TUGAS 5
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN
Oleh:
SINDI SRI UTAMI NIM 223209024
PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI POLITEKNIK NEGERI MADIUN
Oktober 2024
RESUME BAB 4
ANALISIS AKTIVITAS INVESTASI PENGENALAN ASET LANCAR
Aset lancar merupakan sumber daya atau klaim atas sumber daya yang langsung dapat diubah menjadi kas. Selisih antara aset lancar dengan kewajiban lancar disebut modal kerja.
a) Kas dan Setara Kas
Kas merupakan aset yang paling likuid, mencakup mata uang, deposito dana, money orders, dan cek. Setara kas (cash equivalents) tergolong aset yang sangat lancar, investasi jangka pendek yang siap dikonversi menjadi kas, dan hampir jatuh tempo sehingga risiko perubahan harga yang disebabkan pergerakan tingkat bunga minimal.
Likuiditas berarti jumlah kas atau setara kas yang dimiliki perusahaan dengan jumlah kas yang dapat diperoleh dalam waktu singkat. Selain memeriksa jumlah aset likuid untuk perusahaan, harus mempertimbangkan:
1. Sejauh mana setara kas diinvestasikan pada efek ekuitas, perusahaan dapat mengalami penurunan likuiditas jika nilai pasar dari efek investasi tersebut turun.
2. Kas dan setara kas sering kali dibutuhkan sebagai saldo kompensasi (compensating balances) untuk mendukung suatu perjanjian pinjaman atau sebagai jaminan utang.
b) Piutang
Piutang (receivables) merupakan nilai jatuh tempo yang berasal dari penjualan barang atau jasa atau dari pemberian pinjaman uang. Piutang usaha (account receivable) mengacu pada janji lisan untuk membayar yang berasal dari penjualan produk dan jasa secara kredit.
Wesel tagih (notes receivable) mengacu pada janji tertulis untuk membayar. Piutang diklasifikasikan ke dalam aset lancar jika diharapkan akan direalisasi atau ditagih dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi, tergantung dari mana yang lebih panjang.
Penilaian Piutang
Analisis piutang sangat penting karena dampaknya terhadap posisi aset dan arus laba yang saling terkait. Realitanya banyak perusahaan yang tidak mampu menagih semua piutangnya. Kerugian piutang dapat menjadi sangat berarti dan mengurangi aset lancar serta laba bersih sekarang dan masa depan. Resiko analisis ini adalah pengalaman masa lalu kurang bisa memprediksi kerugian masa depan, atau mungkin kita gagal mencerminkan kondisi terkini.
Analisis Piutang Resiko Kolektabilitas
Analisis harus mempertimbangkan bahwa meskipun pendekatan dengan rumus untuk menghitung penyisihan piutang tak tertagih sangat mudah dan praktis, penghitungan ini mencerminkan penilaian mekanik yang menghasilkan kesalahan. Informasi yang berguna harus diperoleh dari sumber atau perusahaan lain. Alat analisis untuk memeriksa kolektabilitas mencankup:
1. Membandingkan presentase piutang terhadap penjualan perusahaan pesaing dengan perusahaan yang sedang dianalisis.
2. Memeriksa konsentrasi pelangggan – resiko meningkat jika piutang terkosentrasi pada satu atau sedikit pelanggan.
3. Menghitung dan menyelidiki tren periode rata-rata kolektabilitas piutang dibandingkan dengan syarat kredit pelanggan untuk industri yang bersangkutan.
4. Menentukan bagian piutang yang merupakan pengalihan atau perpanjangan (renewal) dari piutang atau wesel tagih masa lalu.
Keaslian piutang
Pemahaman mengenai praktik industri dan sumber informasi tambahan digunakan untuk menambah keyakinan. Pelanggan pada industri tertentu mengembaikan hak untuk mengembalikan barang. Analisis harus mempertimbangkan hak pengembalian tersebut. Hak pengembalian yang bebas dapat menurunkan kualitas piutang.
Sekuritas piutang
Salah satu masalah analisis penting adalah saat perusahaan menjual semua atau sebagian piutangnya pada pihak ketiga yang disebut anjak piutang atau sekuritisasi, piutang dapat dijual dengan ataupun tanpa recourse pada pembeli jaminan kolektabilitas.
c) Beban Dibayar Dimuka
Beban dibayar dimuka (prepaid expenses) merupakan pembayaran di muka atas barang atau jasa yang belum diterima. Beban dibayar dimuka digolongkan ke dalam aset lancar karena mencerminkan jasa yang diberikan jika tidak ada membutuhkan penggunaan aset lancar lain.
PERSEDIAAN
a) Akuntansi dan Penilaian Persediaan
Persediaan (inventory) merupakan barang yang dijual dalam aktivitas operasi normal perusahaan. Pentingnya metode akumulasi biaya dalam penilaian persediaan disebabakan oleh dampaknya pada laba bersih dan penilaian aset. Metode persediaan digunakan untuk mengalokasikan biaya barang tersedia untuk dijual pada harga pokok penjualan atau persediaan akhir.
Persamaan persediaan untuk perusahaan dagang:
Persediaan awal + Pembelian bersih – Harga pokok penjualan = Persediaan akhir.
Biaya persediaan awalnya dicatat pada neraca. Saat persediaan terjual, biaya ini dipindahkan dari neraca dan mengalir pada laporan laba rugi sebagai harga pokok penjualan. Biaya tidak dapat berada pada dua tempat yang sama pada waktu bersamaan, melainkan dapat dicatat pada neraca (sebagai beban masa depan), atau diakui saat ini pada laporan laba rugi profitabilitas untuk dikaitkan dengan pendapatan penjualan.
Arus Biaya Persediaan
1. First – In, First – Out (FIFO) barang yang pertama dibeli merupakan barang yang pertama dijual.
2. Last – In, First – Out (LIFO) unit yang dibeli terakhir merupakan yang pertama dijual.
3. Average Cost (Biaya Rata – Rata) unit dijual tanpa memperhatikan urutan pembeliannya dan menghitung HPP serta persediaan akhir sebagai rata-rata tertimbang.
b) Analisis Persediaan
Dampak Biaya Persediaan terhadap Profitabilitas
Laba kotor dapat dipengaruhi oleh pilihan metode penghitungan biaya perusahaan.
Terdapat keuntungan fiktif FIFO karena laba kotor sebenarnya merupakan penjumlahan dari laba ekonomi (economic profit) dan laba kepemilikan (holding gain). Laba ekonomi sesuai dengan jumlah yang terjual dikalikan dengan selisih antar harga jual dan biaya penggantian persediaan. Laba kepemilikan merupakan kenaikan biaya penggantian karena persediaan telah diperoleh dan sama dengan jumlah unit terjual dikalikan dengan selisish biaya penggantian terkini dengan biaya perolehan awal.
Dampak Biaya Persediaan terhadap Neraca
Pada periode harga meningkat, dan dengan asumsi persediaan belum melikuidasi laporan persediaan lamanya, LIFO melaporkan persediaan akhir pada harga yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya penggantian. Hasilnya neraca perusahan yang menggunakan LIFO, tidak secara akurat mencerminkan investasi lancar yang dimiliki perusahaan dalam persediaan.
Dampak Biaya Persediaan terhadap Arus Kas
Peningkatan laba kotor dengan metode FIFO juga menyebabkan laba sebelum pajak yang lebih tinggi, sehingga menimbulkan utang pajak yang lebih tinggi.
Masalah Penilaian Persediaan Lainnya 1. Likuidasi LIFO
2. Penyajian Kembali (Restatement) Analisis Dari LIFO ke FIFO 3. Penyajian Kembali (Restatement) Analisis Dari FIFO ke LIFO
Biaya Persediaan Perusahaan Manufaktur dan Dampak Peningkatan Produksi Biaya manufaktur terdiri atas tiga komponen:
1. Bahan baku atau bahan mentah – biaya dari bahan dasar yang digunakan untuk membuat produk.
2. Tenaga kerja – biaya tenaga langsung yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produk jadi.
3. Overhead – biaya tidak langsung pada prises manufaktur, seperti penyusutan peralatan manufaktur, gaji penyelia, dan biaya prasarana.
Biaya Perolehan atau Nilai Pasar, Mana yang Lebih Rendah
Nilai/harga pasar (market) dijabarkan sebagai biaya penggantian terkini melalui pembelian atau produksi ulang. Meskipun begitu, nilai pasar tidak boleh melebihi nilai realisasi bersih atau kurang dari nilai realisasi bersih setelah dikurangi margin keuntungan normal.
Biaya (cost) merupakan biaya perolehan persediaan. Biaya ini dihitung dengan salah satu dari metode biaya persediaan – misalnya, FIFO, LIFO, atau Biaya Rata-rata. Analisis persediaan harus memperhatikan dampak aturan LOCOM. Saat harga meningkat, aturan ini cenderung menilai persediaan terlalu rendah tanpa memperhatikan pilihan metode biaya persediaan. Hal ini akan menekan rasio lancar.