• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aqdam jurnal MANAJEMEN RISIKO PADA BANK SYARIAH

N/A
N/A
aqdam hanz

Academic year: 2025

Membagikan "Aqdam jurnal MANAJEMEN RISIKO PADA BANK SYARIAH"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN RISIKO PADA BANK SYARIAH Aqdam Yohanz Fauzan Adzima

NIM:422021322023

Program Study Hukum Ekonomi Syariah Universitas Darussalam Gontor Email: [email protected]

Abstract

Business leaders are increasingly recognizing the importance of risk management. As part of risk management, guidelines have been introduced over the years that only apply to traditional banks. Global and domestic banking players are not only activating conventional banks, but also Islamic banks, the number of which continues to increase from year to year.

This paper provides an overview of how risk management works in Islamic banking. In general, the risks faced by Islamic banks can be divided into two main parts. So the risks are the same as those faced by traditional banks, plus unique risks because they have to follow Islamic principles. Islamic banks must bear credit risk, market risk, benchmark risk, operational risk, liquidity risk, and legal risk. However, the risks faced by Islamic banks are different because they have to comply with Islamic law.

Keywords: risk management, Islamic banks, Traditional Banks

Pendahuluan

Sejak tahun 1992 hingga tahun 1998, perkembangan bank syariah hanya berjumlah 1 unit dari bank syariah yang ada di Indonesia, namun sejak tahun 1999 jumlah bank syariah bertambah menjadi 3 unit. Dan pada tahun 2000, bank syariah dan bank konvensional bertambah menjadi dengan 6 unit, dan BPRS mencapai 86 unit.1 Perbankan syariah melibatkan pembagian keuntungan usaha antara pemilik dana (shahibul mals) yang memiliki dana, lembaga (mudarib) sebagai pengelola dana, dan masyarakat yang membutuhkan dana yang berstatus peminjam atau pengelola.2

Perkembangan operasional perbankan syariah tidak terlepas dari risiko-risiko yang dapat mempengaruhi kelangsungan operasional perbankan. Berdasarkan Peraturan Perbankan Indonesia No. 13/23/PBI/2011 bank syariah dan bank konvensional memiliki dua risiko tambahan: risiko keuntungan dan risiko investasi. Bank wajib melaksanakan manajemen risiko sebagai suatu bentuk metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mencegah risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha bank.

Sebagai pionir perbankan syariah, Bank Muamalat Indonesia menyadari perlunya mengelola

1 M. Soleh Mauludin, (2020). Analisa Manajemen Resiko….., hal. 76

2 Abbas, A. (2019). Analisis laporan keuangan perbankan syariah,

(2)

dan memitigasi risiko-risiko tersebut dengan tetap mempertimbangkan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip ekonomi syariah.3

Bank syariah memiliki risiko yang lebih kompleks dibandingkan perusahaan yang bergerak di sektor lain. Karena manusia pada dasarnya tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, maka kompleksitas permasalahan perbankan tidak hanya berdampak pada korporasi, namun juga nasabah, masyarakat luas, dan kondisi stabilitas perekonomian secara lebih luas.4 Kerugian sendiri merupakan salah satu bentuk resiko sesuai dengan keputusan dan ketetapan Allah (Sunatullah). Islam meyakini bahwa resiko dalam berbisnis adalah sunatullah. Ini juga mencakup prediksi kemungkinan kerugian di masa depan. Dalam upayanya mencari nafkah, masyarakat menghadapi situasi yang tidak menentu. Karena manusia sudah terbiasa merencanakan seluruh kegiatan dan investasi yang dilakukan.

Namun masyarakat tidak bisa menilai hasil suatu usaha atau investasi, yaitu untung atau rugi.5

Dengan latar belakang tersebut dijelaskan bahwa risiko tidak dapat dihindari dalam menjalankan Bank Syariah. Oleh karena itu, penulis ingin mempertimbangkan penerapan manajemen risiko dalam operasional perbankan syariah secara lebih rinci. Tujuan dari adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep praktis manajemen risiko pada perbankan syariah. Oleh karena itu, tujuan penelitian adalah untuk mempelajari manajemen risiko pada bank syariah.

Metodologi

Penelitian ini memanfaatkan penelitian kepustakaan yang dapat digunakan untuk memecahkan pertanyaan penelitian. Referensi dikumpulkan dan data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang berkaitan dengan topik penelitian yaitu manajemen risiko. Analisis data dilakukan dengan mereduksi dan menyajikan data serta menarik kesimpulan dengan menjelaskan penerapan manajemen risiko pada perbankan syariah dalam berbagai literatur.

3 Iroh Rahmawati, dan Budi Mulyati, Universitas Banten Jaya. (2021). Analisis Manajemen Resiko Perbankan….., hal. 7.

4 Ahmad Mukhlishin, dan Aan Suhendri. (2018). Analisa Manajemen Risiko (Kajian Kritis Terhadap Perbankan Syariah Di Era Kontemporer), hal.259.

5 Ady Wena Pramudya, dan Puji Sucia Sukmaningrum. (2020). Implementasi Manajemen Resiko Pembiayaan Mudharabah……, hal. 163.

(3)

Hasil dan Pembahasan

Manajemen Risiko dalam Perbankan Syari’ah

Istilah manajemen risiko berasal dari kata “manage” yang berarti “pengendalian”.

Dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai “pengendalian, penanganan, pengelolaan”. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat diartikan sebagai pemanfaatan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan. Stephen P. Robbin memberikan pengertian bahwa manajemen adalah proses pengkoordinasian dan pengintegrasian aktivitas kerja agar orang lain dapat melaksanakannya secara efisien dan efektif.6 Manajemen risiko adalah seperangkat prosedur dan metode yang digunakan untuk mengidentifikasi, memantau, mengukur dan mengendalikan risiko yang timbul dari operasional perbankan.7

Menurut beberapa penelitian, lebih dari 400 lembaga keuangan di seluruh dunia beroperasi berdasarkan prinsip Syariah. Lembaga-lembaga ini menawarkan layanan berbeda dan jenis produk berbeda yang ditawarkan. Semakin populernya lembaga keuangan Islam berarti bahwa variasi produk yang mereka tawarkan menghadapi banyak risiko.8

Di sisi lain, ciri utama bank syariah adalah bagi hasil dan pembagian risiko, dan sifat risikonya sendiri dinilai berbeda dengan bank konvensional. Terdapat perbedaan antara sistem perbankan syariah dan bank konvensional ditinjau dari konsep dan praktik yang digunakan.

Akibatnya, kedua bank mengadopsi pendekatan yang berbeda dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko yang mereka hadapi. Selain itu, bank syariah juga mempunyai risiko yang sama dengan bank konvensional, antara lain: Risiko kredit, likuiditas, dan harga pembukaan.

Namun, risiko biasanya bervariasi tergantung situasinya. Berdasarkan perbedaan tersebut, produk dan jasa yang ditawarkan oleh kedua jenis bank tersebut terpengaruh, yang selanjutnya mempengaruhi karakteristik aset dan liabilitas yang dimiliki oleh lembaga keuangan.9

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, Pasal 35 tentang Perbankan Syariah dan UUS mewajibkan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan kegiatan usahanya, dan Pasal 38 ayat 1 menyatakan bahwa bank syariah dan UUS wajib menerapkannya.

dinyatakan bahwa terdapat kewajiban untuk menerapkan pengendalian. Prinsip mengetahui

6 Muhammad Syarofi, (2022). Implementasi Manajemen Risiko Pada Lembaga Keuangan Non-Bank Syariah, hal. 4.

7Ahmad Mukhlishin, dan Aan Suhendri. (2018). Analisa Manajemen Risiko (Kajian Kritis Terhadap Perbankan Syariah Di Era Kontemporer), hal. 260

8 Roos Nelly, Saparuddin Siregar, dan Sugianto. (2022). Analisis Manajemen Risiko Pada Bank Syaria, hal. 921

9 Elva Susanti. W. Sugianto, A. I. Sabillah, S.A. Wibowo. (2019). Analisa Pengaruh Manajemen Resiko Dan Perilaku Kerja Aman Terhadap Kinerja Pekerja Shipyard Kota Batam, hal. 80.

(4)

pelanggan Anda dan perlindungan pelanggan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 diatur dengan peraturan Bank Indonesia. Berdasarkan Pasal 39 Pasal, Bank Syariah dan UUS wajib memberitahukan kepada nasabahnya mengenai kemungkinan risiko yang mungkin timbul pada bank syariah, dan UUS.10 Indonesia lebih berhati-hati dan pelaksanaannya didasarkan pada tujuan, kebijakan usaha, dan konsisten dengan skala. Hal ini disesuaikan tidak hanya dengan kemampuan keuangan bank tetapi juga dengan kompleksitas usahanya. Pelaku usaha perbankan diharapkan dapat melaksanakan seluruh aktivitasnya secara terintegrasi dengan sistem manajemen risiko yang akurat dan komprehensif.11

Perbankan Syariah tidak hanya sebagai lembaga intermediasi, juga merupakan mitra nasabah. harus melindungi kepentingan nasabahnya dan oleh karena itu berpegang pada prinsip kehati-hatian untuk memastikan bahwa Perbankan Syariah dikelola sebagaimana dan dapat menjalankan tugasnya secara likuid, solvent, dan profitable. Karena keimanan didasarkan pada keimanan dan nilai-nilai tauhid dimana tanggung jawab merupakan ibadah, maka tujuan perbankan syariah tidak hanya mengejar keuntungan tetapi juga mengejar kekayaan. dunia dan akhirat.12

Ketika menerapkan manajemen risiko, manajemen risiko dapat dibagi menjadi dua bidang:

1) Identifikasi risiko pembiayaan

a. Identifikasi risiko keuangan yang melekat pada semua produk dan aktivitasnya. Identifikasi risiko keuangan merupakan hasil pemeriksaan terhadap karakteristik risiko keuangan yang melekat pada aktivitas.

b. Dalam aktivitas keuangan, ketika menilai risiko pembiayaan, perlu mempertimbangkan posisi keuangan dan keadaan debitur, khususnya kemampuannya untuk melakukan pembayaran tepat waktu dan jaminan yang diberikan.

2) Pengukuran risiko pembiayaan

a. Memiliki prosedur tertulis untuk melakukan pengukuran risiko

i. Sentralisasi eksposur neraca dan neraca, termasuk risiko pendanaan untuk setiap debitur atau kelompok debitur dan pihak lawan (counterparty) tertentu. Hal ini mengacu pada konsep debitur perorangan.

10 Trisadini. U. (2013). Pengelolaan Risiko Pembiayaan Di Bank Syariah, hal.409

11Ahmad Mukhlishin, dan Aan Suhendri. (2018). Analisa Manajemen Risiko (Kajian Kritis Terhadap Perbankan Syariah Di Era Kontemporer). hal. 261

12 Trisadini. U. (2013). Pengelolaan Risiko Pembiayaan Di Bank Syariah, hal.410

(5)

ii. Menilai perbedaan kategori tingkat risiko pendanaan menurut kriteria tertentu dengan menggunakan kombinasi aspek kualitatif dan kuantitatif.

iii. Distribusi pengukuran risiko lengkap untuk tujuan pemantauan baseline tertentu

b. Memiliki sistem pengukuran risiko pembiayaan dengan mempertimbangkan i. Karakteristik dan status keuangan masing-masing jenis transaksi risiko keuangan Tingkat suku bunga

ii. Periode pendanaan dikaitkan dengan perubahan yang mungkin terjadi di pasar.

iii. Aspek jaminan dan kemungkinan gagal bayar.13

Manajemen risiko sangat penting bagi bank syariah di pasar negara berkembang. Bank syariah dengan cepat meningkatkan pangsa pasarnya di sebagian besar pasar. Di Indonesia, Bank Syariah telah meningkatkan lebih dari 30% aset perbankan Indonesia dan DPK.

Perbankan syariah merupakan industri yang menjanjikan dan harus mampu melipatgandakan pangsa pasarnya.14

Jenis Risiko dalam Perbankan Syari’ah 1. Risiko Kredit

Risiko kredit adalah risiko yang terjadi dalam pembiayaan apabila salah satu pihak menyetujui pembayaran sejumlah uang. Kontrak selamat datang dan untuk mengirim barang, dll. Misalnya dalam akad Mudharabah, dikenakan biaya sebesar sebelum menerima harta atau uang itu sendiri. Oleh karena itu, akan ada kerugian. Pembagian risiko kredit adalah tidak dibayarnya saham bank oleh otoritas pada tanggal jatuh tempo .

2. Risiko benchmark

tidak berhubungan dengan suku bunga bank syariah. Hal ini menunjukkan bahwa bank syariah tidak terekspos terhadap risiko pasar yang timbul akibat perubahan suku bunga.

Namun fluktuasi suku bunga pasar meningkatkan berbagai risiko terhadap keuntungan lembaga keuangan syariah.

3. Risiko Likuiditas

13 Alvan Fathony, dan Hibatur Rohmaniyah. (2021). Manajemen Resiko Pembiayaan Murabahah Perbankan Syariah, hal. 28-29.

14 Roos Nelly, Saparuddin Siregar, dan Sugianto. (2022). Analisis Manajemen Risiko Pada Bank Syaria, hal. 919

(6)

Sebagaimana dibahas dalam Risiko benchmark, risiko likuiditas dapat timbul dari pinjaman dan penjualan aset. Risiko ini muncul dari sumber penting bagi bank syariah.

4. Risiko Operasional

Risiko operasional masih relatif muda dan khususnya yang berkaitan dengan faktor manusia merupakan hal yang sangat penting bagi lembaga perbankan syariah. Risiko operasional ini mungkin timbul karena departemen sumber daya manusia mempunyai kapasitas dan kapasitas yang memadai untuk menjalankan operasi keuangan syariah. Hal ini disebabkan adanya perbedaan karakteristik dari perusahaan tersebut. Perangkat lunak komputer yang tersedia di pasar tradisional mungkin tidak sesuai untuk kebutuhan perbankan syariah. Hal ini menciptakan risiko sistemik yang memaksa bank syariah untuk mengembangkan dan menggunakan teknologi internasional.

5. Resiko Pinjaman Fiudisia

Tingkat imbal hasil yang diperoleh Bank lebih rendah dibandingkan dengan tingkat imbal hasil yang berlaku di pasar. Hal ini juga menimbulkan risiko fidusia, yaitu risiko yang muncul ketika tingkat pengembalian yang rendah oleh bank syariah ditafsirkan sebagai pelanggaran kontrak investasi atau salah urus.15

Karakteristik Manajemen resiko pada perbankan syariah

Karena perbankan syariah merupakan salah satu bidang usaha, maka perbankan syariah juga tunduk pada manajemen risiko. Bank syariah merupakan lembaga keuangan yang terpapar risiko. Secara umum risiko yang dihadapi bank syariah relatif sama dengan bank konvensional. Namun bank syariah memiliki keunikan karena menghadapi risiko karena harus mengikuti prinsip hukum Islam.16

Pada dasarnya proses manajemen risiko dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1) Identifikasi Risiko Dalam mengidentifikasi jenis risiko yang dihadapi atau dialami suatu institusi, hal ini dapat dilakukan dengan menelusuri sumbernya.

2) Penilaian dan Pengukuran Risiko Tahap ini dilakukan untuk lebih memahami karakteristik risiko sehingga dapat dikendalikan dengan lebih mudah.

3) Manajemen Risiko Setiap perusahaan dihadapkan pada risiko yang unik dan sifat risikonya berbeda-beda. Dalam hal ini diperlukan manajemen risiko. Secara umum,

15M. Soleh Mauludin, (2020). Analisa Manajemen Resiko….., hal. 79-81.

16 Muhammad Iqbal Fasa, (2016). Manajemen Risiko Perbankan Syariah Di Indonesia, hal. 38

(7)

manajemen risiko dapat dilakukan dengan berbagai cara: Hindari atau tekan dan tahan untuk konfirmasi. Cara terbaru adalah menghindari jenis risiko. Dalam situasi ini, risiko itu sendiri dapat ditanggung atau diasumsikan. Teknik validasi biasanya dilakukan untuk menyebarkan risiko ke berbagai aset sehingga kemungkinan kerugian dapat diminimalkan.17

Kesimpulan

Risiko dalam perbankan mengacu pada kejadian-kejadian, baik yang dapat diperkirakan maupun tidak dapat diperkirakan, yang berpotensi memberikan dampak buruk terhadap pendapatan dan modal bank. Risiko-risiko ini tidak dapat dihindari, namun dapat dikelola dan dikendalikan. Syariah Penerapan manajemen risiko pada perbankan tidak terlepas dari kehati-hatian, sehingga memudahkan dalam mengidentifikasi, mengeksplorasi, mengelola dan mengatasinya, memudahkan dalam mengukur risiko yang dihadapi bank syariah dan memisahkannya dari prinsip syariah.

Daftar Pustaka

Abbas, A. (2019). Analisis laporan keuangan perbankan syariah.

Ady Wena Pramudya, dan Puji Sucia Sukmaningrum (2020). Implementasi Manajemen Resiko Pembiayaan Mudharabah Pada Koperasi Jasa Keuangan Syariah (Studi Kasus Pada Koperasi Jasa Keuangan Syariah Al Abrar). Jurnal Ekonomi Syariah Teori Dan Terapan 7(1):162. doi: 10.20473/vol7iss20201pp162-172.

Ahmad Mukhlishin, dan Aan Suhendri. (2018). Analisa Manajemen Risiko (Kajian Kritis Terhadab Perbankan Syariah Di Era Kontemporer). An-Nisbah: Jurnal Ekonomi Syariah 5(1):257–75. doi: 10.21274/an.2018.5.1.257-275.

Alvan Fathony,ndan Hibatur Rohmaniyah. (2021). Manajemen Resiko Pembiayaan Murabahah Perbankan Syariah. Studi Islam Dan Mu’amalah 9(1):26–33.

Elva Susanti. W. Sugianto, A. I. Sabillah, S.A. Wibowo. (2019). Analisa Pengaruh

Manajemen Resiko Dan Perilaku Kerja Aman Terhadap Kinerja Pekerja Shipyard Kota Batam. SNISTEK (3):79–84.

17 Ramadiyah, Rizki. (2014). Model Sistem Manajemen Resiko Perbankan Syariah Atas Transaksi Usaha Masyarakat, hal. 232.

(8)

Iroh Rahmawati, dan Budi Mulyati Universitas Banten Jaya. (2021). Analisis Manajemen Resiko Perbankan Dalam Meminimalisir Non Performing Finance. Journal of Islamic Economics, Finance and Banking 5(1):1–21.

M. Soleh Mauludin. (2020). Analisa Manajemen Resiko Untuk Mengurangi Moral Hazard Nasabah Pembiayaan Murabahah BRI Syariah Pare. El-Faqih: Jurnal Pemikiran Dan Hukum Islam 6(2):75–79.

Muhammad Iqbal Fasa. (2016). Manajemen Risiko Perbankan Syariah Di Indonesia.” Studi Ekonomi Dan Bisnis Islam I(2):36–53.

Muhammad Syarofi. (2022). Implementasi Manajemen Risiko Pada Lembaga Keuangan Non- Bank Syariahh (Studi Kasus Analisi Unit Simpan Pinjam Pola Syariah AUSATH Banyuwangi). Keuangan Dan Perbankan Syariah 1:1–13.

Rizki Ramadiyah. (2014). Model Sistem Manajemen Resiko Perbankan Syariah Atas Transaksi Usaha Masyarakat. Menara Riau 13(2):220–48.

Roos Nelly, Saparuddin Siregar, dan Sugianto Sugianto. (2022). Analisis Manajemen Risiko Pada Bank Syariah:Tinjauan Literatur. Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal 4(4): 918–30. doi: 10.47467/reslaj.v4i4.1008.

Trisadini. U. (2013). Pengelolaan Risiko Pembiayaan Di Bank Syariah. Jurnal Hukum 3(2):408–28.

Referensi

Dokumen terkait

manajemen risiko sebagai prinsip kehati-hatian diterpakan oleh bank sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan, manajemen risiko ini diperlukan untuk dapat

Bank BNI Syariah menerapkan beberapa cara dengan berpedoman pada peraturan Bank Indonesia no 13/23/PBI/2011 mengenai penerapan manajemen Risiko pada bank umum syariah dan

Berkaitan dengan risiko, dalam dua dekade akhir ini bank syariah tidak hanya menghadapi risiko klasik yaitu risiko kredit dan risiko pasar saja, namun bank syariah sekarang

Berkaitan dengan risiko, dalam dua dekade akhir ini bank syariah tidak hanya menghadapi risiko klasik yaitu risiko kredit dan risiko pasar saja, namun bank syariah sekarang

Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syariah Dan Unit Usaha Syariah adalah suatu peraturan untuk mengaturan Manajemen Risiko yang berlaku secara khusus bagi BUS dan

Risiko ketidakpatuhan syariah adalah risiko yang timbul dari kegagalan bank syariah untuk mematuhi aturan dan prinsip-prinsip syariah yang ditetapkan oleh penasehat

Bank Syariah memang telah melakukan mitigasi risiko terhadap pelanggaran prinsip syariah melalui keberadaan Dewan Pengawas Syariah DPSyang berperan sebagai pengawas yang bertugas

Tujuan Manajemen Resiko Bank Syariah Dalam rangka meminimalisasi resiko yang dapat menimbulkan kerugian bagi bank, maka bank harus menerapkan manajemen resiko, yaitu serangkaian