• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI KOPI DI KABUPATEN ENREKANG

N/A
N/A
yassir army

Academic year: 2023

Membagikan "ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI KOPI DI KABUPATEN ENREKANG"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Biji kopi merupakan jenis kopi yang ditanam dan merupakan produk ekspor penting di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, penelitian ini diberi judul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Biji Kopi Di Kabupaten Enrekang”.

Rumusan Masalah

Dari teori, untuk menganalisa permasalahan produksi kopi di kabupaten Enrekang dapat dilihat seberapa besar pengaruh tenaga kerja, modal, luas lahan dan pupuk yang digunakan untuk meningkatkan produksi kopi, atau adakah permasalahan dan alasan lain yang menjadi kendala peningkatan produksi kopi. produksi biji kopi di kabupaten Enrekang seperti dampak hama pertanian yang merusak tanaman kopi. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini akan melihat faktor-faktor penghambat produksi biji kopi dan dari penelitian tersebut dapat dicari solusi atas permasalahan produksi biji kopi di kabupaten Enrekang.

Tujuan Penelitian

ManfaatPenelitian…

TINJAUAN PUSTAKA

  • Tinjauan Teoritis
    • Teori Produksi
    • Faktor Produksi dan Biaya Produksi …
    • Hubungan Antar Modal dan Produksi
    • Hubungan Luas Lahan dan Produks
    • Hubungan Tenaga Kerja dan Peningkatan Produksi .…
    • Hubungan Pupuk dan Peningkatan Produksi
  • Tinjauan Empiris
  • Kerangka Pikir
  • Hipotesis …

Aspek penting dalam proses produksi adalah ketersediaan sumber daya atau bahan baku yang bisa disebut juga dengan faktor produksi. Seperti halnya dalam ilmu ekonomi pertanian, faktor-faktor produksi dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu tanah, tenaga kerja, dan modal. Abdurrahman (2001), mengatakan bahwa proses produksi pertanian memerlukan jenis faktor produksi yang berbeda-beda, baik secara kualitatif.

Makeham dan Malcolm (1991) biaya tetap adalah biaya yang timbul akibat penggunaan faktor produksi yang konstan. Modal merupakan salah satu faktor produksi yang memberikan kontribusi terhadap hasil produksi, Hasil produksi dapat ditingkatkan dengan menggunakan peralatan mesin produksi yang efisien. Dalam istilah ekonomi, modal adalah barang atau uang yang bersama-sama dengan faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang dan jasa baru Irawan dan Suparmoko, (2010).

Dalam istilah ekonomi, modal adalah barang atau uang bersama-sama dengan faktor produksi lainnya dan tenaga kerja serta manajemen untuk menghasilkan barang baru.

Gambar 3.1 Kerangka Pikir Analisis Faktor Produksi Biji Kopi
Gambar 3.1 Kerangka Pikir Analisis Faktor Produksi Biji Kopi

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Kabupaten Enrekang mempunyai ciri fisik dan ketinggian yang baik untuk budidaya kopi, selain itu berdasarkan data tersebut setiap kecamatan menghasilkan kopi di atas rata-rata.

Populasi dan Sampel

Jenis dan Sumber Data …

Metode Pengumpulan Data

Metode Analisis Data

Uji Asumsi Klasik

Untuk mengetahui tingkat signifikansi koefisien regresi masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat dapat menggunakan uji statistik antara lain: Analisis koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa besar pengaruh variabel bebas (modal, luas lahan, tenaga kerja, dan pupuk). ) ada pada variabel terikat (produksi). Dimana analisisnya adalah jika nilai R2 mendekati 1 maka variabel independen semakin dekat hubungannya dengan variabel dependen sehingga dapat dikatakan penggunaan model dibenarkan.

Namun ada kalanya koefisien determinasi digunakan untuk satu variabel independen yang dimasukkan dalam model. Setiap tambahan variabel independen akan menyebabkan R2 meningkat, terlepas dari apakah variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (memiliki nilai t signifikan). Apabila Fhitung < Ftabel maka H0 diterima, atau variabel bebas secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat (tidak signifikan), dengan kata lain perubahan yang terjadi pada variabel terikat tidak dapat dijelaskan oleh perubahan pada variabel bebas, dimana perubahan yang terjadi pada variabel terikat tidak dapat dijelaskan oleh perubahan pada variabel terikat. tingkat signifikansi yang digunakan adalah 5%.

Dengan kata lain untuk mengetahui apakah setiap variabel independen benar-benar dapat menjelaskan perubahan yang terjadi pada variabel dependen.

Defenisi Operasional Variabel Penelitian …

Terdapat pula 8 responden (petani kopi) yang memiliki luas lahan 3 ha, menghasilkan produksi kopi kurang dari 3.000 kg per tahun. memanen. Dan terdapat 3 responden (petani kopi) yang menghasilkan kopi lebih dari 3.000 kg dan membutuhkan 7-10 tenaga kerja. Dilihat dari jumlah tenaga kerja di Kabupaten Enrekang, semakin besar produksi kopi yang dihasilkan maka semakin besar juga jumlah tenaga kerjanya.

Hasil Pengolahan Data Penilaian Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Di Kabupaten Enrekang. Produksi Kopi di Kabupaten Enrekang. Hasil regresi menunjukkan bahwa luas lahan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi kopi di wilayah Enrekang dengan koefisien regresi sebesar 0,607 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yaitu kurang dari 5%. Hasil regresi menunjukkan bahwa pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan produksi kopi di wilayah Enrekang dengan koefisien regresi sebesar 0,082 dengan nilai signifikansi sebesar 0,250 lebih besar dari 5%.

Sebab, banyaknya jumlah pupuk yang digunakan menjadi acuan utama peningkatan produksi kopi. Jumlah tenaga kerja tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi kopi di kabupaten Enrekang. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Kopi di Kabupaten Enrekang” untuk menyelesaikan tugas akhir yang dikerjakan oleh.

Grafik 4.1 Nilai produksi, luas areal, dan jumlah  petani
Grafik 4.1 Nilai produksi, luas areal, dan jumlah petani

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Objek Penelitian

  • Perkebunan Sulawesi Selatan
  • Penggunaan Lahan

Karakteristik Responden

  • Umur/Usia
  • Tingkat Pendidikan
  • Jenis Kelamin

Kemudian rentang usia antara 51 – 60 tahun sebanyak 33 orang atau 33%, disusul rentang usia di bawah 40 tahun sebanyak 9 orang atau 9%. Tingkat pendidikan seseorang juga mempengaruhi kegiatan bertaninya, dalam hal ini kemampuan dan keterampilan petani dalam menyerap informasi dan teknologi baru yang datang dari kelompok dan penyuluh. Berdasarkan data pada Tabel 4.3 di atas terlihat bahwa tingkat pendidikan petani di Kabupaten Enrekang yang menjadi responden masih tergolong rendah.

Sekolah Dasar (SD) merupakan jenjang pendidikan kedua mayoritas responden penelitian yaitu 27 orang atau 27%. Mayoritas berikutnya merupakan responden yang berpendidikan menengah pertama (SMA) masing-masing 20 orang atau 20%. Responden yang berpendidikan Sarjana (S1) lebih sedikit yaitu 2 orang atau 2%.

Dari Tabel 4.4 terlihat bahwa mayoritas responden penghasil kopi berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki yang berjumlah 80 orang atau 80% lebih dominan dibandingkan perempuan yang berjumlah 20 orang atau 20 orang.

Deskripsi Variabel Penelitian

  • Deskripsi Variabel Modal terhadap produksi Kopi …
  • Deskripsi Variabel Luas lahan Terhadap Produksi Kopi
  • Deskripsi Tenaga Kerja Terhadap Produksi Kopi
  • Deskripsi Pupuk Terhadap Produksi Kopi
  • Deskripsi Faktor Harga dan Kebijakan Pemerintah

Berdasarkan Tabel 4.6 terlihat bahwa di Kabupaten Enrekang terdapat 4 responden (petani kopi) dengan luas lahan >1 ha atau kurang dari 1 ha dengan hasil produksi berkisar kurang dari 1.000 kg sekali panen dan 44 responden (petani kopi) yang per panen 1.000 hingga 3.000 produksi kopi dengan luas lahan 1 ha. Petani kopi dengan luas lahan 2 ha dengan hasil produksi 1.000 kg hingga 3.000 kg atau lebih. Luas lahan yang dimiliki oleh responden (petani kopi) sangat beragam dan sangat luas untuk menghasilkan kopi dalam jumlah besar jika dikelola dengan baik.

Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.7 dimana dibutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak untuk menghasilkan kopi yang lebih banyak setiap kali panen. Berikut sebaran konsumsi pupuk oleh petani di Kabupaten Enrekang dapat dilihat pada Tabel 4.8 di bawah ini. Berdasarkan tabel 4.8 diatas diketahui bahwa di Kabupaten Enrekang terdapat 4 responden (petani kopi) yang menggunakan pupuk sebanyak 250-500 kg dan menghasilkan kopi kurang dari 1000 kg, dan 55 responden (petani kopi) yang mempunyai produksi kopi kurang dari 1.000 kg.

Jika hal ini tidak disikapi dengan baik oleh pemerintah daerah, bukan tidak mungkin produksi kopi akan menurun akibat kebijakan yang tidak konsisten dengan pelaksanaannya.

Tabel  4.6  di  bawah  ini  merupakan  distribusi  responden  (petani  kopi)  berdasarkan luas lahan yang dimiliki petani di Kabupaten Enrekang
Tabel 4.6 di bawah ini merupakan distribusi responden (petani kopi) berdasarkan luas lahan yang dimiliki petani di Kabupaten Enrekang

Hasil Estimasi Pengolahan Data Faktor-Faktor Yang

  • Hasil Regresi
  • Hasil Uji Asumsi Klasik

Berdasarkan peraturan tersebut, pemerintah harus terus membina dan mendampingi petani kopi di berbagai daerah untuk mengembangkan hutan tanaman di sekitar kawasan hutan lindung sebagai penyangga sesuai dengan peraturan daerah yang berlaku. Ada beberapa kendala yang dialami para petani kopi di Enrekang yaitu penyakit pada tanaman kopi seperti kanker batang dan hama yang sering merusak tanaman kopi seperti kutu daun, lubang jarum dan tikus. Pengumpulan data variabel penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak 100 responden atau 100 orang petani kopi di Kabupaten Enrekang.

Faktor-faktor produksi yang akan dianalisis pengaruhnya terhadap produksi kopi adalah modal (X1), lahan (X2), tenaga kerja (X3) dan pupuk (X4), menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kopi. Berdasarkan data primer yang diperoleh melalui survey, wawancara dan observasi langsung di lapangan, data tersebut ditabulasi kemudian diolah dengan program SPSS 22, yang diperoleh untuk perhitungan regresi berganda.Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kopi di wilayah Enrekang disajikan Tabel Hasil diproses di SPSS. Modal (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi kopi, dengan nilai koefisien sebesar 0,254 yang berarti setiap kenaikannya sebesar 1%.

Variabel lahan (X2) menunjukkan nilai signifikan dengan nilai 7,209 dengan nilai karakteristik sebesar 0,000 yang berarti variabel β1 dengan variabel β1X3 < 0,05 berpengaruh negatif terhadap produksi kopi jika dilihat nilai signifikannya. dan variabel pupuk (X4) dengan nilai sebesar 1,157 artinya variabel β1X4 < 0,05 jika dilihat nilai signifikansinya tidak berpengaruh signifikan atau negatif terhadap produksi kopi dengan nilai signifikansi sebesar 0,250.

Tabel 4.9 Rekapitulasi Hasil Uji Regresi Nilai Berganda variabel Produksi
Tabel 4.9 Rekapitulasi Hasil Uji Regresi Nilai Berganda variabel Produksi

Interpretasi atau Pembahasan

  • Pengaruh Modal Terhadap Produk
  • Pengaruh Luas Lahan Terhadap Produksi Kopi
  • Pengaruh Tenaga Kerja Terhadap Produksi Kopi
  • Pengaruh Pupuk Terhadap Produksi Kopi …

Semakin besar modal yang dimiliki petani maka semakin besar pula jumlah kopi yang dihasilkan. Hasil regresi menunjukkan bahwa tenaga kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi kopi di Kabupaten Enrekang dengan koefisien regresi sebesar 0,109 dengan nilai signifikan sebesar 0,121 lebih besar dari 5% sehingga perhitungan variabel tenaga kerja memberikan hasil bahwa variabel X3 berbanding terbalik atau negatif dengan jumlah produksi kopi. Semakin banyak tenaga kerja yang dimiliki seorang petani maka produksi kopinya akan semakin besar, dan sebaliknya semakin sedikit tenaga kerjanya maka produksi kopinya akan semakin besar.

Pada penelitian ini ditemukan jenis pupuk yang digunakan responden berbeda-beda pada respon kuisioner yang diberikan penulis, sehingga data variabel pupuk yang diperoleh menghasilkan hasil regresi yang tidak signifikan terhadap produksi kopi di kabupaten Enrekang. Artinya semakin banyak lahan yang ditanami kopi maka akan mendorong penanaman tanaman kopi semakin banyak sehingga produksi kopi semakin meningkat. Semakin sedikit pekerja yang membantu mengolah perkebunan kopi, semakin kecil pula peluang untuk meningkatkan produksi kopi.

Artinya penggunaan pupuk yang tidak efisien tidak akan meningkatkan produksi kopi dan mencapai hasil yang lebih baik.

PENUTUP

Kesimpulan

Artinya semakin besar modal yang dikeluarkan petani akan mendorong petani untuk memperbanyak jumlah benih kopi dan membiayai faktor produksi lainnya sehingga produksi kopi terus meningkat. Artinya, semakin sedikit waktu yang Anda habiskan untuk menanam tanaman kopi, maka hasilnya akan melebihi ekspektasi.

Saran

Agar semua itu terwujud, tentunya harus ada komunikasi antara petani dan pemerintah daerah setempat, khususnya instansi terkait seperti Dinas Pertanian dan Perkebunan di Kabupaten Enrekang dan Provinsi Sulawesi Selatan. Budidaya kopi dan pasca panen. http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/wp/content/uploads/2012/08/per. Teknologi perakitan untuk meningkatkan produksi dan kualitas produk perkebunan kopi populer. http://perkebunan.litbang.go.id/wp-content/upload/2013/11/perkebunan-rilahan.Rubiyo.pdf.

Pendugaan fungsi keuntungan dan skala usahatani pada usahatani kopi rakyat di Lampung, Balai Penelitian Agro Ekonomi, Bogor. Statistik teori dan aplikasi, bagian 1. Budidaya kopi dan pasca panen. http://www.starfarmagris.co.cc/2009/06/pengolahanpasca-panen-kopi.html). Adakah kebijakan pemerintah yang mendukung petani kopi menggarap perkebunan kopi rakyat di Enrekang?

Apa saran anda kepada pemerintah atau instansi terkait untuk kemajuan pertanian khususnya pengembangan perkebunan kopi rakyat di Enrekang.

Gambar

Gambar 3.1 Kerangka Pikir Analisis Faktor Produksi Biji Kopi
Grafik 4.1 Nilai produksi, luas areal, dan jumlah  petani
Tabel  4.6  di  bawah  ini  merupakan  distribusi  responden  (petani  kopi)  berdasarkan luas lahan yang dimiliki petani di Kabupaten Enrekang
Tabel 4.9 Rekapitulasi Hasil Uji Regresi Nilai Berganda variabel Produksi
+3

Referensi

Dokumen terkait

Simatupang: Analisis Efisiensi Produksi Pertanian Kopi Oleh Petani Penggarap Di Kabupaten Dairi, 2001... Simatupang: Analisis Efisiensi Produksi Pertanian Kopi Oleh Petani Penggarap

Penelitian ini bertujuan: (1)Untuk mengetahui pengaruh luas lahan terhadap produksi tanaman kopi,(2) Untuk mengetahui pengaruh modal terhadap produksi tanaman kopi,(3) Untuk

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti-bukti empiris tentang tingkat efisiensi, skala produksi, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi kopi rakyat,

Pokok permasalahan yang diambil pada penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh modal dan tenaga kerja terhadap produksi kopi rakyat, serta bagaimana kelayakan

Faktor-faktor tersebut diduga berpengaruh dalam produksi kopi, Setelah dilakukan pendugaan faktor-faktor produksi kopi Robusta, maka akan dilakukan pengolahan dan analisis

Faktor-faktor tersebut diduga berpengaruh dalam produksi kopi, Setelah dilakukan pendugaan faktor-faktor produksi kopi Robusta, maka akan dilakukan pengolahan dan analisis

empat variabel bebas yaitu luas lahan, harga jual, hasil produksi, dan biaya produksi berpengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan petani, sedangkan secara parsial

Dari hasil uji parsial menunjukan bahwa variabel yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani kopi yaitu variabel luas lahan dan upah tenaga kerja, sedangkan harga