• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Pemberian Kredit Kepada Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM)

N/A
N/A
Icha

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Pemberian Kredit Kepada Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

i

ANALISIS HUKUM EKONOMI SYARIAH TERHADAP PEMBERIAN KREDIT KEPADA USAHA KECIL MIKRO DAN MENENGAH (UMKM)

(Mata kuliah Hukum Ekonomi Syariah) Dosen Pengampu : Haeratun S.ag

DISUSUN OLEH NAMA : KHAERUN NISA NIM : D1A021176

KELAS : HUKUM EKONOMI SYARIAH (B1)

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM

2023/2024

(2)

i

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah Hukum Ekonomi Syariah yang berjudul “Analisis Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Pemberian Kredit Kepada Usaha Kecil Mikro dan Menengah tepat pada waktunya.

Saya berharap dengan penulisan makalah ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan saya terutama di bidang Hukum Ekonomi Syariah.

Makalah ini jauh dari kata sempurna dan ini merupakan langkah yang baik dari studi yang sesungguhnya.Oleh karena itu, keterbatasan waktu dan kemampuan saya, maka saya sangat menghargai jika ada kritik dan saran yang membangun dalam penulisan makalah ini.

Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terimakasih pada dosen mata kuliah Hukum Ekonomi Syariah yang telah memberikan tugas Ujian Akhir Semester kepada saya. Semoga makalah ini dapat berguna bagi saya khususnya dan pihak lain yang berkepentingan pada umumnya.

Hormat saya

Penulis

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I :PENDAHULUAN ... 1

1.1 LATAR BELAKANG ... 1

1.2 RUMUSAN MASALAH ... 4

BAB II : PEMBAHASAN ... 5

2.1 Ketentuan Hukum Dalam Ekonomi Syariah Terhadap Perjanjian Pinjam-Meminjam (Kredit) ... 5

2.2 Pelaksanaan Pemberian Pinjaman/Penyaluran Kredit Kepada UMKM ... 7

2.3 Resiko Dalam Penyaluran Kredit dan Penanganannya ... 11

BAB III : PENUTUP ... 15

3.1 SARAN ... 15

3.2 KESIMPULAN ... 15

DAFTAR PUSTAKA ... 16

(4)

iii

(5)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Islam adalah agama yang hadir sebagai penyempurnaan agama dengan sumber utama nya Alquran dan Sunnah Rasulullah.Islam tidak hanya sekedar mengatur masalah-masalah yang berkaitan dengan ibadaha tetapi juga mengatur tentang muamalah. Muamalah yang dalam arti luas merupakan aturan-aturan hukum Allah untuk mengatur manusia yang dalam kaitannya berurusan dengan duniawi dan pergaulan sosial.Sedangkan muamalah dalam arti sempit adalah aturan-aturan Allah yang wajib ditaati yang telah mengatur manusia satu dengan manusia yang lain dengan cara memperoleh dan mengembangkan harta benda.

Kegiatan perekonomian dalam pandangan islam tidak hanya sekedar anjuran semata tetapi lebih dari itu merupakan sebuah tuntutan kehidupan yang memiliki dimensi ibadah. Ajaran islam tidak menghendaki umatnya hidup dalam kekurangan dan keterbelakangan berbagai bidang, khususnya keterbelakangan ekonomi karena kekayaan materi merupka juga bagian yang penting dalam kehidupan kaum muslimin. Oleh karenanya umat Islam selalu diwajibkan untuk menjalankan ibadah untuk bekal kehidupan di akhirat kelak juga umat islam diwajibkan untuk memilki bekal selama menjalani kehidupan di dunia ini. Itu sebabnya dalam menjalani kehidupan ini kita harus selalu menjalankan semua perintah-perintah Allah Swt, beribadah serta berusaha dan bekerja dengan rasa optimis yang tinggi agar bisa memenuhi semua kebutuhan hidup secara materi dan berusaha untuk menjadi manusia yang kaya amal dan materi.

Melalui pertumbuhan ekonomi di Indonesia diharapkan dapat berkembang dari tahun ke tahun, melaui peran pemerintah dan pengusaha yang harsu terus bersinergi dalam mengatur roda perekonomian.Adapun salah satu caranya ialah dengan mendorong dan mendukung UMKM.

UMKM yang mayoritas dimiliki oleh rakyat kecil membutuhkan dana atau uang untuk mendirikan danmembangun usaha mereka akan tetapi penyediaan dana atau uang merupakan momok masalah yang sering banyak masyarakat jumpai.

Kredit merupakan salah satu program dari bank yang mewujudkan pembangunan nasional dibidang ekonomi, yang diharapkan sangat dapat meaningkatkan kesejahteraan rakyat .Kredit yang diberikan oleh bank kepada rakyat mengandung resiko sehingga dalam pemberian kredit harus memperhatikan asasasas pengkreditan yang sehat berdasarkan prinsip kehati-hatian.Untuk

(6)

2

itu sebelum memberikan kredit bank harus benar-benar melakukan penilaian yang seksama terhadap aspek khususnya dalam penelitian terhadap jaminan.1

Pemberian kredit merupakan salah satu produk bagi bank dimana besaran kredit yang disalurkan bank dapat dijadikan sebagai pendapatan yang diperoleh dari pembayaran bunga kredit yang dapat dijadikan sebagai tambahan modal. Sedangkan bagi masyarakat kredit dapat menjadi sebuah tambahan modal usaha ataupun investasi.

Sebagaimana umumnya Negara Inodonesia berkembang, seperti pembiayaan dunia usaha Inodonesia masih didominasi oleh penyaluran kredit, perbankan yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Penyaluran kredit memumgkinkan masyarakat untuk melakukan investasi distribusi dan konsumsi barang jasa , mengingat semua kegiatan investasi, distribusi dan konsumsi tak lepas dari penggunaan unag. Pertumbuhan industry perbankan pada era regulasi yang menimbulkan maraknya kompetisi kegiatan usaha perbankan dalam menawarkan berbagai jenis inovasi dengan beragam produknya. Hal seperti ini menyebabkan industry perbankan berlomba lomba dalam menghimpun dana. dari masyarakat dan menanamkan dana tersebut dalam pemberian kredit, investasi surat berharga, penyertaan modal, pendanaan perdagangan internasional serta menempatkan dana pada bank lain.

Pemberdayaan usaha kecil dan menengah merupakan langkah strategis dalam meningkatkan dan memperkuat dasar kehidupan perekonomian dari sebagian terbesar rakyat Indonesia khususnya melalui penyediaan lapangan kerja dan mengurangi kesenjangan dan tingkat kemiskinan. Berbagai kebijakan program dan kegiatan pemberdayaan usaha kecil telah dijalankan.

Pemerintah juga telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang disahkan pada tanggal 4 juli 2008.

Melalui Undang-undang No. 20 Tahun 2008 ini menjadi gerbang bagi terbukanya akses kredit UMKM kepada lembaga perbankan, serta diharapkan mampu mendorong UMKM untuk mengembangkan unit usahanya sehingga meningkatkan produktivitas, mutu dan daya saing UMKM itu sendiri.

Kegiatan usaha yang berasaskan prinsip syariah menurut undang-undang perbankan syariah, antara lain adalah kegiatana usaha yang tidak mengandung unsur : Riba yaitu penambahan

1 Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada,2005)

(7)

3

pendapata n secara tidak sah (bathil) seperti transaksi pertukaran barang sejenis yang tidak sama kualitas,kuantitas dan waktu penyerahan (fadhl), atau dalam transaksi pinjam-meminjam yang mempersyaratkan nasabah penerima fasilitas mengembalikan dana yang diterima melebihi pokok pinjaman karena berjalannya waktu (nasi’ah).

Adapun kegiatan usaha yang tidak berasaskan prinsip-prinsip syariah menurut perbankan syariah dalam kegiatan ekonomi syariah antara lain:

1. Maisir yaitu transaksi yang digantungkan kepada suatu keadaan yang tidak pasti dan bersifat untung-untungan.

2. Gharar yaitu transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimilki, tidak diketahui keberadaanya, atau tiak dapat diserahkan pada saat transaksi dilakukan kecuali diatur lain dalam syariah.

3. Haram yaitu transaksi yang objeknya dilarang dalam syariah atau. (e) Zalim yaitu transaksi yang menimbulkan ketidakadilan bagi pihak lainnya.

Sebelum UU mengenai Bank Indonesia ditetapkan pada tahun1999, Bank Indonesia dapat secara langsung membantu pengembangan UMKM melalui bantuan kredit.Bantuan ini dikenal dengan istilah Likuiditas Bank Indonesia.Namun setelah UU tersebut ditetapkan, peranan Bank Indonesia dalam membantu usaha kecil menjadi tidak langsung dan lebih terfokus pada bantuan teknis serta pengembangan kelembagaan.Tugas pengelolaan kredit program telah dialihkan kepada tiga BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah yaitu PT.Bank Rakyat Indonesia, PT Bank Negara Indonesia dan PT Permodalan Nasional Madani (Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri Badan Pengkajian Dan Pengembangan Kebijakan Perdaganga Kementrian Perdagangan).Kebijakan penyaluran kredit kepada UMKM tercatat sudah beberapa kali dilakukan oleh pemerintah. Mayoritas dari kebijakan tersebut menggunakan institusi perbankan sebagai pihak yang ditunjuk aktif membiayai UMKM,namun proporsinya belum terlalu besar.

Tujuan pemberian kredit kepada Usaha Mikro adalah untuk membantu usaha yang dijalankan seperti yang tercantum dalam Pasal 5 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 dimana dalam Undang-undang tersebut menyatakan lebih rinci tentang pemberian kredit kepada usaha kecil, yaitu:

(8)

4

1. Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang dan berkeadilan;

2. Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri; dan

3. Meningkatkan peran Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataanpendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah ketentuan hukum dalam ekonomi syariah terhadap perjanjian pinjam- meminjam (kredit) ?

2. Bagaimanakah pelaksanaan pemberian pinjaman/penyaluran kredit kepada UMKM?

3. Apa saja resiko dalam penyaluran kredit dan bagaimana penangannya?

(9)

5

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Ketentuan Hukum Dalam Ekonomi Syariah Terhadap Perjanjian Pinjam-Meminjam (Kredit)

Berbicara tentang bagaimana pemberian kredit modal kerja untuk usaha kecil berarti berbicara masalah bunga yang sejak dulu menjadi perdebatan dikalangan ulama dan cendikiawan muslim.

Dalam islam timbul tiga pendapat yang saling berbeda satu sama lain. Diantara mereka ada yang memandang haram dan ada yang memandang subhat dan ada pula yang memandang mubah.

Perdepatan pendapat ini mucul disebabkan oleh perbedaan metode dan hukum yang digunakan.

Berdasarkan undang-undang Perbankan di Indonesia, dapat dikatakan bahwa Indonesia menganut dua sistem Perbankan sekaligus ( dual banking system ) yaitu dengan adanya model perbankan konvensional dan perbankan dengan prinsip-prinsip syariah. Adapun ketentuan pada pasal 6 huruf (m) Undang-Undang Perbankan menentukan bahwa kegiatan perbankan berdasarkan prinsip syariah yang sebelumnya hanya terbatas pada prinsip bagi hasil, kini diperluas menjadi kegiatan apapun dari perbankan berdasarkan prinsip syariah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Dalam Undang-Undang Perbankan menggunakan dua istilah yang berbeda untuk kegoiatan kredit namun mengandung makna yang sama untuk pengertian kredit, tergantung kegiatan usaha yang dijalankan, apakah Bank dijalankan secara Konvensional yang dinamakan kredit atau berdasarkan prinsip Syariah.dikenal dengan nama pembaiayaan. Menurut pasal 1754 sampai dengan pasal 1769 Buku Ketiga Kitab Undang-Undang Hukum Perdata , perjanjian kredit merupakan salah satu dari bentuk perjanjian pinjam-meminjam. Namun demikian dalam perbankan modern hubungan hukum dalam kredit/pembiayaan tidak lagi semata-mata berbentuk hanya perjanjianmeminjam saja melainkan adanya campuran dengan berbentuk perjanjian lainnya.2

Dalam Islam Praktik perkreditan (pinjam-meminjam) tidak dilarang, bahkan dianjurkan agar terjadi hubungan saling menguntungkan yang pada gilirannya berakibat pada hubunga persaudaraan. Dalam perbankan berdasarkan prinsip Syariah, sebenarnya penggunaan kata pinjam-meminjam kurang tepat digunakan disebabkan dua hal. Pertama, pinjaman merupakan

22 Zulfi Diane Zaini, Perjanjian Kredit Perbankan Berdasarkan Prinsip Syariah Menurut Undang-Undang Perbankan DI Indonesia , h.32-33

(10)

6

salah satu metode hubungan finansial dalam Islam. Masih banyak metode yang diajarkan oleh Syariah selain pinjaman, seperti jaul beli, bagi hasil, dan sewa. Kedua, dalam Islam pinjam meminjam adalah akad sosial bukan akad komersial, artinya bila seseorang meminjam sesuatu ia tidak boleh disyaratkan untuk memberikan tambahan atas pokok pinjamannya.

Hal ini didasari pada atas hadist nabi SAW yang menyatakan bahwa setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah riba. Sedangkan para ulama sepakat bahwa riba itu haram. Karena itu, dalam perbankan berdasarkan prinsip Syariah tidak disebut kredit tapi pembiayaan (financing) didasarkan pada firman Allah SWT yang artinya “ Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu …” QS. al-Baqarah (2): 179.

Kemudian, tambahan itu bersifat mengikat dan diperjanjikan, sedangkan yang bersifat suka rela dan tidak diperjanjikan tidak termasuk riba. Disebutkan juga beberapa dalil yang mendasari haramnya riba, di antaranya ialah firman Allah SWT yang artinya:

“… Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba …” QS. al Baqarah (2):

275.

Berdasarkan penejelasan di atas, meminjam uang ke bank konvensional yang terdapat bunga di dalamnya, merupakan hal yang dilarang karena bunga bank termasuk riba yang diharamkan. Setiap akad dalam perbankan berdasrkan prinsip syariah baik dalam hal barang, pelaku transaksi, maupun ketentuan lainnya, harus memenuhi ketentuan akad, seperti :

a. Rukun yang terdiri dari:

1. Penjual 2. Pembeli 3. Barang 4. Harga 5. Akad

b. Syarat yang terdiri dari:

1. Barang dan jasa harus halal sehingga transaksi atas barang dan jasa yang haram menjadi batal dmi hukum syariah

2. Harga barang dan jasa harus jelas

(11)

7

3. Tempat penyerahan (delivery) harus jelas karena akan berdampak pada biaya transportasi

4. Barang yang ditransaksikan harus sepenuhnya dalam kepemilikan. Tidak boleh menjual sesuatu yang belum dimiliki atau dikuasai seperi yang terjadi pada transaksi short sale dalam pasar modal.3

Perjanjian kredit pada perbankan syariah harus didasrkan pada pengajuan permohonan kredit dan adanya prosedur dalm peberian kredit serta adanya penilaian kredit. Dimana dalam praktiknya didasrkan pada skin bagi hasil dengan besar margin tertentu. Pada dasarnya pelaksanaan perjanjian kredit pada perbankan berdasarkan prinsip syariah mengandung azas kemitraan dan azas kebebasan berkontrak yang didasarkan oleh kesepakatan bersama para pihak dalam pemberian kredit harus berdasarkan prinsip kehati-hatian. Akan tetapi apabila mengacu pada keputusan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat pinjam uang di bank konvensional termasuk riba. Karena ada bunga yang diterapkan . Tapi keputusan ini dikecualikan untuk wilayah di pelosok Indonesia yakni, wilayah yang belum terjangkau perbankan syariah, maka diperbolehkan menggunakan bank konvensional dalam konteks darurat.

2.2 Pelaksanaan Pemberian Pinjaman/Penyaluran Kredit Kepada UMKM

Ada beberapa mekanisme alur pemberian kredit kepada UMKM ialah sebagai beikut :

a. Tahap pertama yang dilakukan adalah tahap permohonan kredit, dimana pihak UMKM mengajukan permohonan tertulis kepada pihak bank, calon debitur ini akan mengisi formulir pengajuan kredit yang telah disiapkan oleh pihak Bank. Pihak peminjam yang dalam hal ini adalah UMKM harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh pihak Bank sepeti fotocopy ktp, surat izin memilki usaha, fotocopy kartu keluarga. Dalam menilai permohonan kredit, bank perlu memperhatikan prinsip sebagai berikut :

1) Bank hanya memnerikan kredit apabila permohonan kredit apabila permohonan kredit diajukan secara tertulis. Hal ini berlaku baik untuk kredit baru, perpanjangan jangka waktu, tambahan kredit maupun permohonan perubahan persyaratan kredit

3 Zulfi Diane Zaini, Perjanjian Kredit Perbankan Berdasarkan Prinsip Syariah Menurut Undang-Undang Perbankan DI Indonesia”, h.37

(12)

8

2) Permohonan kredit harus memuat informasi yang lengkap dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh bank termasuk riwayat perkreditannya pada bank lain.

3) Bank harus memastikan kebenaran data dan informasi yang disampaikan dalam permohonan kredit.

b. Tahap Analisis Kredit/ Tahap Pemeriksaan

Berdasarkan arahan Bank Indone sia sebagaimana termuat dalam SK Direksi Bank Indonesia No. 27/162/KEP/DIR tanggal 31 Maret 1995, setiap permohonan kredit yang telah memenuhi syarat harus dianalisis secara tertulis dengan pinsip sebagai berikut :

1) Bentuk, format, dan kedalaman analisis kredit ditetapkan oleh bank yang disesuaikan dengan jumlah dan jenis kredit.

2) Analisis kredit harus menggambarkan konsep hubungan total permohonan kredit. Ini berarti bahwa persetujuan pemberian kredit tidak boleh transaksi atau satu rekening kredit dari pemohon, namun harus didasarkan atas dasar penilaian seluruh kredit dari pemohon. kredit yang telah diberikan dan atau akan diberikan secara bersamasama oleh bank, Analisis kredit harus dibuat secara lengkap, akurat, dan objektif yang sekurang-kurangnya meliputi ; Menggambarkan semua informasi yang berkaitan dengan usaha dan data pemohon termasuk hasil penelitian pada daftar kredit macet. Penilaian kelayakan jumlah permohonan kredit dengan kegiatan usaha yang akan dibiayai, dengan sasaran menghindari kemungkinan terjadinya praktek mark up yang dapat merugikan bank. Menyajikan penilaian yang objektif dan tidak dipengaruhi oleh pihakpihak yang berkepentingan dengan permohonan kredit. Analisa kredit sekurangkurangnya harus mencakup penilaian tentang prinsip 5C dan penilaian terhadap sumber pelunasan kredit yang dititikberatkan pada hasil usaha yang dilakukan pemohon serta menyediakan aspek yuridis perkreditan dengan tujuan untuk melindungi bank atas resiko yang mungkin timbul. Dalam penilaian kredit sindikasi harus dinilai pula bank yang bertindak sebagai bank induk.

Setelah Syarat-syarat telah dilengkapai oleh pihak UMKM, selanjutnya pihak Bank BRI yang dalam hal ini Mantri akan melakukan peninjaun langsung ke lapangan untuk mengethaui akan

(13)

9

pihak UMKM layak atau tidak mendapatkan pinjaman (kredit dariBank). Pihak Bank akan memberikan pertanyaan terkait dengan permohonan kredit :

1). Mencocokkan berkas-berkas pihak UMKM sesuai denga aslinya

2). Menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan usaha piahk UMKM seperti modal, pinjaman tujuannya untuk mengetahui apakah pihak mampu atau tidak mengembalikan pinjamannya atau tidak.

c. Tahap Pemberian Putusan Kredit

Pada tahap ini pihak UMKM akan mengetahui keputusan Bank yang berisi persetujuan mendapatkan atau tidak pinjaman kredit sesuai permohonan yang diajukannya. Keputusan kredit biasanya merupakan keputusan tim. Setiap pejabat yang terlibat dalam kebijakan persetujuan pemberian kredit harus dapat memastikan, bahwa:

1) Setiap kredit yang diberikan telah sesuai dengan ketentuan perbankan dan prinsip-prinsip perkreditan yang sehat.

2) Dalam pelaksanaannya, pemberian kredit telah sesuai dengan kebijaksanaan perkreditan bank (KPB) dan pejabat pemutus kredit (PPK).

3) Keputusan persetujuan pemberian kredit oleh pejabat pemutus kredit telah didasarkan pada analisis kredit yang jujur, objektif, cermat, seksama, dan harus independen.

4) Bank sudah yakin, bahwa pemberian kredit sudah sesuai dengan ramburambu pedoman pengelolaan kredit dan dapat dilunasi oleh applicant dan tidak akan menjadi kredit bermasalah.

5) Keputusan yang dibuat oleh para pejabat pemutus kredit sudah diputuskan secara profesional (managerial and technical skill) dan tidak dipengaruhi oleh pihakpihak yang tidak bertanggung jawab.

6) Tahap Pencairan Kredit/Akad Kredit.

Pencairan Fasiltas Kredit adalah setiap transaksi dengan menggunakan kredit yang telah disetujui oleh bank. Dalam prakteknya, pencairan kredit ini berupa pembayaran dan/atau pemidahbukuan atas beban rekening pinjaman atau fasilitas lainnya. Bank hanya menyetujui pencairan kredit oleh nasabah, bila syarat-syarat yang harus dipenuhi nasabah telah dilaksanakan.

(14)

10

Pengikatan jaminan secara sempurna dan penandatanganan warkat-warkat kredit (perjanjian kredit) mutlak harus mendahului pencairan kredit. Fasilitas dapat berbentuk:

1) Penyediaan fasiltas kredit dengan suatu limit tertentu yang ditarik menuruut kebutuhan dengan sifat revolving. Hal ini biasa dikenal dengan nama pinjaman dalam rekening Koran.

2) Penyediaan fasilitas kredit yang pencairannya dilakukan berdasarkan jadwal pencairan yang mencapai suatu limit yang disetujui. Kemudian dengan pembayaran kembali secara sekaligus atau dengan cara angsuran menurut jadwal.

3) Penyediaan fasilitas kredit yang pencairannya sekaligus dengan pembayaran kembali atau dengan angsuran menurut jadwal tertentu.

4) Pernyataan bank sebagai pinjaman atau menyanggupi ikatan lainnya yang dapat mengakibatkan kewajiban bank untuk membayar kepada pihak ketiga.4

Kebijakan Perkreditan Bank sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 27/162/KEP/DIR, tanggal 31 Maret 1995 tentang Kewajiban Penyusunan dan Pelaksanaan Kebijaksanaan Perkreditan Bank bagi Bank Umum sekurang-kurangnya memuat dan mengatur hal-hal pokok sebagaimana ditetapkan dalam Pedoman Penyusunan Kebijaksanaan Perkreditan Bank sebagai berikut :

A. Prinsip kehati-hatian dalam perkreditan, B. Organisasi dan menejeman perkreditan, C. Kebijaksanaan persetujuan kredit, D. Dokumentasi dan administrasi kredit

Penyelesaian kredit bermasalah. Cara pencairan kredit, yang telah disetujui dapat dilakukan dengan alat-alat dan cara yang ditentukan oleh bank, antara lain pencairan dengan cara menarik cek atau giro bilyet, dengan kuitansi, dengan dokumen-dokumen lainnya yang oleh bank dapat diterima sebagai perintah pembayaran, atau dengan pemindahbukuan atas beban rekening pinjaman nasabah. Bukti pencairan kredit yaitu, alat-alat pencairan kredit seperti cek, kuitansi, nota pemindahbukuan, dan dokumen-dokumen lainnya tersebut akan menjadi alat bukti pembukuan. Apabila diperlukan alat bukti tersebut untuk berkas perkreditan, maka dapat dibuatkan duplikat atau fotocopinya. Verifikasi pencairan kredit, setiap mutasi saldo yang terjadi

4 M. Bahsan, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2007),h.02.

(15)

11

pada rekening pinjaman harus diperiksa oleh pejabat yang ditunjuk untuk itu. Verifikasi meliputi pencocokan dan keabsahan pencairan, jumlah serta syaratsyarat lainnya, sebagai bukti verifikasi, pejabat tersebut harus membubuhkan parafnya pada saldorekening pinjaman.

2.3 Resiko Dalam Penyaluran Kredit dan Penanganannya

Resiko terhadap praktik akad murabahah yang selama ini banyak dilakukan oleh hampir semua bank Syariah di Indonesia. Analisis dilakukan dengan mengacu pada 10 (sepuluh) bentuk risiko yang diatur dalam Peraturan OJK nomor 65/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah sesuai. Pembahasannya dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Resiko Pembiayaan

ini muncul karena kegagalan nasabah untuk memenuhi kewajiban sesuai kontrak berdasarkan akad murabahah yang telah dibuat. Kegagalan dalam pembayaran hutang/pinjaman ini disebabkan 2 hal yakni nasabah tidak mampu membayar atau karena tidak mau membayar.Ini sejalan dengan pendapat Anas (2018) bahwa potensi risiko kredit/pembiayaan (credit risk) yang disebabkan oleh nasabah wanprestasi atau default.

Risiko pembiayaan terkait akad murabahah ini juga didukung pendapat Antonio (2001) bahwa ada nasabah yang dengan sengaja tidak membayar angsuran atas hutang atau kewajibannya. Kemacetan pembiayaan yang disebabkan oleh nasabah ini dapat dibedakan atas 2 kategori yaitu unsur kesengajaan dan faktor yang tidak disengaja.

b. Resiko Pasar

Risiko terjadi karena adanya perubahan harga di pasar atas aset atau barang yang sudah terikat dalam akad murabahah tersebut. Ini terjadi bila harga suatu barang di pasar tiba-tiba naik setelah bank membelikannya untuk nasabah.Dalam kondisi seperti ini, bank tidak bisa mengubah harga jual beli tersebut karena sudah harga sudah disepakati dan ditandatangani oleh kedua belah pihak.

c. Resiko Likuiditas

Risiko ini muncul karena ketidakmampuan bank syariah untuk memenuhi kewajibannya membayar barang atau properti yang sudah disepakati pada akad murabahah. Bank gagal membayar sejumlah uang kepada pihak ketiga karena adanya mismatch antara perhitungan

(16)

12

sumber dana yang masuk dari Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kewajiban pemenuhan kontrak pembiayaan. Risiko ini bisa juga terjadi karena bank mengalami kebangkrutan.

d. Resiko Operasi

Risiko yang terjadi terkait akad murabahah antara lain karena disebabkan oleh kesalahan bank sendiri dalam memilih partner bisnis atau vendor misalnya. Bank Syariah juga menghadapi potensi risiko operasional yang diakibatkan oleh proses internal yang kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Bank.

e. Resiko Hukum

Risiko yang muncul karena adanya tuntutan hukum atau karena adanya kelemahan dalam aspek hukum/yuridis dalam kegiatan operasional bank.Ini terjadi karena kegagalan bank dalam memenuhi unsur validitas dalam penyusunan kontrak atau adanya kelemahan dalam kontrak akad murabahah yang dibuat oleh bank.

f. Resiko Reputasi

Risiko ini terjadi karena tidak ada atau berkurangnya trust dari pemangku kepentingan sebagai sebagai akibat dari persepsi negatif terhadap bank Syariah. Publikasi negatif terhadap salah satu bank syariah berpotensi mencoreng reputasi bank syariah lainnya, meskipun mereka tidak terlibat dalam insiden yang disebutkan tersebut.Misalnya ada pemberitaan negatif tentang bank Syariah tertentu akan menyebabkan persepsi buruk terhadap semua bank Syariah lainnya.

g. Risiko Stratejik

Resiko yang timbul karena bank syariah kurang akurat dalam menentukan keputusan stratejik atau juga kegagalan bank syariah dalam mengantisipasi adanya perubahan lingkungan bisnis baik internal maupun eksternal. Contohnya adalah tidak akuratnya dalam penentuan strategi bisnis yang tidak sejalan dengan visi dan misi bank Syariah. Juga kegagalan dalam mengantisipasi perubahan kondisi indikator makro ekonomi yakni kesalahan dalam melakukan prediksi tingkat inflasi dan GDP. Bisa juga risiko ini timbul karena bank syariah tidak bisa mengantisipasi atas perubahan kebijakan dari otoritas pemerintah (BI dan OJK).

h. Risiko Kepatuhan

Risiko yang timbul karena bank syariah tidak mematuhi ketentuan terkait prinsip syariah yang ditentukan oleh fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia dan

(17)

13

OJK. Dalam hal ini bank Syariah tidak mematuhi persyaratan akad murabahah yang telah diatur dalam fatwa DSN atau peraturan OJK.

i. Resiko Imbas Hasil

Risiko yang terjadi karena adanya perubahan tingkat pengembalian atas pinjaman yang dibayarkan nasabah ke bank syariah akibat adanya perubahan perilaku nasabah tersebut.

Contohnya adalah nasabah melunasi seluruh pinjamannya dengan menggunakan dana talangan dari bank konvensional karena suku bunga tabungan konvensional jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan tingkat pengembalian bank syariah (yang menggunakan akad murabahah). Selain itu, jika pembiayaan murabahah dilakukan dalam jangka panjang, misalnya di atas 10 tahun, bank syariah akan menghadapi potensi penurunan tingkat keuntungan.

A. Penanganan Dari Resiko Kredit (Mudharabah)

Jenis, Penyebab, dan Mitigasi Risiko pada Akad Murabahah

NO JENIS RESIKO PENYEBAB UPAYA MITIGASI

1 Pembiayaan 1.Nasabah tidak mau

membayar faktor sengaja maupun tidak.

2. Nasabah Tidak mau membayar.

menegakkan prinsip 5C:

character, capacity, capital, collateral dan condition.

2 Pasar 1.Adanya perubahan

harag di pasar.

2. pergerakan atau fluktuasi nilai tukar jika pembiayaan diberikan dalam bentuk valuta asing (valas)

melakukan upaya lindung nilai dan menetapkan batas maksimal pembiayaan dalam valas

3 Likuiditias Bang gagal membayar sejumlah uang,karena adanya mismatch antara perhitungan sumber dana yang masuk dari DPK

memonitor secara ketat terkait kondisi cashflow

(18)

14

dan kewajiban

pemenuhan kontrak pembiayaan.

dan menerapkan early warning system

4 Operasi kegagalan proses

internal, kesalahaan pegawai, kegagalan sistem, dan kejadian eksterna

melakukan evaluasi SOP, pemeliharaan berkala sistem IT.

5 Hukum adanya tuntutan hukum

atau karena adanya kelemahan dalam aspek yuridis dalam kegiatan operasional.

melakukan review ketat dan berjenjang sebelum akad ditandatangani.

6 Reputasi adapemberitaan/publikasi negatif terhadap bank syariah terkait isu atau informasi sensitif tentang bank syariah

menerapkan strategi marketing yang efektif, terutama di sosial media

7 Stratejik tidak akurat dalam

menentukan keputusan stratejik dan kegagalan dalam mengantisipasi perubahan Lingkungan

melakukan evaluasi kinerja secara berkala atas asumsi dan target yang telah ditentukan

8 Imbas Hasil nasabah membayar

pinjaman berasal dari hutang ke bank konvensional karena bunga tabungan jauh lebih rendah

melakukan review berkala terhadap tingkat imbal hasil atau menggunakan alternatif akad lain misalnya akad Ijarah Muntahiya Bit Tamlik dan Musyarakah Mutanaqishah

(19)

15 BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN

Dalam Islam Praktik perkreditan (pinjam-meminjam) tidak dilarang, bahkan dianjurkan agar terjadi hubungan saling menguntungkan yang pada gilirannya berakibat pada hubunga persaudaraan. Dalam perbankan berdasarkan prinsip Syariah, sebenarnya penggunaan kata pinjammeminjam kurang tepat digunakan disebabkan dua hal. Pertama, pinjaman merupakan salah satu metode hubungan finansial dalam Islam. Masih banyak metode yang diajarkan oleh Syariah selain pinjaman, seperti jaul beli, bagi hasil, dan sewa. Kedua, dalam Islam pinjam meminjam adalah akad sosial bukan akad komersial, artinya bila seseorang meminjam sesuatu ia tidak boleh disyaratkan untuk memberikan tambahan atas pokok pinjamannya. Hal ini didasari atas hadist nabi SAW yang menyatakan bahwa setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah riba. Sedangkan para ulama sepakat bahwa riba itu haram. Karena itu, dalam perbankan berdasarkan prinsip Syariah tidak disebut kredit tapi pembiayaan (financing).

3.2 SARAN

Risiko yang dihadapi bank syariah sangat beragam dan kompleks sejalan dengan inovasi dalam produk perbankan yang ditawarkan kepada masyarakat yaitu: risiko pembiayaan, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko stratejik, risiko kepatuhan, risiko imbal hasil, dan risiko investasi. Manajemen Bank Syariah harus memberikan perhatian khusus atas semua risiko yang telah diidentifikasi dengan mempersiapkan langkah dan upaya mitigasinya.

(20)

16

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Ahmad. “Pinjaman Kredit Dalam Perspektif Pendidikan Islam”. ElIqtishady 3. no 1 2019 Aedy Hasan “Teori Dan Aplikasi Etika Bisnis Islam” Bandung:Alfabeta,2011

Alma Buchari dan Juni Priansa Doni Manajemen Bisnis Syariah Dan Menanamkan Nilai Praktik Syariah Dalam Bisnis Kontemporer. Bandung: Alfabeta,2014

Anggraini Dewi dan Hakim Nasution Syahrir “Peranan Kredit Usaha Rakyat Kecil (KUR) Bagi Pengembangan”, Jurnal Ekonomi 1. no 3 2013

M. Bahsan, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2007),h.02

Zulfi Diane Zaini, Perjanjian Kredit Perbankan Berdasarkan Prinsip Syariah Menurut Undang-Undang Perbankan DI Indonesia”, h.37

Zulfi Diane Zaini, Perjanjian Kredit Perbankan Berdasarkan Prinsip Syariah Menurut Undang-Undang Perbankan DI Indonesia , h.32-33

Arwani Agus. “Epistimologi Hukum Ekonomi Islam”. Jurnal Hukum Ekonomi Syariah 15. no 1 2012

Referensi

Dokumen terkait

Kredit kepada Usaha Menengah adalah pemberian kredit kepada debitur usaha menengah yang memenuhi kriteria usaha menengah yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri

Tujuan penelitian ini untuk mengkaji segi-segi yuridis Praktik Penjaminan Kredit Perbankan kepada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dikaitkan dengan Inpres No.6 Tahun

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pembiayaan mikro syariah berpengaruh terhadap perkembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM): studi kasus Bank

Kredit Usaha Rakyat, yang selanjutnya disingkat KUR, adalah kredit/ pembiayaan kepada Usaha Mikro Kecil Menengah Koperasi (UMKM-K) dalam bentuk pemberian modal kerja dan

Kredit Usaha Rakyat yang selanjutnya disingkat KUR, adalah kredit/pembiayaan kepada Usaha Mikro Menengah (UMKM-K) dalam bentuk pemberian modal kerja dan investasi yang

Populasi dalam penelitian ini yaitu pedagang yang sudah menggunakan kredit usaha rakyat terhadap pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Medan

xiii ABSTRAK Efektivitas Strategi Pemasaran Syariah Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM Pusat Oleh-Oleh Khas Kota Bengkulu dalam Menghadapi Era New Normal oleh Ahmad Fanzuri,

Penelitian ini membahas tentang peluang dan tantangan pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM) dari aspek keuangan syariah dan pemasaran