Analisis Kadar Protein, Kadar Lemak dan Kadar Karbohidrat pada Cookies Merek Good Time
Analysis of Protein Content, Fat Content and Carbohydrate Content in Good Time Brand Cookies
Arini Alva Mawaddah1, Rina Yenrina2, Anesti Viantika Gea3, Qurrata A’yun3
1Jum’at-E Student of Food Technology and Agricultural Product, 2Lecturer of Food Technology and Agricultural Product, 3KBHP Laboratory Asisstant of Food Technology and Agricultural Product Faculty of Agricultural
Technology, Andalas University, Kampus Limau Manis-Padang, Indonesia 25163 Email : [email protected]
ABSTRACT
Cookies are a type of biscuit made from soft, crunchy dough and have high breakability. Cookies can be produced by large industries or home industries. Knowledge is needed about the quality of ingredients and nutritional value of cookie products that will be consumed. Which can be known through proximate analysis including water content, ash content, protein content and fat content. This practicum aims to determine the method and amount of protein content, fat content, and carbohydrate content of cookies using the kjeldahl, soxhlet and by difference methods. It was obtained that the protein content of cookies was 3.65% The protein content of Good Time brand cookies has not met SNI 2973: 2018 with a minimum requirement of 4.5%. The protein content of cookies can be influenced by the type of wheat flour used. In the analysis of fat content cookies obtained results of 31.63% which can be influenced by the use of margarine and eggs. While the carbohydrate content of cookies is obtained at 58.58% which is influenced by the number of other components in the form of water content, ash content, fat content and protein content.
Keywords: protein content, fat content, carbohydrate content, wheat flour, cookies
I. PENDAHULUAN
Cookies merupakan salah satu jenis biskuit yang terbuat dari adonan lunak, renyah dan jika dipatahkan penampangnya akan memperlihatkan tekstur yang kurang padat (BSN, 2018). Cookies memiliki ukuran yang kecil, datar dan manis. Secara umum, cookies terbuat dari tiga bahan utaa yaitu tepung, gula dan mentega. Dalam pembuatan cookies biasanya digunakan tepung terigu jenis soft wheat dengan kandungan protein 8-9% (Alifianita & Sofyan, 2022).
Cookies sering dijadikan sebagai makanan ringan atau makanan penutup yang dapat diproduksi baik secara massal maupun dibuat sendiri. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan terkait kualitas suatu bahan makanan dan nilai gizi cookies melalui analisis kadar makronutrien. Analisis kadar makronutrien dapat dilakukan dilakukan dengan analisis proksimat, yaitu analisis kasar yang meliputi kadar abu total, air total, lemak total, protein total dan karbohidrat total (Musfiroh, Indriyati, Muchtaridi, & Setiya, 2007).
Kadar protein adalah jumlah protein yang ada dalam sampel seperti makanan atau bahan pangan.
Protein merupakan zat gizi makro yang tersusun atas unsur C,H,O dan N. protein merupakan zat gizi yang
penting bagi tubuh manusia karena merupakan salah satu sumber energi yang mengandung 4 kkal. Selain itu protein juga berperan dalam pembentukan jaringan dan pengatur metabolisme tubuh. Salah satu metode penetapan kadarr protein adalah metode kjeldahl.
Metode ini berdasarkan pada pengukuran kdar nitrogen total yang ada di dalam sampel. Kandungan protein dapat dihitung dengan membandingkan antara protein terhadap nitrogen sampel yang akan dianalisis. Prinsip dari metode ini adalah berdasarkan oksidasi bahan berkarbon dan konversi nitrogen menjadi amonia.
Metode penentuan kadar protein ini terdiri dari tiga proses yaitu destruksi, destilasi dan titrasi (Yenrina, 2015).
Kadar lemak merujuk kepada jumlah lemak dalam suatu makanan atau bahan pangan. Lemak termasuk dalam golongan lipid bersama dengan minyak.
Lemak atau minyak merupakan salah satu sumber energi yang efektif dibandingkan dengan protein dan karbohidrat karena menghasilkan 9 kkal. Lemak dan minyak sebagai bahan pangan dapat dibagi menjadi dua yaitu lemak yang siap konsumsi tanpa dimasak dan lemak yang dimasak bersama bahan pangan (Mulyani &
Sujarwanta, 2018).
Berdasarkan kejenuhannya lemak terbagi dua yaitu lemak jenuh dan lemak tak jenuh. Lemak jenuh memiliki rantai hidrokarbon berikatan tunggal dan berwujud padat. Sedangkan lemak tak jenuh memiliki rantai hidrokarbon berikatan rangkap dan berwujud padat. Dalam menentukan kadar lemak dapat digunakan metode ekstraksi soxhlet. Prinsip dari metode ini adalah menghitung persentase lemak setelah diekstrak dengan pelarut non polar dan diuapkan (Yenrina, 2015).
Karbohidrat merupakan zat gizi makro organik yang tersusun atas unsur C,H dan O. karbohidrat berperan sebagai penghasil energi sebanyak 4 kkal, pemberi rasa manis, penghemat protein, pengatur metabolisme lemak dan membantu dalam pengeluaran feses. Karbohidrat terbagi dua yaitu karbohidrat yang dapat dicerna dan karbohidrat yang tidak dapat dicerna oleh enzim α-amilase di sistem pencernaan. Salah satu metode penentuan karbohidrat dengan cara perhitungan kasar (analisis proksimat) yaitu menggunakan metode by difference. Prinsip dari metode ini adalah pengurangan angka 100 dengan presentase komponen lain (air, abu, protein dan lemak). Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui metode penentuan kadar protein, lemak dan karbohidrat serta mengetahui jumlah kadar protein, lemak dan karbohidrat dalam sampel makanan berupa cookies.
II. METODE PRAKTIKUM 2.1 Tempat dan Waktu
Praktikum ini telah dilaksanakan di Laboratorium Kimia, Biokimia Hasil Pertanian dan Gizi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Minggu, 8 Oktober 2023.
2.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah timbangan analitik, spatula lab, labu kjeldahl, labu erlenmeyer, kompor listrik, labu ukur, pipet volume, corong, boult, pipet tetes, buret, pemanas, kjeldahl trap, kondensor, labu lemak, soxhlet, oven, dan kertas saring, pipet tetes, destruktor, destilator, staples, gegep, cawan alumunium dan desikator.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah cookies dengan merek Good Time, campuran selen, H2SO4, aquades, NaOH 30%, asam borat 3%, indikator BCG:MM, HCl, dan heksana.
2.3 Pelaksanaan Praktikum 2.3.1 Prosedur Analisis Kadar Protein
Prosedur kerja untuk analisis kadar protein dapat dilihat pada diagram alir berikut.
2.3.2 Prosedur Analisis Kadar Lemak
Prosedur kerja untuk analisis kadar protein dapat dilihat pada diagram alir berikut.
Sampel ditimbang 1 g
Ditambahkan 1,5 g campuran selen dan 15 mL H2SO4 (p)
Destruksi sampai didapatkan larutan jernih ±2 jam, lalu diginkan
Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL Ditambahkan aquades sampai tanda tera Dipipet 10 mL dan dimasukkan ke labu kjeldahl
Dihomogenkan Ditambahkan 25 mL NaOH 30%
Didestilasi pada suhu 105°C
Pada bagian penampung diisi 25 mL larutan borat 3%
yang telah berisis indikator BCG:MM Destilasi dilakukan sampai terjadi perubahan
warna larutan secara sempurna Larutan borat dititrasi dengan HCl 0,02 N
Kertas saring ditimbang dan ditambahkan sampel ± 3 g dan dibungkus (Timbel)
Ditimbang labu lemak kosong
Dipasang alat (soxhlet)
Ditambahkan pelarut heksana
Dipanaskan ± 2,5 jam (10-15 kali sirkulasi)
Timbel diangkat
Pelarut diuapkan ± 10 menit dan ditampung Labu dimasukkan ke dalam oven dan labu ditimbang
setelah dioven
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Praktikum
3.1.1 Hasil Pengamatan Kadar Protein pada Cookies Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh data dan hasil perhitungan analisis kadar protein cookies pada Tabel 1 dibawah ini.
Tabel 1. Data Pengamatan Analisis Kadar Protein
No Jenis Data Hasil
1 Volume titrasi HCl bahan uji (mL) 2,5 2 Volume titrasi HCl blanko 0,1526
3 Berat bahan uji (mg) 1.027,9
4 Normalitas HCl 0,02
5 Fp 10
6 Faktor konversi 6,25
Penentuan kadar protein pada cookies dapat dihitung menggunakan rumus berikut.
%N= ( mL HCl sampel-mL HCL blanko ) ×N HCl ×Fp ×14,007 ×100%
sampel \(mg\)
Perhitungan kadar protein:
%N= ( mL HCl sampel-mL HCL blanko ) ×N HCl ×Fp ×14,007 ×100%
sampel \(mg\)
%N= ( 2,5-0,1526 ) × 0,02 × 10 ×14,007 ×100%
1.027,9
%N = 0,64 % Diketahui :
Faktor konversi = 5,7 (BSN, 2018a)
% Protein=% N×Faktor Konversi
= 0,64% × 5,7
¿ 3 ,65 %
3.1.2 Hasil Pengamatan Kadar Lemak pada Cookies Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh data dan hasil perhitungan analisis kadar protein cookies pada Tabel 2 dibawah ini.
Tabel 2. Data Pengamatan Analisis Kadar Lemak
No Jenis Data Hasil
1 Berat labu lemak kosong
(W0), g 100,4786
2 Berat bahan uji (W1), g 3,0139 3 Berat labu lemak setelah
proses ekstraksi dan dikeringkan pelarutnya (W2), g
101,4318
Penentuan kadar lemak pada cookies dapat dihitung menggunakan rumus berikut.
Kadar lemak \( %bb\)= W 2 \(g\) - W0 \(g\) × 100%
W1 \(g\)
Keterangan:
W0 = berat kosong (g)
W1 = berat sampel (g) W2 = berat setelah dioven (g) Perhitungan kadar lemak:
Kadar lemak \(%bb\) = W 2 \(g\) - W0 \(g\) × 100%
W1 \(g\)
= ( 101,4318 - 100,4786 \) × 100%
3,0139 = 31 , 63 %
3.1.3 Hasil Pengamatan Kadar Karbohidrat pada Cookies
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh data dan hasil perhitungan analisis kadar karbohidrat cookies pada Tabel 3 dibawah ini.
Tabel 3. Data Pengamatan Analisis Kadar Karbohidrat
No Jenis Data Hasil (%)
1 Kadar air 3,325
2 Kadar abu 2,33
3 Kadar protein 4,00
4 Kadar lemak 31,77
Penentuan kadar karbohidrat pada cookies dapat dihitung secara by difference menggunakan rumus berikut.
Kadar karbohidrat(%) = 100% - (Ka+Ku+Kp+Kl) Keterangan:
Ka = Kadar air Ku = Kadar abu Kp = Kadar protein Kl = Kadar lemak
Perhitungan kadar karbohidrat by difference:
Kadar karbohidrat(%) = 100% - (Ka+Ku+Kp+Kl) = 100% - (3,325+2,33+4,00+ 31,77) = 100% - 41,425 %
= 58,575 %
3.2 Pembahasan 3.2.1 Analisis Kadar Protein pada Cookies
Berdasarkan data hasil pengamatan dan perhitungan kadar protein pada cookies merek Good Time diperoleh nilai kadar protein sebesar 3,65%. Nilai ini diperoleh dari hasil perkalian persen nitrogen dengan faktor konversi tepung terigu sebesar 5,70 (Egayanti, M., Ramadhani, & Achmad, 2019). Berdasarkan hasil perhitungan nilai kadar protein yang diperoleh belum memenuhi standar SNI 2973:2018 tentang biskuit dimana batas minimal kadar protein sebesar 4,5%
sedangkan nilai yang diperoleh sebesar 3,65% yang lebih rendah dibandingkan standar minimun SNI (BSN, 2018).
Rendahnya kadar protein pada sampel cookies yang diamati dapat dipengaruhi oleh beberapa hal dimana faktor utamanya adalah bahan yang digunakan dalam pembuatan cookies yaitu tepung terigu. Dalam
pembuatan cookies yang tidak mengutamakan volume atau kekenyalan digunakan tepung terigu protein rendah jenis soft wheat. Tepung terigu protein rendah mengandung 8-10% protein dengan kadar gluten basah sebesar 21-27%. Tepung terigu protein rendah memiliki breakdown atau daya patah yang lebih cepat dan daya serap air yang rendah dibandingkan tepung terigu protein tinggi (Kusnandar, Danniswara, &
Sutriyono, 2022). Berdasarkan SNI 3751:2018 tentang tepung terigu persyaratan mutu tepung terigu dari aspek protein dengan persentase minimal sebesar 7% (BSN, 2018). Berdasarkan penelitian tentang karakteristik cookies dari terigu dan tepung jagung fermentasi diperoleh hasil bahwa tepung terigu memiliki kadar protein sebesar 6,85%. Nilai ini juga menunjukkan belum tercapainya standar nasional persyaratan mutu tepung terigu dari aspek protein. Rendahnya kadar protein pada tepung terigu disebabkan oleh rendahnya kandungan protein dan glutennya yang menyebabkan rendahnya kadar protein cookies (Handito, Basuki, Saloko, Cicilia , & Suardani, 2022).
Jika dilihat dari prosesnya berdasarkan penelitian Rina Ispitasari dan Haryanti (2022) menyatakan bahwa waku destilasi sampel tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil analisis kadar protein dimana pada proses destilasi ini terjadi pemisahan komponen sehingga diperoleh destilat yang semakin murni. Rendahnya kadar protein cookies menunjukkan belum tercukupinya nutrisi cookies dari aspek protein tetapi masih dapat diterima oleh konsumen selama masih memenuhi standar kualitasnya berupa tekstur dan rasa.
Dalam bahan pangan, kadar air dan kadar protein saling berkaitan dimana dengan mengurangi kadar air pada bahan pangan maka konsentrasi protein dalam kasus ini pada cookies akan meningkat. Pada penelitian yang dilakukan terhadap ikan lele asin, diketahui bahwa waktu pengeringan secara signifikan mempengaruhi perubahan kadar air, kadar protein dan uji organoleptik dimana kadar air pada ikan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kadar proteinnya (Yuarni, Kadirman, & Jamaluddin, 2015). Hal tersebut dapat kita hubungkan dengan cookies dimana dalam proses pengolahannya cookies melalui proses pemanggangan sehingga dihasilkan tekstur yang kering dan renyah. Berdasarkan hasil analisis kadar air dan kadar protein dapat dilihat bahwa kadar air cookies lebih rendah yaitu sebesar 3,3255 dibandingkan kadar protein sebesar 3,65%. Hal ini juga dapat terjadi karena protein dapat menyerap air saat proses pengovenan karena adanya gugus karboksil pada protein (Izza, Hamidah, &
Ira, 2019).
Berdasarkan penelitian tentang substitusi tepung terigu dengan tepung kentang hitam diperoleh hasil bahwa penggunaan tepung kentang hitam menyebabkan penuruna kadar air, protein, dan lemak serta peningkatan kadar abu. Hal ini dapat terjadi karena kentang hitam mengandung mineral yang tinggi (Cicilia, Basuki, Prarudiyanto, Alamsyah, & Handito, 2018). Pada cookies diperoleh kadar abu sebesar 2,33%
sedangkan kadar protein sebesar 3,65%. Berdasarkan nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar abu dan protein memiliki hubungan berbanding terbalik dimana rendahnya kadar mineral pada cookies dapat meningkatkan kadar protein dan sebaliknya.
3.2.2 Analisis Kadar Lemak pada Cookies
Berdasarkan data pengamatan dan hasil perhitungan kadar protein pada cookies merek Good Time diperoleh nilai kadar protein sebesar 31,63%.
Berdasarkan penelitian (Mahirdini & Afifah, 2016) tentang pengaruh substitusi tepung terigu dengan tepung porang diperoleh kadar lemak sebesar 33,30% dengan persentasi tepung terigu sebanyak 100%. Hasil analisis yang dilakukan pada saat praktikum mendekati nilai kadar lemak pada penelitian tersebut. Sedangkan pada penelitian karakteristik cookies dari tepung terigu dan tepung jagung fermentasi diperoleh kadar lemak cookies dengan persentase 100% tepung terigu sebesar 15,98%. Pada penelitian ini juga dinyatakan bahwa tepung terigu memiliki kadar lemak sebesar 6,17%
(Handito et al., 2022). Jika dibandingka dengan syarat mutu cookies USDA (2013) maka cookies merek Good Time memenuhi syarat mutunya karena telah mencapai minimum 24,72%.
Penambahan lemak dalam makanan memberikan efek rasa lezat dan tekstur makanan menjadi lembut serta gurih. Kadar lemak yang terlampau tinggi selain menjadi pertimbangan faktor gizi juga dapat mempengaruhi proses penyimpanan cookies karena dapat menyebabkan ketengikan. Selain itu penambahan lemak yang berlebih dapat menyebabkan tekstur cookies menjadi rapuh (Taufik, Saveline, Susnita, & Aida, 2019). Kadar lemak cookies dapat dipengaruhi oleh penambahan margarin dan telur dalam pembuatan cookies karena margarin mengandung sejumlah lipid dimana sebagian dari lipid tersebut terdapat bentuk terikat lipoprotein dan jika ditambahkan pada adonan, maka adonan tersebut akan memiliki kadar lemak yang tinggi.
Dalam bahan pangan, kadar air dan kadar lemak memiliki hubungan yang berbanding terbalik dimana semakin tinggi lemak dalam cookies maka semakin rendah kadar airnya yang terlihat pada tekstur c ookies yang lebih keras dan kering. Lemak adalah molekul hidrofobik yang tidak dapat bercampur dengan air. Pada cookies, lemak berperan sebagai pembungkus molekul air sehingga mencegah terjadinya proses penguapan selama proses pengovenan. Dalam pengolahannya cookies dioven selama 25 menit dengan suhu 180-200°C. Lama waktu pengovenan dan suhu yang digunakan dapat merusak lemak sehingga penguapan air dapat terjadi menghasilkan cookies dengan kadar air yang rendah (Izza et al., 2019).
Sedangkan antara kadar abu dan kadar lemak juga memiliki hubungan yang berbanding terbalik. Hal ini berdasarkan pada bahan yang digunakan yaitu tepung terigu dimana kadar abu pada tepung terigu jauh lebih rendah dibandingkan dengan kadar lemaknya.
3.2.3 Analisis Kadar Karbohidrat pada Cookies Berdasarkan data hasil pengamatan dan perhitungan kadar karbohidrat menggunakan metode by difference diperoleh nilai kadar karbohidrat sebesar 58,575% atau 58,58%. Kadar karbohiidrat pada cookies dengan perhitungan metode by difference dipengaruhi oleh komposisi nutrisis lain seperti protein, lemak, air dan abu. Semakin tinggi komponen nutrisi lain maka kadar karbohidrat semakin rendah dan sebaliknya jika komponen nutrisi lain semakin rendah maka kadar karbohifdrat semakin tinggi. (Wulandari & Setiani, 2016).
Berdasarkan penelitian (Taufik et al., 2019) tentang formulasi cookies berbahan tepung terigu dan tepung tempe dengan penambahan tepung pegagan diperoleh hasil kadar karbohidrat cookies pada variabel control dengan penggunaan tepung terigu sebanyak 100% yaitu sebesar 61,91%. Hasil analisis yang diperoleh saat praktikum hamper mendekati hasil analisis pada penelitian ini.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan:
1. Kadar protein dalam suatu sampel bahan pangan dapat ditentukan mengggunakan metode kjeldahl dengan menghitung kadar nitrogennya kemudian dikalikan dengan faktor konversi sesuai bahan yang diuji.
2. Kadar protein pada sampel cookies merek Good Time sebesar 3,65%.
3. Kadar lemak dapat ditentukan menggunakan metode soxhlet dimana jumlah lemak dalam bahan pangan dihitung berdasarkan hasil ekstrak dengan pelarut non polar dan diuapkan.
4. Kadar lemak pada sampel cookies merek Good Time sebesar 31,63%.
5. Penentuan kadar karbohidrat pada sampel pangan dapat ditentukan menggunakan metode by difference.
6. Kadar karbohidrat pada sampel cookies merek Good Time sebesar 58,58%.
7. Kadar karbohidrat berhubungan dengan kadar protein, lemak, air dan abu dimana jika keempat komponen tersebut bernilai tinggi maka kadar karbohidrat bernilai rendah dan sebaliknya.
4.2 Saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, praktikan menyarankan:
1. Berhati-hati dalam penggunaan alat laboratorium.
2. Periksa kondisi alat yang digunakan sebelum dipakai.
3. Praktikan memahami prinsip pengujian dan fungsi reagen yang digunakan.
4. Praktikan memahami cara penggunaan alat laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Alifianita, N., & Sofyan, A. (2022). Kadar air, Kadar protein, dan Kadar Serat Pangan pada Cookies dengan Substitusi Tepung Ubi Jalar Ungu dan Tepung Rebung. Jurnal Pangan Dan Gizi, 12(2), 37–45.
BSN. (2018). SNI 2973: 2018 Biskuit. Badan Standarisasi Nasional (BSN).
BSN. (2018). Tepung terigu sebagai bahan makanan.
Badan Standarisasi Nasional (BSN).
Cicilia, S., Basuki, E., Prarudiyanto, A., Alamsyah, A.,
& Handito, D. (2018). Pengaruh Substitusi Tepung Terigu dengan Tepung Kentang Hitam (Coleus tuberosus) Terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Cookies. Pro Food, 4(1), 304- 310.
Egayanti, Y., M., P. Y., Ramadhani, M. P., & Achmad, H. N. (2019). Pedoman Evaluasi Mutu Gizi dan Non Gizi Pangan. Jakarta: Direktorat Standardisasi Pangan Olahan.
Handito, D., Basuki, E., Saloko, S., Cicilia , S., &
Suardani, N. K. (2022). Karakteristik Cookies dari Terigu dan Tepung jagung Fermentasi.
LPPM Universitas Mataram, 4, 197-206.
Ispitasari, R., & Haryanti, H. (2022). Pengaruh Waktu Destilasi terhadap Ketepatan Uji Protein Kasar pada Metode Kjeldahl dalam Bahan Pakan Ternak Berprotein Tinggi. Indonesian Journal of Laboratory, 5(1), 38.
Izza, N. K., Hamidah, N., & Ira, Y. (2019). Kadar Lemak dan Air Pada Cookies dengan Substitusi Tepung Ubi Ungu dan. Jurnal Gizi, 8(2), 106- 114.
Kusnandar, F., Danniswara, H., & Sutriyono, A. (2022).
Pengaruh Komposisi Kimia dan Sifat Reologi Tepung Terigu terhadap Mutu Roti Manis. Jurnal Mutu Pangan : Indonesian Journal of Food Quality, 9(2), 67–75.
Izza, N. K., Hamidah, N., & Ira, Y. (2019). Kadar Lemak dan Air Pada Cookies dengan Substitusi Tepung Ubi Ungu dan. Jurnal Gizi, 8(2), 106- 114.
Mahirdini, S., & Afifah, D. N. (2016). Pengaruh substitusi tepung terigu dengan tepung porang (amorphophallus oncopphyllus) terhadap
kadar protein, serat pangan, lemak, dan tingkat penerimaan biskuit. Jurnal Gizi Indonesia, 5(1), 42-49.
Musfiroh, I., Indriyati, W., Muchtaridi, & Setiya, Y.
(2007). Analisis Proksimat dan Penetapan Kadar - Karoten dalam Selai Lembaran Terung Belanda (Cyphomandra betacea Sendtn) Dengan Metode Spektrofotometri Sinar Tampak. Jurnal Farmasi, 1(1), 1-8.
Taufik, M., Saveline, Susnita, S., & Aida, D. Q. (2019).
Formulasi Cookies Berbahan Tepung Terigu dan Tepung Tempe dengan Penambahan Tepung Pegagan. Jurnal Agroindustri Halal, 9-16.
USDA. (2013). National Nutrient Data Base fo Standard Basic Report 20649, Tapioca, pearl, dry. The national Agricultural Library.
Wulandari, F. K., & Setiani, B. E. (2016). Analisis Kandungan Gizi, Nilai Energi, dan Uji Organoleptik Cookies Tepung Beras dengan Substitusi Tepung Sukun. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 5(4), 107-112.
Yenrina, R. (2015). Metode Analisis Bahan Pangan Dan Komponen Bioaktif. In Andalas University Press.
Yuarni, D., Kadirman, & Jamaluddin. (2015). Laju Perubahan Kadar Air, Kadar Protein Dan Uji Organoleptik Ikan Lele Asin Menggunakan Alat Pengering Kabinet (Cabinet Dryer) Dengan Suhu Terkontrol. urnal Pendidikan Teknologi Pertanian, 1, 12-21.
DOKUMENTASI
Sampel cookies
Penghalusan sampel
Penimbangan sampel
Campuran selenium
Menimbang selenium
Menimbang kertas saring
Menimbang timbel
Penambahan H2SO4 di lemari asam
Proses destruksi
Pengovenan labu lemak
Labu lemak didinginkan di desikator
Menimbang labu kosong
Rangkaian alat soxhlet
Pengenceran hasil destruksi
Penambahan pelarut heksana
10 ml sampel dipipet
Penambahan NaOH
Indikator BCG:MM
Proses destilasi
Pengovenan labu lemak dan sampel
Hasil titrasi sampel protein
Menimbang berat labu lemak san sampel