PERBEDAAN GAYA BAHASA KOMUNIKASI SEHARI-HARI NIHONJIN DENGAN GAIKOKUJIN DALAM LINGKUP KERJA DI PERUSAHAAN
TOKYO OPERATION PARTNERS
PROPOSAL SKRIPSI
Dosen Pembimbing:
Dra. Parastuti M.Pd Peneliti:
Aritos Gama Atala Devan Safa NIM:
20020104020
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA JEPANG FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 2024 – 2025
Lembar Persetujuan
DAFTAR ISI
BAB 1...4
1.1 Latar Belakang... 4
1.2 Waktu dan Tempat Penelitian...5
1.3 Rumusan Masalah...5
1.4 Pembatasan Masalah...5
1.5 Tujuan Penelitian...5
1.6 Manfaat Penelitian...5
BAB 2...5
2.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan...6
2.2 Teori Yang Digunakan...6
BAB 3...9
3.1 Jenis Penelitian...9
3.2 Sumber Data...9
3.3 Teknik Pengumpulan Data...9
3.4 Teknik Analisis Data...9
3.5 Contoh Analisis Data...10
DAFTAR PUSAKA...10
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Bisa memiliki kesempatan bekerja di Jepang merupakan impian banyak orang, tidak hanya uang saja, melainkan banyak hal yang bisa didapatkan dari Negara Jepang. Sebagai contoh budaya mereka yang sangat menghargai waktu, menghargai perasaan orang lain, maupun menghargai apa yang namanya balas budi.
Banyak negara yang telah memanfaatkan peluang bekerja ini, terutama Program Tokutei Ginou, atau bisa disebut Specialized Skill Worker (SSW) yang mana Program ini sangat banyak diminati dan sudah menjadi umum sekali baik di Indonesia maupun Negara lainnya. Sebagai contoh Perusahaan Tokyo Operation Partners beberapa bulan ini juga berusaha merekrut karyawan dengan jumlah besar dengan memanfaatkan program Tokutei Ginou yang telah disebutkan tadi.
Mayoritas pekerja di Tokyo Operation Partnerts bukanlah orang Jepang sendiri melainkan orang asing dari berbagai manca negara. Tentu saja hal ini menjadi hal yang sudah pasti, karena akhir-akhir ini Perusahaan ini lebih menekankan Program ini daripada mempekerjakan orang-orang Jepang sendiri.
Oleh karena itu alih-alih orang Jepang, justru perusahaan ini berisi orang-orang dari Negara Filipin, China, Nepal, Sri Lanka, Myanmar, Mongolia hingga negara daerah barat seperti Rusia pun juga bekerja di Perusahaan ini. Oleh karena itu dengan keberagaman ini ada dampak positif dan negatif yang ditimbulkan, dalam hal ini faktor budaya menjadi aspek yang paling berpengaruh.
Dengan adanya perbedaan tersebut, peneliti menemukan betapa menariknya perbedaan budaya dan perbedaan penggunaan di gaya bahasa yang digunakan.
Peneliti juga saat ini sedang mengikuti program magang di Perusahaan ini dan mengobservasinya secara langsung setiap hari, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi di berbagai tempat dan keadaan menjadikan hal menarik tersebut menjadi dasar dari penelitian ini.
1.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan oleh peneliti dari Desember hingga Januari yang berlokasi di Bandara Haneda Jepang, Perusahaan ANA Group, departemen Tokyo Operation Partners
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana perbedaan ragam bahasa yang digunakan gaikokujin dibandingkan nihonjin di lingkungan kantor (jimusho/事務所 ) ?
2. Bagaimana perbedaan ragam bahasa yang digunakan gaikokujin dengan nihonjin di lingkungan di dalam pesawat (Kinai/機内) ?
3. Bagaimana perbedaan ragam bahasa yang digunakan gaikokujin dengan nihonjin diluar topik pekerjaan (pulang kerja/sebelum kerja) ?
1.4 Pembatasan Masalah
Batasan masalah yang ditetapkan oleh penelitian ini adalah sebatas wilayah lapangan kerja peneliti yang saat ini diikuti, yaitu Tokyo Operation Partners, Lokasi Bandara Haneda.
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan gaya bahasa dan kalimat yang digunakan oleh gaikokujin dan nihonjin di wilayah lingkup kerja Tokyo Operation Partners.
1.6 Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, peneliti maupun pembaca juga dapat mengetahui perbedaan bahasa jepang seperti apa yang digunakan oleh gaikokujin dibandingkan nihonjin sendiri.
BAB 2
2.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan
Ada Beberapa penelitian terdahulu terkait teineigo yang sering digunakan oleh gaikokujin terutama saat berkomunikasi sehari-hari di lingkup kerja, contoh yang pertama adalah penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Niken Angela Monica (2022) yang berjudul “Penggunaan Teineigo Dalam Anime Demon Slayer:
Kimetsu No Yaiba Tinjauan Sosiolinguistik”
Yang kedua, ada penelitian dari Nurul Laili (2011) yang berjudul
“Penggunaan Wakamono Kotoba Remaja Jepang” penelitian ini merupakan penelitian yang membahas tentang bahasa modern remaja di Jepang yang kerap digunakan sehari-hari bahkan di lingkungan kerja, gaikokujin yang sedang belajar bahasa Jepang pun bisa dibilang terkadang menggunakan bahasa ini.
2.2 Teori Yang Digunakan
Kebanyakan gaikokujin yang ada di Perusahaan Tokyo Operation Partners menggunakan bahasa jepang yang agak sedikit salah atau bisa dibilang tidak menghiraukan tata bahasa jepang itu sendiri, maka dari itu ketika ada yang berbicara terhadap yang lebih tua atau pangkat diatasnya, bukannya menggunakan bahasa sopan atau Keigo, malahan lebih sering menggunakan bahasa bentuk kamus yang harusnya hanya ditujukan kepada teman sendiri. Oleh karena itu poin ini juga mengacu poin kesopanan. Kesopanan berkaitan dengan aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bahasa.
Teori Tsujimura (1999) menyatakan hubungan antara bahasa dengan kesopanan sebagai Berikut:
Human interaction always has the potential to lead to conflict between the participants, and human behavior involves a variety of devices to avert these crises.
A key concept at the heart of all these devices is politeness, which is the speaker’s consideration for the addressees in order to make communication among them smooth. Politeness is realized through various verbal and non-verbal
Terjemahan
“Hubungan antar manusia selalu memiliki kemungkinan timbulnya konflik antar pihak, dan tingkah laku manusia telah mengembangkan berbagai sarana untuk mencegah hal ini. Kunci dasar dari segala sarana ini adalah kesopanan, yang adalah merupakan perhatian penutur terhadap petutur untuk memperlancar komunikasi.
Kesopanan dinyatakan melalui berbagai sarana verbal maupun non-verbal.
Kesopanan merupakan salah satu alat yang digunakan manusia agar komunikasi dapat berlangsung dengan lancar dan terhindar dari konflik yang cenderung untuk muncul dalam setiap hubungan antar manusia. Bahasa Jepang memiliki seperangkat tatanan bahasa untuk menyatakan kesopanan dan rasa hormat, demi mencapai tujuan tersebut, yaitu keigo.
Ragam bahasa adalah adalah bentuk bahasa yang bervariasi menurut konteks pemakaian (topik yang dibicarakan, hubungan antarpembicara, medium pembicaraan).
Semantik (imiron) merupakan salah satu cabang linguistik (gengogaku) yang mengkaji tentang makna. Machida & Momiyama (1997:90) menegaskan bahwa objek kajian semantik antara lain mencakup makna kata (go no imi), relasi makna antarsatu kata yang lainnya (go no imi kankei), makna frasa (ku no imi) dan makna kalimat (bun no imi).
Teori Klasifikasi Ragam Bahasa Jepang Sudjianto (2012)
Dalam penelitian ini, teori klasifikasi bahasa yang dirumuskan oleh Sudjianto (2012:5), dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
1) Ragam Bahasa Umum dan Dialek 2) Ragam Bahasa Tulis dan Lisan
Lebih lanjut, Sudjianto (2007:7) menyebutkan adanya beberapa ragam bahasa Jepang lainnya, yaitu :
1) Ragam Bahasa Pria dan Wanita 2) Ragam Bahasa Anak
3) Ragam Bahasa Populer 4) Ragam Bahasa Orang Tua 5) Ragam Bahasa Klasik 6) Ragam Bahasa Modern 7) Ragam Bahasa Hormat
BAB 3
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merujuk pada jenis penelitian fenomenologi kualitatif.
Dengan jenis penelitian ini, peneliti secara langsung mengamati dan mengobservasi di tempat kejadian langsung dan mengumpulkan data yang akan digunakan. Data juga akan dianalisis secara detail menggunakan teknik perbandingan.
3.2 Sumber Data
Karena penelitian kualitatif ini menggunakan teknik observasi tempat kejadian langsung. peneliti juga akan mewawancarai beberapa gaikokujin dan nihonjin di tempat kejadian langsung sebagai validasi dari data yang diobservasi tersebut
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang dipakai dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara.
Peneliti akan menggunakan teknik observasi untuk menjadi dasaran utama, diikuti dengan wawancara secara langsung dengan gaikokujin dan nihonjin. Teknik tersebut merupakan data nontes, pada umumnya analisis bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pengukuran sehingga dapat diketahui kecenderungan jawaban responden melalui alat ukur tersebut, misalnya bagaimana kecenderungan jawaban yang diperoleh dari hasil wawancara atau observasi (Sudjana, 2008).
Teknik rekam dan catat jawaban narasumber. Maka dari itu peneliti juga bisa melihat kecenderungan jawaban dari gaikokujin dan nihonjin.
3.4 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan cara yang dilakukan untuk menganalisis objek penelitian. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah hasil dari observasi tempat kejadian langsung dan wawancara beberapa gaikokujin dan nihonjin. Dan data tersebut akan nantinya diklasifikasikan dan disajikan berupa
tabel yang berisi perbandingan ragam bahasa dan kalimat yang digunakan gaikokujin dan nihonjin. Penyajian data dalam bentuk tabulasi data.
3.5 Contoh Analisis Data
Berikut contoh tabel untuk lingkungan kantor.
Tabel Pengamatan
Perbedaan ragam bahasa di Lingkungan Kantor (事務所)
日本人 外国人
スケジュールの紙はもう出したんですか? 紙だした?
ペンを貸してくれない? ペン借りていい?
時間です。上がろうか。 もう終わった、帰ろう。
Berikut ini adalah tabel untuk lingkungan dalam pesawat.
Tabel Pengamatan
Perbedaan ragam bahasa di lingkungan dalam pesawat (機内)
日本人 外国人
掃除機かけてね~ クリーナーやっていい?
ゴミを手で拾ってね! ゴミしっかり取ってね!
使用済みものを回収してくださ い。
使ったもの回収ね。
DAFTAR PUSAKA
Mahsun. 2017. Metode Penelitian Bahasa. Depok: PT Rajagrafindo Persada.
Nurul Laili. (2011). Penggunaan Wakamono Kotoba Remaja Jepang. Vol.3 No.2 Niken Angela Monica. (2022). “Penggunaan Teineigo Dalam Anime Demon Slayer: Kimetsu No Yaiba Tinjauan Sosiolinguistik”