Oleh Dian Islamiati NIM 170106180
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
2021
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Oleh Dian Islamiati NIM 170106180
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
2021
iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
iv
NOTA DINAS PEMBIMBING
vi
PENGESAHAN
vii MOTTO
Jika kamu benar-benar menginginkan sesuatu, kamu akan mencari jalan…jika tidak, kamu akan mencari alasan.1
1 Instagram @test_psikologi
viii
PERSEMBAHAN
“Kupersembahkan Karya Ilmiah ini Kepada, Kedua
orang tuaku yaitu, Ibundaku tersayang Hendrayani dan Bapakku terkasih Fatwan Muzanni yang telah memberikan bantuan moril dan materil sehingga studi dan skripsi saya dapat terselesaikan. Semua Guru dan Dosenku yang telah banyak memberikan curahan ilmu sehingga saya bisa sampai ke tahap ini. Sahabat- sahabatku, Marianah, Ica, Ayu, Eka, Bq Nirwana, Mahar, Martini serta Teman-teman seperjuangan yaitu kelas PGMI E 2017.”
ix
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Aamiin.
Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut.
1. Bapak Dr. Muammar, M.Pd. sebagai Pembimbing I dan Ibu Ramdhani Sucilestari, M.Pd. sebagai Pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail, terus-menerus, dan tanpa bosan di tengah kesibukannnya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai;
2. Bapak Dr. M. Iwan Fitriani, M.Pd selaku penguji I dan Bapak Ar-Rosikh, M.Fil.I selaku penguji II atas bimbingan, koreksi serta arahan yang sudah diberikan;
3. Bapak Dr. Ahmad Sulhan, M.Pd sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah yang selalu dan tanpa lelah memberikan arahan dan motivasi yang membangun untuk kami mahasiswanya;
4. Dr. Hj. Lubna, M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram yang selalu memberikan arahan dan motivasi yang membangun untuk mahasiswa-mahasiswanya;
x
5. Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberi bimbingan dan peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai;
6. Kepala sekolah MI Darussalam Bermi, Bapak Marhumi S.PdI yang telah memberikan peneliti izin untuk meneliti di MI Darussalam Bermi;
7. Guru kelas kelas I, kelas II, serta kelas III di MI Darussalam Bermi, beserta siswa-siswanya di MI Darussalam Bermi, yang telah banyak memberikan dukungan dan bantuan sampai terselesaikannya penelitian ini;
8. Tak lupa pula kepada rekan-rekan sejawat saya khususnya mahasiswa (teman kelas PGMI E angkatan 2017), terima kasih atas semua dukungan dan motivasi serta cerita yang takkan kulupakan selama menuntut ilmu bersama.
Tak ada yang dapat peneliti perbuat sebagai balas budi atas kebaikan semua pihak kecuali hanya do’a semoga amal mereka mendapat imbalan yang terbaik dari Allah SWT dan Semoga ilmu yang peneliti terima ini dapat bermanfaat bagi diri sendiri, agama, nusa dan bangsa. Aamiin Yarrobbal Alaamin.
Mataram, 2021
Penulis
Dian Islamiati
xi DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
ABSTRAK ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat ... 6
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 7
E. Telaah Pustaka ... 8
F. Kerangka Teori... 10
1. Guru ... 10
xii
a. Pengertian Guru ... 10
b. Peran Guru dalam Proses Pembelajaran ... 11
2. Kompetensi Guru ... 14
a. Pengertian Kompetensi Guru ... 14
b. Kompetensi Pedagogik Guru ... 16
c. Kualifikasi Akademik dan Aspek yang Memengaruhi ... 20
3. Proses Pembelajaran... 21
a. Pengertian Proses ... 21
b. Pengertian Pembelajaran ... 21
c. Faktor-faktor yang Memengaruhi Proses Pembelajaran ... 22
G. Metode Penelitian... 24
1. Pendekatan Penelitian ... 24
2. Kehadiran Peneliti ... 25
3. Lokasi Penelitian ... 26
4. Sumber Data ... 26
5. Prosedur Pengumpulan Data ... 27
6. Teknik Analisis Data ... 30
7. Keabsahan Data ... 32
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 36
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 36
1. Sejarah Berdirinya MI Darussalam Bermi ... 36
2. Profil MI Darussalam Bermi ... 36
3. Keadaan Peserta Didik MI Darussalam Bermi ... 37
4. Keadaan Guru MI Darussalam Bermi ... 38
5. Keadaan Sarana dan Prasarana MI Darussalam Bermi ... 40
B. Paparan Data dan Temuan Penelitian ... 43
BAB III PEMBAHASAN ... 67
xiii
BAB IV PENUTUP ... 74
A. Kesimpulan ... 74
B. Saran ... 74
DAFTAR PUSTAKA ... 76
LAMPIRAN ... 79
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Data jumlah peserta didik MI Darussalam Bermi, 38.
Tabel 2.2 Data guru MI Darussalam Bermi, 39.
Tabel 2.3 Data keadaan Sarana dan Prasarana MI Darussalam Bermi, 41.
Tabel 2.4 Data hasil observasi guru kelas I MI Darussalam Bermi, 44.
Tabel 2.5 Data hasil observasi guru kelas II MI Darussalam Bermi, 46.
Tabel 2.6 Data hasil observasi guru kelas III MI Darussalam Bermi, 49.
xv
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 4.1 Instrumen observasi, 79.
Lampiran 4.2 Instrumen wawancara, 88.
Lampiran 4.3 Instrumen dokumentasi, 106.
Lampiran 4.4 Foto dokumentasi, 107.
xvi
ANALISIS KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PROSES
PEMBELAJARAN DI MI DARUSSALAM BERMI TAHUN PELAJARAN 2020/2021
Oleh:
Dian Islamiati NIM 170106180
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perhatian peneliti terhadap kompetensi pedagogik guru. Berdasarkan jurnal yang dibaca peneliti, peneliti menemukan bahwa kompetensi pedagogik merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas mengajar. Dari kutipan tersebut peneliti menyatakan bahwa kompetensi pedagogik meliputi aspek pemahaman terhadap siswa, perancangan pembelajaran, pengembangan siswa dalam proses pembelajaran serta evaluasi hasil belajar siswa.
Jenis dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Subyek penelitian ini adalah guru kelas I, II, III, kepala sekolah dan siswa kelas I, II, III masing-masing tiga orang. Kemudian data penelitian diambil menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selanjutnya setelah data diperoleh peneliti melakukan analisis data dengan menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan yang terakhir adalah verifikasi data.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di MI Darussalam Bermi sesuai dengan empat komponen kompetensi pedagogik guru yang diamati oleh peneliti yaitu kompetensi pemahaman terhadap siswa, perancangan pembelajaran, pengembangan siswa dalam proses pembelajaran, serta evaluasi hasil belajar namun disisi lain tentu masih ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan atau dikembangkan oleh guru yaitu kompetensi pengembangan siswa dalam proses pembelajaran untuk perkembangan MI kedepannya.
Kata Kunci: Guru, Kompetensi Pedagogik, Pembelajaran
xvii
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan sangat bermanfaat dalam kehidupan seseorang yaitu untuk membentuk kepribadian baik di dalam lingkungan formal maupun lingkungan non formal. Pendidikan dapat mulai diterapkan dari usia dini agar siswa menjadi generasi yang lebih unggul dan berdampak positif terhadap perkembangan dan kemajuan sebuah negara. Sebagaimana pengertian pendidikan yang tertuang dalam Undang-undang Negara Republik Indonesia sebagai berikut:
Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.2 Pendidikan sebagai wadah atau lembaga yang menampung dan dalam sebuah lembaga tersebut terdapat sebuah rancangan untuk mensukseskan dan melancarkan proses pembelajaran. Sedangkan seorang guru memiliki peranan yang tak kalah penting yaitu dalam melaksanakan proses pembelajaran yang memberikan dampak positif untuk terciptanya kemajuan sistem pendidikan
2 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia, Sistem Pendidikan Nasional, Nomor. 20, Tahun 2003, h. 1.
yang bermutu dan dapat digunakan oleh peserta didik sebagai dasar ilmu pengetahuan.
Secara umum guru ialah pendidik dan pengajar untuk pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, dasar, dan menengah. Guru-guru ini harus memiliki kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan hal yang baru dapat dianggap sebagai guru. Beberapa istilah yang juga menggambarkan peran guru antara lain dosen, mentor, tentor, dan tutor.3
Dalam dunia pendidikan guru memiliki peranan yang sangat erat dan penting dalam proses pembelajaran. Bagaimanapun hebatnya teknologi, peran guru tetap mutlak diperlukan. Guru diperlukan untuk membantu siswa agar dapat beradaptasi terhadap berbagai tantangan kehidupan. Guru hadir untuk membelajarkan siswa, yaitu mengkondisikan siswa agar belajar secara aktif sehingga potensi dirinya dapat berkembang secara optimal. Agar hal tersebut dapat terwujud disinilah pentingnya untuk guru memiliki empat kompetensi guru.
Guru harus mampu memposisikan diri dan menciptakan suasana belajar yang kondusif, karena tugas guru dalam proses pembelajaran adalah sebagai orang tua kedua bagi siswa. Oleh karena itu disinilah letak pentingnya seorang guru untuk memiliki kompetensi.
3 Hamzah B Uno dan Nina Lamatenggo, Tugas Guru dalam Pembelajaran Aspek Yang Memengaruhi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), h. 1.
Seperti halnya yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara menegaskan betapa pentingnya peranan dari seorang guru dalam proses pembelajaran dengan ungkapan: (1) Ing ngarsa sung tulada berarti di depan memberi teladan.
Menunjukkan pentingnya keteladanan yang merupakan cara yang paling ampuh dalam mengubah perilaku siswa; (2) Ing madya mangun karsa berarti di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa; (3) Tut wuri handayani artinya dari belakang memberikan dorongan dan arahan atau motivasi. Hal ini mempunyai makna yang kuat tentang peran dan fungsi guru sebagai pendidik.4
Kompetensi merupakan seperangkat penguasaan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru atau pendidik agar dapat mewujudkan performa unjuk kerja sebagai guru secara tepat.5 Kompetensi guru yang dimaksud yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.
Pentingnya penguasaan empat kompetensi tersebut mutlak harus dimiliki setiap guru untuk menjadi tenaga pendidik yang profesional karena dengan menguasai empat kompetensi tersebut guru atau pendidik dapat melakukan perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.
Karena di negara kita sudah bukan rahasia lagi bahwa masyarakat menaruh
4 Sobry Sutikno, Strategi Pembelajaran, (Jawa Barat: Penerbit Adab, 2021), h. 3-4.
5 Imam Suraji, Urgensi Kompetensi Guru, Forum Tarbiyah, Vol. 10. Nomor 2, Desember 2012, h. 240.
harapan yang terlalu tinggi terhadap guru. Keberhasilan atau kegagalan sekolah sering dialamatkan terhadap guru.
Salah satu kompetensi penentu keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik adalah kompetensi yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran antara guru dengan anak didiknya yang membutuhkan pengelolaan secara baik. Bagaimana guru dalam menyampaikan materi atau pesan keilmuan yang diajarkan seorang pendidik dapat berjalan dengan baik dan mendapatkan hasil yang maksimal.6 Selain itu kompetensi pedagogik juga berupa kemampuan pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan peserta didik untuk mengaplikasikan berbagai potensi yang dimilikinya.7
Kompetensi pedagogik sangat penting dalam sebuah proses pembelajaran karena berhubungan langsung dengan bagaimana guru melakukan transfer knowledge dengan siswa. Sehingga jika guru belum mampu atau tidak bisa menguasai kompetensi pedagogik akan berakibat langsung terhadap pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan guru atau pendidik.
Kompetensi pedagogik guru perlu untuk dikuasai karena kompetensi tersebut berkaitan dengan pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran yang
6 Agung Iskandar, Kompetensi Guru, (Jakarta: Edu Pusaka, 2017), h.109.
7 Iswadi, Teori Belajar, (Bogor: In Media, 2019), h. 136.
dilakukan guru di dalam kelas. Setelah diketahui mengenai kompetensi pedagogik guru, diharapkan dapat menjadi dasar untuk penelitian lanjutan mengenai kompetensi pedagogik.
Dari studi pendahuluan yang dilakukan peneliti melalui metode wawancara peneliti mendapati bahwa guru yang mengajar di kelas I MI Darussalam Bermi merupakan alumni UIN Mataram.8 Kemudian guru yang mengajar di kelas II MI Darussalam Bermi adalah alumni Sekolah Tinggu Ilmu Dakwah Islahuddin.9 Selanjutnya guru kelas III MI Darussalam bermi adalah alumni UIN Mataram dan merupakan salah satu dari ketiga guru sudah tersertifikasi serta terdaftar segabai Pegawai Negeri Sipil (PNS).10 Dalam proses pembelajaran menurut peneliti guru-guru yaitu guru mulai dari kelas I sampai kelas III MI Darussalam Bermi sudah mengajar dengan ketentuan- ketentuan yang berlaku seperti dari komponen-komponen RPP yang digunakan bagaimana guru tersebut melaksanakan RPP tersebut, bagaimana guru mengaplikasikan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru namun yang dikhususkan dalam penelitian ini adalah kompetensi pedagogik guru MI Darussalam Bermi.11
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk menggali lebih jauh terkait penelitian yang berjudul “Analisis Kompetensi
8 Nurul Aenuni, Wawancara, 27 Mei 2021.
9 Ramlam, Wawancara, 28 Mei 2021.
10 Baiq Nurul Aenuni, 27 Mei 2021.
11 MI Darussalam Bermi, Observasi, 17 Februari 2021.
Pedagogik Guru Dalam Proses Pembelajaran di MI Darussalam Bermi Tahun Pelajaran 2020/2021”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu Bagaimana kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di MI Darussalam Bermi Tahun pelajaran 2020/2021?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di MI Darussalam Bermi Tahun pelajaran 2020/2021.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan mengenai analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi Sekolah, hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan dan saran terkait dengan analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran.
2) Bagi Guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan saran untuk meningkatkan kemampuan kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran.
3) Bagi Peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pengalaman dan menambah wawasan.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini meliputi proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas I, II, dan III di MI Darussalam Bermi, sehingga batasan masalah penelitian ini adalah berfokus pada guru dan siswa kelas I, II, dan III yang sedang melakukan kegiatan belajar mengajar.
2. Setting Penelitian
Setting atau lokasi dalam penelitian ini adalah MI Darussalam Bermi.
Adapun alasan peneliti memilih lokasi di MI Darussalam Bermi adalah sebagai berikut:
a. Kondisi tempat penelitian relevan, karena yang diamati atau diobservasi adalah proses pembelajaran di dalam kelas.
b. Lokasi penelitian dekat sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian baik dalam pengambilan data secara dokumentasi, wawancara, serta juga peneliti mudah dalam melakukan observasi.
E. Telaah Pustaka
Telaah pustaka merupakan hasil penelitian terdahulu (prior research) yang relevan dengan persoalan yang akan dikaji dalam skripsi.12 Berdasarkan penelusuran peneliti pada beberapa literatur, peneliti menemukan beberapa sumber refrensi yang cukup terkait dengan judul analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di MI Darussalam Bermi. Berikut di antara skripsi yang relevan sebagai berikut.
1. Penelitian yang dilakukan oleh Fredita Indriyani dengan judul “Analisis Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Pembelajaran Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Senakin”. Tahun 2013. Hasil penelitian yang diperoleh ialah, berdasarkan pengolahan data angket kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Senakin diperoleh hasil 73,33 % kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran berada dalam kategori baik.13 Persamaan penelitian ini dengan penelitian peneliti adalah sama-sama meneliti tentang kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran. Sedangkan perbedaan terdapat pada sekolah yang dijadikan rujukan tempat meneliti serta subyek yang
12 UIN MATARAM, Pedoman Penulisan Skripsi UIN MATARAM Tahun 2020, (UIN Mataram, 2020), hlm. 24.
13 Fredita Indriyani. “Analisis Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Proses Pembelajaran Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Senakin”, (Skripsi, FKIP Universitas Tanjung Pura, Pontianak, 2013), h. 6.
diteliti, yaitu pada penelitian peneliti meneliti kelas rendah yang mencakup kelas I, II dan III MI Darussalam Bermi.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmad Harahap dengan judul “Analisis Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Pembelajaran Tematik Kelas I MI Pembangunan UIN Jakarta”. Tahun 2020. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru kelas I MI Pembangunan UIN Jakarta memiliki kompetensi yang baik dilihat dari data peneltian observasi yang didapat oleh peneliti dengan guru kelas I dengan nilai rata- rata 83,75 dengan kategori baik.14 Persamaan penelititan ini dengan penelitan peneliti terletak pada variabel kompetensi pedagogik guru dan satuan pendidikan yang dijadikan objek penelitian yaitu Madrasah Ibtidaiyah walaupun di tempat yang berbeda. Sedangkan perbedaannya terdapat pada subyek yang diteliti, pada penelitian yang dilakukan peneliti diketahui subyeknya adalah kelas rendah yaitu mencakup kelas I, II, dan III MI Darussalam Bermi.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Fatih Kumala Sari yang berjudul “Analisis Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya Berbasis Kurikulum 2013 pada Siswa Kelas V Di MI Ma’arif Watuagung Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2020/2021. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini ialah kompetensi pedagogik dalam
14 Rahmad Harahap. “Analisis Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Pembelajaran Tematik Kelas 1 MI Pembangunan UIN Jakarta”, (Skripsi, FITK UIN Syarif Hidayatullah, 2020), h. 116.
pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya guru pada kelas V di MI Ma’arif Watuagung Kabupaten Semarang sesuai dengan 7 aspek penguasaan kompetensi pedagogik guru menunjukkan telah melaksanakan dan menguasai aspek-aspek tersebut.15 Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sama-sama meneliti tetang kompetensi pedagogik guru dan satuan pendidikan yang dijadikan rujukan tempat peneliti melakukan penelitian yaitu di Madrasah Ibtidaiyah.
Sedangkan perbedaannya adalah tahun penelitian dilakukan serta yang menjadi subyek dalam penelitian, yaitu dalam penelitian peneliti menggunakan kelas rendah sebagai subyeknya yaitu yang mencakup kelas I, II, dan III MI Darussalam Bermi.
F. Kerangka Teori 1. Guru
a. Pengertian Guru
Guru merupakan salah satu komponen dalam proses pembelajaran yang memiliki posisi yang sangat menentukan keberhasilan sebuah pembelajaran, karena tugas utama seorang guru seperti dimuat dalam Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah sebagai berikut:
15 Fatih Kumala Sari. “Analisis Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya Berbasis Kurikulum 2013 pada Siswa Kelas V di MI Ma’arif Watuangung Kabupaten Semarang”, (Skripsi, FTIK IAIN Salatiga, Salatiga, 2020), h. 74.
Mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.16
Guru dalam bahasa jawa adalah menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyarakat. Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua murid. Sedangkan ditiru artinya seorang guru harus menjadi suri tauladan (panutan) bagi semua muridnya.17
Atas dasar beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam proses pembelajaran guru bukan hanya sekedar pemberi ilmu pengetahuan kepada siswa, namun lebih dari sekedar itu guru juga sebagai fasilitator utama dalam pelaksanaan proses pembelajaran untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa bukan hanya dalam hal pembelajaran saja namun lebih dari itu yaitu bagaimana karakter siswa tersebut.
b. Peran Guru dalam Proses Pembelajaran
Peran guru dalam proses pembelajaran sangat mempengaruhi keberhasilan dan pemahaman terhadap siswa. Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 dan Undang-undang No. 14 Tahun 2005 peran guru
16 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia, Guru dan Dosen, Nomor. 14, Tahun 2005, h.1.
17 Iswadi, Teori Belajar, (Bogor: In Media, 2019), h. 129.
yaitu sebagai pendidik, pembimbing, pengajar, pengarah, pelatih, penilai, dan pengevaluasi peserta didik.18
1) Guru sebagai pendidik
Guru sebagai pendidik yang menjadi tokoh panutan dan diidentifikasikan bagi para siswa dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus mempunyai standar kualitas pribadi tertentu yang mencakup tanggung jawab, kewibawaan, kemandirian, dan kedisiplinan. Guru harus memamahi berbagai nilai, norma moral dan sosial, serta berusaha untuk berprilaku sesuai dengan nilai dan norma tersebut.19
Guru mengkomunikasikan pesan-pesan dan materi pelajaran. Ia tidak hanya menyampaikan materi pelajaran tetapi juga harus menanamkan konsep berpikir melalui pelajaran yang diberikan.
Kalau guru hanya sebagai komunikator pesan-pesan pengajaran maka fungsi guru pada suatu saat dapat diganti dengan alat komunikasi elektronik.20
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa guru di dalam proses pembelajaran bukan hanya sebagai seorang yang mengkomunikasikan pesan-pesan dari materi pelajaran namun guru juga harus dapat menjadi suri tauladan bagi siswa. Karena jika guru hanya menjadi komunikator dalam proses pembelajaran maka guru suatu saat akan dapat digantikan oleh sebuah alat komunikasi elektronik.
18 Hamzah B Uno & Nina Lamatenggo, Tugas Guru dalam Pembelajaran Aspek yang Memengaruhi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), h. 3.
19 Ibid.
20 Piet A. Sahertian, Profil Pendidik Profesional, (Yogyakarta: Andi Offset, 1944), h. 8-9.
2) Guru sebagai pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.21 Banyak masalah psikologis yang dihadapi siswa banyak pula minat, kemampuan, motivasi dan kebutuhannya. Kesemuanya memerlukan bimbingan. Guru pada saat mengajar juga bertindak sebagai pembimbing yang dapat menolong siswa agar mampu menolong dirinya sendiri. Di sinilah letak peran guru sebagai pembimbing.22
Dari dua definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa peran guru di dalam proses pembelajaran bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran namun lebih dari sekedar itu yaitu membimbing siswa dalam hal minat, kemampuan, motivasi, kreatifitas, moral, serta spiritual yang bertanggung jawab atas kelancaran proses pembelajaran.
3) Guru sebagai pengajar
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika faktor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik.23
21 Iswadi, Teori Belajar, (Bogor: In Media, 2019), h. 131.
22 Piet A. Sahertian, Profil Pendidik Profesional, (Yogyakarta: Andi Offset, 1944), h. 9.
23 Iswadi, Teori Belajar, (Bogor: In Media, 2019), h. 130.
4) Guru sebagai pengarah
Guru adalah seorang pengarah bagi siswa bahkan bagi orang tua.
Sebagai pengarah guru harus mampu mengajarkan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi, mengarahkan siswa dalam mengambil suatu keputusan, dan menemukan jati dirinya. Guru juga dituntut untuk mengarahkan siswa dalam mengembangkan potensi dirinya sehingga siswa dapat membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam menghadapi kehidupan nyata di masyarakat.24
5) Guru sebagai pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memberikan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Guru bertugas melatih siswa dalam pembentukkan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing siswa.25
6) Guru sebagai evaluator
Evaluasi atau Penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian.26
2. Kompetensi Guru
a. Pengertian Kompetensi Guru
Kompetensi adalah perpaduan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diwujudkan dalam bentuk sikap atau perbuatan.
Dengan kata lain, kompetensi adalah kesatuan dari penguasaan
24 Hamzah B Uno & Nina Lamatenggo, Tugas Guru dalam Pembelajaran Aspek yang Memengaruhi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), h. 3.
25 Ibid.
26 Iswadi, Teori Belajar, (Bogor: In Media, 2019), h. 134.
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan tugas/pekerjaannya.27
Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.28
Kompetensi merupakan perpaduan unsur pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.29
Dari kedua pendapat di atas dapat dipahami bahwa kompetensi adalah hal yang harus dimiliki guru untuk dapat melaksanakan tugas keprofesionalannya yang merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, yang diwujudkan dalam kebiasaan bertindak serta berpikir.
Ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu:30 1) Kompetensi kepribadian
Adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
2) Kompetensi pedagogik
Kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
27 Ahmad Susanto, Konsep, Strategi, dan Implementasi Manajemen Peningkatan Kinerja Guru, (Jakarta: Kencana, 2016), h. 133.
28 Imam Suraji, Urgensi Kompetensi Guru, Forum Tarbiyah, Vol. 10, Nomor. 2, Desember 2012, h. 240.
29 Achmad Habibullah, Kompetensi Pedagogik Guru, Edukasi, Vol. 10, Nomor 3, September- Desember 2012, h. 364.
30 Iswadi, Teori Belajar, (Bogor: In Media, 2019), h. 136-137.
3) Kompetensi profesional
Adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.
4) Kompetensi sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/ wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
b. Kompetensi Pedagogik Guru
1) Pengertian kompetensi pedagogik guru
Secara bahasa, kata pedagogik berasal dari bahasa Yunani, paedos dan agogos (paedos = anak dan agogos= mengantar atau membimbing) yang berarti pedagogik ialah membimbing siswa.31
Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.32
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik, yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.33
Kompetensi paedagogis adalah kompetensi yang berkaitan dengan peran guru sebagai agen pembelajaran. Sebagai agen pembelajaran, guru tidak hanya dituntut memiliki kemampuan menyampaikan materi yang diajarkan dengan cara menarik agar mudah diterima anak didiknya, tetapi guru juga harus mampu
31 Marselu R. Payong, Sertifikasi Profesi Guru: Konsep Dasar Problematika, Dan Implementasinya, (Jakarta Barat: PT. Indeks, 2011), h. 28.
32 Iswadi, Teori Belajar, (Bogor: In Media, 2019), h. 136.
33 Achmad Habibullah, Kompetensi Pedagogik Guru, Edukasi, Vol. 10, Nomor 3, September- Desember 2012, h. 364.
memahami anak didiknya dengan baik. Hal ini penting agar proses pembelajaran tidak lagi berpusat kepada guru (teacher centered learning), tetapi sudah mengedepankan aktivitas dan kreativitas peserta didik di kelas (student active learning) yang dapat merangsang keterlibatan peserta didik secara aktif.34 Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi pedagogik adalah kompetensi yang mutlak dimiliki guru atau pendidik guna mensukseskan sebuah proses pembelajaran.
2) Karakteristik kompetensi pedagogik guru
Untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran agar menarik maka dibutuhkan peran penting dari guru dalam upaya mensukseskan tujuan pembelajaran nasional dengan memperhatikan karakteristik seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran diantaranya:
a) Pemahaman terhadap siswa
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pemahaman memiliki arti proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan.35 Kemampuan yang diteliti guru yaitu bagaimana seorang guru mampu mencatat dan menggunakan informasi tentang paham akan karakteristik siswa untuk membantu proses pembelajaran.
Karakteristik ini meliputi aspek fisik intelektual, sosial, emosional, moral, dan latar belakang sosial budaya.36
34 Imam Suraji, Urgensi Kompetensi Guru, Forum Tarbiyah, Vol. 10, Nomor. 2, Desember 2012, h. 247.
35 Ebta Setiawan, “Arti KataPemahaman”, https://kbbi.web.id/paham.html, diakses tanggal 10 Maret 2021, pukul 09.25.
36 Nanang Priatna dan Tito Sukamto, Pengembangan Profesi Guru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), h. 37.
Pemahaman terhadap siswa penting karena hal tersebut akan berpengaruh pada proses pembelajaran bagaimana guru memandang siswa sebagai seorang individu yang membutuhkan bimbingan bukan hanya menerima materi yang disampaikan oleh guru.
b) Perancangan pembelajaran
Perancangan pembelajaran menurut Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang standar proses, dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada standar isi. Perancangan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran. Penyusunan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran yang digunakan.37
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.38
37 Menteri pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Nomor. 65, Tahun 2013, h. 2.
38 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 68-69.
Rencana pelaksanaan pembelajaran yaitu panduan langkah- langkah yang akan dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran yang disusun dalam skenario kegiatan. Rencana pelaksanaan pembelajaran dimaksud adalah rencana pelaksanaan pembelajaran berorientasi pembelajaran terpadu yang menjadi pedoman bagi guru dalam proses belajar mengajar.39
Jadi dapat disimpulkan dua komponen utama dalam proses pembelajaran yaitu Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan turut mendukung mensukseskan proses pembelajaran.
c) Pengembangan siswa dalam proses pembelajaran
Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap.40
Belajar menunjukkan aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yang disadari atau disengaja. Aktivitas ini menunjuk pada keaktifan seseorang dalam melakukan aspek mental yang memungkinkan terjadinya perubahan pada dirinya.41
Pengembangan Sisiwa dalam Proses pembelajaran adalah sebuah proses yang dilakukan oleh siswa dalam rangka menemukan arti dan pemahaman. Karena dalam proses belajar dibutuhkan motivasi serta semangat untuk siswa agar dapat menggunakan potensi dan ototritas yang dimilikinya untuk membangun suatu gagasan/ pendapat.
39 Ibid., h. 71.
40 Baharuddin & Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h. 11.
41 Aprida Pane dan Muhammad Darwis Dasopang, Belajar dan Pembelajaran, Fitrah Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman, Vol. 03, Nomor 2, Desember 2017, h. 335.
c. Kualifikasi Akademik dan Aspek yang Memengaruhi
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen Pasal 9, mengamanatkan bahwa guru profesional harus memiliki syarat kualifikasi akademik sekurang- kurangnya S1/D-IV dan meiliki empat kompetensi utama yakni;
kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.42
Wina Sanjaya mengemukakan bahwa terdapat beberapa aspek dalam setiap kompetensi sebagai tujuan yang ingin dicapai, yaitu:43 1) Pengetahuan (Knowledge)
2) Pemahaman (Understanding) 3) Kemahiran (Skill)
4) Nilai (Value) 5) Sikap (Attitude) 6) Minat (Interest)
42 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia, Guru dan Dosen, Nomor. 14, Tahun 2005, h. 6.
43 Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2008), h.
131-132.
3. Proses Pembelajaran a. Pengertian Proses
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia proses adalah runtutan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu, rangkaian tindakan, pembuatan, atau pengolahan yang menghasilkan produk.44
Proses berasal dari bahasa latin yaitu processus yang berarti berjalan kedepan. Ini dapat dikatakan bahwa proses adalah tahapan kemajuan yang menuju kepada suatu sasaran atau tujuan.45
Proses belajar adalah serangkaian aktivitas yang terjadi pada pusat saraf individu yang belajar. Proses belajar terjadi secara abstrak, karena terjadi secara mental dan tidak dapat diamati.
Oleh karena itu, proses belajar hanya dapat diamati jika ada perubahan perilaku dari seseorang yang berbeda dengan sebelumnya.46
Kedua definisi di atas memiliki arti bahwa proses belajar adalah tahapan kemajuan menuju suatu tujuan yang dapat diamati dari perilaku seseorang yang berbeda dari sebelumnya setelah melakukan belajar.
b. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar peserta didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong peserta didik melakukan proses belajar.47
44 Ebta Setiawan, “Arti Kata Proses”, https://kbbi.web.id/proses.html, diakses tanggal 10 Maret 2021, pukul 09.22
45 Herawati, Memahami Proses Belajar Anak, Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Vol. IV, Nomor 1, Januari-Juni 2018, h. 40.
46 Baharuddin & Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h. 16.
47 Aprida Pane dan Muhammad Darwis Dasopang, Belajar dan Pembelajaran, Fitrah Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman, Vol. 03, Nomor 2, Desember 2017, h. 337.
Istilah pembelajaran merupakan padanan kata dari bahasa ingris yaitu, instruction. Pembelajaran menurut Degeng (1993) adalah upaya untuk membelajarkan pebelajar.48
Dari kedua definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses mendapatkan/memperoleh kepandaian atau ilmu yang hasilya dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman.
c. Faktor-faktor yang Memengaruhi Proses Belajar
Secara umum ada dua faktor yang memengaruhi proses belajar, faktor itu diantaranya adalah:
1) Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang berada dalam diri individu tersebut atau dalam hal ini adalah siswa itu sendiri.
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor- faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis.49 Faktor ini meliputi aspek fisiologis (yang bersifat jasmani) dan aspek psikologis (yang bersifat rohani).50
a) Faktor fisiologis
Faktor-faktor fisiologis merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam. Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat
48 Sobry Sutikno, Strategi Pembelajaran. (Jawa Barat: Penerbit Adab, 2021), h. 23.
49 Baharuddin & Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h. 19.
50 Herawati, Memahami Proses Belajar Anak, Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Vol. IV, Nomor 1, Januari-Juni 2018, h. 37.
memengaruhi aktivitas belajar individu. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar seseorang. Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis.
Selama proses belajar berlangsung, peran dan fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama pancaindera. Pancaindera yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula.51
b) Faktor psikologis
Faktor-faktor psikologis merupakan kondisi psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar yaitu kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat.52
2) Faktor eksternal
Sama halnya dengan faktor internal faktor ini juga dibagi dalam dua bagian yaitu faktor lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial.
Lingkungan sosial, yang termasuk lingkungan sosial siswa adalah lingkungan sosial keluarga, lingkungan sosial sekolah dan lingkungan sosial masyarakat. Lingkungan nonsosial, yang termasuk dalam lingkungan nonsosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.53
Faktor-faktor eksternal yang memengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.54
Dari kedua pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor
51 Baharuddin & Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h. 19.
52 Ibid.
53 Herawati, Memahami Proses Belajar Anak, Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Vol. IV, Nomor 1, Januari-Juni 2018, h. 38.
54 Baharuddin & Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h. 26.
internal atau hal yang berasal dari dalam diri siswa namun juga hal yang berasal dari luar diri siswa.
3) Faktor pendekatan belajar (approach to learning)
Faktor pendekatan pembelajaran, yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.55
G. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang relevan dengan kajian penelitian ini merupakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif yang mengkaji tentang bagaimana analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran.
Penelitian kualitatif adalah suatu strategi inquiri yang menekankan pencarian makna, pengertian, konsep, karakteristik, gejala, simbol maupun deskripsi tentang sebuah fenomena, fokus dan multimetode, bersifat alami dan holistik, mengutamakan kualitas, menggunakan beberapa teknik, serta disajikan secara naratif. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menemukan jawaban terhadap suatu fenomena atau pernyataan melalui aplikasi prosedur ilmiah secara sistematis dengan menggunakan pendekatan kualitatif.56
Peneliti memilih menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif karena peneliti ingin memberikan gambaran atau deskripsi yang bersifat
55 Ahmad Syarifuddin, Penerapan Model Pembelajaran cooperative Belajar dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya, Ta’dib, Vol. XVI, Nomor 01, Juni 2011, h.124.
56 A Muri Yusuf, Metode Penelitian: Kualitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2014), 300.
faktual dan obyektif tentang analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran pada siswa kelas I, kelas II, dan kelas III di MI Darussalam Bermi. Di samping itu, data-data yang akan dicari dalam penelitian ini adalah data yang bersumber dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif ini, peneliti sebagai instrument kunci yang artinya adalah berhasil tidaknya sebuah penelitian sangat bergantung pada tingkat keterlibatan peneliti. Dengan demikian kehadiran peneliti sangat mutlak diperlukan : Peneliti (manusia) adalah sebagai alat yang akan berinteraksi maupun berhubungan serta berkerjasama dengan objek atau responden lainnya, peneliti sangatlah urgen di lapangan untuk mendapatkan atau mengumpulkan informasi yang diperlukan.57
Adapun data-data yang dimaksud peneliti dalam penelitian ini adalah data-data yang berhubungan dengan analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di kelas I, kelas II, dan kelas III MI Darussalam Bermi.
57 Lexi J, Moloeng, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h.
6.
3. Lokasi Penelitian
Peneliti mengambil lokasi penelitian di MI Darussalam Bermi, alamat sekolah yaitu: Jl. Diponegoro, Bermi, Babussalam, Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
4. Sumber Data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dari mana data tersebut diperoleh58.
Jenis sumber data pada penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu:
a. Sumber Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh dengan cara langsung mengamati dari narasumber atau mengamati langsung di lapangan.59 Cara mendapatkan data primer dalam penelitian ini adalah dengan melakukan observasi dan wawancara langsung.
Oleh sebab itulah kehadiran instrumen kunci atau peneliti sangat penting untuk dapat memberikan kesimpulan dari hasil penelitiannya dengan mendeskripsikan informasi yang berbentuk data yang ditemukan di lapangan yang berkaitan dengan masalah-masalah yang diteliti selama proses penelitian dari awal sampai akhir penelitian.
58 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 129.
59 James A. Blcek, Dean J, Champion, Methods and Inssyus in Social & Research Metode dan Masalah-masalah Sosial, ter. E Koswara dkk, (Jakarta: Refika Anggota IKAPI 2001) cet-3, h. 231.
Berdasarkan pendapat tersebut data primer dalam penelitian ini adalah Guru kelas I, Guru kelas II, Guru kelas III, beserta masing- masing tiga Siswa kelas I, kelas II, dan kelas III dan Kepala sekolah MI Darussalam Bermi.
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Dengan maksud peneliti tidak perlu hadir dan dimanapun data yang dikumpulkan, contoh mengambil data atau dokumen yang sudah ada.60 Berdasarkan pendapat di atas sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari dokumentasi terkait MI Darussalam Bermi.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang valid dan kredibel peneliti menggunakan beberapa metode, yaitu
a. Observasi
Observasi adalah teknik pengamatan dan pencatatan sistematis dari fenomena-fenomena yang diselidiki. Observasi dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi dari gejala atau fenomena (kejadian
60 Ibid.
atau peristiwa) secara sistematis dan didasarkan pada tujuan penyelidikan yang telah dirumuskan.61
Peneliti menggunakan metode ini untuk mendapatkan data-data terkait tentang Analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di MI Darussalam Bermi Tahun Pelajaran 2020/2021.
b. Metode Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan kepada responden dan mencatat atau merekam jawaban-jawaban responden. Wawancara dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung dengan sumber data. Wawancara langsung diadakan dengan orang yang menjadi sumber data dan dilakukan tanpa perantara, baik tentang dirinya maupun tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Adapun wawancara tidak langsung dilakukan terhadap seseorang yang dimintai keterangan tentang orang lain.62
Dalam melakukan wawancara agar terhindar hal-hal yang tidak menjadi fokus dalam penelitian adalah dengan mewawancari sumber data atau subyek yang memiliki pengetahuan dan pengalaman langsung terhadap permasalahan yang sedang diteliti.
61 Pupuh Fathurahman, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: CV Pustaka Setia,2011), h.168.
62 Ibid.
c. Metode Dokumentasi
Pengertian dokumen menurut Gottschalk seperti yang dikutip oleh Imam Gunawan menyatakan bahwa kata dokumen berasal dari bahasa latin yiatu docere, berarti mengajar seringkali digunakan para ahli dalam dua pengertian, yaitu pertama, berarti sumber tertulis bagi informasi sejarah sebagai kebaikan daripada kesaksian lisan, artefak, peninggalan-peninggalan terlukis, dan petilasan-petilasan arkeologis.
Pengertian kedua diperuntukkan bagi surat-surat resmi dan surat-surat negara, seperti surat perjanjian, undang-undang, hibah, konsesi, dan lainnya. Lebih lanjut Gottschalk menyatakan bahwa dokumen (dokumentasi) dalam pengertiannya yang lebih luas berupa setiap proses pembuktian yang didasarkan atas jenis sumber apapun, baik itu yang bersifat tulisan, lisan, gambaran, atau arkeologis.63
Penelitian ini menggunakan pengumpulan data yaitu data tertulis yang dapat memberikan keterangan sesuai dengan data lokasi penelitian. Adapun data-data yang dimaksud dalam penelitian yaitu sebagai berikut:
1) Sejarah berdirinya MI Darussalam Bermi 2) Profil MI Darussalam Bermi
3) Data tentang keadaan guru
63 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2017), h. 175.
4) Data tentang keadaan siswa
5) Data sarana dan prasarana MI Darussalam Bermi 6) Rpp kelas I, II, dan III MI Darussalam Bermi
7) Jadwal Pelajaran kelas I, II, dan III MI Darussalam Bermi 6. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif merupakan analisis yang dilakukan sebelum peneliti memasuki lapangan, saat berada di lapangan, dan setelah selesai di lapangan sudah melakukan analisis data. Untuk memperoleh kesimpulan yang obyektif dari sebuah penelitian, perlu dilakukan analisis data dengan cermat, teliti, serta hati-hati.
“Mengutip pendapat Moleong, proses analisis data kualitatif dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya. Setelah ditelaah, langkah selanjutnya adalah reduksi data, penyusunan satuan, kategorisasi dan yang terakhir adalah penafsiran data”.64
Dari kutipan di atas maka dalam menganalisis data yang sudah didapat peneliti menggunakan teknik analisis data sebagai berikut:
64 Sandu Siyoto & Ali Sodik, Dasar Metode Penelitian, (Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015), h. 122.
a. Data Reductaion (Reduksi Data)
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.65
Dalam penelitian ini reduksi data yaitu peneliti merangkum data yang telah diperoleh dari berbagai sumber seperti, guru kelas I, guru kelas II, dan guru kelas III, kepala sekolah, hasil wawancara, hasil observasi, dan dokumentasi yang berkaitan analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di MI Darussalam Bermi.
b. Data Display (Penyajian Data)
Selanjutnya setelah melakukan reduksi data, peneliti akan melakukan penyajian data. Dalam penelitian kualitatif penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk, bagan, hubungan antara kategori, uraian singkat, flawechart, dan sebaginya. Miles dan Huberman berpendapat bahwa penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan.66
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penyajian data dengan membuat uraian singkat berupa teks yang berbentuk narasi yang tentunya berkaitan dengan analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di MI Darussalam Bermi.
65 Ibid, h. 123.
66 Ibid.
c. Conclusion drawing/ verification
Tahapan terakhir dalam analisis data kualitatif yang peneliti gunakan yaitu dengan menarik kesimpulan dan melakukan verfikasi.
Kesimpulan awal yang dipaparkan dalam penelitian ini masih bersifat sementara dan kemungkinan akan berubah jika tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mampu mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.
7. Keabsahan Data
Keabsahan data sangat penting untuk mengetahui hasil dari sebuah penelitian. Keabsahan data dalam penelitian memiliki fungsi untuk membuktikan bahwa selama proses penelitian sesuai dengan apa yang dipaparkan dan relevan dengan fakta yang terjadi di lapangan. Untuk mengetahui keabsahan sebuah data ada beberapa jenis pengecekan data yang digunakan peneliti, yaitu:
a. Perpanjangan Pengamatan
Perpanjang pengamatan ini, peneliti mengecek kembali apakah data yang telah diberikan selama ini setelah dicek kembali pada sumber data asli atau sumber data lain ternyata tidak benar, maka peneliti melakukan pengamatan lagi yang lebih luas dan mendalam sehingga diperoleh data yang pasti kebenarannya.67
67 Umar Sidiq & Moh. Miftachul Chairi, Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan, (Ponorogo: CV. Nata Karya, 2019), h. 91.
Peneliti menggunakan perpanjangan pengamatan dengan teknik memeriksa kembali kebenaran data yang peneliti peroleh dari subjek penelitian. Jika hasil akhir yang didapatkan dari data asli maupun data lain tidak benar, maka peneliti perlu mengecek ulang sumber data yang digali dengan lebih lengkap dan teliti agar data yang didapatkan benar- benar valid.
b. Ketekunan Pengamatan
Ketekunan pengamatan adalah teknik pemeriksaan keabsahan data berdasarkan “seberapa tinggi derajat ketekunan peneliti di dalam melakukan kegiatan pengamatan”. “Ketekunan” adalah sikap mental yang disertai dengan ketelitian dan keteguhan di dalam melakukan pengamatan untuk memperoleh data penelitian. Adapun “pengamatan”, merupakan proses yang kompleks, yang tersusun dari proses biologis (mata, telinga) dan psikologis (daya adaptasi yang didukung oleh sifat kritis dan cermat).68
Dengan peneliti melakukan ketekunan penelitian, peneliti berharap data-data yang peneliti paparkan dan deskripsikan valid dan akurat yang berkaitan dengan analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di MI Darussalam Bermi.
68 Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial, (Bandung: Mandar Maju, 1990), h. 159.
c. Triangulasi
Menurut Moleong triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dapat memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang diperoleh dari penggunaan teknik pengumpulan data.69 Untuk menguji keabsahan data peneliti menggunakan antara lain:70
1) Triangulasi sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Di dalam penelitian ini peneliti mencari data dari sumber yang beragam namun saling berkaitan, selanjutnya peneliti mengecek kebenaran dari sebuah data tersebut yang berkaitan dengan analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di MI Darussalam Bermi.
2) Triangulasi teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Triangulasi teknik yang digunakan dalam penelitian yaitu
69 Salim & Syahrum, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Citapustaka Media, 2012), h.
166.
70 Umar Sidiq & Moh. Miftachul Chairi, Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan, (Ponorogo: CV. Nata Karya, 2019), h. 94-95.
dalam hal terkait metode wawancara dengan cara dicek kembali dengan observasi dan terakhir dokumentasi
3) Triangulasi waktu
Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Atas dasar hal ini peneliti lebih banyak mewawancarai responden saat waktu pagi karena pada waktu tersebut responden masih segar sehingga mampu memberikan data yang valid dan kredibel.
36 BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah Berdirinya MI Darussalam Bermi71
Madrasah Ibtidaiyah Bermi adalah sebuah lembaga pendidikan formal swasta yang berada di bawah naungan Kementrian Agama Republik Indonesia. Secara geografis MI Darussalam Bermi terletak di dusun Bermi desa Babussalam, Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat dan didirikan pada tanggal 15 Februari 1992.
Secara khusus lokasi MI Darussaalam Bermi adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Berbatasan dengan SMP Islam Darussalam Bermi.
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Rumah Masyarakat.
Sebelah Timur : Berbatasan dengan MA Darussalam Bermi.
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Jalan Raya atau Jalan Umum.
2. Profil MI Darussalam Bermi72
Nama Madrasah : MIS Darussalam Bermi
NSM : 111252010018
NPSN : 60721588
Status Madrasah : Swasta
Kepala Madrasah : Marhumi S.Pd.I
71 MI Darussalam Bermi, Dokumentasi, 17 Februari 2021.
72 MI Darussalam Bermi, Dokumentasi, 17 Februari 2021.
Jalan/ Kampung : Jl. Diponegoro, Bermi, Babussalam
Desa/ Kelurahan : Babussalam Gerung Lombok Barat Nusa Tenggara Barat
Kode Pos : 83363
Nomor Telepon : 08175733653
Nomor Fax : -
Alamat Website : http://www.darussalamponpesku.com Alamat Email : [email protected]
SK Pendirian
SK Pendirian : WX/16/387/1992 Tanggal : 15/02/1992
SK Kemenkumham : AHU-10621.50.10.2014
Tanggal : 15/02/1992
Akreditasi : A
Nilai : 87,00
Nomor SK : 200/BAP-SM/KP/XII/2014
Tanggal : 29/12/2014
3. Keadaan Peserta Didik MI Darussalam Bermi
Salah satu komponen yang perlu dan harus ada dalam sebuah pendidikan adalah peserta didik atau siswa. Bagaimana tidak, jika tidak ada peserta didik atau siswa dalam sebuah lembaga pendidikan khususnya sekolah, siapa yang akan dibelajarkan oleh seorang guru atau pendidik.
Oleh karena itu peserta didik merupakan komponen yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Peserta didik di MI Darussalam Bermi rata-rata berasal dari daerah sekitar MI Darussalam Bermi walau ada sebagian yang berasal dari luar Bermi. Dari data yang diterima peneliti berikut disajikan tabel jumlah peserta didik MI Darussaalam Bermi.73
Tabel 2.1
Jumlah Peserta Didik MI Darussalam Bermi Tahun Pelajaran 2020/202174
No Deskripsi Jumlah
1 Jumlah Siswa Kelas 1 35
2 Jumlah Siswa Kelas 2 32
3 Jumlah Siswa Kelas 3 24
4 Jumlah Siswa Kelas 4 20
5 Jumlah Siswa Kelas 5 18
6 Jumlah Siswa Kelas 6 20
Total 149
4. Keadaan Guru MI Darussalam Bermi
Selain peserta didik guru juga merupakan salah satu kompenen yang penting dalam sebuah pendidikan. Guru memegang peranan penting karena bertindak sebagai individu yang membelajarkan peserta didik bagaimana
73 MI Darussalam Bermi, Dokumentasi, 17 Februari 2021.
74 MI Darussalam Bermi, Dokumentasi, 17 Februari 2021.