• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL SEREALIA

N/A
N/A
Detavia Putri Anggraeni

Academic year: 2025

Membagikan "ARTIKEL SEREALIA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

AGROTEKNOLOGI TANAMAN SEREALIA DAN UMBI KOMODITAS MILLET

DISUSUN OLEH :

1. DETAVIA PUTRI ANGGRAENI (220110026) 2. LU’LU’ NISHFA

3. LEO EDI SETIAWAN

PRODI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS AGROINDUSTRI

UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA 2025

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia- Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Agroteknologi Tanaman Serealia dan Umbi-Umbian ini dengan baik dan lancar.

Penyusunan tugas UTS ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang bertujuan untuk mengukur pemahaman mahasiswa terhadap materi yang telah disampaikan selama perkuliahan. Dalam tugas ini, kami berupaya menyampaikan analisis dan pemahaman kami secara sistematis dan berdasarkan referensi yang relevan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu, Ibu Farra Ummush Sholiha, S.Tr., M.P, yang telah membimbing dan memberikan arahan selama proses perkuliahan berlangsung. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung penyusunan tugas ini.

Kami menyadari bahwa tugas ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan di masa mendatang.

Akhir kata, semoga tugas ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan, baik bagi kami sendiri maupun bagi pembaca lainnya.

Yogyakarta, 7 Mei 2025 Hormat kami,

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

(4)

DAFTAR GAMBAR

(5)

DAFTAR TABEL

(6)

BAB I PENDAHULUAN

Millet adalah sejenis sereal berbiji kecil yang pernah menjadi makanan pokok masyarakat Asia Timur dan Tenggara sebelum mereka bercocok tanam tumbuhan serealia lainnya. Millet termasuk tanaman ekonomi minor namun memiliki nilai kandungan gizi yang mirip dengan tanaman pangan lainnya seperti padi, jagung, gandum, dan tanaman biji-bijian yang lain karena tanaman millet sendiri adalah tergolong ke dalam jenis tanaman biji-bijian. Sebagaian besar masyarakat belum mengenal millet sebagai sumber pangan sehingga selama ini tanaman millet hanya dijadikan sebagai pakan burung. Padahal tanaman ini dapat diolah menjadi sumber makanan oleh masyarakat guna mendukung ketahanan pangan dan mengantisipasi masalah kelaparan . Tepung millet diharapkan dapat digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai produk pangan olahan, misalnya mi dan berbagai jenis roti.

Millet terdiri dari berbagai spesies. Berdasarkan konsep Vavilov (Satari 1994), Panicum miliacum atau dikenal sebagai broomcorn millet, P. italicum (Italian millet), dan P. frumentaceum (Japanese barnyard millet), yang semuanya merupakan millet iklim sedang, diduga berasal dari daratan Cina. Sementara itu, Pennisetum typhoideum dan P. glaucum, yang tumbuh baik di iklim tropik termasuk di Indonesia, diduga berasal dari Afrika. Menurut Bidinger dan Peacock (1992) sebagaimana dikutip Norman et al. (1995), jawawut ditemukan di Sahara sejak 3000 SM dan kemudian menyebar ke Afrika beriklim tropika kering dan menyebar terus ke India, dikenal sebagai species typhoides tahun 2500 SM.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sifat fisikokimia yang dimiliki oleh tepung millet kuning dan tepung millet merah. Proses pembuatan tepung millet dengan cara, millet dipisahkan dari kulit arinya, kemudian setelah bersih Millet dikeirngkan dengan cara diangin anginkan dengan tujuan memisahkan millet dari bagian kulitnya. Setelah itu dilakukan penepungan dengan mesin penepung.

Selanjutnya tepung diayak menggunakan ayakan 80 mesh. Hasil penelitian menunjukkan sifat kimia tepung millet kuning sebagai berikut kadar air 9,19%, kadar abu 1,80%, kadar protein 11,29%, kadar lemak 2,58%, kadar karbohidrat 74,52%, serat kasar 2,01%, dan kadar pati 56,53%. Sedangkang untuk tepung millet merah sebagai berikut kadar air10,98%, kadar abu 1,66%, kadar protein 10,74%, kadar lemak 2,54%, kadar karbohidrat 73,99%, serat kasar 1,91%, dan kadar pati 57,62% . Sifat fisik tepung millet kuning sebagai berikut, memiliki kelarutan 45,63%, daya serap air 1,84 ml/gr, bulk density 0,56 gr/ml , dan rendemen 27%.

Sedangkan Sifat fisik tepung millet merah sebagai berikut, memiliki kelarutan 46,78%, daya serap air 1,33 ml/gr, bulk density 0,59 gr/ml , dan rendemen 34,55%.

(7)

Berdasarkan sifat fisikokimia dari tepung millet tersebut dapat diketahui bahwa tepung millet sudah dapat disejajarkan dengan tepung terigu hal tersebut dapat dilihat dari beberapa kandungan kimia serta fisik dari tepung millet yang sudah menyamai atau sejajar dengan kandungan kimia serta fisik pada tepung terigu (Prabowo, 2010).

(8)

BAB II

MORFOLOGI DAN SYARAT TUMBUH

Millet merupakan tanaman serealia kecil yang berasal dari keluarga Poaceae. Tanaman ini memiliki morfologi yang bervariasi tergantung spesiesnya, namun secara umum memiliki batang tegak berbuku-buku, daun sempit memanjang dengan pelepah yang membungkus batang, serta malai atau bulir sebagai tempat biji berkembang. Menurut Prabowo (2010), millet kuning dan millet merah memiliki struktur tanaman yang relatif serupa, dengan perbedaan utama terletak pada warna biji dan kandungan pigmen alami. Tinggi tanaman millet berkisar antara 40–100 cm dengan sistem perakaran serabut yang cukup dalam, menjadikan tanaman ini toleran terhadap kondisi tanah kering.

Bunga millet tergolong bunga sempurna dan biasanya diserbuki secara silang. Biji berbentuk bulat kecil dengan diameter kurang dari 2 mm, dan merupakan bagian utama yang dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat (Folkertsma et al., 2005). Tanaman millet dikenal sebagai tanaman yang toleran terhadap lingkungan marginal. Millet dapat tumbuh baik pada lahan kering dengan curah hujan rendah, bahkan di daerah semi-arid yang curah hujannya hanya sekitar 400–600 mm per tahun (National Research Council, 1996). Tanaman ini juga mampu tumbuh pada berbagai jenis tanah, mulai dari tanah berpasir hingga tanah liat, meskipun tanah dengan drainase baik dan pH netral (5,5–7,0) lebih disukai.

Suhu optimal untuk pertumbuhan millet berkisar antara 25–30°C, dan tanaman ini sangat peka terhadap suhu dingin, terutama pada fase perkecambahan dan pembungaan (NRC, 1996). Di sisi lain, daya adaptasi millet yang tinggi terhadap kondisi stres kekeringan menjadikannya sebagai salah satu komoditas unggulan di daerah-daerah kering. Bimo Prabowo (2010) juga menyatakan bahwa millet termasuk tanaman yang memiliki siklus hidup pendek, yakni sekitar 70–90 hari, sehingga cocok dibudidayakan di daerah dengan musim tanam yang pendek.

Tabel 1. Perbandingan kandungan nutrisi jawawut terhadap tanaman serealia penting lainnya.

Komposisi gizi Jawawut Beras Gandum Jagung Sorghum 1. Karbohidrat (%) 6,30 77,00 69,00 72,00 71,00

2. Protein (%) 10,60 8,90 10,00 10,00 13,00 3. Lemak (%) 1,90 2,00 2,00 5,00 3,00 4. Serat (%) 2,90 1,00 2,00 2,00 2,00

5. Kalsium (mg/100 g) 25,00 10,00 30,00 29,00 32,00

(9)

6. Riboflavin/Vit B2 (mg/100 g) 0,33 0,25 0,10 0,10 0,13 7. Vit B1 (mg/100 g) 3,70 4,00 4,00 4,50 3,10

8. Energi (KJ/100 g) 1,61 1,64 1,57 1,66 1,57

9. Hasil (ton/ha) 0,70 4,00 1,90 3,30 1,40 Keterangan : Komposisi no. 1 s/d 5 dan 7 diambil dari Nurmala (1998) Komposisi No. 6, 8, dan 9 diambil dari Harper et al.

(1965)

(10)

BAB III

TEKNIK BUDIDAYA DAN PERAWATAN

(11)

BAB IV

PANEN DAN PASCA PANEN

(12)

BAB V TATANIAGA

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Prabowo, B. (2010). Kajian sifat fisikokimia tepung millet kuning dan tepung millet merah

Satari, G. 1994. Dasar Agronomi I. Jurusan Budidaya Fak. Pertanian Univ.

Padjadjaran (tidak dipublikasikan).

Norman, MJT, CJ Pearson and PGE Scarle. 1995. The Ecology of Tropical Food Crops 2nd. Ed. Cambridge Univ. Press. Pp 164-184.

Folkertsma, R. T., Frederiks, T., & Subbarao, G. V. (2005). Millets and sorghum:

Biology and genetic improvement. Science Publishers.

National Research Council (NRC). (1996). Lost crops of Africa: Volume I: Grains.

National Academies Press.

Referensi

Dokumen terkait

(2012) menyatakan bahwa varietas gandum mempunyai karakteristik malai dan biji/ gabah yang berbeda dengan tanaman padi, sehingga penggunaan perontok padi untuk merontok

Nitrogen berperan dalam hal: (1) mempertinggi pertumbuhan vegetatif terutama daun, (2) pengisian biji berjalan lebih baik pada tanaman biji-bijian, (3) mempertinggi kandungan

Salah satu biji-bijian yang potensial memiliki kandungan pati tinggi yaitu biji durian, sehingga memungkinkan digunakan sebagai bahan diversifikasi pangan, antara

Di alam, pati banyak terkandung dalam beras, gandum, jagung, biji-bijian seperti kacang merah atau kacang hijau dan banyak juga terkandung dalam berbagai

Tanaman ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan tanaman pangan sumber karbohidrat setelah padi dan jagung. Ubi Kayu di Bangka masih memiliki kandungan Fitokimia yang

Peneliti memberikan kegiatan membuat pola gambar sesuai dengan tema dengan bahan alam biji-bijian (biji kacang tanah, kacang hijau, jagung kering, padi, kacang

3) Tanaman Pangan; berbagai jenis tanaman pangan yang dikembangkan di wilayah Kecamatan Limbangan antara lain padi yang meliputi padi sawah dan padi gogo,

Jagung merupakan salah satu makanan pangan terpenting, selain gandum dan padi. Salah satu jenis jagung adalah jagung manis. Pengolahan jagung manis saat ini masih sebatas