1
ANALISIS KAPASITAS DUKUNG DAN PENURUNAN TIANG PANCANG
(Studi Kasus : Pembangunan Infrastruktur Fasilitas Green House)
ANALYSIS OF CAPACITY AND SETTLEMENT OF DRIVEN PILE (Case Study : Development of Green House Facility Infrastructure)
Haris Reza Kurniawan1 dan Ruwaida Zayadi2 Jurusan Teknik Sipil, Universitas Trisakti, Jakarta.
Email : [email protected]
ABSTRAK
Fondasi merupakan salah satu bagian yang penting dalam sebuah bangunan konstruksi. Fondasi memiliki fungsi sebagai meneruskan beban struktur yang terdapat di atasnya ke lapisan tanah yang berada di bawahnya.
Pada pembangunan Infrastruktur Fasilitas Green House yang dibangun pada tanah lempung akan menggunakan jenis pondasi tiang pancang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kapasitas dukung tiang pancang, penurunan tiang pancang tunggal dan kelompok serta menentukan waktu penurunan tiang pancang. Metode yang dipakai dalam perhitungan analisis kapasitas dukung tiang pancang tunggal adalah metode Terzaghi. Untuk perhitungan penurunan menggunakan metode Vesic Dalam penelitian ini data tanah yang digunakan yaitu data N SPT yang terdiri dari data tanah DB-1. Berdarakan hasil perhitungan variasi dimensi dengan diameter 0,4 m kedalaman 24 m, untuk kapasitas dukung (Qall) sebesar 867 kN. Penurunan yang terjadi sebesar 3,1 cm. perhitungan variasi dimensi dengan diameter 0,5 m kedalaman 22 m, untuk kapasitas dukung (Qall) sebesar 1000 kN. Penurunan yang terjadi sebesar 3,2 cm. perhitungan variasi dimensi dengan diameter 0,6 m kedalaman 20 m, untuk kapasitas dukung (Qall) sebesar 1087 kN. Penurunan yang terjadi sebesar 3,3 cm.
Kata kunci : Fondasi Tiang Pancang, Kapasitas Dukung, Penurunan.
ABSTRACT
The foundation is an important part of a building construction. The foundation has the function of transmitting the load of the structure above it to the soil layer below it. In the construction of the Green House Facility Infrastructure which is built on clay soil, it will use the type of pile foundation. The purpose of this study was to analyze the bearing capacity of piles, settlement of single piles and groups and determine the time of pile settlement. The method used in the calculation of the single pile bearing capacity analysis is the Terzaghi method. For the calculation of settlement using the Vesic method. In this study, the soil data used was N SPT data consisting of DB-1 soil data. Based on the calculation results of dimensional variations with a diameter of 0.4 m, a depth of 24 m, for a bearing capacity (Qall) of 867 kN. The decrease that occurred was 3.1 cm. calculation of dimensional variations with a diameter of 0.5 m and a depth of 22 m, for a bearing capacity (Qall) of 1000 kN. The decrease that occurred was 3.2 cm. calculation of dimensional variations with a diameter of 0.6 m and a depth of 20 m, for a bearing capacity (Qall) of 1087 kN. The decrease that occurred was 3.3 cm.
Keywords : Pile Foundation, Pile Bearing Capacity, Pile Settlement.
A. PENDAHULUAN
Fondasi adalah struktur dasar suatu bangunan dan mempunyai fungsi untuk memindahkan beban struktur diatasnya ke lapisan tanah dibawahnya. Sebagai fondasi bangunan bawah, fondasi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu fondasi dangkal (shallow foundation) dan fondasi dalam (deep foundation). Selama proses
ini, pemilihan jenis fondasi tergantung pada jenis bangunan atas, apakah konstruksinya ringan atau berat, dan juga pada jenis tanahnya. Jika tanah tidak dapat menahan beban fondasi atau daya dukungnya kecil maka akan menyebabkan penurunan yang berlebihan atau keruntuhan tanah.
HARIS REZA KURNIAWAN.
2
Saat merencanakan fondasi, data survei tanah diperlukan untuk mengetahui kondisi tanah di lokasi konstruksi atau daya dukung tanah. Daya dukung adalah kemampuan tanah di bawah dan di sekitar pondasi untuk menahan beban yang bekerja pada bangunan atas. Daya dukung fondasi dalam dan ukuran penurunan fondasi dapat dihitung berdasarkan data tanah dari uji laboratorium.B. STUDI PUSTAKA 1. Fondasi Tiang Pancang
Fondasi tiang adalah komponen bangunan yang terbuat dari kayu, beton dan/atau baja yang digunakan untuk memindahkan beban permukaan ke permukaan yang lebih rendah dalam massa tanah. (Bowles, 1977).
Menurut cara pemindahan beban tiang pancang dibagi sebagai berikut :
a. End Bearing Pile, yaitu tiang akan mencapai tanah keras melalui tahanan ujung tiang untuk meneruskan beban sampai ke lapisan tanah keras.
b. Friction Pile, yaitu tiang yang daya dukungnya ditentukan oleh tahanan gesek antara dinding tiang dengan tanah di sekitar tiang.
2. Kapasitas Dukung Berdasarkan Hasil N SPT
• Kapasitas dukung selimut tiang pada tanah kohesif :
𝑄𝑠 = 𝛼 𝑥 𝐶𝑢 𝑥 𝑃 𝑥 𝐿𝑖
• Kapasitas dukung ujung tiang pada tanah kohesif :
𝑄𝑝= 9 𝑥 𝐶𝑢 𝑥 𝐴𝑝
• Kapasitas dukung selimut tiang pada tanah non kohesif :
𝑄𝑠 = 2 𝑥 𝑁𝑆𝑃𝑇 𝑥 𝑃 𝑥 𝐿𝑖
• Kapasitas dukung ujung tiang pada tanah non kohesif :
𝑄𝑝= 40 𝑥 𝑁𝑆𝑃𝑇 𝑥 𝐿𝐷𝑖 𝑥 𝐴𝑝 ≤ 400 𝑥 𝑁𝑆𝑃𝑇 𝑥 𝐴𝑝
3. Penuurunan Tiang Penurunan Tiang Tunggal 𝑆 = 𝑆1+ 𝑆2+ 𝑆3 Dimana :
S = Penurunan tiang total S1 = Penurunan batang
S2 = Penurunan akibat beban di ujung tiang
S3 = Penurunan tiang akibat beban yang tersalur sepanjang tiang
• Menentukan S1
𝑆1= (𝑄𝑝 + ξ Qs) 𝑥 𝐿 𝐴𝑝 𝑥 𝐸𝑝 Dimana :
Qs = Daya dukung selimut tiang Qp = Daya dukung ujung tiang ξ = Koefisien dari skin friction Ap = Luas penampang tiang Ep = Modulus elastisitas tiang L = Panjang tiang
Nilai ξ tergantung pada unit tahanan gesek alami tiang yang didorong ke tanah. Untuk bentuk elemen tahanan gesek alami adalah seragam atau simetris, seperti persegi panjang seragam atau parabola, umumnya pada tanah liat atau lanau, nilainya = 0,5.
Sedangkan untuk pasir, nilai satuan tahanan imajiner alam = 0,67 berbentuk segitiga. (Muhshi, Putra dan Nugroho 2020)
• Menentukan S2
𝑆2= 𝑄𝑝 𝑥 𝐶𝑝 𝐷 𝑥 𝑞𝑝 𝑞𝑝 = 𝑄𝑝
𝐴𝑝 Dimana :
Cp = Koefisien empiris qp = Kapasitas dukung ujung
persatuan luas
Gambar 1 Jenis distribusi tahanan kulit sepanjang tiang
(sumber : Bowles, 1977)
Jenis Tanah Tiang Pancang Tiang Bor Pasir 0.02 – 0.04 0.09 – 0.18 Lempung 0.02 - 0.03 0.03 - 0.06 Lanau 0.03 – 0.05 0.09 - 0.12 Tabel 1 Nilai koefisien Cp
3
• Menentukan S3
𝑆3= 𝑄𝑠 𝑥 𝐶𝑠 𝐿 𝑥 𝑞𝑝
𝐶𝑠 = (0.93 + 0.16 √𝐿
𝐷) 𝑥 𝐶𝑝 Dimana :
Cs = Konstanta empiris C. METODE
Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder. Dalam pengolahan dan analisis data penelitian dilakukan dengan aplikasi AutoCAD, Microsoft Excel, dan ETABS.
D. HASIL PEMBAHASAN 1. Data Tanah
Dalam kegiatan perencanaan atau desain, data tanah mempunyai peranan penting. Data tanah digunakan untuk mempelajari karakteristik tanah secara detail. Dalam menentukan kekuatan tanah penelitian ini dilakukan pengumpulan data secara sekunder berupa data hasil test Standard Penetration Test (SPT) yang diambil pada 2 titik pada lokasi proyek pembangunan Infrastruktur fasilitas Green House. Metode pengujian in-situ merupakan metode pengujian yang sangat umum digunakan untuk eksplorasi geoteknik.
Pada boring log DB-1, muka air tanah berada di titik 0 meter atau berada di permukaan tanah dimana pada lapisan tersebut tanah berjenis lempung kelanauan.
2. Data Struktur
Pada penelitian ini pemodelan pada perancangan fondasi dilakukan dengan
program ETABS. Pemodelan digunakan untuk menghasilkan respon gaya aksial pada masing masing titik yang sudah dimodelkan dengan jumlah total 261 tiang dengan jarak antar tiang sebesar 6 meter.
Struktur atas yang ditinjau pada bangunan ini diantaranya yaitu kolom, balok, dan pelat.
Hasil output yang didapat dari aplikasi ETABS diperoleh dari gaya – gaya dalam akibat kombinasi dan pada penelitian ini digunakan beban yang terbesar yaitu :
(P) = 780 kN
= 780 𝑥 4 = 3120 𝑘𝑁 Hasil beban yang didapat dari hasil permodelan ETABS dikali 4, dikarenakan jumlah lantai yang terdapat di proyek yaitu sebanyak 4 lantai. Sehingga didapat beban kolom ditampung dapat disesuaikan.
3. Kapasitas Dukung Tiang Tunggal Pada DB-1
Perhitungan kapasitas dukung tiang pancang didasarkan dari data hasil N SPT.
Berikut contoh perhitungan daya dukung pada tanah kohesif di kedalaman 24 m dengan dimensi 0,4 m.
• Menghitung tahanan selimut tiang Diameter = 0,4 m
= 400 mm
NSPT = 26 Li = 2 m p = π x D = π x 0,4 = 1,257 m
= 1257 mm
Ap = π
4 𝑥 𝐷2
= π
4 𝑥 0.42
= 0,1257 m2 = 1257 cm2 Cu = 2
3 𝑥 10 𝑥 𝑁𝑆𝑃𝑇
= 2
3 𝑥 10 𝑥26
= 173,33 kN/m2
α = 0,5
Untuk mendapatkan nilai daya dukung tiang aksial pada tahanan geser selimut tiang maka dapat menggunakan persamaan :
(sumber : Vesic, 1977)
Kedalaman (m) Deskripsi Tanah 0.00 -9.00 Lempung kelanauan, berwarna merah.
9.00 - 13.00 Lempung kelanauan, berwarna merah kecoklatan.
13.00 - 19.00 Lanau kelempungan, berwarna abu-abu.
19.00 - 25.00 Lanau kelempungan, berwarna abu-abu.
25.00 - 30.00 Pasir kasar mengandung gravep
Tabel 2 Klasifikasi situs tanah DB-1
HARIS REZA KURNIAWAN.
4
Qs (14 m) = 𝑄𝑠(12𝑚)+ (α x 𝐶𝑢 𝑥 𝑝 𝑥 𝐿𝑖)= 518,237 +
(0,5 x 173,33 x 1,257 x 2) = 736,054 kN
Menghitung tahanan ujung tiang
Contoh perhitungan daya dukung pada tanah kohesif dikedalaman 14 m.N1 = 10 x D = 10 x 0,4 = 4 m N1 = 𝑁𝑆𝑃𝑇 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎
𝑛
= 10+7+26
3
= 14,333
N2 = 4 x D = 4 x 0.4 = 1.6 m N2 = 𝑁𝑆𝑃𝑇 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎
𝑛
= 50+16
2
= 33
NSPT rata-rata = 𝑁1+𝑁2
2
= 14,333+33
2
= 23,667
Untuk mendapatkan nilai daya dukung tiang aksial pada tahanan geser selimut tiang maka dapat menggunakan persamaan:
Qp = 9 x Cu x Ap
= 9 𝑥 173,33 𝑥 0,126 = 196,035 kN
Qu = Qp + Qs
= 736,054 + 376,991 = 1113,05 kN
Qall = 𝑄𝑢
𝐹𝑆 = 1113,05
3
= 371,015 kN
4. Penurunan Tiang Pada DB-1
Contoh perhitungan penurunan pada diameter 0,4 m di kedalaman 24 meter :
Diameter = 0,4 m
= 400 mm 𝑓𝑐′ = 30 MPa Ep = 4700 √fc'
= 4700 √30
= 25742,96 MPa p = π x 𝐷
= π x 0,4
= 1,257 m
= 1257 mm
Ap = π
4 𝑥 𝐷2
= π
4 𝑥 0,42
= 0,12566 m2
= 125664 mm2
L = 24 m
= 24000 mm Qs = 2361,30 kN
= 2361304,81 N Qp = 286,51 kN
= 286513,25 N Qu = 2600,484 kN
= 2600484,735 N Menghitung nilai S1 dengan persamaan : S1 = (𝑄𝑝+𝜉 𝑄𝑠)𝑥 𝐿
𝐴𝑝 𝑥 𝐸𝑝
ξ = 0.5
S1 = (286513,25 +(0,5 𝑥 2361304,81 ) 𝑥 24000 125664 𝑥 25742,9602
= 10,885 mm
Menghitung nilai S2 dengan persamaan : S2 = 𝑄𝑝 𝑥 𝐶𝑝
𝐷 𝑥 𝑞𝑝
qp = 𝑄𝑝
𝐴𝑝
= 286513,25
125664
= 2,28 N/mm2 Cp = 0.05 Gambar 3 Kurva Qu vs Kedalaman
Gambar 2 Kurva Qall vs Kedalaman
5
S2 =400 𝑥 2,28
= 15,708 mm
Menghitung nilai S3 dengan persamaan:
S3 = 𝑄𝑠 𝑥 𝐶𝑠
𝐿 𝑥 𝑞𝑝
Cs = (0.93 + 0.16√𝐿
𝐷) 𝑥 𝐶𝑝
= (0.93 + 0.16√24000400 ) 𝑥 0,05
= 0,1084667
S3 = 2361304,81 𝑥 0,1084667 24000 𝑥 2,28
= 4,681 mm
Untuk menghitung nilai S dapat menggunakan persamaan (2-13) :
S = S1 + S2 + S3
= 10,885 + 15,708 + 4,681
= 31,273 mm
Maka berdasarkan dari hasil perhitungan analisis penurunan berdasarkan data tanah DB-1, penurunan yang terjadi pada diameter 0,4 meter kedalaman 24 meter sebesar 31,273 mm.
E. KESIMPULAN
Berdarasakan dari beberapa variasi dimensi yang dianalisis, pada diameter 0,4 m kedalaman 24 meter nilai kapasitas dukung sebesar 867 kN.
Pada diameter 0,5 dengan kedalaman 22 meter memiliki nilai kapasitas dukung sebesar 1000 kN. Pada diameter 0,6 dengan kedalaman 20 meter memiliki nilai kapasitas dukung sebesar 1087 kN.
Penurunan yang terjadi pada variasi diameter 0,4 m kedalaman 24 meter sebesar 3,1 cm. Pada diameter 0,5 m dengan kedalaman 22 meter nilai penurunan sebesar 3,2 cm. Pada diameter 0,6 m dengan kedalaman 20 meter nilai penurunan sebesar 3,3 cm.
REFERENSI
Crista, N. H., Widorini, T., & Purnijanto, B.
(2021). Analisis Perbandingan Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Tanah Lunak Dengan Metode Manual
Dan Elemen Hingga Sap 2000. Jurnal Ilmiah Teknosains, 7(2/Nov), 82–87.
Hardiyatmo, H. C. (2008). Teknik Fondasi 2.
Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 10–27.
Hardiyatno, H. C. (2002). Mekanika Tanah 1.
Wismantaraharjo, M. T., Gandi, S., & Sarie, F. (2020). Analisis Daya Dukung Dan Penurunan. Jurnal Teknika (Vol. 3).
Yani, D. S. (2021). Menghitung Daya Dukung Tiang Pancang Pada Gedung Perkantoran Menggunakan Data SPT dan Sondir Dengan Metode Decourt- Quaresma 1982, Mayerhoff 1956, Schmertmann 1975 dan LCPC 1982, 1–
96.
Tabel 3 Penurunan Tiang Tunggal DB-1
Diameter (mm) 400 500 600
Kedalaman (m) 24 22 20
S1 (mm) 10,885 7,865 5,531
S2 (mm) 15,708 19,635 23,562
S3 (mm) 4,681 4,280 4,289
S (mm) 31,273 31,78 33,382
S (m) 3,1 x 10-2 3,2 x 10-2 3,3 x 10-2