• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis yuridisterhadap putusan pengadilan agama

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "analisis yuridisterhadap putusan pengadilan agama"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

Untuk mengetahui analisis hukum pertimbangan hakim Pengadilan Agama Madiun dalam menerima saksi keluarga. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah putusan Pengadilan Agama Kota Madiun nomor 0011/Pdt.G/2017/PA,Mn.

Sitematika Pembahasan

Keterangan yang pasti atau meyakinkan sebagaimana dimaksud di atas tentu saja adalah orang yang menjadi saksi yang mengetahui dengan jelas tentang suatu peristiwa yang dilihatnya sendiri. Makna lain yang dapat dipahami dari pengertian di atas adalah bahwa saksi adalah orang yang diminta hadir untuk menyaksikan suatu peristiwa.

Kriteria Saksi dalam Hukum Acara Peradilan Agama

Di antara para saksi ada beberapa orang yang mempunyai hak untuk mundur karena adanya hubungan keluarga dengan pihak yang berperkara atau telah menyatakan kesediaannya untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Minimal ada 2 orang yang menjadi saksi suatu kejadian atau membuktikannya dengan alat bukti lain, kecuali perzinahan. Keterangan yang diberikan berkaitan dengan peristiwa yang dialami, didengar dan dilihat sendiri oleh saksi.

Hal ini sesuai dengan Pasal 171 HIR/308 R.Bg ayat (2) bahwa keterangan yang tidak berdasarkan sumber pengetahuan yang jelas dalam pengalaman sendiri, mendengar dan melihat suatu peristiwa dianggap tidak memenuhi syarat substantif. Keterangan yang diberikan saksi harus saling konsisten atau menjadi alat bukti yang sah sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 172 HIR dan Pasal 309 R.Bg. Apabila syarat formal dan substantif telah dipenuhi oleh seorang saksi, maka hakim bebas menilai keterangannya menurut nalurinya, dan hakim tidak berkaitan dengan keterangan saksi itu, melainkan harus mempertimbangkannya dengan dalil-dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa syarat-syarat seorang saksi di atas, baik syarat formil maupun syarat materiil, jika dihadapkan pada syarat-syarat yang dirumuskan dalam hukum Islam, tampak konsisten dan bersama-sama tanpa ada perbedaan asas.

Dasar hukum Islam Tentang Kesaksian

Bahkan menambah keyakinan bahwa Al-Quran dan Hadits sebagai sumber hukum Islam telah menyebutkan lima belas surah yang lalu tentang kesaksian dan syarat-syaratnya, sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan makna ayat kesaksian. Bersaksi hukumnya fardlu kifayah, artinya jika ada dua orang yang bersaksi, maka keduanya kehilangan kewajibannya. Dan kalau semua orang tidak mau, tidak ada yang mau menjadi saksi, maka semua orang bersalah, karena tujuan bersaksi adalah untuk menjaga hak.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’ama tanpa uang tunai untuk jangka waktu yang ditentukan, tulislah. Berdasarkan ayat di atas, hukumlah sesiapa yang enggan menyaksikan dan sifat kesaksiannya dan menyembunyikan kebenaran, memberikannya dosa, bahkan menurut Ibnu Abbas digolongkan sebagai dosa besar Seseorang yang ingin bersaksi menurut Abdul Karim Zaidan harus dapat memenuhi syarat-syarat berikut;.

Syarat tidak adanya paksaan bagi saksi, artinya orang yang memberikan kesaksian berdasarkan intimidasi demi kepentingan orang lain dapat mendorongnya untuk bersaksi tentang hal yang tidak diketahuinya.

Kedudukan Keluarga atau Orang Dekat Sebagai Saksi

Padahal, hal itu bertentangan dengan Pasal 145 146 KRS atau Pasal 172 RBG, tidak jadi soal, karena yang diatur dalam Pasal 76 ayat (1) adalah kehendak hukum itu sendiri. Jika demikian, Pasal 76 ayat (1) menghilangkan ketentuan umum yang diatur dalam HIR dan RBG sesuai dengan prinsip doktrin lex specialis derogat lex generalis. Ingatlah bahwa permohonan keluarga sebagai saksi hanya sah dalam perkara perceraian yang berdasarkan perselisihan dan pertengkaran yang sedang berlangsung, tidak dapat diterapkan dalam perkara perceraian yang lain.

Apa hubungannya dengan menempatkan kedudukan keluarga sebagai saksi dalam perkara perceraian karena alasan syiqa>q? Jarang sekali ada orang yang ingin menghancurkan rumah tangga anak atau adiknya kecuali jika hal tersebut benar-benar serius.

Keluarga dan Orang Dekat Dalam Perkara Perdata

Secara umum, keterangan saksi merupakan alat bukti terpenting dalam perkara pidana dan perdata. Bisa dibilang tidak ada perkara pidana maupun perdata yang luput dari pembuktian keterangan saksi. Selain dibuktikan dengan alat bukti lain, selalu perlu dibuktikan dengan keterangan saksi.

Kesaksian di sidang pengadilan yang berupa pernyataan kembali atas apa yang didengarnya dari orang lain tidak dapat dianggap sebagai alat bukti. Keterangan yang bersifat dan mencerminkan pendapat dan pemikiran pribadi saksi tidak dapat dianggap sebagai alat bukti. Agar kesaksian dapat dianggap sebagai alat bukti, maka keterangannya harus muncul dari pengadilan.

Jadi keterangan saksi boleh dianggap cukup untuk membuktikan sedikit atau sekurang-kurangnya dengan dua bukti.

Deskripsi pihak-pihak yang berperkara

Dalam penulisan skripsi ini, penulis mengambil keputusan Pengadilan Agama Kota Madiun Nomor 0011/Pdt.G/2017/PA.Mn.

Deskripsi duduk perkara

Pada mulanya penggugat dan tergugat menikah secara sah pada tanggal 24 Juni 1999 di hadapan petugas pencatatan nikah pada Biro Agama Kota Madiun, sebagaimana tercantum dalam kutipan akta nikah; Selama perkawinannya, penggugat dan tergugat mempunyai hubungan suami-istri (Ba'da Dukhul) dan dikaruniai dua orang anak laki-laki bernama; ANAK I (18 tahun) dan ANAK II (12 tahun); Karena kesulitan ekonomi, tergugat bekerja, namun hingga tahun 2005, tergugat tidak pernah memberikan nafkah kepada penggugat dan anak-anaknya.

Terdakwa berselingkuh dengan wanita idaman lain (WIL), bernama WIL, bahkan terdakwa berpacaran dengan wanita tersebut, yang sudah berlangsung selama 11 tahun dan belum ada kabarnya; Dan pertengkaran ini terjadi pada bulan Februari 2006, akibatnya tergugat keluar rumah bersama-sama tanpa pamit kepada penggugat. Hingga gugatan ini diajukan, hal itu telah berlangsung selama 11 tahun dan belum ada kabar serta alamat yang diketahui; Selama tergugat pergi, tidak pernah pulang ke rumah, tidak pernah mengirimkan kabar, dan tidak pernah memberikan nafkah wajib kepada penggugat;

Oleh karena itu penggugat hadir di persidangan pada hari sidang yang telah ditentukan, sedangkan tergugat tidak hadir di persidangan dan tidak memerintahkan orang lain untuk bertindak sebagai pengacara/wakilnya, padahal ia telah dipanggil untuk itu menurut perintah. hukum. hukum berdasarkan permohonan melalui RRI Madiun Nomor: G/2017/PA.Mn., tanggal 12 Januari 2017 dan 13 Februari 2017 dan terbukti ketidakhadirannya bukan karena adanya hambatan hukum.

Deskripsi alat-alat bukti yang diajukan dalam persidangan

Penggugat sebenarnya telah berusaha mencari Tergugat melalui keluarga dan teman dekat Tergugat, namun tidak mengetahui keberadaan Tergugat; Berdasarkan hal tersebut di atas maka penggugat sudah tidak sanggup lagi membina rumah tangga dengan tergugat.32. Oleh karena tergugat tidak hadir dan tidak mengirimkan kuasa hukumnya sebelum sidang, maka keterangan dan tanggapan tergugat terhadap gugatan penggugat tidak dapat didengar.33.

SAKSI I, 46 tahun, beragama Islam, tidak ada pekerjaan, tinggal di Kota Madiun, mengaku di pengadilan bahwa dirinya adalah kakak kandung. Saksi sempat menasehati penggugat untuk sabar menunggu kedatangan tergugat, namun sia-sia. Saksi sempat menasehati penggugat untuk bersabar menunggu kedatangan tergugat, namun sia-sia.36.

Oleh karena Penggugat telah memberikan bukti yang cukup dalam persidangan dan tidak akan mengajukan bukti lebih lanjut, maka Penggugat kemudian memberikan kesimpulan yang pokoknya tetap pada gugatannya dan meminta putusan.

Deskripsi pertimbangan hakim dalam memutus perkara

Pasal 139 Kompilasi Hukum Islam, terdakwa dipanggil secara sah dan sah oleh Wakil Jurusita Pengadilan Agama Madiun melalui RRI Madiun, namun terdakwa atau kuasa hukumnya tidak hadir dalam persidangan, oleh karena itu dilakukan mediasi sebagaimana disyaratkan dalam Peraturan Perundang-undangan. Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tidak dapat dilaksanakan.37. Meski mediasi tidak dapat dilakukan karena tergugat tidak hadir, namun majelis hakim telah berusaha menasihati penggugat untuk menunggu dengan sabar dan berdamai dengan tergugat, sesuai dengan maksud Pasal 82 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Agama. Pengadilan. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Jo. Sebab alat bukti P.1, P.2 merupakan fotokopi dari suatu alat otentik yang mempunyai nilai pembuktian yang sempurna dan mengikat, bermaterai cukup dan sesuai dengan aslinya, sesuai dengan ketentuan Pasal 165 HIR, Pasal 1888 KUHPerdata, dan Pasal 2 Ayat (3) Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 Jo.

15. Dengan keadaan keluarga penggugat dan tergugat yang demikian, maka tidak mungkin lagi penggugat dan tergugat dapat mewujudkan tujuan utama perkawinan yaitu keluarga sakinah mewaddah wa rahmah sebagaimana yang dipersyaratkan. berdasarkan Pasal 1 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan No. 16. Dengan demikian, alasan perceraian yang diajukan penggugat telah memenuhi ketentuan pasal 39 ayat (2) undang-undang no. 1. 19. Karena terciptanya tata tertib administrasi sesuai surat ketua Mahkamah Agung yang baru. Republik Indonesia Nomor 28/TUADA-AG/X/2002, tanggal 22 Oktober 2002 tentang kewajiban panitera untuk mengirimkan salinan putusan sebagaimana tercantum dalam Pasal 84 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagai diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, Majelis Hakim berpendapat perlu memerintahkan Sekretaris Pengadilan Agama Kota Madiun untuk mengirimkan salinan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut. kuasa hukum, Pencatat Perkawinan di daerah tempat tinggal penggugat dan tergugat dan.

20. Karena hal itu termasuk dalam bidang perkawinan, maka sesuai dengan ketentuan Pasal 89 UU No. 7 Tahun 1989 tentang peradilan agama sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 3 tahun 2006 dan undang-undang no. gugatan tersebut.

Deskripsi isi putusan

Membebankan biaya perkara ini kepada penggugat dengan pembayaran sejumlah Rp. Pengadilan Agama Kota Madiun pada hari Selasa tanggal 23 Mei 2017 M, bertepatan dengan 26 Sya'ban 1438 Hijriyah, oleh M. Amir Syarifuddin, S.HI., selaku Ketua Majelis Umum Nahdiyatul Ummah, S.Ag., M.H. , dan Izzatun Tiyas Rohmatin, SHI., SH, masing-masing sebagai hakim anggota, disampaikan pada hari yang sama pada sidang terbuka untuk umum oleh ketua majelis, dengan hakim anggota dibantu oleh Maksum, S.Ag., sebagai panitera pengganti di hadapan penggugat tanpa kehadirannya.46.

Analisis yuridis terhadap pertimbangan hakim pengadilan Agama Kota Madiun dalam membolehkan saksi keluarga

Pasal 1910 KUH Perdata menyatakan bahwa yang tidak berwenang mendengarkan keterangannya adalah: anggota keluarga salah satu pihak dalam garis lurus dan suami atau istri, sekalipun mereka bercerai; Namun terdapat ketentuan lex specialis mengenai kualifikasi sedarah dan sanak saudara sedarah sebagai saksi, yaitu dalam perkara perceraian karena alasan syiqa>q. Perlu ditegaskan bahwa peran keluarga sebagai saksi hanya digunakan dalam kasus perceraian karena alasan sengketa dan.

Agar dapat diterima sebagai saksi, Islam melalui ijtihad para ahli hukum Islam menentukan beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seseorang yang menjadi saksi, beberapa kriteria tersebut adalah: beragama islami, adil, dewasa, berakal sehat, mampu berbicara atau tidak. bodoh, ingat betul apa yang dilihatnya, dan tidak ada saksi dalam kasus tersebut. Keterangan saksi dianggap sah sebagai alat bukti yang mempunyai nilai pembuktian apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: harus mengucapkan sumpah atau janji, keterangannya dilihat langsung, keterangan itu harus diucapkan dalam sidang, keterangan seorang saksi saja tidak cukup. , pernyataan itu berdiri sendiri. Sementara itu, menurut Abdul Karim Zaidan, ia harus mampu memenuhi syarat sebagai berikut; Dewasa, berakal, tahu apa yang dilihat, beragama Islam, saksi harus bisa melihat, saksi harus bisa berbicara.

Apabila dilihat melalui teori maslahah, maka saksi rapat sebagai alat pembuktian termasuk dalam kategori maslahah al-mursalah.

Bagaimana analisis yuridis status hukum putusan hakim pengadilan Agama Kota Madiuntentang saksi keluarga

PENUTUP

KESIMPULAN

SARAN-SARAN

Analisis Putusan Pengadilan Agama Kota Madiun No.0296/pdt.G/2010?PA.mn Tentang Talak dan Cerai Di Saat Saksi Non Muslim Menurut Fikih Perpustakaan STAIN Ponorogo Program Studi Ahwal Syakhsyiah. Saksi Talaq (Studi Banding Imamiyah Sunni dan Syiah), Perpustakaan STAIN Ponorogo, Program Studi Ahwal Syakhsyah.

Referensi

Dokumen terkait

Putusan ini telah memenuhi rasa keadilan karena tergugat juga tidak keberatan hak pemeliharaan anak ditetapkan pada penggugat maka putusan hakim mengabulkan gugatan penggugat

Pertimbangan hakim terkait interval pengajuan pembatalan perkawinan yang dilakukan oleh penggugat terhadap perkawinan antara almarhum suaminya dengan tergugat.Dalam pasal 27 ayat

Pasal 8 Nomor 3 HIR dan RBg menyebutkan bahwa petitum adalah apa yang diminta atau diharapkan oleh penggugat agar diputuskan oleh hakim dalam persidangan. Tuntutan ini

Majelis hakim menerima kesaksian kakak kandung Penggugat, padahal kesaksian tersebut harus ditolak atau tidak dapat didengar keterangannya sesuai dengan Pasal 145 ayat

Terkait dengan pertimbangan hakim yang mendasarkan ketentuan pada Pasal 119 Ayat (2) Huruf (c) Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menyatakan bahwa Penggugat belum

Terkait dengan pertimbangan hakim yang mendasarkan ketentuan pada Pasal 119 Ayat (2) Huruf (c) Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menyatakan bahwa Penggugat belum pernah bercerai

Terkait dengan pertimbangan hakim yang mendasarkan ketentuan pada Pasal 119 Ayat (2) Huruf (c) Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menyatakan bahwa Penggugat belum

dan Suprianto telah memenuhi syarat formil dan materil surat kuasa, maka Majelis berpendapat bahwa surat kuasa khusus dimaksud dapat dinyatakan sah dan karenanya Para Penerima Kuasa