ANALISIS KOMUNIKASI PEMASARAN TERPADU TERHADAP TINGKAT VOLUME PENGGUNA POLIS PADA
PT ASURANSI JASINDO MAKASSAR Lulu Iljannah1, Manda Hm2, M. Ihsan Malik3
1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar
1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
ABSTRACT
The research aimed to find and to analyze (1) the effect of communication provided by the employees of PT Asuransi Jasindo Makassar (2) the effect of integrated marketing communication on the number of policies at PT. Asuransi Jasindo Makassar. The research method were quantitative and qualitative. The technique of collecting data were observation, documentation, and questionnaire. The sample of the research were 50 participants. The technique of analysis data were descriptive analysis, simple linear regression analysis, validity test, and reliability test. The result shows that an integrated marketing communication has a positive and significant effect on the number of policies at PT. Asuransi Jasindo Makassar
Keywords: communication, integrated marketing, number of policies.
PENDAHULUAN
Persaingan dalam dunia usaha semakin hari terasa semakin kuat, kondisi ini berdampak kepada prinsip-prinsip yang dilakukan oleh kalangan pengusaha khususnya strategi bersaing yang mampu menjadikan usahanya tetap unggul dalam bersaing atau minimal survive. Salah satu strategi yang banyak disiapkan oleh beberapa pengusaha baik usaha yang berskala besar atau menengah ke bawah adalah strategi dalam sistem pemasaran terutama dalam hal komunikasi pemasaran. Sasaran fundamental dari kebanyakan bisnis adalah kelangsungan hidup, laba, dan pertumbuhan. Pemasaran memberikan kontribusi langsung untuk mencapai sasaran ini.
Salah satu tindakan yang diambil di masa modern untuk pengaturan ekonomi dan keuangan ialah asuransi. Asuransi sebagai lembaga keuangan perlu memperkenalkan setiap produk yang mereka tawarkan. Dengan tingkat persaingan yang tinggi diantara perusahaan asuransi baik yang konvensional maupun syariah, hal tersebut menimbulkan pasar pembeli. Dalam kegiatan pemasaran, sebuah perusahaan harus menetapkan strategi komunikasi pemasarannya, karena strategi komunikasi pemasaran yang diambil dalam
pemasaran akan menentukan tujuan-tujuan dari pemasaran itu sendiri.
Komunikasi pemasaran membentuk banyak fungsi bagi konsumen. Konsumen dapat diberitahu atau ditunjuk bagaimana dan mengapa sebuah produk digunakan, oleh orang seperti apa, dan dimana serta kapan konsumen dapat belajar tentang siapa yang membuat produk dan apa yang dipertahankan perusahaan dan merek, serta apa manfaat produk-produk yang ditawarkan perusahaan bagi konsumen.
Perkembangan dunia asuransi mengalami kemajuan yang cukup signifikan, terutama untuk asuransi konvensional. Hal ini terbukti dengan banyaknya asuransi konvensional seperti Bumiputera, Bringin Life Prudential, Axa Mandiri, Manulife, Jiwasraya, dan lain-lain.
Suksesnya suatu proses pemasaran juga akan berpengaruh pada jumlah polis dari nasabah yang menggunakan jasa asuransi yang kita tawarkan. Polis akan menjadi bukti tertulis yang sah dalam perjanjian yang di lakukan oleh perusahaan asuransi dengan pengguna layanan asuransi.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian pengaruh PT. Asuransi Jasindo Makassar dalam memasarkan produk-produk
asuransinya dengan menggunakan Komunikasi Pemasaran Terpadu atau Integreted Marketing Commication (IMC). Untuk itu penulis akan melakukan penelitian dengan judul “Analisis Komunikasi Pemasaran Terpadu Terhadap Tingkat Volume Pengguna Polis Pada PT Asuransi Jasindo Makassar”.
Berdasarkan Uraian Pada latar belakang masalah, maka dalam penelitian ini dapat di rumuskan masalahnya sebagai berikut: Apakah Komunikasi Pemasaran Terpadu Berpengaruh Terhadap Jumlah Polis Pada PT Asuransi Jasindo Makassar.
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana Pengaruh Komunikasi Pemasaran Terpadu Terhadap Jumlah Polis Pada PT Asuransi Jasindo Makassar.
TINJAUAN LITERATUR
Komunikasi pemasaran (marketing communication) adalah sarana dimana perusahaan berusaha menginformasikan, membujuk dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung tentang produk dan merek yang di jual.
Komunikasi adalah aspek penting dalam keseluruhan misi pemasaran serta penentu susksenya pemasaran. Dalam dekade terakhir ini, komponen komunikasi pemasaran dalam bauran pemasaran menjadi penting. Bahkan telah diklain bahwa pemasaran di era 1990-an adalah komunikasi pemasaran. Keduanya tidak dapat dipisahkan.
(Alifahmi, 2015).
Komunikasi Pemasaran Di Definisikan sebagai proses penyebaran informasi tentang perusahaan dan apa yang hendak di tawarkannya (offering) pada pasar sasaran.
(Sulaksana, 2016)
Berdasarkan paradigm Harold Laswell, Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.
(Uchjana, 2016)
Komunikasi juga dapat dijadikan sebagai pengingat bagi konsumen mengenai keberadaan produk, yang pada masa lalu pernah dilakukan transaksi pertukaran pada produk ini. Pada tingkatan yang lebih tinggi, peran komunikasi tidak hanya pada
pendukung transaksi dengan
menginformasikan, membujuk, mengingatkan, dan membedakan produk, tetapi juga
menawarkan sarana pertukaran itu sendiri.
(Setiadi, 2017).
Pengembangan konsep komunikasi pemasaran menjadi tantangn di masa yang akan datang. Kompleksnya perkembangan organisasi, lingkugan dan konsumen menjadi komunikasi masa depan harus mengintegrasikan strategi-strategi bau komunikasi pemasaran untuk memenangkan persaingan maupun meraih sinergi.
(Hermawan, 2016).
Cara berkomuniasi dari produsen kepada konsumen akan sangat berpengaruh kepada impact yang akan di dapatkan oleh produsen tersebut. Komunikator harus melakukan komunikasi dua arah dengan konsumen agar nantinya informasi dan pesan yang di sampaikan dapat mencapai tujuan keberhasilan sesuai target pasar yang ada (Pereira L &
Almeida P, 2014).
Philip Kotler mengatakan bahwa pemasaran yang paling populer saat ini adalah menjadi perusahaan pemenang dimana perusahaan yang secara konsisten mampu melebihi harapan dan kepuasan pelanggan (Kotler, 2017). Karena tujuan utama dari perusahaan yang menerapkan konsep pemasaran adalah dengan memperhatikan kepuasan pelanggan. Dengan adanya kepuasan pelanggan tentunya akan berdampak pula pada kunjungan berikutnya yang di lakukan oleh konsumen (Purwaningsih, Purworini, 2016).
Menurut Sutisna dalam Amir Purba, dkk (2016) mengemukakan bahwa komunikasi pemasaran merupakan usaha untuk menyampaikan pesan kepada publik terutama konsumen saran mengenai produk di pasar.
Beberapa literature menyamakan arti istilah promosi dengan komunikasi pemasaran.
Crosier menjelaskan bahwa istilah tersebut di sama artikan karena terdapat konteks pengertian yang sama dalam memahami untuk konteks pijakan 4P atau Product, Price, Place, dan Promotion (Prisgunanto, 2016).
Sejumlah ahli menempatkan komunikasi pemasaran di bawah periklanan dan promosi, namun saat ini, komunikasi pemasaran muncul sebagai suatu bentuk komunikasi yang lebih kompleks dan berbeda sehingga, banyak akademisi dan juga praktisi mendefinisikan pemasaran yaitu semua elemen promosi dari marketing mix yang melibatkan komunikasi antar organisasi dan target khalayak pada segala bentuk yang di tujukan untuk
meningkatkan performal pemasaran (Prisgunanto, 2016).
Komunikasi pemasaran terpadu atau integrated marketing communication (IMC) merupakan suatu proses komunikasi yang memerlukan perencanaan, penciptaan, integrasi, dan implementasi dari berbagai bentuk marcom (iklan, promosi penjualan, publisitas perilisan, acara-acara, dsb.) yang di sampakan dari waktu ke waktu kepada pelanggan target merek dan calon pelanggan.
Tujuan dari IMC pada akhirnya adalah untuk memengaruhi secara tidak langsung atau secara langsung perilaku dari audiens yang menjadi target marcom.
Pada 1980-an, berbagai perusahaan di nega-negara maju, khususnya Amerika Serikat, mulai menyadari perlunya upaya untuk mengintegrasikan seluruh instrumen promosi yang dimiliki untuk meningkatkan penjualan. Perusahaan-perusahaan mulai bergerak menuju proses yang di sebut dengan Komunikasi Pemasaran Terpadu atau integrated marketing ommunications (IMC), yang mencakup upaya dari koordinasi dari berbagai elemen promosi dan kegiatan pemasaran lainnya.
Dalam pengambilan keputusan konsumen Peter & Olson (2017) mengatakan kunci dari proses pengambilan keputusan konsumen adalah proses integrasi dimana pengetahuan dikombinasikan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan kemudian memilih satu diantaranya. Hasil dari proses integrasi ini adalah pilihan, yang mewakili secara kognitif sebagai niat perilaku.
Komunnikasi pemasaran terpadu di tujukan untuk memelihara brand, serta menginfokan desain-desain tiap brand dan program-program penjuaan, di tengah-tengah persaingan di lingkungan bisnis. komunikasi pemasaran juga berdampak terhadap perilaku konsumen (Mihart, 2015)
Philip Kotler dan Gary Armstrong (2017) mengartikan IMC sebagai konsep dimana suatu perusahaan secara hati-hati mengintegrasikan dan mengkordinasikan saluran komunikasi yang beragam untuk menyampaikan pesan yang jelas, konsisten, dan meyakinkan mengenai perusahaan dan produnya. Adapun kegiatan komunikasi pemasaran yang di padukan dalam komunikasi pemasaran terpadu adalah periklanan, pemasaran langsung interactive/internet marketing, promosi penjualan, dan hubungan
masyarakat (promotional mix) (Belch George
& Belch Michael 2016)
Brannan (2015) menyebutkan ada beberapa teknik yang bisa di gunakan dlam konep pengembangan program IMC, yaitu:
Iklan; menjadi metode komunikasi yang efektif karena bisa menjangkau audiens dalam jumlah besar, membangun dan mempertahankan merek, public Relation;
merupakan upaya perusahaan dengan mendekatan diri dengan konsumen demi menambah nilai merek walaupun tidak sebaik melalui iklan, Pemasaran Langsung; yang dapat menjangkau seluruh audiens dengan baik dan dapat membantu perusahaan mengelompokkan audiens berdasarkan usia, jenis kelamin, letak geografis, gaya hidup, perilaku, riwayat pembelian, dan berbagai faktor lainnya, relationship Marketing, yakni perusahaan menyusn strategi yang menawarkan nilai tambah secara nyata kepada pelanggan dalam jangka waktu lama, sponsorship; berperan sebagai pendukung strategi komunikasi yang telah berhasil membangun tingkat ke sadaran tertentu, menyampaikan pesan-pesan secara tepat, dan juga memberikan kesempatan lebih besar kepada pasar untuk memperkenalkan merek, desain; Berperan Menjadi indikator bagaimana perusahaan menangani suatu proyek, termasuk komunikasi.
Polis asuransi merupakan dokumen yang berisi kesepakatan antara pihak tertanggung (nasabah) dan penanggung (Pihak Asuransi) berkenan dengan resiko yang hendak di pertanggungkan. Untuk setiap perjanjian perlu di buat bukti tertulis atauserat perjanjian antara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian.
Bukti tertuliis untuk perjanjuan asuransi di sebut Polis (Sri Rejeki Hartono, 2015 )
Polis asuransi juga bisa di katakan sebagai sertifikat, akta, atau surat yang di buat secara tertulis da di keluarkan oleh perusahaan asuransi yang akan di bayarkan sesuai pertanggungan atau masa jatu tempo oleh perusahaan asuransi sebagai penjaminnya.
Polis asuransi merupakan sebuah bukti perjanjian tertulis yang di lakukan oleh pihak perusahaan asuransi (penanggung) dengan nasabah pengguna layanan asuransi (tertanggung), yang isinya menjelaskan segala hak dan kewajiban antara kedua belah pihak.
Polis asuransi akan menjadi bukti tertulis yang sah dalam perjanjian yang di lakukan oleh
pihak penanggung dan pihak tertanggung (Cermati 2016).
Jumlah polis adalah banyaknya data atau dokumen perjanjian atau kesepakatan antara nasabah dan pihak asuransi yang akan di pertanggungkan.
Model Penelitian
Keterangan :
Yang menjadi kerangka pikir adalah apakah Komunikasi Pemasaran Terpadu bisa mempengaruhi Jumlah Polis pada PT Asuransi Jasindo Makassar.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini di lakukan di PT Asuransi Jasindo untuk mengetahui jumlah pengguna polis dengan adanya komunikasi pemasaran terpadu, teknik pengumpulan data di lakukan dengan cara observasi, dokumentasi, dan kuesioner. Dari hasil data penelitian di lakukan teknis analisis data Deskriptif dan regresi linear sederhana untuk mengetahui pengaruh komunikasi pemasaran terpadu terhadap jumlah polis pada PT Asuransi Jasindo, kemudian di buat suatu kesimpulan atas penelitian yang telah di lakukan.
Adapun yang menjadi lokasi penelitian dilakukan di PT Asuransi Jasindo Kota Makassar, yang berlokasi di Jl. DR. Ratulangi No. 132, dengan waktu penelitian 2 (dua) bulan atau mulai bulan oktober 2019 sampai November 2019.
Cara pemungutan data penelitian yang dipakai ialah Observasi melakukan pengamatan langsung kelapangan untruk mencermati objek yang diteliti. Dimana kuesioner ini mencakup permasalahan sekitar identitas responden dan faktor riset demi mendapatkan laporan yang komprehensif serta dokumentasi untuk mengumpulkan data dan bahan melalui pencatatan sumber-sumber informasi khusus dari tulisan, buku, dan sebagainya.
Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yakni yang memberikan gambaran atau penjelasan mengenai volume penggunaan polis.
Tinjauan didalam regresi linear sederhana teknik ini di gunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan dependen apakah positif atau negatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN Responden dalam penelitian ini sebanyak 50 orang. Responden yang dijadikan sampel adalah pengabilan keputusan untuk menggunakan Jasa Asuransi Jasindo Makassar. Berikut ini uraian tentang karakteristik responden:
Perbedaan usia mencerminkan tingkat kematangan jiwa seseorang sehingga semakin tinggi usia seseorang maka akan semakin rasional dalam berpikir maupun mengambil keputusan. Jumlah responden berdasarkan usia dapat dilihat pada table 1:
Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Sumber: Data kuesioner diolah (2019)
Berdasarkan tabel 1, maka dapat diketahui bahwa responden yang berusia 21-30 adalah responden dengan proporsi terbanyak yaitu berjumlah 28 responden dengan presentase 56%, dan untuk proporsi terkecil yaitu respoden dengan usia 41-50 yang berjumlah 10 responden dengan presentase 20%. Jadi kebanyakan dari responden yang mendaftar di PT Asuransi Jasindo Makassar yaitu responden berusia 21-30 tahun.
Berdasarkan jenis kelaminDalam memberikan suatu layanan, jenis kelamin sangat perlu untuk diperhatikan karena konsumen laki-laki atau perempuan memiliki perilaku yang berbeda. Oleh karena itu peneliti memisahkan jenis kelamin untuk memperoleh hasil penelitian kuesioner yang baik. Berikut data jenis dapat dilihat pada table 2:
Table 2 karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Sumber: Data kiesioner diolah (2019)
Berdasarkan tabel 2, maka dapat diketahui bahwa jenis kelamin laki-laki merupakan responden yang terbanyak yaitu berjumlah 28 responden dengan presentase 56% dan dengan jenis kelamin perempuan yang berjumlah 22 responden dengan presentase 44% .
Berdasarkan Pendidikan Terakhir Berdasarkan pendidikan terakhir responden sangat bervariasi. Berikut dapat diklasifikasikan pada table 3
Tabel 3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Sumber: Data koesioner diolah (2019)
Berdasarkan table 3 dapat diketahui bahwa responden terbanyak adalah dari pendidikan terakhir SLTA yaitu dengan berjumlah 18 responden dengan presentase 36% sedangkan pendidikan terakhir yang terkecil yaitu SD dengan jumlah 7 responden dan presentase yang dimiliki 14%.
Deskripsi variabel penelitian yaitu hasil penelitian yang memberikan penjelasan mengenai faktor yang dapat berpengaruh atas terjadinya peningkatan pelanggan bersangkutan dengan komunikasi pemasaran terpadu dan jumlah polis yang diberikan oleh PT Asuransi Jasindo Makassar. Beriut ini akan diuraikan deskripsi variabel penelitian:
Peningkatan customer untuk mengetahui adanya PT Asuransi Jasindo Makassar dengan adanya Komunikasi Pemasaran Terpadu dimana komunikasi ini memperkenalkan konsep pemasaran yang memberikan penjelasan kepada customer atau
mempengaruhi costumer secara langsung.
Oleh karena itu, pernyataan yang diajukan berkaitan dengan pernyataan pada variabel Komunikasi Pemasaran Terpadu.
Berikut ini terdapat tanggapan responden mengenai variabel Komunikasi Pemasaran Terpadu.
Tabel 4 Tanggapan Responden terhadap Komunikasi Pemasaran Terpadu
Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner 2019
Berdasarkan tabel 4 Pada pernyataan No 1-6 jawaban responden yang tertinggi terdapat pada No 4 dengan frekuensi 35 responden memilih jawaban Sangat Baik (SB) dan mencapai 70%, selanjutnya pada pernyataan yang terrendah terdapat pada No 6 yaitu 1 responden memilih jawaban Buruk (BRK) dan mencapai 2%.
Peningkatan customer untuk mendapatkan polis asuransi yaitu dengan adanya perjanjian antara penanggung dengan yang tertanggung yang menyatakan bahwa penanggung bersedia menanggung aset yang dijaminkan dalam jangka waktu tertentu, dan itu sangat ditentukan oleh keputusan responden untuk memutuskan dalam pengambilan polis. Oleh karena itu, pernyataan yang diajukan sangatberkaitan pada pernyataan variabel Jumlah Polis.
Berikut ini terdapat tanggapan responden mengenai variabel jumlah polis pada PT Asuransi Jasindo Makassar.
Tabel 5 Tanggapan responden terhadap Jumlah Polis
Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner 2019
Berdasarkan tabel 5 pada pernyataan No 1-6 jawaban responden yang tertinggi terdapat pada No 1 dengan frekuensi 30 responden memilih jawaban Sangat Baik (SB) dan mencapai 60%, selanjutnya pada pernyatan yang terrendah terdapat pada No 4 yaitu 2 responden memilih jawaban Sedang (S) dan mencapai 4%.
Validitas mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur (dalam hal yang dimaksud adalah kuesioner).
Dengan demikian data yang valid adalah data yang tidak berbeda antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sebenarnya terjadi pada objek penelitian.
Berikut hasil olah data uji validasi.
Tabel 6 Uji Validitas
Sumber: Hasil kuesioner yang diolah dengan SPSS22
Berdasarkan dari Uji Validasi diatas maka dapat diketahui bahwa semua pernyataan yang diajukan untuk responden valid, karena r- hitung lebih besar dari r-tabel, oleh sebab itu dalam penelitian ini semua pernyataan kuesioner dapat digunakan untuk mengumpulkan data.
Penguji ini dilakukan agar menunjukkan sampai mana suatu hasil pengukuran yang relatif konsisten. Suatu kuesioner dinyatakan reliable atau handal jika terdapat jawaban dari seseorang kepada pernyataan yang diajukan itu konsisten.
Menurut Wiratna (2018) sebuah variabel dapat dikatakan reliable jika Crobach Alpha>0.60
Tabel 7 Uji Reabilitas
Sumber: Hasil kuesioner yang diolah dengan SPSS22
Berdasarkan uji Reabilitas tabel 7, menunjukkan yaitu dari semua variabel koefisien Cronbach Alpha >0,60. Makadari itu berdasarkan pernyataan yang sudah dibuat oleh penulis dapat digunakan sebagai instrument penelitian.
Regresi linier adalah alat statistic yang digunakan untuk mengetahui pengaruh antar variabel terhadap variabel yang dipengaruhi.
Regresi linier kebanyakan terdiridari dua yaitu regresi linier sederhana yaitu dengan satu variabel bebas dan satu variabel terikat sedangkan regresi linier berganda yaitu dua variabel bebas dan satu variabel terikat.
Didalam Analisis Regresi Linier Sederhana hubungan antara variabel bersifat Linier, dimana perubahan pada variabel X akan diikuti oleh perubahan variabel Y secara tetap. Berikut ini Uji Regresi Linier Sederhana menggunakan SPSS22 For windows:
Tabel 8 Uji Regresi Linier Sederhana Coefficients
Sumber: Hasil Olah Data SPSS22
Berdasarkan table 8: Uji Regresi Linier Sederhana maka menunjukkan persamaan regresi linier sederhana sebagai berikut:
Keterangan:
Y= a + bX
Y=10.893+0,623X
Berdasarkan dari persamaan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Persamaan Regresi Linier Sederhana memberikan kejelasan nilai a (konstan) sebesar 10.893. Jika dilihat dari nilai ini berarti variabel dependen atau Jumlah Polis (Y) sama dengan 0 (konstan) maka variabel independen (X) atau Komunikasi Pemasaran Terpadu 0,623.
Koefisien Regresi Komunikasi Pemasaran Terpadu (X) menunjukkan angka 0,623. Nilai koefisien regresi variabel bebas (X) yang mempunyai nilai positif mengarah pada adanya keterkaitan yang searah terhadap Jumlah Polis (Y) yang artinya jika terjadi penambahan satuan maka Komunikasi Pemasaran Terpadu (X) akan naik sebesar 0,623.
Uji Koefisien Korelasi adalah metode statistic yang digunakan untuk mengetahui keeratan antara hubungan variabel dan membutikan hipotesis hubungan dua variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) bila data kedua variabel berbentuk interval atau rasio.
Terdapat tiga penafsiran hasil analisis korelasi yang meliputi: Melihat kekuatan hubungan dua variabel, Melihat signifikansi hubungan, Melihat arah hubungan.
Berikut hasil Uji Koefisien Korelasi menggunakan SPSS For Windows 22.0:
Tabel 9: Uji Koefisien Korelasi Model Summary
Sumber: Hasil Kuesioner yang diolah dengan SPSS22
Berdasarkan dari tabel 9: Uji Koefisien Korelasi maka dapat dijelaskan atau diinterpretasikan sebagai berikut:
Angka square atau koefisien diterminasi yaitu 0,451 (atau 0,6712), yang menyatakan bahwa 45,1% Komunikasi Pemasaran Terpadu (X) pada PT Asuransi Jasindo Makassar dapat diberikan penjelasan oleh Variabel Komunikasi Pemasaran Terpadu (X), sedangkan 1.104 dijelaskan oleh sebab-sebab lainnya yang tidak diteliti (diluar variabel penelitian).
Dari hasil perhitungan analisis regresi mengenai hubungan antara Komunikasi Pemasaran Terpadu (X) Jumlah Polis (Y) memberikan koefisien regresi sebesar 0,623 dengan angka yang mempunyai tanda positif.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut searah. Maksudnya yaitu untuk meningkatkan peminat Komunikasi Pemasaran Terpadu (X) dalam menerapkan Jumlah Polis (Y). PT Asuransi Jasindo dapat meningkatkan Komunikasi Pemasaran Terpadu terhadap Jumlah Polis gunanya untuk meningkatkan peminat konsumen atau pelanggan terhadap Asuransi Jasindo.
Dengan adanya pengaruh tersebut menandakan bahwa perusahaan harus lebih bertekad untuk tetap selalu memberikan layanan terbaik dan professional kepada seluruh pelanggannya, Asuransi Jasindo terus meningkatkan kualitas pelayanan dan ketepatan waktu operasional sebagai salah satu daya Tarik utama pelanggan atau konsumen untuk memilih PT Asuransi Jasindo dalam peningkatan Jumlah Polis.
Berdasarkan dari hasil hubungan kedua variabel tersebut mengharuskan perusahaan untuk merancang program yang berguna untuk meningkatkan Pengaruh Komunikasi Pemasaran Terpadu Terhadap Jumlah Polis pada PT Asuransi Jasindo Makassar.
PENUTUP
Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab empat, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Komunikasi Pemasaran Terpadu dapat mempengaruhi jumlah polis dimana variabel Komunikasi Pemasaran Terpadu mempunyai variabel Terikat Jumlah Polis untuk konsumen, karena Komunikasi Pemasaran Terpadu digunakan karyawan dalam menjalankan tugas
yang diberikan. Guna meningkatkan Jumlah Polis agar kedepannya Asuransi Jasindo lebih dikenal lagi didalam lingkungan masyarakat dan perusahaan juga bisa lebih dekat dengan tujuan perusahaan untuk menyelesaikan usaha Asuransi dengan reputasi internasional serta dapat memenuhi harapan stakeholder.
Berdasarkan hasil dan pengolahan penelitian yang telah dihasilkan, maka penulis menyatakan hal-hal dengan harapan, dapat memberikan banyak manfaat dan juga menjadi masukan bagi PT Asuransi Jasindo Makassar adalah sebagai berikut: 1) Perusahaan Asuransi Jasindo Makassar harus lebih sering memberikan pelatihan khusus kepada petugas yang melayani tertanggung agar petugas juga selalu siap untuk melayani tertanggung dan cepat dalam pembuatan Polis Assuransi. 2) Petugas harus bisa lebih meningkatkan kinerja untuk melayani tertanggung yang kiranya masih belum mengerti akan Asuransi. 3) Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan peneliti dapat melaksanakan studi terhadap Asuransi Jasindo dengan lebih luas lagi dengan menganalisis dan mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti kualitas produk, harga dan pengaruh fasilitas terhadap kepuasan pelanggan untuk lebih konsisten mempertahankan kualitas pelayanan dari Asuransi Jasindo. Sehingga, mampu memberikan hasil yang maksimal untuk peneliti dan perusahaan tersebut
DAFTAR PUSTAKA
Alifahmi, Hifni, (2015). Sinergi Komunikasi Pemasaran: Integrasi Iklan, Public Relations, dan Promosi. Jakarta: Quantum Belch, George. E. & Belch, Michael A.
(2003). Advertising and Promotion: An Integrated. Marketing Communications Perspective (sixth edition). New York:
McGraw Hill
Brannan, Tom. (2015). Integrated Marketing Communication. Jakarta:PPM.
Cermati. (2016). Pengertian Polis Asuransi Dan Cara Memilih Polis Yang Tepat. 12 April (2016). Diakses Pada Tanggal 2 Agustus 2019 melalui website https://www.ceermati.com
Hartono, Sri Redjeki. (2015). Hukum Asuransi Dan Perusahaan Asuransi.
Jakarta: Sinar Grafika.
Hermawan, Agus. (2016). Komunikasi Pemasaran, Jakarta: Erlangga
Ilham, Prisuganto. (2016). Komunikasi pemasaran, Strategi & Taktik. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Kotler, Philip dan Armstrong, Gary. (2017).
Principles Of Marketing Ed. 14th. New Jersey: Pearson
Kotler, Philip. (2017). Manajemen Pemasara, Jilid 1, Edisi Indonesia, Edisi Millenium, Edisi Ketigabelas. Jakarta: Erlangga Mihart, C. (2015). Impactof integrated
marketing communication on consumer behavior: Effect on Consumer Decision- Making Procces. International Journal of Marketing Studies. Vol.4. No.2. April 2012. P. 121
Morissan (2015). Periklanan: Komunikasi Pemasaran Terpadu Edisi Pertama Jakarta:
Kencana Predana Media Group.
Pereira, L., & Almeida, P. (2014). Marketing
& Promotion in The Hotel Industry: A Case Study in Family Hotel and Hotel Group.
Tourism and Hospitality International Journal, 2 (1):92-105.
Peter, J Paul & Olson Jerry C. (2017).
Perilaku Konsumen Dan Strategi Pemasaran. Tangerang: Salemba Empat Purba, Amir dkk. (2016). Pengantar Ilmu
Komunikasi. Medan: Pustaka Bangsa Prss.
Purwaningsi, E.S, Purworini, Dian. (2016).
Peran IMC Dalam Pemilihan Mommilk Manahan Solo Sebagai Pilihan Kunjungan Konsumen. Komuniti, Vol. VIII.
Setiadi, Nugroho J. (2017). Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Shimp, Terence A. (2018). Komunikasi Pemasaran Terpadu Dalam Periklanan dan Promosi. Tangerang: Salemba Empat.
Sugiyono, Dr. (2018). Metode Penelitian:
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta
Sulaksana, Uyung. (2016). Integrated Marketing Communication. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Uchjana, Onong. (2016). Ilmu komunikasi:
Teori Dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya
V. Wiratna S. (2018). Metodologi Penelitian Bisnis dan Ekonomi Pendekatan Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka baru press