Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi berjudul Daya Saing Komoditas Lada di Indonesia adalah benar-benar karya yang belum pernah diajukan ke perguruan tinggi manapun dalam bentuk apapun. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis daya saing lada di Indonesia, 2) mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi daya saing lada di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komoditas lada di Indonesia memiliki daya saing komparatif dengan rata-rata nilai RCA sebesar 18,71.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Volume ekspor dan nilai ekspor lada Indonesia tahun 2010-2014 Volume ekspor (ton) Nilai ekspor (US$). Pada tahun 2015, volume ekspor meningkat sebesar 58.075 ton, begitu pula dengan nilai ekspor yang mencapai 548.193 USD. Namun pada tahun 2016, total volume ekspor mengalami penurunan sebesar 33.645 serta nilai ekspor mengalami penurunan sebesar 319.824 dolar AS pada tahun tersebut.
Rumusan Masalah
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan perkembangan produksi lada Indonesia dengan luas wilayahnya, ekspor lada ditinjau dari volume ekspor dan nilai ekspor yang berfluktuasi setiap tahunnya serta beberapa permasalahan yang dihadapi, maka penulis memandang penting untuk melakukan penelitian “Analisis Daya Saing”. Komoditi Lada di Indonesia”. Bagi pemerintah diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan dan membantu merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan ekspor paprika. Bagi pembaca, sebagai bahan pustaka saat menambah wawasan terkait ekspor dan sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut tentang ekspor lada.
TINJAUAN PUSTAKA
- Komoditas Lada
- Perdagangan Internasional
- Teori Klasik
- Teori Modern: Teori H-O (Hecksher dan Ohlin)
- Teori-Teori Perdagangan Baru: Model Berlian
- Konsep Daya Saing Komoditas
- Keunggulan Absolut
- Keunggulan Komparatif
- Keunggulan Kompetitif
- Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Daya Saing Komditas
- Kerangka Pemikiran
Keempat faktor ini menciptakan lingkungan nasional yang mempengaruhi kinerja global dan daya saing perusahaan di suatu negara. Konsep daya saing dalam perdagangan internasional berkaitan dengan keunggulan yang dimiliki suatu barang atau kemampuan suatu negara untuk memproduksi barang tersebut secara lebih efisien dibandingkan dengan negara lain. Untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing lada, alat yang digunakan adalah alat analisis Regresi Linier Berganda.
METODE PENELITIAN
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Jenis dan Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Revealid Comparative Advantage (RCA)
- Analisis Regresi Linear Berganda
- Definisi Operasional
Metode analisis yang digunakan adalah analisis kompetitif dengan alat Revealid Comparative Advantage (RCA) dan Regresi Linear Berganda. Untuk mengetahui daya saing lada di Indonesia, penelitian ini menggunakan analisis RCA (Revealed Comparative Advantage). RCA adalah indeks yang menyatakan keunggulan komparatif, yaitu perbandingan antara pangsa ekspor suatu komoditas dalam total ekspor suatu negara dibandingkan dengan pasar ekspor komoditas yang sama dalam total ekspor dunia.
Metode RCA (Revealed Comparative Advantage) didasarkan pada konsep bahwa perdagangan antar daerah/negara sebenarnya menunjukkan keunggulan komparatif daerah/negara tersebut. Jika nilai RCA > 1, berarti Indonesia memiliki keunggulan komparatif di atas rata-rata dunia, sehingga barang tersebut berdaya saing tinggi. Jika nilai RCA < 1, berarti Indonesia memiliki keunggulan komparatif di bawah rata-rata dunia, sehingga komoditas tersebut memiliki daya saing yang lemah.
Pendekatan Revealed Comparative Advantage (RCA) merupakan keunggulan komparatif atau tingkat daya saing suatu produk di suatu negara. Revealid Comparative Advantage (RCA) adalah indeks yang menunjukkan keunggulan komparatif, yaitu perbandingan antara pangsa ekspor suatu barang dalam total ekspor suatu negara dibandingkan dengan pasar ekspor untuk barang yang sama dalam total ekspor dunia. Keunggulan komparatif merupakan kegiatan ekonomi yang dianggap relatif lebih menguntungkan bagi perkembangan daerah.
Keunggulan komparatif digunakan untuk menganalisis tingkat kemampuan suatu daerah dalam memperdagangkan produk ke luar daerah atau luar negeri.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Letak Geografis
Letak geografis Indonesia sangat strategis, karena merupakan jalur perdagangan dunia antara negara-negara Asia Timur dengan negara-negara Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan India. Kapal dagang yang membawa berbagai barang dari China, Jepang dan negara lainnya melewati Indonesia menuju negara tujuan di Eropa. Sebagai jalur pelayaran dan perdagangan dunia internasional, masyarakat Indonesia telah lama menjalin interaksi sosial dengan bangsa lain melalui perdagangan, kemudian menjadi jalur masuknya berbagai agama ke Indonesia, seperti Islam, Hindu, Budha, Kristen dan lain-lain.
Indonesia yang kaya akan sumber daya alam mengekspor berbagai komoditi atau hasil pertanian seperti kelapa sawit, coklat, lada, cengkeh dan hasil perkebunan lainnya. Sedangkan negara lain menjual berbagai produk seperti kain dan kain tenun halus, porselin dan lain-lain ke Indonesia.
Kondisi Demografis
Selain itu juga terdapat penduduk pendatang seperti Tionghoa, India dan Arab yang masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan, yang kemudian menetap dan menjadi bagian dari penduduk Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada pertengahan tahun 2017, jumlah penduduk Indonesia adalah 269 juta jiwa. Salah satu ciri penduduk Indonesia adalah persebaran penduduk yang tidak merata antar pulau dan provinsi.
Pulau Jawa merupakan salah satu daerah terpadat di dunia dengan 148 juta jiwa.
Kondisi Pertanian
Luas lahan yang ditanami lada di Indonesia dalam kurun waktu dua puluh tahun (Gambar 2) bervariasi. Volume ekspor lada Indonesia mencapai 36.487 ton pada 2011 karena turun 42 persen. Daya saing lada di Indonesia ditunjukkan dengan nilai RCA yang bervariasi dari tahun 1997 hingga tahun 2016.
Pada tahun 1997 nilai RCA lada di Indonesia adalah 18,53 dan mengalami peningkatan sebesar 12 persen dengan nilai 20,84. Sehingga daya saing (RCA) lada di Indonesia tidak meningkat dan cenderung menurun seiring dengan peningkatan produksi lada. Hal ini sejalan dengan penelitian Permatasari (2015) yang menjelaskan bahwa produksi dapat menurunkan daya saing, sehingga jika produksi lada meningkat maka daya saing (RCA) lada di Indonesia dapat melemah.
Variabel ini berkorelasi positif dengan daya saing (RCA), artinya secara kuantitatif apabila harga lada Indonesia meningkat sebesar 1 dolar Amerika Serikat, maka daya saing (RCA) lada di Indonesia juga akan meningkat sebesar 0.000193. Hasil analisis menunjukkan bahwa kenaikan harga lada di Indonesia akan meningkatkan daya saing (RCA) lada di Indonesia. Faktor (variabel) yang secara individual berpengaruh signifikan terhadap daya saing (RCA) komoditas lada di Indonesia adalah nilai tukar.
Luas, produksi, produktivitas lada di berbagai provinsi sentra produksi lada di Indonesia, 1997-2016 Tabel 6.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perkembangan Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Lada
- Perkembangan Luas Areal Lada di Indonesia
- Perkembangan Produksi Lada di Indonesia
- Perkembangan Produktivitas Lada di Indonesia
Bagian ini memaparkan perkembangan wilayah produksi lada, produksi lada dan produktivitas lada di Indonesia. Namun, terjadi penurunan luas areal lada di Indonesia dari tahun 2011 hingga 2014 dengan total luas 162.700 hektar. Perkembangan volume produksi lada di Indonesia dari kurun waktu gambar 3) menunjukkan tingkat perkembangan yang fluktuatif.
Peningkatan tersebut terjadi pada periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2003, dimana total produksi lada di Indonesia mencapai 90.740 ton. Berdasarkan Gambar 3, penurunan produksi lada di Indonesia paling signifikan terjadi pada tahun 2004 sebesar 15,1 persen dalam kurun waktu dua puluh tahun. Berdasarkan Gambar 4, produktivitas lada di Indonesia pada tahun 1997 sebesar 0,62 ton/hektar kemudian meningkat 30,9 persen pada tahun 1998 menjadi 0,81 persen.
Pada tahun 1998 produktivitas meningkat karena beberapa sentra produksi lada di Indonesia mengalami peningkatan seperti Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Pada periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2014 produktivitas lada di Indonesia cenderung meningkat mencapai 0,54 ton/hektar, pada tahun 2007-2014 peningkatan produktivitas tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 0,49 ton/hektar dengan persentase sebesar 8,3 persen. Produktivitas kembali turun sebesar 9,5 persen pada tahun 2015 menjadi 0,49 ton/hektar, dan pada tahun 2016 produktivitas lada di Indonesia tetap sebesar 0,49 ton/hektar.
Berdasarkan Gambar 4, penurunan produksi lada terbesar di Indonesia terjadi pada tahun 2006 sebesar 40,9 persen dari tahun 1997 hingga tahun 2016.
Perkembangan Ekspor Lada di Indonesia
- Perkembangan Volume Ekspor Lada di Indonesia
- Perkembangan Nilai Ekspor Lada di Indonesia
Meskipun dua volume meningkat 18 persen pada tahun 2002, keduanya juga mengalami penurunan sebesar 18 persen pada tahun berikutnya.Penurunan volume ekspor terjadi hingga tahun 2004 ketika volume ekspor lada di Indonesia mencapai 34.302 ton. Peningkatan volume ekspor lada terjadi selama empat tahun dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008, volume ekspor tahun 2008 mencapai 52.407 ton. Pada tahun 2015 volume ekspor meningkat sebesar 58.075 ton, sedangkan pada tahun 2016 volume ekspor lada mengalami penurunan sebesar 33.645 ton dengan persentase sebesar 42 persen.
Penurunan volume ekspor lada terbesar dari tahun 1997 hingga tahun 2016 terjadi pada tahun 2016 dengan persentase sebesar 42,1 persen. Nilai ekspor lada di Indonesia pada tahun 1998 mencapai 188.917 ribu dolar AS, meningkat 16 persen dari tahun sebelumnya sebesar 163.144 ribu dolar AS, peningkatan berlanjut hingga tahun 2000 mencapai nilai ekspor 221.090 ribu dolar AS. . Pada tahun 2001 nilai ekspor mengalami penurunan sebesar 55 persen akibat volume ekspor lada yang menurun pada tahun 2001 dan penurunan tersebut terjadi hingga tahun berikutnya, pada tahun 2002 nilai ekspor mencapai 89.197 ribu dollar Amerika.
Pada tahun 2005, total nilai ekspor adalah 58.648 ribu dolar AS, jumlah ini merupakan nilai terendah dalam dua puluh tahun. Pada tahun 2006, nilai ekspor lada terus meningkat hingga tahun 2008 mencapai 185.701 ribu dolar AS. Walaupun nilai ekspor pada tahun berikutnya mengalami penurunan pada tahun dan tahun 2014, pada tahun 2015 total nilai ekspor meningkat menjadi 548.193 ribu USD, jumlah tersebut merupakan nilai tertinggi pada periode 1997 sampai dengan tahun 2016, yang disebabkan oleh peningkatan jumlah lada. di Indonesia.
Namun pada tahun berikutnya mengalami penurunan, pada tahun 2016 nilai ekspor lada turun hingga 42 persen dengan total nilai ekspor sebesar 319.824 ribu USD.
Analisis Revealed Comparative Advantage (RCA)
- Nilai RCA Lada di Indonesia
- Perkembangan Nilai Indeks RCA Lada di Indonesia
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan program Eviews, persamaan regresi daya saing lada di Indonesia adalah sebagai berikut. Yang kemudian akan membuat eksportir dalam negeri cenderung meningkatkan volume ekspornya, sehingga daya saing (RCA) lada di Indonesia akan meningkat. Karena berkorelasi negatif, maka secara kuantitatif apabila produksi meningkat sebesar 1 ton maka akan menyebabkan daya saing (RCA) lada di Indonesia melemah sebesar 0,000193.
Namun secara statistik tidak ada pengaruh yang signifikan pada tingkat kepercayaan 90 persen gt; 0.1) tentang kompetisi (RCA) lada di Indonesia. Dengan menaikkan harga lada, produsen lada Indonesia akan meningkatkan volume ekspor dan memperhatikan kualitas produk lada, sehingga daya saing (RCA) lada di Indonesia akan meningkat. Nilai koefisien variabel harga lada dunia sebesar -0,000671 dan tidak berpengaruh nyata secara statistik pada tingkat kepercayaan 90 persen; 0.1) tentang kompetisi (RCA) lada di Indonesia.
Hasil analisis menunjukkan bahwa harga lada dunia berkorelasi negatif dan tidak berpengaruh nyata terhadap daya saing (RCA) lada. Semakin tinggi nilai tukar terhadap dolar AS, semakin kuat persaingan (RCA) lada. Yang kemudian akan mendorong eksportir dalam negeri cenderung meningkatkan volume ekspor, sehingga daya saing (RCA) lada di Indonesia semakin kuat.
Beberapa saran yang dapat disampaikan dari hasil analisis persaingan produk lada di Indonesia antara lain:
Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Daya Saing Lada
KESIMPULAN DAN SARAN
- Kesimpulan
- Saran
- Skema Kerangka Pemikiran
- Perkembangan Luas Areal Lada di Indonesia Tahun1997-2016
- Perkembangan Produksi Lada di Indonesia Tahun 1997-2016
- Perkembangan Produktivitas Lada di Indonesia tahun 1997-2016
- Perkembangan Volume Ekspor Lada di Indonesia Tahun 1997-2016
- Perkembangan Nilai Ekspor Lada di Indonesia Tahun 1997-2016
- Perkembangan niali RCA Lada di Indonesia tahun 1997-2016
- Perkembangan Nilai Indeks RCA Lada di Indonesia Tahun 1997-2016
- Peta Lokasi Penelitian
- Penelitian di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS)
- Pengambilan Data di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS)
Nilai RCA Indonesia menunjukkan nilai lebih dari satu yang berarti Indonesia memiliki daya saing yang kuat terhadap komoditi lada, sehingga daya saing lada Indonesia dapat dikatakan diatas rata-rata dunia. Faktor (variabel) yang secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap daya saing (RCA) lada di Indonesia adalah produksi lada, harga lada, harga lada dunia dan nilai tukar. Untuk meningkatkan daya saing komoditas lada di Indonesia, perlu dilakukan peningkatan kualitas dan kuantitas penjualan lada dengan cara mengembangkan dan meningkatkan ekspor lada dalam bentuk olahan sehingga meningkatkan volume dan nilai ekspor lada.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi lada di Indonesia yaitu dengan memberikan pelatihan dan pembinaan kepada petani dan industri pengolahan lada, memberikan kapasitas dan meningkatkan penelitian terkait teknik dan proses pengolahan lada. Analisis daya saing dan faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor paprika Indonesia ke negara tujuan ekspor. Pengaruh Harga Minyak Dunia, Nilai Tukar Rupiah, Pengeluaran Pemerintah dan Ekspor Neto terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 1985-2014.