• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anggita Yolanda - 160210204011.pdf - Jurnal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Anggita Yolanda - 160210204011.pdf - Jurnal"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

Eksistensi Kearifan Lokal Sebagai Pemanfaatan Budaya Sekolah di SDN Kemuningsari Lor 02 Kecamatan Panti Jember” benar-benar karya saya kecuali ada kutipan yang sudah saya berikan sumbernya, dan belum pernah dikirimkan ke instansi manapun dan tidak merupakan plagiat. Eksistensi Kearifan Lokal Sebagai Pemanfaatan Budaya Sekolah di SDN Kemuningsri Lor 02 Panti Kabupaten Jember; Anggit Yolanda Page; Program Studi Guru Pendidikan Dasar Jurusan Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Jember Sekolah harus melakukan terobosan untuk memperkenalkan budaya kepada siswa dalam rangka melestarikan budaya luhur bangsa di masa depan, maka SDN Kemuningsari Lor 02 Kecamatan Panti Jember menciptakan sekolah budaya sebagai wadah transmisi budaya yang memberikan ruang pembelajaran terhubung dengan budaya yang didalamnya terdapat kearifan lokal .

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah; (1) Bentuk kearifan lokal apa saja yang terdapat pada sekolah budaya di SDN Kemuningsari Lor 02 Panti Kecamatan Jember. 2) Bagaimana mengaktifkan kearifan lokal di SDN Kemuningsari Lor 02 Panti Kecamatan Jember. Tujuan dari penelitian ini adalah; (1) Mendeskripsikan bentuk kearifan lokal yang terdapat pada sekolah budaya di SDN Kemuningsari Lor 02 Panti kabupaten Jember. (2) Mendeskripsikan bagaimana kearifan lokal dapat dibangun di SDN Kemuningsari Lor 02 Panti Kabupaten Jember sebagai sekolah budaya. Kearifan lokal yang ada di SDN Kemuningsari 02 Panti kabupaten Jember melalui kegiatan ekstrakurikuler yaitu seni hadrah, gamelan dan seni tari.

Kesimpulannya bentuk kearifan lokal yang dipraktikkan di sekolah kebudayaan SDN Kemuningsari Lor 02 kecamatan Panti Jember masih berfokus pada kegiatan ekstrakurikuler. Eksistensi Kearifan Lokal Sebagai Implementasi Sekolah Budaya di SDN Kemuningsari 02 Panti Kabupaten Jember.

Tabel 3.1 Pemandu Pengumpul Data ..........................................................
Tabel 3.1 Pemandu Pengumpul Data ..........................................................

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hal ini menuntut sekolah sebagai penyelenggara pendidikan diharapkan dapat menjadi alat pelestarian budaya melalui pemanfaatan kearifan lokal dalam berbagai bentuk dalam setiap kegiatan sekolah. Pelestarian budaya melalui pemanfaatan kearifan lokal telah menarik perhatian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui pembentukan kurikulum tahun 2013. Kurikulum tahun 2013 memberikan ruang untuk memperkenalkan budaya dan kearifan lokal di seluruh wilayah Indonesia, hal ini dapat dilakukan strategi dalam inventarisasi potensi kearifan lokal dan budaya lokal dalam pembelajaran.

Pembelajaran kontekstual dengan menciptakan suasana pembelajaran yang nyata dan bermakna melalui ruang penyajian budaya dan eksistensi kearifan lokal melalui metode yang berbeda-beda sesuai kekuatan dan kemampuan masing-masing sekolah. Sekolah budaya merupakan salah satu upaya dan solusi untuk merevitalisasi penanaman dan pembentukan generasi yang mengetahui, memahami dan bangga terhadap budaya dan kearifan lokal. SDN Kemuningsari Lor 02 Panti Kabupaten Jember memfasilitasi siswa untuk mempelajari kearifan lokal melalui kegiatan ekstrakurikuler dan penerapan kearifan lokal yang tercermin di daerah setempat melalui kegiatan sebagai bentuk peringatan hari besar keagamaan dan kegiatan silaturahmi pada acara tertentu.

Berdasarkan uraian di atas, untuk mengetahui lebih jauh tentang bentuk-bentuk kearifan lokal dan bagaimana eksisnya kearifan lokal di SDN Kemuningsari Lor 02 Kecamatan Panti Jember sebagai sekolah budaya. Peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Eksistensi Kearifan Lokal di SDN Kemuningsari Lor 02 Kecamatan Panti Jember”.

Manfaat

TINJAUAN PUSTAKA

Eksistensi

Magdalia mengartikan kearifan lokal sebagai strategi dan pandangan hidup, serta pengetahuan yang diwujudkan melalui kegiatan dan tradisi yang diinternalisasi oleh masyarakat lokal sebagai wujud pemenuhan kebutuhan. Setiyadi (2012:75) menyatakan bahwa kearifan lokal adalah suatu kegiatan tradisional yang mengakar kuat, yang dilakukan secara turun-temurun oleh sekelompok masyarakat adat tertentu yang keberadaannya tidak terkikis oleh zaman hingga menjadi sebuah tradisi. 2013:3) mengatakan bahwa kearifan lokal diilhami oleh gagasan suatu daerah setempat yang mempunyai sesuatu yang bernilai baik, mengandung nilai-nilai kearifan dan mencerminkan nilai-nilai kearifan sebagai pedoman masyarakat yang dianut oleh anggota masyarakat lainnya. Pengertian kearifan lokal diartikan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui hubungan budaya antar masyarakat dan terakumulasi pada suatu waktu dan terungkap dalam kurun waktu yang panjang dan berkesinambungan.

Pendapat tersebut mengandung arti bahwa kearifan lokal terbentuk dari pengetahuan masyarakat, baik komunitas lokal maupun individu, yang turut andil dalam mengumpulkan pengetahuan lokal. Ahmad (2010: 5) mengartikan kearifan lokal diperoleh sebagai hasil penanaman budaya yang dilakukan oleh aktor-aktor lokal, yang prosesnya berlangsung terus menerus dan berulang-ulang melalui internalisasi dan interpretasi agama dan budaya sehingga dapat menjadi pedoman sebagai norma dalam kehidupan sehari-hari. dari komunitas lokal. Kearifan lokal sebagai gagasan-gagasan lokal yang bijaksana, cerdas, bernilai baik, tertanam, tumbuh dan keberadaannya mampu menarik perhatian masyarakat sehingga menjadikannya suatu tradisi sehingga membentuk pola kehidupan yang dinamis (Sartini, 2004).

Kesimpulan yang dapat diambil dari pengertian kearifan lokal menurut para ahli adalah kearifan lokal adalah suatu konsep dan gagasan yang tumbuh dan berkembang sebagai akibat dari pola hidup masyarakat yang terus-menerus, yang mempunyai nilai-nilai luhur dan bijaksana, sehingga keberadaannya dapat mempengaruhi kehidupan menjadi lebih baik. Kearifan lokal merupakan suatu wujud kreasi dalam masyarakat yang dilandasi oleh nilai-nilai bijak yang berguna untuk mempermudah kehidupan dan menjadi tradisi dalam batas tertentu.

Bentuk Kearifan Lokal

Bentuk kearifan lokal lainnya juga dapat ditemukan pada slogan, nyanyian, peribahasa, dan teguran yang sudah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Ridwan (2007:7) yang mengatakan bahwa kearifan lokal akan terinternalisasi melalui budaya, tradisi atau kode etik yang dapat dilihat pada nilai-nilai yang terkandung dalam kelompok masyarakat tertentu. Salah satu cara kita dapat menemukan kearifan lokal dalam wujud aslinya adalah melalui budaya Jawa, yaitu wayang.

Kearifan lokal yang terkandung dalam seni tari mempunyai fungsi mendasar yaitu pembentukan mental sosial masyarakat (Rolah, 2017). Hal ini memberikan dorongan yang kuat bagi para pengembang seni tari untuk memastikan bahwa nilai-nilai kearifan lokal telah membentuk suatu masyarakat di masa lalu. Kearifan lokal yang keberadaannya terlihat melalui pemanfaatan dan pemberdayaan sumber daya alam terdapat pada beberapa kegiatan masyarakat di daerah tertentu.

Kearifan lokal yang terkait dengan pemanfaatan dan pemberdayaan sumber daya alam yang dilakukan masyarakat Jawa menjadi bukti bahwa mereka memiliki keterampilan lokal atau local genius yang baik. Kapabilitas lokal yang berkaitan dengan pemanfaatan dan pemberdayaan sumber daya alam perlu dikaji dan diteliti lebih lanjut agar kearifan lokal tersebut benar hakikatnya, yaitu berdampak besar dan tidak habis dimakan zaman. Kearifan lokal dalam pemanfaatan alam lainnya, misalnya masyarakat lampung tahu cara menjaga kelestarian hutan damar yang getahnya menjadi sumber pendapatan.

Budaya sekolah mengutamakan segala kegiatan yang bertemakan budaya dan kearifan lokal dapat ditemukan di dalamnya. Kearifan lokal penting untuk dikembangkan dalam bidang pendidikan mengingat salah satu tujuan pendidikan adalah transmisi budaya. Sekolah sebagai jalur pendidikan formal berperan dalam melestarikan kearifan lokal dari setiap budaya dan budaya setempat.

Guna menjamin peserta didik mempelajari kearifan lokal sedini mungkin dan sebagai upaya pengenalan budaya lokal daerah. Melestarikan kearifan lokal di sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan sekolah tahunan. Penelitian yang dilakukan saat ini berfokus pada segala bentuk kearifan lokal, tidak hanya berdasarkan aspek nilai saja, namun dikaji berdasarkan seluruh bentuk kearifan lokal yang ada.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

SDN Kemuningsari Lor 02 Panti Kabupaten Jember merupakan salah satu sekolah yang mengemban misi melestarikan kebudayaan melalui penciptaan sekolah budaya. Bentuk kearifan lokal yang terdapat di sekolah dasar dapat ditemukan pada lingkungan fisik sekolah, kegiatan ekstrakurikuler dan acara peringatan hari besar Islam sebagai wujud eksistensi kearifan lokal di SDN Kemunigsari Lor 02 Panti Kabupaten Jember sebagai sekolah budaya. Data yang terkandung dalam penelitian ini berbentuk tulisan, yang diuraikan dalam bentuk kalimat, kata atau paragraf yang dapat menggambarkan kearifan lokal di SDN Kemuningsari Lor 02 Panti Kecamatan Jember, dan data yang menjelaskan bagaimana cara mewujudkan kearifan lokal tersebut. budaya sekolah.

Teknik pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh data, karena pada bagian pengumpulan data langkah-langkah yang diterapkan harus sistematis sehingga keberadaannya strategis untuk menentukan jalannya penelitian (Sugiyono, 2013: 62). Penelitian kualitatif, perolehan data dilakukan dalam kondisi alami, dan teknik pengumpulan data mengandalkan triangulasi. Observasi merupakan suatu metode pengumpulan data dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yang diselidiki.

Objek observasi dalam penelitian ini adalah kearifan lokal yang terdapat di SDN Kemuningsari Lor 02 Panti Kecamatan Jember sebagai sekolah budaya. Dokumen sebagai proses pengumpulan data melalui dokumen dan menganalisisnya secara kritis dan intens sehingga mempunyai nilai valid dalam mendukung dan menambah fakta penelitian (Satori dan Komariah). Dokumen dalam penelitian ini adalah gambaran eksistensi kearifan lokal sebagai penerapan sekolah budaya di SDN Kemuningsari Lor 02 Jember, Miles Miles dan Huberman (dalam Rohidi, 2009) menyatakan bahwa kegiatan analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berkesinambungan hingga selesai sehingga data yang diambil mencapai titik jenuh.

Beberapa peneliti kualitatif mengumpulkan data sesuai dengan kebutuhan data yang diperlukan dan pada periode waktu yang berbeda. Penyajian xorxphenomena merupakan tahap dimana data yang terkumpul dianalisis, karena penelitian kualitatif merupakan penelitian yang sebagian besar berupa teks naratif. Langkah validasi yang dilakukan masih terbuka untuk menerima masukan data, meskipun data tersebut tergolong tidak berarti, namun pada tahap ini sebaiknya diputuskan antara data yang mempunyai makna dan data yang tidak diperlukan atau tidak relevan.

Sumber penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terfokus pada lembar observasi, dimana peneliti terlibat langsung dalam kegiatan pengumpulan data di lapangan melalui indra. Kegiatan wawancara dapat digunakan sebagai sarana untuk memperoleh data yang lebih dalam dan luas dari responden. Proses pengumpulan data memerlukan alat pendukung seperti kamera, kertas, laptop, pensil/pensil, dan instrumen pendukung penelitian yaitu tabel yang dilengkapi petunjuk pengumpulan data.

Gambar  3.1  Teknik  analisis  data  model  interaktif  menurut  Miles  dan  Huberman  (dalam Rohidi, 2009)
Gambar 3.1 Teknik analisis data model interaktif menurut Miles dan Huberman (dalam Rohidi, 2009)

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

Tujuan: Untuk mengetahui bentuk dan penerapan kearifan lokal di SDN Kemuningsari Lor 02 Kecamatan Panti Jember. Sedangkan kearifan lokal ada di sekolah kami dalam kegiatan dan ekstrakurikuler dalam rangka memperingati hari-hari besar. Bagaimana penerapan bentuk-bentuk kearifan lokal dalam kegiatan ekstrakurikuler di SDN Kemuningsari Lor 02 Panti Kecamatan Jember.

Penerapan kearifan lokal di sekolah kami terlihat pada kegiatan ekstrakurikuler yang menekankan seni luhur seperti gamelan, hadrah dan tari tradisional.

Gambar

Tabel 3.1 Pemandu Pengumpul Data ..........................................................
Tabel 3.1 Tehnik Analisis Data ....................................................................
Gambar  3.1  Teknik  analisis  data  model  interaktif  menurut  Miles  dan  Huberman  (dalam Rohidi, 2009)
Tabel 3.1 Tabel Format Lembar Observasi Pengumpulan Data

Referensi

Dokumen terkait

kearifan lokal, di antaranya dengan memukul kentongan, tiang listrik serta lonceng gereja dan pengeras suara di masjid-masjid. Jika gempa bumi tersebut besar dan dirasakan

discovery untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IV mata pelajaran IPA pokok bahasan energi panas di SDN Balung Lor 04 Jember, maka

Selain itu, pemanfaatan kearifan lokal dalam pembelajaran dapat melestarikan kearifal lokal yang semakin punah di tengah gempuran hegemoni budaya luar Yetti, 2011;

Kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Using Desa Kemiren adanya pemanfaatan tanaman yaitu cara pengambilan daun sirih yang digunakan obat cegukan bayi,

Di antaranya adalah adanya Majelis Permusyawaratan Rakyat yang merupakan ciri khas dari kearifan lokal Indonesia, Mahkamah Konstitusi yang juga berwenang mengadili sengketa

Ketiga, terdapat kearifan lokal di berbagai daerah di Indonesia yang dapat diajarkan dalam pendidikan karakter, di antaranya adalah Pasang Tallasa’ Kamase-masea Masyarakat Ammatoa

PKM PELATIHAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN KEARIFAN LOKAL SULAWESI SELATAN DI SDN FGV PLANTATIONS MALAYSIA SDN BHD MERCU PUSPITA BAGI WARGA NEGARA INDONESIA SULAWESI SELATAN YANG

Melalui kegiatan observasi peneliti mendapatkan bahwasannya di SDN Pedurungan Lor 02 semarang memiliki kegiatan yang baik untuk mendorong pembentukan karakter peserta didiknya, yaitu