• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Risiko dan Mitigasi pada Konstruksi Jalan di Lahan Gambut

N/A
N/A
SARTIKA LOMO

Academic year: 2024

Membagikan " Analisis Risiko dan Mitigasi pada Konstruksi Jalan di Lahan Gambut"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA RESIKO DAN MITIGASI PADA KONSTRUKSI JALAN DI LAHAN GAMBUT

Nosa Nugraha1), Slamet Widodo2), Abubakar Alwi2)

1) Alumni Magister Teknik Sipil, Universitas Tanjungpura, Pontianak 2) Dosen Program Studi Magister Teknik Sipil, Universitas Tanjungpura, Pontianak

Email :[email protected] ABSTRAK

Permasalahan dalam pelaksanakan proyek adalah tidak teridentifikasi dan tertanganinya faktor-faktor risiko sehingga mengakibatkan kendala dalam pencapaian tujuan proyek yaitu waktu (time), biaya (cost) dan kualitas (quality). Pembangunan jalan di atas tanah gambut akan menghadapi beberapa masalah geoteknik, salah satunya masalah stabilitas timbunan, penurunan timbunan yang cukup besar dan kekuatan daya dukung dalam menahan beban yang terjadi di atasnya. Keadaan tanah dasar demikian bila tidak ditangani dengan baik akan mempengaruhi kondisi badan jalan diatasnya dan akan mempercepat kerusakan jalan.

Berdasarkan hasil analisa risiko dari 6 lokasi yang disurvei pekerjaan pembangunan/peningkatan jalan di lahan gambut yang paling berisiko adalah proyek Pembangunan Jalan Rasau Jaya –Sungai Bulan (Tahun Jamak) yang mana dianggarkan sebesar Rp. 14.839.400.000,00, risiko biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan tanah + 30%

dari total pelaksanaan pekerjaan. Jenis tanah dasar menentukan mahal tidaknya pembangunan jalan. Kekuatan tanah tersebut menentukan tebal tipisnya lapisan perkerasan.

Semakin tebal lapisan perkerasan akan semakin baik untuk meningkatkan kekuatan tanah, namun juga membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang baik, dalam menentukan tebal perkerasan yang sesuai dengan kondisi tanah agar tidak boros biaya, tetapi tetap memperhatikan kualitas jalan. Tindakan mitigasi dari risiko dominan yang sering terjadi yaitu risiko biaya untuk penyelidikan tanah strategi penangannya dengan memasukkan biaya penyelidikan tanah dalam biaya konsultan perencanaan pembangunan jalan. Jika perencanaan yang telah dirancang tidak akurat sebaiknya pelaksanaan pekerjaan dihindari. Secara keseluruhan tindakan mitigasi yang dilakukan adalah dengan menghindari risiko (risk avoidance) yang terjadi yaitu meliputi perubahan rencana manajemen proyek untuk mengurangi ancaman – ancaman yang diakibatkan oleh risiko–risiko yang buruk, untuk mengasingkan tujuan awal proyek dari dampak risiko.

Kata Kunci: Tanah Gambut, Risiko, Mitigasi 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Permasalahan yang sering dihadapi dalam melaksanakan pembangunan suatu proyek adalah tidak teridentifikasi dan tertanganinya faktor - faktor risiko dalam pelaksanaan proyek tersebut

sehingga mengakibatkan kendala dalam pencapaian tujuan proyek yaitu waktu (time), biaya (cost) dan kualitas (quality). Hal ini juga terjadi pada proyek pembangunan infrastruktur konstruksi jalan di lahan gambut di Provinsi Kalimantan Barat mengandung faktor risiko yang

(2)

tinggi. Pembangunan jalan di tanah gambut akan menghadapi beberapa masalah geoteknik. Salah satunya adalah masalah stabilitas timbunan, penurunan timbunan yang cukup besar dan kekuatan daya dukung dalam menahan beban yang terjadi di atasnya. Keadaan tanah dasar demikian bila tidak ditangani dengan baik akan mempengaruhi kondisi badan jalan dan akan mempercepat kerusakan jalan. Untuk timbunan badan jalan diperlukan analisis stabilitas atau kekuatan daya dukung dan penurunan sehingga tinggi timbunan yang dikehendaki untuk badan jalan tidak mengalami penurunan lagi setelah konstruksi selesai.

1.2. Rumusan Masalah

Dengan latar belakang tersebut di atas, maka yang menjadi permasalahan diantaranya, yaitu:

1. Risiko-risiko apa saja yang mungkin dapat terjadi pada masa pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi jalan di lahan gambut di Provinsi Kalimantan Barat.

2. Bagaimana menentukan besaran kemungkinan dan dampak yang akan terjadi terhadap risiko yang telah teridentifikasi.

3. Bentuk mitigasi apa yang harus dilakukan terhadap risiko yang terjadi di luar kriteria standar yang ditentukan sehingga dapat mengurangi dampak negatif dari keterlambatan (delay) dan peningkatan biaya pelaksanaan (cost overruns) proyek tersebut.

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:

1. Melakukan identifikasi risiko pada pelaksanaan proyek konstruksi jalan di lahan gambut di Provinsi Kalimantan Barat yang menjadi obyek penelitian dan mengelompokkan dalam kategori tertentu.

2. Menentukan tingkat risiko dari risiko yang teridentifikasi.

3. Menentukan mitigasi risiko terhadap risiko yang berada diluar kriteria standar risiko yang ditetapkan.

1.4. Pembatasan Masalah

Untuk memperjelas

permasalahan dan memudahkan dalam menganalisa, maka dibuat batasan-batasan masalah sebagai berikut:

1. Identifikasi risiko yang dilakukan pada penelitian ini dibatasi untuk risiko yang merugikan fase masa konstruksi dan permasalahan keteknik-sipilan tidak memasukkan faktor politik.

2. Risiko–risiko yang diteliti lebih fokus dari sudut pandang tenaga ahli, stakeholders, dan kontraktor.

3. Obyek penelitian ini adalah proyek pembangunan konstruksi jalan di lahan gambut di Kabupaten Kubu Raya yaitu Pekerjaan Pembangunan Jalan Rasau Jaya-Sungai Bulan (Tahun Jamak), Pekerjaan Peningkatan Jalan Kuala Dua-Wonodadi 2 (DAK), dan Peningkatan Jalan Kubu–Sungai Terus, Pekerjaaan Peningkatan Jalan Sungai Tempayan-Kubu Padi (Segmen

(3)

Sungai Enau) (DAK), Pekerjaan Pembangunan Jalan Poros Desa Radak Baru, Pembangunan Jalan Sekunder B Kanan Patok 50 Desa Rasau Jaya.

4. Populasi responden dari penelitian ini adalah tenaga ahli dari perusahaan kontraktor yang menangani pekerjaan konstruksi tersebut, stakeholders (PPK dan PPTK).

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanah Gambut

Gambut adalah tanah lunak, organik dan sangat sulit dipindahkan, serta mempunyai daya dukung yang sangat rendah. Secara teknis tanah gambut tidak baik sebagai landasan karena memiliki kompresibilitasnya tinggi. Gambut mengandung bahan organik lebih dari 30%, sedangkan lahan gambut adalah lahan yang ketebalan gambutnya lebih dari 50 cm. Lahan yang ketebalan gambutnya kurang daripada 50 cm disebut lahan bergambut. Gambut terbentuk dari hasil dekomposisi bahan organik seperti dedaunan, ranting serta semak belukar yang berlangsung dalam kecepatan yang lambat dan dalam keadaan anaerob.

Tanah Gambut secara umumnya memiliki kadar pH yang rendah, memiliki kapasitas tukar kation yang tinggi, kejenuhan basa rendah, memiliki kandungan unsur K, Ca, Mg, P yang rendah dan juga memiliki kandungan unsur mikro (seperti Cu, Zn, Mn serta B) yang rendah pula.

2.2. Konstruksi Jalan di Lahan Gambut

Untuk konstruksi jalan diperlukan penelitian terhadap sifat- sifat teknik gambut yang mencakup daya dukung, besar dan waktu penurunan, ketebalan serta jenis tanah yang berada dibawahnya.

Indonesia memiliki lahan gambut seluas 27.000.000 ha terpusat di Pulau-pulau Kalimantan, Sumatera dan Irian Jaya.

Masalah utama di areal gambut (peat) yang utama adalah sifatnya yang sangat compressible dimana lapisannya akan memiliki potensi settlement (penurunan) yang sangat besar ketika dibebani di atasnya.

Semakin tebal lapisan gambutnya, semakin besar settlement yang dapat terjadi.

Pemakaian kanoppel atau galar kayu sebagai perkuatan tanah dasar pada pembuatan jalan diatas tanah gambut cukup besar. Banyaknya pembangunan jalan yang selama ini dikerjakan dengan memakai kanoppel tidak lepas dari pertimbangan ekonomis mengingat fungsi jalan raya selalu berkaitan dengan dimensi panjang yang melibatkan bahan perkerasan dengan jumlah yang cukup banyak.

Adanya alternatif lain untuk meningkatkan perkuatan tanah dasar yaitu dengan pemakaian geotextile dapat memberikan pertimbangan lain secara ekonomis dan struktur.

Geotextile merupakan suatu bahan geosintetik yang berupa lembaran serat sintetis tenunan dan tambahan bahan anti ultraviolet. Geotextile ini mempunyai berat sendiri yang relatif ringan dan dapat diabaikan, akan

(4)

tetapi mempunyai kekuatan tarik yang cukup besar untuk menerima beban diatasnya. Keunikan utama geotextile adalah konsistensi kualitas sebagai produk industri permanen dan sangat kompetitif dalam harganya, namun relatif mudah dan murah penerapannnya untuk perkuatan tanah dasar.

2.3. Konstruksi Jalan

Menurut Husen (2009), proyek adalah gabungan dari berbagai macam sumber daya, seperti sumber daya manusia, material, peralatan dan modal / biaya dalam suatu wadah organisasi yang bersifat sementara untuk mencapai sasaran dan tujuan.

Definsi lain menyebutkan bahwa proyek konstruksi adalah “suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka pendek” (Ervianto, 2003).

2.4. Manajemen Risiko

Menurut wideman (1992),

“risiko proyek dalam manajemen risiko adalah efek kumulasi dari peluang kejadian yang tidak pasti, yang mempengaruhi sasaran dan tujuan proyek (Husen, 2009). Dalam setiap kegiatan kata risiko tentu tidak asing dan bahkan seolah risiko merupakan bagian dari suatu kegiatan. Banyak cara utuk mengartikan risiko, sering kali risiko diartikan sebagai kejadian yang merugikan dan berkonotasi negatif.

Namun dapat dipastikan bahwasanya adanya risiko dikarenakan adanya ketidakpastian. Secara ilmiah definisi risiko adalah kombinasi fungsi dan frekuensi kejadian, probabilitas dan konsekuensi dari bahaya risiko yang

terjadi, dan dapat dirumuskan sebagai berikut (Husen, 2009) :

Risiko = (frekuensi kejadian, probabilitas, konsekuensi) Untuk mengetahui seberapa besar risiko dalam sebuah kegiatan atau proyek maka diperlukan manajemen risiko, dalam manajemen risiko terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui, antara lain:

2.4.1. Risiko

Definisi risiko menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Menurut Arthur J.

Keown (2000), risiko adalah prospek suatu hasil yang tidak disukai (operasional sebagai deviasi standar).

Definisi risiko menurut Hanafi (2006) risiko merupakan besarnya penyimpangan antara tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return–ER) dengan tingkat pengembalian aktual (actual return).

2.4.2. Identifikasi Risiko

Menurut Darmawi (2008) proses identifikasi harus dilakukan secara cermat dan komprehensif, sehingga tidak ada risiko yang terlewatkan atau tidak teridentifikasi.

Dalam pelaksanaannya, identifikasi risiko dapat dilakukan dengan beberapa teknik, antara lain:

a. Brainstorming b. Questionnaire

c. Industry benchmarking d. Scenario analysis

e. Risk assessment workshop f. Incident investigation g. Auditing

(5)

h. Inspection i. Checklist

j. HAZOP (Hazard and

Operability Studies)

2.4.3. Evaluasi dan Pengukuran Risiko

Adapun hal yang harus diperhatikan dalam pengukuran risiko adalah dengan menggunakan dua klasifikasi, yaitu frekuensi atau probabilitas terjadinya risiko dan tingkat keseriusan kerugian atau impact dari suatu risiko.

Untuk melakukan proses evaluasi, dibutuhkan suatu parameter yang jelas untuk dapat mengukur dampak dari suatu risiko dengan tepat. Menurut Loosemore, Raftery, Reilly dan Higgon (2006), beberapa parameter untuk proses evaluasi risiko seperti pada Tabel 2.1. dan tabel 2.2.

Tabel 2.1. Parameter probabilitasrisiko

Tabel 2.2. Parameter Konsekuensi Risiko

Tabel 2.2. Parameter konsekuensirisiko

Setelah risiko – risiko yang mungkin terjadi di evaluasi dengan menggunakan parameter –parameter probabilitas dan konsekuensi risiko, selanjutnya dapat dilakukan suatu analisa untuk mengevaluasi dampak risiko secara keseluruhan, dengan menggunakan matriks evaluasi risiko.

2.4.4. Pengelolaan Risiko

Pengelolaan risiko harus dilakukan untuk menghindari kerugian yang sangat besar. Untuk memilih diantara berbagai macam teknik yang bisa digunakan dalam pengelolaan risiko adalah dengan mempertimbangkan frekuensi / probabilitas, sebagaimana dijelaskan dalam tabel 2.3, dan dalam gambar 2.1.

Tabel 2.3. Alternatif Manajemen Risiko

Gambar 2.1.Treshold of risk levels.

(Sumber: Wibowo, 2010) Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1 sampai 5 sebagaimana dapat dilihatdalam tabel 2.4 dan tabel 2.5berikut:

Tabel 2.4.SkalaProbability Gambar 2.1.Treshold of risk levels.

(Sumber: Wibowo, 2010)

(6)

Tabel 2.4. Skala Probability

Tabel 2.5. Skala Impact

2.4.5. Mitigasi/Penanganan Risiko Menurut Husen (2009), penanganan risiko dimaksudkan agar jenis risiko yang telah diketahui dapat dikelola atau ditangani sehingga solusi serta penanggung jawab risikonya dapat ditentukan.

Tindakan yang dilakukan untuk mengurangi risiko yang muncul tersebut disebut tindakan mitigasi/

penanganan risiko (risk mitigation).

Risiko yang muncul kadang-kadang tidak dapat dihilangkan sama sekali tetapi hanya dapat dikurangi sehingga akan timbul residual risk (sisa risiko).

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menangani risiko, yaitu (Flanagan dan Norman, 1993) : 1. Menahan Risiko (Risk

Retention)

Sikap untuk menahan risiko sangat erat kaitannya dengan keuntungan (gain) yang terdapat dalam suatu risiko. Tindakan untuk menerima/ menahan risiko ini karena dampak dari suatu

kejadian yang merugikan masih dapat diterima (acceptable).

2. Mengurangi Risiko (Risk Reduction)

Mengurangi risiko dilakukan dengan mempelajari secara mendalam risiko itu sendiri, dan melakukan usaha-usaha pencegahan pada sumber risiko atau mengkombinasikan usaha agar risiko yang diterima tidak terjadi secara simultan. Dengan melakukan tindakan ini kadang- kadang masih ada risiko sisa (residual risk) yang perlu

dilakukan penilaian

(assessment).

3. Memindahkan Risiko (Risk Transfer).

Sikap pemindahan risiko dilakukan dengan cara mengasuransikan risiko yang dilakukan dengan memberikan sebagian atau seluruhnya kepada pihak lain. Usaha atau pekerjaan yang risikonya tinggi dipindahkan kepada pihak yang

mempunyai kemampuan

menangani dan mengendalikan nya.

4. Menghindari Risiko (Risk Avoidance)

Biasanya dipilih untuk tipe risiko yang akan memberikan dampak yang sangat besar.

Sikap menghindari risiko adalah cara menghindari kerugian dengan menghindari aktivitas yang tingkat kerugiannya tinggi.

Menghindari risiko dapat dilakukan dengan melakukan penolakan. Salah satu contoh penghindaran risiko pada proyek konstruksi, adalah dengan

(7)

memutuskan hubungan kontrak (breach of contract).

3. ANALISA DATA 3.1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan survei kuesioner, dalam penelitian ini survei kuesioner dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama kuesioner merupakan kuesioner pendahuluan yang digunakan untuk mengetahui faktor atau variabel risiko apa saja yang relevan dengan kondisi proyek konstruksi jalan di lahan gambut di Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat, sedangkan kuesioner kedua yaitu kuesioner utama yang digunakan untuk mengetahui besar nilai probabilitas

dan dampak dari setiap variabel risiko.

3.1.1. Data Identifikasi Risiko Dibawah ini adalah faktor resiko yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap responden mengenai identifikasi resiko ditambah dengan ide awal penulis mengenai resiko yang mungkin terjadi, disertai penjelasan tiap faktor resiko supaya tidak terjadi kesalahpahaman asumsi antara responden, penulis dan pembaca.

Dari seluruh hasil wawancara mengenai identifikasi resiko hasilnya akan dibuat kuesioner untuk mengukur tingkat kepentingan resiko. Dari hasil kuesioner ini nantinya dapat diperoleh tingkat kepentingan resiko.

Tabel 3.1. Definisi Operasional Risiko

(8)

3.1.2. Data Instrumen Penelitian Adapun sistem penilaian yang dipakai dalam kuisioner dalam penelitian ini adalah:

Probability (Intensitas):

 1 = tidak pernah

 2 = jarang

 3 = kadang-kadang

 4 = sering

 5 = selalu Dampak:

 1 = Sangat Kecil (SK)

 2 = Kecil (K)

 3 = Sedang (S)

 4 = Besar (B)

 5 = Sangat Besar (SB) 3.2. Analisa Risiko

Hasil dari kuesioner yang disebarkan kepada responden untuk memperoleh informasi mengenai kemungkinan (probabilitas) dan dampak (impact) dianalisa dan dibuat perbandingan tingkat risiko terbesar urutan 1 s/d urutan 4 per tinjauan pekerjaan, dapat dilihat pada tabel 3.2.

Tabel 3.2. Perbandingan Tingkat Risiko per Paket Pekerjaan Jalan

(9)

3.3. Perbandingan Tingkat Risiko Tertinggi per Paket Pekerjaan

Dalam tingkat penerimaan risiko dapat dilihat bahwa risiko dominan yang sering terjadi yaitu risiko biaya untuk penyelidikan tanah (daya dukung, besar dan waktu penurunan, ketebalan serta jenis tanah yang berada dibawahnya), diikuti risiko selanjutnya yaitu risiko biaya untuk meningkatkan kekuatan tanah dasar. Risiko-risiko dominan ini menunjukkan bahwa risiko-risiko tersebut dapat menghambat dan memberi dampak negatif dalam setiap pekerjaan pembangunan/

peningkatan jalan di lahan gambut.

Risiko-risiko dominan ini harus mendapatkan perhatian khusus dari pihak-pihak berkompeten yang memiliki tanggung jawab terhadap terjadinya risiko untuk dapat dilakukan tindakan mitigasi agar dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari risiko yang terjadi.

Berdasarkan hasil urutan tingkat risiko dominan pada setiap pekerjaan pembangunan/peningkatan jalan, secara keseluruhan dipengaruhi oleh lokasi pekerjaan, yang mana memiliki karakteristik kondisi ekonomi, penduduk, dan tekstur tanah yang berbeda.

Dari ke 6 paket pekerjaan pembangunan/peningkatan jalan di lahan gambut yang paling berisiko adalah proyek Pembangunan Jalan Rasau Jaya – Sungai Bulan (Tahun Jamak) yang mana dianggarkan

sebesar Rp.14.839.400.000,00, risiko biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan tanah + 30% dari total pelaksanaan pekerjaan. Jenis tanah dasar menentukan mahal tidaknya pembangunan jalan, karena kekuatan tanah menentukan tebal tipisnya lapisan perkerasan. Semakin tebal lapisan perkerasan akan semakin baik untuk meningkatkan kekuatan tanah, namun juga membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang baik, dalam menentukan tebal perkerasan yang sesuai dengan kondisi tanah di areal gambut tersebut, agar tidak boros biaya, tetapi tetap memperhatikan kualitas jalan.

3.4. Mitigasi Risiko (Risk Mitigation)

Tindakan-tindakan mitigasi yang dilakukan dalam penelitian ini didapatkan dari hasil analisis, wawancara dengan pihak yang berkompeten (expert) dan dari penelitian-penelitian sebelumnya.

Tindakan mitigasi untuk risiko-risiko yang telah diidentifikasi hasil analisis wawancara terhadap pihak yang terkait pada setiap pekerjaan pembangunan/ peningkatan jalan di lahan gambut telah diuraikan pada sub bagian sebelumnya, Tabel 3.2 berikut merupakan hasil rekapan dari 4 urutan terbasar tingkat risiko yang terjadi pada setiap pekerjaan pembangunan/ peningkatan jalan di lahan gambut di Kabupaten Kubu Raya.

(10)

Tabel 3.2. TindakanMitigasi per Paket Pekerjaan Jalan Sesuai Tingkat Risiko

(11)

Tabel 3.2. Tindakan Mitigasi per Paket Pekerjaan Jalan Sesuai Tingkat Risiko (Lanjutan)

(12)

Berdasarkan analisa tingkat risiko adalah dengan menghindari risiko (risk avoidance) yang terjadi yaitu meliputi perubahan rencana manajemen proyek untuk mengurangi ancaman – ancaman yang diakibatkan oleh risiko–risiko yang buruk, untuk mengasingkan tujuan awal proyek dari dampak risiko. Tabel 4.22. berikut juga menguraikan tindakan mitigasi setiap jenis risiko yang harus dilakukan untuk tindakan mitigasi/penanganan risiko.

Dari hasil urutan tingkat risiko dominan pada setiap pekerjaan pembangunan/peningkatan jalan di lahan gambut, secara umum dipengaruhi oleh lokasi pekerjaan, yang mana memiliki karakteristik kondisi ekonomi, penduduk, dan tekstur tanah yang berbeda.

Berdasarkan Tabel 3.1.

tindakan mitigasi dari risiko dominan yang sering terjadi yaitu:

1. Risiko biaya untuk penyelidikan tanah (daya dukung, besar dan waktu penurunan, ketebalan serta jenis tanah yang berada dibawahnya). Strategi penanganannya adalah dengan memasukkan biaya penyelidikan tanah dalam biaya konsultan perencanaan pembangunan jalan.

2. Risiko biaya untuk meningkatkan kekuatan tanah dasar, strategi yang dapat dilakukan dengan cara memperhatikan hasil penyelidikan tanah, dan metode pelaksanaan pekerjaan yang tepat untuk kondisi tanah rawa atau tanah gambut.

3. Risiko biaya tambahan untuk volume material timbunan, di

mana risiko ini berdampak pada biaya dan waktu, strategi yang dapat dilakukan yaitu dengan cara mengetahui secara jelas jenis timbunan yang akan digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan, apakah timbunan biasa, timbunan pilihan atau timbunan pilihan di atas tanah rawa.

4. Risiko kenaikan harga material, di mana risiko ini berdampak pada biaya dan waktu. Strategi penanganannya yaitu dengan mengikat harga material pada periode waktu tertentu atau dengan pengadaan material di awal proyek dan melakukan eskalasi harga jika waktu pelaksanaan proyek lebih dari 1 tahun.

5. Risiko penurunan kualitas (umur rencana yang tidak sesuai) karena kurangnya peralatan uji lab untuk uji CBR, strategi yang dapat dilakukan dengan cara optimasi volume pekerjaan dan koordinasi dengan pihak terkait mengenai laboratorium.

6. Risiko hujan, strategi yang dapat dilakukan untuk kondisi curah hujan yang tinggi dan tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya maka dapat diusulkan addendum penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan.

7. Risiko terjadinya perubahan design pada saat pelaksanaan pekerjaan, strategi yang dapat dilakukan yaitu dengan mengadakan Draft Technical Justification / design ulang yang dilakukan dengan pihak terkait.

8. Risiko kondisi lapangan yang tidak sesuai gambar, strategi

(13)

mitigasi yang dapat dilakukan adalah degan melaksanakan rekayasa lapangan dan redesain pekerjaan dengan pihak terkait sebelum pekerjaan dimulai.. 4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan

1. Dalam tingkat penerimaan risiko dapat dilihat bahwa risiko dominan yang sering terjadi yaitu risiko biaya untuk penyelidikan tanah (daya dukung, besar dan waktu penurunan, ketebalan serta jenis tanah yang berada dibawahnya), diikuti risiko selanjutnya yaitu risiko biaya untuk meningkatkan kekuatan tanah dasar. Risiko-risiko dominan ini menunjukkan bahwa risiko-risiko tersebut dapat menghambat dan memberi dampak negatif dalam setiap pekerjaan pembangunan/

peningkatan jalan di lahan gambut. Risiko-risiko dominan ini harus mendapatkan perhatian khusus dari pihak-pihak berkompeten yang memiliki tanggung jawab terhadap terjadinya risiko untuk dapat dilakukan tindakan mitigasi agar dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari risiko yang terjadi.

2. Dari hasil urutan tingkat risiko dominan pada setiap pekerjaan pembangunan/peningkatan jalan di lahan gambut, secara umum dipengaruhi oleh lokasi pekerjaan, yang mana memiliki karakteristik kondisi ekonomi, penduduk, dan tekstur tanah yang berbeda. Dari

ke 6 paket pekerjaan pembangunan/peningkatan jalan di lahan gambut yang paling berisiko adalah proyek Pembangunan Jalan Rasau Jaya – Sungai Bulan (Tahun Jamak) yang mana dianggarkan sebesar Rp. 14.839.400.000,00, risiko biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan tanah + 30% dari total pelaksanaan pekerjaan. Tanah dasar menentukan mahal tidaknya pembangunan jalan tersebut.

Karena, kekuatan tanah tersebut menentukan tebal tipisnya lapisan perkerasan. Semakin tebal lapisan perkerasan akan semakin baik untuk meningkatkan kekuatan tanah, namun juga membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang baik, dalam menentukan tebal perkerasan yang sesuai dengan kondisi tanah di areal gambut tersebut, agar tidak boros biaya, tetapi tettap memperhatikan kualitas jalan.

3. Tindakan mitigasi dari risiko dominan yang sering terjadi yaitu risiko biaya untuk penyelidikan tanah (daya dukung, besar dan waktu penurunan, ketebalan serta jenis tanah yang berada dibawahnya) strategi penangannya yaitu pada tahap perencanaan harus memasukkan biaya penyelidikan tanah dalam biaya konsultan perencanaan pembangunan jalan. Jika perencanaan yang telah dirancang tidak akurat sebaiknya pelaksanaan pekerjaan dihindari.

Untuk risiko selanjutnya yaitu risiko biaya untuk meningkatkan

(14)

kekuatan tanah dasar tindakan mitigasi pada tahap perencanaan harus benar-benar memperhatikan keakuratan hasil penyelidikan tanah, dan metode pelaksanaan pekerjaan yang tepat untuk kondisi tanah rawa atau tanah gambut. Jika perencanaan yang telah dirancang tidak akurat sebaiknya pelaksanaan pekerjaan dihindari.

4. Berdasarkan analisa tingkat risiko secara keseluruhan tindakan mitigasi yang dilakukan adalah dengan menghindari risiko (risk avoidance) yang terjadi yaitu meliputi perubahan rencana manajemen proyek untuk mengurangi ancaman – ancaman yang diakibatkan oleh risiko – risiko yang buruk, untuk mengasingkan tujuan awal proyek dari dampak risiko.

5. Secara umum konsultan perencana, konsultan pengawas dan kontraktor dalam kepemilikan risiko memiliki tanggung jawab yang sama besar dalam mengatasi risiko yang akan terjadi pada pelaksanaan konstruksi jalan.

Jika, pada tahap awal perencanaan, telah menghasilkan keakuratan data yang baik dan lengkap, dilanjutkan dengan pelaksanaan konstruksi jalan yang dilaksanakan dan diawasi oleh tenaga-tenaga (SDM) yang ahli di bidangnya dan berpengalaman untuk dapat segera menyelesaikan permasalahan yang biasanya terjadi di luar perkiraan, kegiatan proyek tidak perlu dihindari, karena dapat diprediksi risiko yang terjadi kecil.

4.2. Saran

1. Berdasarkan kesimpulan yang telah diperoleh, maka untuk proyek selanjutnya disarankan untuk melakukan analisa risiko sedini mungkin sehingga dapat segera didapat respon dan strategi risiko untuk memaksimalkan produktivitas proyek, baik dari segi biaya, waktu dan mutu.

2. Keberadaan risiko-risiko dominan harus mendapatkan perhatian lebih untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkannya.

Sedangkan risiko-risiko yang termasuk kategori tidak diharapkan (undesirable) semestinya juga mendapat perhatian dengan melakukan tindakan-tindakan mitigasi.

3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman untuk mengidentifikasi risiko dan melakukan tindakan mitigasi bagi penelitian-penelitian selanjutnya dan juga dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait dalam melaksanakan

pembangunan/peningkatan jalan di lahan gambut dan kegiatan pembangunan sejenis pada masa yang akan datang.

4. Pelaksanaan proyek yang memiliki risiko tinggi khususnya di areal tanah gambut, harus dilaksanakan secara detail pada tahap perencanaan, untuk itu konsultan perencana yang telah ditunjuk untuk melaksanakan pekerjaan perencanaan jalan harus menggunakan tenaga-tenaga ahli dibidangnya, agar menghasilkan perencanaan yang berkualitas.

Pada tahap pelaksanaan pekerjaan

(15)

konstruksi jalan harus dilaksanakan dan diawasi oleh tenaga-tenaga (SDM) yang ahli di bidangnya dan berpengalaman untuk dapat segera menyelesaikan permasalahan yang biasanya terjadi di luar perkiraan dilapangan, sehingga kegiatan proyek tidak perlu dihindari, karena dapat diprediksi risiko yang terjadi kecil. Dan sebagai pemilik dari pekerjaan, instansi terkait yang diwakili oleh PPTK harus teliti dalam melihat hasil pekerjan yang telah diserahkan oleh pelaksana.

DAFTAR PUSTAKA

AASHTO (American Association of State Highway and Transportation Officials), 1998a, Standard Specifications for Transportation Materials and Methods of Sampling and Testing Part I: Specifications, 19th edition, Washington, D.C.

Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan) Departemen Pekerjaan Umum (PU), 2005.a, Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan, Pusat Litbang Prasarana Transportasi, Bandung.

Darmawi, H., 2008, Manajemen Risiko, Jakarta: Bumi Aksara.

Ervianto, Wulfram I., 2003,

Manajemen Proyek

Konstruksi, ANDI OFFSET, Yogyakarta.

Flanagan, R., and Norman, G., 1993, Risk Management and Construction. Cambridge : University Press.

Gedafa, D., 2006, “Present Pavement Maintenance Practice: A Case Study For Indan Conditions Using HDM- 4”, Fall Student Conference Midwest Transportation Consortium, Ames, Iowa.

Hanafi, Mamduh M., 2006, Manajemen Risiko, UPP STIM YKPN, Yogyakarta.

Husen, Abrar, 2009, Manajemen Proyek, Yogyakarta : Andi.

Kangari, R, 1995, Risk Management Preseption and Trends of US Construction, Journal of Construction Engineering and Management, ASCE, Vol 121.

Loosemore, M., Raftery, J., Reilly, C., and Higgon, D., 2006, Risk Management in Projects.

London: Routledge.

Soehatman, Ramli, 2010, Manajemen Risiko, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta.

Wibowo, M Agung., 2010, Bahan ajar, Manajemen Konstruksi, konsentrasi Manajemen Konstruksi – Magister Teknik Sipil – Universitas Diponegoro, Semarang.

Wideman, R.M., 1992, Project and Program Risk Management: A Guide to Managing Project Risks and Opportunities.

Project Management Institute.

Zainuddin, 2014, Analisa Faktor Risiko Pada Proyek Konstruksi Jalan Raya (Studi Kasus:

Proyek Pembangunan Jalan Perdesaan – Bojonegoro), Fakultas Teknik Sipil, Universitas Bojonegor

Referensi

Dokumen terkait

menimbulkan kebakaran hutan yang akhirnya dapat menimbulkan kabut asap, pembakaran lahan gambut menyebabkan reaksi gambut yang kaya akan kapur menjadi alkalis, hilangnya gambut

Dengan analisis dan penilaian risiko, maka akan diperoleh rekomendasi kontrol berdasarkan profil risiko yang dimiliki oleh perusahaan, dan selanjutnya proses mitigasi

Untuk dapat meminimalkan risiko yang timbul tersebut maka diperlukan adanya identifikasi, analisis, mitigasi dan pengalokasian terhadap kemungkinan risiko yang akan

Manajemen risiko dapat diartikan sebagai suatu pendekatan mengenai risiko dan ketidakpastian dengan melakukan suatu identifikasi, analisis dan mitigasi sebagai dasar

Judul tugas sarjana ini adalah “Analisis Risiko dan Aksi Mitigasi Risiko pada Aktivitas Supply Chain PT Coca Cola Amatil Indonesia”.. Penulis menyadari masih banyak kekurangan

Kontrol keamanan yang direkomendasikan pada analisis risiko, selanjutnya akan dinilai kembali dari aspek efektivitas dan efisiensi dalam menurunkan setiap risiko, pada proses

Untuk memberi gambaran menyeluruh terhadap kondisi biofisik lahan gambut, pengambilan contoh tanah gambut dilakukan antara lain : (1) pada hutan rawa gambut yang alami

Indonesia menduduki posisi ke-4 dalam kategori lahan gambut terluas di dunia setelah’’Kanada, Uni Soviet, dan Amerika’’dengan memiliki luas 20 juta ha.’’Lahan gambut tersebar di empat