menurut Cella & Tulsky (dalam Wiguna, 2011) yang mendefinisikan kualitas hidup sebagai derajat kepuasan pasien mengenai keberfungsian dirinya saat ini dibandingkan dengan idealnya. . kondisi atau harapan. Konsep kualitas hidup yang dinamis menunjukkan bahwa pengukuran kualitas hidup harus dilakukan secara terus menerus, karena kualitas hidup seseorang selalu berubah (Wiguna., 2011). Berdasarkan konsep kualitas hidup yang multidimensi dan subyektif, kualitas hidup didefinisikan sebagai gambaran jarak antara tingkat fungsional aktual pasien dengan tingkat idealnya.

Namun, definisi kualitas hidup seringkali berbeda bagi setiap orang, karena banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti keuangan, agama atau bahkan kesehatan. Oleh karena itu, istilah kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan justru digunakan dalam bidang kesehatan dimana kegiatan pencegahan penyakit digunakan sebagai aspek untuk menggambarkan masalah kesehatan (fayers & machin, 2007). Seseorang yang sehat akan memiliki kualitas hidup yang baik, dan kualitas hidup yang baik dengan sendirinya akan menunjang kesehatan. Jenis penelitian ini menggunakan mix method yaitu desain deskriptif analitis kuantitatif dan desain fenomenologi kualitatif yang mempelajari dan menganalisis hubungan faktor risiko kanker serviks dengan kualitas hidup di RSIA Bunda Jakarta.

Kerangka Konsep

Sampel

Hastono (2008) menyatakan bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang nilai/sifatnya akan diukur dan nantinya digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi tersebut. Sedangkan menurut Notoatmodjo (2010), sampel adalah bagian dari keseluruhan subjek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, artinya pengambilan sampel didasarkan atas pertimbangan tertentu dari peneliti itu sendiri berdasarkan ciri atau karakteristik populasi yang telah diketahui sebelumnya (Nursalam, 2011).

Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat

Variabel Penelitian

Instrumen Penelitian

Lembar observasi obesitas, menggunakan lembar observasi untuk mencatat hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan. Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner mengenai karakteristik responden (usia, jenis kelamin, profesi), data lama tinggal dan instrumen kualitas hidup dengan menggunakan kuesioner SSQOL (Stroke Specific Quality Of Life) yang terdiri dari 36 pernyataan yang memuat aspek-aspek kualitas hidup yaitu dimensi fisik, dimensi psikis, dimensi sosial, dimensi peran dan dimensi spiritual. Kuesioner ini terdiri dari dua bagian yang berasal dari kualitas hidup umum dan kesehatan umum.

Prosedur Pengumpulan Data

Tehnik Pengolahan Data

Peneliti mengecek kembali data yang telah dimasukkan, setelah dipastikan tidak ada kesalahan maka dilakukan tahap analisis data. Tabulasi ini dilakukan dengan memasukkan data dari kuesioner ke dalam kerangka tabel yang telah disiapkan, tanpa melalui proses perantara lainnya. Tabulasi langsung biasanya dilakukan dengan cara mengelompokkan kuesioner sesuai dengan jawaban yang diberikan, kemudian menghitung jumlahnya, kemudian memasukkannya ke dalam tabel yang telah disiapkan kemudian mengolahnya dengan menggunakan SPSS versi 21.

Etika Penelitian

Semua informasi yang dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh para peneliti, hanya beberapa kumpulan data yang dilaporkan dalam hasil penelitian.

Uji Validitas dan Reliabilitas

Analisa data

Analisa Univariat

Analisis Data Bivariat

Jika Pvalue < 0,05 Ho ditolak, berarti data sampel mendukung perbedaan yang signifikan (signifikan). Jika P-value ≥ 0,05 Ho tidak ditolak, berarti data sampel tidak cukup mendukung perbedaan yang nyata (signifikan). Keterbatasan penggunaan uji Chi Square adalah teknik uji chi square menggunakan data diskrit dengan pendekatan distribusi kontinu.

Tabel 3.4 Analisis Bivariat Variabel
Tabel 3.4 Analisis Bivariat Variabel

Analisa Kualitatif

Jadwal Penelitian (terlampir)

Bab ini memaparkan hasil penelitian tentang hasil analisis faktor risiko kanker serviks yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien di RSIA Bunda Jakarta dengan jumlah sampel 50 responden.

Analisis Univariat

Distribusi Frekuensi Faktor Resiko Kanker Serviks Berdasarkan Usia Pertama Berhubungan Seksual

Distribusi Frekuensi Faktor Resiko Kanker Serviks Berdasarkan Parietas Berikut tabel distribusi frekuensi berdasarkan kategori parietas

Distribusi Frekuensi Faktor Resiko Kanker Serviks Berdasarkan Obesitas Berikut tabel distribusi frekuensi berdasarkan kategori obesitas

Analisis Bivariat

Hubungan Usia Pertama Berhubungan Seksual Dengan Kualitas hidup di RSIA Bunda Jakarta

Berdasarkan tabel 5.5 di atas dapat dilihat bahwa hasil uji statistik pada variabel umur pertama kali berhubungan seksual dan kualitas hidup menggunakan uji chi-square. Hasil pengujian menunjukkan bahwa responden yang pertama kali melakukan hubungan seksual ≤ 18 tahun sebagian besar memiliki kualitas hidup yang rendah yaitu sebanyak 12 responden (80,0%), sedangkan responden yang pertama kali melakukan hubungan seksual > 18 tahun adalah, kebanyakan punya. kualitas hidup rendah yaitu 15 responden (42, 9. Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan p-value = 0,022 kurang dari α 0,05 artinya ada hubungan antara umur pertama kali melakukan hubungan seksual dengan kualitas hidup di RSIA Bunda Jakarta, sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) ) diterima.

Hubungan Parietas Dengan Hasil Pemeriksaan Papsmear di RSIA Bunda Jakarta Tabel 5.6 Hubungan Parietas Dengan Kualitas hidup Di RSIA Bunda Jakarta

Berdasarkan tabel 5.6 di atas dapat diketahui hasil uji statistik pada variabel parietal dengan hasil pemeriksaan pap test menggunakan uji chi-square. Hasil pengujian menunjukkan responden dengan paritas > 3 kali sebagian besar memiliki kualitas hidup rendah yaitu 24 responden (80,0%), sedangkan responden dengan paritas ≤ 3 kali sebagian besar memiliki kualitas hidup tinggi yaitu 12 responden (60,0%). Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,010 lebih kecil dari α 0,05 yang berarti ada hubungan antara kesetaraan dengan kualitas hidup di RSIA Bunda Jakarta, sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha ) diterima.

Hubungan Obesitas Dengan Kualitas hidup di RSIA Bunda Jakarta

7.800 (95%CI), artinya responden yang mengalami obesitas 7.800 kali lebih mungkin memiliki kualitas hidup yang lebih rendah daripada responden yang tidak obesitas.

Analisa Kualitatif

PEMBAHASAN

Analisis Univariat

  • Distribusi Frekuensi Usia Pertama Berhubungan Seksual
  • Distribusi Frekuensi Faktor Resiko Kanker Serviks Berdasarkan Parietas
  • Distribusi Frekuensi Faktor Resiko Kanker Serviks Berdasarkan Obesitas

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Erina (2014) yang melakukan penelitian tentang gambaran karakteristik penderita kanker serviks di Puskesmas Kayu Manis Bogor menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada kategori paritas > 3 kali adalah 65%, sedangkan responden yang paritas ≤ 3 kali 35%. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Manda (2016) yang melakukan penelitian tentang gambaran karakteristik penderita kanker serviks di wilayah Puskesmas Sambung Makasar menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori paritas > 3 kali sebanyak 70%, sedangkan responden yang paritas ≤ 3 kali sebanyak 30%. Menurut teori Riksani dan Rel Media Service (2016), wanita yang sering melahirkan memiliki resiko lebih besar untuk menderita kanker serviks.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori bahwa ibu dengan paritas > 3 kali berisiko terkena kanker serviks. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Rizka (2013) tentang gambaran karakteristik pasien kanker serviks di RS Harapan Kita menunjukkan bahwa 65% pasien kanker serviks mengalami obesitas, sedangkan 35% Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinta (2014) tentang gambaran karakteristik penderita kanker serviks di Puskesmas Kota Gorontalo Barat menunjukkan bahwa 70% penderita kanker serviks mengalami obesitas, sedangkan 30% penderita tidak kelebihan berat badan.

Analisis Bivariat

  • Hubungan antara Usia Pertama Berhubungan Seksual Dengan Kualitas hidup di RSIA Bunda Jakarta

Tidak hanya cedera postpartum yang menyebabkan kanker serviks tetapi jarak persalinan yang terlalu dekat juga dapat menyebabkan kanker serviks (Tapan, E, 2010). Seseorang yang memiliki banyak anak, terutama yang melahirkan lebih dari 3 kali, akan berisiko tinggi terkena kanker serviks. Akibat kerusakan setelah melahirkan dan jarak persalinan yang terlalu dekat, virus penyebab kanker serviks akan masuk.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui nilai p-value = 0,003 lebih kecil dari α 0,05 yang artinya ada hubungan antara overweight dengan kualitas hidup di RSIA Bunda Jakarta, sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha ) diterima. Hasil uji statistik didapatkan nilai p-value 0,024 yang berarti p-value < 0,05 maka ada korelasi antara obesitas dengan kanker serviks di RSUD Bangkinang tahun 2017. Pertumbuhan jaringan yang berlebihan dan tidak adanya batas kematian sel akan menyebabkan sel membelah terus menerus yang dapat menyebabkan kanker serviks (Irene, R, 2018).

Analisa Kualitatif 1. Dimensi fisik

PENUTUP

Saran

  • Bagi Pelayanan Dirumah Sakit
  • Bagi Penelitian Selanjutnya

Pengaruh umur pertama kali melakukan hubungan seksual terhadap kejadian kanker serviks di RSUD dr. Risma (2014) Tesis tentang hubungan faktor risiko kanker serviks dengan kejadian kanker serviks di wilayah Puskesmas Tabalong. Skripsi tentang hubungan faktor risiko kanker serviks dengan kualitas hidup di Puskesmas Siantan Hulu (online). www.yarsi.ac.id.

Selamat pagi/siang/tuan-tuan, kami informasikan bahwa tim peneliti dari Universitas Binawan akan melakukan penelitian tentang “ANALISIS FAKTOR RISIKO KANKER SERVIKS TERKAIT DENGAN KUALITAS PASIEN DI RSIA BUNDA JAKARTA”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko kanker serviks yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien di RSIA Bunda Jakarta yang dipilih secara acak. Setelah memahami maksud dari tujuan penelitian dari penjelasan yang diberikan tentang berbagai hal dalam penelitian. ANALISIS FAKTOR RISIKO KANKER SERVIKS TERKAIT DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN DI RSIA BUNDA JAKARTA.

Gambar

Tabel 1.1. Rencana Target Capaian Luaran
Gambar 2.1. Stadium Kanker Serviks
Tabel 2.1 Stadium Kanker
Gambar 3.1. Kerangka penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil dari analisis bivariat hubungan variabel independen dengan variabel dependen PMO menggunakan APD pada penderita tuberkulosis yang mempunyai hubungan

Uji F digunakan untuk menguji apakah variabel-variabel independen secara bersama-sama signifikan berpengaruh terhadap variabel dependen. Ho : Variabel CAR, NPL, LDR,

Variabel dependen penelitian ini yaitu kejadian depresi pada penderita pasca stroke, variabel independen dalam penelitian ini antara lain: usia, jenis kelamin, status

Analisis regresi merupakan suatu analisis untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen

Analisis multivariat dilakukan untuk melihat hubungan variabel independen dengan variabel dependen secara bersamaan dengan menggunakan analisis regresi logistik ganda untuk

Dari hasil penelitian yang dilakukan maka didapatkan simpulan sebagai berikut : variabel independen yaitu usia, merokok, serum sodium dan platelets.berpengaruh signifikan

Analisis Bivariat Pada analisis hubungan variabel dependen dengan variabel independen memperlihatkan bahwa nilai signifikansi pada status gizi ibu menyusui lebih besar dari 0,05

"Concurrent Cisplatin-Based Radiotherapy and Chemotherapy for Locally Advanced Cervical Cancer", New England Journal of Medicine, 04/15/1999 Publicat ion Submitted to Middlesex