i ANALISIS KEUANGAN DAN KELAYAKAN USAHA
PRODUK MANISAN JAHE (JAKWI) DI KOTA BENGKULU
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)
OLEH:
YUNI MULIANA NIM 1811140025
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI FATMAWATI
SUKARNO (UINFAS) BENGKULU BENGKULU, 2022 M/ 1443 H
ii
iii
iv
v
vi
MOTTO
"Belajar dari kegagalan adalah hal yang bijak."
“Jangan mundur sebelum mencoba, Beban berat itu hanya ada pada pikiran. Coba dulu nanti akan terbiasa.”
(Yuni Muliana)
vii
PERSEMBAHAN
Yang paling utama dari segalanya,,
Terima kasih kepada Allah SWT atas segala rahmat karunia dan hidayah yang telah diberikan kepada penulis sehingga diberikan kekuatan, kemudahan, petunjuk serta karunia yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang dirasa tidak mudah ini. Sholawat serta salam selalu terlimpahkan kepada baginda Rasulullah SAW.
Tugas akhir ini dipersembahkan kepada orang-orang yang selama ini telah ikut serta membantu dalam pengerjaan Tugas Akhir ini. Atas Dukungan dan Doa yang telah diberikan, Oleh karena itu penulis ingin memberikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada orang-orang terbaik:
Kedua orang tua, bapak (Amsori) dan mamak (Ida Farida) terima kasih atas semua cinta, doa, motivasi dan semangat yang telah bapak dan mamak berikan kepada saya.
Kepada kakak dan adikku, Edi Sondari(Alm), Yudi Heri Yana, dan adikku Bunga Apriani yang selalu memberikan dukungan dan semangat untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini.
Ibu Herlina Yustati selaku Dosen Pembimbing II dan Ibu Dr. Desi Isnaini M.A, selaku Dosen Pembimbing I, penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
viii yang telah senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing saya menyelesaikan Tugas Akhir ini.
Teman-teman tercinta dari semasa kecil Sulastri, Sri Pertiwi Agesti dan Esmi Melinda yang selalu memberikan semangat dan setia mendengar keluh kesahku dalam menempuh pendidikan selama kuliah ini.
Untuk seseorang yang spesial dalam karirku telah menemani, menyemangati dan memberi menasehat kepadaku dalam menghadapi suka duka semasa duduk dibangku kuliah.
Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini
ix ABSTRAK
Analisis Keuangan dan Kelayakan Usaha Manisan Jahe (JAKWI) Di Kota Bengkulu
Oleh Yuni Muliana, NIM. 1811140025
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis seberapa besar biaya, pendapatan dan kelayakan usaha manisan jahe untuk dikembangkan. Data yang dibutuhkan untuk dianalisa terdiri dari data sekunder dan data primer. Analisis penelitian ini dilakukan melalui analisis Break Even Point (BEP) dan analisis Harga jual produk (HPP). Break Even Point adalah titik impas dari suatu usaha atau bisnis. Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa biaya total Usaha Manisan Jahe Rp. 1.
479.000. Penerimaan sebesar Rp. 4.000.000 perbulan sehingga pendapatan yang diperoleh Rp. 2.521.000 perbulan. Dan Usaha Manisan Jahe mencapai titik impas yaitu sebanyak 148 bungkus perbulan dan menjual seharga Rp. 4.000 dengan diperoleh BEP sebesar Rp. 4.000 sehingga dapat dikatakan usaha manisan jahe layak untuk dilanjutkan. Serta hasil penelitian perhitungan HPP dengan penjumlahan elemen biaya langsung, biaya tidak langsung, biaya overhead dan biaya tenaga kerja sebesar Rp.
7.400 dengan perjualan per satu produk Rp. 10.000 usaha manisan jahe memperoleh keuntungan sebesar Rp. 2.600 per pcs.
Kata Kunci : Kelayakan Manisan Jahe, Biaya dan Pendapatan
x KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan Penulisan Skripsi yang berjudul “Analisis Kelayakan Usaha Produk Manisan Jahe (JAKWI) Di Kota Bengkulu” Shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah berjuang untuk menyampaikan ajaran agama Islam sehingga umat Islam mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar selama di dunia dan di Akhirat.
Penyusunan Skripsi ini bertujuan untuk mengungkap masalah mengenai analisis kelayakan dalam suatu usaha, hal ini dilalui guna memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Syariah Jurusan Ekonomi Syariah pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UINFAS) Bengkulu
Dalam proses penyusunan tugas akhir ini, penulis telah banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Dengan demikian penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sangat besar kepada:
1. Bapak Dr. KH. Zulkarnain Dali, M.Pd selaku Rektor Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menimba ilmu di Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu.
xi 2. Dr. H. Supardi, M.A selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu yang telah memberikan kemudahan kepada kami selama masa perkuliahan.
3. Dr. Desi Isnaini, M.A. Selaku Pembimbing I, yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan mengenai tugas akhir pada penulisan skripsi ini.
4. Herlina Yustati, Selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, motivasi, semangat, dan arahan dengan penuh kesabaran.
5. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu yang telah mengajar dan membimbing serta memberikan berbagai ilmunya dengan penuh keikhlasan.
6. Staf dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu yang telah memberikan pelayanan dengan baik dalam hal administrasi.
Penulis menyadari dalam penulisan Skripsi ini masih banyak kekurangan, jadi setiap kritikan dan sarannya akan diterima dengan senang hati untuk memperbaiki Skripsi ini.
Bengkulu, 11 Februari 2022 10 Rajab 1443
Yuni Muliana
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
HALAMAN PERSETUJUAN ... i
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
MOTTO ... iii
PERSEMBAHAN ... iv
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Perumusan Masalah ... 9
C. Tujuan Program ... 9
D. Manfaat Program ... 9
E. Kegunaan Penelitian... 10
F. Luaran yang Diharapkan ... 11
G. Penelitian Terdahulu ... 11
H. Sistematika Penulisan ... 15
BAB II KAJIAN TEORI A. Analisa Kelayakan ... 17
B. Analisa Produk ... 19
C. Biaya dan Pendapatan ... 22
D. Analisis BEP (Break Even Point) ... 24
E. Analisa Kelayakan Usaha Manisan Jahe (JAKWI) . 27 BAB III METODE PELAKSANAAN A. Metode Pelaksanaan ... 37
B. Metode Alat Analisis Data ... 37
C. Aspek Legalitas Kelayakan Usaha ... 41
D. Lokasi Program ... 41
E. Anggaran Biaya ... 42
F. Proses Pembuatan ... 47
G. Proses Pemasaran ... 49
H. Jadwal Kegiatan ... 54
xiii BAB IV HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI
KEBERLANJUTAN
A. Hasil yang Dicapai Berdasarkan Luaran Program ... 56
1. Hasil Analisis Biaya dan Pendapatan Usaha Manisan Jahe (JAKWI)…...56
2. Hasil Analisis Kelayakan Usaha Manisan Jahe (JAKWI)...…………..58
B. Potenai Keberlanjutan Program………61
1. Aspek Masa Depan……….61
2. Potensi Keberlangsungan di Lingkungan………61
BAB V PENUTUP A. Evaluasi ... 63
B. Kesimpulan ... 63
C. Saran ... 64
DAFTAR PUSTAKA ... 66
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 70
xiv DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : DAFTAR GAMBAR
Lampiran 2 : SURAT KETERANGAN LULUS PLAGIASI
Lampiran 3 : LEMBAR BIMBINGAN PKM
Lampiran 4 : FORM PENGAJUAN JUDUL TUGAS AKHIR
Lampiran 5 : SURAT PENUNJUKAN SK PEMBIMBING
Lampiran 6 : HALAMAN PERSETUJUAN TUGAS AKHIR PKM
Lampiran 7 : SERTIFIKAT PENYULUHAN KEAMANAN PANGAN
Lampiran 8 : NOMOR INDUK BERUSAHA
Lampiran 9 : SERTIFIKAT PERIZINAN BERUSAHA SPP-IRT
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pertumbuhan ekonomi di masa globalisasi ditandai dengan semakin berkembangnya dunia usaha di segala bidang terutama pada bidang industri pangan. Untuk suatu negara yang berkembang seperti Indonesia, harus dituntut agar bisa menyesuaikan dan mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada serta mampu mengikuti roda perekonomian dunia sehingga bangsa Indonesia tidak tertinggal dari negara lain. Permasalahan yang sedang dihadapi saat ini adalah semakin cepatnya laju pertumbuhan penduduk, namun untuk penyediaan lapangan pekerjaan baik dari pemerintah maupun swasta sangat terbatas.
Semua orang dituntut untuk memiliki keahlian dan kemampuan supaya mampu bersaing di dunia kerja. Dampak buruk dari keterbatasan tersebut adalah semakin tingginya angka pengangguran akibat tidak mampu berkompetisi juga dikarenakan terbatasnya lapangan kerja yang tersedia. Salah satu usaha yang perlu dilakukan untuk memperluas lapangan pekerjaan adalah dengan mengembangkan sektor usaha baik dalam skala kecil maupun menengah. Pentingnya sektor industri baik pangan maupun non pangan di Indonesia adalah untuk memeratakan perekonomian penduduk dan untuk menunjang perkembangan sektor-sektor yang lain. Bidang industri pangan bisa menjadi
2 salah satu bidang yang potensial untuk diolah, karena kegiatan apapun yang dijalani tidak akan lepas dari kebutuhan makan dan buah tangan.
Untuk mengetahui kemajuan pertanian di Indonesia, tidak hanya sekedar memperlihatkan adanya peningkatan produktivitas, efisiensi dan daya saing produk-produk pertaniannya. Tetapi terikat dengan perkembangan lingkungan yang dinamis di dalam masyarakat taninya dan kondisi kemampuan masyarakat tani untuk menolong dirinya sendiri, agar dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya.1
Sa’id dan Intan mengutarakan bahwa sektor pertanian Indonesia merupakan suatu sistem yang kompleks karena melibatkan lebih dari 70% penduduk Indonesia sebagai produsen dan 100% penduduknya sebagai konsumen. Pelaksanaan pembangunan pertanian harus mampu meningkatkan keunggulan kompetitif berbagai komoditi potensial untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus untuk menjamin keberlanjutan pembangunan pertanian nasional.2
Kepala pusat kepatuhan, kerjasama, dan informasi perkarantinaan Badan Karantina Pertanian Sujarwanto mengatakan Bengkulu dalam sejarah tercatat dalam sejarah wilayah yang kaya akan rempah-rempah berkualitas, sebab itu bangsa eropa rela datang jauh-jauh ke Bengkulu. Dalam program
1Hafsah, Membangun Pertanian Sejahtera Demokratis dan Berkeadilan, (Jakarta: PT Pustaka Sianar Harapan, 2009), h. 1
2E. Gumbara Sa’id dan A. Haritz Intan, ”Manajemen Agribisnis”, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2001), h. 63.
3 agro gemilang (ayo gerakkan ekspor generasi milenial bangsa) yang dicanangkan, mengajak generasi milenial untuk ambil bagian menjadi petani muda sekaligus eksportir karena prospeknya sangat bagus.3
Program kreativitas mahasiswa (PKM) merupakan salah satu bentuk upaya yang ditempuh oleh direktorat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (DP2M), Dikjen Dikti dalam meningkatkan kualitas peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta memperkaya budaya nasional. Program keativitas mahasiswa pertama kali dilaksanakan pada tahun 2001, yaitu setelah dilaksanakannya program restrukturisasi di lingkungan Ditjen Dikti. Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang selama ini syarat dengan partisipasi aktif mahasiswa, diintegrasikan kedalam satu wahana yang diberi nama Program Kreativitas Mahasiswa.4
Program Kreativitas Mahasiswa dikembangkan untuk mengantar mahasiswa mengantar taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang baik. Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi
3Bengkuluinteraktif.com/special-bikes/, 19 Maret 2019, diakses pada 2/11/2022.
4Panduan Pengelolaan Program Hibah DP2M Ditjen Dikti 2006 – Edisi VII
4 pemimpin yang cendekiawan, kewirausahaan, mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggung jawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni.5
Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) merupakan inovasi untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam hal berwirausaha, yang sebagian besar didahului oleh survey pasar yang berorientasi pada laba, perlu ditegaskan disini bahwa pembinaan kemampuan usaha yang dimaksud adalah bagi mahasiswa yang mengajukan PKMK.
Mahasiswa yang mengusul sebagai wirausahaan dapat berkerja sama dengan masyarakat produktif.6
Desa Bogor Baru adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Desa ini bertempat diwilayah dataran tinggi perbukitan yang subur. Selain dikenal dengan pusat perkebunan Kota Kepahiang, Desa Bogor Baru juga merupakan daerah yang berada dekat dengan wisata perkebunan teh. Sektor pertanian dan pariwisata menjadi salah satu andalan sumber pendapatan asli daerah. Potensi pertanian yang ada di daerah ini cukup beragam, baik dari jenis tanaman sayuran, umbi-umbian dan obat-obatan.
Satu hasil pertanian diantaranya yaitu tanaman jahe.
5Panduan Pengelolaan Program Hibah DP2M Ditjen Dikti 2006 – Edisi VII, hal 331
6Panduan Pengelolaan Program Hibah DP2M Ditjen Dikti 2006 – Edisi VII, Hal 331
5 Tanaman jahe dikenal sebagai salah satu bumbu masakan atau juga sebagai bahan baku obat-obatan herbal. Tanaman jahe merupakan hasil tani yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Jahe juga merupakan tumbuhan yang sering digunakan sebagai bumbu rempah makanan dan juga bisa dimanfaatkan untuk bahan obat-obatan tradisional baik dalam bentuk pil kapsul maupun jamu dan ada pula yang mengolahnya menjadi permen jahe. Jahe tumbuh dengan baik di daerah tropis dan subtropics dengan ketinggian 0-2.000 m dpl. Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200-600 m dpl. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak jahe dapat meningkatkan daya tahan tubuh yang direfleksikan dalam sistem kekebalan dengan memberikan respon kekebalan inang terhadap mikroba yang masuk ke tubuh.7
Dengan melimpahnya tanaman jahe ini, tergeraklah suatu ide untuk membuka usaha yang berbahan dasar hasil tanaman jahe. Dari seorang petani jahe di Desa Bogor Baru mengatakan bahwa harga jahe pada awal tahun 2020 lalu tepatnya pada saat wabah Covid-19 mulai masuk di provinsi Bengkulu harga jahe mencapai Rp. 35.000 per kilogram untuk jahe putih dan kuning, dan Rp. 40.000 per kilogram untuk jahe merah. Namun setahun berlalu, harga jahe justru terjun bebas. Bahkan saat ini harga jahe
7Tim Lentera, Khasiat dan Manfaat Jahe Merah Sirimpang Ajaib (Gramedia, 2002), h. 29
6 dari para petani kepada tokeh hanya dihargai Rp. 8.000 per kilogram untuk jahe putih dan kuning.8
Rimpang jahe sering digunakan sebagai bahan bumbu dapur dalam memasak masakan tradisional. Selain dijadikan bumbu masakan, jahe merah mengandung beberapa senyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai bahan baku pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional dan lain sebagainya.9
Di Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong menghasilkan jahe sebanyak 4-6 ton per hektare. Pada saat wabah Covid-19 muncul, memberikan dampak ekonomi bagi petani jahe di Kepahiang. Awalnya harga jahe mencapai Rp. 35.000-Rp.
40.000 per kilo, akibat pandemi ini harga jahe naik, karena menjadi bahan obat tradisional yang dipercaya untuk kekebalan imun tubuh. Akibatnya pemerintah melakukan impor jahe, sehingga membuat jahe lokal bersaing dengan jahe impor.
Masyarakat juga berinisiatif untuk menanam sendiri jahe di rumah yang membuat hasil panen jahe di Kabupaten kepahiang menjadi tinggi, sehingga dampaknya harga jahe menurun di pasaran menjadi Rp. 4.000 - Rp. 8.000 per kilo.
Dengan jumlah jahe yang meningkat dan harga yang menurun, membuat penjualan jahe di pasar kurang baik.
8Rakyatbengkulu.com/2021/06/04/harga-jahe-terjun-bebas-dampak- kebijakan-pemerintah-impor-jahe/ diakses pada 2/11/2022.
9Gita Srihidiati, “Pemanfaatan Tanaman Jahe Merah Sebagai Produk Olahan Minuman Jahe Instan Dalm Meningkatkan Sistem Imun di Masa Pandemi Covid-19”, Jurnal Pengabdian Masyarakat 1 (2) 2021
7 Penurunan penjualan jahe, membuat kami berinisiatif untuk memanfaatkan jahe yang melimpah menjadi olahan yang memiliki nilai jual lebih dan tahan lama. Jika jahe terlalu lama di simpan, akan menurunkan kualitas atau rusaknya jahe itu. Jahe hanya bisa bertahan selama kurang lebih dua minggu. Kegiatan pengolahan tanaman jahe menjadi manisan jahe ini diharapkan dapat menjadi olahan makanan yang banyak diminati masyarakat.
Usaha manisan jahe terletak di Kota Bengkulu tepatnya di Sebakul Kecamatan Sumur Dewa Jl. Raden Fatah 11. RT. 52 RW. 03. Lokasi disana sangat memberikan keuntungan bagi pemilik usaha karena memilki banyak kos-kosan tempat tinggal mahasiswa dan lokasi tersebut sangat strategis berdekatan dengan kampus UINFAS Bengkulu dan tidak jauh dari pasar serta terdapat juga pusat penjualan oleh-oleh khas Bengkulu. Hal ini memudahkan untuk proses pemasaran karena sudah terlihat jelas target pasarnya.
Sebagai tokoh pelaku utama berwirausaha pada aktivitasnya akan selalu terlibat dalam proses pengambilan keputusan kedepan terkait investasi. Salah satu upaya untuk mengurangi resiko investasi dapat ditempuh melalui penyusunan studi kelayakan bisnis.
Studi kelayakan bisnis dilakukan untuk mengidentifikasi masalah dimasa yang akan datang, sehingga dapat meminimalkan kemungkinan-kemungkinan melesetnya hasil yang ingin dicapai
8 dalam suatu investasi usaha. Dengan kata lain, studi kelayakan bisnis akan memperhitungkan hal-hal yang akan menghambat atau peluang dari investasi yang akan dijalankan. Jadi, dengan adanya studi kelayakan bisnis minimal dapat memberikan pedoman atau arahan kepada usaha yang akan dijalankan nantinya.10
Kelayakan artinya penelitian yang dilakukan secara mendalam tersebut dilakukan untuk menentukan apakah usaha yang dijalankan akan memberi manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang akan dikeluarkan. Layak disini diartikan juga akan memberikan keuntungan. Keuntungan yang dimaksud adalah keuntungan finansial. Dengan demikian studi kelayakan bisnis akan dapat memberikan jawaban apakah usaha yang diteliti layak atau tidak untuk dijalankan.
Dalam menentukan layak atau tidaknya suatu usaha dapat dilihat dari berbagai aspek. Setiap aspek untuk dapat dikatakan layak harus memiliki suatu standar nilai tertentu, namun keputusan penilaian tak hanya dilakukan pada salah satu aspek saja. Penilaian untuk menentukan kelayakan harus didasarkan kepada seluruh aspek yang akan dinilai lainnya. Penilaian masing-masing aspek harus dinilai secara keseluruhan, aspek- aspek yang dinilai dalam studi kelayakan bisnis meliputi aspek legalitas, aspek biaya dan pendapatan, aspek pasar dan pemasaran, aspek keuangan, aspek teknis atau operasi, aspek
10Kasmir, Studi Kelayakan Bisnis: Edisi Revisi Seri Hukum Harta Kekayaan, (Jakarta, Prenada Media Grup, 2015), hall. 4.
9 manajemen, aspek ekonomi sosial dan aspek dampak lingkungan.11
Berdasarkan uraian singkat mengenai usaha manisan jahe yang telah disebutkan diatas, Oleh karena itu peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kelayakan Usaha Produk Manisan Jahe (JAKWI) Di Kota Bengkulu”
B. Perumusan Masalah
1. Berapa besar biaya dan pendapatan Usaha Manisan Jahe (JAKWI)
2. Apakah Usaha Manisan Jahe (JAKWI) layak untuk dikembangkan?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk melihat seberapa besar pendapatan Usaha Manisan Jahe (JAKWI)
2. Untuk menentukan apakah Usaha Manisan Jahe (JAKWI) layak untuk dikembangkan.
D. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan evaluasi usaha untuk menentukan arah jalan dan strategi dalam persaingan usaha manisan jahe.
2. Mengetahui kelayakan bisnis manisan jahe.
3. Sebagai bahan pertanggungjawaban dalam menjalankan usaha manisan jahe.
11Dedi Purwana dan Nurdin Hidayat, Studi Kelayakan Bisnis, (Depok:
PT Raja Wali Persada, 2016), hal. 20.
10 E. Kegunaan Penelitian
1. Bagi Penulis
Untuk mnerapkan teori ilmu bisnis yang sudah dipelajari pada proses perkuliahan, Produksi usaha manisan jahe dalam hal ini dapat mengetahui berbagai proses dan hambatan dalam membangun sebuah usaha.
Laporan usaha ini juga diharapkan dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan dan wawasan keilmuan dalam dunia bisnis/usaha, baik dalam ruang lingkup kampus maupun luar kampus.
2. Bagi Masyarakat
a. Program Kreatifitas Mahasiswa produksi manisan jahe ini diharapkan menjadi pedoman untuk masayarakat yang ingin membangun usaha dibidang holtikultura.
b. Terciptanya ekonomi yang kreatif dan inovatif.
c. Kelayakan usaha manisan jahe dapat membantu melestarikan budaya penggunaan rempah-rempah dalam kehidupan sehari-hari.
d. Bahan dasar produksi manisan jahe yaitu jhe merah memberikan manfaat kesehatan bagi masyarakat dalam meningkatkan imun didalam tubuh.
11 F. Luaran Yang Diharapkan
Menghasilkan produk manisan jahe yang memiliki banyak peminat dan mendapatkan nilai jual yang tinggi serta dapat bersaing dengan bisnis lain.
G. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu bertujuan untuk mendapatkan bahan perbandingan dan acuan. Selain itu, untuk menghindari anggapan kesamaan dengan penelitian ini. Maka dalam hal ini peneliti mencantumkan hasil-hasil penelitian terdahulu sebagai berikut:
1. Hasil penelitian Wan Junita Raflah, M. alkadri Perdana, dan Nurlaili Sari (2021)
Berdasarkan penelitian Wan Junita Raflah, M.
Alkadri Perdana, dan Nurlaili Sari, yang berjudul
“Analisis Kelayakan Usaha Rumah Industri Pengolahan Ikan Lomek Kering Pada Bumdes Kuala Alam Bengkalis”. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode deskriptif dan kuantitatif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui harga pokok produksi dan pendapatan pengolahan ikan lomek dan untuk mengetahui kelayakan usaha Rumah Industri Pengolahan Ikan Lomek Kering Bumdes Kuala Alam.
Metode analisis data penelitian ini dengan menggunakan pendapatan usaha dan analisis kelayakan usaha yang dihitung menggunakan R/C Ratio dan BEP sebagai
12 kontribusi kepada BUMDES Kuala Alam untuk sebagai pertimbangan rencana usaha pendirian rumah industri pengolahan ikan lomek kering.12
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa, Dari penelitian ini diketahui bahwa biaya total yang dikeluarkan sebesar Rp. 2.210.750. hasil produksi untuk 1 kali produksi adalah 70 kg dengan besar pendapatan Rp. 3.389.250 untuk satu kali produksi.
Kelayakan usaha dihitung menggunakan R/C ratio lebih besar dari 1 yaitu 2, 53. Sehingga dapat usaha pengolahan ikan lomek kering di Bumdes Kuala Alam Bengkalis menguntungkan sehingga layak untuk didirikan rumah industri. Break Even Point (BEP) Hasil penelitian menunjukkan bahwa BEP produksi usaha pengolahan Ikan Lomek Kering Di Bumdes Kuala Alam Bengkalis rata-rata sebesar 28 kg per produksi. Namun Hasil penelitian menunjukkan bahwa BEP harga usaha pengolahan Ikan Lomek Kering Di Bumdes Kuala Alam Bengkalis rata-rata sebesar 31.582 Rp/kg. Dapat disimpulkan bahwa usaha pengolahan Ikan Lomek
12Wan Juwita Raflah, “Analisis Kelayakan Usaha Rumah Industri Pengolahan Ikan Lomek Kering di Bumdes Kuala alam Bengkalis”, Seminar Nasional Industri dan Teknologi, 2021.
13 Kering Di Bumdes Kuala Alam Bengkalis tidak layak untuk tetap diusahakan.13
2. Hasil Penelitian Parama Tirta Wulandari (2012)
Menurut hasil penelitian Parama Tirta Wulandari pada tahun 2012 yang berjudul “Analisis Kelayakan Finansial Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) Nata De Coco di Sumedang, Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode studi kasus dan wawancara secara langsung dengan pemilik usaha. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial dalam membantu UKM Aneka Sari melihat kelayakan usaha pengembangan yang akan dijalankan. Metode Pengolahan data dilakukan dalam bentuk tabulasi, kemudian dianalisis secara matematis dengan merujuk pada aspek-aspek perhitungan Analisis kelayakan finansial, yaitu Break Even Point (BEP), Net Present Value (NPV), Payback Period, Incremental Rate of Return (IRR), dan Rasio B/C.3 Beberapa hal yang dikaji dan dalam analisis kelayakan finansial antara lain biaya investasi dan produksi, harga pokok penjualan, dan kriteria kelayakan usaha yang meliputi Break Even Point (BEP), Net Present Value (NPV), Payback Period (PP), dan Incremental Rate of Return dan Ratio B/C.
13Wan Juwita Raflah, “Analisis Kelayakan Usaha Rumah Industri Pengolahan Ikan Lomek Kering di Bumdes Kuala alam Bengkalis”, Seminar Nasional Industri dan Teknologi, 2021.
14 Hasil perhitungan kelayakan finansial UKM Aneka Sari adalah, akan mencapai BEP dengan menjual produk sebanyak 15.560 kg atau senilai Rp. 21.783.556 setiap bulannya. NPV senilai Rp 119.278.467,41, Payback Perode selama 2 tahun 9 bulan, IRR senilai 71,2
% serta Ratio B/C 1.13 di tahun pertama dan 1,45 pada tahun kedua dan ketiga. Dapat disimpulkan bahwa Pengembangan usaha UKM Nata de Coco memiliki potensi ekonomi yang cukup bagus dan layak untuk dikembangkan.14
3. Hasil Penelitian Yessica Chatrine Gabriella Siahaan (2019)
Berdasarkan penelitian Yessica Chatrine Gabriella Siahaan pada tahun 2019 yang berjudul “Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Gula Aren (Kasus: Desa Suka Maju, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi ketersediaan input (lahan, modal, tenaga kerja dan bahan baku), perkembangan teknologi pengolahan gula aren di daerah penelitian dan untuk mengetahui apakah usaha gula aren layak atau tidak layak dikembangkan di daerah penelitian. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja).
14Tirta Wulandari, “Analisis Kelayakan Finansial Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) Nata De Coco di Sumedang, Asian Jurnal Inovation and entrepreneurship 1 (2) 2012
15 Penentuan sampel penelitian menggunakan metode sensus yaitu sebanyak 30 pengrajin gula aren. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis kelayakan finansial (R/C ratio) dan analisis Break Even Point (BEP).
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa lahan, modal, tenaga kerja dan bahan baku cukup tersedia di daerah penelitian. Teknologi pengolahan yang digunakan masih tradisional. Diperoleh hasil BEP Produksi <
Produksi yang dihasilkan, hasil BEP Harga < Harga jual gula aren serta hasil R/C Ratio > 1 maka dapat disimpulkan bahwa usaha gula aren layak dikembangkan secara finansial.15
H. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam penulisan laporan tugas akhir ini maka diusulkan sistematika penulisan yang mengemukakan mengenai bab-bab pada laporan tugas akhir beserta isinya secara rinci dan keterkaitan dengan bab sebelumnya dan bab setelahnya. Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini memberikan penjelasan umum mengenai tugas akhir yang penulis lakukan. Penjelasan tersebut meliputi
15Yessica Chatrine Gabriella Siahaan,“Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Gula Aren (Kasus: Desa Suka Maju, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Universitas Sumatra Utara 2019.
16 latar belakang masalah adanya kegiatan usaha, identifikasi masalah industri pangan usaha, tujuan melakukan kegiatan usaha mengenai keberlanjutan kegiatan berwirausaha, manfaat penelitian dan sistematika penulisan dalam melakukan penyusunan laporan tugas akhir.
BAB II KAJIAN TEORI
Pada bab ini berisi penjelasan tentang definisi, teori, dan konsep yang diperlukan dalam pengerjaan tugas akhir. Di dalam bab ini dikemukaan hasil penelitian yang baik penelitian dari buku maupun dari jurnal ilmiah yang terkait dengan penelitian tugas akhir ini.
BAB III METODE PELAKSANAAN
Bab ini menjelaskan tentang alat dan bahan, anggaran biaya, jadwal kegiatan, proses pembuatan, proses promosi dan pemasaran, analisis kelayakan dan analisis keuntungan.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini menjelaskan mengenai hasil yang dicapai berdasarkan luaran program, potensi keberlanjutan usaha BAB V PENUTUP
Bab ini berisi Evaluasi penjelasan tentang kesimpulan yang diperoleh dari pelaksanaan tugas akhir dan saran untuk pengembangan Penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Pada bagian ini berisikan sumber-sumber yang di jadikan sebagai acuan penulis dalam mengerjakan tugas akhir.
17 BAB II
KAJIAN TEORI A. Analisa Kelayakan
Analisis kelayakan merupakan suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang dijalankan, kelayakan artinya pelaksanaan penelitian secara mendalam untuk menentukan apakah usaha yang dijalankan akan memberi manfaat lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.16
Umar mengutarakan studi kelayakan bisnis sebagai studi mengenai rencana bisnis yang menganalisis layak atau tidaknya sebuah bisnis dibangun, dan juga saat dioperasikan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang maksimal untuk waktu yang tidak ditentukan. Analisis kelayakan usaha adalah kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan kegiatan suatu usaha. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan, apakah menerima atau menolak suatu gagasan usaha. Pengertian layak dalam penelitian ini adalah kemungkinan suatu gagasan usaha yang akan dilaksanakan apakah telah layak atau tidak layak.17
16Kasmir dan Jakfar, Studi Kelayakan Bisnis, (Jakarta: Kencana Penada Media, 2007), h.108
17Nasir Asman, SUDI KELAYAKAN BISNIS(Pedoman Memulai Bisnis Era Revolusi Industri 4.0),(Indramayu:ADAB CV. Adanu Abimata, 2020), hal. 1.
18 Kelayakan artinya penelitian yang dilakukan secara mendalam tersebut dilakukan untuk menentukan apakah usaha yang akan dijalankan akan memberi manfaat lebih besar dibandingkan dengan biaya yang akan dikeluarkan.
Dengan kata lain, kelayakan dapat diartikan bahwa usaha yang dijalankan akan memberi keuntungan finansial dan nonfinansial sesuai dengan tujuan yang mereka inginkan.18
Untuk mengetahui suatu kelayakan usaha dapat ditempuh dengan cara menganalisis perbandingan penerimaan dan total biaya usaha tersebut yaitu dengan menggunakan analisis BEP (Break Even Point). Analisis titik impas atau break even point diperlukan untuk mengetahui hubungan antara volume produksi, penjualan, harga jual, biaya produksi dan biaya lainnya baik yang bersifat tetap maupun variabel dan laba atu rugi.
Selain analisis BEP (Break Even Point) disini disertakan juga analisis R/C dimana R/C dapat menunjukkan besarnya penerimaan yang diperoleh dengan pengeluaran dalam satu tahun biaya. Semakin besar nilai R/C rasio usaha maka semakin besar keuntungan yang akan diperoleh dalam kegiatan usaha tersebut. Analisis lain yang dapat digunakan untuk menghitung kelayakan usaha adalah B/C rasio.
Menurut Soekartawi analisis benefit cost ratio (B/C) ini pada prinsipnya sama saja dengan analisis R/C (revnue cost ratio),
18Kasmir dan Jakfar, Studi Kelayakan Bisnis (Jakarata:PRENADAMEDIA GRUP, 2016), hal.7.
19 hanya saja pada analisis B/C ratio ini data yang diperhitungkan adalah besarnya manfaat.19
B. Analisa Produk
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, dipergunakan, atau dikonsumsi dan dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan.20
Prospek usaha jahe memiliki masa depan yang cukup cerah. Jahe banyak dimanfaatkan sebagai bahan campuran makanan, minuman, kosmetika dan bahan baku dalam kegiatan industri. Semakin pesatnya kegiatan industri obat- obatan modern, tradisional dan industri-industri lain yang bermunculan dengan menggunakan bahan baku jahe menyebabkan permintaan komoditi ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Jahe sebagai salah satu rempah-rempah yang penting, rimpangnya banyak digunakan sebagai bumbu masak, pemberi rasa dan aroma pada biskuit, permen, kembang gula dan minuman. Jahe juga digunakan pada industri obat, minyak wangi, dan jamu tradisional, diolah menjadi asinan jahe, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup.21
19Dedi Purwana dan Nurdin Hidayat, Studi Kelayakan Bisnis, (Depok:
PT Raja Wali Persada, 2016), hal. 20.
20Al-arif, M.Nur Rianto. Dasar-Dasar Pemasaran Produk Bank Syariah. Bandung Alfabeta CV.2019, Hal. 140.
21Dian Astriani, Wafit Dinarto, dan Warmanti Mildaryani,
“Penerapan Agroteknologi Tanaman Jahe dan Pengolahan Rimpannya “ Vol.4 No.7 (September 2013), 59.
20 Nama produk ini adalah “Manisan Jahe” yaitu berupa olahan dari jahe yang dibuat Manisan lebih yang menghasilkan rasa hangat ditenggorokan. Keunikan dari produk ini adalah makanan ringan atau cemilan yang jarang dijumpai namun memiliki khasiat yang banyak bagi tubuh.
Dengan adanya inovasi ini untuk menghasilkan produk berupa makanan yang bercampur dengan kacang, akan memanjakan lidah sesuai dengan nama produk “Jakwi” bagi konsumen yang memakannya.
Selain dengan varian campuran rasa dengan kacang, produk ini juga menambahkan varian baru dengan tambahan biji wijen. Biji wijen yang mudah didapatkan. Selain itu, biji wijen juga memiliki harga yang terjangkau dan dapat bertahan lama. Varian manisan jahe dengan biji wijen memiliki daya tarik tersendiri sehingga membuat tampilan produk ini lebih menarik. Biji wijen terdapat kandungan gizi yang bermanfaat untuk mengontrol gula darah, sehingga cocok dicampur dengan makanan atau cemilan manis seperti manisan jahe.
Olahan produk ini berbeda dengan produk lainnya, yang membedakan ialah rasa varian dari campuran kacang, wijen, dan mix kacang wijen. Produk ini memiliki kemasan dengan karakter tersendiri yang unik dan menarik agar mudah dikenali oleh masyarakat. Bahan kemasan yang dipilih adalah bahan yang aman dan awet, agar manisan jahe dapat disimpan
21 dalam waktu yang lama tanpa merusak cita rasa dan bentuk kemasannya.
Dengan adanya olahan produk manisan jahe ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa karena olahan manisan jahe memiliki nilai ekonomis yang tinggi juga mengandung berbagai manfaat yang baik untuk tubuh, sehingga dengan adanya kegiatan ini mampu menggerakkan ekonomi desa bahkan meningkatkan pengahasilan tambahan bagi masyarakat sekitar terutama para petani mampu meningkatkan kesejahteraannya agar tergerak menjadi masyarakat yang lebih sejahtera dan bahagia dari segi pengasilan hingga ekonomi.
Dewasa ini kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat dan mengkonsumsi obat-obatan dari alam semakin tinggi. Hal tersebut membuat konsumsi obat tradisional seperti olahan tanaman obat maupun jamu-jamuan semakin diminati. Keadaan tersebut mendorong para pengusaha maupun kelompok ibu-ibu ataupun UKM untuk mengembangkan dan mengolah tanaman obat menjadi produk olahan yang siap konsumsi.22
Keunggulan dari produk olahan yang akan dihasilkan adalah :
22Rosita Dewati, Yos Wahyu Harinta, dan Agung Setyarini,
“Pengembangan Produk Olahan Jahe Di Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar (Studi Kasus Kelompok Wanita Tani Desa Sidomukti),” Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, Vol. 5 No. 4 (2021), 1108.
22 1) Produk olahan jahe baik dikonsumsi dan mengandung
banyak manfaat yang baik untuk tubuh.
2) Produk olahan jahe dalam bentuk manisan jahe dapat bertahan lama hingga 2 bulan setelah produksi.
3) Produk kami akan banyak digemari oleh berbagai kalangan terutama masyarakat dewasa karena memiliki rasa hangat dan khas yang dihasilkan dari tanaman jahe.
C. Biaya dan Pendapatan
Biaya adalah kas atau setara kas yang dikorbankan untuk memproduksi barang atau jasa yang diharapkan akan memperoleh manfaat dan atau keuntungan dimasa mendatang. Biaya produksi adalah seluruh biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang akan diproduksi perusahaan.23
Biaya dapat digolongkan menjadi dua yaitu biaya (Variabel Cost= VC) yaitu biaya yang besarnya dipengaruhi oleh besarnya biaya produksi dan biaya tetap (Fixed Cost=
FC) yaitu biaya yang besarnya tidak dipengaruhi besarnya produk.24 Biaya penyusutan juga ditetapkan sebagi biaya
23Rahayu, Pengantar Ekonomi MIkro, (Medan: Perdana Publishing, 2015), h. 35.
24K. Suratiyah, Ilmu Usaha Tani, (Jakarta: Penebar Swadaya, 2016), h. 98
23 tetap. Suatu mesin hanya dapat dipakai selama selang waktu tertentu. oleh karena itu apabila dilihat dari kurun waktu tertentu nilai mesin maupun alat telah berkurang atau menyusut, dapat dirumuskan dengan:
D= P5 N Dimana :
D : Harga penyusutan per tahun P : Harga awal mesin(Rp) S : HArga akhir mesin (Rp)
N : Perkiraan umur ekonomis (Tahun)
Perhitungan biaya produksi suatu usaha sangat berguna untuk keberlangsungan usaha suapaya mampu memaksimalkan keuntungan yang akan didapatkan nantinya.
Soekartawi menyatakan bahwa pendapatan (Pd) adalah selisih antara penerimaan (TR) dan semua biaya (TC). Jadi, Pd = TR – TC. Penerimaan (TR) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh (Y) dengan harga jual (Py). Biaya usaha biasanya diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap (FC) adalah biaya yang relative tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produk yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya variabel (VC) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh,
24 contohnya biaya tenaga kerja. Total biaya (TC) adalah jumlah dari biaya tetap (FC) dan biaya Variabel (FC), maka TC = FC – VC.25
D. Analisis BEP (Break Even Point)
Menurut Sutrisno Break Even Point adalah suatu kondisi dimana priode tersebut perusahaan tidak mendapatkan keuntungan dan juga tidak mengalami kerugian.26 Sedangkan menurut Prawirosentono yang dimaksud dengan Break Even Point adalah dilihat dari aspek pemasaran merupakan volume penjualan dimana total penghasilan (Reveneu) sama dengan total biaya, sehingga perusahaan dalam posisi tidak untung dan tidak rugi.27 Analisis Break Even Point dalam istilah lain sering disebut dengan titik impas. Suatu usaha dapat mengalami titik impas jika antara modal dan biaya-biaya yang dikeluarkan tidak mengalami kegiatan atau memperoleh laba, jadi laba yang dihasilkan adalah nol.
Adapun fungsi dari analisis bereak even point yaitu seperti:
1. Dengan adanya nilai BEP, maka perusahaan bisa menentukan langkah efisiensi kerja yang bisa dilakukan;
25Soekartawi, Analisis Usaha Tani, (Jakarta: UI Press, 1995), h. 104.
26Sutrisno, Manajemen Keuangan Teori Konsep dan Aplikasi, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2016), hal. 274.
27Sabrin. Analisis Break Even Point Pada Produksi Es Balok. Jurnal Ekonomi Pembangunan. 2015. Vol. XVI, Hal 28
25 2. Nilai BEP membantu pengusaha untuk megetahui perubahan nilai laba jika terjadi perubahan harga produk;
3. Karena BEP berfungsi untuk mengetahui perubahan laba, maka BEP juga bisa menentukan kerugian yang terjadi.28
Setelah membahas pengertian break even point, kali ini kita akan membahas lebih detail bagaimana pentingnya BEP bagi perusahaan. Adapun tujuan break even point adalah sebagai berikut.
Mengetahui Biaya Total Produksi
Point pertama manfaat break even point adalah untuk mengetahui total biaya yang dikeluarkan demi memproduksi sejumlah barang. Menghitung biaya produksi Anda, mulai dari biaya tetap (fixed cost) sampai biaya variabel (variable cost).
Sebagai Dasar Perhitungan Laba
Di dunia bisnis, ada istilah margin profit, yaitu ukuran standar profit atas setiap buah produk. Jika ingin menentukan margin profit, break even point adalah hal pertama yang perlu Anda hitung.
Estimasi Waktu Balik Modal
Untuk mengetahui estimasi balik modal. pebisnis harus mengetahui berapa banyak produk harus terjual
28Suyati HS, Hamdan Firmansyah, Derri Benarli dkk, Analisis Laporan Keuangan (Cirebon: Insania 2021) h. 140.
26 sekaligus lama penjualannya. Tanpa BEP, estimasi jumlah produk terjual tidak akan bisa dihitung, sehingga durasi penjualan juga tidak dapat diperkirakan.
Analisa Profitabilitas Bisnis
Untuk menganalisa apakah bisnis benar-benar bisa menghasilkan keuntungan. Sebagai pondasi guna menentukan profitabilitas. Anda tidak akan tahu bisnis Anda profit atau rugi tanpa mempelajari cara menghitung break even point.29
Dalam rangka memproduksi atau menghasilkan suatu produk baik barang ataupun jasa, perusahaan terkadang perlu terlebih dahulu untuk mengetahui dan merinci seberapa besar keuntungan atau laba yang akan diperoleh. Artinya dalam hal ini besar laba merupakan suatu prioritas yang harus dicapai perusahaan disamping hal-hal lainnya yang terjadi pada kegiatan usaha. Agar perolehan laba mudah ditentukan, salah satu caranya adalah seorang pengusaha harus mengetahui terlebih dahulu berapa titik impasnya, dan dapat diartikan bahwa perusahaan dapat beroperasi pada jumlah produksi atau penjualan tertentu sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan.
29Hapsari, Analisis Perencanaan Laba dengan Menggunakan Analisis Biaya Voleme Laba dan Analisis Break Even Point. Skripsi. Fakultas Ekonomi. Yogyakarta: Universitas Sanata dharma. 2017. H. 37-39
27 E. Analisis Kelayakan Usaha Manisan Jahe (JAKWI)
Dalam mengidentifikasi kelayakan usaha Produk Manisan Jahe perlu memperhatikan apa saja pengeluaran usaha dalam kegiatan produksi usaha Manisan Jahe atau biaya usaha. Hal ini menjadi bahan acuan dalam perhitungan pendapatan produksi hingga keuntungan usaha. Biaya produksi dalam hal ini mencakup komponen biaya variabel dan biaya tetap. Penerimaan usaha Manisan Jahe adalah jumlah produksi dikali dengan harga jual sedangkan pendapatan usaha Manisan Jahe adalah selisih antara penerimaan dengan total biaya.
1. Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang secara total tidak berubah saat aktivitas bisnis meningkat atau menurun.
Yang termasuk biaya ini adalah biaya penyusutan (bangunan, mesin, kendaraan dan aktiva tetap lainnya), gaji dan upah yang dibayar secara tetap, biaya sewa, biaya asuransi, pajak, dan biaya lainnya yang besarnya tidak berpengaruh oleh volume penjualan.30
Biaya tetap pada usaha manisan jahe (JAKWI) meliputi biaya penyusutan peralatan. Biaya tetap dalam laporan ini timbul karena penggunaan faktor produksi yang tetap, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk membiayai faktor produksi juga tidak berubah walaupun
30Atika Palawiten, Ventje Ilat, “Analisis Cost Volume Profit untuk Perencanaan Laba pada UD Gladys Bakery”, Jurnal Emba 2 (2) 2014
28 jumlah manisan jahe yang dihasilkan berubah-ubah.
Rata-rata biaya tetap pada usaha manisan jahe (JAKWI) dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1
Biaya Tetap Usaha Manisan Jahe (JAKWI) Jenis barang Jumlah Harga
Satuan
Total Harga Wadah ukuran
sedang(baskom) 4 buah Rp. 5.000 Rp. 20.000 Parutan besar 1 buah Rp. 20.000 Rp. 20.000 Wajan ukuran
sedang 1 buah Rp. 50.000 Rp. 50.000 Sendok kayu 1 buah Rp. 15.000 Rp. 15.000 Sendok sayur
(Centong) 1 buah Rp. 5.000 Rp. 5.000 Plastik bening 4 pcs Rp. 2.000 Rp. 8.000 Rol kayu 1 buah Rp. 20.000 Rp. 20.000
Pisau 2 buah Rp. 8.000 Rp. 16.000
Kompor gas 1 buah Rp. 350.000 Rp. 350.000
Jenis Barang Jumlah Harga
Satuan Jumlah Tabung gas 1 buah Rp. 150.000 Rp. 150.000
29 Penggaris
makanan 1 buah Rp. 5.000 Rp. 5.000
Nampan 1 pcs Rp. 15.000 Rp. 15.000
Sarung tangan 1 Pack Rp. 8.000 Rp. 8.000 Celemek 1 buah Rp. 15.000 Rp. 15.000 Timbangan 1 buah Rp. 50.000 Rp. 50.000
Jumlah Rp.
749.000
Tabel 2.1 diketahui bahwa jumlah biaya tetap yang dikeluarkan oleh usaha manisan jahe sebesar Rp. 749.000.
yang mana biaya tetap ini terdiri dari Wadah ukuran sedang (baskom), Parutan besar, Wajan ukuran sedang, Sendok kayu, Sendok sayur, Plastik bening, rol kayu, pisau, kompor gas, tabung gas, penggaris makanan, nampan, sarung tangan, celemek, timbangan.peralatan yang digunakan masih digunakan secara manual tanpa bantuan mesin selain mesin timbangan gram.
2. Biaya Variabel
Biaya variabel yaitu biaya yang secara total meningkat secara proporsional terhadap peningkatan atas aktivitas dan menurun secara proposional terhadap penurunan terhadap aktivitas. Biaya variabel termasuk biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung,
30 beberapa perlengkapan.31 Biaya variabel yang digunakan dalam usaha manisan jahe besarnya berubah-ubah secara professional sesuai dengan jumlah produksi manisan jahe yang dihasilkan. Rata-rata biaya variabel pada usaha manisan jahe dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut:
Tabel 2.2
Biaya Variabel Usaha Manisan Jahe (JAKWI) Jenis Barang Jumlah Harga
Satuan Total Harga Jahe 10 kg Rp. 10.000 Rp. 100.000 Kelapa parut 25 kg Rp. 8.000 Rp. 200.000 Gula pasir 15 kg Rp. 13.000 Rp. 195.000 Biji wijen 3 kg Rp. 15.000 Rp. 45.000
Kacang 5 kg Rp. 7.000 Rp. 35.000
Kemasan + Stiker
10 pack + 5 lembar
Rp. 10.000 +
Rp. 11.000 Rp. 155.000
Jumlah Rp. 730..000
Tabel 2.2 menunjukkan bahwa jumlah iaya variabel yang dikeluarkan oleh pemilik usaha manisan jahe dalam 1 bulan adalah sebesar Rp. 730.000. besarnya biaya variabel ini dipengaruhi oleh volume produksi manisa jahe yang dihasilkan maka semakin besar pula biaya
31Atika Palawiten, Ventje Ilat, “Analisis Cost Volume Profit untuk Perencanaan Laba pada UD Gladys Bakery”, Jurnal Emba 2 (2) 2014
31 variabel yang dikeluarkan. Demikian pula sebaliknya.
Biaya variabel ini terdiri dari Jahe, Kelapa parut, Gula pasir, Biji wijen, Kacang, Kemasan + Stiker.
3. Biaya Total
Biaya total adalah sejumlah biaya yang dibutuhkan atau dikeluarkan untuk memproduksi dan memasarkan barang atau jasa yang dihasilkan.32 Biaya total dalam usaha Manisan Jahe merupakan hasil dari penjumlahan seluruh biaya tetap dan biaya variabel. Besarnya biaya total untuk proses produksi manisan jahe selama satu bulan dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut:
Tabel 2.3
Biaya Total Usaha Manisan Jahe Jenis Biaya
Biaya Tetap Rp. 749.000
Biaya Variabel Rp. 730.000
Biaya Total Rp. 1.479.000
Tabel 2.3 menunjukkan bahwa biaya total perbulan yang dikeluarkan oleh pemilik usaha manisan jahe adalah sebesar Rp. 1.479.000. biaya terbesar yang dikeluarkan dalam usaha manisan jahe berasal dari biaya tetap yaitu sebesar Rp. 749.000 dari biaya total seluruhnya.
Sedangkan biaya variabel yang dikeluarkan oleh pemilik
32H. Sabrin Nurdin, “Analisis Penerimaan Bersih Usaha Tanaman pada Petani Nenas di Desa Palaran Samarinda”, Jurnal Eksis 6 (1) 2010
32 usaha manisan jahe adalah sebesar Rp. 730.000 dari biaya total seluruhnya.
4. Penerimaan
Penerimaan usaha Manisan Jahe (JAKWI) merupakan perkalian antara total amnisan jahe yang diproduksi dengan harga manisan jahe perbungkus.
Tabel 2.4 berikut menunjukkan penerimaan usaha manisan jahe:
Tabel 2.4
Penerimaan Usaha Manisan Jahe Rata-rata
produksi Per minggu
Rata-rata produksi Per
bulan
Harga Penerimaan Per bulan
100 bungkus 400 bungkus
Rp10.000 Rp4.000.000
Tabel 2.4 menunjukkan bahwa jumlah produksi manisan jahe yang dihasilkan olehpemilik usaha perminggu sebanyak 100 bungkus dan jumlah produksi manisan jahe perbulan 400 bungkus dengan harga jual rata-rata Rp. 10.000. penerimaan perbulan yang diperoleh pemilik usaha manisan jahe sebesar Rp.
4.000.000.
33 5. Pendapatan
Pendapatan yang diperoleh dari usaha manisan Jahe (JAKWI) merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya total. Untuk mengetahui pendapatan usaha manisan jahe dapat dilihat dari tabel 2.5 dibawah ini:
Tabel 2.5
Pendapatan Usaha Manisan Jahe (JAKWI)
Uraian Jumlah
Penerimaan Perbulan Rp. 4.000.000
Total Biaya Rp. 1.479.000.
Total Keuntungan Rp. 2.521.000
Berdasarkan tabel 2.5 diketahui bahwa pendapatan yang diterima oleh pemilik usaha manisan jahe adalah sebesar Rp. 2. 521.000. hal ini menunjukkan bahwa pemilik usaha manisan jahe mengalami keuntungan.
Usaha manisan jahe mempunyai peluang usaha yang sangat baik sebab jahe merah saat ini memiliki daya tarik bagi konsumen untuk meningkatkan kekebalan imun dalam tubuh dan juga memiliki harga yang relatif murah sehingga dapat terjangkau oleh semua kalangan. Untuk kewirausahaan ini keuntungannya bisa dua kali lipat dari modal awal, dikarena selain modalnya yang kecil dan bahan yang mudah di dapat untuk harga bahan juga murah di kalangan pasaran. Usaha ini dapat termasuk investasi
34 dimasa yang akan datang karena bisa menjadi usaha yang berpotensi dalam jangka panjang.
6. Analisis BEP dan HPP a) BEP (Break Even Point)
Analisis titik impas atau analisis break even point merupakan suatu cara yang digunakan oleh pempinan perusahaan untuk mengetahui atau untuk merencanakan pada volume produksi atau volume penjualan berapakah perusahaan yang bersangkutan tidak memperoleh keuntungan atau tidak menderita kerugian. Dengan diketahuinya titik impas tersebut dapatlah direncanakan tingkat-tingkat produksi atau volume penjualan yang akan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan yang bersangkutan. Agar terhindar dari kerugian perusahaan harus dapat menguahakan jumlah penjualan pada titik impas tersebut. Apabila volume penjualan tidak mencapai titik impas tersebut berarti perusahaan akan menderita rugi.33
Dalam analisis kelayakan usaha Manisan Jahe (JAKWI) dilakukan dengan dua rumus perhitungan BEP yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu BEP volume produksi dan BEP harga produksi.
33Jumingan, “Analisis Laporan Keuangan”, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014), 184.
35 BEP Jumlah Produksi (Perbulan) = __Total Biaya__
Harga Penjualan
BEP Harga Produksi (Rp/bulan) = __Total Biaya_
Total Produksi b) HPP (Harga Pokok Penjualan)
Penentuan atau perhitungan Harga Pokok Produksi merupakan hal yang penting bagi suatu usaha, mengingat manfaat dari HPP sendiri adalah untuk menentukan harga jual produk, pemantauan Realisasi biaya produksi, perhitungan laba rugi periodic serta penentuan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses. Serta manfaat dari Pengelolaan Keuangan sendiri adalah untuk memberikan kepastian hasil dan kepastian hara pasar pada suatu usaha.34
Analisis harga pokok produksi disini meliputi 1. Penentuan biaya langsung
2. Biaya tidak langsung 3. Biaya overhead 4. Biaya tenaga kerja
34Candra Irawan,”Perhitungan Harga Pokok Produksi dan Pengelolaan Keuangan Pada Usaha Mikro Kecil Menengah” Volume 1 No. 2 2022
36 BAB III
METODE PELAKSANAAN A. Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan yang diterapkan adalah metode studi kasus (case study) yaitu penelitian yang digunakan dengan melihat secara langsung kelapangan atau praktek secara mandiri mengenai usaha manisan jahe. Metode pelaksanaan studi kasus merupakan metode yang menjelaskan jenis penelitian mengenai studi objek tertentu selama kurun waktu atau suatu fenomena yang ditentukan pada tempat yang belum tentu sama dengan yang lainnya.
B. Metode Alat Analisis Data
Untuk mencari tau jawaban dari rumusan masalah yang pertama dapat ditempuh dengan menggunakan rumus analisis pendapatan. Analisis pendapatan digunakan untuk mengetahui besarnya penerimaan yang diperoleh dan besarnya keuntungan yang diperoleh. Perhitungan penerimaan sebagai berikut:
TR = Q x P Dimana :
TR (Total Revenue) : Penerimaan total Q (Auantity) : Produk yang dihasilkan
P (Price) : Harga jual produk yang dihasilkan Perhitungan keuntungan adalah sebagai berikut:
37 Pd = TR/TC
Dimana :
Pd : Pendapatan TR (Total Revenue) : Penerimaan total TC (Total Cost) : Biaya total
Sedangkan untuk mengidentifikasi dari rumusan masalah yang kedua dapat ditempuh menggunakan analisis Break Even Point (BEP), analisis R/C dan analisis B/C.
Break Even Point merupakan titik impas yang akan dihitung dari suatu usaha. Dari nilai BEP inilah akan dapat diketahui pada tingkat produksi dan harga yang menetukan apakah usaha tidak mendapatkan keuntungan dan kerugian.35
1. Break Even Point (BEP)
= Rp. 1. 479.000
Rp.10.000 = 148 Bungkus
= RP. 1.479.000
400 Bungkus
= Rp. 3.697/ Rp. 3.700
35Sutrisno, Manajemen Keuangan Teori Konsep dan Aplikasi, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2016), hal. 274.
38 2. HPP (Harga Pokok Penjualan)
a. Biaya Langsung (Direct Cost)
Biaya produksi per kemasan = Rp. 3.697/ Rp.
3.700
b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
Biaya listrik, gas dan sebagainya adalah Rp.
749.000
Jika dalam seminggu, kapasitas produksi manisan jahe adalah 100 pcs, maka dalam sebulan total produksinya adalah 400 pcs, Dengan demikian Biaya listrik, gas dan sebagainya untuk 1 pcs manisan adalah Rp 749.000/400 = Rp 1.872,25/1.900
c. Biaya Overhead
Biaya kemasan dan Stiker untuk 1 pcs manisan jahe adalah Rp. 1.500
d. Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja untuk 1 pcs manisan jahe adalah Rp. 200
Jadi total HPP 1 pcs manisan jahe adalah Rp. 3.700+
Rp 1.900+ Rp. 1.500+ Rp 200 = Rp. 7.400
Dengan demikian, untuk bisa mendapatkan laba atau keuntungan, manisan jahe (JAKWI) harus menjual 1 pcs manisan jahe lebih dari Rp. 7.400.
39 Manisan jahe (JAKWI) disini menjualnya seharga Rp 10.000, maka besarnya laba atau keuntungan 1 pcs adalah Rp. 2.600
C. Aspek Legalitas Kelayakan Usaha
Aspek legalitas usaha mengedepankan kelengkapan dan keabsahan dokumen usaha, seperti bentuk badan usaha dan izin usaha yang dimiliki. Usaha Manisan Jahe sudah mempunyai izin usaha yaitu Nomor Induk Berusaha (NIB) : 0601220020142 dan telah mengikuti seminar Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga dibuktikan dengan adanya sertifikat (SPP-IRT) : P-IRT 2041771010038-27
D. Lokasi Program
Manisan jahe terletak di Kota Bengkulu tepatnya di Sebakul Kecamatan Sumur Dewa Jl. Raden Fatah 11. RT. 52 RW. 03. Lokasi disana sangat memberikan keuntungan bagi pemilik usaha karena memilki banyak kos-kosan tempat tinggal mahasiswa dan lokasi tersebut sangat strategis berdekatan dengan kampus UINFAS Bengkulu dan tidak jauh dari pasar serta terdapat juga pusat penjualan oleh-oleh khas Bengkulu. Hal ini memudahkan untuk proses pemasaran karena sudah terlihat jelas target pasarnya. Namun untuk bahan baku utama dari manisan jahe ini diperoleh langsung dari wilayah Kabupaten Kepahiang di Desa Bogor Baru karena disana sangat melimpah tanaman jahe dengan kualitas
40 yang bagus juga harga yang terjangkau langsung dari petani jahe.
E. Anggaran Biaya
Keputusan yang tepat dan akurat memerlukan pemahaman tentang konsep biaya. Dalam konsep biaya memerlukan penggelompokkan biaya sesuai dengan tujuan informasi biaya tersebut diperlukan. Informasi biaya yang baik, tepat dan akurat diperlukan oleh setiap pemakai informasi biaya, oleh karena itu para manager dituntut untuk memahami konsep biaya agar dapat mengambil keputusan dengan baik sehingga dapat dipertanggungjawabkan.36 Biaya dapat digolongkan menjadi dua yaitu biaya (Variabel Cost= VC) yaitu biaya yang besarnya dipengaruhi oleh besarnya biaya produksi dan biaya tetap (Fixed Cost= FC) yaitu biaya yang besarnya tidak dipengaruhi besarnya produk.37 Biaya penyusutan juga ditetapkan sebagi biaya tetap. Suatu mesin hanya dapat dipakai selama selang waktu tertentu. oleh karena itu apabila dilihat dari kurun waktu tertentu nilai mesin maupun alat telah berkurang atau menyusut, dapat dirumuskan dengan:
36Hidayatul Mu’arifin, Danang Choirul Umam dan Asep Suherman,
“AKUNTANSI BIAYA”, (Nagari Koto Baru: Insan Cendekia Mandiri, 2021) hal. 5
37Ken suratiyah, Ilmu Usaha Tani… , h. 98
41 D= P5
N
Dimana :
D : Harga penyusutan per tahun P : Harga awal mesin(Rp) S : HArga akhir mesin (Rp)
N : Perkiraan umur ekonomis (Tahun)
Perhitungan biaya produksi suatu usaha sangat berguna untuk keberlangsungan usaha suapaya mampu memaksimalkan keuntungan yang akan didapatkan nantinya.
Dapat simpulkan bahwa pendapatan (Pd) adalah selisih antara penerimaan (TR) dan semua biaya (TC).
Jadi, Pd = TR – TC. Penerimaan (TR) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh (Y) dengan harga jual (Py). Biaya usaha biasanya diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap (FC) adalah biaya yang relative tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produk yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya variabel (VC) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh, contohnya biaya tenaga kerja.
Total biaya (TC) adalah jumlah dari biaya tetap (FC) dan biaya Variabel (FC), maka TC = FC – VC.
42 Tabel 3.1
Anggaran Biaya PKM
No. Kegiatan Harga Barang Jumlah
Unit Harga A TAHAP PELATIHAN
1 Pelatihan PKP 1 Orang Rp.
350.000 Rp. 350.000
2 Jumlah Rp. 350.000
B TAHAP PELAKSANAAN 1 Bahan Habis
Pakai Unit Harga Jumlah
1 Jahe 10 kg Rp. 10.000 Rp. 100.000
2 Kelapa parut 25 kg Rp. 8.000 Rp. 200.000 3 Gula pasir 15 kg Rp. 13.000 Rp. 195.000 4 Biji wijen 3 kg Rp. 15.000 Rp. 45.000
5 Kacang 5 kg Rp. 7.000 Rp. 35.000
6 Kemasan + Stiker 10 pack +5 lembar
Rp.10.000 + Rp.11.000
Rp. 155.000
Jumlah Rp. 155.000
43 2 Peralatan Tetap Unit Harga Jumlah 1 Wadah ukuran
sedang (baskom) 4 buah Rp. 5.000 Rp. 20.000 2 Parutan besar 1 buah Rp. 20.000 Rp. 20.000 3 Wajan ukuran
sedang 1 buah Rp50.000 Rp. 50.000 4 Sendok kayu 1 buah Rp15.000 Rp. 15.000 5 Sendok sayur 1 buah Rp5.000 Rp. 5.000 6 Plastik bening 4 buah Rp2.000 Rp. 8.000
7 Rol kayu 1 buah Rp20.000 Rp. 20.000
8 Pisau 2 buah Rp. 8.000 Rp. 16.000
9 Kompor gas 1 buah Rp.
350.000 Rp. 350.000
10 Tabung gas 1 buah Rp.
150.000 Rp. 150.000 11 Penggaris makanan 1 buah Rp. 5.000 Rp. 5.000
12 Nampan 1 buah Rp. 15.000 Rp. 15.000
13 Sarung tangan 1 Pack Rp. 8.000 Rp. 8.000 14 Celemek 1 buah Rp. 15.000 Rp. 15.000 15 Timbangan 1 buah Rp. 50.000 Rp. 50.000
Jumlah Rp. 749.000