TUGAS KELOMPOK SOSIAL BUDAYA DASAR
ASPEK SOSIAL BUDAYA SUKU SENTANI
Pengampu Mata Kuliah : Sumiaty, SST., MPH
Disusun Oleh:
Nurfatimah PO7124123076 Zalfa Zahira PO7124123080
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN PALU JURUSAN KEBIDANAN
PRODI DIII KEBIDANAN
2024/2025
A. Aspek Sosial Budaya Perkawinan Pada Suku Sentani
Perkawinan adalah masalah yang sulit bagi masyarakat adat suku Sentani karena Mijea Hemboni adalah praktik perkawinan tradisional di mana seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan. Proses peminangan biasanya dilakukan sebelum perkawinan. Pertama, pihak laki-laki dan keluarganya harus datang ke rumah keluarga perempuan untuk meminangnya. Saat mereka tiba, pihak perempuan dan keluarganya harus menyiapkan makanan, sirih, pinang, dan kapur untuk acara tersebut, meskipun pihak laki- laki belum memberikan pembayaran apa pun kepada pihak perempuan dan keluarganya.
Kedua, setelah peminangan diterima, acara nikah dan pembayaran Miyea Hemboni diatur. Dalam prosesnya, ada banyak cara untuk mencapai kesepakatan dalam diskusi formal. Yang dilakukan oleh kedua pihak atau juga lebih, di mana masing-masing pihak baik perempuan maupun pihak laki-laki memiliki pendapat atau tujuan berbeda dan terjadi proses tawar-menawar untuk dapat mencapai kesepakatan. Kesepakatan antara kedua belah pihak perempuan maupun pihak laki-laki, terkait dengan biaya acara pernikahan dan terutama untuk penyelesaian atau pembayaran Miyea Hemboni.
Ketiga, pihak perempuan menghubungi pihak laki-laki untuk membayar Miyea Hemboni. Bagi masyarakat Sentani, penyelesaian atau pembayaran Miyea Hemboni adalah sebuah budaya dan kewajiban adat. Alat-alat perkawinan yang digunakan sesuai tradisi perkawinan sangat mahal dan mulai menjadi langka. Tomako batu, manik-manik, gelang batu, uang tunai, dan pengantaran bahan makanan seperti babi, pisang, beras, sagu, gula, teh, susu, dan sebagainya. Ini menjadi dasar dan persyaratan untuk pembayaran Miyea Hemboni kepada pihak perempuan atau orang yang menerimanya (Widyastomo, 2022).
Apabila perlengkapan perkawinan seperti tomako batu dan manik-manik sebagai Miyea Hemboni tersebut tidak dipenuhi, sebuah pernikahan tidak sah secara adat. Pada hakikatnya pembayaran Miyea Hemboni dalam pemahaman dasar masyarakat Sentani merupakan pengesahan terhadap sebuah ikatan perkawinan antara seorang lelaki dan perempuan yang akan berfungsi untuk melanjutkan keturunan. Keturunan yang akan melanjutkan kehidupan keluarga dan mewarisi segala harta milik keluarga, berada dan hak ulayat keluarga. Sebagai upaya untuk mengikat, membangun, dan mengembangkan sistim kekerabatan dengan pihak keluarga dari kelompok suku (klen) yang lain (Yufuai & Widadgo, 2013).
Ikatan kekerabatan ini akan hidup selalu dengan penuh kasih sayang karena, masing-masing pihak akan saling memahami hak dan kewajiban untuk saling melayani baik yang berasal dari kelompok suku (klen) yang sudah lama terjalin hubungan perkawinan atau dengan kelompok suku yang baru. Miyea Hemboni merupakan kumpul keluarga, masyarakat setempat, kampung. Tujuannya untuk meringankan beban dan mempermudah dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi untuk diselesaikan; dan inilah nilai (Litaay, 2021).
Budaya pembayaran Miyea Hemboni dalam masyarakat Sentani adalah sebuah budaya kuno, klasik sehingga dianggap sebagai sesuatu yang penting, dihormati, dihargai, dilaksanakan, serta dilestarikan dengan baik dari generasi ke generasi sampai di era modern dan menjadi salah satu budaya yang masih tetap dipertahankan dari sebuah siklus perputaran budaya hingga masa kini dan yang akan datang. Hal ini yang unik sejauh mana masyarakat Sentani mampu mempertahankan budaya unik di dunia modern tanpa kesadaran bahwa dari zaman dulu kala budaya ini mengalami pergeseran hingga pada zaman modern. Sebuah siklus perputaran budaya hingga masa kini dan yang akan datang (Yenina Akmal, 2000).
B. Aspek Sosial Budaya Persalinan Pada Suku Sentani
Suku Sentani memiliki tradisi dan kepercayaan yang unik terkait proses melahirkan. Budaya ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian integral dari kehidupan mereka (Papua, 2020). Beberapa aspek penting dari budaya melahirkan di Suku Sentani antara lain:
1. Peran Dukun Beranak
Dukun bersalin atau biak memiliki peran yang sangat penting dalam masyarakat Sentani.Dukun beranak memiliki peran yang sangat sentral dalam proses persalinan. Mereka dianggap memiliki kekuatan spiritual untuk membantu ibu melahirkan dengan selamat. Dukun beranak tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memberikan dukungan emosional dan spiritual kepada ibu.
Mereka memiliki pengetahuan tradisional tentang tanaman obat yang dapat membantu meredakan nyeri dan mempercepat proses persalinan.
2. Tempat Melahirkan
2
Secara tradisional, persalinan dilakukan di rumah ibu dengan bantuan keluarga dan dukun beranak. Rumah persalinan biasanya disiapkan secara khusus, dengan suasana yang nyaman dan tenang. Penggunaan fasilitas kesehatan modern seperti rumah sakit masih belum umum di beberapa komunitas Suku Sentani.
3. Ritual dan Upacara
Sebelum dan selama persalinan, sering dilakukan ritual dan upacara untuk memohon perlindungan dari roh-roh jahat dan meminta keberkahan bagi ibu dan bayi. Penggunaan mantra dan doa adalah bagian integral dari ritual-ritual ini.
4. Kepercayaan dan Mitos
Suku Sentani memiliki berbagai kepercayaan dan mitos terkait kehamilan dan persalinan. Beberapa mitos percaya bahwa roh-roh jahat dapat mengganggu proses persalinan, sehingga perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengusir roh- roh jahat tersebut.
5. Perubahan dan Tantangan
Dalam beberapa dekade terakhir, budaya melahirkan di Suku Sentani mengalami perubahan yang signifikan. Semakin banyak perempuan Suku Sentani yang memilih untuk melahirkan di fasilitas kesehatan modern. Namun, masih banyak juga yang tetap memilih untuk melahirkan secara tradisional di rumah dengan bantuan dukun beranak.
C. Aspek Sosial Budaya Kehamilan Pada Suku Sentani
Suku Sentani memiliki kekayaan budaya yang unik, termasuk dalam hal menyambut kehadiran anggota keluarga baru (Rery &
Nuburi, 2023). Berikut beberapa kebiasaan yang umum ditemui saat kehamilan di suku ini:
1. Peran Dukun Kampung
Pembimbing Spiritual : Dukun kampung atau tokoh adat memiliki peran penting dalam memberikan bimbingan spiritual selama kehamilan. Mereka dianggap memiliki pengetahuan khusus tentang tanaman obat, ritual, dan cara menjaga kesehatan ibu hamil.
Perantara dengan Roh Leluhur : Dukun kampung juga berfungsi sebagai perantara antara ibu hamil dan roh leluhur. Mereka melakukan ritual-ritual tertentu untuk meminta perlindungan dan berkah bagi ibu dan janin.
2. Pantangan Makanan dan Aktivitas
Makanan Khusus : Ibu hamil biasanya dilarang mengonsumsi makanan tertentu yang dianggap dapat mengganggu perkembangan janin atau menyebabkan komplikasi saat melahirkan.
Aktivitas Terbatas : Beberapa aktivitas fisik yang berat atau dianggap berbahaya bagi janin juga dihindari.
Misalnya, mengangkat beban berat, bekerja terlalu keras, atau melakukan perjalanan jauh.
3. Ritual Kehamilan
Upacara Adat : Beberapa suku Sentani memiliki upacara adat khusus untuk menyambut kehamilan. Upacara ini bertujuan untuk memberkati ibu hamil dan janin, serta meminta perlindungan dari roh jahat.
Pemberian Nama : Nama bayi seringkali ditentukan melalui ritual khusus dan memiliki makna yang berkaitan dengan sejarah keluarga atau peristiwa penting.
4. Perawatan Tradisional
Ramuan Herbal : Ibu hamil sering menggunakan ramuan herbal untuk menjaga kesehatan dan mengatasi berbagai keluhan selama kehamilan. Ramuan ini biasanya dibuat dari tanaman-tanaman yang tumbuh di sekitar lingkungan mereka.
Pijatan : Pijatan tradisional juga sering dilakukan untuk meredakan nyeri dan meningkatkan sirkulasi darah pada ibu hamil.
D. Aspek Sosial Budaya Masa Nifas Pada Suku Sentani
Masa nifas bagi masyarakat Suku Sentani adalah periode yang sangat penting dan dipenuhi dengan berbagai ritual dan pantangan.
Ini bukan sekadar masa pemulihan fisik, tetapi juga waktu bagi seorang perempuan untuk kembali ke keseimbangan spiritual dan sosial (Yufuai & Widadgo, 2013).
Beberapa aspek penting dari masa nifas di Suku Sentani:
1. Isolasi
Setelah melahirkan, seorang ibu biasanya diisolasi di dalam rumah selama beberapa hari atau minggu. Isolasi ini bertujuan untuk melindungi ibu dan bayi dari roh-roh jahat dan pengaruh negatif dari luar.
4
Selama masa isolasi, ibu hanya boleh berinteraksi dengan orang-orang tertentu, seperti ibu atau neneknya.
2. Pantangan
Makanan : Terdapat pantangan makanan tertentu yang harus dihindari selama masa nifas, seperti makanan yang dianggap dingin atau mengandung banyak air. Ini bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi serta mempercepat proses penyembuhan.
Aktivitas : Ibu juga dilarang melakukan aktivitas berat, seperti mengangkat benda berat atau bekerja di ladang.
Kegiatan sehari-hari dibatasi untuk menjaga kondisi fisik ibu.
Sosial : Ibu dilarang keluar rumah atau berinteraksi dengan orang asing untuk menghindari energi negatif yang dapat mengganggu proses pemulihan.
3. Ritual
Pembersihan : Setelah masa isolasi, biasanya dilakukan ritual pembersihan untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran nifas dan menyambut kembali ibu ke dalam kehidupan sosial.
Upacara : Terdapat upacara-upacara khusus yang dilakukan untuk merayakan kelahiran bayi dan menyambut kedatangan anggota baru dalam keluarga.
4. Peran Dukun Bayi
Dukun bayi memiliki peran penting dalam masa nifas.
Mereka membantu proses persalinan, merawat ibu dan bayi, serta melakukan ritual-ritual tertentu.
Segera setelah menyusui pertama kali pada bayi, ibu nifas langsung diberikan sagu (papeda ‘ Phi’) panas –panas sekali untuk dimakan untuk memperlancar darah keluar dari dalam.
Terkait dengan perawatan nifas dilakukan di rumah dalam kamar atau ruangan yang di sediakan khusus karena masih bauh darah dan amis, dukun akan membuat air panas ibu di dudukan dengan posisi kaki terlentang ke depan kemudian handuk panas dicelupkan ke dalam air panas lalu ibu di dudukan diatas uap handuk sampai darah kotor keluar (cara sauna).
Setelah itu dengan tangan dukun akan memeriksa bagian dalam apakah sudah bersih dilakukan selama 1 bulan sampai benar-benar bersih setelah itu diberikan minuman ramuan
prakepei (tali kuning yang tergantung di pohon) untuk mengatasi gatal-gatal, daun sirih untuk mengeringkan luka, daun miyana untuk pendarahan dan daun turi untuk darah putih.
Setelah melakukan perawatan ibu hanya menggunakan hasduk (handuk yang dijahit membentuk pembalut) setelah darah penuh lalu dicuci dan pakai lagi selama masa nifas.
Masyarakat sudah mengenal KB alami untuk mengatur jarak kelahiran anak secara turun temurun, menurut informan jarak kelahiran anak akan disampaikan oleh dukun dengan melihat pada titik hitam yang berada ditali pusat anak sebelum di potong.
E. Aspek Sosial Budaya Perawatan Bayi Pada Suku Sentani
Suku Sentani, dengan kekayaan budaya dan kehidupannya yang dekat dengan alam, memiliki tradisi perawatan bayi yang unik dan sarat makna. Praktik-praktik ini tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan fisik bayi, tetapi juga mengandung nilai-nilai spiritual dan sosial yang mendalam (Alwi, 2012).
Karakteristik Utama : 1. Pentingnya ASI Eksklusif
Sama seperti banyak budaya lain, Suku Sentani sangat meyakini pentingnya ASI eksklusif sebagai makanan pertama dan terbaik bagi bayi. Mereka percaya bahwa ASI tidak hanya memberikan nutrisi, tetapi juga memindahkan kekebalan tubuh ibu kepada bayi.
2. Penggunaan Jamu Tradisional
Berbagai jenis tanaman dan rempah-rempah lokal digunakan untuk membuat jamu tradisional yang dipercaya dapat meningkatkan kesehatan bayi, misalnya untuk mengatasi kolik atau gangguan pencernaan.
3. Mandi Herbal
Bayi sering dimandikan dengan air rebusan daun-daunan tertentu yang dianggap memiliki khasiat untuk menjaga kesehatan kulit dan mencegah penyakit kulit.
4. Pemijatan Bayi
Pijatan bayi merupakan bagian penting dari perawatan sehari-hari. Pijatan ini tidak hanya memberikan relaksasi, tetapi
6
juga dipercaya dapat merangsang pertumbuhan fisik dan perkembangan motorik bayi.
5. Upacara Adat
Terdapat upacara adat khusus yang dilakukan saat bayi lahir maupun pada tahap-tahap perkembangan tertentu.
Upacara ini bertujuan untuk memohon berkah kepada leluhur dan roh-roh gaib agar bayi tumbuh sehat dan selamat.
6. Perawatan Bayi
Perawatan bayi dilakukan tepat saat bayi dilahirkan ketika bidan memberikan pada dukun, pertama kali dengan kopi kental dicampur air kemudian diminumkan, setelah itu bayi ditidurkan dengan posisi tengkurap ke bawah untuk mengeluarkan kotoran dari dalam mulut. Bayi diberikan air susu pertama yang berwarna hijau kekuning-kuningan.
Meskipun diberikan ASI pertama, jika ASI kurang maka akan ditambah dengan air kelapa muda yang diambil dari atas pohon dan tidak boleh di jatuhkan ke bawah karena nanti anak minum bisa sakit atau buah ketepeng hutan yang tumbuh dipinggir pantai dengan mengambil air perasan sarinya lalu di minumkan untuk mencegah anak kehausan. Untuk MP ASI bayi diberikan sagu dan betatas. Perawatan tali pusat dukun atau orang tua menggunakan bakaran bekas tempurung kelapa dan daun-daunan lalu panas api di panaskan pada tangan kosong dan diraurau di pusat dan sekitar pusat anak sampai dengan tali pusatnya jatuh.
Untuk menghangatkan bayi anak di tidurkan didekat asap bakaran kayu atau tempurung kelapa dalam ruangan kamar, dan pada saat bayi 3 bulan dimandikan dengan air dingin. Jika terjadi gangguan pada anak seperti tali pusat mengeluarkan darah maka yang disalahkan adalah ibu dan suami. Menurut mereka ibu tidak boleh masuk ke hutan dan bekerja berat sendangkan suami tidak boleh memegang benda tajam dan menam tanaman jangka panjang anak akan terlambat melangkah.
Cara mereka mengatasi keluhan/gangguan kesehatan bayi adalah dukun memberikan daun jambu (gejawas’ Guava’) untuk diare dan memijit perut bayi dengan menekan dan memutar disekitar perut untuk mengangkat tempat makan anak. Memberikan ramuan getah jarak untuk mengeluarkan lendir pada tenggorokan. nafsu makan anak berkurang dikarenakan gigi mau tumbu musim buah-buah mulai banyak
dan musim ikan di laut semakin berkurang. Namun untuk mengetahui perkembangan bayi mereka memanfaatkan posyandu agar mendapat PMT dan imunisasi.
F. Aspek Sosial Budaya Keluarga Pada Suku Sentani
Suku Sentani memiliki sistem kekerabatan yang sangat kuat dan kompleks, menjadi pondasi utama dalam kehidupan sosial mereka. Kekerabatan tidak hanya dilihat dari hubungan darah, tetapi juga mencakup hubungan sosial yang luas, seperti hubungan kekerabatan berdasarkan tempat tinggal, perkawinan, dan ikatan adat lainnya (Rery & Nuburi, 2023). Ciri-ciri Utama Budaya Kekerabatan Suku Sentani:
1. Klan atau Suku Kecil : Masyarakat Sentani terbagi menjadi beberapa klan atau suku kecil. Setiap klan memiliki sejarah, wilayah, dan simbol-simbol tertentu. Ikatan kekerabatan dalam klan sangat kuat, dan anggota klan saling membantu dan melindungi satu sama lain.
2. Sistem Patrilineal : Sistem kekerabatan Sentani umumnya bersifat patrilineal, artinya keturunan seseorang mengikuti garis keturunan ayah. Hal ini berarti seseorang lebih dekat secara sosial dan budaya dengan kerabat dari pihak ayah.
3. Rumah Adat Obhe : Obhe adalah rumah adat suku Sentani yang memiliki makna sangat penting dalam kehidupan sosial dan budaya. Obhe bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga pusat kegiatan sosial, tempat berkumpulnya keluarga besar, dan simbol identitas klan.
4. Gotong Royong : Nilai gotong royong sangat tinggi dalam masyarakat Sentani. Dalam berbagai kegiatan, baik itu membangun rumah, bertani, atau merayakan upacara adat, masyarakat selalu bekerja sama secara gotong royong.
5. Upacara Adat : Berbagai upacara adat memiliki peran penting dalam memperkuat ikatan kekerabatan. Upacara kematian, misalnya, melibatkan seluruh anggota keluarga besar dan menjadi momen untuk mempersatukan kembali anggota keluarga.
8
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Q. (2012). Karakteristik, Perilaku Dan Budaya Ibu-Ibu Papua Yang Melatarbelakangi Kematian Anak. Media of Health Research and Development, 19(1 Mar), 42–53.
Litaay, E. (2021). Pendekatan, Pendampingan, dan Konseling Budaya Masyarakat Adat Suku Sentani. Pharmacognosy Magazine, 75(17), 399–405.
Papua, J. A. (2020). Jurnal Antropologi Papua. 1(1), 13.
Rery, H. V, & Nuburi, D. (2023). Peran Perempuan Suku Sentani dalam Keluarga (Issue July). https://books.google.com/books?
hl=en&lr=&id=6OLXEAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA1&dq=peran+pemuda +dalam+meneguhkan+pertumbuhan+gereja&ots=H7pJAgmBFa&sig=
0dUI-vHW1jERK98-rWcxrtztPjM
Widyastomo, D. (2022). Pelestarian Ruang Sakral Permukiman Tradisional Adat Sentani di Danau Sentani Papua (Studi Kasus : Kampung Ayapo, Asei dan Hobong Pada Permukiman Adat Sentani di Pesisir Danau Sentani). Jurnal Ilmiah Komputer Grafis, 15(2), 478–
486.
Yenina Akmal. (2000). Kondisi sosial budaya suku Sentani dan implikasinya pada perilaku ibu hamil dalam memanfaatkan pelayanan program kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Puskesmas: Studi kasus di Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura.
Yufuai, A. R., & Widadgo, L. (2013). Pratek Budaya Suku Kampung Yepase Terkait Perawatan Kehamilan, Nifas dan Bayi di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura. Pratek Budaya Suku Kampung Yepase Terkait Perawatan Kehamilan, Nifas Dan Bayi Di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura., 8(2), 100–110.
https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jpki/article/view/17727/12596