• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Activity Based Costing dalam Penentuan Harga Pokok Produksi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Analisis Activity Based Costing dalam Penentuan Harga Pokok Produksi"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

  • Konsep Biaya
    • Pengertian Biaya
    • Klasifikasi Biaya
    • Hirarki Biaya
    • Pemicu Biaya
  • Harga Pokok Produksi
    • Pengertian Harga Pokok Produksi
    • Tujuan dan Manfaat Penentuan Harga Pokok
  • Sistem Biaya Tradisional
  • Activity Based Costing
    • Pengertian Activity Based Costing
    • Pengertian Aktivitas
    • Definisi Analisis Aktivitas
    • Tujuan Analisis Aktivitas
  • Biaya Aktivitas
  • Perbandingan Activity Based Costing dengan Biaya
  • Kerangka Pikir
  • Hipotesis

Distorsi ini muncul dalam bentuk pengisian yang berlebihan (over-charging atau over-charging) untuk produk bervolume tinggi, dan pengisian yang kurang (under-charging atau under-charging) untuk produk bervolume rendah. . Menurut Supriyono, Activity Based Costing merupakan sistem dua tahap, pertama pelacakan biaya untuk aktivitas yang berbeda dan kemudian untuk produk yang berbeda. Based Costing adalah suatu metode penentuan harga pokok produk dimana biaya overhead dibebankan berdasarkan aktivitas yang dilakukan sehubungan dengan produksi.

Definisi penetapan biaya berbasis aktivitas yang dikemukakan oleh Hansen adalah sistem penetapan biaya yang terlebih dahulu menelusuri biaya ke aktivitas dan kemudian ke produk. Menurut Mulyadi (2015:40) Penetapan biaya berbasis aktivitas adalah sistem informasi biaya yang menyediakan informasi lengkap tentang aktivitas sehingga memungkinkan personel perusahaan dalam mengelola aktivitas. Carter menjelaskan bahwa penetapan biaya berdasarkan aktivitas adalah suatu sistem penetapan biaya di mana semakin banyak biaya overhead yang dialokasikan dengan menggunakan dasar yang mencakup faktor non-volume yang sama atau lebih.

Perusahaan yang hanya memproduksi satu jenis produk tidak memerlukan sistem penetapan biaya berdasarkan aktivitas karena tidak ada masalah dengan keakuratan alokasi biaya. Permasalahan ini dapat diatasi dengan menggunakan sistem penetapan biaya berdasarkan aktivitas karena sistem penetapan biaya berdasarkan aktivitas menentukan pemicu biaya untuk mengidentifikasi biaya pabrik yang dikonsumsi oleh setiap produk. Jika biaya non-unitnya kecil, maka sistem penetapan biaya berdasarkan aktivitas tidak diperlukan, sehingga perusahaan tetap dapat menggunakan sistem penetapan biaya tradisional.

Activity Based Costing memberikan pengukuran biaya yang dikeluarkan secara akurat karena dipicu oleh aktivitas dan membantu manajemen meningkatkan nilai produk dan nilai proses dengan membuat keputusan yang lebih baik tentang desain produk, mengendalikan biaya dengan lebih tepat dan membantu pengembangan proyek yang bernilai tambah. . Wijayanti (2011) penelitiannya mengenai: Penerapan sistem penetapan biaya berbasis aktivitas untuk menentukan harga pokok produksi pada PT. Untuk mengetahui perbandingan harga pokok produksi menggunakan sistem tradisional dan sistem Activity Based Costing.

Pada sistem tradisional, harga pokok setiap produk hanya dibebankan kepada cost driver. Dengan cara membandingkan biaya produksi dengan menerapkan sistem penetapan biaya berdasarkan aktivitas. Zinia (2013) dalam penelitiannya yang berjudul: Penentuan Harga Pokok Penjualan Kamar Dengan Metode Activity Based Costing Di Rumah Sakit Radian Kasih Ginim. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dijelaskan sebelumnya, maka hipotesis penelitian yang dapat dikembangkan adalah: Diasumsikan metode Activity-based costing pada CV.

METODE PENELITIAN

  • Teknik Pengumpulan Data
  • Jenis Penelitian
  • Jenis dan Sumber Data
  • Subjek Penelitian
  • Teknik Pengolahan dan Analisis Data
  • Defenisi Operasional

Rumah jahit Ummu Aisyah ditunjukkan pada Tabel 4.1. Berdasarkan Tabel 4.1, jumlah bahan baku yang digunakan untuk pembuatan jubah pada bulan Januari sebanyak 480 meter. Berdasarkan tabel diatas, total biaya overhead pabrik yang dialokasikan menggunakan ABC adalah sebesar Rp, sehingga biaya produksi berdasarkan ABC dapat dilihat pada Tabel 4.12. Pada Tabel 4.12, biaya produksi gamis dengan ABC sebesar Rp 31.365.500,- dari total 150 gamis yang berhasil diproduksi.

Perhitungan harga pokok produksi dengan cara tradisional dihitung dengan menjumlahkan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan BOP. Berdasarkan tabel di atas, biaya pembuatan gamis dengan cara tradisional diperoleh dalam satuan Rp yang merupakan penjumlahan dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Alokasi biaya umum No. Berdasarkan tabel diatas, total biaya overhead pabrik yang dialokasikan menggunakan ABC adalah sebesar Rp, sehingga biaya produksi berdasarkan ABC dapat dilihat pada Tabel 4.27.

Pada tabel 4.27 biaya produksi jilbab dengan menggunakan ABC sebesar Rp dari total 350 unit jilbab yang berhasil diproduksi. Berdasarkan tabel di atas, biaya produksi jilbab dengan cara tradisional dalam Rp diperoleh dari penjumlahan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Pada tabel 4.42, biaya produksi lambung kapal dengan menggunakan ABC sebesar Rp dari total 221 unit lambung kapal yang berhasil diproduksi.

Perhitungan biaya produksi menurut cara tradisional dihitung dengan menjumlahkan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan BOP. Berdasarkan tabel diatas biaya produksi rok dengan cara tradisional sebesar Rp. Rumah Jahit Ummu Aisyah masih menentukan biaya produksi dengan cara tradisional, sehingga HPP yang dihasilkan cukup besar.

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode penetapan biaya berdasarkan aktivitas dalam penentuan biaya produksi lebih unggul dibandingkan metode tradisional.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran umum Perusahaan

Sedangkan biaya produksi satuan setiap produk dihitung dengan membagi total biaya produksi dengan jumlah produk yang dihasilkan.

Penentuan Harga Pokok Produksi Gamis dengan Metode

Pengelompokan biaya dibagi menjadi beberapa unsur yaitu biaya bahan baku (BBB), biaya tenaga kerja (BTK), biaya overhead pabrik (BOP). Berdasarkan Tabel 4.1, jumlah bahan baku yang digunakan untuk pembuatan jubah pada bulan Januari sebanyak 480 meter. Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang tidak mempunyai dampak langsung terhadap penentuan biaya produksi.

Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok biaya pemotongan adalah biaya bahan penolong, biaya air minum dan biaya telepon. Untuk menentukan tarif kelompok didasarkan pada jumlah bahan baku yang dipesan pada bulan Januari 2020, dimana jumlah bahan baku yang digunakan sebanyak 480 meter. Untuk penentuan tarif golongan didasarkan pada jumlah produk yang diproduksi pada Januari 2020 yaitu 150 unit.

Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok biaya pengiriman adalah biaya BTKTL, biaya bahan bakar dan biaya telepon. Untuk penentuan harga kelompok didasarkan pada jumlah gaun yang berhasil diproduksi pada bulan Januari 2020 yaitu 150 unit. BOP setiap kelompok kegiatan dilacak di seluruh jenis produk menggunakan tingkat konsumsi kelompok untuk setiap produk.

Kegiatan ini merupakan proses pemotongan bahan baku dan bahan penolong yang diperlukan, yang pertama diawali dengan proses pembuatan pola. Alokasi biaya terhadap pemicu biaya didasarkan pada jumlah kWh yang memicu biaya tersebut. Pembebanan biaya pada pemicu biaya didasarkan pada jumlah 150 unit gamis yang diproduksi yang merupakan pemicu biaya tersebut.

Berdasarkan tabel diatas, total biaya overhead pabrik yang dialokasikan menggunakan ABC adalah sebesar Rp.

Tabel 4.1   Biaya bahan baku
Tabel 4.1 Biaya bahan baku

Harga Pokok Produksi Gamis dengan Metode Tradisional 35

Berdasarkan tabel 4.16, jumlah bahan baku yang digunakan untuk produksi sapu tangan selama bulan Januari sebanyak 364 meter. Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan penentuan biaya dasar produksi. Untuk menentukan batch rate didasarkan pada jumlah bahan baku yang dipesan selama bulan Januari 2020, dimana jumlah bahan baku yang digunakan sebanyak 364 meter.

Untuk menentukan tarif kelompok, jumlah produk yang diproduksi pada Januari 2020 didasarkan pada 350 unit. Untuk menentukan tarif kelompok, jumlah jilbab yang berhasil diproduksi pada bulan Januari 2020 adalah sebanyak 350 buah. Alokasi biaya terhadap cost driver didasarkan pada jumlah kerudung yang berhasil diproduksi, yaitu:

Alokasi biaya pada pemicu biaya didasarkan pada jumlah jilbab yang diproduksi sebanyak 350 unit yang merupakan pemicu biaya tersebut.

Tabel 4.16   Biaya Bahan Baku
Tabel 4.16 Biaya Bahan Baku

Harga Pokok Produksi Kerudung dengan Metode

Berdasarkan tabel 4.31, jumlah bahan baku yang digunakan untuk pembuatan rok selama bulan Januari adalah 200 meter. Setelah menerapkan Activity Based Costing, hasil yang diperoleh adalah COGS yang diperoleh lebih rendah dibandingkan dengan metode tradisional. Hal ini disebabkan perhitungan HPP dengan metode tradisional hanya menggunakan satu cost driver sehingga terjadi distorsi biaya yang menyebabkan perhitungan HPP menjadi tidak akurat.

Bagi CV Rumah Jahit Ummu Aisyah sebaiknya menggunakan metode ABC dalam menentukan harga pokok produksi produk yang dijual agar tidak terjadi distorsi biaya sehingga penentuan harga pokok produksi menjadi lebih akurat. Pembaca disarankan untuk benar-benar memahami konsep dasar Activity Based Costing System sehingga dapat dengan mudah memahami bagaimana penerapan Activity Based Costing System dalam penetapan biaya produksi. Penerapan metode sistem penetapan biaya berbasis aktivitas dalam penentuan harga dasar kamar hotel di Hotel Coklat Makassar.

Analisis pengaruh biaya produksi minyak sawit mentah terhadap penentuan harga jual minyak sawit mentah di PT Mutiara Unggul.

Tabel 4.30 menunjukkan bahwa penentuan HPP kerudung  dengan sistem  tradisional  menghasilkan  harga  pokok  yang  lebih  besar  sebesar  Rp    28.298.000  dibandingkan  dengan  penentuan  HPP  dengan  menggunakan  ABC  yaitu  sebesar  Rp
Tabel 4.30 menunjukkan bahwa penentuan HPP kerudung dengan sistem tradisional menghasilkan harga pokok yang lebih besar sebesar Rp 28.298.000 dibandingkan dengan penentuan HPP dengan menggunakan ABC yaitu sebesar Rp

Gambar

Tabel 4.1   Biaya bahan baku
Tabel 4.2   Biaya Tenaga Kerja  No.  aktivitas  Jumlah
Tabel 4.17   Biaya Tenaga Kerja  No.  aktivitas  Jumlah
Tabel 4.16   Biaya Bahan Baku
+7

Referensi

Dokumen terkait

Simpulan dari penelitianiniadalahpendekatan sistem Activity Based Costing untuk menentukan harga pokok produksi tas ransel model 75, tas model ukuran map dan tas model 3

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perhitungan harga pokok produksi yang diterapkan oleh Pabrik Tahu Lestari dengan menggunakan metode Full Costing

Metode Tradisional Costing dengan istilah akuntansi biaya tradisional merupakan sistem perhitungan harga pokok tradisional pada perusahaan yang menghasilkan lebih

Pembebanan biaya tidak langsung dengan menggunakan activity based costing system dapat menghasilkan perhitungan harga pokok produksi dan harga jual yang berbeda dibandingkan

Penggunaan metode Activity Based Costing dalam perhitungan harga pokok kamar akan menghasilkan harga pokok kamar yang akurat, karena biaya-biaya yang terjadi

Apabila perhitungan harga pokok produksi kurang tepat dalam perhitungannya, maka yang akan terjadi adalah harga barang produksi terlalu mahal sehingga produk tidak

Perhitungan dalam menentukan harga pokok produk harus tepat sesuai dengan kosnumsinya agar pengambilan keputusan dalam penentuan harga pokok tersebut tidak salah.satu

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perhitungan harga pokok produksi yang diterapkan oleh Pabrik Tahu Lestari dengan menggunakan metode Full Costing