RIBA DALAM PERSFEKTIF PEMIKIRAN ULAMA (Kupas Tuntas Masalah Riba)
Oleh: Munadi1
صخّلم
تنا ك ىت لا ا برلا نع ثحبلا ثحا بلا دارأ ة لاقملا هذ ه ة باتك ىف و ىف ة مهم ةلأسملا هذه نّأ ثحابلا رظن و .ةنّسلاو نّآرقلا ىف ةروكذم ضعبب مهضعب سانّلا ةلماعم ىف ايّساسأ اردصم نّوكت اهنلأ اهنّع ثحبلا نّآر قلا يف ه للا نيّب د ق و .ميركلا هباتك ىف هللا مرح امع مهريرحت و ضر غلا و .ة جردتم ا هليزنّت و ة قرفتم تايآ عبرأ ىف ةلأسملا هذه نع و ة يّمويّلا مهتر شاعم ىف ةيّملا سلإا ة ملأا نّلأ ا هليزنّت جيرد ت نم اهرد صم ىف ة بوتكم ىت لا ةيّملا سلإا ما كحلأا نم ر حتت لا ةيّ شيّعملا ما ظنّلا بيّ صنّت و ه و يملاسلإا داصتقلإا نم ىصقلأا ضرغلا و .ىلولأا ة يّئافلا ة يوايّندلا مهتر شاعم ع يّمج ىف ا برلا نم ارر حم يدا صتقلإا .ةيدبلأا ةيورخلأا مهتايّح ةداعس ىلإ لوصحلل
Kata Kunci: Riba, Riba fadhl, Riba Nasi’ah, Interest, Usury A. Pendahuluan
Keadilan sosio-ekonomi, salah satu karakteristik yang paling menonjol dari sebuah masyarakat muslim ideal, dituntut untuk menjadi sebuah cara hidup dan bukan suatu fenomena terpisah. Ia harus menjangkau semua wilayah interaksi kemanusiaan, sosial, ekonomi dan politik. Ketidakadilan disuatu wilayah akan berkembang pada wilayah yang lain. Sebuah institusi yang salah pasti akan gagal memberi warna pada institusi yang lain.
Bahkan, dalam dunia bisnis dan ekonomi sekalipun, semua nilai harus menyatu dengan keadilan sehingga dalam keseluruhan totalitasnya akan mendorong, bukannya memadamkan keadilan sosioekonomi.
Salah satu ajaran Islam yang penting untuk menegakkan keadilan dan menghapus eksploitasi dalam transaksi bisnis adalah dengan melarang semua bentuk peningkatan kekayaan “secara tidak adil” (akl amwaalan-naas bil-bathil). Al-Quran dengan tegas melarang kaum muslimin mengambl harta orang lain dengan cara bathil (bil-bathil) atau dengan cara yang tidak benar (al-Baqarah [2]: 188 dan an-Nisaa’:29). Apa sebenarnya pengertian yang dikandung dalam kata-kata bil-bathil itu? Al-Qur’an dideduksi oleh kaum muslimin mengenai cara-cara memperoleh “atau” “yang tidak diperbolehkan”. Salah satu sumber penting peningkatan yang tidak diperbolehkan adalah menerima keuntungan moneter dalam sebuah transaksi tanpa memberikan suatu imbalan setimpal yang adil.
1 Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Yogyakarta Program Studi Hukum Islam, Konsentrasi: Hukum Bisnis Syariah, Utusan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sultan Muhamad Syafiuddin Sambas.
Mewakili dalam sistem nilai Islam sebagai sumber utama keuntungan yang tidak diperbolehkan itu.
Islam mengajarkan pada umatnya untuk hidup secara bersahaja bukan berarti tidak boleh kaya, tapi tidak untuk menjadi budak ekonomi2 yang bergantung pada harta melainkan menjadi pengendali ekonomi. Dalam bidang ekonomi, Islam menerapkan aturan komprehensif tentang keterkaitan antara dua orang yang melakukan transaksi melalui adanya aturan-aturan atau hukum tentang masalah tersebut. Manusia hanyalah penjaga harta yang harus mengoptimalkan usaha dan kekuatannya melalui strategi pengembangan sesuai dengan aturan yang ada3.
Salah satu aturan yang merupakan ajaran dalam perekonomian islam adalah pelarangan adanya riba. Disini pemakalah akan mengeksplorasim pendapat-pendapat ulama berkompeten dalam bidangnya untuk mencari gambaran tentang riba.
B. Pengertian riba
Perkataan riba berasal dari kosa kata bahasa Arab yaitu:
ءابر-وبري-ابر لاملا
داز و
امن
(tambah dan tumbuh) = yang berarti–ام رثكأ ذخأ : ءابرإ يطعأ
(yang berarti mengambil lebih banyak dari apa yang diberi).=ابرلا ةدئافلا
riba juga disamakan dengan =لضفلا ةدئافلا
4Dalam al-Qur’an ditemukan kata riba sebanyak delapan kali dalam empat surat, tiga diantaranya turun setelah Nabi Hijrah dan satu ayat lagi ketika beliau masih di Makkah.5
Menurut Afzalur Rahman kata riba dalam bahasa Arab secara harfiah berarti meningkatkan atau menambahkan sesuatu.6 Secara kebahasaan bunga sebagai terjemahan dari kata interest. Menurut istilah riba (interest) berarti “interest is a change for a financial loan, usually a percentage of the amount loaned”(Bunga adalah tanggungan pada pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan prosentase dari uang yang dipinjamkan).7 Dari arti yang beraneka beraneka ragam diatas dapat disimpulkan bahwa
2 Abdullah Abdul Husein at-Tariqi, Ekonomi Islam: Prinsip, Dasar dan Tujuan, Terj. M. Irfan Syafwani (Yogyakarta: Magistra Insania Press, 2004) hlm: xii
3 Ibid, hal 3
4: 842 نّانّبلتوريّبقرشملاراد،ةحقنّمةديدجةعبط :ملاعلأاوةغللاىفدجنّملا :فولعمسيول۱۹۸٦ص:
5 M. Quraish Syihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Mandhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, hlm: 413. Lihat juga Dr. H. Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007) hlm: 182.
6 Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam jilid 4 No 3 terj. Soeroyo, Nastangin Ed. H. M (Jakarta, Dana Bhakti: 1995), hlm. 137, 7 Muhammad, Lembaga-Lembaga Keuangan Umat Kontemporer, Ed. Anas Hidayat dan Shobirin, (Yogyakarta, UII Press: 2000), Hlm 146.
yang dimaksud dengan interst pada uang ialah sejumlah uang atau kalkulasi dari pinjaman yang dibayarkan untuk penggunaan modal selanjutnya. Jumlah uang tersebut dapat dinyatakan dengan peningkatan modal dengan menggunakan prosentase yang peningkatan modal tersebut dinamakan dengan suku bunga modal.
Dari pernyataan diatas timbul suatu pertanyaan yang sering berputar di tengah masyarakat dan kalangan kaum Muslimin yang akan menyimpan penghasilan (baca: uang) mereka di bank yang beroperasi dengan sistem syariah, apakah bunga sama dengan riba?
Untuk memberikan jawaban yang dapat memuaskan masyarakat perlu dijelaskan makna dari kata riba tersebut.
Makna asal dari kata riba ialah tambah, tumbuh dan subur. Pemaknaan tambah pada kata riba yang dimaksud ialah adanya penambahan atau peningkatan uang atas modal yang diperoleh dengan cara yang tidak dibenarkan syara’, apakah tambahan itu berjumlah sedikit atau banyak seperti yang diisyaratkan dalam al-Qur’an.8 Didalam bahasa Inggris, riba diistilahkan sebagai “usury” yang artinya “the act of leading money at an exorbitant or illegal rate of interest”. Dalam Kamus Oxford English Dictionary “Usury”
di artikan sebagai (practice of) leading of money, especially at a rate of interest considered to be too high. 9 (praktek peminjaman uang terutama pada suku bunga dengan pertimbangan agar semakin tinggi). Dikalangan ulama fikih riba berarti “kelebihan harta dalam suatu muamalah dengan tidak ada imbalan/gantinya”.10 Dalam kandungan makna yang didefinisikan oleh ulama fikih diatas dapat diartikan bahwa riba tersebut merupakan penambahan modal terhadap uang (modal) sebagai akibat dari transaksi utang piutang yang harus segera dilunasi oleh terutang dalam jangka waktu yang telah ditentukan terhadap modal yang timbul akibat transaksi utang piutang yang harus diberikan terutang kepada pemilik uang pada saat jatuh tempo.
Secara etimologi, ar-Riba juga berarti kelebihan atau tambahan. Pengertian riba secara etimologis ini di gunakan Allah di antaranya dalam al-Qur’an, surat Fussilat, 41:39 yang berbunyi:
……
Artinya:. … maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur ....11
8 QS: 3:130 yang artinya Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
9 Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of Current English : (Oxpord University Press: 1974), p. 452
10 Muhammad (Ed), Bank Syariah, Analisis Kekuatan, Peluang, Kelemahan dan Ancamann, (Yogyakarta, Ekonisia: 2006), hlm:
28.
Sebagian ulama fikih juga mendefinisikan riba dengan:
cلdضeف fلاeم
e لاgب fضeوgع gةeضَeواeعcم gىف
fلاeم fلاeمgب
Kelebihan harta dalam suatu muamalah dengan tidak ada imbalan/ganjarannya.
Maksudnya, tambahan terhadap modal uang yang timbul akibat suatu transaksi piutang yang harus diberikan terutang kepada pemilik uang pada saat utang jatuh tempo.12 Menurut Yusuf Qordhowi dalam Fatwa-fatwa kontemporernya riba adalah semua tambahan yang disyaratkan atas pokok harta.13 Maksudnya adalah apa yang diambil seseorang (pemilik modal) dari orang lain (peminjam modal) tanpa melalui usaha perdagangan dan tanpa berpayah-payah sebagai tambahan atas pokok hartanya, maka yang demikian itu termasuk riba, ini sesuai dengan berfirman firamn Allah dalam surah al- Baqarah ayat 278 sebagai berikut:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang- orang yang beriman.
Menurut pandangan Afzalur Rahman riba adalah biaya yang ditentukan di muka atau surplus dan kelebihan modal yang diterima kreditor dalam kondisi yang berkaitan dengann periode tertentu.14 Lebih lanjut Afzalur Rahman mengatakan bahwa hal tersebut mengandung tiga unsur:
1. Biaya atau kelebihan atas modal pinjaman (misalnya kelebihan dari pinjaman pokok)
2. Ketentuan besarnya tambahan dikaitkan dengan jangka waktu
3. Tawar-menawar mengenai syarat pembayaran tentang besarnya kelebihan uang dilakukan kepada kreditor
11 Lihat juga QS: (16:92) yang artinya: … disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain… yang dimaksud dengan perkataan lebih banyak jumlahnya disini adalah riba (يبرأ)
12 Dr. H. Nasrun Haroen, MA Fiqh Muamalah (Jakarta: Gaya Media Pratama: 2000) hlm: 181
13 Dr. Yusuf Qordhawi, Fatwa-fatwa Kontemporer (Jakarta: Gema Insani Press), http://www. Geocities/pekdnono.com diakses tanggal 13 September 2008
14 Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam,. Terj. Soeroyo, Nastangin. Ed. HM. Sonhadji. 4 jilid,(Jakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995) hlm: 138.
Dilihat dari pengertian yang diberikan oleh Afzalur Rahman tersebut dapat diketahui terbentuknya ketiga unsur tersebut disebabkan oleh adanya ketidak adilan dalam bertransaksi atau tawar- menawar harga (transaksi kredit uang).
C. Larangan Riba
Larangan riba muncul dalam al-Qur’an pada empat kali penurunan wahyu yang berbeda-beda yaitu surah ar-Ruum (30): 39, an-Nisaa’ (4): 161, ali-Imran (3): 130-132, Surah al-Baqarah (2): 275-281. Surah yang pertama ar-Ruum (30): 39, turunkan di Mekah, menegaskan bahwa bunga akan akan menjauhkan keberkahan Allah dalam kekayaan, sedangkan sedekah akan menjauhkan keberkahan Allah dalam kekayaan, sedangkan sedekah akan meningkatnya berlipat ganda. Kedua (an-Nisaa’: 161), diturunkan pada masa permulaan periode Madinah, mengutuk dengan keras praktik riba, seirama denga larangannya dengan kitab-kitab tedahulu. Pada tahap kedua ini, Al-Qur’an menyejajarkan orang yang mengambil riba dengan mereka yang mengambil riba dengan mereka yang mengambil kekayaan orang lain secara tidak benar dan mengancam kedua pihak dengan siksa Allah yang amat pedih. Wahyu ketiga Ali Imran (3): 130-132), diturunkan pada kira- kira tahun kedua atau ketiga Hijrah, menyerukan kaum muslimin untuk menjauhi riba jika mereka menghendaki kesejahteraan yang diinginkan (dalam pengertian Islam yang sebenarnya). Wahyu keempat (al-Baqarah [2]: 275-281) diturunkan menjelang selesainya misi Rasulullah saw, mengutuk keras mereka mengambil riba, dan menuntut kaum muslimin agar menghapuskan seluruh utang piutang yang mengandung riba, menyerukan mereka agar mengambil pokoknya saja, dan mengikhlaskan kepada peminjam yang mengalami kesulitan.
Rasulullah saw juga mengutuk, dengan menggunakan kata-kata yang sangat terang, bukan saja mereka yang mengambil riba, tetapi juga mereka yang memberikan riba, bahkan beliau menyamakan dosa orang yang mengambil riba dengan dosa orang yang melakukan zina 36 kali lipat atau setara dengan orang yang menzinahi ibunya sendiri (HR:
Ahmad dan Daruquthni).15
C. Jenis-jenis Riba dan Hukumnya
15 Miskatul Masabih, Kitab Buyu’, bab ar-Riba, diriwayatkan oleh Ahmad dan Daruqutni), Imam Baihaqi juga melaporkan hadis diatas dalam kitabnya Syu’batul Iman, dengan tambahan, “Neraka lebih layak bagi orang yang degingnya tumbuh karena barang haram”.
Juga, Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “akan datang suatu zaman di mana manusia akan mengambil riba dan jika ia tidak mengambilnya, debunya akan menyentuhnya”. (Abu Dawud, Kitab Buyu’, Bab Fi Ijtinabisy-Syubhat; juga dalam Ibnu Majah). CD.
Maktabah Syamilah.
Sesudah mengetahui ketegasan hukum al-Qur’an dan As-Sunnah terhadap riba, perlu kiranya menentukan apa arti sebenarnya riba itu. Riba secara literal bertarti bertambah atau tumbuh16, akan tetapi, tidak setiap penambahan atau pertumbuhan itu dilarang oleh Islam. Dalam syariah, riba secara tekhnis mengacu kepada pembayaran
“premi” yang harus dibayarkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman di samping pengembalian pokok sebagai syarat pinjaman atau perpanjangan batas jatuh tempo17 Dalam pengertian ini, riba memiliki persamaan atau perpanjangan batas jatuh tempo18 Akan tetapi, dalam pengertian syariah, riba memiliki dua kategori: ribaan-nasi’ah dan riba-fadhl.19
1. Riba Nasi’ah
Istilah nasi’ah dari akar kata (eأeسeن) yang berarti menunda, menangguhkan, atau menunggu, dan mengacu kepada waktu yang diberikan bagi pengutang umtuk membayar kembali utang dengan memberikan “tambahan” atau “premi”. Karena itu, riba nasi’ah mengacu kepada bunga pada utang. Menurut Muslich, riba nasi’ah adalah menukar barang dengan dengan barang lain dengan takaran atau timbangan berbeda dan tidak ada penyerahan barang pada saat transaksi jual beli di lokasi terjadinya akad. 20 Menurut Dr. Nasrun Haroen riba nasi’ah adalah kelebihan piutang yang diberikan orang kepada orang yang berutang kepada pemilik modal ketika batas waktu yang disepakati jatuh tempo.21
Dalam arti inilah, istlah riba dipergunakan dalam al-Qur’an pada ayat “.... dan Allah mengharamkan bunga (riba)...” (al-Baqarah: 275) arti ini juga ditunjukkan oleh sabda Rasulullah saw. ketika beliau mengatakan, “tidak ada riba kecuali nasi’ah.22
Intinya, larangan riba nasi’ah mengandung implikasi bahwa penetapan suatu keuntungan positif di depan pada suatu pinjaman sebagai imbalan karena menunggu,
16Lihat kata Riba dalam Ibnu Mandhur Lisanul Arab (Beirut: Dar Sadir lit-Thiba’ah wan Nasyr, 1968), vol. 14. Hlm. 304-7; az- Zubaidy, Tajul Arus (Kairo: al-Mathba’ah al-Khairiyyah, 1306), vol.10.hlm 142-3; dan Raghib al-Asfahani, al-Mufradat fi Gharibil Qur’an (Kairo: Musthafa al-Babil al-Halabi, 1961), hlm. 186-7. Makna serupa juga secara aklamasi ditunjukkan oleh semua tafsir al-Qur’an klasik.
17 Ibnu Mandhur melihat bahwa apa yang dilarang adalah jumlah ekstra, keuntungan, atau keutamaan yang diterima karena suatu pinjaman, Ibid Mandhur Lisanul Arab… hlm 304
18 Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ala Madzahibil Arba’ah (Kairo: al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubro, 5h ed., nd.), vol 2, hlm 245. kitab karangan Abdur Rahman al-Jaziri yang berjudul al-Fiqh ‘ala al-Madzahibil al-Arba’ah, merupakan kompendium pendapat di bidang fiqh dari empat mazhab yang terkenal. Kitab ini dihormati dan dipandang sebagai suatu entitas mengenai persoalan di bidang ini.
19 Riba nasi’ah juga disebut dengan riba duyun atau riba mubasyir atau riba jali, sedangkan riba fadhl juga disebut dengan riba buyu’ atau riba ghairu mubasyir atau riba kasfhi. (lihat Umer Chapra: Sistem Moneter Islam, terjemahan Ikhwan Abidin B. Jakarta: Gema Insani Press, 2000).
20 Ibid., Drs Muslich, MM. Bisnis Syari’ah, Prespektif Muamalah dan Manajemen, , , hlm: 46 21 Ibid., Dr. H. Nasrun Horoen, MA Fiqh Muamalah, hlm: 184
22 Dari Usamah bin Zaid, Rasulullah saw beesabda, “tidak ada riba kecuali dalam nasi’ah (menanti). “Bukhari, Kitabul Buyu’, Bab Bai’ ad-Dinari bil-Dinari Nasa’an; juga Muslim dan Musnad Ahmad) “tidak ada riba dalam transaksi ditempat) dari tangan ke tangan. “ (Muslim. Kitabul Musaqat, Bab Bai’ at-Ta’ami bi Mithalan bi Mithalin; juga dalam Nasa’i)
menurut syariah, tidak diperbolehkan. Tidak ada perbedaan apakah persentase keuntungan dari pokok itu bersifat tetap atau berubah, atau suatu jumlah tertentu yang dibayar di depan atau pada saat jatuh tempo, atau suatu pemberian (hadiah) atau suatu pelayanan yang diterima sebagai suatu persyaratan pinjaman. Persoalan yang penting pada masalah ini adalah adanya penentuan keuntungan positif didepan. Perlu diperhatikan bahwa berdasarkan syariah, penangguhan yang dilibatkan pada pembayaran kembali suatu pinjaman tidak dengan sendirinya membolehkan imbalan positif. Tidak ada sama sekali perbedaan pendapat dikalangan fuqaha mazhab bahwa riba Nasi’ah adalah haram atau dilarang23 Sifat pelarangan itu keras, mutlak dan tegas.24 Tidak ada ruang untuk berkilah bahwa riba yang dimaksud adalah berlipat ganda (usuary) dan bukan bunga (interest), sebab Rasulullah saw telah melarang umatnya mengambil hadiah pelayanan, atau tanda mata sekecil apapun sebagai syarat pinjaman, lebih pokok itu bisa positif maupun negatif bergantung pada hasil akhir dari kegiatan bisnis, yang tidak diketahui di depan. Hal demikian diperbolehkan dengan catatan bahwa keuntungan itu dibagai bersama menurut prinsip keadilan yang telah digariskan dalam syari’ah.
2. Riba Fadhl
Betapapun juga, Islam ingin menghapuskan bukan saja eksploitasi yang dikandung dalam institusi bunga, tetapi juga semua bentuk pertukaran yang tidak jujur dan tidak adil dalam transaksi bisnis. Hal-hal demikian dijelaskan secara panjang lebar dalam al-Qur’an dan as-sunnah. Istilah umum yang dipergunakan adalah riba fadhl, yang merupakan jenis kedua, yaitu riba yang dilibatkan pada transsaksi pembelian dari tangan ke tangan dan penjualan komoditas. Ia meliputi semua transaksi di tempat yang melibatkan pembayaran kontan di satu pihak dan pengiriman komoditas segera
Yang dimaksud dengan riba fadhl adalah menukar barang dengan barang lain (barter) dengan takaran yang berbeda.25 di lain pihak. Menurut syafi’I Antonio riba fadhl adalah riba yang terjadi karena pertukaran antar barang yang sejenis dengan kadar atau
23 Kaum muslimin telah sepakat berdasarkan otoritas Nabi bahwa syarat untuk melebihkan suatu tambahan yang dipinjamkan adalah riba, dengan mengabaikan apakah itu berupa segenggam bahan makanan, seperti yang ditunjukkan oleh Ibnu Mas’ud, atau gandum.
(Muhammad bi Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ liahkamil qura’n, yang dipopulerkan dengan tafsir Qurthubi (Kairo: Dar al-Kitab al-Arabi lith- Thiba’ah wan Nasyr, 1967) vol.3 hlm 241.
24 Ibid,. Al-Jaziri, al-Fiqh ala Madzahibil Arba’ah, hlm 245.
25 Drs. Muslich, MM, Bisnis Syari’ah, Prespektif Muamalah dan Manajemen, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN: 2007) hlm: 46
takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi.26
Biar bagaimanapun pembahasan riba fadhl muncul dari hadits-hadits yang menuntut bahwa jika emas, perak, gandum, jelai, korma dan garam dipertukarkan masing-masing dengan barang yang sama, mereka harus ditukar di tempat (spot) dengan (takaran, timbangan) yang sama dan serupa. Bunyi hadist tersebut adalah sebagai berikut: Dari Abu said al-Khudri, Rasulullah bersabda,”Jangamlah kamu menjual emas dengan emas kecuali dalam keadaan serupa dengan serupa dan janganlah kamu menambah di atas lainnya; janganlah kamu menjual perak dengan perak kecuali dalam keadaan serupa dengna serupa dan janganlah pula menambahkan di atas lainnya; janganlah kamu menjual yang jauh untuk yang jauh untuk yang sudah siap.”27 Jika kita amati dari teks Hadist diatas, ada beberapa pertanyaan yang dapat diajukan yaitu Pertama, mengapa hanya enam jenis barang yang disebutkan? Kedua, mengapa diperlukan kembali dengan kadar yang benar-benar sama?
Dari keenam komoditas yang disebutkan diatas dalam hadits diatas tentang riba fadhl, dua diantaranya jelas mewakili komoditas uang, sedangkan empat lainnya mewakili kelompok bahan makanan. Karena itu, para fuqaha selama berabad-abad mempersoalkan apakah riba fadhl itu hanya terbatas pada enam jenis barang ini saja ataukah digeneralisasikan kepada komoditas lain; jika dapat apa alasan (illat) yang dipakai untuk tujuan ini.28
Berdasarkan Karakteristik emas dan perak sebagai komoditas uang (commmodity money), secara umum disimpulkan bahwa yang dipergunakan sebagai uang masuk ke dalam cakupan riba fadhl, sedangkan terhadap komoditas empat lainnya banyak perbedaan di kalangan para fuqaha. Sebagian berpendapat bahwa karena keempat komoditas itu dijual dengan timbangan atau ukuran (Hanafi, Hanbali, Imami dan Zaidi), semua barang yang dapat dijual “berpotensi” terkena riba fadhl. Pendapat kedua, mengingat keempat barang itu dapat dimakan, riba fadhl dapat terjadi pada semua komoditas yang mempunyai karakteristik dapat dimakan (Syafi’i, dan Hambali).
Pendapat ketiga, barang-barang ini merupakan bahan makanan dan dapat disimpan lama (tanpa rusak), maka semua barang yang dapat dijadikan bahan makanan dan disimpan
26 Syafi’I Antonio dalam Muhammad, Bank Syari’ah, Analisis kekuatan, Kelemahan peluang dan Ancaman, 2004, hlm 30, dalam caatatan kaki.
27 (Bukhari, Kitab Buyu’, bab al-Fidhdhiti bil-Fidhdhati, juga Muslim, Tirmizdi, Nasa’i dan Musnad Ahmad). CD Maktabah Syamilah.
28 M. Umer Chapra, Sistem Moneter Islam, (Jakarta: Gema Insani Press: 2000), hlm. 23.
lama berpotensi menimbulkan riba fadhl (Maliki). Adapun madzhab Zhahiri adalah satu-satunya madzab minoritas yang sangat ketat. Pendapat keempat, barang kali yang lebih masuk akal, menjelaskan bahwa keenam komoditas di atas pada zaman dahulu dipergunakan sebagai uang di dalam dan diluar Madinah, terutama di kalangan orang- orang Badui. Karena itu, riba fadhl berpotensi terjadi dalam pertukaran komoditas- komoditas ini dengan uang kontan atau dengan komoditas yang dipakai sebagai uang. 29
Bagaimanapun juga, keseluruhan pembahasan ini tidak melihat pengertian riil riba fadhl, yang hanya dapat dimengerti dengan menjawab pertanyaan kedua. Pada permukaan tampak sukar dimengerti mengapa seseorang mau menukar emas dan perak atau komoditas lain dengan barang yang sama, dan terjadi “ditempat pula”. Apa yang sesungguhnya dituntut adalah keadilan dan permainan yang jujur pada transaksi di tempat. Karena itu, harga dan nilai timbangannya harus adil dalam semua transaksi di mana pembayaran kontan (dengan mengabaikan apa yang berfungsi sebagai uang) dilakukan oleh suatu pihak dan komoditas atau pelayanan yang diberikan secara timbal balik oleh satu dari kedua belah pihak yang lain.30 Apa pun yang diterima sebagai suatu
“kelebihan” oleh salah satu dari kedua belah pihak dalam transaksi ini adalah riba fadhl, yang didefinisikan menurut kata-kata Ibnu al-Arabi sebagai “semua kelebihan (exsess) di atas nilai timbangnya skala timbangan mengukur nilai imbangan (countervalue). Keadilan hanya dapat dikembalikan jika kedua skala timbangan mengukur nilai barang yang sama. Persoalan ini dijelaskan secara tepat oleh Rasulullah saw ketika beliau menunjukkan keenam komoditas utama dan menekankan bahwa jika satu ukuran mengukur salah satu dari keenam ini, ukuran yang lain juga mengukur komoditas yang sama, “serupa dengan serupa dan yang sama dengan yang sama”.
Untuk menjamin keadilan, Rasulullah saw bahkan tidak menggalakkan transaksi barter dan menetapkan bahwa suatu komoditas yang akan dijual itu ditukar dulu dengan uang kontan, baru kemudian uang itu dibelikan komoditas yang diinginkan.31 Hal ini
29 Lihat juga Ahmad Safi ad-Din, Buhuts fi –Iqtishad al-Islami (Sudan: Wizarah asy-Syu’un ad-Diiniyah wal-Awqaf, 1978) hlm 4-17. Meskipun penjelasan yang dibuat oleh Dr. Safi ad-Din tampak masuk akal, namun ia tidak menyediakan bukti konklusif. Dr.
Hasan al-Inani juga menyimpulkan kesimpula yang sama, tetapi lewat jalan logika yang berbeda. Lihat monografnya, Illat Tahrim al- Ribawa Wazifah –al-Nuqud (Kairo: al-Ittihad al-Dawli lil-Bunuk al-Islamiyah, n.d.) Perlu dijelaskan bahwa Imam Syamsuddin al-Syarakhsi juga mengatakan bahwa orang-orang Mekah telah menggunakan bahan-bahan makanan sebgai media pertukaran. Lihat al-Mabsut (Berut:
Dar al-Ma’rifah lith-Thiba’ah wan Nasyr, 3rd ed., 1978), vol 22, hlm. 21).
30 Lihat Abdul Karim al-Khatib, as-Siyasah al-Maliyah fi-Islam (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1975), hlm. 141-6.
31 Dari Abu Said dan Abu Hurairah,”seseorang datang menghadap Rasulullah saw di khaibar dan membawa kepada beliau janib (kurma dengan mutu yang sangat tinggi). Rasulullah saw kemudain bertanya apakah semua khaibar seperti ini dan ia menjawab tidak.
Ia menambahkan bahwa mereka menukar saru sha’ (ukuran) jenis ini untuk ditukar dengan dua atau tiga sha dengan jenis lain. Rasulullah saw mengatakan,”jangan kamu berbuat demikian. Juallah (kurma kualitas rendah) dengan dirham dan setelah itu kamu dapat membeli janib. (Kalau kurma harus ditukar dengan kurma) maka harus sama beratnya.” (Bukhari, Kitabul Buyu’, Bab Idza Arada Bai’ Tamrin bi Tamrin Kharun minhu; juga Muslim dan Nasa’i). Juga dari Abu Said, Bilal menghadap Rasulullah saw dengan membawakan barni (kurma dengan kualitas baik), lalu beliau bertanya, “Darimana kurma didapat?” Bilal menjawab, “saya mempunyai kurma bermutu rendah, lalu saya tukar dengan kurma ini, sua sha’ untuk satu sha’.” Rasulullah saw, menjawab, “O tidak, inilah yang sebenarnya ribaitu, Jangan kamu
disebabkan karena tidak mungkin melakukan transaksi barter, melainkan oleh mereka yang ahli (expert), untuk melihat persamaan yang adil dari satu komoditas dengan komoditas lainnya. Karena itu, ekuivalensi yang ditegakkan hanya bersifat aproksimasi sehingga menyebabkan timbulnya ketidakadilan yang akan menimpa salah satu dari dua pihak. Penggunaan uang diharapkan membantu mengurangi kemungkinan pertukaran yang tidak adil.
Dalam pengertian ini, semua komoditas yang dipertukarkan dalam pasar akan berpotensi terkena riba fadhl. Disinilah, orang akan cenderung sepakat dengan para fuqaha yang tidak membatasi riba fadhl hanya pada enam komoditas yang telah disebutkan, tetapi akan mencoba memperluas jangkauannya berdasarkan karakteristik yang melekat pada keenam komoditas ini. Makin diperlukan suatu bahan makanan bagi kelangsungan hidup, makin besar pula ketidakadilan yang ditimpakan dalam suatu pertukaran yang tidak adil. Begitu pula, makin besar kemampuan suatu barang atau pelayanan untuk bisa diukur atau ditimbang makin besar pula pedaganga atau pembeli terkontaminasi oleh riba fadhl jika ukuran atau timbangan yang adil tidak diberikan untuk ditukar dengan uang atau nilai timbangan yang diterima.
Dengan demikian, larangan riba fadhl dimaksudkan untuk menjamin keadilan dan membuang semua bentuk ekpsploitasi melalui pertukaran “yang tidak adil” dan menutup semua pintu belakang riba karena, menurut syariah Islam, apapun berfungsi sebagai sarana untuk melakukan hal-hal terlarang, ia juga dilarang.32 Rasulullah saw mempersamakan dengan riba terhadap usaha mencurangi orang yang akan memasuk pasar dan mencurangi harga dalam suatu pelelangan dengan bantuan para agen33, yang mengandung pengertian bahwa uang ekstra yang diterima sebagian penghasilan melalui eksploitasi dan praktik curang tidak lain adalah riba fadhl. Mengingat bahwa manusia dapat dieksploitasi atau ditipu lewat berbagai cara, Rasulullah saw mengingatkan bahwa seorang muslim akan terperosok dalam riba lewat berbagai cara.34 Inilah alasannya
ulangi lagi, tetapi jika kamu mau membeli, jual dulu kurma bermutu rendah dengan uang dan kemudian belilah kurma dengan kaulitas lebih baik dengan harga yang kamu terima.” (Muslim, Kitab al-Musaqat, Bab at-Ta’ami Mislan bi Mistlin; Juga Musnad Ahmad). Cd Maktabah Syamilah.
32 Lihat tafsir Surah al-Baqarah [2]: 275 dalam Tafsir Ibnu Katsir (Abdul Fida’ Ismail bin Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Karim [Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, n.d], vol. 1, hlm. 326.
33 Dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda,”Menipu mencurangi) seorang mustarsal (seseorang yang memasuki pasar dalam keadaan tidak tahu) adalah riba. “(Suyuti, al-Jami’ ash-Shagir, dibawah kata ghabn; Kanzul ‘Ummaal, Kitab al-Buyu’, al-Baab Ath- Thaani, al-Fashlu ath-Thaani, diriwayatkan oleh Baihaqi), juga Dari Abdullah bin Abi Aufa, Rasulullah saw, bersabda,”Seorang Najisy (orang yang bertindak sebagai agen untuk menawarkan harga dalam pelelangan) adalah seorang ribayang terkutuk.” (Dikutip dari Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Syarahnya terhadap Shahih Bukhari, Fat=hul Bari, Kitab al-Buyu’, Bab an-najsh; juga dalam Suyuti, al-Jami’ ash- shagir, dibawah kata an-najish dan Kanzul ‘Ummaal, keduanya diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Kabir).
34 Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw, bersabda,”Akan dating suatu zaman di mana manusia akan mengambil riba dan jika ia tidak mengambilnya, debunya akan menyentuhnya.”(Abu Dawud, Kitabul Buyu’, Bab Fi Ijtinabisy-Syubhat; juga dalam Ibnu Majah). CD Maktabah Syamilah.
mengapa Rasulullah saw bersabda, “Tinggalkan apa yang apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu”. Khalifah Umar ra pernah berkata, “Tinggalkan bukan hanya riba, tetapi juga ribah”35 Ribah berasal dari kata raib yang berarti “ragu”
atau “samar” dan mengacu kepada penghasilan yang memiliki kemiripan dengan riba atau yang menimbulkan ragu-ragu dalam pikiran mengenai kehalalannya. Ia meliputi semua penghasilan yang berasal dari praktik-praktik yang tidak adil atau eksploitasi terhadap orang lain.
Dengan demikian, baik riba nasi’ah maupun riba fadhl sama tergolong ke dalam pengertian ayat”...dan Allah telah mengharamkan riba...”(al-Baqarah [2]: 275.
Sementara riba an-nasi’ah berhubungan dengan pinjaman dan dilarang pada bagian kedua ayat tersebut, riba fadhl berkaitan dengan perdagangan dan terkandung implikasi bagian pertama ayat itu.36 Karena perniagaan itu secara prinsip diperbolehkan, hal itu mengandung arti bahwa tidak semua diperbolehkan dalam perdagangan. Mengingat bahwa ketidakadilan yang ditimpakan lewat riba dapat diperpanjang lewat transaksi bisnis, riba fadhl mengacu pada semua ketidakadilan dan eksploitasi. Ia menuntut terhapusnya kecurangan, ketidakpastian dan spekulasi, dan monopoli atau monopsoni.
Ia menuntut suatu pengetahuan yang adil mengenai harga-harga yang berlaku pada kedua pihak, produsen (penjual) maupun konsumen (pembeli). Ia meniscayakan penghapusan tipuan dalam harga-harga atau kausalitas dan dalam pengukuran atau timbangan. Semua praktik bisnis yang menimbulkan eksploitasi kepada pembeli atau penjual, atau hambatan bagi adanya persaingan yang sehat, harus dilarang secara efektif.37
Sementara riba nasi’ah dapat didefinisikan dalam beberapa kata, tidak demikian halnya dengan riba fadhl, yang menembus sederetan panjang transaksi dan praktik bisnis, ia tidak mudah dikenali. Keadaan demikian inilah yang mendorong Umar bin Khattab, Khalifah kedua, berkata,”Rasulullah saw meninggalkan kita tanpa memberi penjelasan lebih lanjut (tentang ria’) kepada kita. Karena itu, reaksi ilmiyahnya, karena kehati-hatian, adalah dengan meninggalkan riba dan ribah (keragua-raguan). Memang
35 Dari Umar Ibnul-Kahtathab,”Ayat terakhir yang diwahyukan adalah berkenaan dengan riba dan Rasulullah saw tidak menjelaskannya kepada kita. Karena itu, tinggalkan bukan hanya riba tetapi juga ribah (keraguan tentang kebolehan/kehalalan suatu barang).” (Ibnu Majah, Kitab at-Tijarat, Bab at-Taghlid fir-Riba; juga dalam Musnad Ahmad), CD Maktabah Syamilah.
36 Lihat Tafsir al-Baqarah: 275 pada tafsir Fakhruddin ar-Razi, Tafsir al-Kabir (Teheran: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2nd ed., n.d.), vol. 7, hlm. 86.
37 Beberapa tipe jual beli juga dilarang dalam syariat dengan tujuan melindungi hak kedua belah pihak: pembeli dan penjual.
Misalnya, an-Najasyi (curang dan kolusi), ghan al-Mustarsal (menipu pelaku pasar yang belim mengerti seluk beluk pasar), ba’I al-hadir lil-badi dan talaqi rukban (keduanya mempunyai implikasi kolusi, monopoli dan monopsono atau eksploitasi untuk menurunkan atau meningkatkan harga di atas normal yang dijustifikasi oleh kondisi pasar), gharar, muhaqalah, munabadzah, mulamasah, (jual beli yang melibatkan ketidakpastian dan spekulasi atau perjudian). (Lihat contohnya, al-Jaziri, Ibid., vol. 2, hlm. 273-278 dan 283-291.)
benar Rasulullah saw tidak memberikan penjelasan lebih jauh mengenai riba fadhl sebagaimana yang diinginkan oleh setiap orang, namun dapat membantu umat mencari penjelasan yang diperlukan. Inilah yang sekarang dihadapi kaum muslimin, untuk menguji praktek perekonomian mereka secara terus-menerus berdasarkan ajaran-ajaran Islam dan daripada mengahapus riba an-nasi’ah. Ia memerlukan suatu komitmen total, merestrukturisasi perekonomian secara keseluruhan dalam rangka Islam untuk menjamin keadilan. Inilah keunikan konstribusi Islam. Sementara riba an-nasi’ah sudah lama dikenal pada zaman jahiliyah, namun konsep riba fadhl adalah sebuah konsep yang diperkenalkan Islam dan merefleksikan betapa tegasnya Islam menekankan keadilan sosioekonomi.
Larangan riba sebagaimana yang termuat dalam al-Qur’an telah di dahului oleh bentuk-bentuk lainnya yang secara moral tidak dapat ditoleransi.38 Adapun proses keharaman riba ini di syariatkan allah secara bertahap yaitu:
1. Allah menunjukkan bahwa riba itu bersifat negatif. (QS: 30:39) 2. Allah telah memberi isyarat akan keharaman riba. (QS: 4:61)
3. Allah mengharamkan salah satu bentuk riba, yaitu yang bersifat berlipat ganda dengan larangan yang tegas. (QS: 3:130).39
Dari penjelasan yang panjang lebar diatas, dapat disimpulkan bahwa pengharaman riba secara syar’I dapat memberikan ketenangan umat Islam dalam melaksanakan transaksi dan melakukan ihwal keduniaan mereka dengan tidak terikat pada orang lain yang dapat mengambil keuntungan dari suatu transaksi tanpa bersusah payah dan usaha.
Karena dalam transaksi riba itu sendiri mengandung az-zulm (aniaya) karena adanya pengambilan hak milik (kelebihan harta ) orang lain tanpa ada suatu usaha sama sekali.
D. Riba dalam al-Qur’an, Hadis dan Fiqh 1. Riba dalam Al-Qur’an
a) Surah ar- (Ruum [30]: 39
Dan, sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan, apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).
b) Surah an-Nisaa’ [4]: 161
Dan, disebabkan mereka memakan riba (bunga) padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang lain denga cara yang batil. Kami menyediakan bagi orang-orang kafir di antara mereka itu azab yang pedih.
38 Abdullah Saeed. Islamic banking and Interest A Study of The Prohibition of Riba, terj. Muhammad Ufuqul Mubin, Nurul Huda, Ahmad Sahidah, cet. II (Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 2004) hlm: 28
39Ibid Dr. H. Nasrun Haroen, Fiqh muamalah, hlm: 182
c) Surah Ali Imran [3]: 130-132
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba (bunga) dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah agar kamu mendapat keberuntungan. (130) Dan, taatilah Allah dan Rasul supayya kamu diberi rahmat.
(131).
d) Surah al-Baqarah [2]: 275-279
Orang-orang yang memakan (mengambil) riba (bunga) tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang-orang yang keserupan setann lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah dikarenakan mereka berkata (berpendapat), ‘sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. (275) Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan, Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. (276) Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (278) Maka, jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba itu) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul- Nya akan memerangimu. Dan, jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya. (279)
2. Riba dalam Hadis
a) Dari Jabir r.a,. Rasulullah saw bersabda,”Terkutuklah orang yang menerima dan membayar riba (bunga), orang yang menukisnya, dan dua orang saksi yang menyaksikan itu.”Mereka semua sama (dalam berbuat dosa),” (Muslim, kitab al- Musaqat, Bab La’ni akili ar-Riba wa Mu’kilihi; juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Musnad Ahmad).
b) Jabir bin Abdullah melaporkan Haji Wada’ Rasulullah saw, beliau bersabda,”semua diba (bunga) jahiliyyah telah dihapuskan. Riba pertama yang aku hapuskan adalah riba Abbas bin abdull Muthalib (paman Nabi sendiri); riba itu telah dihapuskan secara total.” (Muslim Kitab al-Hajj, Bab Hajjati al-Nabi, juga dalam Musnad Ahmad).
c) Dari Abdullah bin Hanzalah, Rasulullah saw, bersabda,”Satu dirham riba yang diterima seseorang dan ia tahu, adalah lebih buruk daripada berzina 36 kali.”
(Miskatul Masabih, Kitab al-Buyu’, Baba r-Riba, diriwayatkan oelh Ahmad dan Darulquthni). Imam Baihaqi juga melaporkan hadis di atas dalam kitabnya, Syu’abul Iman, dengan tambahan, “Neraka lebih layak bagi orang yang dagingnya tumbuh karena barang haram.”
d) Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,”Pada malam aku dimi’rajkan aku melihat sekumpulan orang ang perutnya seperti rumah dengan ular-ular yang terlihat dari luar. Aku bertanya kepada Jibril, ‘siapakah mereka?, Dia menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menerima riba (bunga).” (Ibnu Majah, Kitab at- Tijarah, Bab at-Taghlid fir-Riba; juga diriwayatkan oleh Ahmaf dalam Musnad-nya).
e) dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,”akan dating suatu zaman di mana manusia akan mengambil riba dan jika ia tidak mengambilnya, debunya akan menyentuhnya,” (Abu Dawud, Kitabul Buyu’, Bab Fi Ijtinabisy-Syubhat; juga dalam Ibnu Majah).
f) Dari abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,”Riba memiliki tujuh puluh cabang (dosa); yang paling kecil adalah setara dengna seorang yang menzinai ibunya sendiri.” (Ibnu Majah).
g) Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,”Allah tidak akan memasukkan ke dalam surga ata tidak mencium baunya empat golongan manusia: orang yang minum minuman memabukkan secara kebiasaan, orang yang mengambil riba, orang yang
memakan harata anak yatim dengan cara batil, dan orang yang durhaka keapda orang tuanya.” (Mudtadrak al-Hakim, Kitabul Buyu’).
3. Riba dalam Fiqh
a) Fakhruddin ar-Razi (Mufassir dan Filosof)
Riba itu terbagi menjadi dua: riba an-nasi’ah dan riba al-fadhl. Riba an-nasi’ah adalah yang terbiasa digunakan pada zaman Arab Jahiliyyah. Riba fadhl adalah menjual satu maund (suatu satuan berat) gandum atau apa saja yang serupa dengna itu, dengan dua maund. (at-Tafsir al-Kabir,[Teheran: Darul Kutub al-Ilmiyyah), edisi ke-2, n. d., 7, hlm. 85).
b) Abu Bakar al-Jassas (Mufassir dan Faqih Hanafi)
Pertama, riba yang berlaku pada zaman Jahilyyah; kedua, pelebihan (pembedaan) dalam volume atau berat suatu komoditas (dalam transaksi di tempat); ketiga, menagguhkan (nasi’ah); ini mengandung implikasi bahwa tidak diperbolehkan menjual suatu barang yang akan diserahkan dimasa yang akan dating dengan volume, berat, atau ukuran yang sama dari barang yang sama. (Ahkamul-Qur’an [Kairo:al- Maktabah al- Bahiyyah al-Misriyyah, 1347 H], vol. 1, hlm. 551-552.
c) Muhammad bin Abdullah bin al-Arabi (Mufassir dan Faqih Maliki)
Secara literal, riba adalah menambah dan ayat al-Qur’an (al-Baqarah: 275) menjelaskan setiap penambahan yang tidak diperbolehkan dengan pengembalian.
(Ahkamul-Qur’an [Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, 1957], hlm. 242).
d) Ibnul qayyim al-Jauziyyah
Riba ada dua macam: jail dan khafi. Riba jali diharamkan karena bahaya besar yang ditimbulkan dan riba khafi karena ia menjadi instrument bagi riba jali. Karena itu, pemgharaman yang pertama dinyatakan dengna jelas, sedangkan yang kedua bersifat hati-hati. Riba jail adalah riba nasi’ah dan inilah yang dipraktekkan pada zaman jahiliyyah, seperti membolehkan penangguhan pembayaran kembali pokok dengan suatu penambahan (bunga) dan setiap ada penangguhan ada penambahan. (A’la al- Muwaqi’in [Kairo: Maktabah al-Kulliyya al-Azhariyyah, 1968], vol. 2, hlm. 154- 155).
e) Syah waluyullah ad-Dihlawi
Ketahuilah bahwa riba itu ada dua macam: pertama adalah primer (haqiqi) dan yang kedua berkaitan dengna yang pertama. Riba haqiqi hanya ada pada pinjaman. Riba yang lain disebut al-fadhl dan ini berkaitan dengan yang pertama. (Hujjatul al-
Balighah [Lahore: Qaumi Kutub Khana, 1953, diterjemahkan oleh Maulana Abdul Rahim, vol. 2, hlm. 474-475).
f) Abdullah bin Ahmad al-Miqdasi faqih Hanbali)
Riba ada dua macam: riba al-fadhl dan riba nasi’ah. Pengharaman riba al-fadhl melibatkan pertukaran dengan barang serupa dan meliputi semua komoditas yang ditukarkan dengan volume atau berat dengan mengabaikan apakah kuantitas yang ditukarkan itu kecil seperti kurma dengan dua kurma atau karung gandum dengan dua karung gandum. Riba nasi’ah terjadi dalam pertukaran dua barang, salah satunya adalah harga. (al-Muqni’ [Qatar: Matabi’ Qatar al-Wataniyyah, 1973], vol. 2. hlm. 64- 77).
g) Hassan Ibnul-Muttahar (Faqih ja’fari’)
Riba secara harfiah berarti menambah dan secara istilah merujuk kepada penambahan dalam pertukaran dua komoditas dengan komoditas yang sama. Riba ada dua macam:
riba al-fadhl dan riba an-nasia’ah, dan semua fuqaha telah sepakat mengharamkannya. (Tadziratul Fuqaha [Nazaf: Mathba’ah an-Najaf, 1955], vol. 7, hlm. 84).
Demikianlah sekilas pendapat para fuqaha tentang riba dalam kehidupan sehari-hari yang pemakalah sarikan dari Buku Dr. Umer Chapra.40
E. PINJAMAN KONSUMSI DAN PRODUKSI
Argumen yang menyatakan bahwa bunga dilarang karena zaman Rasulullah saw hanya ada pinjaman konsumsi bunga dan bunga disertakan dalam pinjaman demikian menyebabkan kesulitan, adalah tidak benar dan bertentangan dengan fakta.41 Pada masa periode Rasulullah saw, masyarakat muslim telah terbiasa dengan gaya hidup sederhana dan tidak melakukan praktek konsumsi mencolok. Karena itu, tak ada alasan meminjam dana untuk keperluan konsumsi tidak penting.42 Begitu pula, masyarakat telah terorganisasi dengan baik dalam memenuhi kebutuhan pokok si miskin dan mereka mengalami kesulitan karena bancana. Kalaupun diasumsikan bahwa sekalipun gaya hidup mereka sedarhana dan terdapat komitmen sosial politik masyarakat muslim kepada pemenuhan kebutuhan pokok bagi mereka yang kesulitan, praktik peminjaman ini pasti
40 ? Ibid.,M. Umer Chapra, Sistem Moneter Islam, (Jakarta: Gema Insani Press: 2000), hlm. 23.
41 Dewan Ideologi Islam Pakistan juga secara tegas mengungkapkan pandangan bahwa ribameliputi bunga dalam segala manifestasinya dengan mengabaikan apakah itu berkaitan dengan pinjaman untuk tujuan konsumsi atau untuk tujuan-tujuan produksi, apakah pinjaman itu bersifat personal maupun komersial, apakah peiminjam itu pemerintah atau swasta atau suatu kekhawatiran, dan apakah laju suku bunga itu rendah atau tinggi. Lihat Laporan Dewan Ideologi Islam tentang Penghapusan Bunga dan Ekonomi (Islamabad:
Government of Pakistan, 1980), hlm. 1.
42 Lihat M. Abu Zahrah, Buhuts fir-Riba (Kuawait: Dar al-Buhuts al-Islamiyyah, 1970) hlm. 53-54.
sangat terbatas pada kalangan tertentu dan jumlahnyapun sedikit, sehingga dapat dipenuhi lewat qardhul hasan. Karena itulah, almarhum, Syekh Abu Zahrah, secara tepat menegaskan,
“Sama sekali tak ada bukti yang mendukung pendapat bahwa riba jahiliyyah adalah untuk pinjaman konsumtif dan bukan produktif. Sebenarnya, jenis pinjaman yang ditemukan oleh para ulama dna yang didukung oleh data sejarah adalah pinjaman produktif. Keadaan-keadaan bangsa Arab, posisi Mekah, dan perniagaan orang-orang Quraisy, semuanya mendukung pendapat bahwa pinjaman itu adalah untuk tujuan-tujuan produksi dan bukan konsumsi.43
Karena itu, ayat al-Qur’an yang memerintahkan penghapusan pokok (modal) pada saat peminjam mengalami kesulitan, tidak mengacu pada pinjaman konsumsi. Hal demikian mengacu kepada pinjaman bisnis berdasarkan bunga di mana peminjam mengalami kerugian dan tidak dapat membayar kembali, bahwa pokoknya sekalipun, apalagi bunganya.
Dengan demikian keseluruhan argumen yang menyatakan bahwa bunga menimbulkan kesulitan hanya bagi orang yang berutang untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, adalah tidak mendasar. Justru kewajiban masyarakat muslimlah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi orang-orang miskin. Berutang untuk tujuan-tujuan konsumsi yang lain perlu dikontrol dan diorganisasikan. Karena itu, pada umumnya, utang dalam sebuah masyarakat muslim adalah untuk tujuan-tujuan bisnis.
Hanya dalam konteks inilah orang dapat memahami argumen jahiliyah bahwa jual beli itu seperti bunga dan perbedaan yang digambarkan oleh al-Qur’an antara jual beli dan bunga. Dalam jual beli, seorang pengusaha mempunyai prospek mendapatkan keuntungan, namun dia juga mengahdapi risiko kerugian. Sangat berbeda dengan ini, bunga ditentukan di depan secara positif dengan mengabaikan hasil akhir usaha bisnis, yang mungkin untung atau rugi bergantung banyak pada faktor-faktor di luar kontrol pengusaha. Imam ar-Razi sendiri mengajukan persoalan-persoalan serupa tentang apa yang salah dalam menetapkan bunga ketika peminjam akan mempergunakan dana pinjaman dalam usaha bisnisnya dan memperoleh keuntungan. Jawabannya terhadap pertanyaan ini adalah,
“Memperoleh keuntungan dalam suatu usaha bersifat tidak pasti, sedangkan pembayaran bunga ditentukan di depan dan bersifat pasti. Keuntungna belum tentu di raih. Karena itu,
43 M. Abu Zahrah, Buhuts fir-Riba, ibid. Syeikh Abu Zahrah bertanya,” Apakah mungkin ada orang yang sehat akalnya berpendapat bahwa ada seorang yang membutuhkan makanan dan pakaian datang mengahadap Abbas bin Abdul Muthalib, lalu ia (Abbas) mengulurkan pinjaman hanya dengan persyaratan bunga?” Ibid., hlm 53-55.
tidak diragukan lagi bahwa pembayaran sesuatu yang pasti untuk sesuatu yang belum pasti akan menimbulkan bahaya.
Karena itu, sebenarnya riba bertentangan dengan penekanan dan penegasan Islam pada keadilan sosioekonomi. Para peminjam yang tidak terlibat dengan risiko, hanya menerima pokok, tidak lebih dari itu. Mereka tetap menetapkan riba meskipun sudah dilarang, berarti menurut al-Qur’an menyatakan perang dengan Allah dan Rasul-Nya.
Pada waktu menunaikan haji wada’, Rasulullah saw mengumumkan penghapusan bunga, mengumumkan penghapusan bunga yang terkumpul milik pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib. Ini adalah bunga pinjaman untuk tujuan bisnis yang diberikan kepada suku Tsaqif. Kabilah ini tidak meminjam dana dari Abbas dan lainnya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, melainkan untuk memperluas usaha bisnis mereka. Ini bukanlah suatu kasus terpisah, tetapi suatu pembiayaan yang berlaku pada saat itu. Beberapa kabilah yang memiliki keahlian berdagang, bertindak seperti kemitraan besar, mereka meminjam dana dari anggota-anggota kabilahnya sendiri atau dari kabilah-kabilah yang bersahabat, untuk menjalankan bisnis berskala besar yang sumber-sumber daya merekasendiri tidak mengizinkan. Hal ini disebabkan karena mereka tidak dapat melakukan terlalu banyak perjalanan bisnis ke luar negeri dari timur dan barat. Sarana komunikasi yang lamban, sulitnya medan perjalanan, dan kerasnya iklim membatasi mereka hanya dua perjalanan niaga selama setahun, satu musim panas dan satu lagi musim dingin (Quraisy [106]: 2).
Karena itu, mereka mengumpulkan semua biaya yang dapat diusahakan untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat mereka bagi barang-barang impor dalam suatu periode tertentu. Mayoritas transaksi berbasis bunga yang disebutkan dalam tafsi-tafsir klasik yang berkaitan dengan larangan riba adalah pinjaman yang dilakukan oleh kabilah dari kabilah lain, setiap kabilah bertindak seperti perusahaan kemitraan besar.44 Islam menghapuskan hakikat hubungan berbasis bunga ini, tetapi mengorganisasikan kembali atas dasar prinsip bagi hasil. Penyedia modal mempunyai saham yang adil, sedangkan pelaku bisnis tidak dihadapkan pada kondisi buruk, salah satunya adalah penghadangan terhadap kafilah di tengah perjalanan.
F. Kesimpulan
Alasan mendasar mengapa Al-Qur’an menetapkan ancaman yang begitu keras terhadap bunga adalah bahwa Islam hendak menegakkan suatu sistem ekonomi di mana
44 Untuk penjelasan faktual yang sangat baik mengenai persoalan ini dengan pembuktian sejumlah referensi sejarah yang solid dari sumber-sumber aslinya, lihat Mufti Muhammad Syafi’I, Mas’alah-e-Sud (Urdu) (Karachi: Idarah al-Ma’arif, 1374 H), hlm. 18-23.
Lihat juga Abu Zahrah…hlm.54-55.
semua eksploitasi dihapuskan, terutama ketidakadilan dalam bentuk bahwa penyedia dana dijamin dengan suatu keumtungan positif tanpa bekerja apa pun atua menanggung risiko, sedangkan pelaku bisnis meskipun sudah mengelola dan bekerja keras, tidak menjamin dengan keuntungan positif demikian. Islam hendak menegakkan keadilan antara penyedia dana dan pelaku bisnis.
Dalam keadaan demikian, sulit rasanya melihat bagaimana orang menjudtifikasi bunga dalam sebuah masyarakat Muslim. Kesulitan memahami larangan itu terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap keseluruhan kompleks nilai-nilai Islam, terutama penekanannya yang tak mengenal kompromi terhadap keadilan terhadap keadilan sosioekonomi dan distribusi pendapatan dan kekayaan yang merata. Setiap upaya untuk melihat larangan riba sebagai suatu perintah Islam dengan segala etos, sasaran dan nilainya, hanya akan menimbulkan kebingungan.
Persoalan riba memang telah mulai dibicarakan tentang hubungannya dalam perdagangan dan keuangan. Secara kontekstual riba adalah penambahan yang dilakukan secara bathil, karena harta yang dihasilkan dari pelaku riba tidak dihasilkan dengan cara produksi, tapi diambil dari harta orang lain atau dari sumber masyarakat tanpa didahului oleh proses produksi. Begitu juga orang memanfaatkan hasil riba akan bersikap bermalas- malasan dan penyimpangan karena nilai tambah dari harta tersebut tidak dihasilkan dari usaha dan kerja keras. Yang pasti adalah riba akan memberatkan masyarakat pengguna jasa keuangan (Kreditor) manakala ia tidak mampu melunasi dikarenakan berlipatnya nilai bunga pinjaman tersebut.
Daftar Pustaka
Al-Jaziri, Abdurrahman, al-Fiqh ala Madzahibil Arba’ah, vol 2.Kairo: al-Maktabah at- Tijariyyah al-Kubro, 5h ed., nd.
Al-Khatib, Abdul Karim as-Siyasah al-Maliyah fi-Isla, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1975
At-Tariqi, Abdullah Husain, Ekonomi Islam, Dasar dan Tujuan. (Yogyakarta: Magistra Insania Press). September 2004.
Ar-Razi, Tafsir Fakhruddin, Tafsir al-Kabir (Teheran: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2nd ed., n.d.), vol. 7.
CD Maktabah Syamilah.
Chapra, Umer, Masa Depan Ilmu ekonomi, Sebuah Tinjauan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2001.
---, Sistem Moneter Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2000.
Haroen, Nasrun, Fiqh Muamalah, Jakarta: Gaya Media, Januari 2007.
Ismail bin Katsir,Abdul Fida’ Tafsir al-Qur’an al-Karim [Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, n.d], vol. 1.
Karim, Adiwarman, Ir, SE, MBA, MAEP, Bank Islam, Analisis Fiqh dan Keuangan, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2007
………, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta:
The International of Islamic Thought (IIIT), 2001.
Mandhur, Ibnu Lisanul Arab, vol. 14, Beirut: Dar Sadir lit-Thiba’ah wan Nasyr, 1968.
Manna, M. Abdul, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, terj. Drs. M. Nastangin, (Yogyakarta:
PT. Dana Bhakti Prima Yasa), 1993.
Muhammad, Tekhnik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syariah, Yogyakarta: UII Press, 2004
………, Bank Syariah: Analisis, Peluang, Kelemahan dan Ancaman, Yogyakarta:
Ekonisia, 2006.
………, Lembaga-Lembaga Keuangan Umat Kontemporer, Yogyakarta: UII Press, 2000.
Muslich, Drs, MM, Bisnis Syaria: Perspektif Muamalah dan Manajemen Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2007.
Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of Current English , Oxford University Press: 1974.
Qordhowi, Yusuf, Dr, Fatwa-fatwa Kontemporer (Jakarta: Gema Insani Press) http://www.geocities.com/pakdenono.com diakses tanggal 13 september 2008.
Rahman, Afzalur, Doktrin Ekonomi Islam,. Terj. Soeroyo, Nastangin. Ed. HM. Sonhadji. 4 jilid, Jakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995.
………, Ekonomi Mikro, , Ekonomi Mikro Ed. 3, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
Saeed, Abdullah. Islamic and Interest of The Prohibitioan of Riba and its Comtemporery Interpretation, terj. Muhammad Ufuqul Mubin, Nurul Huda, Ajmad Sahidah, cet. 2, Yogyakaarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Safi ad-Din, Ahmad Buhuts fi –Iqtishad al-Islami, Sudan: Wizarah asy-Syu’un ad-Diiniyah wal-Awqaf, 1978.
Sudarsono, Heri,. Konsep Ekonomi: Suatu Pengantar, Yogyakarta: Ekonisia, cet. 3, Agustus 2004.
Syihab, M. Quraish, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Mandhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat.
Ct. IV, Bandung: Mizan, 1998.
Zahrah, M. Abu Buhuts fir-Riba, Kuawait: Dar al-Buhuts al-Islamiyyah, 1970.
سيول دجنّملا :فولعم
ىف ة غللا و
ة عبط :ملاعلأا ةد يدج
،ةحقنّم راد
قرشملا توريّب
:نّانّبل
:ص
842