• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel Jigsaw Menurut Dari Sudut Pandang Agama Islam.

N/A
N/A
diah mulya

Academic year: 2024

Membagikan "Artikel Jigsaw Menurut Dari Sudut Pandang Agama Islam. "

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1

Pendidikan Agama Islam

INSTITUT ATTAQWA K.H. NOER ALIE BEKASI

Jl. KH. Noer Ali Jl. Ujung Harapan, Bahagia, Kec.

Babelan,

Kabupaten Bekasi, Jawa Barat 17612

Metode Jigsaw Untuk Pembelajaran Dalam Perspektif Al- Qur'an

Mayda Salsabila

Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi E-mail: [email protected]

Mayla Qonita

Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi E-mail: [email protected]

Nadia Safitri

Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi Email: [email protected]

Metode Jigsaw Untuk Pembelajaran Dalam Perspektif Al- Qur'an

Abstrak

Upaya peningkatan prestasi belajar siswa juga tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya, dalam hal ini, diperlukan guru yang kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh siswa. Sebagai salah satu metode yang dapat mengatasi fenomena tersebut adalah menerapkan metode jigsaw. Metode jigsaw

(2)

2

adalah strategi kerja kelompok yang terstruktur didasarkan pada kerjasama dan tanggung jawab.

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 5-6 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mampu meningkatkan minat dan prestasi belajar karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis terhadap suatu pokok permasalahan dan menemukan suatu konsep secara langsung dari hasil analisis.

Kata Kunci : Upaya peningkatan prestasi belajar siswa, Metode jigsaw, Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.

Abstract

Efforts to improve student learning achievement are also inseparable from various factors that influence it, in this case, creative teachers are needed who can make learning more interesting and liked by students. As one method that can overcome this phenomenon is to apply the jigsaw method. The jigsaw method is a structured group work strategy based on cooperation and responsibility.

Jigsaw type cooperative learning model is a cooperative learning model, students learn in small groups of 5-6 people with attention to heterogeneity, positive cooperation and each member is responsible for learning certain problems from the material provided and conveying the material to other group members. The application of the Jigsaw type cooperative learning model is able to increase interest and learning achievement because it provides opportunities for students to think

(3)

3

critically about a subject matter and find a concept directly from the results of the analysis.

Keywords: Efforts to improve student learning achievement, Jigsaw method, Jigsaw type cooperative learning model.

Pendahuluan

Pendidikan adalah suatu hobi yang bersemangat untuk memajukan pembelajaran dan proses pengajaran sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dalam diri mereka untuk memiliki kekuatan pencerahan spiritual, bimbingan pengendalian, akhlak mulia, kecerdasan, serta keterampilan bahwa mereka sendiri, masyarakat, bangsa dan bangsa, Jamaris Martini (2013:3).

Pada era globalisasi yang terus berkembang, dunia pendidikan menjadi salah satu topik yang menarik perhatian banyak orang, pendidikan merupakan modal yang harus dimiliki oleh semua orang, oleh karena itu dengan latar belakang pendidikan yang baik menunjukkan kualitas yang baik (Pujingsih, 2021).

Perkembangan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan perubahan kondisi dihadapkan pada masa kini, karena pendidikan bertujuan untuk mempersiapkan individu agar mampu menghadapi kehidupan sekarang dan masa depan, agar mereka siap menghadapi masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara lebih cerah (Ulwiyah dan Mumayizah, 2020).

Pendidikan agama Islam dialami oleh siswa di sekolah dimulai dari tahapan kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran dan nila-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, untuk selanjutnya menuju ke tahapan afeksi yakni terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri siswa, dalam arti menghayati dan menyakininya.

Pada tahapan afeksi ini terkait erat dengan kognisi, dalam arti penghayatan dan keyakinan siswa menjadi kokoh jika dilandasi oleh pengetahuan dan pemahamannya terhadap ajaran dan nilai agama Islam, melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam diri siswa dan bergerak untuk mengamalkan dan menaati ajaran Islam (tahapan

(4)

4

psikomotor) yang telah diinternalisasikan dalam dirinya, dengan demikian, akan terbentuk manusia muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia (Muhaimin, 2001: 79).

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan di sekolah adalah hasil belajar. Hasil belajar adalah proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan penilaian hasil belajar. Seperti yang dikemukakan oleh Purwanto, bahwa penilaian dimaksudkan sebagai cermin untuk melihat kembali apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai dan apakah proses belajar mengajar telah berlangsung efektif untuk memperoleh hasil belajar. Hasil belajar merupakan perolehan dari proses belajar siswa sesuai dengan tujuan pengajaran atau pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa hasil belajar merupakan ketercapaian tujuan pembelajaran siswa.

Sedangkan hasil belajar siswa salah satunya dipengaruhi melalui proses belajar itu sendiri.

Metode yang digunakan pendidik dalam memberikan tugas dalam berkelompok belum sepenuhnya berhasil mengembangkan sifat kerja sama aktif, sehingga dalam kelompok siswa hanya sedikit yang berperan.

Akibatnya anggota yang pasif tidak bisa menguasai materi yang dipelajari, maka dari itu bisa berdampak rendahnya hasil belajar peserta didik terkait materi tersebut, dan juga kecenderungan anggota kelompok untuk mempengaruhi peran sosial peserta didik ketika terjadi didalam kelompok atau diluar kelompok (Kusuma, 2018).

Berbagai penelitian menunjukkan model pembelajaran jigsaw lebih baik dari model lainnya. Kesuksesan model pembelajaran jigsaw ditunjukkan oleh dua faktor penting yaitu: dilakukan yang aktif melalui interaksi diskusi kelompok, dan guru berhati-hati dalam merancang dan mengatur pembelajaran (Khar, dkk, 2020).

Pembahasan Metode Jigsaw

Metode jigsaw adalah metode untuk meningkatkan pemahaman siswa dan penerapan pengetahuan, sehingga memungkinkan hasil belajar yang lebih baik. Pembelajaran jigsaw merupakan suatu metode yang digunakan

(5)

5

untuk menghubungkan kelompok-kelompok yang berbeda (group-to-group exchange). Dengan metode ini, siswa belajar secara berkelompok, dimana dalam satu kelompok terdapat seorang ahli yang mendiskusikan materi tertentu (Almara dan Fitriana, 2018).

Model pembelajaran jigsaw adalah suatu variasi model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok, yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar, dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.

Model pembelajaran ini dilaksanakan dengan membentuk kelompok kecil yang terdiri dari 4–6 siswa. Dimana setiap anggota menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya untuk bersama- sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota, sehingga mereka pun harus bekerjasama, saling ketergantungan yang positif, dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari, serta bisa menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Rosman dan Shoimin,2014, 41).

Gambar 1. Metode Pembelajaran Metode Jigsaw

Dari sisi etimologi Jigsaw berasal dari bahasa Inggris yaitu gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah puzzle, yaitu sebuah teka teki yang menyusun potongan gambar. Jadi, pembelajaran metode Jigsaw ini diartikan dengan mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (jigsaw), yaitu siswa melakukan sesuatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.

(6)

6

Menurut H. Isjoni, jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai hasil yang maksimal. Jadi yang dimaksud dengan strategi jigsaw ialah suatu strategi pembelajaran yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai hasil yang maksimal dalam bentuk kelompok kecil.

Dalam hal strategi pembelajaran ini Allah SWT berfirman tentang betapa pentingnya memakai strategi dalam mencapai tujuan pendidikan sebagaimana terdapat dalam firman-Nya :

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

َكِ ب َر ِلْيِبَس ىٰلِا ُعْدُا َوُه َكَّب َر َّنِا ۗ ُنَسْحَا َيِه ْيِتَّل اِب ْمُهْلِد اَج َو ِةَنَسَحْلا ِةَظِع ْوَمْل ا َو ِةَمْك ِحْل اِب

َنْيِدَتْهُمْل اِب ُمَلْعَا َوُه َو ٖهِلْيِبَس ْنَع َّلَض ْنَمِب ُمَلْعَا ud'u ilaa sabiili robbika bil-hikmati wal-mau'izhotil-hasanati wa jaadil-hum billatii hiya ahsan, inna robbaka huwa a'lamu bimang dholla 'ang sabiilihii wa huwa a'lamu bil-muhtadiin

Artinya : "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk."

(QS. An-Nahl 16: Ayat 125)

Di dalam ayat ini terdapat tiga metode atau strategi pembelajaran yaitu hikam ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil, yang kedua, maw’izah al-hasanah Maw’izah al-hasanah merupakan metode penyampaian materi yang lebih menekankan dampak pada mengamalkan materi yang disampaikan itu, dan yang ketiga adalah mujadalah ialah sama dengan mudzakarah atau debat atau diskusi.

Adapun kaitan ayat ini dengan strategi jigsaw adalah dimana strategi jigsaw merupakan gabungan kelompok belajar yang merupakan pengembangan metode mujadalah yang dikolaborasikan dengan penggalan Ayat Al-Qur’an bolehnya berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana berikut :

(7)

7 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

ِا ۗ اًعْيِمَج ُ هاللّٰ ُمُكِب ِتْأَي ا ْوُن ْوُكَت اَم َنْيَا ۗ ِت ٰرْيَخْلا اوُقِبَتْساَف اَهْيِ ل َوُم َوُه ٌةَهْجِ و ٍّ لُكِل َو ىٰلَع َ هاللّٰ َّن

ٌرْيِدَق ٍّءْيَش ِ لُك wa likulliw wij-hatun huwa muwalliihaa fastabiqul-khoiroot, aina maa takuunuu ya-ti bikumullohu jamii'aa, innalloha 'alaa kulli syai-ing qodiir Artinya : "Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 148)

Slavin (2008: 237) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif jigsaw menjadikan siswa termotivasi untuk belajar karena skor-skor yang dikontribusikan siswa kepada tim didasarkan pada sistem skor perkembangan individual, dan siswa yang skor timnya meraih skor tertinggi akan menerima sertifikat atau bentuk-bentuk rekognisi tim yang lain sehingga siswa termotivasi untuk mempelajari materi dengan baik dan untuk bekerja keras serta aktif dalam kelompok ahli supaya dapat membantu timmelakukan tugas dengan baik. Tiap individu memberi kontribusi pada pencapaian tujuan anggota yang lain pada pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

Menurut (Komang et al., 2018) Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan model pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat hingga lima orang siswa dengan struktur kelompok bersifat heterogen.

Materi pembelajaran yang diberikan kepada siswa berupa teks dan setiap anggota bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari. Teknik ini serupa dengan pertukaran antar kelompok.

Tiap siswa mempelajari setiap bagian yang bila digabungkan akan membentuk pengetahuan yang padu. Para anggota dari kelompok asal yang berbeda bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok untuk berdiskusi

(8)

8

dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali kepada kelompok asal dan berusaha mengajarkan pada teman sekelompok nya apa yang mereka dapatkan saat pertemuan di kelompok ahli.

Tujuan Pembelajaran Jigsaw

Berdasarkan penjelasan dari para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran jigsaw adalah proses belajar siswa secara kelompok, dan saling bekerja sama dalam mempelajari suatu materi yang di berikan, serta materi yang sudah dikuasai harus disampaikan kepada anggota kelompok lain.

Ada tiga tujuan model pembelajaran jigsaw menurut Ibrahim & Nana (2000), yaitu :

1. Hasil belajar akademik, dalam belajar kooperatif salain mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis.

2. Penerimaan terhadap perbedaan individu, penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, dan kelas sosial, kemampuan dan ketidakmampuannya.

3. Pengembangan keterampilan sosial, mengajarkan pada siswa keterampilan bekerja sama, keterampilan komunikasi dan kolaborasi dengan siswa lainnya.

Hal tersebut pun sejalan dengan yang dikemukakan oleh Trianto (2010:57), yaitu tujuan model pembelajaran jigsaw adalah memaksimalkan belajar siswa untuk meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman, baik secara individu maupun secara kelompok. Karena para siswa bekerja dalam suatu tim, maka dengan sendirinya mereka dapat memperbaiki hubungan di antara para siswa dari berbagai latar belakang, etnis dan kemampuan, serta mengembangkan keterampilan-keterampilan individu maupun kelompok dan pemecahan masalah.

(9)

9

Metode pembelajaran Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aroson dan teman-teman dari Universitas Texas, dan diadopsi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Trianto, 2010: 73).

Metode yang dikembangkan oleh Elliot Aronson dkk dari Universitas Texas yang kemudian diadaptasi oleh Slavin dkk ini mempunyai tujuan:

1. Mengembangkan kerja sama tim (kelompok) 2. Mengasah keterampilan belajar kooperatif

3. Menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak bisa diperoleh jika mempelajarinya sendirian

Ciri-ciri Pembelajaran Jigsaw

Secara rinci, karakteristik atau ciri-ciri model pembelajaran jigsaw, antara lain:

1. Cara siswa bekerja sama dalam kelompok kooperatif untuk menuntaskan materi yang dipelajari.

2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan berpikir tinggi, sedang, dan rendah.

3. Bila memungkinkan, anggota kelompok dibentuk berdasarkan siswa dengan ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda- beda dan,

4. Penghargaan diberikan pada kelompok daripada individu.

Esensi dari model pembelajaran jigsaw adalah tanggung jawab individu, sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Slavin (2015:2) tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif, yaitu (1) penghargaan kelompok, (2) pertanggungjawaban individu, dan (3) kesempatan yang sama untuk berhasil.

Manfaat Pembelajaran Jigsaw

Penerapan model pembelajaran jigsaw ini tentunya memiliki segudang manfaat, seperti dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa,

(10)

10

meningkatkan kerja sama antara siswa, tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan, melatih keterampilan berkomunikasi siswa dengan anggota kelompoknya, serta menjadi siswa yang ahli dalam tugas yang diberikan.

Berikut manfaat model pembelajaran jigsaw yang memiliki pengaruh posistif terhadap perkembangan anak.

1. Meningkatkan hasil belajar, 2. Meningkatkan daya ingat,

3. Dapat digunakan untuk mencapai daya penalaran siswa dalam tingkat tinggi,

4. Mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik (kesadaran individual),

5. Meningkatkan hubungan antar manusia yang heterogen, 6. Meningkatkan sikap positif siswa terhadap sekolah dan guru, 7. Meningkatkan harga diri anak,

8. Meningkatkan perilaku siswa terhadap penyesuaian sosial yang positif dan meningkatkan keterampilan hidup bergotong royong

Langkah-langkah Metode Jigsaw

Berikut ini langkah-langkah metode jigsaw, diantaranya:

1. Guru membagi topik yang besar menjadi beberapa subtopik.

2. Siswa dibagi ke dalam kelompok belajar kooperatif (kelompok awal) yang terdiri dari 4-6 orang siswa dan setiap anggotanya bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya.

3. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggung jawab terhadap subtopik yang sama kemudian berpindah ke

“kelompok jigsaw” dimana anggotanya berasal dari kelompok lain yang telah menguasai bagian tugas yang berbeda.

4. Di dalam kelompok jigsaw ini, para siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) Belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; b) Merencanakan

(11)

11

bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula.

5. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masingmasing (kelompok awal) sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi/pengetahuan yang baru mereka pelajari dalam kelompok “Jigsaw” tadi kepada temannya.

6. Ahli di dalam subtopik lainnya juga berbuat sama sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. (Silberman, 1996: 193-194.)

Gambar 2. Langkah-Langkah Dalam Metode Jigsaw Kelebihan dan Kekurangan Strategi Jigsaw

Adapun kelebihan strategi jigsaw adalah :

1. Dapat menambah kepercayaan siswa akan kemampuan berpikir kritis

2. Setiap siswa akan memiliki tanggung jawab akan tugasnya 3. Mengembangkan kemampuan siswa mengungkapkan ide atau

gagasan dalam memecahkan masalah tanpa takut membuat salah

4. Dapat meningkatkan kemampuan sosial, mengembangkan rasa harga diri dan

5. Hubungan interpersonal yang positif

6. Waktu pembelajaran lebih efektif dan efisien

(12)

12

7. Dapat berlatih berkomunikasi dengan baik

8. Melibatkan seluruh siswa atau mahasiswa dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain.

Gambar 3. Kelebihan Pembelajaran Metode Jigsaw

Strategi jigsaw ini dapat menambah kepercayaan siswa, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap perbuatannya, serta ia juga bisa mengembangkan kemampuannya dalam memecahkan masalah dan tanpa takut membuat salah. Strategi ini juga bisa melatih siswa berkomunikasi dengan baik.

Adapun kekurangannya ialah :

1. Memerlukan waktu yang relatif lama 2. Tidak efektif untuk siswa yang banyak

3. Memerlukan perhatian dan pengawasan ekstra ketat dari guru 4. Memerlukan persiapan yang matang

Kekurangan strategi jigsaw ini memerlukan waktu yang lama, dan tidak efektif kalau digunakan untuk siswa yang banyak, karena bisa saja semua siswa itu tidak terlibat, dan strategi ini juga memerlukan pengawasan yang ketat dan persiapan yang matang.

(13)

13 Kesimpulan

Metode Jigsaw merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dengan menekankan kerja sama dan tanggung jawab dalam kelompok. Melalui pembelajaran ini, siswa belajar dalam kelompok kecil yang beragam, dimana setiap anggota memiliki tanggung jawab untuk menguasai dan menyampaikan bagian materi tertentu kepada rekan kelompok lainnya. Penerapan metode ini dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa, serta mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi. Dengan memfasilitasi interaksi yang positif, siswa didorong untuk berpikir kritis dan aktif dalam proses pembelajaran. Meskipun ada beberapa kekurangan, seperti kebutuhan waktu dan persiapan yang lebih, manfaat jigsaw dalam menciptakan suasana belajar yang kolaboratif dan menyenangkan sangat signifikan. Metode ini sejalan dengan nilai- nilai dalam Al-Qur'an yang mendorong kerja sama dan saling membantu dalam kebaikan, sehingga dapat menjadi alternatif yang tepat dalam pendidikan modern.

(14)

14 Saran

Disarankan untuk mengintegrasikan metode Jigsaw ke dalam kurikulum yang lebih luas, sehingga siswa dapat merasakan manfaatnya di berbagai mata pelajaran. Materi yang dirancang khusus untuk pembelajaran kooperatif juga perlu diperhatikan. Serta penggunaan sistem penilaian yang mencerminkan kontribusi individu dan kelompok dalam pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan motivasi siswa. Penilaian formatif dan umpan balik yang konstruktif sangat penting. Penulis mengharapkan juga kritik dan saran dari pembaca untuk masukan penulisan jurnal berikutnya.

(15)

15 DAFTAR PUSTAKA

Zain Fannnani. “Tafsir Surat An-Nahl Ayat 125 (Kajian Tentang Metode Pembelajaran).” Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah, 2014.

Sugiyono. Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV. Alfabeta, 2015

Brace, T., & Nusser, J. (2021). Guided Brainstorming: A Method for Solving Ergonomic Issues. Professional Safety, 66(04), 35–39.

Febri, A., Sajidan & Sarwanto, 2019. Analysis of Students’ Critical Thinking Skills at Junior High School in Science Learning. Journal of Physics:

Conference Series, 1397(1). Forsyth, D. R. (2014). Group Dynamics. Wadsworth Cengage Learning; /z-wcorg/.

Ali Hamzah,. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi. Bandung:

ALFABETA cv, 2014

Syukri, Metode Khusus Pendidikan Dan Pembelajaran Agama Islam, Mataram: Kencana, 2019.

Nurdyansyah, Eny Fariyatu Fahyuni, Inovasi Model Pembelajaran Sesuai Kurikulum 2013, Siduarjo: Nizamia Learning Center: 2016. Al-Aliyy, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Bandung: Diponogoro.

Farikah et al. (2019) ‘The Integration of Innovation in Education Technology to Improve the Quality of Website Learning in Industrial Revolution Era 4.0 Using Waterfall Method’, in Journal of Physics: Conference Series.

https://iopscience.iop.org/journal/1742-6596, pp. 0–5. doi: 10.1088/1742 6596/1364/1/012045.

Agustiningrum, M. D. B. et al. (2020) ‘Strategi Pengembangan Motorik Anak Usia 5-8 Tahun dan Penanaman Karakter Tanggung Jawab Melalui Tari Nawung Sekar’, 1(1), pp. 15–21.

Sardiman, A.M. 2014, Intraksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta:

Rajawali Pers.h-16

Meningkatkan, D., Belajar, M., Prestasi, D., Siswa, B., & Mardliyah, A.

(2015). Metode Jigsaw SoluSi AlternAtiF (Vol. 10, Issue 2).

Pendidikan dan Studi Islam, J., Habibi Muhammad, D., Alfarizi Risalah, S.,

& Alfarizi, S. (2023a). Metode Jigsaw dalam Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (Indahnya Saling Menghargai Keragaman). 9(2).

https://doi.org/10.31943/jurnal_risalah.v9i2.481

Pendidikan dan Studi Islam, J., Habibi Muhammad, D., Alfarizi Risalah, S.,

& Alfarizi, S. (2023b). Metode Jigsaw dalam Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan

(16)

16

Agama Islam (Indahnya Saling Menghargai Keragaman). 9(2).

https://doi.org/10.31943/jurnal_risalah.v9i2.481

Cahya Saputra, R., & Efita Sari, D. (n.d.). Metode Pembelajaran Perspektif Al-Qur’an yang Efektif untuk Pembelajaran Generasi Milenial.

Mubarak, F. (n.d.). Metode Pengajaran dalam Perspektif Al-quran (Tinjauan QS. An-Nahl Ayat 125). https://doi.org/10.52266/Journal

Nurdin, O. :, Bdk, W., & Aceh, P. (n.d.). IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN DALAM AL-QUR’AN BAGI PENDIDIK ERA MILENIAL.

Subur. (n.d.). MATERI, METODE, DAN EVALUASI PEMBELAJARAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN.

Muhammad Zakir. “Metode Mengajar Dalam Pendidikan Islam (Kajian Tafsir Tarbawi).” Serambi Tarbawi: Jurnal Studi Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan Islam 5, no. 2 (2016).

Referensi

Dokumen terkait

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Seperti

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang dalam kelompok

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang secara

Model pembelajaran kooperatif tipe JIgsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen

Model pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4  –  6 orang secara

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan