Selain itu, keberadaan syariat Islam juga dapat menghapuskan adat kagum yang ada pada masyarakat desa Garahan dan masih berlangsung serta menjadi budaya. Namun hingga saat ini undang-undang mengemis tersebut belum mampu membawa perubahan positif dan menjadi solusi terhadap budaya kagum di desa Garahan karena ada beberapa faktor yang mendukung budaya kagum tersebut. Aktivitas para pelaku “hebat” (baik relawan pemandu lalu lintas maupun pengemis) berkembang secara alami dan melalui pemikiran rasional.
Pendidikan pelaku “kagum” umumnya rendah, sebagian besar hanya tamat SD, dan ada pula yang tidak tamat SD. Kendala yang dihadapi para pelaku awe adalah tidak adanya modal usaha, sikap pengemudi yang suka memberi, dan rasa iri warga sekitar terhadap kesuksesan artis awe di hari-hari besar.
Sistematika Pembahasan
Penghidupan adalah pekerjaan yang menjadi dasar penghidupan (abu atau pokok), pekerjaan utama/penghidupan yang dilakukan untuk pengeluaran sehari-hari. Dengan kata lain, sistem penghidupan adalah suatu cara yang dilakukan oleh sekelompok orang sebagai kegiatan sehari-hari untuk memenuhi kehidupannya dan menjadi sumber penghidupan utama bagi mereka.
PENDAHULUAN
KAJIAN PUSTAKA
METODE PENELITIAN
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA
Kajian Teori
- Faktor-faktor mengemis
- Pola mengemis
- Hukum Islam tentang Mengemis
Salah satu faktor yang mempengaruhi mengemis atau menjadi pengemis adalah kemiskinan. Pengemis anak adalah orang yang mengemis di muka umum dengan menggunakan anak, baik anak kandung maupun anak asuh, untuk mendapatkan rasa kasihan orang lain. Artinya: Barang siapa yang meminta hartanya kepada manusia agar hartanya bertambah, maka sesungguhnya dia hanya meminta untuk membakar batu bara.
Artinya: Siapa yang meminta-minta kepada orang lain secara sia-sia, ibarat makan bara api. 16. Itulah beberapa dalil hadis Nabi yang melarang meminta-minta atau mencari sumbangan untuk keperluan pribadi atau keluarga. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ada keadaan-keadaan tertentu yang membolehkan seseorang meminta-minta atau meminta-minta.
Apabila seseorang menanggung beban diyat (denda) atau membayar balik hutang orang lain, dia boleh meminta-minta sehingga melunaskannya dan kemudian berhenti. Apabila seseorang mengalami kemalangan yang memakan semua hartanya, dia boleh meminta-minta sehingga dia mendapat bantuan hidup. Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali salah seorang dari tiga orang: Seseorang yang menanggung beban (hutang orang lain, diyat/denda), dia boleh meminta-minta sehingga dia membayarnya, kemudian berhenti.
Dan seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kalangan kaumnya yang berkata: si fulan ditimpa kesengsaraan hidup, dia boleh meminta-minta sehingga dia mendapat nafkah hidup.
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Metode ini bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta atau karakteristik suatu populasi atau bidang tertentu secara faktual. Penelitian ini menafsirkan dan menjelaskan data mengenai situasi yang sedang terjadi di masyarakat, konflik antara 2 situasi atau lebih, hubungan antar variabel, perbedaan fakta, pengaruh terhadap suatu kondisi, dan metode deskriptif ini juga bertujuan untuk menggambarkan sifat dari sesuatu yang terjadi. tempat pada saat itu dilakukan dan untuk menyelidiki penyebab gejala tertentu. 4 Hasil wawancara dengan Herman, salah satu warga Garahan yang bekerja sebagai pengagum di Gunung Gumitir.
Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. 5. Data primer juga merupakan data dasar hasil penelitian individu, kelompok, dan organisasi. 6. Sumber data primer penelitian ini meliputi data yang diperoleh langsung melalui penelitian di lapangan dengan melakukan wawancara kepada masyarakat, tokoh masyarakat yang terlibat dalam permasalahan yang diteliti peneliti. Sumber data sekunder dalam penelitian ini meliputi data-data yang berkaitan dengan profesi kekaguman peminjaman anak sebagai sarana penghidupan, serta berbagai temuan penelitian yang mempunyai objek kajian serupa.
Bagian ini menjelaskan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Peneliti akan mengumpulkan data dengan menggunakan teknik wawancara ini kepada masyarakat desa Garahan kecamatan Silo kabupaten Jember dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan masalah yang diteliti dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah disiapkan oleh peneliti. Pentingnya penggunaan metode wawancara dalam proses pengumpulan data adalah untuk memudahkan peneliti mengungkap permasalahan yang diperlukan dengan menggunakan media tertentu seperti alat perekam, kekuatan ingatan, dan lain-lain.
Pentingnya dokumentasi dalam penelitian kualitatif menjadikan data yang diperoleh dari observasi dan wawancara lebih kredibel atau dapat diandalkan jika didukung dengan dokumen-dokumen yang ada dari lembaga yang diteliti.
Tekhnik Analisis Data
- Profil Umum Gunung Gumitir a. Sejarah Gunung Gumitir
- Perekonomian Masyarakat Desa Garahan
- Kondisi Sosial Dan Budaya Desa Garahan
- Kondisi Keagamaan Desa Garahan
Awal mula rasa kagum ini bermula pada zaman nenek moyang desa Garahan sendiri, setelah zaman penjajahan Belanda. Sehingga sampai saat ini Desa Garahan dikenal dikalangan masyarakat luas bahkan secara nasional sebagai daerah yang menakjubkan.3. Tingkat pendidikan masyarakat desa Garahan digolongkan menjadi dua jenis, yaitu tingkat pendidikan formal dan pendidikan nonformal.
Data di atas menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di Desa Garahan telah tamat Sekolah Dasar yaitu sebanyak 2763 jiwa. Selain pendidikan formal, di desa Garahan juga terdapat pendidikan nonformal seperti pengajian dan pesantren.7. Di desa Garahan juga terdapat beberapa lembaga pendidikan, baik lembaga pendidikan formal maupun nonformal.
Penduduk desa Garahan mempunyai berbagai pekerjaan yang menjadi sumber pendapatan, diantaranya ada yang berprofesi sebagai petani, buruh tani, PNS, pegawai swasta, guru, pedagang, pensiunan, wiraswasta dan pengemis. Dengan banyaknya masyarakat yang bekerja sebagai petani/pekebun, maka status perekonomian warga Desa Garahan dapat dikatakan sedang hingga rendah. Dalam kehidupan bermasyarakat warga Desa Garahan merupakan masyarakat yang senang berdiskusi, baik permasalahan desa maupun kemasyarakatan maupun pribadi, selain itu mereka juga merupakan masyarakat yang ramah, mempunyai rasa solidaritas yang tinggi dan senang bekerja sama.
Fasilitas tempat ibadah di desa Garahan antara lain masjid dengan 8 bangunan dan musala atau langgar dengan 20 bangunan.
Penyajian Data dan Analisis
- Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengemis Pada Masyarakat Garahan
- Pola Mengemis Dengan Meminjam Anak Sebagai Mata Pencaharian
- Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pengemis di Masyarakat Garahan
Hal ini terbukti dengan masih banyaknya masyarakat yang masih bekerja di desa Garahan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Selain faktor tradisi tawuran, ada pula faktor yang mempengaruhi penerapan hukum Islam mengenai haramnya mengemis, yaitu faktor ekonomi. Faktor kekaguman ini dikarenakan permasalahan ekonomi, Desa Garahan merupakan daerah yang dingin dan terletak di perbukitan dan pegunungan.
Mendominasi masyarakat Garahan yang lulusan sekolah dasar sehingga generasi muda kesulitan mencari pekerjaan. Faktor-faktor tersebut di atas pada akhirnya menjadi faktor yang mempengaruhi penerapan larangan rasa takut. Hal serupa juga disampaikan oleh Ibu Wahyuni, ibu penakut yang sudah lama mengabdi di Gunung Gumitir.
Biasanya bayi-bayi yang dibawa kekaguman di Gunung Gumitir adalah anak-anak kontrakan. Hasil wawancara dan observasi tersebut di atas pada akhirnya menjadi pola pelaksanaan awe. Terlebih lagi, aktivitas kekaguman tersebut telah berubah menjadi sebuah profesi untuk pengayaan, sebuah fenomena yang telah lama menjadi tradisi di masyarakat Garahan. Apalagi kawasan Garahan memang sudah terkenal dengan julukan kagum.
Landasan hukum yang dijadikan landasan hukum Islam diambil dari beberapa kitab hadis Nabi yang memberikan penjelasan tentang larangan rasa kagum.
يف اورصحأ نيذلا ءارقفلل لهاجلا مهبسحي ضرلأا يف ابرض نوعيطتسي لا للها ليبس
Berikut adalah prinsip-prinsip syariat Islam yang dijadikan asas larangan meminta-minta dan terdapat dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 2: 273.
افاحلاإ سانلا نولأسيلا مهاميسب مهفرعت فّفعتلا نمءاينغأ ّنإف ريخ نم اوقفنت امو ۗ
للها.ميلع هب
Barangsiapa meminta hartanya kepada orang lain guna menambah hartanya, maka sesungguhnya dia hanya meminta bara api. Pasalnya, selain melanggar dosa, tindakan tersebut juga dinilai mencemari perbuatan baik dan mencabut hak masyarakat miskin yang memang membutuhkan pertolongan. Bahkan, merusak citra baik orang miskin yang tidak mau mengemis dan orang yang cinta kebajikan.
“Mengemis dengan berpura-pura dan menipu tidak diperbolehkan dalam Islam karena tindakan tersebut dianggap perbuatan buruk dan merampas hak-hak orang miskin yang sangat membutuhkan pertolongan.”
لا موي يتأي ىَتح ،سانلا لأسي لجرلا لاز اممحل ةعزم ههجو يف سيل ةمايق
دب لا رمأ يف وأ ان اطلس لجرلا .لأسي نأ َلاإ ،ههجو لجرلا اهب َدكي َدك ةلئسملا .هنم
- Pembahasan Temuan
- Faktor-faktor yang Mempengaruhi Munculnya Pengemis Pada Masyarakat Garahan
- Pola Pengemis dengan Meminjam Anak Sebagai Mata Pencaharian
- Bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap Pengemis di Masyarakat Garahan
- Kesimpulan
- Saran-saran
- Penutup
Berdasarkan hasil yang peneliti peroleh ketika melakukan penelitian, terdapat beberapa faktor lain yang membuat masyarakat Desa Garahan tetap mempertahankan profesi mengemis sebagai profesinya untuk mencari keuntungan. Tradisi mengemis ini sudah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka, disebabkan oleh ajaran antara lain bahwa mengemis bukanlah suatu pekerjaan yang hina, dengan mengemis kita bisa mendapatkan uang yang banyak tanpa harus bekerja keras, mengemis juga tidak dilarang. agama karena meminta – meminta dengan ikhlas dan tidak memaksa. Masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi dan kerugian harta benda yang cukup besar memerlukan bantuan orang lain.
Pengemis adalah orang-orang yang biasanya berasal dari golongan bawah yang kesehariannya meminta uang di muka umum. Saat ini, mengemis bukan lagi menjadi fenomena sosial bagi masyarakat yang kurang mampu, namun sudah menjadi sumber penghidupan sebagian masyarakat. Mulai dari menarik simpati orang lain dengan membuat rasa kasihan dan lain sebagainya.
Untuk menarik simpati pengendara, ada pula yang menggendong bayi, karena dengan menggendong dan menggendong bayi maka orang yang melihatnya akan lebih merasa. Al-Hafiz Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: “Perkataan Al-Bukhari (bab Menjaga diri dari meminta-minta) berarti meminta sesuatu selain untuk kemaslahatan agama.” Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain tanpa keperluan, maka ia seperti memakan bara api.”
Sekalipun dengan cara menipu atau membohongi orang lain atau lembaga tertentu yang dimintai sumbangan, dengan berpura-pura bahwa mereka sedang mengalami kesulitan keuangan, atau sangat membutuhkan biaya sekolah anak atau perawatan dan pengobatan keluarganya yang sakit, atau untuk membayar. demi uang, kegiatan tertentu, maka hukumnya haram dan dosa besar. Sekalipun cara tersebut dilakukan dengan cara menipu atau membohongi orang yang dimintai uang, dengan berpura-pura bahwa dia adalah orang yang mengalami kesulitan keuangan, atau sangat membutuhkan biaya sekolah anak, perawatan dan pengobatan keluarganya yang sakit, atau untuk membiayai hal-hal tertentu. kegiatannya, maka haram dan dosa besar. Apabila seseorang menderita kemiskinan yang sangat berat sehingga disaksikan oleh 3 orang cerdas dari kaumnya bahwa ia menderita kemiskinan, maka halal baginya untuk mengemis hingga ia mendapat nafkah untuk hidupnya.