Analisis Bakat Dan Minat Siswa Sekolah Dasar Negeri Kebonsari 1 Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling SD
Yang diampu oleh Ibu Melik Budiarti, S.Sos, MA.
Disusun oleh : Aqias Tri Imanda
(2102101208/3G)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI MADIUN TAHUN AKADEMIK 2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,atas berkat rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Ada pun judul makalah yang penulis susun yaitu “Analisis Bakat Dan Minat Siswa Sekolah Dasar Negeri Kebonsari 1”. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan umatnya.
Kami mengucapkan banyak terima kasih atas segala partisipasi dalam membantu penyusunan makalah ini. Meski telah disusun secara maksimal, namun penulis sebagai manusia menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.
Maka dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik demi perbaikan makalah ini. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca amin. Demikian apa yang bisa penulis sampaikan, semoga pembaca dapat mengambil manfaat dam hikmah dari makalah ini
Madiun, 14 Desember 2022
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI...ii
BAB I... 1
PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...2
1.3 Batasan Masalah...3
1.4 Tujuan...3
BAB II...4
KAJIAN PUSTAKA...4
2.1 Deskripsi Bakat Dan Minat...4
2.2 Aspek-Aspek Dalam Bakat Dan Minat...5
2.3 Indikator kecerdasan Spasial/Ruang-Visual (Visual/Spatial Intelligence)...8
BAB III...10
METODE PENELITAN...10
3.1 Penelitian kualitatif...10
BAB IV...11
PEMBAHASAN...11
4.1 Data dan Pembahasan...11
BAB V...13
KESIMPULAN... 13
5.1 Kesimpulan...13
DAFTAR PUSTAKA... 14
LAMPIRAN...15
Tabel Trianggulasi...15
Verbatim data... 16
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Bakat merupakan potensi yang di miliki seseorang dari lahir atau bawaan lahir. Menurut Asnani (2012), menjelaskan bahwa bakat merupakan potensi atau kemampuan yang di miliki seseorang atau individu yang harus dilatih sehingga tercapai tujuannya yaitu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.
Slameto (2015:180) menjelaskan bahwa minat adalah rasa suka dan rasa ketertarikan terhadap suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
Bakat merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang atau individu untuk mewujudkan prestasi pada bidang-bidang tertentu seperti bidang pendidikan, pengetahuan, keterampilan dan kemampuan khusus seperti kemampuan berbicara, melukis, olah raga, dan lain-lain. Untuk mewujudkan nya maka perlu didukung dengan minat, karena pendidikan, pengetahuan, keterampilan dan kemampuan agar bakat bisa diwujudkan dengan baik dan sesuai dengan tujuan.
Menurut hurlock (dalam Friantini & Winata, 2019) mengatakan bahwa minat mempengaruhi bentuk dan intensitas cita-cita, misal orang yang menaruh minat pada suatu bakat beladiri akan bercita cita menjadi seorang ahli beladiri begitu pun jika peserta didik menaruh minat pada bidang kesenian akan bercita cita menjadi ahli kesenian. Jadi bakat dan minat merupakan suatu bentuk yang bersangkutan. Karena jika seseorang tersebut mempunyai bakat maka harus dikembangkan. Dengan dikembangkan tersebut mempunyai kemampuan dan minat untuk terus belajar. Dengan bakat dan minat ini anak bisa belajar dan bekerja dimasa depan dalam bidang yang diminati sesuai dengan bakat yang dimiliki dan kemampuannya.
Dimana saya sebagai penulis melakukan analisis di SDN Kebonsari 1, dengan subjek penelitian adalah anak kelas 1, yang dimana anak tersebut saya observasi tentang bakat dan minat. Yang memiliki bakat pada kesenian yaitu menggambar.
Peran guru dalam mengambangkan keterampilan dan minat siswa adalah salah satu hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar, siswa harus bisa belajar untuk menunjjukan bakat yang dimiliki untik menciptakan suatu minat yang di inginkan.
Kecerdasan merupakan kemampuan untuk memahami sesuatu dan kemampuan untuk berpendapat, dimana semakin cerdas seseorang maka semakin cepat memahami suatu permasalahan dan semakin cepat pula mengambil langkah untuk menyelesaikan permasalahan. Setiap orang mempunyai kecerdasan masing- masing yang berhubungan dengan bakat dan minat. Di dalam teorinya Gardner menjelaskan bahwa setiap manusia/ seseorang dianugerahi lebih dari satu intelegensi dengan bentuk kemampuan yang berbeda-beda kemudian disebutnya dengan multiple intelligence (kecerdasan majemuk). Yaitu Kecerdasan linguistic, Kecerdasan matematis-logis, Kecerdasan ruang, Kecerdasan kinestetik-badani, Kecerdasan musika, Kecerdasan interpersonal, Kecerdasan intrapersonal, Kecerdasan lingkungan/naturalis, Kecerdasan eksistensial.
Jadi pemahaman tentang bakat dan minat faktor utamanya adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang atau individu masing-masing. Yang dimana pemahaman ini harus disampaikan kepada anak untuk memahami secara jelas sejak dini.
Sehingga anak bisa mengembangkan bakat yang dimiliki sesuai minatnya. Untuk menciptakan masa depan dan cita-cita yang di inginkan.
Pada observasi saya memilih analisis kecerdasan majemuk yang kecerdasan ruang. Yang dimana kecerdasan tersebut adalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat serta mempunyai daya imaginasi secara tepat yang menyangkut tentang kecerdasan menggambar, melukis, dan lain-lain. Sehingga kecerdasan tersebut harus lebih dipahami pada saat pelajaran seni budaya.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas dapat menghasilkan rumusan masalah yaitu salah satu siswa SDN Kebonsari 1 memiliki bakat menggambar tetapi sekolah tidak sering menggunakan kegiatan menggambar, hanya waktu pelajaran seni budaya saja begitu pun tidak terlalu diberi penguasaaan materi yang jelas sehingga anak kurang menggali bakat menggambar tersebut dan sulit untuk memperdalam keterampilan yang diminati. Jadi bagaimana analisis bakat dan minat menggambar siswa sekolah dasar?
1.3 Batasan Masalah
Pada rumusan masalah tersebut di fokuskan pada kecerdasaan ruang yang meliputi kecerdasan menggambar yang akan dikaji yaitu untuk mengetahui bagaimana anak bisa memperdalam keterampilan menggambar.
1.4 Tujuan
Dengan permasalahan tersebut maka bertujuan untuk menganalisis keterampilan atau bakat menggambar sesuai dengan minat yang di inginkannya pada anak kelas lima SDN Kenonsari 1 untuk mengembangkan bakat yang dimiliki dan sesuai minatnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Bakat Dan Minat
Dalam bahasa Inggris, bakat sering disebut dengan kata “talent”, yang berarti kemampuan alami seseorang yang luar biasa terhadap sesuatu hal atau kemampuan seseorang yang di atas rata-rata kemampuan orang lain akan sesuatu hal (sefrina, 2013:29). Bakat adalah suatu keterampilan yang diberikan pada setiap anak, tidak pandang apakah berkulit hitam atau putih, sawo matang, kuning langsat, baik kaya atau miskin, dan dari keluarga yang berpendidikan atau bukan.
Munandar (1987) dalam Mikarsa dkk. (2011:2.12) menjelaskan bahwa bakat adalah kemampuan bawaan yang dimiliki seseorang atau individu sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih. Pendapat tersebut didukung oleh Asmani (2012:22) bahwa bakat merupakan kemampuan atau potensi individu untuk mencapai kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan khusus yang perlu dikembangkan dan perlu pelatihan.
Arti minat menurut kamus besar Bahasa Indonesia minat adalah kecenderungan dan semangat yang besar atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Slameto (2010:180), minat adalah kecenderungan tetap untuk memperhatikan dan mengingat kegiatan tertentu, yaitu suatu kegiatan yang diikuti dan disertai perasaan senang . Minat muncul karena kegiatan dan sebagai akibat keikutsertaan dalam kegiatan.
Setiap orang tentunya memiliki bakat, dan tentunya bakat orang satu sama lainnya berbeda. Bakat yaitu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki anak sejak dari lahir yang mana bakat itu sendiri ada beberapa macamnya diantara ada bakat dibidang pendidikan, olahraga, bahasa dan lain-lain. Anak yang memiliki bakat atau potensi atau kemampuan dan atau keterampilan pasti anak tersebut berbakat. Anak yang berbakat pasti mempunyai keinginan atau minat agar bakat yang dimiliki tersebut bisa berkembang dan berguna untuk masa derpan. Jadi bakat dan minat adalah suatu hubungan yang sangat erat yang dimana jika anak memiliki bakat pasti anak tersebut memiliki kemauan yang tinggi untuk mengembangkan bakat sesui minat yang diinginnkan.
2.2 Aspek-Aspek Dalam Bakat Dan Minat
Anak memiliki bakat dan minat pastinya anak tersebut memiliki kecerdasan yang sangat tinggi. kecerdasan itu sendiri setiap anak berbeda-beda, Kecerdasan menurut Howard Gardner adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang mempunyai nilai budaya atau suatu kumpulan kemampuan atau keterampilan yang dapat ditumbuhkembangkan (Gardner, 1995;
13). Kecerdasan merupakan kemampuan melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam masyarakat di lingkungan sekitar (Samples; 2002).Sedangkan (godfredson, 2000) yang dikutip Elliot dkk. Mengemukakan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan mental yang bersifat umum, yang diantaranya sebagai kemampuan untuk menelaah, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, mengemukakan ide-ide, belajar epat, dan belajar dari pengalaman. Dua pendapat tersebut menegaskan bahwa kecerdasan sebagai suatu kemampuan. Kemampuan tersebut berfungsi untuk menelaah, merencanakan, dan sebagainya khususnya yang berhubunga dengan belajar.
Sedangkan kecerdasan majemuk adalah kecerdasan yang dimiliki oleh tiap individu lebih dari satu macam. Menurut Howard Gardner setiap individu terdapat delapan jenis kecerdasan di dalam dirinya, yang disebut dengan kecerdasan majemuk. (Gardner; 2002, 13). Berikut ini teori kecerdasan majemuk menurut Howard Gardner Di dalam teorinya Gardner menjelaskan bahwa setiap manusia/ seseorang dianugerahi lebih dari satu intelegensi dengan bentuk kemampuan yang berbeda-beda kemudian disebutnya dengan multiple intelligence (kecerdasan majemuk). Yaitu Kecerdasan linguistic, Kecerdasan matematis-logis, Kecerdasan ruang, Kecerdasan kinestetik-badani, Kecerdasan musika, Kecerdasan interpersonal, Kecerdasan intrapersonal, Kecerdasan lingkungan/naturalis, Kecerdasan eksistensial. Menurut Tientje dan Iskandar (dalam Kumojoyo, 2011), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan majemuk anak, yaitu:
1. Hereditas, adalah faktor yang diwariskan dari orang tua, meliputi kecerdasan, kreatif produktif, kemampuan memimpin, kemampuan seni, psikomotor.
2. Lingkungan Keluarga: Perhatian orang tua terhadap kemampuan anak sangat berpengaruh positif pada kecerdasan majemuk anak, sedangkan
ketidakpercayaan orang tua terhadap kemampuan anak akan berpengaruh negative terhadap kecerdasan majemuk anak.
3. Lingkungan sekolah: Program yang dibuat oleh sekolah yaitu program yang mendorong anak menyukai belajar dan melaksanakan tugas- tugas sekolah bukan sekedar suka pergi ke sekolah sehingga anak dapat mengembangkan kecerdasan anak.
4. Kesehatan: Pemenuhan kesehatan yang cukup baik untuk fisik maupun mental berpengaruh terhadap kecerdasan majemuk anak, seperti: kesehatan fisik dan kesehatan mental.
Pada 9 teori kecerdasan majemuk menurut Howard Gardner yang dimana semua orang itu diciptakan dengan cerdas, tidak ada yang tidak cerdas. Akan tetapi kecerdasan seorang anak itu berbeda-beda, karena ada kecerdasan yang tumbuh sejak lahir dan ada kecerdasan yang tumbuh karena rasa ingin tahu atau dengan tekat dari diri sendiri dan ada yang tumbuh karena faktor lingkungan itu sendiri. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan seseorang. Hal ini dikarenakan seseorang mampu membedakan sesuatu baik itu nyata ataupun tidak dengan kecerdasannya.
Dan dengan kecerdasan seseorang dapat memecahkan masalah dengan tepat.
Pada penelitian yang saya ambil yaitu dari aspek kecerdasan spasial/ruang- visual. Menurut Gardner seperti dikutip oleh Agus Efendi (2005: 145), kecerdasan spasial adalah kemampuan untuk memberikan gambar-gambar dan imagi-imagi, serta kemampuan dalam mengubah dunia visual-spasial, termasuk di dalam kemampuan kemampuan menghasilkan gambaran mental dan menciptakan representasi grafis, berpikir tiga dimensi, serta mencipta ulang dunia visual. Anak yang memiliki kecerdasan spasial, menurut Armstrong (2002: 28) juga memiliki ciri-ciri lain, antara lain mampu memberikan gambaran visual yang jelas ketika sedang memikirkan sesuatu, mudah membaca peta, grafik, dan diagram, menggambar sosok orang atau benda yang persis aslinya.
Pada Kecerdasan Visual-Spasial terdapat faktor terbentuknya kecerdasan ini antara lain: Faktor Biologis, Sejarah hidup pribadi, Latar belakang Kultural
dan Historis. Menurut Armstrong (1993:21-22) berkembang tidaknya suatu kecerdasan bergantung pada tiga faktor penting berikut:
a. Faktor biologis (biological endowment), termasuk di dalamnya faktor keturunan atau genetis dan luka atau cedera otak sebelum, selama, dan setelah kelahiran.
b. Sejarah hidup pribadi, termasuk di dalamnya adalah pengalamanpengalaman (bersosialisasi dan hidup) dengan orang tua, guru, teman sebaya, atau orang lain, baik yang membangkitkan maupun yang menghambat perkembangan kecerdasan.
c. Latar belakang kultural dan historis, termasuk waktu dan tempatseseorang dilahirkan dan dibesarkan serta sifat dan kondisiperkembangan historis atau kultural di tempat yang berbeda.
Sedangkan menurut menurut Djaali (2007: 74-75) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelegensi sehingga terdapat perbedaan intelegensi seseorang dengan yang lain, diantaranya:
a. Faktor pembawaan, Faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir.
Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Oleh karena itu, di dalam satu kelas dapat dijumpai anak yang cepat dan lambat dalam menerima informasi meskipun mereka menerima pelajaran dan pelatihan yang sama.
b. Faktor minat dan pembawaan khas. Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar, sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
c. Faktor pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Disini dapat dibedakan antara pembentukan sengaja, seperti yang dilakukan di sekolah dan pembentukan yang tidak disengaja, misalnya pengaruh alam di sekitarnya.
d. Faktor kematangan adalah tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik maupun psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila anak-anak belum mampumengerjakan atau memecahkan soal-soal matematika di kelas empat sekolah dasar, karena soal-soal itu masih terlampau sukar bagi anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan umur.
e. Faktor kebebasan. Yang berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Disamping kebebasan memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan spasial/ruang-visual, menurut peneliti faktor kecerdasan meliputi
a. Faktor minat dan pembawaan khas. Yang dimana faktor ini dapat mempengaruhi berkembangnya bakat dan minat anak dalam kecerdasan spasial/riang-visual.
b. Faktor kebebasan, dengan faktor ini dapat dikatakan setiap anak bebas dalam menentukan bakat dan minat yang di inginkan.
Disini penulis membatasi 1 faktor yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu faktor minat dan pembawaan khas.
2.3 Indikator kecerdasan Spasial/Ruang-Visual (Visual/Spatial Intelligence) Kecerdasan visual meliputi kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, dan ruang. Kemampuan visual secara spasial mengorientasi diri dalam matriks ruang.
Kecerdasan itu ditunjukkan oleh kemampuan seseorang untuk melihat secara rinci gambaran visual yang terdapat disekitarnya. Contohnya seorang seniman dapat melihat adanya perbedaan yang tampak diantara goresan-goresan kuas, meskipun orang lain tidak mampu melihatnya. Dari faktor minat dan pembawaan khas kecerdasan spasial dapat di peroleh indikator sebagai berikut.
Anak lebih mudah memahami gambar daripada kata-kata.
Anak mahir membuat sketsa, meniru gambar, atau melukis.
Anak senang melihat gambar, foto, film, dan hal-hal visual lainnya.
Anak senang berimajinasi.
Anak memiliki kepekaan terhadap warna dan senang mewarnai.
Anak menyukai balok atau benda lain untuk mrmbuat suatu bangun .benda.
Anak suka menjelajah lokasi di sekitarnya.
Anak memperhatikan berbagai jenis grafik
Disini, penulis membatasi indikator sesuai dengan aspek yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu:
Anak suka mencorat-coret di atas kertas atau buku.
Anak lebih mudah memahami gambar daripada kata-kata.
Anak mahir membuat sketsa, meniru gambar, atau melukis.
Anak senang melihat gambar, foto, film, dan hal-hal visual lainnya.
Anak senang berimajinasi.
Anak memiliki kepekaan terhadap warna dan senang mewarnai.
BAB III
METODE PENELITAN 3.1 Penelitian kualitatif
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisa bakat dan minat siswa di sekolah dasar.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus. Kehadiran peneliti dalam penelitian ini sebagai instrument kunci. Peneliti bertindak sebagai perencana, pengumpulan, dan pengolahan data yang kemudian digunakan sebagai laporan penelitian.
Penelitian ini dilakukan di SDN Kebonsari 1, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun dengan subjek penelitian adalah salah satu siswa kelas 1.
Sumber data pada penelitian ini yaitu guru kelas dan siswa yang memiliki bakat dan minat menggambar. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara.
Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan trianggulasi data. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif kualitatif.
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Data dan Pembahasan
Pada indikator kecerdasan spasial yang anak suka mencoret-coret, diperoleh hasil bahwa siswa B suka mencoret-coret di atas kertas dan buku bahkan sampai mencoret-coret di dinding dan dimeja sekolah. Siswa B ini sangat kreatif dia sangat pintar dalam hal pelajaran menggambar. Dan saat peneliti mewawancarai siswa B tersebut ternyata di suka menggambar dan termasuk hobinya. Para ahli berpendapat bahwa ada hubungan yang erat antara kecerdasan dengan kreativitas.
Seorang penulis kreatif bernama Eng Hock Chia (dalam Anik Pamilu, 2007: 11) menyatakan bahwa di dalam Inteligenci Quotient (IQ), bakat, dan kreativitas sebagian besar berasal dari pengaruh lingkungan dan keterampilan.
Menurut Seto Mulyadi (dalam Anik Pamilu, 2007:11), kreativitas dan kecerdasan memiliki hubungan yang sangat erat. Oleh karena itu, anak-anak harus dilatih tidak hanya untuk menjadi cerdas, tetapi juga menjadi kreatif dan stabil. Kreativitas juga erat kaitannya dengan kegiatan seni, termasuk kreativitas seni rupa yang diwujudkan dalam kegiatan menggambar. Sumanto (2005: 10) menyatakan bahwa kreativitas merupakan bagian dari kegiatan produksi atau karya, juga dalam bidang seni rupa.
Dari wawancara dengan guru, didapatkan hasil bahwa siswa B waktu pelajaran sering menggambar dan jarang mendengarkan penjelasan guru tetapi siswa tersebut juga pintar. Namun siswa B lebih suka dalam kegiatan gambar menggambar bahkan dia juga bisa memadukan warna-warna. Siswa B sendiri ngomong kalau dia itu suka menggambar sejak dia masih sekolah taman kanak- kanak. Pada saat masih taman kanak-kanak siswa B mengikuti lomba menggambar dan mewarnai tingkat kecamatan serta mendapat juara 2 sekecamatan. Guru siswa B mengatakan bahwa siswa tersebut sangat pintar untuk berimajinasi,dan sangat pintar menirukan gambar-gambar atau objek yang dia lihat bahkan sampai gambarannya itu menyerupai persis dari gambaran asli. Jadi sebagai guru seharusnya bisa mengembangkan bakat menggambar siswa tersebut karena bakat menggambar tersebut suatu keterampilan yang diminati siswa B tersebut. Di sekolah guru bisa mengembangkan bakat menggambar dengan
menerapkan latihan pada pelajaran seni budaya, guru juga harus selalu mengasah keterampilan itu agar berkembang terus.
BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan
Kecerdasan spasial adalah salah satu kecerdasan yang menyangkup pada keterampilan atau suatu kemampuan dalam bakat menggambar. Menggambar adalah suatu kegiatan kreativitas yang dapat dikembangkan dan dapat menjadikan suatu prifesi di masa depan. Berdasarkan penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa salah satu siswa di SDN Kebonsari 1 memiliki bakat menggambar. Yang dimana kegiatan menggambar itu adalah kegiatan mencoret- coret kertas atau buku atau objek lainnya. Dalam mencoret-coret tersebut dapat dikembangkan menjadi suatu bakat dan keterampilan yang diminati siswa dan berguna untuk masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Fendi, Agus, Revolusi Kecerdasan Abad 21: Kritik MI, EI, SQ, AQ, dan Successful Intelligence atas IQ, Bandung: Alfabeta, 2005.
Gardner, Howard, Frames of Mind, Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for The 21stCentury, New York: Basic Books, 1973.
Mahfud, M., & Rudianto, R. (2021). Pendekatan Kecerdasan Majemuk Dalam Pembelajaran Agama Islam. FATAWA: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(1), 183-198.
Armstrong, Thomas. 2000. Multiple Intelligences in the Classroo. Trans. Yudhi Murtanto. Bandung: Penerbit Kaifa.
Anik Pamilu. (2007). Mengembangkan Kreativitas dan Kecerdasan Anak.
Yogyakarta: Citra Media.
Sumanto. (2005). Pengembangan Kreativitas Senirupa Anak TK. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.
LAMPIRAN
Tabel Trianggulasi
Pertanyaan Siswa Guru Trianggulasi
1. Apakah siswa B mempunyai bakat sesuai dengan minatnya?
Iya,saya suka menggambar dan mewarnai.
Iya punya, siswa B ini memiliki bakat
menggambar.
Siswa B
mempunyai bakat menggambar yang sesui dengan minatnya.
2. Apakah siswa waktu
pelajaran sering
menggambar?
Iya, waktu guru menjelaskan pelajaran saya suka menggambar dan mencoret- coret di kertas.
Iya siswa B suka menggambar waktu pelajaran dan kadang- kadang tidak mendengarkan guru
menyampaikan pelajaran.
Siswa B lebih suka
memnggambar waktu guru menjelaskan pelajaran di kelas.
3. Mengapa siswa B suka
menggambar?
Karena saya suka menggambar sejak dulu, menggambar itu asik seru dan menyenangkan dari pada
membaca tulisan di buku sangat membosankan.
Karena siswa B waktu disuruh membaca buku kadang susah dia lebih suka menggambar.
Siswa B lsuka menggambar karena
menyenangkan asik dan seru daripada membaca buku.
Verbatim data
Obsever : Aqias
Orang yang diwawancarai : Siswa B dan Guru Tanggal wawancara : 21 November 2022 Lokasi wawancara : SDN Kebonsari 1
1. Wawancara dengan siswa B
Obsever : apakah kamu mempunyai bakat atau keterampilan?
Siswa B : iya saya punya, saya bisa menggambar.
Obsever : apakah menggambar itu hobi kamu?
Siswa B : iya, saya hobi menggambar dan sering melakukan menggambar.
Obsever : kenapa kamu suka menggambar?
Siswa B : karena menggmbar itu asik dan menyenangkan.
Obsever : sejak kapan kamu menyukai menggambar?
Siswa B : sejak saya sekolah taman kanak-kanak.
2. Wawancara dengan guru
Obsever : apakah Siswa B memiliki bakat yang diminati?
Guru : siswa B memiliki bakat yaitu di suka menggambar, imajinasinya sangat main di dunia menggambar.
Obsever : apakah di sekolah siswa B juga sering menggambar?
Guru : siswa B sangat suka menggambar suka mencoret-coret di kertas bahkan kadang di meja juga.
Obsever : apakah siswa B waktu pelajaran suka menggambar?
Guru : iya sering banget bahkan kadang tidak mendengarkan penjelasan dari guru.
Obsever : apakah siswa B lebih suka pelajaran menggambar dari pada membaca?
Guru : iya siswa B tidak suka membaca, ketika disuruh membaca pasti banyak alasannya.