Analisis Penerapan Kepatuhan Syariah dalam Pembiayaan Griya iB Hasanah Pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram
OLEH:
Zohriatul Umam 170502143
JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM 2021
Analisis Penerapan Kepatuhan Syariah dalam Pembiayaan Griya iB Hasanah Pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram
Skrispsi
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Ekonomi (SE)
OLEH:
Zohriatul Umam 170502143
JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM 2021
MOTTO
“Jadilah orang berpendidikan yang terdidik”
PERSEMBAHAN
“Kupersembahkan skripsi ini untuk Ibuku
Surniati, Bapaku H. Sirul Warid, saudaraku, keluargaku, almamaterku, semua guru, dosenku dan untuk orang tersayang yang selalu bersamaku”.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Aamiin.
Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut.
1. Dr. Muh. Salahudin, M.Ag. sebagai Pembimbing I dan Muh. Baihaqi, S.H.I, M.SI sebagai Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, motivasi, dan mengkoreksi secara mendetail, sehingga menjadikan skripsi ini lebih baik dan cepat selesai.
2. Penguji I dan Penguji II.
3. Dewi Sartika Nasution, M.Ec. sebagai Ketua Program Studi Perbankan Syariah.
4. Dr. H. Ahmad Amir Aziz, M.Ag. sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.
5. Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag. selaku Rektor Universitas Islam Negeri Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan mendapatkan bimbingan.
6. Untuk seluruh guru dan dosenku terutama yang ada di Universitas Islam Negeri Mataram yang telah dengan sabar dan tulus berbagi ilmu kepada peneliti.
7. Untuk seluruh keluarga terutama ibu dan bapakku yang selalu mendoakan, memberikan nasihat, semangat, dukungan dan kasih sayang.
8. Untuk orang tersayang M. Beni Wahyu yang selalu memberikan semangat, do‟a, dan membantu peneliti dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
9. Untuk teman-teman seperjuanganku terutama sahabatku Aulia Aryani, Hikfi Islami, Lutfiana Muzida, Rukiama Khairunnisa terimakasih atas support, do‟a dan kebersamaan.
Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah swt. dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semesta. Aamiin.
Mataram, 16 Juni 2021 Penulis,
Zohiatul Umam
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ...
HALAMAN JUDUL ...
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i
NOTA DINAS PEMBIMBING ... ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii
PENGESAHAN ... iv
MOTTO... v
PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... viii
ABSTRAK ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 10
A. Kerangka Teori... 10
1. Teori Kepatuhan ... 10
2. Murabahah ... 14
3. Pembiayaan Murabahah di Bank Syariah ... 25
B. Penelitian Terdahulu ... 29
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 35
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian... 35
B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 35
C. Sumber Data ... 36
D. Instrumen Penelitian... 36
E. Metode Pengumpulan Data ... 37
F. Teknik Analisis Data ... 39
G. Keabsahan Data ... 40
H. Sistematika Pembahasan ... 42
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44
A. Hasil Penelitian ... 44
1. Profil PT. BSI Kantor Cabang Mataram ... 44
2. Gambaran Umum Pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram ... 49
3. Produk Pembiayaan PT. BSI Kantor Cabang Mataram a. Pembiayaan Produktif b. Pembiayaan Konsumtif 4. Praktik Pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram ... 52
5. Penerapan Kepatuhan Syariah dalam Pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram ... 58
B. Pembahasan ... 75
1. Analisis Praktik Pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram ... 75
2. Analisis Penerapan Kepatuhan Syariah dalam Pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram ... 78
BAB V PENUTUP ... 85
A. Kesimpulan ... 85 B. Saran ... 85 C. DAFTAR PUSTAKA ... 87
Analisis Penerapan Kepatuhan Syariah dalam Pembiayaan Griya iB Hasanah Pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram
Zohriatul Umam ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keharusan bank syariah dalam menjalankan operasional dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah, dikarenakan hal tersebut yang menjadi pokok utama yang membedakan bank syariah dan bank konvensional. kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah merupakan hal terpenting yang harus selalu diperhatikan dalam menjalankan kegiatan bank. Oleh karena pentingnya kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah tersebut, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram. Adapun rumusan masalah peneliti yaitu untuk mengetahui praktik pembiayaan Griya iB Hasanah dan penerapan kepatuhan syariah dalam operasional produk pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram dilihat dari Fatwa DSN- MUI.
Jenis penelitian ini menggunakan Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) praktik pembiayaan Griya iB Hasanah di PT. BSI Kantor Cabang Mataram menggunakan akad murabahah terdapat wakalah sebagai bentuk dari perwakilan bank kepada nasabah dengan memberikan kuasa dalam memilih barang yang diinginkan sebagaimana kesepakatan yang telah dibuat bersama dan dalam menganalisa kelayakan nasabah menggunakan 5C (character, capital, capacity, colleteral, condition of economy) dari kelima analisa kelayakan tersebut, analisa character dengan menggunakan BI Cheking pada PT. BSI Kantor Cabanag Mataram sudah bisa menjelaskan keseluruhan dari 5C tersebut. (2) kemudian, penerapan kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram dilihat dari Fatwa DSN-MUI pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram telah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI, mulai dari pelaksanaan akad jual beli murabahah, uang muka sebagai bentuk keseriusan nasabah, penundaan pembayaran tidak dikenakan denda, potongan pelunasan bagi nasabah yang membayar cepat tetapi hal tersebut tidak diperjanjikan diawal, penyelesaian piutang dengan pelelangan jaminan yang disepakati bersama.
Kata Kunci : Kepatuhan Syariah, Pembiayaan Griya iB Hasanah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kepatuhan syariah (Shariah compliance) adalah ketaatan bank syariah terhadap prinsip-prinsip syaraih. Menurut Ansori, syaraih compliance adalah salah satu indikator pengungkapan Islami untuk menjamin kepatuhan bank Islam terhadap prinsip syariah. Hal tersebut berarti bahwa syariah compliance sebagai bentuk pertanggungjawaban dari pihak bank dalam mengungkapkan kepatuhan bank terhadap prinsip syariah.1 Bank syariah merupakan lembaga keuangan yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam, artinya bank dalam menjalakan operasionalnya tetap menggunkan ketentuan- ketentuan syariah Islam khususnya menyangkut tata-cara bermuamalat secara Islam.2
Lembaga perbankan syariah di Indonesia adalah bagian dari perkembangan dunia yang semakin kuat untuk mencari alternatif sistem ekonomi yang selama ini dinilai tidak adil dalam proses pembangunan peradaban dunia.3 Dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 bank syariah ini merupakan bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan
1 Ansori, ”Analisis Penerapan Syariah Compliance terhadap Kepuasan Nasabah”, (Skripsi, FEBI UIN Raden Intan Lampung, 2018), hlm. 20.
2Ibid, hlm. 39.
3 Muh Salahuddin, Maqasid Al-Syari'ah dalam Fatwa Ekonomi DSN-MUI (Mataram: LP2M UIN MATARAM, 2017). hlm. 8.
1
prinsip-prinsip syariah dan menurut jenisnya, terdiri atas Bank Umum Syariah, Unit Usaha Syariah, dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.4 Perbankan syariah merupakan induk dari lembaga syariah, yang bertanggung jawab atas kepatuhan terhadap aturan Syariah dalam hal produk, instrumen, operasi, praktek dan manajemen.5 Sehingga, melalui sektor perbankan kegiatan ekonomi bisa terkelola dengan baik apabila dijalankan dengan benar.6
Seperti halnya produk pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Cabang Mataram. Produk Griya iB Hasanah merupakan pembiayaan konsumtif yang diberikan kepada nasabah yang mengajukan pembiayaan untuk membeli, membangun bangunan di antaranya rumah, ruko rusun, rukan, apartemen dan sejenisnya, selain itu untuk membeli tanah kavling serta rumah indent, yang dimana besarnya disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan dan kemampuan membayar nasabah.7 Produk pembiayaan ini merupakan salah satu produk yang menggunakan akad murabahah. Akad murabahah
4 Andri Soemitra, Bank dan Kelambagaan Keuangan Syaraih, (Jakarta: Kencana, 2016), hlm.58.
5 Anggriani, "Penerapan Syariah compliance Sebagai Prinsip Syariah Governance Pada Bank Muamalat Indonesia TBK Cabang Makasar" (Skripsi, FEBI UIN Alauddin Lampung, 2015), hlm. 6.
6 Muh. Baihaqi, Muhamad Yusuf, dkk, Ekonomi dan Pariwisata Islam Catatan Pinggir Akademik UIN Mataram (Mataram: FEBI UIN MATARAM, 2019). hlm. 1.
7 Http://www.bnisyariah.co.id/id/personal/pembiayaan/konsumer/, diakses pada tanggal 26 Januari 2021, pukul 11.49.
merupakan akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.8
Dalam proses pembelian rumah yang diinginkan oleh nasabah, dapat digunakan akad wakalah, yakni bank memberikan kuasa kepada nasabah untuk membeli sendiri barang langsung kepada pihak ketiga. 9 Praktik tersebut boleh dilakukan dalam pembiayaan murabahah seperti yang dijelaskan dalam konsep akad murabahah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI bahwasanya, apabila bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank.
Dari hasil observasi awal yang peneliti lakukan kepada salah satu karyawan BSI Kantor Cabang Mataram yang menyatakan bahwa, jumlah data nasabah yang mengajukan pembiayaan konsumtif pada tahun 2020 sebanyak 147 nasabah. dimana nasabah yang mengajukan pembiayaan pada produk Griya Hasanah sebanyak 115 nasabah. Sisanya pada produk pembiayaan konsumtif lainnya yaitu produk Multiguna Hasabah sebanyak 20 nasabah, Oto Hasanah sebanyak 2 nasabah, Fleksi Hasanah sebanyak 7 nasabah, dan Fleksi Umroh Hasanah sebanyak 3 nasabah.10 Selain itu, dapat dilihat dari jumblah nasabah Griya pada tahun 2018 sebanyak sebanyak 163, tahun 2019 sebanyak
8 Syarmila Sari, "Tinjauan Hukum Islam terhadap Kepemilikan Rumah Pada Pembiayaan Murabahah Griya iB Hasanah" (Skripsi, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Darussalam- Banda Aceh, 2018). hlm. 1.
9 Ibid..
10 Bagas, (Sales Assistan PT. Bank BNI Syariah Kantor Cabang Mataram), Wawancara, hari Rabu tanggal 25 Februari 2021, pukul 10.23.
154 nasabah.11 Berdasarkan data banyaknya nasabah yang mengajukan pembiayaan Griya iB Hasanah dengan akad murabahah tersebut merupakan produk yang paling dominan di PT. BSI Kantor Cabang Mataram. Namun, meskipun demikian isu yang berkembang saat ini bahwa beberapa pengamat mengkritik moralitas lembaga keuangan Islam dan mengatakan ketidakpatuhan beberapa produk dan operasi Islam. Bahkan, kegagalan untuk memenuhi prinsip-prinsip yang mendasari pembiayaan Islam akan menimbulkan resiko dan merusak kredibilitas dan reputasi industri perbankan syariah.12
Selain itu, fakta yang terjadi saat ini, yaitu sebagian masyarakat terutama masyarakat muslim masih saja beranggapan bahwa bank syariah belum sepenuhnya menjalankan prinsip-prinsip syariah. Hal itu diperkuat dengan adanya pokok-pokok hasil penelitian Bank Indonesia yang menyatakan bahwa sebagian dari masyarakat yang menjadi nasabah pada bank syariah cenderung memilih berhenti dikarenakan keraguan akan konsistensi dari bank syariah dalam penerapan prinsip syariah. Dimana kepatuhan dan kesesuaian akan penerapan prinsip-prinsip syariah sering kali dipertanyakan oleh para nasabah.13 Sehingga jika keraguan masyarakat
11 Ibid, hari selasa tgl 23 Maret 2021, pukul 11.22.
12 Anggriani, "Penerapan Syariah compliance Sebagai Prinsip Syariah Governance Pada Bank Muamalat Indonesia TBK Cabang Makasar" (Skripsi, FEBI UIN Alauddin Lampung, 2015), .hlm. 6-7.
13 Wildatul Jannah,”Pengaruh Shariah Compliance terhadap Tingkat Kepercayaan Nasabah Pada Bank Syariah”, (Skripsi, FEBI IAIN Batusangkar, 2019), hlm. 4.
tersebut berlangsung lama dan tidak dicarikan solusinya, maka akan menimbulkan masalah terhadap kepercayaan bank syariah itu sendiri. Sebagai contoh mengenai bank syariah yang belum mencapai tingkat kepatuhan syariah secara optimal yaitu dalam penelitian yang dilakukan oleh Annisa Khaira yang menjelaskan tentang akad murabahah yang dilengkapi dengan akad wakalah yaitu terjadi ketidaksesuaian pengikatan akad murabahah dan wakalah. 14 Hal tersebut tentu telah diatur dalam fatwa DSN-MUI tentang murabahah yaitu jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga maka nantinya akad murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank.
Dalam menjamin teraplikasinya prinsip-prinsip syariah pada bank syariah perlu dilakukan pengawasan. Pengawasan penting dilakukan karena manusia sebagai pelaksana kegiatan, penentu kebijakan, dan pengelola kegiatan adalah makhluk yang lemah, memiliki banyak kekurangan.15 Maka diperlukannya pengawasan, dimana dalam bank syariah tersebut diperankan oleh DPS. DPS akan menjadikan Fatwa DSN-MUI sebagai tolak ukur dalam pemenuhan prinsip-prinsip syariah. Dimana total jumblah fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga saat ini sebanyak 121 fatwa yang mencakup tentang
14 Annisa Khaira, "Analisis Kepatuhan Syariah terhadap Prinsip-prinsip Syariah Pada Pembiayaan Murabahah (Studi Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Harta Insan Karimah Parahyangsan (Skripsi, Universitas Pendidikan Indonesia, 2014), hlm. 178.
15 Muh Salahuddin, Ekonomi Syariah: Gerakan Arus Bawah (Mataram: FEBI UIN Mataram, 2019). hlm. 177.
perbankan syariah, pegadaian syariah, surat berharga negara syariah, akuntansi syariah dan pembiayaan syariah.16
Penelitian sebelumnya yang meneliti tentang kepatuhan syariah yang dilakukan oleh Nikmatul Mei Wulandari, dari penelitiannya menjelaskan bahwa kepatuhan syariah pada mekanisme pembiayaan murabahah dalam hal kepemilikan objek pembiayaan murabahah belum sepenuhnya sesuai dengan Fatwa DSN-MUI.17 Penelitian lain yang dilakukan oleh Nur Kholis yang meneliti tentang kepatuhan syariah dalam praktik pembiayaan di BMT di Yogyakarta. Hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian prosedur dan akad pembiayaan sudah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, tetapi masih terdapat transaksi yang terlibat dengan jual beli fuduli. 18
Berdasarkan fenomena dari penelitian-penelitian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai kepatuhan Bank Syariah terhadap prinsip- prinsip syariah, karena prinsip syariah merupakan landasan utama beroperasinya bank syariah dan hal tersebut tentunya harus dijaga. Sedangkan, praktik yang terjadi dilapangan belum sepenuhnya dipenuhi, terutama dalam pembiayaan murabahah yang rentan terjadinya penyimpangan. Kemudian dikarenakan produk pembiayaan Griya iB Hasanah dengan akad murabahah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram yang dominan, serta keunggulan
16 Fahrurrozi, dkk, Horizon Ilmu Titik Temu Integratif dalam Tridarma (Lombok: Pustaka Lombok, 2019). hlm. 280.
17 Nikmatul Mei Wulandari,”Analisis Sariah Compliance pada Mekanisme Pembiayaan Murabahah di Bank Jatim Cabang Syariah Kediri”, (Skripsi, IAIN Tulungagung, 2019), hlm. 28.
18 Nur Kholis, ”Ringkasan Riset Kajian Terhadap Kepatuhan Syariah Dalam Praktik Pembiayaan di BMT Slemen, Yogyakarta, (Jurnal, , Penelitian dan Pengabdian), hlm. 14.
produk tersebut yaitu dalam proses pelayanan cepat dan mudah maka menurut peneliti hal ini lebih berpeluang dikesampingkan beberapa hal dalam oprasionalnya untuk mencapai proses mudah dan pelayanan cepat tersebut sehingga dapat menjerumuskan kepada pelanggaran prinsip syariah, maka peneliti memilih PT. BSI Kantor Cabang Mataram sebagai objek penelitian.
Oleh karena itu peneliti akan melakukan penelitian dengan judul “Analisis Penerapan Kepatuhan Syariah dalam Pembiayaan Griya iB Hasanah Pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka muncul rumusan sebagai berikut:
1. Bagaimana praktik pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram?
2. Bagaimana penerapan kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram?
C. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan
Dari rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas tujuan dari penelitian yaitu:
a. untuk mengetahui praktik produk pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT.
BSI Kantor Cabang Mataram.
b. Untuk mengetahui penerapan kepatuhan syariah dalam operasional produk pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram.
2. Manfaat
Penelitian ini dilakukan tentunya untuk memberikan manfaat, yang dimana penelitian ini dilakukan dengan melihat kepatuhan syariah yang ada di perbankan syariah dalam memenuhi prinsip-prinsip syariah.
a. Secara Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi, wawasan, keilmuan serta referensi bagi setiap pembaca mengenai kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah yang ada di PT.
BSI Kantor Cabang Mataram, b. Manfaat Praktis
1) Bagi penulis
Penelitian ini dilakukan untuk menempuh tugas akhir Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan Perbankan Syariah Universitas Islam Negri Mataram dan agar memahami serta menjadi pembelajaran untuk lebih mengetahui tentang bagaimana penerapan kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah di PT. BSI Kantor Cabang Mataram.
2) Bagi Pihak Perusahaan
Diharapkan agar dapat memberikan masukan bagi pihak perbankan syariah dan untuk masyarakat luas dalam meningkatkan
pemahaman nasabah dan masyarkat terhadap penerapan kepatuhan syraiah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah di PT. BSI Kantor Cabang Mataram.
3) Bagi Pihak Universitas UIN Mataram
Penelitian ini diharapkan agar dapat berguna bagi mahasiswa sebagai rujukan referensi khususnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dalam melakukan kajian penerapan kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori
1. Teori Kepatuhan
a. Konsep Umum Kepatuhan Syariah
Kepatuhan syariah dalam bank syariah merupakan prinsip-prinsip islam dalam transaksi keuangan yang ada pada perbankan dan bisnis yang terkait lainnya.19
Menurut Arifin berpendapat bahwa kepatuhan syariah adalah penerapan prinsip-prinsip Islam, syariah dan tradisi dalam transaksi
keuangan dalam perbankan serta bisnis yang terkait.20 Berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
46/POJK.03/2017 tentang Pelaksanaan Fungsi Kepatuhan Bank Umum menjelaskan bahwa fungsi kepatuhan adalah serangkaian tindakan atau langkah-langkah yang bersifat preventif untuk memastikan bahwa kebijakan, ketentuan, sistem, dan prosedur, serta kegiatan usaha yang dilakukan bank telah sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan dan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk Prinsip Syariah bagi bank umum syariah dan unit usaha syariah, serta memastikan kepatuhan
19 Ade Sofyan Mulazid,“Pelaksanaa Sariah Compliance Pada Bank Syariah”, dalam Jurnal Madania, Vol. 2, No. 1, Juni 2016, hlm. 39.
20 Dina Fitri Khasanah, “Analisis Kepatuhan Syariah terhadap Sistem Oprasional Pada Bank BNI Syariah Kcp Mikro Lumajang”, dalam Jurnal Progress Conference, Vol. 1, No. 1, Agustus 2018, hlm. 310.
10
bank terhadap komitmen yang dibuat oleh bank kepada Otoritas Jasa Keuangan dan otoritas pengawas yang berwewenang.21 Menurut Ansori, syaraih compliance adalah salah satu indikator pengungkapan Islami untuk menjamin kepatuhan bank Islam terhadap prinsip syariah. Hal itu berarti bahwa syariah compliance sebagai bentuk pertanggungjawaban dari pihak bank dalam mengungkapkan kepatuhan bank terhadap prinsip syariah.22 Dalam hal penerapan kepatuhan syariah tersebut perlu dilakukan pengawasan agar kegiatan usaha bank syariah dapat dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, dalam hal ini diperankan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). Dimana fungsi dari DPS dalam organisasi bank syariah diantara:23
1) Sebagai penasihat dan pemberi saran kepada direksi, pimpinan kantor cabang syariah mengenai hal-hal yang terkait dengan aspek syariah 2) Sebagai mediator baik itu antara bank dan Dewan Pengawas Syariah
(DPS) dalam mengomunikasikan segala usul dan saran dalam hal pengembangan produk dan jasa dari bank yang memerlukan kajian dan fatwa dari DSN.
3) Sebagai perwakilan dari DSN, yang dimana berkewajiban melapor kepada DSN selama sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.
21 OJK, Nomor 46/POJK.03/2017.
22 Ansori, ”Analisis Penerapan Syariah Compliance terhadap Kepuasan Nasabah”, (Skripsi, FEBI UIN Raden Intan Lampung, 2018), hlm. 20.
23 Mardani, Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia, (Jakarta: Kencana 2015), hlm.74.
Dari beberapa pengertian dan paparan diatas dapat di pahami bahwa kepatuhan syariah merupakan syarat dari terciptanya ekonomi islam khususnya pada bank syariah. Kepatuhan syariah adalah pemenuhan terhadap segala nilai-nilai atau prinsip-prinsip syariah yang ada pada bank syariah. Dalam rangka menjaga agar pemenuhan terhadap prinsip-prinsip syariah tersebut bisa terealisasikan dan dilakukan pengawasan khusus dalam bank syariah yang dimana pengawasan tersebut diperankan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS).
Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah sangat penting untuk diterapkan karena merupakan salah satu cara agar lembaga keuangan bisa lebih berkembang. Agus Triyanta mengatakan bahwa kepatuhan syariah sangatlah penting karena,24 pertama, bank syariah selalu ditantang dengan permintaan nasabah yang dimana harus selalu bersifat inovatif dan berorientasi pada bisnisnya yaitu dalam menawarkan instrumen dan produk baru. kedua, bank syariah harus menyesuaikan antara mendapat keuntungan dengan sebanyak-banyaknya akan tetapi tetap menyesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah yang telah ditetapkan. Sebagaimana hal tersebut diatas, Di satu sisi bank syariah dituntut untuk menyediakan setiap kebutuhan nasabah yang bisa jadi bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, akan tetapi disisi lain bank syariah sudah terikat dengan peraturan
24 Abdul Manan, Pengadilan Agama Cagar Budaya Nusantara Memperkuat NKRI, (Jakarta:
Kencana 2019), hlm: 296.
atas prinsip-prinsip syariah yang dimana dinamakan dengan kepatuhan syariah. Oleh karena itu bank syariah harus mampu menyesuaikan antara bagaimana mendapatkan keuntungan dengan sebanyak-banyaknya tetapi tetap berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah yang sudah ditetapkan.
b. Kegiatan Operasional Bank Syariah
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya bank syariah berusaha untuk menghindari praktik riba. Seperti pendapat Algoud dan Lewis yang menjelaskan tentang perbankan Islam menyatakan bahwa perbankan Islam dalam memberikan layanan kepada nasabah yaitu dengan bebas bunga.
Pembayaran dan penarikan bunga dilarang dalam semua transaksi (riba).25 Suatu transaksi tidak bisa dikatakan patuh terhadap prinsip syariah jika hanya terbebas dari riba saja. Ada hal-hal lain yang harus dijaga agar suatu transaksi dikatakan sesuai syariah yaitu terbebas dai MAGRIB yaitu:
a) Maysir (spekulasi); yaitu suatu transaksi yang digantungkan dalam suatu keadaan yang tidak jelas dan bersifat untung-untungan seperti contohnya perjudian.
b) Gharar (menipu atau ketidakpastian); yaitu suatu usaha yang dijalankan tanpa memiliki pengetahuan yang cukup, atau suatu transaksi tanpa memikirkan konsekuensi akan mengakibatkan resiko yang berlebihan dikemudian harinya
25 Andrianto, M. Anang Firmansyah, Manajemen Bank Syaraih Implementasi Teori dan Praktik, hlm 92.
c) Haram (larangan); dalam ekonomi, pelarangan akan suatu keharaman akan menjamin segala investasi yang dilakukan dalam hal cara dan produk tersebut akan menjamin kemaslahatan manusia.
d) Riba (bertambah dan tumbuh); yaitu penambahan dalam suatu pendapatan secara tidak sah yang dimana dalam transaksi pertukaran barang yang sejenis tetapi tidak sama kualitas, kuantitas dan waktu penyerahan, atau didalam transaksi pinjam-meminjam, pengembalian melebihi pokok dari besar pengembalian yang seharusnya.
e) Bathil (batal atau tidak sah); didalam transaksi jual beli Allah SWT melarang pengambilan harta dengan cara yang bathil seperti mengurangi timbangan, mencampurkan barang yang rusak dengan barang yang bagus agar mendapat keuntungan yang lebih banyak, menimbun barang, dan menipu atau memaksa.26
Selain itu, dalam secara garis besar ada 7 (tujuh) dimensi syariah compliance dalam operasional perbankan syariah yaitu: 27
a) Tidak ada riba dalam transaksi bank b) Terhindar dari bai‟ al-„inah
c) Terhindar dari gharar
d) Tidak ada maisir dalam transaksi
26 Andri Soemitra, Bank dan Kelambagaan Keuangan Syaraih, (Jakarta: Kencana, 2016), hlm 33.
27 Miti Yarmunida, "Dimensi Syariah Compliance pada Operasional Bank Syariah", Jurnal AL-INTAJ Vol. 4 No. 1 (2018), hlm. 143-151 .
e) Bank menjalankan bisnis berbasis pada keuntungan yang halal f) Bank menjalankan amanah yang percayakan oleh nasabah g) Pengawasan kepatuhan bank syariah
2. Murabahah
a. Pengertian Murabahah
Dalam istilah syariah konsep syari‟ah murabahah didefenisiskan berbeda-beda berdasarkan pendapat para ulama di antaranya yaitu: 28
1) Al- Kasani berpendapat bahwa murabahah merupakan transaksi jual beli: harga jual merupakan akumulasi dari biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk mendatangkan objek transaksi atau harga pokok pembelian dengan tambahan keuntungan tertentu yang diinginkan penjual; jumblah keuntungan dan harga beli yang diingikan diketahui oleh pembeli.
2) Utsmani berpendapat bahwa murabahah merupakan bentuk jual beli yang mengharuskan penjual memberikan informasi tentang biaya- biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan koditas (harga pokok pembelian) dan harga profit yang diinginkan yang tercermin dalam harga jual.
28Abdul Azis, Shel dan Moch. Bukhori Muslim, dkk. Transaksi Murabahah Perbankan Syariah Terbelenggu Isu Batal Dewi Hukum, (Jakarta Selatan: Perkantiran Fatmawati Mas 2020), hlm.
27-28.
Murabahah adalah menjual barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba. Menurut Ibnu Qudamah murabahah adalah jual beli dengan menghitung modal yang ditambah dengan jumblah keuntungan tertentu yang diketahui. 29
Jual beli murabahah tertuang pada Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai yang menguraikan bahwa penyerahan barang dalam rangka perjanjian pembiayaan dilakukan berdasarkan prinsip syariah, penyerahan barangnya dianggap dilakukan langsung dari pemasok kepada nasabah, meskipun berdasarkan prinsip syariah, bank harus membeli dahulu barang dan kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah.
penerima penyerahan barang diantaranya adalah pembeli yang dibuktikan dengan tercatatnya nama pembeli pada fakta pajak. 30
Dari bebrapa pengertian diatas peneliti menyimpulkan bahwa murabahah adalah suatu bentuk jual beli antara penjual dan pembeli yang dimana penjual menjual barang dengan harga lebih sebagai keuntungan dan penjual harus memberitahukan harga barang, biaya-biaya lain yang dikeluarkan dan keuntungan yang didapatkan.
29 Dhody Ananata Rivandi Widjajaatmadja, dan Cucu Solihah, Akad Pembiayaan Murabahah di Bank Syariah Dalam Bentuk Akta Otentik Implementasi Rukun, Syarat, dan Prinsip Syariah, (Malang: Inteligensia Media, 2019), hlm. 1.
30 Abdul Azis, Shel dan Moch. Bukhori Muslim dkk. Transaksi Murabahah Perbankan Syariah Terbelenggu Isu Batal Dewi Hukum, (Jakarta Selatan: Perkantiran Fatmawati Mas 2020), hlm.
3.
b. Rukun Murabahah
Rukun yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu hal dalam jual beli.
Dalam lembaga keuangan syariah rukun murabahah diantaranya: 31 1) Penjual (al-ba‟i) yang dianalogikan sebagai bank
2) Pembeli (al-musytary) yang dianalogikan sebagai nasabah
3) Barang yang diperjual belikan (al-mabi‟) jenis pembiayaan yang ditawarkan lembaga keuangan dan diambil oleh nasabah.
4) Harga (as-tsaman) dianalogikan sebagai pricing atau plafon pembiayaan
5) Ijab-Qabul dianalogikan dengan akad c. Syarat Murabahah
Syarat jual beli murabahah yaitu: 32
1) Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah.
2) Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan.
3) Kontrak harus bebas dari riba.
4) Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian.
5) Penjual harus menyampaikan segala hal yang berkaitan dengan pembelian tersebut.
31 Muh. Salahuddin, "Diktum Akad dan Dampaknya terhadap Pembiayaan Study Analisis di Lembaga Keuangan Mikro Syariah Kota Mataram", (IAIN Mataram: Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, 2013), hlm. 25.
32 Mahmudatus Sa'diyah, Fiqih Muamalah II Teori dan Praktik, (Jawa Tengah: Tahunan Jepara, 2019), hlm. 30.
d. Landasan Hukum Murabahah
Bagi umat islam Quran-hadis adalah sesuatu yang sudah final dan menjadi sebuah acuan dalam merumuskan tingkah laku dalam semua aspek kehidupan. 33 Terdapat beberapa hukum murabahah dalam alquran dan hadis di antaranya yaitu:
1) Al-Quran
Bagi umat islam al-quran merupakan way of life, sebagai tempat kembali dalam mengambil keputusan, sebagai spirit, dan segala-galanya. 34
Ayat alquran yang membolehkan jual beli di antarannya firman Allah:
ۚ اَبِّزلا َمَّزَحَو َعْيَبْلا ُ َّاللَّ َّلَحَأَو
“… dan allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS.
Al-Baqarah: 275).
ْمُكِّبَر ْنِم الًْضَف اوُغَتْبَت ْنَأ ٌحاَنُج ْمُكْيَلَع َسْيَل Artinya: Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil
perniagaan) dari Rabbmu” (QS. An-nissa: 198).
33 Ahmad Amir Aziz, Muh. Salahuddin, dkk, Phylantropy Islam Investasi Publik dan Pembangunan, (MATARAM: FEBI UIN Mataram, 2019), hlm. 1.
34 Subhan Abdullah Acim, Kajian Ulumul Qur'an, (MATARAM: Al-Haramain , 2019), hlm.
1.
ُكَلا َىْهَأ اىُلُكْأَت َلَ اىٌَُهآ َييِذَّلا اَهُّيَأ اَي ْيَع ًة َرا َجِت َىىُكَت ْىَأ َّلَِإ ِل ِطاَبْلاِب ْنُكٌَْيَب ْن
اًوي ِح َر ْنُكِب َىاَك َ َّاللَّ َّىِإ ۚ ْنُكَسُفًَْأ اىُلُتْقَت َلَ َو ۚ ْنُكٌْ ِه ٍضا َزَت Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu” (QS. An-Nissa: 29)
2) Hadist
Menurut ulama usul fiqih, hadis adalah segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah, baik berupa perkataan, perbuatan atau taqrir yang bisa dijadikan hukum syara‟. 35
a) Dari Rifa‟ah bin Rafi‟ radhiyallahu „anhu, bahwa Nabi SAW ditanya:”Apakah pekerjaan yang paling baik/afdhol?” Beliau menjawab:”Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya
sendiri (hasil jerih payah sendiri), dan setiap jual beli yang mabrur. (Hadits riwayat al-Bazzar dan dishahihkan oleh al-Hakim rahimahumallah)
b) Hadis riwayat Ibnu Majah dari Syauib: Tiga perkara yang didalamnya terdapat keberkahan: menjual dengan pembayaran secara Tangguh, muqaradhah (nama lain dari mudharabah), dan
35 Zaenuddin Mansyur, Moh. Asyiq Amrullah, Usul Fiqih Dasar, (MATARAM: Snabil, 2020), hlm. 23.
mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah dan tidak untuk dijual” (HR. Ibnu Majah). 36
3) Ijma‟
Kesepakatan para ulama tentang jual beli yang dimana jual beli merupakan aktivitas yang diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. 37
e. Fatwa DSN-MUI Tentang Murabahah
Dewan Syariah Nasional adalah badan hukum yang dibuat oleh Majelis Ulama Indonesia yang memiliki kompetensi dan otoritas resmi yang berwewenang mengeluarkan ketentuan-ketentuan syariah yang berbentuk Fatwa Dewan Pengawas Syariah. Fatwa-fatwa tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk Peraturan Bank Indonesia (PBI).38
Fatwa hadir karena permasalahan yang terjadi pada masyarakat, yang dimana penyelesaian masalah tersebut membutuhkan jawaban dari para ulama yang sudah bisa dikatakan mampu untuk dapat menjawab dan menyelesaikan permasalahan. Fatwa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu jawaban (keputusan, pendapat)
36 Mahmudatus Sa'diyah, Fiqih Muamalah II Teori dan Praktik, (Jawa Tengah: Tahunan Jepara, 2019), hlm. 30.
37 Zainudin Mansyur, Kontrak Bisnis Syariah Dalam Tataran Konsep dan Implementasi, (Lombok: Pustaka Lombok, 2020), hlm. 301.
38 A. Wangsawidjaja, Pembiayaan Bank Syariah, (Jakarta: Gramedia Putaka Utama, 2012), hlm. 21.
yang diberikan oleh mufti tentang suatu masalah.39 Dan menurut Setiawan fatwa adalah pendapat para ulama tentang hukum Islam yang diberikan atas pertanyaan tentang benda, peristiwa, atau suatu kegiatan yang dilihat dari pandangan agama. 40
Adapun ketentuan pembiayaan murabahah yang dijelaskan dalam Fatwa DSN-MUI tentang murabahah sebagai berikut: 41
a. Proses Pelaksanaan Akad
Dalam Fatwa DSN-MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000 dijelaskan sebagai berikut: 42
Pertama: ketentuan umum Murabahah dalam Bank Syariah:
1) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.
2) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari‟ah Islam.
3) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.
4) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pemebelian ini harus sah dan bebas riba.
39 Ibid, hlm. 20.
40 Muh. Salahuddin, Maqasid Al-Syari'ah Dalam Fatwa Ekonomi DSN-MUI, (Mataram:
LP2M UIN Mataram, 2017 ), hlm. 29.
41 Andrianto, M. Anang Firmansyah, Manajemen Bank Syariah Implementasi Teori dan Praktek, hlm. 45-46.
42 Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN-MUI/IV/2000.
5) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
6) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasbah berikut biaya yang diperlukan.
7) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
8) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.
9) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.
Kedua : Ketentuan Murabahah kepada Nasabah:
1) Nasabah mengajukan permohonan dan janji pembelian barang atau asset kepada bank.
2) Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih dahulu asset yang dipesannya secara sah dengan pedagang.
3) Bank kemudian menawarkan asset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima (membelinya)-nya sesuai dengan janji yang telah disepakati, karena secara hukum janji tersebut mengikat; kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli.
4) Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan.
5) Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut.
6) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugian kepada nasabah.
7) Jika uang muka memakai kontrak „urbun sebagai alternatif dari uang muka, maka
a) Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa harga
b) Jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.
Ketiga : Jaminan dalam Murabahah:
1) Jaminan dalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius dalam pesanannya
2) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang.
b. Uang Muka
Dalam Fatwa DSN-MUI No. 13/DSN-MUI/IX/200 dijelaskan bahwa LKS diperbolehkan meminta uang muka kepada nasabah apabila kedua belah pihak bersepakat.43 Hal tersebut bertujuan sebagai bukti kesungguhan nasabah dan bukan sebagai keharusan.
c. Potongan Pelunasan dalam Murabahah
Dalam Fatwa DSN-MUI membolehkan bank dalam memberikan potongan ketika nasabah melakukan pelunasan sebelum jatuh tempo, dengan syarat tidak diperjanjikan diawal.
Seperi yang telah diatur dalam Fatwa DSN-MUI No. 23/DSN- MUI/III/2003.44
d. Penyelesaian Piutang Murabahah Bagi Nasabah Tidak Mampu Membayar
Untuk menghindari resiko nasabah yang tidak mampu melunasi pembiayaannya sesuai jumblah dan waktu yang
43 Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 13/DSN-MUI/IV/2000.
44 Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 23/DSN-MUI/III/2002.
disepakati, maka bank harus membuat kebijakan dalam menyelamatkan pembiayaan yang telah diberikan. Hal tersebut telah diatur dalam Fatwa DSN-MUI No. 47/DSN-MUI/II2005 yaitu:45
1) Objek murabahah atau jaminan lainnya dijual oleh nasabah kepada atau melalui LKS dengan harga pasar yang disepakati.
2) Nasabah melunasi sisa utangnya kepada LKS dari hasil penjualan
3) Apabila hasil penjualan melebihi sisa utang maka LKS mengembalikan sisanya kepada nasabah.
4) Apabila hasil penjual lebih kecil dari sisa utang maka sisa utang tetap menjadi utang nasabah.
5) Apabila nasabah tidak mampu membayar sisa utangnya, maka LKS dapat membebaskannya.
2. Pembiayaan Di Bank Syariah a. Pengertian Pembiayaan
Dalam Undang-Undang No. 10 Pasal 1 Tahun 1998 tentang perbankan syariah menjelaskan bahwa “pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang
45 Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 47/DSN-MUI/II/2005.
mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.”46 Selain itu pembiayaan dapat diartikan sebagai suatu transaksi peneyediaan dana dan fasilitas lainnya dengan berlandaskan pada prinsip syariah dan standar akuntansi perbankan syariah. Pembiayaan dibagi menjadi dua yaitu 1) pembiayaan produktif adalah pembiayaan dalam memenuhi produk- produk misalnya peningkatan usaha, baik berupa produksi, perdagangan, maupun investasi; 2) pembiayaan konsumtif adalah pembiayaan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi.47 Oleh karenanya pembiayaan pada bank syariah haruslah dijalankan dengan sesuai prinsip-prinsip syariah.
b. Prinsip pembiayaan
Penyelenggaraan pembiayaan syariah wajib memenuhi prinsip- prinsip di antaranya:48
1) Memenuhi prinsip keadilan, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya.
2) Keseimbangan, yaitu menyeimbangkan berberapa aspek diantaranya, aspek material dan spiritual, aspek private dan public, sector keuangan dan sector rill, bisnis dan sosial dan aspek pemanfaatan dan kelestarian.
46 La Ode Alimusa, Manajemen Perbankan Syariah Suatu Kajian Ideologis dan Teoritis, (Yogyakarta: Agustus 2020), hlm. 108.
47 Syamsul Arifin, Nur Hayati Mufida, Manajemen Berbasis Tauhid Konsep dan Aplikasi Pembiayaan Menuju Madrasah Bermutu, (Mataram: Sanabil 2020), hlm.119.
48 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2016), hlm.
350-35.
3) Maslahah yaitu segala bentuk kebaikan yang harus memenuhi tiga unsur diantaranya yaitu kepatuhan syariah, bermanfaat dan membawa kebaikan dalam semua aspek yang tidak menimbulkan kemudaratan.
4) Universalisme, yaitu dapat dilakukan dengan semua pihak yang dimana tidak memnadang suku, agama, ras, dan golongan.
5) Tidak mengandung unsur:
a) Gharar (tidak jelas) b) Maysir (untung-untungan) c) Riba (penambahan) d) Zhulm (ketidakadilan) e) Risywah (tindakan suap) f) Objek haram
c. Unsur-unsur Pembiayaan
Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian pembiayaan di antaranya: 49
1) Kepercayaan, yaitu keyakinan atas bank terhadap nasabah dalam pembiayaan yang diberikan baik itu berupa uang, barang atau jasa dan akan dikembalikan kembali pada waktu yang telah disepakati.
2) kesepakatan, yaitu kesepakatan anta bank dan nasabah (akad dan tanda tangan)
49Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2008).
hlm. 98-100.
3) Jangka waktu, yaitu batas waktu pelunasan pembiayaan yang telah disepakati bersama.
4) Resiko, yaitu bisa jadi terjadinya gagal bayar atau pembiayaan bermasalah.
5) Balas jasa, yaitu berian imbalan atau bonus karena nasabah telah melakukan pelunasan.
d. Tujuan dan Fungsi Pembiayaan
Adapun tujuan utama diberikannya pembiayaan adalah sebagai berikut:50
1) Mencari keuntungan
Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pembiayaan yang diberikan tersebut. Hasil tersebut sebagai balas jasa dan biaya administrasi pembiayaan yang dibebankan kepada nasabah. selain itu untuk kelangsungan bank kedepannya.
2) Membantu usaha nasabah
Tujuan lainnya yaitu untuk membantu nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun modal kerja dan lainnya.
3) Membantu pemerintah
Semakin banyak pembiaayaan yang disalurkan oleh pihak bank, maka semakin baik, sebab semakin banyaknya pembiayaan berarti adanya peningkatan pembangunan di berbagai sector.
50Ibid.
e. Prinsip-prinsip Pemberian Pembiayaan
Dalam bank memberikan pembiayaan, bank menerapkan prinsip-prinsip dalam pemberian pembiayaan yaitu dengan menganalis 5C.
Analis dengan 5C pada pembiayaan diantaranya:51
a) Character, yaitu sifat seseorang yang bisa dipercaya dalam diberikannya pembiayaan tersebut. Dimana dilihat dari latar belakang pekerjaan maupun sifat pribadi seperti: cara hidup,keadaan keluarga, hoby dll.
b) Capacity, yaitu melihat pada kemampuan nasabah dalam memahami ketentuan pemeri tah dan kemampuan dalam menjalankan usahanya.
c) Capital, yaitu dengan melihat penggunaan modal apakah sudah efektif, dilihat dari laporan keuangan. 52
d) Colletral, yaitu suatu jaminan yang diberikan nasabah tersebut, yang jumblahnya harus melebihi dari jumblah pembiayaan yang diajukan oleh nasabah tersebut.
e) Condition, yaitu melihat bagaimana kondisi ekonomi nasabah baik untuk masa sekarang atau untuk kedepannya.
B. Penelitian Terdahulu
1. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Astuti Hidayati yang berjudul “Analisis Penerapan Prinsip Syariah terhadap Produk Hasanah Card pada Bank BNI Syariah Cabang Mataram” penelitian tersebut menemukan bahwa penerapan
51 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2008), hlm. 95-96.
52 Kasmir, Dasar-dasar Perbankan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2002). hlm. 95.
prinsip-prinsip syariah khususnya pada produk hasanah card di Bank BNI Cabang Mataram menggunakan tiga akad yang dimana diantaranya yaitu akad kafalah, akad ijarah, dan akad qard. Dimana dalam hasanah card, akad kafalah sebagai penjamin, kemudian akad ijarah sebagai penyedia jasa dan akad qard sebagai pemberi pinjaman yang dimana yang menjadi pihaknya adalah Bank BNI Syariah Mataram.53
Persamaan dari penelitian yang dilakukan oleh Sri Astuti Hidayati dengan peneliti disini adalah sama-sama membahas tentang prinsip syariah pada produk perbankan syariah. Sedangkan perbedaanya yaitu pada penelitian yang dibahas oleh Sri Astuti Hidayati membahas tentang seperti apa prinsip syariah yang diterapkan pada produk hasanah card, sedangkan peneliti lebih membahas tentang penerapan kepatuhan syariah yang diterapkan oleh BSI Cabang Mataram dalam operasional produk pembiayaan Griya iB Hasanah.
2. Dari penelitian yang dilakukan oleh Anita Raihan yang berjudul “ Tingkat Kepatuhan Syariah dalam Produk Pembiayaan Murabahah di PT. BPRS Hikmah Wakilah Banda Aceh”. Pada penelitian tersebut menunjukan bahwa tingkat kepatuhan syariah dalam produk pembiayaan murabahah pada bank telah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI, seperti pelaksanaan akad jual beli murabahah, memberlakukan uang muka kepada nasabah, tidak memberikan
53 Sri Astuti Hidayati, “Analisis Penerapan Prinsip Syariah terhadap Produk Hasanah Card pada Bank BNI Syariah Cabang Mataram”, (Skripsi: UIN Mataram, 2019).
denda kepada nasabah yang menunda pembayaran, potongan pelunasan bagi nasabah yang membayar cepat, penjadwalan kembali tagihan jika penyelesaian piutang nasabah tidak mampu membayar.54
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang peneliti teliti yaitu sama-sama membahas tentang hukum Islam pada pembiayaan. Sedangkan perbedaannya yaitu pada penelitian tersebut lebih kepada tingkat kepatuhan syariah dalam produk pembiayaan murabahah secara umum, sedangkan pada penelitian yang peneliti teliti lebih memfokuskan untuk produk pembiayaan Griya iB Hasanah atau kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah.
3. Pada penelitian yang dilakukan oleh Syarmila Sari yang berjudul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Kepemilikan Rumah pada Pembiayaan Murabahah Griya iB Hasanah Study Kasus Pada BNI Syariah Banda Aceh”. Pada penelitian tersebut menemukan bahwa akta jual beli PPAT hanya dibuat sekali, yakni atas nama developer sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. akad jual beli murābahah yang terjadi pada produk pembiayaan Griya iB Hasanah ini tetap sah menurut hukum Islam. Hal ini dikarenakan bank tidak lepas tangan dan membiarkan nasabah membeli rumah dari developer tanpa ada campur tangan pihak bank. Bank tetap melakukan akad
54 Aldi Tahir, "Penetapan Margin Murabahah pada Produk Pembiayaan Griya iB Hasanah BNI Syariah Cabang Bengkulu di Tinjau Dari Ekonomi Islam" (Skripsi, FEBI IAIN Bengkulu 2016), Diakses 16 Februari 2011 pukul 10.25.
jual beli rumah dengan pihak developer secara lisan dan langsung mentransfer dana pembiayaan murābahah ke rekening developer.
Persamaan pada penelitian tersebut dengan penelitian yang peneliti teliti yaitu sama-sama membahas tentang hukum islam. sedangkan perbedaannnya yaitu pada penelitian tersebut membahas tentang hukum Islam terhadap kepemilikan rumah pada pembiayaan murabahah Griya iB Hasanah. Sedangakan peneliti membahas hukum Islam dalam oprasional pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram.
4. Pada penelitian yang dilakukan oleh Abdu Somad yang berjudul “Tinjauan Hukum Islam terhadap Praktik Rahn dengan Calo di Desa Sesela Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat” pada penelitian tersebut menemukan bahwa praktik yang tidak sesuai dengan apa yang digariskan dalam syari‟at islam dan ada beberapa kejanggalan dalam praktiknya yaitu terjadinya praktik menggunkan calo, tidak menggunakan batas waktu dalam praktik tersebut, telah terjadi pemanfaatan barang gadai, dan terjadi pertukaran objek gadai tanpa mengetahui kejelasan objek pengganti tersebut layak atau tidak.55
Persamaan pada penelitian tersebut dengan penelitian yang peneliti teliti yaitu sama-sama membahas tentang hukum islam. sedangkan perbedaannnya yaitu pada penelitian tersebut membahas tentang hukum
55Abdu Somad, “Tinjauan Hukum Islam terhadap Praktik Rahn dengan Calo di Desa Sesela Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat", (Skripsi: UIN Mataram, 2019).
islam terhadap praktik Rahn dengan calo. Sedangakan peneliti membahas kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram.
5. Pada penelitian yang dilakukan oleh Abdul Gafur yang berjudul “Perspektif Ekonomi Islam terhadap Strategi Pemasaran Produk Tabungan Simapan Pinjam di KSP Lombok Sejati Cabang Mataram” pada penelitian tersebut menemukan bahwa strategi yang digunakan yaitu bersosialisasi dengan masyarakat banyak dan melakukan pendekatan-pendekatan secara kekeluargaan, Menyebarkan brosur-brosur ke masyarakat banyak, pelayanan yang baik, persyaratan yang mudah, penentuan harga, memberikan hadiah bagi nasabah yang rajin menabung, kemudian jika ditinjau dari perspektif ekonomi islam strategi pemasaran produk tabungan SIMAPAN di KSP Lombok Sejati Cabang Mataram sudah ada kesesuaian dengan strategi pemasaran dalam islam, karena dalam pemasarannya mengedepankan kejujuran, bertanggung jawab dan melayani dengan baik. 56
Persamaan pada penelitian tersebut dengan yang peneliti lakukan yaitu sama-sama membahas tentang hukum islam atau ekomomi Islam. Sedangkan perbedaannya yaitu, pada penelitian yang dibahas oleh Abdul Gafur membahas tentang pandangan hukum islam atau ekomomi islam dalam memasarkan produk tabungan simapan yang ada di KSP
56 Abdul Gafur, "Perspektif Ekonomi Islam terhadap Strategi Pemasaran Produk Tabungan SIMAPAN di KSP Lombok Sejati Cabang Mataram" (Skripsi: UIN Mataram 2016).
Lombok Sejati Cabang Mataram sedangkan peneliti lebih fokus pada penerapan kepatuhan syariah atau penerapan hukum-hukum syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah yang ada pada PT. BSI Kantor Cabang Mataram.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif yang dimana Strauss dab Corbin mendefinisikan metode penelitian kualitatif yaitu penelitian yang dimana semua jenis temuan tidak didapatkan melalui prosedur statistik atau dalam bentuk hitungan.57 Dimana dalam penilitian ini bertujuan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi, serta berusaha menggambarkan secara dalam dan detail mengenai fenomena tersebut.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode normatif empiris dengan menyajikan data yang bersifat deskriptif. Metode pembahasan deskriptif merupakan pembahasan materi dengan cara menggambarkan objek sesuai dengan apa adanya. Metode pembahasan deskriptif dilakukan dengan cara mengumpulkan teori dan fakta yang menjadi fokus permasalahan, kemudian menganalisis keduanya, dan pada akhirnya disimpukan dalam bentuk suatu penyelesaian.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan sejak tanggal: 22 April 2021
57 Afrizal, Metode Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm.12.
35
Lokasi penelitian dilakukan pada PT. BSI (Bank Syariah Indonesia) Kantor Cabang Mataram Pejanggik 01.
C. Sumber Data 1. Data Primer
Data primer adalah data yang didapat secara langsung dari sumber data/objek sebagai sumber informasi yang relevan.
2. Data Sekunder
Data skunder adalah data yang digunakan oleh peneliti sebagai penunjang untuk data primer.
D. Metode Pengumpulan Data
Salah satu kualitas hasil penelitian dinilai dari kualitas pengumpulan data.
Di dalam penelitian kualitatif yang menjadi metode pengumpukan data yang digunkan oleh peneliti diantaranya sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah tekhnik pengumpulan yang dilakukan dengan mengadakan penelitian secara teliti, serta pencatatan dengan cara yang sistematis.58 Observasi dibagai menjadi dua bagian yaitu observasi partisipasi dan non-partisipasi.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode observasi non- partisipasi yang dimana peneliti tidak ikut perpartisipasi dalam aktivitas
58 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013), hlm. 143.
yang diteliti. Akan tetapi, peneliti melakukan pengamatan pada objek yang diteliti untuk mendapatkan gambaran tentang objek yang peneliti teliti.
Tujuan dari dilakukan tekhnik ini yaitu untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi.
Dalam penelitian ini, peneliti mendatangi langsung dan melakukan observasi pada PT. BSI Cabang Mataram untuk mengetahui bagaimana Penerapan Kepatuhan Syariah Dalam Pembiayaan Griya iB Hasanah Yang Ditrapkan Oleh PT. BSI Kantor Cabang Mataram.
2. Wawancara
Wawancara adalah tekhnik yang digunakan untuk mengumpulkan data dari penelitian yang akan diteliti.59 Tujuan dari dilakukannya teknik ini yaitu untuk memperoleh informasi yang sistematis, dan untuk mengetahui hal yang belum jelas.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode wawancara tidak terstruktur atau wawancara bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara lengkap untuk pengumpulan datanya. Sehingga memudahkan dalam peneliti mendapatkan informasi terkait dengan pembiayaan Griya iB Hasanah, yaitu Penerapan Kepatuhan Syariah Dalam Pembiayaan Griya iB Hasanah.
3. Dokumentasi
59 A. Muri Yusuf., Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: PT. Fajar Interpratama Mandiri, 2016), hlm.237.
Dokumentasi adalah catatan, kejadian yang sudah terjadi atau lampau yang dinyatakan dalam berbagai bentuk diantanya berbentuk lisan, tulisan dan karya bentuk.60
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode dokumentasi untuk mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dengan mencatat materi tentang gambaran umum penerapan kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah, serta meminta data mengenai produk pembiayaan Griya iB Hasanah.
E. Teknik Analisis Data
Analisa data menurut Patton adalah proses mengatur urusan data, mengorganisasikannya dalam suatu pola, kategori, dan satuan urutan dasar.61 Dalam analisis data ini peneliti memulai dengan cara membaca, mempelajari serta menelaah data-data yang telah didapatkan melalui observasi, wawancara dan hasil dokumentasi.
Setelah peneliti mengumpulkan data kemudian data tersebut dianalis dengan beberapa cara diantaranya yaitu:
1. Reduksi Data
Resuksi data artinya sebagai proses pemilihan, klarifikasi, penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasikan data yang
60 Djam‟an Satori, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: ALFABETA, 2014), hlm. 148.
61 ALBI Anggito dan Johan Setiawan, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Jawa Barat: CV Jejak 2018), hlm. 237.
muncul dari catatan-catatan yang sudah ditulis dilapangan. 62 Sehingga data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebh jelas dan akan mempermudah peneliti.
Dalam hal ini peneliti lebih fokus pada hal penerapan kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah serta menyesuaikan hal tersebut pada ketentuan Fatwa DSN-MUI dengan yang terjadi dilapangan.
2. Penyajian Data
Penyajian data dilakuakan setelah reduksi data dimana melalui penyajian data peneliti akan dapat menemukan data yang lebih jelas.
Dalam hal ini peneliti melakukan penyajian data dengan menguraikan dan mendeskripsikan mengenai penerapan kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah serta menyesuaikan hal tersebut pada ketentuan Fatwa DSN-MUI dengan yang terjadi dilapangan.
3. Menarik Kesimpulan
Yaitu merupakan tahapan ketiga yang dilakukan setelah penyajian data. Kesimpulan merupakan suatu temuan yang baru dan belum pernah ada sebelumnya. Dimana nantinya temuan tersebut merupakan gambaran objek yang sebelumnya belum jelas menjadi jelas setelah diteliti.
62 M. Sobry Sutikno, Metode Penelitian Kualitatif, (Lombok: Holistica, 2020), hlm. 140.
Dalam hal ini peneliti akan menggambarkan dan mendeskripsikan mengenai penerapan kepatuhan syariah dalam pembiayaan Griya iB Hasanah serta menyesuaikan hal tersebut pada ketentuan Fatwa DSN-MUI dengan yang terjadi dilapangan.
F. Keabsahan Data
Keabsahan data adalah derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dilaporkan oleh peneliti. Dengan demikian data yang dinyatakan valid dalam penelitian kualitatif adalah data tidak ada perbedaannya antara yang dilaporkan peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian63. Untuk mendapatkan validitas data yang sesungguhnya, maka peneliti melakukan:
1. Obsevasi Mendalam
Observasi mendalam yaitu sebagai salah satu cara memeriksa keabsahan data yang dilakukan dengan cara mengamati secara lebih teliti dibandingkan dengan observasi sebelumnya, untuk mencari kebenaran data yang diperoleh.64
Peneliti menggunakan teknik ini untuk mendapatkan data yang lebih akurat yaitu dengan cara menjalin hubungan dengan akrab dengan informan sehingga berimplikasi kepada sikap saling
63 Sugiono, Memahami Penelitian kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2014), hlm. 117-119.
64 M. Sobry Sutikno, Metode Penelitian Kualitatif, (Lombok: Holistica, 2020),hlm. 152.