• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel Agama dan Kebahagiaan

N/A
N/A
16@ Faiz Hanuraga

Academic year: 2023

Membagikan "Artikel Agama dan Kebahagiaan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Agama dan Kebahagiaan, September 2023

Agama dan Kebahagiaan Religion and Happiness

Faiz Hanuraga Febrianta Prayudhi 1, Vicka Ananda Aurellia 2, Ziyan Ashfiya 3 Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret

Abstract

Happiness is not only related to money or wealth, but happiness can be influenced by religion. This article has a focus and aim to explore the views of Indonesian society regarding the meaning of happiness. This article also aims to see how respondents understand religion, the causes of sad or happy human hearts, and understand the scientific basis of religion as a path to happiness. In fact, you can also find out how religion can achieve happiness. Quantitative research is the research method used in this paper. Material was obtained from guidelines, articles and survey results. The result of this article is that the main goal of human life is to achieve prosperity and happiness in this world and the hereafter. Achieving these two main goals must be based on religion, because happiness belongs only to Allah. The research results show that there is an influence between Islamic religious activities carried out on the happiness of the millennial generation in Indonesia and Singapore. Humans must uphold religious values to achieve this happiness, because religion provides meaning to life. Happiness refers to a healthy heart to connect with Allah SWT as the owner of life. Being close to Him can make the heart calm and happy.

Keywords: happiness,religion,millennial generation Abstrak

Kebahagiaan tidak hanya terkait dengan uang atau kekayaan, tetapi kebahagiaan itu bisa dipengaruhi oleh agama. Artikel ini memiliki focus dan tujuan untuk melakukan eksplorasi dari pandangan masyarakat Indonesia mengenai pengertian kebahagiaan. Artikel ini juga bertujuan untuk melihat bagaimana responden mengetahui pemahaman agama, penyebab hati manusia yang bersedih atau bahagia, dan mengetahui dasar ilmiah agama sebagai jalan menuju kebahagiaan. Bahkan, juga untuk mengetahui cara beragama untuk mencapai kebahagiaan. Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini.

Materi diperoleh dari pedoman, artikel, dan hasil survei. Hasil tulisan ini yaitu tujuan utama hidup manusia adalah mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pencapaian dua tujuan utama ini harus berdasarkan agama karena kebahagiaan hanya milik Allah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh antara kegiatan keagamaan Islam yang dilakukan terhadap kebahagiaan generasi milenial di Indonesia dan Singapura. Manusia harus menjunjung tinggi nilai-nilai agama untuk mencapai kebahagiaan ini karena agama memberikan makna bagi kehidupan. Kebahagiaan mengacu pada hati yang sehat untuk berhubungan dengan Allah SWT sebagai pemilik kehidupan. Dekat dengan-Nya bisa membuat hati tenang dan bahagia.

Kata kunci: kebahagiaan, agama, dan generasi milenial

(2)

2

Makalah Agama dan Kebahagiaan, September 2023

A. PENDAHULUAN

Agama menjamin kebahagiaan merupakan salah satu tema yang perlu dibahas untuk melihat pengaruhnya terhadap pemahaman dan pengalaman generasi milenial seperti saat ini (Dakir & Anwar, 2019; Mahmud &

Zamroni, 2014). Menurut Al-Alusi, bahagia merupakan suatu perasaan senang dan juga gembira karena dapat mencapai keinginan dan cita-cita yang ingin dicapai dan diimpikan. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa bahagia ataupun kebahagiaan merupakan tetap dalam kategori kebaikan atau masuk ke dalam kategori kesenangan dan kesuksesan. Tidak ada satupun orang yang ingin hidupnya tidak bahagia di dunia maupun di akhirat.

Semua orang pasti ingin merasakan bahagia di dunia dan sejahtera di akhirat. Namun, hanya sedikit saja orang yang memahami arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya atau yang sebenarnya. Juga bagaimana menciptakan kebahagiaan (Al-Ghazali, 2001; Mahfud, 2018; Baharun & Zulfaizah, 2018; Mahfud, 2019).

Memiliki kehidupan yang bahagia dan sejahtera di akhirat merupakan impian dan keinginan setiap orang. Banyak orang yang mengorbankan segala yang mereka miliki untuk meraih sebuah kehidupan yang bahagia (Dakir, 2017). Dengan menanamkan impian dan cita-cita setinggi langit dengan tujuan mencapai keberhasilan dan meraih kebahagiaan.

B. METODE

Metode penelitian pada jurnal ini adalah metode penelitian kuantitatif.. Metode kuantitatif dengan menggunakan survei kuesioner artinya suatu daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai suatu masalah/bidang yang akan diteliti.

Kuesioner atau yang sering disebut dengan angket adalah daftar pertanyaan yang didistribusikan untuk di isi dan

dikembalikan/dijawab dibawah pengawasan peneliti (Nasution,1996).

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono ,2017).

Jadi kuesioner adalah salah satu alat pengumpul data yang dilakukan dengan cara memberikan daftar pertanyaan kepada sampel untuk kemudian diisi sesuai dengan pengetahuannya. Sedangkan teknik pengumpulan data pada metode ini, menggunakan teknik kajian pustaka.

Penelitian ini akan menguraikan beberapa hal berikut:

1. Kebahagian dalam islam

2. Hubungan Agama dan Kebahagiaan Manusia

3. Sumber Historis, Psikologis, Filosofis, dan Sosiologis tentang Pemikiran Agama sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan

4. Argumen tentang Tauhidullah sebagai satu-satunya Model Beragama yang Benar

5. Tauhidullah sebagai penjamin kebahagiaan yang hakiki

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kebahagiaan dalam Islam.

Setiap manusia memiliki keinginan atau cita - cita yang diimpikan, perasaan senang ketika berhasil meraih cita - cita yang diimpikanlah yang disebut dengan perasaan bahagia, Kebahagiaan adalah sesuatu emosi positif yang berarti dan terkait dengan motivasi untuk melakukan banyak hal (Rahardjo, 2007).

Perasaan bahagia juga dapat didefinisikan sebagai perasaan senang karena hati yang sehat. Hati yang sehat dan berfungsi dengan baik bisa berhubungan dengan Tuhan pemilik kebahagiaan.

Kebahagiaan dibagi menjadi dua, yaitu kebahagiaan hakiki, dan kebahagiaan

(3)

Makalah Agama dan Kebahagiaan, September 2023

majasi. Bahagia hakiki adalah kebahagiaan ukhrawi, sedangkan bahagia majasi adalah kebahagiaan duniawi. Keduanya dapat diperoleh tergantung dengan sikap kita, Berdasarkan pernyataan tersebut, maka jelaslah semua manusia mendambakan kebahagiaan dalam kehidupan. Kalau bisa kebahagiaan dirasakan baik di waktu siang maupun malam, dalam rumah maupun di kantor, sebagai motivasi atau semangat seseorang dalam melakukan sesuatu.

B. Hubungan Agama dan Kebahagiaan Manusia

Seiring dengan kemajuan sains dan teknologi di Barat, nilai-nilai agama berangsur- angsur mengalami peminggiran dan bahkan ditinggalkan. Bagi sebagian ilmuwan, agama adalah penghalang, sehingga jika ingin maju, agama harus tidak boleh mengurus masalah dunia, seperti sains dan politik. Karenanya muncul nada pesimistik terhadap agama, misalnya Karl Marx dengan pernyataan bahwa “agama adalah candu bagi masyarakat.“ Kemudian diikuti oleh pengikutnya yang menarik konsekuensinya bahwa materialisme adalah satu-satunya yang mendasari alam dan kehidupan, dan agama tidak diperlukan lagi. Oleh karena itu, agama dan pengaruhnya yang seperti itulah yang perlu diperangi. Lebih lanjut, August Comte mengatakan bahwa agama hanya cocok pada masyarakat yang masih primitif dan terbelakang. Bahkan para saintis berpendapat bahwa pencarian untuk menemukan “kebenaran” akan membawa kecenderungan-kecenderungan utama untuk menyembah sains ketimbang agama.

Kecenderungan ini mencapai klimaksnya pada filsafat sekuler “Tuhan sudah Mati”

yang digemborkan pada awal abad 20.

Nampaknya, munculnya beberapa pemikiran yang mengarah pada kepesimisan terhadap peran agama dalam kehidupan manusia karena diilhami oleh kenyataan bahwa kemajuan yang dihasilkan sains dan teknologi ternyata

banyak membantu dan meringankan beban dalam mencari penyelesaian - penyelesaian seputar keanekaragaman kebutuhan manusia yang semakin kompleks.

(Bakhtiar) Setelah mengalami dan menikmati berbagai kemudahan lewat sains dan teknologi, akhirnya suatu saat tiba juga perasaan kerinduan manusia terhadap yang transedental. Kemunculan kesadaran untuk mencari yang transendental berawal dari adanya krisis spritual dan krisis pengenalan diri setelah lama berkecimpung dengan berbagai fasilitas yang serba menjamin kehidupan manusia. Terlebih lagi berbagai ancaman mulai dirasakan manusia yang menjalar pada bidang-bidang lain, seperti adanya krisis lingkungan, kesehatan, sosial, dan lain sebagainya. Dalam kondisi demikian, akhirnya manusia ingin kembali kepada kekuatan spiritual yang masih dipercaya dapat menjamin kehidupannya menjadi lebih bermakna. (Bakhtiar) Konsep spiritual tidak dapat lepas dari konsep agama atau religiusitas. Religiusitas merupakan suatu bentuk hubungan manusia dengan penciptanya melalui ajaran agama yang sudah terinternalisasi dalam diri seseorang dan tercermin dalam sikap dan perilakunya sehari-hari. Menurut Glock (Rahmat, 2003; Mayasari, 2014) bahwa ada lima aspek atau dimensi religiusitas yaitu:

1. Dimensi ideologi atau keyakinan, yaitu dimensi dari keberagamaan yang berkaitan dengan apa yang harus dipercayai, misalnya kepercayaan adanya Tuhan, malaikat, surga dan sebagainya.

2. Dimensi peribadatan, yaitu dimensi keberagaman yang berkaitan dengan sejumlah perilaku, dimana perilaku tersebut sudah ditetapakan oleh agama, seperti tata cara ibadah, pembaptisan, pengakuan dosa, berpuasa, shalat atau menjalankan ritual- ritual khusus pada hari - hari suci.

3. Dimensi penghayatan, yaitu dimensi yang berkaitan dengan perasaan keagamaan yang dialami oleh penganut agama, misalnya kekhusyukan ketika melakukan shalat.

(4)

Makalah Agama dan Kebahagiaan, September 2023

4. Dimensi pengetahuan, yaitu berkaitan dengan pemahaman dan pengetahuan seseorang terhadap ajaran - ajaran agama yang dianutnya.

5. Dimensi pengamalan, yaitu berkaitan dengan akibat dari ajaran – ajaran agama yang dianutnya yang diaplikasikan melalui sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari- hari.

Religiusitas Islam menunjukkan bahwa keberagamaan seseorang tidak terlepas dengan spiritualitas yaitu pengalaman kedekatan terhadap sang Khalik.

Religiusitas Islam menawarkan kesejahteraan atau kebahagiaan yang mengarah kepada kehidupan yang bermakna dan mengalami kepuasaan hidup yang subyektif. Religiusitas Islam mengarahkan kebahagiaan kepada kehidupan yang membawa seseorang kepada pengoptimalan potensi diri, kemandirian, memiliki hubungan yang baik dengan orang lain serta mampu menghadapi kejadian-kejadian yang terjadi pada dirinya. Religiusitas Islam menunjukkan bahwa Islam mengisi individu dengan harapan masa depan dan menciptakan makna dalam hidup. Individu yang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi memunculkan harapan yang lebih besar pada hidupnya.

C. Sumber Teologis, Historis, Psikologis, dan Sosiologis tentang Pemikiran Agama sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan

Secara teologis, beragama itu adalah fitrah. Jika manusia hidup sesuai dengan fitrahnya, maka ia akan bahagia.

Sebaliknya, jika ia hidup tidak sesuai dengan fitrahnya, maka ia tidak akan bahagia.

Secara historis, pada sepanjang sejarah hidup manusia, beragama itu merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Banyak buku membicarakan atau mengulas kisah manusia mencari Tuhan.

Umpamanya buku yang ditulis oleh Ibnu

Thufail. Buku ini menguraikan bahwa kebenaran bisa ditemukan manakala ada keserasian antara akal manusia dan wahyu.

Dengan akalnya, manusia mencari Tuhan dan bisa sampai kepada Tuhan. Namun, penemuannya itu perlu konfirmasi dari Tuhan melalui wahyu, agar ia dapat menemukan yang hakiki dan akhirnya ia bisa berterima kasih kepada Tuhan atas segala nikmat yang diperolehnya terutama nikmat bisa menemukan Tuhan dengan akalnya itu.

1. Argumen Psikologis Kebutuhan Manusia terhadap Agama

Sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian sebelum ini, bahwa manusia menurut Al-Quran adalah makhluk rohani, makhluk jasmani, dan makhluk sosial.

Sebagai makhluk roliani, manusia membutuhkan ketenangan jiwa, ketenteraman hati dan kebahagiaan rohani.

Kebahagiaan rohani hanya akan didapat jika manusia dekat dengan pemilik kebahagiaan yang hakiki. Menurut teori mistisime Islam, bahwa Tuhan Malasuci, Malaindah, dan mahasegalanya. Tuhan yang Mahasuci itu tidak dapat didekati kecuali oleh jiwa yang suci. Oleh karena itu, agar jiwa bisa dekat dengan Tuhan, maka sucikanlah hati dari segala kotoran dan sifat-sifat yang jelek.

2. Argumen Sosiologis Kebutuhan Manusia terhadap Agama

Di antara karakter manusia, menurut Al- Quran, manusia adalah makhluk sosial.

Makhluk sosial artinya manusia tidak bisa hidup sendirian dan tidak bisa mencapai tujuan hidupnya tanpa keterlibatan orang lain. Manusia harus membutuhkan bantuan orang lain, sebagaimana orang lain pun membutuhkan bantuan sesamanya. Saling bantu menjadi ciri perilaku makhluk sosial.

D. Membangun Argumen tentang Tauhidullah sebagai satu-satunya Model Beragama yang Benar

Tauhid berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti mengesakan atau

(5)

Makalah Agama dan Kebahagiaan, September 2023

menunggalkan. Tahuidullah secara istilah memiliki arti mengesakan Allah dalam hal- hal yang merupakan kekhususan Allah.

Tauhidulläh membebaskan manusia dari takhayul, khurafat, mitos, dan bidah.

Tauhidullah menempatkan manusia pada tempat yang bermartabat, tidak menghambakan diri kepada makhluk yang lebih rendah derajatnya daripada manusia.

Manusia adalah makhluk yang paling mulia dibanding dengan makhluk- makhluk Allah yang lain.

Rasulullah bersabda, "La iläha illalläh adalah bentengku. Barang siapa masuk ke bentengku, maka ia aman dari azab." (Al- hadits).

La iläha illallah adalah kalimah taibah (thayyibah), yang digambarkan oleh Al- Quran laksana sebuah pohon yang akarnya tertancap ke dalam tanah, batangnya berdiri tegak dengan kokoh, yang dahan dan rantingnya mengeluarkan buah-buahan, yang lebat dan bermanfaat untuk manusia.

Yang dimaksud "ucapan yang kokoh"

adalah kalimah tauhid yakni kalimah taibah yaitu kalimah " la ilaha illallah".

Nabi Muhammad bersabda, "Barang siapa mengucapkan kalimah la iläha illallah secara ikhlas, pasti ia masuk surga.

Rasulullah ditanya, "Apa yang dimaksud keikhlasan itu?" Rasulullah saw.

menjawab, "Bahwa kalimah itu bisa menghalangi orang itu dari hal-hal yang diharamkan Allah" (HR Thabrani)

Betapa tauhidullah sangat prinsip dalam kehidupan seorang muslim. Nabi Muhammad mengingatkan manusia agar terhindar dari hal-hal yang merusak tauhidullah. Perkara yang dapat merusak tauhrdullah adalah syirik. Allah berfirman,

"Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar" (QS Luqman/31:13).

Sebagaimana telah Anda maklum bahwa syrik terbagi dua, ada syirik akbar (besar) dan ada syrik asghar.(kecil). Syirik akbar adalah menyekutukan Allah dengan selain- Nya. Adapun syrik asghar adalah riya dalam beramal. Allah berfirman,

tauhidullah adalah barometer kebenaran agama-agama sebelum Islam. Jika agama samawi yang dibawa oleh nabi-nabi sebelum Muhammad saw. mash tauhidulläh, maka agama itu benar, dan seandainya agama nabi-nabi sebelum Muhammad saw. itu sudah tidak tauhidullah yakni sudah ada syrik, unsur menyekutukan Allah. Sebagian ayat tentang masalah tersebut disampaikan sebagai berikut:

1. "Barang siapa mencari agama selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima dan di akhirat termasuk orang yang merugi." (QS Ali Imran/3: 85).

2. "Sesungguhnya agama yang diridai Allah adalah agama Islam." (QS Ali Imran/3: 19).

3. "Maka apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal hanya kepada-Nya menyerahkan diri segala yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan." (QS Ali Imran/3: 83).

Setiap orang harus bersikap hati-hati bahwa tauhidulläh yang merupakan satu- satunya jalan menuju kebahagiaan itu, menurut Said Hawa, dapat rusak dengan hal-hal sebagai berikut:

1. Sifat Al-Kibr (sombong)

Allah tidak mau memperhatikan orang yang bersikap sombong terhadap ayat-ayat Allah. Allah berfirman, "Akan Kami palingkan dari ayat-ayat Kami orang-orang yang sombong di muka bumi tanpa hak.

Seandainya mereka melihat setiap ayat, mereka tidak memercayainya, dan jika mereka melihat jalan petunjuk, mereka tidak mengikutinya, dan jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menjadikannya sebagai jalan. Hal demikian terjadi, sebab mereka mendustakan ayat- ayat Kami, dan mereka lupa terhadap ayat- ayat itu." (QS Al-Araf/7: 146).

(6)

Makalah Agama dan Kebahagiaan, September 2023

2. Sifat Azh-Zhulm (kezaliman) dan Sifat Al-Kizb (kebohongan)

Bebaskan diri kita dari belenggu kezaliman dan kedustaan sebab Allah tidak akan memberi hidayah kepada kaum yang bersikap zalim (QS AshShaff/61: 7)

3. Sikap Al-Ifsād (melakukan perusakan).

Bebaskan diri kita dari sikap merusak di muka bumi, membatalkan perjanjian, dan memutuskan perintah-perintah yang mestinya disampaikan. Allah berfirman,

"Dan tidak akan tersesat kecuali orang- orang fasik, yaitu orang-orang yang membatalkan perjanjian dengan Allah yang dulunya telah kokoh, dan mereka memutuskan apa-apa yang diperintahkan Allah untuk disampaikan, dan mereka melakukan perusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang merugi."

(QS Al-Bagarah/2: 26-27).

4. Sikap Al-Ghaflah (lupa)

Jika Anda menginginkan adanya keterbukaan terhadap ayat-ayat Allah secara keseluruhan, maka ketahuilah bahwa sebagian ayat-ayat Allah terbuka kepada sebagian manusia dengan hanya berpikir dan berzikir kalau di sana tidak ada penghalang. Untuk mengambil sebagai contoh; kita perhatikan ayat Tuhan berikut ini, "Sesungguhnya di dalam peristiwa ini ada tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir."(QSAr-Ra'd/13:2).

5. Al-liram (berbuat dosa)

Bebaskan diri kita dari ijrām yakni berbuat dosa. Allah melukiskan sikap ini dalam firman-Nya, "Sekali-kali tidak, tetapi apa yang mereka kerjakan mengotori hati mereka." (QS AlMuthaffifin/83: 14).

6. Sikap ragu menerima kebenaran Bebaskan diri kita dari sikap ragu-ragu menerima al-haq (kebenaran) jika kita melihat perkara kebenaran itu begitu jelas.

Allah berfirman, "Kami membolak-balik hati mereka dan penglihatan mereka seperti ketika mereka tidak percaya pada yang pertama kali, dan kami peringatkan mereka,

dan mereka sedang berleha-leha dalam kesesatannya." (QS AI-An"am/6: 110).

E. Tauhidullah sebagai penjamin kebahagiaan yang hakiki

Kunci religiusitas berada pada fitrah manusia. Fitrah itu sesuatu yang melekat dalam diri manusia dan telah menjadi karakter (tabiat) manusia. Kata “fitrah”

secara kebahasaan memang asal maknanya adalah suci. Yang dimaksud suci adalah suci dari dosa dan suci secara genetis.

Tugas manusia adalah berupaya agar kesucian dan keimanan terus terjaga dalam hatinya hingga kembali kepada Allah.

(Paristiyanti, dkk., 2016) Kelima pancaindera, memiliki tugas dan fungsi masing – masing yang tidak sama tetapi saling mendukung. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk membau, lidah untuk merasakan dan kulit untuk perabaan. Semua itu merupakan fungsi – fungsi yang sesuai dengan fitrah Allah. Seandainya pancaindera itu difungsikan dengan tidak sesuai dengan fitrah masing – masing, tentu hal ini akan menimbulkan ketidakenakan, ketidaknyamanan yang ujungnya ketidaksenangan dan ketidakbahagiaan.

Demikian juga, jika manusia hidup tidak sesuai dengan fitrahnya, maka manusia tidak akan mendapatkan kesenangan, ketentraman, kenyamanan, dan keamanan, ujungnya tidak ada kebahagiaan. Jadi, hidup beragama adalah fitrah, dan karena itu, manusia merasakan nikmat nyaman, aman, dan tenang. Sedangkan apabila hidup tanpa agama, manusia akan mengalami ketidaktenangan, ketidaknyamanan, dan ketidaktentraman yang pada ujungnya ia hidup dalam ketidakbahagiaan. Oleh karena itu, bahagia adalah menjalani hidup sesuai dengan fitrah yang telah diberikan Allah kepada manusia. (Paristiyanti, dkk., 2016) Agama yang dimaksud disini adalah agama Islam. Dalam islam, pusat segala kebahagiaan adalah saat seseorang bertemu dengan Sang Khaliq. Tentu bukan dengan

(7)

Makalah Agama dan Kebahagiaan, September 2023

makna bahwa kita harus mati terlebih dahulu. Memang, ujung dari perjalanan kehidupan akan seperti itu. Tapi bukankah kebahagiaan itu kita dambakan juga di dunia? Lalu bagaimana caranya? Berapa banyak jalan yang harus ditempuh dan dibutuhkan untuk menuju kepada Allah?

Inti ajaran dari agama Islam itu sendiri yaitu tauhidullah atau mengesakan Allah.

Tauhidullah yang berarti mengesakan Allah, menempatkan manusia pada tempat yang bermartabat, tidak menghambakan diri kepada makhluk yang lebih rendah derajatnya daripada manusia. Manusia adalah makhluk yang paling mulia dan paling sempurna dibanding dengan makhluk – makhluk Allah yang lain.

(Paristiyanti, dkk., 2016) Konsep tauhidullah dapat diartikan sebgaai tema sentral dalam iman dan akidah. Konsep tauhid mengantarkan seseorang pada keimanan konsisten pada satu kalimat tahlil, yaitu tidak ada tuhan selain Allah.

Dengan menjalankan tauhidullah, maka manusia akan mencapai islam dan ihsan.

Oleh karena itu, untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki mustahil apabila tanpa adanya landasan agama tauhidullah.

Sebab kebahagiaan yang hakiki dari Allah, kita tidak mungkin mendapatkannya tanpa seizin Allah. Maka, untuk meraih kebahagiaan yang hakiki maka kita harus

subjek membaca buku-buku agama dengan komitmen beragama dengan arah korelasi positif. Berdasarkan pernyataan di atas, guna mendapatkan kebahagiaan hidup yang hakiki maka setiap muslim harus bisa menciptakan manfaat atau maslahah, yaitu segala bentuk keadaan, baik material maupun non material, yang mampu meningkatkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Maslahah dasar yang harus dipenuhi oleh setiap manusia meliputi agama (din), jiwa (nafs), akal/intelektual (‘aql), keluarga dan keturunan (nasl) dan harta (maal). Kelima hal inilah yang dikenal sebagai tujuan dari ditetapkanya syariat Islam atau maqasid asy-Syari’ah. (Wibowo, 2016) Jiwa yang tenang (nafsu mutmainnah) akan diperoleh oleh setiap muslim manakala ia mengorientasikan jiwa dan raganya pada konsep tauhidullah. Ia menyadari bahwa Allah dzat sebagai rabb (pencipta) maka ia tidak akan ada kesombongan di dalam hatinya. (Asmaya, 2015).

KUESIONER AGAMA DAN KEBAHAGIAAN

Biasa saja

mengikuti cara – cara yang telah ditetapkan Allah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh M. Nisfiannor, Rostiana, dan Triana Puspasari, terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi subjek mengikuti pengkajian al-Qur’an dengan komitmen beragama dan subjective wellbeing subjek yang bersangkutan, dengan arah korelasi positif. Selain itu, adanya hubungan yang signifikan antara frekuensi subjek melihat atau mendengarkan siraman rohani dengan komitmen beragama dan subjective well- being subjek yang bersangkutan, dengan arah korelasi positif. Serta, adanya hubungan yang signifikan antara frekuensi

Bahagia 2%

12%

Sangat Bahagia

86%

(8)

Makalah Agama dan Kebahagiaan, September 2023

Hasil data yang didapatkan dari hasil survey diolah dan dirangkum dalam bentuk grafik. Masing-masing grafik memperlihatkan tujuan utama penelitian, yaitu melihat pendapat dan pandangan responden mengenai kebahagiaan dalam hidupnya, serta bagaimana praktik yang terjadi di kehidupan sehari-hari dalam menjalankan aktivitas yang memengaruhi kebahagiaan responden.

Sasaran survey kami adalah responden usia remaja. Hal ini dikarenakan usia remaja merasakan dampak globalisasi serta westernisasi yang paling besar dibandingkan golongan usia lainnya.

Pengaruh westernisasi tentu saja berpengaruh terhadap cara hidup dan pandangan remaja dalam menjalankan prinsip keagamaan, Tantangan yang besar ini pun akhirnya memengaruhi proses tercapainya kebahagiaan dalam subjektif agama.

4. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dan hasil dari kajian pustaka menunjukkan konsep kebahagiaan yang hakiki, adalah perpaduan antara iman, islam, dan ihsan. Selain itu, untuk mencapai konsep kebahagiaan yang hakiki, maka perlu berlandaskan kepada agama. Agama yang dimaksud adalah agama tauhidullah. Oleh karena itu, untuk meraih kebahagiaan yang hakiki maka kita harus mengikuti cara – cara yang telah ditetapkan Allah. Bukan cara yang sesat atau mengandung unsur syirik yang dimurkai oleh Allah.

Berdasarkan penelitian di atas, maka peneliti memberikan saran kepada masyarakat agar terus memfasilitasi syiar - syiar agama yang menuju kebahagiaan.

Sehingga, untuk para pembaca agar tetap kokoh dan teguh di atas agama tauhidullah agar tercapai kebahagiaan yang hakiki.

5. UCAPAN TERIMAKASIH

Penelitian ini dilakukan dengan bimbingan dari Dosen Pembimbing. Bagian ucapan terimakasih tidak boleh menyebutkan bagian dari tim penulis itu sendiri, dapat ditujukan kepada masyarakat, instansi atau lembaga lain yang memberi kontribusi pada penelitian.

6. REFERENSI Al Qur’an al-Karim Al Hadits

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D.

Bandung: Alfabeta, cv.

Nasution S, (1996),Metode Research (hlm.128). Jakarta: Bumi Aksara,

Rizhali, A (2018, September 26). Argumen kebutuhan manusia terhadap agama.

Course Hero.

https://www.coursehero.com/file/p2kahc8 v/1-Argumen-Psikologis-Kebutuhan- Manusia-terhadap-Agama-Sebagaimana- telah/

Rahardjo, W. (2007). Kebahagiaan sebagai Suatu Proses Pembelajaran. Jurnal Penelitian Psikologi, 127 -137.

Bakhtiar, A. (2013). Agama dalam Pandangan Futurolog. Kanz Philosophia, 3(1).

Mayasari, R. (2014). Religiusitas Islam dan Kebahagiaan (Sebuah Telaah dengan Perspektif Psikologi ). Al - Munzir 7(2), 81 - 100.

Paristiyanti, dkk. (2016). Pendidikan Agama Islam untuk perguruan tinggi. Dalam S. A.

Paristiyanti N., Pendidikan Agama Islam (hal. 1-29). Jakarta: Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Wibowo, M. G. (2016). Kebijakan Pembangunan Nasional : dari Pertumbuhan (Growth) Menuju Kebahagiaan (Happiness) Vol. 50, No. 1.

(9)

Makalah Agama dan Kebahagiaan, September 2023 Asy-Syir’ah : Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum, 223 - 239.

Asmaya, E. (2015). Pembentukan Jiwa Manusia malalui Pesan Tauhidullah.

Jurnal komunika,. 9(1), 72-80.

Usman dan Nurhilaliyah. (2022). Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam:Kajian pada Perguruan Tinggi. Bantul : Lembaga Ladang Kata.

Mahfud, Choirul dkk. (2020). Pengaruh Agama Terhadap Kebahagiaan Generasi Milenial di Indonesia dan Singapura. Vol. 04 No.

02, p. 144-159 : Jurnal Islam Nusantara, 145.

Referensi

Dokumen terkait

Dari ayat di atas, terjalin suatu pengertian, bahwa fitrah manusia pada dasarnya selaras dengan fitrah (agama) Allah. Demikian juga sebaliknya, agama Islam sebagai

Rasul adalah manusia pilihan Allah yang diberikan kitab suci untuk dipelajari oleh dirinya sendiri dan keluarganya.. Nabi adalah manusia pilihan Allah

Kebahagiaan (happiness/subjective well-being) dan pencapaian hasil kinerja yang diharapkan adalah bentuk-bentuk tujuan dalam kehidupan manusia. Proses menuju bahagia

Masyarakat Islam adalah pergaulan hidup umat Islam mengamalkan agama dan ajaran Islam sesungguhnya, sedang masyarakat muslim dalam pergaulan hidup manusia

Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan

Ar- Rum: “ Maka had apkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada

Kerukunan yang dimaksud disini adalah kerukunan untuk dapat bersikap saling menghargai setiap ajaran dan kewajiban yang diajarkan dalam suatu agama, kerukunan untuk

 Agama adalah fenomena hidup manusia dengan dorongan untuk beragama, penghayatan terhadap wujud agama serta bentuk pelaksanaannya dalam masyarakat bisa berbeda-beda namun pada