Optimalisasi Kelompok Kegiatan Bina Keluarga Lansia (Poktan BKL) melalui Sekolah Lansia
(Studi Tiru Sekolah Lansia Jogjakarta) Oleh: Lismomon Nata
(Ketua Pokja Ketahanan Remaja Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat)
Fase lanjut usia (lansia) merupakan suatu siklus normal yang dialami pada setiap kehidupan manusia. Ia terjadi ketika seseorang mencapai usia lanjut atau usia tua. Secara teoritis lansia dibagi atas beberapa klasifikasi, namun sering kali diidentifikasi sebagai periode setelah seseorang mencapai usia 65 tahun atau lebih, yaitu usia pasca produktif. Fase lansia dapat dibagi menjadi beberapa tahap atau sub-fase, meskipun pengelompokan bervariasi tergantung pada sudut pandang atau referensi yang digunakan. Contohnya menurut WHO membagi atas empat kelompok. Kelompok pertama usia pertengahan (middle age) rentangan usia 49-59 tahun, lanjut usia pada rentang 60-74 tahun dan lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun serta usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang nomor 13 tahun 1998 menerangkan bahwa lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun (enam puluh) tahun ke atas.
Pada fase ini terjadi perubahan terhadap berbagai aspek kehidupan seseorang, sehingga pada fase itu pula dapat dikatakan masa kritis, yaitu perubahan secara fisik, mental dan sosial bahkan aspek spritual serta ekonomi, seperti halnya fase remaja. Apabila dapat menyesuaikan atau melewati fase ini dengan baik, maka dapat dikatakan baik pula kehidupannya dan sebaliknya, bila tidak tuntas dan selesai, maka akan menjadi problematika dalam kehidupannya. Pada tahap awal lansia merupakan periode di mana seseorang mulai menyadari perubahan fisik dan kesehatan yang terkait dengan usia, seperti penurunan daya penglihatan, pendengaran, kulit menjadi keriput, rambut berwarna putih maupun kekuatan tubuh mulai melemah. Biasanya pada tahap ini masih cukup banyak individu masih aktif. Tahap tersebut lanjut pada lansia tengah, yaitu periode ketika seseorang mungkin mulai mengalami perubahan yang lebih signifikan dalam kesehatan fisik dan kognitif, risiko demensia (menurunnya kemampuan daya ingat dan berpikir) atau berbagai masalah kesehatan kronis dan perawatan medis, di mana seseorang mungkin menghadapi tantangan yang lebih serius dalam hal kesehatan, risiko pikun dan prilaku kembali seperti fase anak-anak yang sensitif, butuh perhatian lebih dan tidak mampu melakukan aktivitas diri sendiri
secara optimal. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan dukungan keluarga atau perawatan jangka panjang bagi lansia.
Satu hal yang menjadi pembelajaran hidup dalam konteks ini adalah kesadaran bahwa setiap individu normalnya akan mengalami proses penuaan, meskipun dengan cara yang berbeda, demikian juga dengan pengalaman pada fase ini sangat beragam. Hal ini sangat ditentukan oleh berbagai macam faktor, terutama life style (gaya hidup) saat menjalankan kehidupan fase-fase sebelumnya, kesadaran, kemampuan dan pengetahuan keluarga dalam pendampingan maupun faktor lingkungan sosial serta kultur di mana ia hidup. Namun, secara umum lansia mengalami beberapa masalah yang relatif sama, seperti immobility (minim pergerakan). Hal ini dikarenakan telah semakin sedikit pergerakan fisik yang dapat dilakukan tersebab mengalami gangguan pada syaraf-syaraf, tulang dan sendi. Di samping itu juga berisiko instability (tidak stabil dan mudah terjatuh) karena faktor intrinsik (yang berkaitan tubuh yang menua dan melemahnya berfungsinya syaraf dan tulang) yang menyebabkan ketidakseimabangan tubuh, ataupun luar diri, yaitu faktor lingkungan yang belum lagi ramah bagi lansia maupun secara sosial tidak mendukung eksistensi diri mereka dengan baik. Sementara di sisi lain, kecendrungan satu keadaan yang sangat diharapkan oleh hampir semua orang dan bahkan keluarga yang memiliki lansia adalah bagaimana mereka untuk tetap memiliki kesehatan yang baik, produktif sesuai dengan kondisi mereka serta mandiri. Artinya merasa bahagia, baik secara batin (individu) maupun sosial serta spritual.
Dengan demikian di era modern ini hasrat banyak orang setidaknya untuk tidak terlihat tua, melakukan berbagai upaya untuk dapat menunda menuaan, maka tidak mengherankan banyak produk-produk anti penuaan (antiaging) diperjualbelikan. Meskipun hal demikian, manusiawi yang dimiliki oleh setiap manusia untuk dapat ‘panjang umur’. Pada tatanan kehidupan sosial banyak menemukan kelompok-kelompok lansia yang melakukan aktivitas bersama, seperti melaksanakan senam, kelompok sosial atau paguyuban, ikatan lansia dan sebagainya. Meskipun menua adalah sesuatu keniscayaan. Manusia hanya berusaha untuk menunda dan tidak akan dapat menghentikannya. Pujangga Chairil Anwar dalam puisinya ‘Derai-Derai Cemara’, ada bait, ‘hidup hanya menunda kekalahan.
Oleh karena itu, angka atau usia harapan hidup dijadikan sebagai salah satu indikator untuk melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan penduduk pada suatu daerah. Ia berbanding lurus, semakin baik program kesehatan, pembangunan, kebahagiaan, kesejahteraan suatu daerah, maka semakin tinggi pula angka usia harapan hidupnya. Guna untuk mewujudkan hal tersebut, maka dibutuhkan perawatan kesehatan, dukungan keluarga, lingkungan sosial yang memberikan ruang bagi lansia untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan secara bersama. Selain itu, maka dibutuhkan juga untuk lansia mempertahankan gaya hidup sehat, seperti pemenuhan pola makan yang seimbang, olahraga, tidur yang cukup, dan kunjungan rutin ke dokter, dapat membantu menjaga kesehatan, pola pikir yang positif serta lingkungan sosial yang sehat pula. Bahkan tidak kalah pentingnya adalah adanya regulasi, berbagai kebijakan pemerintah yang menunjang yang pro terhadap ramah lansia, seperti layanan kesehatan.
Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) semenjak kehadirannya sebagai lembaga pemerintahan juga telah fokus pada life circle (lingkaran kehidupan), yaitu semenjak balita, remaja dan termasuk fase lansia yang dikemas secara apik dalam program tribina (Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Bina Keluarga Lansia (BKL).
Kegiatan tersebut sebagai upaya dalam melakukan pemberdayaan bagi keluarga-keluarga Indonesia yang memiliki balita, remaja dan lansia. Ketiga fase tersebut dapat dikatan fase-fase utama dalam kehidupan individu. Terkait fase lansia acap kali terabaikan. Pemberdayaan lansia merupakan suatu usaha dalam rangka memberikan perhatian, dukungan untuk meningkatkan kualitas hidup, serta memungkinkan mereka untuk tetap aktif, berkontribusi, dan merasa bernilai dalam masyarakat sesuai dengan keadaan fisik dan kemampuan mereka.
Adanya program BKL sebagai upaya pemberdayaan lansia dapat dilakukan dalam usaha bagaimana keluarga memiliki kesadaran dan sekaligus mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya dengan baik dalam mendampingi lansia. Anggota keluarga dapat belajar bagaimana cara menjaga kesehatan fisik dan mental, mengelola kondisi medis, dan memaksimalkan kualitas hidup lansia yang nota bene-nya adalah orang tua mereka. Pada beberapa kasus dapat diketahui bagaimana anggota keluarga belum mengetahui atau tidak memiliki pengetahuan bahkan kesadaran bagaimana cara mendampingi dan mejaga lansia. Hal tersebut juga berimplikasi terhadap kehidupan sosial dan budaya (kultur).
Pemberdayaan lansia ini tentulah tanggung jawab individu, keluarga, masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama. Dengan adanya kesadaran untuk menjadi lansia yang sehat, produktif, bahagia dan bermanfaaat, serta adanya perhatian dan dukungan yang tepat kepada lansia, maka dapat membuka peluang untuk tenciptanya masyarakat yang lebih aktif, inklusif, adil, dan berkelanjutan yang memberikan penghargaan yang layak kepada kontribusi dan pengalaman lansia dalam berbagai aspek kehidupan. BKKBN memberikan tawaran untuk mewujudkan hal tersebut melalui pengetahuan dan penerapan tujuh dimensi lansia tangguh, yaitu dimensi spiritual, dimensi sosial, dimensi emosional, dimensi fisik, dimensi intelektual, dimensi profesional dan kejujuran serta dimensi lingkungan.
Beberapa waktu lalu, penulis bersama Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat, Fatmawati, Ketua Pokja Pembangunan Keluarga, Dedy Agustanto berkesempatan melakukan studi tiru pada Kelompok Bina Keluarga Lansia Delima 1, II, III Gedongan, Kelurahan Purbayan Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta. Pada BKL tersebut telah adanya sekolah lansia yang diinisiasi oleh Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerjasama dengan Indonesia Ramah Lansia (IRL). Sekolah lansia tersebut merupakan program integrasi dengan program BKL yang ada serta posyandu. Pada sekolah tersebut layaknya pada perguruan tinggi dinamakan ada strata satu (S1), strata dua (S2) dan strata tiga (S3). Di mana secara umumnya tingkatan tersebut dibagi beradasarkan fokus pengetahuan dan keterampilan yang dijadikan tujuan. Bila S1 fokus agar lansia dapat memiliki kemampuan dan tuntas terhadap kemandirian diri mereka secara individu. S2 berkembang pada keterlibatan keluarga dan S3 fokus pada keterlibatan dan kebermanfaatan lansia di tengah-tengah kehidupan sosial.
Pada dasarnya substansi pada sekolah lansia yang menjadi inovasi DIY dapat dikatakan senada dengan apa yang menjadi domain dan tujuan yang ada pada program BKL, yaitu bagaimana lansia dapat mengaktualisasikan dirinya secara paripurna dan kebermanfaatanya dapat di rasakan oleh orang lain, terutama bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Tingkat kecemasan yang besar, rasa iba hati yang bersangatan, tingkat stres yang tinggi, merasa tidak berguna dan dianggap menyusahkan merupakan hal-hal yang membuat lansia dianggap menjadi beban, baik merasa bersalah terhadap diri sendiri, ataupun orang-orang yang ada di sekitar mereka.
Maka daripada itu kesadaran dan pengetahuan akan bagaimana keadaan lansia, baik secara fisik maupun psikis, serta mengetahuan bagaimana memperlakukan lansia secara baik merupakan hal yang terpenting untuk dimiliki bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Kesadaran dan pengetahuan serta kemampuan untuk mau menerima keadaan diri adalah menjadi kunci bagi lansia untuk tetap bahagia di masa tuanya. Mestipun tantangan bagi lansia adalah waham kebesaran, meskipun pada waktu-waktu tertentu perlu adanya momen untuk mengingat masa keberhasilan pada masa lalu.
Erik H. Erikson, tokoh psikoanalisa mengungkapkan bahwa usia lansia merupakan fase perkembangan terakhir dari manusia, ego integrity vs despair, yaitu integirtas melawan keputusasaan, sehingga tugas perkembangan lansia adalah tercapainya integritas seseorang yang bermakna bahwa individu tersebut berhasil memenuhi komitmen dalam hubungannya sendiri, bila tidak maka akan adanya rasa keputusasaan. Maka, pada usia lansia cenderung lansia untuk lebih banyak merenung, sangat senang menceritakan masa lalu (nostalgia). Maka kehadiran orang-orang terdekat, masyarakat sebaiknya memiliki kemapuan untuk mengerti dan kemampuan untuk mendengar lansia, setidaknya adanya ‘karso’, keinginan untuk sama, sama- sama ketika ada keinginan untuk mengerti, peduli dan melakukan pengabdian kepada para lansia (orang tua), yaitu saat diri juga suatu nantinya akan pada masa lansia, akan ada pula yang peduli kepada kita, Sophia Loren berujar bahwa sumber awet muda itu adalah pikiran, bakat, kreativitas yang dibawa ke dalam kehidupan dan kehidupan orang yang dicintai. Saat belajar untuk memanfaatkan semuanya itu, kita manusia benar-benar telah mengalahkan usia, maka rawatlah pikiran, akal dan perasaan untuk dapat sehat jiwa raga hingga saat lansia.