ASUHAN KEPERAWATAN HOME CARE I PADA NY H.S DENGAN DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI
DI SUSUN OLEH : Haeruddin (C2208014)
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN STIKES PANRITA HUSADA BULUKUMBA
TAHUN AKADEMIK 2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT, atas berkah, rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Asuhan keperawatan Home Care I dengan judul ”Asuhan Keperawatan Home Care I Pada Ny H.S Dengan Diagnosa Medis Hipertensi”
Askep ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan askep ini. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan askep ini.
Harapan saya semoga askep ini dapat menambah wawasan dan pengalaman bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah referensi terbaru agar menjadi lebih baik lagi.
Saya menyadari bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan askep ini.
Akhir kata hanya kepada Allah SWT, saya memohon semoga berkah dan rahmat serta melimpah kebaikan-Nya senantiasa tercurahkan kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungannya hingga terselesaikanya askep ini.
Bulukumba, 20 APRIL 2024
HAERUDDIN
DAFTAR ISI
SAMPUL ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB 1 PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Tujuan... 1
C. Manfaat ... 1
BAB II TINJAUAN TEORI 2 A. Konsep Medis... 2
1. Definisi... 2
2. Etilogi... 3
3. Patofisiologi... 5
4. Manifestasi Klinik... 6
5. Komplikasi... 6
6. Pemeriksaan Diagnostik...7
7. Penatalaksanaan... 8
B. Konsep Asuhan Keperawatan ...11
1. Pengkajian... 11
2. Diagnosis Keperawatan ...13
3. Rencana Asuhan Keperawatan ...14
4. Implementasi ... 14
5. Evaluasi ... 22
C. Tinjauan Kasus... 23
BAB III PENUTUP... 36
A. Kesimpulan... 36
B. Saran... 36
DAFTAR PUSTAKA... 37
LAMPIRAN DOKUMENTASI ... 38
LAMPIRAN INFORM CONSENT UNTUK PERAWATAN HOME CARE...39
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Di Indonesia, Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas, sehingga tatalaksana penyakit ini merupakan intervensi yang sangat umum dilakukan di berbagai tingkat fasilitas kesehatan. Penyakit hipertensi sering disebut sebagai “silent killer” karena bisa muncul tanpa gejala atau tanda-tanda peringatan, sehingga banyak yang tidak menyadarinya (Ariyanti, 2020).
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%. Ini mengalami peningkatan dibandingkan prevalensi hipertensi pada Riskesdas Tahun 2013 sebesar 25,8%. Diperkirakan hanya 1/3 kasus hipertensi di Indonesia yang terdiagnosis, sisanya tidak terdiagnosis ( Rokom 2021).
Faktor resiko Hipertensi dapat digolongkan atas umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, genetik (faktor resiko yang tidak dapat diubah/dikontrol), kebiasaan merokok, konsumsi garam, konsumsi lemak jenuh, penggunaan jelantah, kebiasaan konsumsi minum-minuman beralkohol, obesitas, kurang aktifitas fisik, stress, penggunaan estrogen (Nortajulu, 2023).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk menganalis dan mengetahui mengenai kosep medis, konsep keperawatan pada pasien
Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui konsep medis hipertensi b. Untuk mengetahui konsep keperawatan hipertensi
c. Untuk mengetahui pengelolaan atau perawatan pada pasien hipertensi C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Sebagai bahan referensi bagi perawat maupun mahasiswa keperawatan dalam mengelola pasien yang mengalami hipertensi.
2. Manfaat Aplikatif
Sebagai tambahan wawasan dan pengalaman dalam bidang pengetahuan mengenai pengelolan pasien yang mengalami hipertensi.
BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Medis Hipertensi
1. Definisi
Hipertensi dapat diartikan sebagai tekanan darah persisters disana tekanan darahnya di atas 140/90 mmHg. Pada manula hipertensi didefmiskan sebagai tekanan sistoliknya 160 mmHg dan tekanan diastoliknya 90 mmHg.
Hipertensi adalah suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arten menyebabkan meningkatnya risiko terhadap stroke, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal (Manurung, 2018)
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang ( Kemenkes, 2017)
Hipertensi merupakan keadaan medis dimana kondisi pembuluh darah mengalami peningkatan tekanan yang persistem. Secara klinis, hipertensi dapat didefinisikan sebagai keadaan peningkatan tekanan darah di atas batas yang ditetapkan oleh suatu panduan (Musniati, 2022).
Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang dapat memberikan gejala yang bervariasi pada masing-masing individu dan sering kali gejalanya tidak spesifik atau menyerupai penyakiti lain (Kusuma,2020).
Klasifikasi hipertensi menurut WHO, yaitu:
a. Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140 mmHg dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg.
b. Tekanan darah perbatasan (broder line) yaitu bila sistolik 141- 149 mmHg dan diastolik 91-94 mmHg.
c. Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.
Klasifikasi menurut The Joint National Committee on the Detection and Treatment of Hipertension dalam buku (Aspiani, 2015), yaitu:
a. Diastolik
1) < 85 mmHg : Tekanan darah normal
2) 85 – 99 mmHg : Tekanan darah normal tinggi
3) 90 -104 mmHg : Hipertensi ringan 4) 105 – 114 mmHg : Hipertensi sedang 5) >115 mmHg : Hipertensi berat b. Sistolik (dengan tekanan diastolik 90 mmHg)
1) < 140 mmHg : Tekanan darah normal
2) 140 – 159 mmHg : Hipertensi sistolik perbatasan terisolasi
3) > 160 mmHg : Hipertensi sistolik teriisolasi 2. Etiologi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan Hipertensi antara lain kebiasaan hidup atau perilaku kebiasaan mengkonsumsi natrium yang tinggi, kegemukan, stres, merokok, dan minum alkohol. Adapun tingginya prevalensi Hipertensi menurut dikarenakan gaya hidup yang tidak sehat seperti kurangnya olahraga/aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan mengkonsumsi makanan yang tinggi kadar lemaknya (Adam, 2022).
Selain itu Berdasarkan penyebabnya hipertensi terbagi menjadi dua golongan menurut (Aspiani, 2015) :
a. Hipertensi primer atau hipertensi esensial
Hipertensi primer atau hipertensi esensial disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Faktor yang memengaruhi yaitu : (Aspiani, 2015)
1) Genetik
Individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi, beresiko tinggi untuk mendapatkan penyakit ini.
Faktor genetik ini tidak dapat dikendalikan, jika memiliki riwayat keluarga yang memliki tekanan darah tinggi.
2) Jenis kelamin dan usia
Laki - laki berusia 35- 50 tahun dan wanita menopause beresiko tinggi untuk mengalami hipertensi. Jika usia
bertambah maka tekanan darah meningkat faktor ini tidak dapat dikendalikan serta jenis kelamin laki–laki lebih tinggi dari pada perempuan.
3) Diet
Konsumsi diet tinggi garam secara langsung berhubungan dengan berkembangnya hipertensi. Faktor ini bisa dikendalikan oleh penderita dengan mengurangi konsumsinya, jika garam yang dikonsumsi berlebihan, ginjal yang bertugas untuk mengolah garam akan menahan cairan lebih banyak dari pada yang seharusnya didalam tubuh. Banyaknya cairan yang tertahan menyebabkan peningkatan pada volume darah. Beban ekstra yang dibawa oleh pembuluh darah inilah yang menyebabkan pembuluh darah bekerja ekstra yakni adanya peningkatan tekanan darah didalam dinding pembuluh darah dan menyebabkan tekanan darah meningkat.
4) Berat badan
Faktor ini dapat dikendalikan dimana bisa menjaga berat badan dalam keadaan normal atau ideal. Obesitas (>25%
diatas BB ideal) dikaitkan dengan berkembangnya peningkatan tekanan darah atau hipertensi.
5) Gaya hidup
Faktor ini dapat dikendalikan dengan pasien hidup dengan pola hidup sehat dengan menghindari faktor pemicu hipertensi yaitu merokok, dengan merokok berkaitan dengan jumlah rokok yang dihisap dalam waktu sehari dan dapat menghabiskan berapa putung rokok dan lama merokok berpengaruh dengan tekanan darah pasien. Konsumsi alkohol yang sering, atau berlebihan dan terus menerus dapat meningkatkan tekanan darah pasien sebaiknya jika memiliki tekanan darah tinggi pasien diminta untuk menghindari alkohol agar tekanan darah pasien dalam batas stabil dan pelihara gaya hidup sehat penting agar terhindar dari komplikasi yang bisa terjadi.
b. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder terjadiakibat penyebab yang jelas.salah satu contoh hipertensi sekunder adalah hipertensi vaskular rena, yang terjadiakibat stenosi arteri renalis. Kelainan ini dapat bersifat kongenital atau akibat aterosklerosis.stenosis arteri renalis menurunkan aliran darah ke ginjalsehingga terjadi pengaktifan baroreseptor ginjal, perangsangan pelepasn renin, dan pembentukan angiostenin II. Angiostenin II secara langsung meningkatkan tekanan darahdan secara tidak langsung meningkatkan sintesis andosteron danreabsorbsi natrium. Apabiladapat dilakukan perbaikan pada stenosis,atau apabila ginjal yang terkena diangkat,tekanan darah akan kembalike normal (Aspiani, 2015).
3. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiostensin II dari angiostensin I oleh Angiostensin I Converting Enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiostensinogen yang diproduksi di hati.
Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiostensin I. oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiostensin I diubah manjadi angiostensin II. Angiostensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormone antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin.
Meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolaritasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal
Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume tekanan darah. Patogenesis dari hipertensi esensial merupakan multifaktorial dan sangat komplek. Faktor-faktor tersebut merubah fungsi tekanan darah terhadap perfusi jaringan yang adekuat meliputi mediator hormon, latihan vaskuler, volume sirkulasi 10 darah, kaliber vaskuler, viskositas darah, curah jantung, elastisitas pembuluh darah dan stimulasi neural. Patogenesis hipertensi esensial dapat dipicu oleh beberapa faktor meliputi faktor genetik, asupan garam dalam diet, tingkat stress dapat berinteraksi untuk memunculkan gejala hipertensi (Lukitaningtyas, 2023).
4. Manifestasi Klinis
Gejala yang sering muncul berupa nyeri kepada kepala atau rasa berat pada tengkuk, vertigo, merasa selalu berdebar-debar, merasa mudah lelah, penglihatan kabur, telinga berdenging, serta dapat mengalami mimisan (Rafiq,2019).
Beberapa pasien yang menderita hipertensi mengalami gejala sebagai berikut :
1) Mengeluh sakit kepala, pusing dikarenakan peningkatan tekanan darah dan hipertensi sehingga intracranial naik.
2) Lemas, kelelahan karena stress sehingga mengakibatkan ketegangan yang mempengaruhi emosi, pada saat ketegangan emosi terjadi dan aktivitas saraf simatis sehingga frekuensi dan krontaktilitas jantung naik, aliran darah menurun sehingga suplai O2 dan nutrisi otot rangka menurun, dan terjadi lemas.
3) Susah nafas, kesadaran menurun karena terjadinya peningkatan krontaktilitas jantung. d. Palpitasi (berdebar- debar) karena jantung memompa terlalu cepat sehingga dapat menyebabkan berdebar-debar, gampang marah. (Nurarif, 2015) 5. Komplikasi
Tekanan darah tinggi bila tidak segera diobati atau ditanggulangi, dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan ateri didalam tubuh
sampai organ yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut. Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita hipertensi yaitu : (Aspiani, 2015)
a. Stroke terjadi akibat hemoragi disebabkan oleh tekanan darah tinggi di otak dan akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tekanan darah tinggi.
b. Infark miokard dapat terjadi bila arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium dan apabila membentuk trombus yang bisa memperlambat aliran darah melewati pembuluh darah. Hipertensi kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Sedangkan hipertrofi ventrikel dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel terjadilah disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan.
c. Gagal jantung dapat disebabkan oleh peningkatan darah tinggi.
Penderita hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan mengendor dan berkurang elastisitasnya, disebut dekompensasi.
Akibatnya jantung tidak mampu lagi memompa, banyak cairan tertahan diparu yang dapat menyebabkan sesak nafas (eudema) kondisi ini disebut gagal jantung.
d. Ginjal tekanan darah tinggi bisa menyebabkan kerusakan ginjal.
Merusak sistem penyaringan dalam ginjal akibat ginjal tidak dapat membuat zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh yang masuk melalui aliran darah dan terjadi penumpukan dalam tubuh.
6. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang dilakukan yang dapat dilakukan, yaitu:
a. Pemeriksaan Laboratorium; Hb/Ht: untuk mengkaji hubungan dari sel- sel terhadap volume cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor resiko seperti: hipokoagulabilitas, anemia. BUN/ kreatinin:
memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal. Glukosa:
Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh
pengeluaran kadar ketokolamin. Urinalisa: darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.
b. CT Scan: mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
c. EKG: dapat menunjukan pola regangan, di mana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
d. IU: mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti: batu ginjal, perbaikan ginjal.
e. Poto dada: menunjukkan destruksi kalsifikasi pada area katup, pembesaran jantung (Ibrahim, 2022).
7. Penatalaksanaan a. Farmakologis
Penatalaksanaan farmakologis adalah penatalaksanaan hipertensi menggunakan obat-obatan kimiawi, seperti jenis obat anti hipertensi berbagai macam jenis obat anti hipertensi pada penatalaksanaan farmakologis, yaitu:
1) Diuretik
Obat-obatan jenis ini bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (melalui kencing). Dengan demikian, volume cairan dalam tubuh berkurang sehingga daya pompa jantung lebih ringan.
Diuretik menurunkan tekanan darah dengan cara megurangi jumlah air dan garam di dalam tubuh serta melonggarkan pembuluh darah.
Sehingga tekanan darah secara perlahan-lahan mengalami penurunan karena hanya ada fluida yang sedikit di dalam sirkulasi dibandingkan dengan sebelum menggunakan diuretic. Selain itu, jumlah garam di dinding pembuluh darah menurun sehingga menyebabkan pembuluh darah membesar. Kondisi ini membantu tekanan darah abnormal menjadi normal kembali.
2) Penghambat adrenergik ( -bloker)ẞ
Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernafasan seperti asma bronkial. Pemberian -bloker tidakẞ dianjurkan pada penderita gangguan pernafasan seperti asma bronkial karena pada pemberian -bloker dapat menghambatẞ reseptor beta 2 di jantung lebih banyak dibandingkan reseptor beta 2 di tempat lain. Penghambatan beta 2 ini dapat membuka pembuluh darah dan saluran udara (bronki) yang menuju ke paru- paru. Sehingga penghambatan beta 2 dari aksi pembukaan ini dengan -bloker dapat memperburuk penderita asma.ẞ
3) Vasodilator
Agen vasodilator bekerja langsung pada pembuluh darah dengan merelaksasi otot pembuluh darah. Contoh yang termasuk obat jenis vasodilator adalah prasosin dan hidralasin. Kemungkinan yang akan terjadi akibat pemberian obat ini adalah sakit kepala dan pusing.
4) Antagonis kalsium
Antagonis Kalsium adalah sekelompok obat yang berkerja mempengaruhi jalan masuk kalsium ke sel-sel dan mengendurkan otot-otot di dalam dinding pembuluh darah sehingga menurunkan perlawanan terhadap aliran darah dan tekanan darah. Antagonis kalsium bertindak sebagai vasodilator atau pelebar. Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah: Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang mungkin timbul adalah: Sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.
b. Penatalaksanaan Non Farmakologis
Upaya pengobatan hipertensi dapat dilakukan dengan pengobatan non farmakologis, termasuk mengubah gaya hidup yang tidak sehat. Penderita hipertensi membutuhkan perubahan gaya hidup
yang sulit dilakukan dalam jangka pendek. Oleh karena itu, faktor yang menentukan dan membantu kesembuhan pada dasarnya adalah diri sendiri. Lima langkah dalam perubahan gaya hidup yang sehat bagi para penderita hipertensi yaitu:
1) Mengontrol pola makan
Hayens (2003) dalam buku Manurung (2018), menyarankan mengkonsumsi garam sebaiknya tidak lebih dari 2000 sampai 2500 miligram. Karena tekanan darah dapat meningkat bila asupan garam meningkat. Dimana pembatasan asupan sodium dapat mempertinggi efek sebagian besar obat yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi kecuali kalsium antagonis.
Mengonsumsi banyak lemak akan berdampak pada kadar kolestereol yang tinggi. Kadar kolesterol yang tinggi meningkatkan risiko terkena penyakit jantung.
2) Tingkatkan konsumsi potasium dan magnesium
Pola makan yang rendah potasium dan magnesium menjadi salah satu faktor pemicu tekanan darah tinggi. Buah-buahan dan sayuran segar merupakan sumber terbaik bagi kedua nutrisi tersebut untuk menurunkan tekanan darah.
3) Makan makanan jenis padi-padian
Penelitian yang dimuat dalam American Journal of Clinical, ditemukan bahwa pria yang mengkonsumsi sedikitnya satu porsi sereal dari jenis padi-padian perhari mempunyai kemungkinan yang sangat kecil (0-20%) untuk terkena penyakit jantung.
Semakin banyak konsumsi padi-padian, semakin rendag risiko penyakit jantung koroner, termasuk terkena hipertensi.
4) Aktivitas (Olahraga)
Melalui olahraga yang isotonik dan teratur (aktivitas fisik aerobik selama 30-45 menit per hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah.
5) Bantuan dari kelompok pendukung
Sertakan keluarga dan teman menjadi kelompok pendukung pola hidup sehat. Sehingga keluarga dan teman-teman mengerti sepenuhnya tentang besarnya risiko jika tekanan darah kita tidak terkendali. Dengan demikian keluarga dan teman akan membantu dengan memperhatikan makanan kita atau mengingatkan saat tiba waktunya untuk minum obat atau untuk melakukan aktivitas berjalan-jalan setiap hari dan mungkin saja mereka bahkan akan menemani kita. Penelitian yang ditulis dalam Dalimartha, menunjukkan dukungan kelompok terbukti berhasil dalam mengubah gaya hide untuk mencegah hipertensi (Manurung, 2018).
B. Konsep Keperawatan 1. Pengkajian
Pada pemeriksaan riwayat kesehatan pasien, biasanya didapat adanya riwayat peningkatan tekanan darah, adanya riwayat keluarga dengan penyakit yang sama, dan riwayat meminum obat antihipertensi.
a. Dasar-dasar Pengkajian 1) Aktivitas/Istirahat
Gejala : kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung dan takipnea.
2) Sirkulasi
Gejala : riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, dan penyakit serebrovaskuler. Dijumpai pula episode palpitasi serta perspirasi.
Tanda : kenaikan tekanan darah (pengukuran serial dan kenaikan tekanan darah) diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Hipotensi postural mengkin berhubungan dengan regimen obat. Nadi : denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis, perbedaan denyut seperti denyut femoral melambat sebagai kompensasi denyutan radialis/brakhialis, denyut (popliteal, tibialis posterior, dan pedialis) tidak teraba atau lemah. Ekstremitas : perubahan warna kulit, suhu dingin (vasokonstriksi primer) Kulit pucat, sianosis, dan diaphoresis (kongesti, hipoksemia).Bisa juga kulit berwarna kemerahan (feokromositoma).
3) Integritas Ego
Gejala : riwayat kepribadian, ansietas, depresi, euporia, atau marakronik (dapat mengindikasikan kerusakan serebral). Selain ini juga ada faktor-faktor multiple, seperti hubungan, keuangan, atau hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan.
Tanda : letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinu perhatian, tangisan yang meledak, gerak tangan empati, otot muka tegang (khususnya sekitar mata)., gerakan fisik cepat, pernapasan menghela, dan peningkatan pola bicara.
4) Eliminasi
Gejala : adanya gangguan ginjal saat ini atau yang telah lalu, seperti infeksi/obstruksi atau riwayat penyakit ginjal masa lalu.
5) Makanan atau cairan
Gejala : Makanan yang disukai dapat mencakup makaan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol (seperti makanan digoreng, keju, telur), gula-gula yang berwarna hitam, dan kandungan tinggi kalori, mual dan muntah, penambahan berat badan (meningkat/turun), riwayat penggunaan obat diuretic.
Tanda : Berat badan normal, bisa juga mengalami obestas. Adanya edema (mungkin umum atau edema tertentu); kongesti vena, dan glikosuria (hampir 10% pasien hipertensi adalah penderita diabetes).
6) Neurosensori
Gejala : keluhan pening/pusing, berdenyut, sakit kepala suboksipital. (Terjadi saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam).
7) Nyeri/ ketidaknyamanan
a) Angina ( penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung).
b) Nyeri hilang timbul pada tungkai atau klaudikasi (indikasi arteriosklerosis pada arteriekstremitas bawah).
c) Sakit kepala oksipital berat, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
d) Nyeri abdomen/massa (feokromositoma).
8) Pernapasan
Secara umum, gangguan ini berhubungan dengan efek kardiopulmonal, tahap lanjut dari hipertensimenetap/berat.
Gejala:
a) Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas atau kerja.
b) Takipnea, ortopnea, dispnea nocturnal parok-sismal.
c) Batuk dengan atau tanpaa pembentukan sputum.
9) Pembelajaran/Penyuluhan
Gejala : faktor risiko keluarga; hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM, penyakit ginjal, factor risiko etnik, penggunaan pil KB atau hormon (Padila, 2015).
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah suatu penilaian klinis mengenai respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya, baik yang berlangsung aktual maupun potensial (SDKI, 2017). Adapun beberapa diagnosa yang sering munculakibat hipertensi, yaitu:
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pecedera fisiologis
b. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan peningkatan tekanan darah
c. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
d. Defisit pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif e. Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi
f. Risiko penurunan curah jantung ditandai dengan perubahan afterload
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan (SIKI, 2018).
No Diagnosa Keperawatan Luaran Keperawatan Intervensi Keperawatan
1 Nyeri akut berhubungan dengan agen pecedera fisiologis
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama
kunjungan rumah, diharapkan tingkat nyeri menurun, dengan kriteria hasil:
1. Keluhan nyeri menurun 2. Meringis menurun 3. Kesulitan tidur menurun 4. Frekuensi nadi membaik
Manajemen Nyeri (I.08238)
Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan ata fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dan konstan
Tindakan Observasi:
1. lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
2. Identifikasi skala nyeri
3. Identifikasi respon nyeri non verbal
4. Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri 7. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup 8. Monitor keberhasilan terapi komplementer yang
sudah diberikan
9. Monitor efek samping penggunaan analgetik Terapeutik
1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hypnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
2. Control lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
3. Fasilitasi istirahat dan tidu
4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri
Edukasi:
1. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri 2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan memonitor nyri secara mandiri 4. Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat 5. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu 2. Perfusi perifer tidak efektif
berhubungan dengan peningkatan tekanan darah
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama
kunjungan rumah, diharapkan perfusi perifer meningkat, dengan kriteria hasil:
1. Denyut nadi perifer meningkat 2. Warna kulit pucat menurun 3. Akral membaik
4. Turgor kulit membaik
Pemantauan tanda-tanda vital (I.02060)
Definisi: Mengumpulkan dan menganalisis data hasil pengukuran fungsi vital kardiovaskuler, pernapasan dan suhu tubuh
Tindakan Observasi
1. Monitor tekanan darah
2. Monitor nadi (frekuensi, kekuatan, irama) 3. Monitor pernapasan (frekuensi, kedalaman) 4. Monitor suhu tubuh
5. Monitor oksimetri nadi
6. Monitor tekanan nadi (selisih TDS dan TDD) Identifikasi penyebab perubahan tanda vital
Terapeutik
1. Atur interval pemantauan sesuai kondisi pasien 2. Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan 2. Informasikan hasil pemantauan, jika perlu 3. Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan kelemahan
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama
kunjungan rumah, diharapkan
Manajemen Energi (I.05178)
Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola penggunaan energi untuk mengatasi atau mencegah kelelahan dan
toleransi aktivitas meningkat, dengan kriteria hasil:
1. Frekuensi nadi meningkat 2. kKeluhan lelah menurun 3. Dispnea saat aktivitas
menurun
4. Dispnea setelah aktivitas menurun
mengoptimalkan proses pemulihan Tindakan
Observasi
1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
2. Monitor kelelahan fisik dan emosional 3. Monitor pola dan jam tidur
4. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas
Terapeutik
1. Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya, suara, kunjungan)
2. Lakukan latihan rentang gerak pasif dan atau aktif 3. Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan 4. Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat
berpindah atau berjalan Edukasi
1. Anjurkan tirah baring
2. Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap 3. Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala
kelelahan tidak berkurang
4. Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan Kolaborasi
1. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
4. Defisit pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama
kunjungan rumah, diharapkan tingkat pengetahuan menigkat, dengan kriteria hasil:
1. Perilaku sesuai anjuran meningat
2. Kemampuan menjelaskan
Edukasi Kesehatan (I.12383)
Definisi: Mengajarkan pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan tertata sehat
Tindakan Observasi
1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
pengetahuan tentang suatu topik meningkat
3. Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat 4. Persepsi keliru terhadap
masalah menurun
2. Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat
Terapeutik
1. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan 2. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan 3. Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi
1. Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
2. Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
3. Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat
5.
Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama
kunjungan rumah, diharapkan tingkat ansietas menurun, dengan kriteria hasil:
1. Verbalisasi kebingungan menurun
2. Perilaku gelisah menurun 3. Perilaku tegang menurun 4. Konsentrasi membaik 5. Pola tidur membaik
Reduksi Ansietas (I.09134)
Definisi; Meminimalkan kondisi individu dan pengalaman subjektif terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman
Tindakan Observasi
1. Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis.
kondisi, waktu, stressor)
2. Identifikasi kemampuan mengambil keputusan 3. Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal) 4.
Terapeutik
1. Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan
2. Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan
3. Pahami situasi yang membuat ansietas 4. Dengarkan dengan penuh perhatian
5. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
6. Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan
7. Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
8. Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang
Edukasi
1. Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami
2. Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis
3. Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, Jika perlu
4. Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif, sesuai kebutuhan
5. Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi 6. Latih kegiatan pengelihatan untuk mengurangi
ketegangan
7. Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat
8. Latih teknik relaksasi Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu
6. Risiko penurunan curah jantung ditandai dengan perubahan afterload
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama
kunjungan rumah, diharapkan curah jantung meningkat, dengan kriteria hasil:
1. kekuatan nadi perifer meningkat
2. Lelah menurun
Perawatan Jantung (I.02075)
Definisi: Mengidentifikasi, merawat dan membatasi komplikasi akibat ketidakseimbangan antara suplai dan konsumsi oksigen miokard
Tindakan Observasi
1. Identifikasi tanda atau gejala primer penurunan curah
3. Pucat/ sianosis menurun 4. Tekanan darah membaik
jantung (meliputi dispnea, kelelahan, edema, ortopnea, paroxysmal nocturnal dyspnea, peningkatan CVP)
2. Identifikasi tanda atau gejala sekunder penurunan curah jantung (meliputi peningkatan berat badan, hepatomegali, distensi vena jugularis, palpitasi, ronkhi basah, oliguria, batuk, kulit pucat)
3. Monitor tekanan darah (termasuk tekanan darah ortostatik, jika perlu)
4. Monitor intake dan output cairan
5. Monitor berat badan setiap hari pada waktu yang sama
6. Monitor saturasi oksigen
7. Monitor keluhan nyeri dada (mis. intensitas, lokasi, radiasi, durasi, presivitasi yang mengurangi nyeri) 8. Monitor EKG 12 sadapan
9. Monitor aritmia (kelainan irama dan frekuensi) 10. Monitor nilai laboratorium jantung (mis. elektrolit,
enzim jantung, BNP, NTpro-BNP) 11. Monitor fungsi alat pacu jantung
12. Periksa tekanan darah dan fungsi nadi sebelum dan sesudah aktivitas
13. Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum pemberian obat (mis. beta blocker, ACE inhibitor, calcium channel blocker, digoksin)
Terapiutik
1. Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler dengan kaki ke bawah atau posisi nyaman
2. Berikan diet jantung yang sesuai (mis. batasi asupan kafein, natrium, kolesterol, dan makanan tinggi lemak)
3. Gunakan stocking elastis atau pneumatik intermiten, sesuai indikasi
4. Fasilitasi pasien dan keluarga untuk modifikasi gaya hidup sehat
5. Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stress, jika perlu
6. Berikan dukungan emosional dan spiritual
7. Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >94%
Edukasi
1. Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi 2. Anjurkan beraktivitas fisik secara bertahap 3. Anjurkan berhenti merokok
4. Ajarkan pasien dan keluarga mengukur berat badan harian
5. Ajarkan pasien dan keluarga mengukur intake dan output cairan harian
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian antiaritmia, jika perlu 2. Rujuk ke program rehabilitasi jantung
4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke status kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Hidayat, 2021)
5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan adalah perbandingan yang sistemik dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya (Hidayat, 2021)