PENGARUH ASPEK SOSIAL EKONOMI , AGAMA, BUDAYA, SUKU BANGSA, GENDER TERHADAP
KESEHATAN
OLEH KELOMPOK 9:
TARISSA FINANDITHA SA (202222026) ANANDA PRIMATA BEAUTY (202222033)
NANDINI PERMATA SARI (202222038)
Aspek sosial ekonomi, agama, budaya, sukubangsa, gender terhadap kesehatan.
1. Aspek sosial ekonomi terhadap kesehatan
◦ Status sosial ekonomi dianggap sangat membawa pengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Faktor yang dapat diukur dalam status ekonomi sosial adalah pendapatan keluarga, pendidikan orang tua atau diri sendiri, dan status profesional orang tua atau dirisendiri. Status kesehatan terkait dengan status sosial ekonomi. Pendidikan juga sangat berhubungan dengan kesehatan menuju yang lebih baik, pendidikan bisa merubah hasil kesehatan dan meningkatkan umur panjang, dengan mendorong untuk berprilaku memberikan perlindungan diri terhadap penyakit.
◦ faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat : a. pendidikan
b. pendapatan
c. budaya
2. Aspek agama terhadap kesehatan
Peran agama dalam memperbaiki sikap dan perilaku seseorang begitu penting. Dia akan tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Berikut beberapa contoh pengaruh agama terhadap kesehatan mental yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur.
a. Membentengi Diri Dari Perbuatan Buruk b. Melatih Hidup Dengan Sabar
c. Hidup Menjadi Lebih Ikhlas d. Hidup Menjadi Lebih Bersabar e. Hidup Dengan Sederhana
f. Hidup Rendah Hati
g. Menghargai dan Menghormati Orang Lain
h. Tahu Batasan Baik dan Buruk.
3. Aspek suku bangsa dan budaya terhadap kesehatan
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakanbagian integral kesehatan.
Kebudayaan dan Pengobatan Tradisional Masing-masing kebudayaan memiliki berbagai pengobatan untuk penyembuhan anggota masyarakatnya yang sakit. Berbeda dengan ilmu kedokteran yang menganggap bahwa penyebab penyakit adalah kuman, kemudian diberi obat antibiotika dan obat tersebut dapat mematikan kuman penyebab penyakit. Pada masyarakat tradisional, tidak semua penyakit itu disebabkan oleh penyebab biologis. Kadangkala mereka menghubung-hubungkan dengan sesuatu yang gaib, sihir, roh jahat atau iblis yang mengganggu manusia dan menyebabkan sakit. Banyak suku di Indonesia menganggap bahwa penyakit itu timbul akibat guna-guna. Orang yang terkena guna-guna akan mendatangi dukun untuk meminta pertolongan. Masing-masing suku di Indonesia memiliki dukun atau tetua adat sebagai penyembuh orang yang terkena guna-guna tersebut. Cara yang digunakan juga berbeda-beda masing-masing suku.
4. Pengaruh gender terhadap kesehatan
Kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti ”jenis kelamin”. Konsep gender dalam wacana ilmu social termasuk konsep yang relatif masih muda. Menurut Onny S.Prijono (1996:202) : “Konsep Gender berkembang sejak tahun 1970- an karena dalam kalangan yang berkecimpung dengan masalah kaum perempuan, terdapat ketidakpuasan dengan konsep perempuan dalam pembangunan (woman in development---WID), yang pada dasarnya melihat kaum perempuan terpisah dari kaum laki-laki”
Dalam memahami konsep gender, harus dibedakan dengan konsep seks. Konsep yang kedua ini, mengacu pada pengidentifikasian perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi atau aspek biologi seseorang misalnya perbedaan komposisi kimia dan hormone dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya.
Beberapa Perspektif Gender
Feminisme telah menjadi pergerakan lebih dari seabad, secara konstan berubah dan mengubah bentuknya sendiri, untuk merespons perubahan pada lingkungan dan pergerakan sosial lainnya yang berinteraksi di dalamnya. Pergerakan modern juga mempengaruhi dengan karakter internasionalnya. Gagasan dan praktik gencar dikomunikasikan, tetapi perbedaan pada konteks sosial dan politik menghasilkan berbagai macam feminisme yang berbeda. Beberapa perspektif gender terbagi menjadi 3 teori, yaitu:
1. Teori Fungsionalisme Struktural atau dikenal sebagai teori fungsional 2. Teori Konflik.
3. Teori Psikoanalisis.
Dalam perkembangannya menjadi manusia dewasa, setiap individu akan melewati berbagai tahap perkembangan psiokoseksual.Secara lebih jelas, dalam teori psiokoanalisis, Freud menyebutkan ada lima tahap psiokoseksual, sebagai berikut:
1. Tahap kesenangan berada di mulut (oral stage)
terjadi sepanjang tahun pertama seorang bayi. Kesenangan seorang bayi ialah mengisap susu melalui mulut.
2. Tahap kesenangan berada di dubur (anal stage)
tahun kedua seorang bayi, memperoleh kesenangan di sekitar dubur yaitu ketika seorang bayi mengeluarkan kotoran.
3. Tahap seorang anak memperoleh kesenagnan pada saat mulai mengidentifikasi alat kelaminnya (phallic stage) yaitu seorang anak memperoleh kesenangan erotis dari penis bagi anak laki-laki dan klirotis bagi anak perempuan.
4. Tahap remaja (talency stage)
yaitu kelanjutan dari tingkat sebelumnya, ketika kecenderungan erotis ditekan sampai menjelang masa pubertas.
5. Tahap puncak kesenangan pada daerah kemaluan (genital stage) yaitu saat kematangan seksual seseorang.