i
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN DIAGNOSA
MEDIS “POST OPERASI SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI LETAK SUNGSANG” DI RUANG MAWAR
MERAH RSUD BANGIL PASURUAN
Oleh :
SEKAR MEGA OKTAVINO NIM. 1601067
PROGRAM DIII KEPERAWATAN
AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA
SIDOARJO 2020
ii
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN DIAGNOSA
MEDIS “POST OPERASI SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI LETAK SUNGSANG” DI RUANG MAWAR
MERAH RSUD BANGIL PASURUAN
Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd. Kep)
Di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo
Oleh :
SEKAR MEGA OKTAVINO NIM. 1601067
PROGRAM DIII KEPERAWATAN
AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA
SIDOARJO 2020
iii Nama : Sekar Mega Oktavino
Judul : Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Diagnosa Medis Post Op Sectio Caesarea Dengan Indikasi Letak Sungsang Di Ruang Mawar Merah RSUD Bangil
Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah pada tanggal : 02 Juni 2020
Oleh :
Pembimbing 1 Pembimbing 2
(Agus Sulistyowati, S.Kep. M.Kes) (Kusuma Wijaya R. P, S. Kep, NS, MNS) NIDN. 0703087801 NIDN. 0731108603
Mengetahui,
iv
Nama : Sekar Mega Oktavino
NIM : 1601067
Tempat, Tanggal lahir : Madiun, 17 Oktober 1997
Institusi : Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo
Menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah ini Berjudul : “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN DIAGNOSA MEDIS POST OP SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI LETAK SUNGSANG DI RUANG MAWAR MERAH RSUD BANGIL”
ADALAH BUKAN Karya Tulis Ilmiah orang lain baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapat sanksi.
Sidoarjo, 02 Juni 2020
Sekar Mega Oktavino
Pembimbing 1 Pembimbing 2
Agus Sulistyowati, S. kep, M. kes Ns. Kusuma Wijaya R. P, S.kep, MNS NIDN. 0703087801 NIDN. 0731108603
v
Telah di uji dan di setujui oleh Tim Penguji pada sidang Karya Tulis Ilmiah di Program D3 Keperawatan di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
TIM PENGUJI
TandaTangan Ketua : Ns. Meli Diana, S. Kep., M. Kes ………
Anggota : 1. Ns. Kusuma Wijaya Ridi Putra, S. Kep, MNS ………
2. Agus Sulistyowati, S. Kep, M. Kes .………
Mengetahui, Direktur
vi
telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Diagnosa Medis Post SC Indikasi Letak Sungsang Di Ruang Nifas RSUD Bangil” ini dengan tepat waktu sebagai persyaratan akademik dalam menyelesaikan Program D3 Keperawatan di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan rahmat-Nya sehingga proposal selesai dengan baik.
2. Ayah dan Ibu yang senantiasa mendukung dan mendoakan selama ini sehingga semua berjalan dengan lancar.
3. Kedua kakak saya yang senantiasa mendukung dan mendoakan, sehingga semua berjalan dengan lancer.
4. Teman-teman yang saya sayangi, yang selalu menemani saya dalam suka maupun duka.
5. Ibu Agus Sulistyowati, S.Kep, M.Kes selaku Direktur Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo dan pembimbing 1 yang telah membantu saya dalam menyusun proposal ini.
vii
pembimbing 2 yang telak membantu saya dalam menyusun proposal ini.
7. Ibu Hj. Muniroh Mursan, Lc selaku petugas perpustakaan yang telah membantu dalam kelengkapan literatur yang dibutuhkan.
8. Pihak-pihak yang turut berjasa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Penulis sadar bahwa Karya Tulis Ilmiah ini belum mencapai kesempurnaan, sebagai bekal perbaikan, penulis akan berterima kasih apabila para pembaca berkenan memberikan masukan, baik dalam bentuk kritikan maupun saran demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi keperawatan.
Sidoarjo. 10 September 2019
(Sekar Mega Oktavino)
viii
Kecerdasa emosi adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, konesi,
dan pengaruh yang manusiawi
(Robert K. Cooper)
Jadilah dirimu sendiri dan wujudkan hal yang ingin kamu lakukan, karena dirimu yang sesungguhnya adalah apa
yang kamu lakukan ketika orang lain tidak melihatnya
(Ali bin Abi Tholib)
ix
Dengan segala puja dan puji syukur kepada Allah SWT dan atas dukungan dan do’a dari orang-orang tercinta, akhirnya skripsi ini dapat dirampungkan dengan baik dan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, dengan rasa bangga dan bahagia saya haturkan rasa syukur dan terimakasih saya kepada:
Allah SWT, karena hanya dengan izin dan karuniaNyalah maka skripsi ini dapat dibuat dan selesai pada waktunya. Puji syukur yang tak terhingga pada Allah penguasa alam yang meridhoi dan mengabulkan segala do’a.
Kakak dan Ibu saya yang telah memberikan dukungan moral maupun materi serta do’a, dan tiada do’a yang paling khusuk selain do’a yang terucap dari orang tua. Ucapan terimakasih saja tak kan pernah cukup untuk membalas kebaikan orang tua, karena itu terimalah persembahan bakti dan cintaku untuk kalian Kakak dan Ibu saya.
Bapak dan Ibu Dosen pembimbing, penguji dan pengajar, yang selama ini telah tulus dan ikhlas meluangkan waktunya untuk menuntun dan mengarahkan saya menjadi lebih baik. Terimakasih banyak Bapak dan Ibu dosen, jasa kalian akan selalu terpatri di hati.
Teman-teman saya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu di sini, yang sudah mau menemani saya di saat suka maupun duka.
x
Lembar Persetujian ... iii
Halaman Pengesahan ... iv
Kata Pengantar ... vi
Motto ... viii
Lembar Persembahan ... ix
Daftar Isi ... x
Daftar Tabel ... xii
Daftar Gambar ... xiii
Daftar Lampiran ... xiv
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Metode Penelitian ... 7
1.5 Metode Penulisan ... 8
1.5.1 Metode ... 8
1.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 8
1.5.3 Sumber Data ... 8
1.5.4 Studi Kepustakaan ... 8
1.6 Sistematika Penulisan ... 9
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1 Konsep Dasar Sectio Caesar ... 10
2.1.1 Definisi ... 10
2.1.2 Tipe-tipe sectio caesarea ... 10
2.1.3 Etiologi ... 11
2.1.4 Manifestasi Klinis ... 15
2.1.5 Komplikasi ...15
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang ...16
2.1.7 Pencegahan ...17
2.1.8 Penatalaksanaan ...17
2.1.9 Dampak Masalah ...18
2.2 Konsep Dasar Letak Sunsang ...18
2.2.1 Definisi ...18
2.2.2 Klasifikasi Letak Sunsang ...18
2.2.3 Etiologi ...19
2.2.4 Manifestasi Klinis ...20
2.2.5 Diagnosa Banding ...21
2.2.6 Komplikasi ...21
2.2.7 Pemeriksaan Penunjang ...21
2.2.8 Pencegahan ...23
2.2.9 Penatalaksanaan ...23
2.2.10 Dampak Masalah ...24
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan ...25
2.3.1 Pengkajian ...25
2.3.2 Diagnosa Keperawatan ...31
xi
2.3.5 Evaluasi ...36
2.4 Pathway ...37
BAB 3 Tinjauan Kasus ...39
3.1 Pengkajian ...39
3.1.1 Identitas ...49
3.1.2 Identitas Penanggung Jawab ...40
3.1.3 Riwayat Keperawatan ...40
3.1.3.1 Keluhan Utama ...40
3.1.3.2 Riwayat Masuk Rumah Sakit ...40
3.1.4 Riwayat Obstetri ...41
3.1.4.1 Riwayat Menstruasi ...41
3.1.4.2 Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas yang lalu ...41
3.1.4.3 Genogram ...42
3.1.4.4 Persalinan Sekarang ...42
3.1.5 Riwayat Keluarga Berencana ...44
3.1.6 Riwayat Kesehatan ...45
3.1.7 Riwayat Lingkungan ...45
3.1.8 Aspek Sosial ...45
3.1.9 Pola Kebiasaan Yang Mempengaruhi Kesehatan ...46
3.1.10 Pemeriksaan Fisik ...46
3.1.10.1 Keadaan Umum ...46
3.1.11 Pemeriksaan Diagnostik ...51
3.1.12 Terapi ...52
BAB 4 Pembahasan ...74
4.1 Pengertian ...74
4.2 Diagnosa Keperawatan ...79
4.2.1 Diagnosa Keperawatan ...79
4.2.2 Diagnosa Keperawatan ...79
4.2.3 Diagnosa Keperawatan ...79
4.2.4 Diagnosa Keperawatan ...79
4.2.5 Diagnosa Keperawatan ...79
4.2.6 Diagnosa Keperawatan ...79
4.2.7 Diagnosa Keperawatan ...79
4.3 Intervensi ...82
4.3 Implementasi ...86
4.4 Evaluasi ...88
BAB 5 Penutup ...95
5.1 Kesimpulan ...95
5.2 Saran ...97
DAFTAR PUSTAKA ...98
LAMPIRAN ...101
Lampiran 1 Surat Ijin Pengambilan Studi Kasus ... 102
Lampiran 2 Surat Balasan Pengambilan Studi Kasus ... 103
Lampiran 4 Lembar Konsultasi Pasca Proposal ... 104
xii
No Tabel Judul Tabel Hal
Tabel 2.1 Tabel 3.1 Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 3.6 Tabel 3.7
Perencanaan Post SC Indikasi letak sungsang
………..
Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas yang lalu...
Genogram 3 generasi ...
Pemeriksaan Diagnostik ………...
Analisa Data ……….
Rencana Tindakan Keperawatan ………..
Implementasi Keperawatan ………..
Catatan Perkembangan ……….
Evaluasi Keperawatan ………..
32 41
42 51 53 56 59 65 69
xiii
No Gambar Judul Gambar Hal
Gambar 2.6
Pathway pada diagnosa medis post SC
indikasi letak
sungsang... 37
xiv
No Lampiran Judul Lampiran Hal
Lampiran 1 Lampiran
2 Lampiran
3 Lampiran
4 Lampiran
5
Surat Ijin Pengambilan Studi Kasus...
.
Surat Balasan Pengambilan Studi Kasus...
Informed Consent
...
Lembar Konsultasi
...
Format Pengkajian Pada Ibu Hamil Post Operasi ...
95
96 96
97
99
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses kehamilan dan persalinan merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi setiap perempuan. Melahirkan merupakan puncak peristiwa dari serangkaian proses kehamilan. Melahirkan tentu merupakan hal yang sangat luar biasa yang dapat terjadi pada setiap perempuan, akan tetapi banyak wanita yang merasa bingung, bimbang dan khawatir akan rasa sakit yang timbul saat proses melahirkan. Pada masa lalu melahirkan dengan cara sectio caesarea merupakan hal yang menakutkan karena dapat menyebabkan kematian. Namun dewasa ini sectio caesarea jauh lebih aman daripada dulu berkat dalam kemajuan antibiotika, anastesi dan teknik yang lebih sempurna. Ditambah lagi dengan perkembangan, perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran makin berkembang terutama bidang kandungan. Banyak penanganan yang dapat dilakukan pada ibu yang mengalami kelainan letak anak salah satunya yaitu melakukan sectio caesarea. Sectio caesarea adalah satu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Mitayani, 2009). Dalam istilah medis, dokter menyebut istilah “presentasi” untuk menggambarkan posisi terbawah janin di dalam rahim. Bagian tubuh janin yang berada tepat diatas mulut rahim adalah nantinya akan muncul ketika pertama kali lahir. Biasanya, bagian terbawah adalah kepala bayi, disebut presentasi sebalik. Posisi inilah yang terbaik karena bagian terbesar bayi, yaitu kepala keluar pertama kali. Ketika bagian bagian terbawah
1
adalah bokong, maka disebut presentasi bokong, posisi yang beresiko jika persalinan secara pervaginam (persalinan normal). Istilah sungsang yang dimaksud oleh masyarakat umumnya adalah sama dengan janin dengan presentasi bokong. Mal presentasi atau letak sungsang adalah janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam rahim, kepala berada di fundus dan bokong dibawah (Marmi, 2012). Persalinan sungsang adalah persalinan untuk melahirkan janin yang membujur dalam uterus dengan bokong atau kaki pada bagian bawah dimana bokong atau kaki akan dilahirkan terlebih dahulu daripada anggota badan lainnya (Marmi, 2012). Persalinan sungsang tidak menyebabkan bahaya bagi ibu tetapi menimbulkan hal yang serius pada bayinya. Beberapa masyarakat awam percaya dengan melakukan pemijatan tetapi di dunia medis tidak diperbolehkan melakukan pemijatan. Sebaiknya,jika ada bayi yang letak sungsang lebih baik jangan dipijat takutnya terjadi sesuatu yang membahayakan, lebih baik membawa kerumah sakit supaya mendapatkan pertolongan dari dokter atau tenaga medis yang lain supaya tidak berlanjut hal yang membahayakan, lebih baik bagi ibu maupun janinnya. Bisa juga dengan memposisikan ibu bayi dengan posisi menungging / genu pectoral, dan menyarankan pada ibu hamil untuk rajin senam hamil, berenang supaya pinggangnya longgar (Rukiyah, 2015).
Menurut data WHO angka persalinan Sectio Caesarea di dunia terus meningkat. Berdasarkan hasil survey WHO di tiga benua yaitu Amerika latin, Afrika dan Asia diketahui angka kejadian sectio caesarea terendah di Angola yaitu 2,3% dan tertinggi di Cina sebesar 46,2% demikian juga angka persainan di Asia menigkat tajam, di Cina angka persalinan Sectio Caesarea pada tahun 2013 meningkat sangat tajam terutama dikota besar. Berdasarkan data Riskesda tahun
2015 menunjukkan angka kejadian Sectio Caesarea sebesar 15,3%. Terendah Sulawesi Tenggara 5,5% dan tertinggi DKI Jakarta 27,2%. Persalinan Caesarea yang dilakukan berdasarkan indikasi bayi diketahui lebih dari separuh (52,3%) persalinan Caesarea efektif dilakukan karena karena letak sunsang / malposisi.
(Riskesda, 2014). Angka kejadian sectio caesarea di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2011 berjumlah 3.401 operasi dari 170.000 persalinan atau sekitar 20% dari seluruh persalinan (Dinkes Provinsi Jawa Timur, 2012). Berdasarkan penelitian di Rumah Sakit RSUD Bangil pada tahun 2018, kejadian Sectio Caesarea indikasi letak sungsang dari bulan Januari 2018 sampai dengan bulan Desember didapat total 2238 kasus.
Penyebab terjadinya presentasi bokong dari faktor ibu yaitu presentasi bokong disebabkan oleh multiparitas, plasenta previa dan panggul sempit, sedangkan faktor janin yaitu hidrosefalus atau anensefalus, gameli, hidramnion atau oligohidramnion dan prematuritas. Dampak masalah yang terjadi pada letak sungsang adalah akan ada gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong dan perut lahir karena talipusat terjepit, dapat terjadi infeksi pada ibu (Rukiyah dan Yulianti, 2010). Penyebab terjadinya sectio caesarea yang berasal dari ibu yaitu pada primigravida dengan letak, primi para tua disertai, kelainan letak, disproposi sevalo pelvic (disproposi janin / panggul), ada sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul, plasenta previa terutama pada primigravida, solusio plasenta. Letak sungsang ini akan memerlukan teknik persalinan yang berbeda dengan persalinan letak kepala baik dalam persalinan yang berbeda dengan persalinan letak kepala baik dalam persalinan pervaginam maupun sectio cesarea. Persalinan pervaginam sunsang terdiri dari tiga jenis
yakni spontan, manual aid dan total ekstraksi dimana semuanya memiliki resiko terutama pada lainnya, sedangkan indikasi untuk melakukan sectio caesarea pada letak sungsang sama dengan indikasi umum sectio caesarea secara umum. Ada beberapa komplikasi yang mungin timbul dalam persalinan sungsang yang dapat mempengaruhi prognosis ibu dan bayi yang dilahirkan sedapat mungkin dihindari dengan cara menguasai teknik persalinan sungsang dengan baik. Bahaya letak sungsang bagi ibu, kemungkinan robekan pada perineum lebih besar, juga karena dilakukan tindakan, selain itu ketuban lebih cepat pecah dan partus lebih lama, jadi mudah terkena infeksi. Dan bahaya bagi janin prognosa tidak begitu baik, karena dapat terjadi hipoksia atau perdarahan dalam tengkorak akibat terjepitnya tali pusat antara kepala dan panggul pada waktu kepala memasuki rongga panggul serta akibat retraksi uterus yang dapat menyebabkan lepasnya plasenta sebelum kepala lahir. Kelahiran kepala janin yang lebih lama dari 8 menit setelah umbilikus dilahirkan akan membahayakan kehidupan janin. Selain itu bila janin bernapas sebelum hidung dan mulut lahir dapat membahayakan, karena mukus yang terhisap dapat menyumbat jalan napas. Bahaya asfiksia janin juga terjadi akibat tali pusat yang menumbung, hal ini sering dijumpai pada presentasi bokong kaki sempurna atau bokong kaki tidak sempurna, tetapi jarang dijumpai pada presentasi bokong. Perlakuan kepala janin terjadi karena kepala harus melewati panggul dalam waktu yang lebih singkat sehingga tidak ada waktu bagi kepala menyesuaikan diri dengan besar dan bentuk panggul. Kompresi dan dekompresi kepala terjadi dengan cepat, sehingga mudah menimbulkan luka pada kepala dan perdarahan dalam tengkorak. Tetapi tindakan SC ini mempunyai akibat buruk
pada ibu, antara lain : infeksi, perdarahan, luka pada kandung kemih (Mitayani, 2009).
Penatalaksanaan kehamilan dengan letak sungsang yaitu yang pertama, sikap dengan posisi tubuh tengkurap dengan bertumpu pada lutut dan lengan, rebahkan dada sampai menyentuh lantai, kepala dimiringankan di atas lantai.
Kedua, anjuran pada kehamilan sekitar 7-8 bulan, lakukan 3-4 kali sehari selama 10 menit, seminggu kemudian periksa ulang, bila letak janin tidak berubah, maka posisi knee chest diulangi, bila berhasil perut difiksasi (diikat) degan gurita atau stagen agar posisi janin tak berubah kembali (Mufdlilah, 2009). Konsep solusi yang dapat dilakukan untuk mengalami masalah ini adalah harus diberikan perawatan dan pengawasan yang intensive. Dari sinilah peran perawat sangat diperlukan. Perawat harus mampu memberikan perawatan yang komperhensif, berkesinambungan, teliti dan penuh kesabaran. Perawat juga dapat memberikan penyuluhan pada ibu post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang yaitu dengan memberikan health education tentang perawatan luka post sectio caesarea dengan cara menggunakan plester anti air untuk mandi agar tidak basah, memperbanyak mengkonsumsi yang mengandung protein tinggi seperti mengkonsumsi ikan kutuk, mengkonsumsi putih telur. Hal ini bertujuan untuk memproses penyembuhan luka post sectio caesarea (Wiknjosastro, 2015).
1.2 Rumusan Masalah
Untuk mengetahui lebih lanjut dari prawatan penyakit ini mka penulis akan akan melakukan pengkajian lebih lanjut dengan melakukan asuhan keperawatan post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang dengan membuat rumusan masalah sebagai berikut “Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien dengan
diagnosa post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang di ruang Nifas RSUD Bangil?”
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengidentifikasi asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang di ruang Nifas RSUD Bangil.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengkaji dengan diagnosa keperawatan dengan klien diagnosa post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang diruang Nifas RSUD Bangil.
1.3.2.2 Merumuskan diagnosa keperawatan dengan klien diagnosa post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang di ruang Nifas RSUD Bangil.
1.3.2.3 Merencanakan asuhan keperawatan dengan klien diagosa post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang diruang Nifas RSUD Bangil.
1.3.2.4 Melaksanakan asuhan keperawatan dengan klien diagnosa post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang di ruang Nifas RSUD Bangil.
1.3.2.5 Mengevaluasi klien dengan diagnosa post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang di ruang Nifas RSUD Bangil.
1.3.2.6 Mendokumentasi asuhan keperawatan dengan klien diagnosa post sectio caesarean dengan indikasi letak sungsang di ruang Nifas RSUD Bangil.
1.4 Manfaat
Terkait dengan tujuan, maka akhir tugas ini diharapkan dapat bermanfaat.
1.4.1 Akademis, hasil studi kasus ini merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam hal asuhak keperawatan pada klien post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang dengan baik.
1.4.2 Secara praktis, tugas akhir ini dapt bermanfaat bagi : 1.4.2.1 Bagi pelayanan keperawatan di rumah sakit
Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukan bagi pelayanan di RS dapat melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang.
1.4.2.2 Bagi penelitian
Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi peneliti berikutnya. Yang akan melakukan studi kasus pada asuhan keperawatan pada klien post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang.
1.4.2.3 Bagi proses kesehatan
Sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan dan menberikan pemahaman yang lebih baik tentang asuhan keperawatan pada klien dengan post sectio caesarea dengan indikasi letak sungang.
1.5 Manfaat penulisan 1.5.1 Metode
Metode deskriptif yaitu metode yang sifatnya mengungkapkan peristiwa atau gejala yang terjadi pada waktu searang yang meliputi studi kepustakaan yang mempelajari, mengumpulkan, membahas data dengan studi pendekatan proses keperwatan dengan langkah-langkah pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
7 D al
a m ba b 2 in i ak an di ur ai ka n se ca ra te or iti s m en
7 D al
a m ba b 2 in i ak an di ur ai ka n se ca ra te or iti s m en
1.5.2 Teknik pengumpulan data 1.5.2.1 Wawancara
Data diambil atau diperoleh melalui percakapan baik dengan klien, keluarga maupun tim ksehatan lain.
1.5.2.2 Obsevasi
Data yang diambil melalui pengamatan.
1.5.2.3 Pemeriksaan
Meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dapat menunjang menegakkan diagnosa dan penanganan selanjutnya.
1.5.3 Sumber data 1.5.3.1 Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari klien.
1.5.3.2 Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari keluarga atau orang terdekat klien, catatan medis perawat, hasil-hasil pemeriksaan dan tim kesehatan lainnya.
1.5.4 Studi kepustakaan
Studi kepustakaan adalah mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul studi kasus dan masalah yang dibahas.
1.6 Sistematika penulisan
Supaya lebih jelas dan lebih mudah dalam mempelajari dan memahami studi kasus ini, secara keseluruhan dibagi menjadi tga bagian yaitu:
1.6.1 Bagian awal, memuat halaman judul, persetujuan pembimbing, kata pengantar dan daftar isi.
1.6.2 Bagian ini terdiri dari tiga bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub berikut ini:
Bab 1 : Pendahuluan berisi tentang latar belakang, masalah, tujuan, manfaat penelitian, sistematika peulisan kasus.
Bab 2 : Tinjuan pustaka, berisi tentang konsep penyakit dari sudut medis dan asuhan keperawatan klien dengan diagnosa post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang serta kerangka masalah.
Bab 3 : Tinjauan kasus berisi tentang hasil pengkajia, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Bab 4 : Pembahasan berisi tentang perbandingan antara teori dengan kenyataanyang ada di lapangan.
Bab 5 : Penutup, berisi tentang simpulan dan saran.
1.6.3 Bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka dan lama.
9 D al
a m ba b 2 in i ak an di ur ai ka n se ca ra te or iti s m
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab 2 ini akan diuraikan secara teoritis mengenai konsep dan asuhan keperawatan post sectio caesarea dengan indikasi letak sunsang. Konsep ini akan diuraikan definisi, klasifikasi, etiologi dan cara penanganan secara medis.
Asuhan keperawatan pada ibu dengan diagnosa medis post sectio caesarea dengan indikasi letak sunsang akan diuraikan masalah-masalah yang muncul dengan melakukan asuhan keperawatan terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi.
2.1 Konsep Dasar Sectio Caesarea
2.1.1 Definisi
2.1.1.1 Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (wiknjosastro, 2013)
2.1.1.2 Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut (Amrusofian, 2012)
D al
a m ba b 2 in i ak an di ur ai ka n se ca ra te or iti s m en ge na i 10
2.1.2 Tipe-tipe sectio caesarea menurut Manuaba (2012) yaitu:
2.1.2.1 Segmen bawah : insisi melintang
Pada bagian segmen bawah uterus di buat insisi melintang yang kecil, luka ini dilebarkan kesamping dengan jari-jari tangan dan berhenti didekat daerah pembuluh-pembuluh darah uterus. Kepala janin yang pada sebagian besar kasus terletak dibalik insisi diekstraksikan atau didorong, diikuti oleh bagian tubuh lainnya dan kemudian plasenta serta selaput ketuban.
2.1.2.2 Segmen bawah : insisi membujur
Cara membuka abdomen dan menyingkapi uterus sama seperti pada insisi melintang. Insisi membujur dibuat dengan skapel dan dilebarkan dengan gunting tumpul untuk menghindari cidera pada bayi.
2.1.2.3 Sectio caesarea klasik
Insisi longitudinal digaris tengah dibuat dengan skapel ke dalam dinding uterus anterior uterus dan dilebarkan ke atas serta ke bawah dengan gunting berujung tumpul. Diperlukan luka insisi yang lebar karena bayi dilahirkan dengan persentasi bokong dahulu, janin atau plasenta dikeluarkan dan uterus ditutup dengan jahitan tiga lapis.
2.1.2.4 Sectio caesarea ekstra peritonial
Pembedahan ekstra peritonial dikerjakan untuk menghindari perlunya histerektomi pada kasus-kasus yang mengalami infeksi luas dengan mencegah peritonitis generalisasi yang sering bersifat fatal.
2.1.3 Etiologi
Adapun etiologi menurut (Manuaba, 2012) indikasi ibu dilakukan adalah ruptur uteri iminen, ketuban pecah dini. Sedangkan indikasi dari janin adalah fetal distres dan janin besar melebihi 4.000 gram. Dari beberapa faktor Sectio Caesarea diatas dapat diuraikan beberapa penyebab Sectio Caesarea sebagai berikut :
2.1.3.1 CPD ( Chepalo Pelvik Disproportio )
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan secara alami. Tulang- tulang panggul merupakan susunan beberapa tulang yang membentuk rongga panggul yang merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin ketika akan lahir secara alami. Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan alami sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Keadaan patologis tersebut menyebabkan bentuk rongga panggul menjadi simetris dan ukuran- ukuran bidang panggul menjadi abnormal.
2.1.3.2 PEB ( Pre-Eklamsi Berat )
Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah perdarahan dan infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling penting
dalam ilmu kebidanan. Karena itu diagnosa dini amatlah penting, yaitu mampu mengenali dan mengobati agar tidak berlanjut menjadi eklamsi.
2.1.3.3 KPD ( Ketuban Pecah Dini )
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam sebelum terjadi impartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm di atas 37 minggu, sedangkan di bawah 36 minggu.
2.1.3.4 Bayi Kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara sesar. Hal ini karena kelairan kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi kembar pundapat mengalami sunsang atau salah letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.
2.1.3.5 Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu sulit bernafas.
2.1.3.6 Kelainan Letak Janin
Menurut ( Saifuddin, 2012) kelainan pada letak janin dibagi 2 : 1) Kelainan pada letak kepala
(1) Letak kepala tengadah
Bagian terbawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling rendah. Etiologinya kelainan panggul, kepala bentuknya bundar, anaknya kecil atau mati, kerusakan dasar panggul.
(2) Presentasi muka
Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian kepala yang terletak paling rendah adalah muka. Hal ini jarang terjadi, kira-kira 0,27-0,5%.
(3) Presentasi dahi
Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada pada posisi terendah dan tetap paling depan. Pada penempatan dagu, biasanya dengan sendirinya akan berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala.
2) Letak Sungsang
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa jenis letak sunsang, yakni presentasi bokong, presentasi bokong kaki sempurna, presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki.
(Sukarni & Sukarti, 2014).
2.1.4 Manifestasi klinis
2.1.4.1 Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior) 2.1.4.2 Panggul sempit
2.1.4.3 Disporsi sefalopelvik : yaitu ketidak seimbangan antara ukuran kepala dan ukuran panggul
2.1.4.4 Rupture uteri mengancam 2.1.4.5 Partus lama
2.1.4.6 Partus tak maju 2.1.4.7 Distosia serviks
2.1.4.8 Pre-eklamsia dan hipertensi 2.1.4.9 Malpresentasi janin (Nanda, 2015) 2.1.5 Komplikasi
Komplikasi menurut Sukowati (2010) adalah : 2.1.5.1 Infeksi purperal (nifas)
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu tubuh beberapa hari dalam masa nifas, atau bersifat berat, seperti peritonitis, sepsis dan sebagainya. Infeksi postoperatif terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala-gejala infeksi intrapartum, atau ada faktr-faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban pecah, tindakan vaginal
D al
a m ba b 2 in i ak an di ur ai ka n se ca ra te or iti s m en ge na i
sebelumnya), bahaya infeksi sangat diperkecil dengan pemberian antibiotika, akan tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali terutama seksio sesarea klasik dalam hal ini lebih berbahaya daripada seksio sesarea transperitonealis profunda.
2.1.5.2 Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang arteria uterine ikut terbuka, atau karena atonia uterin.
2.1.5.3 Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kemih, embolisme paru-paru dan sebagainya sangat jarang terjadi.
2.1.5.4 Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi rupture uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah seksio sesarea klasik.
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang menurut Nanda (2015) 2.1.6.1 Pemantauan janin terhadap kesehatan janin 2.1.6.2 Pemantauan EKG
2.1.6.3 Elektrolit 2.1.6.4 Ekstensi
2.1.6.5 Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
2.1.6.6 Golongan darah 2.1.6.7 Urinalisis 2.1.7 Pencegahan
Cara pencegahan yang dilakukan adalah untuk mengatasinya agar tidak mengalami sectio caesarea adalah dengan latihan senam hamil yang teratur dapat dijaga kondisi otot-otot dan persendian yang berperan dalam proses mekanisme persalinan (Sarwono, 2010).
2.1.8 Penatalaksanaan
2.1.8.1 Perdarahan dari vagina harus dipantau dengan cermat
2.1.8.2 Fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap berkontraksi dengan kuat.
2.1.8.3 Pemberian analgesik dan antibiotik
2.1.8.4 Periksa aliran darah uterus paling sedikit 30 ml/jam
2.1.8.5 Pemberian cairan intra vaskuler, 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24 jam pertama setelah pembedahan
2.1.8.6 Ambulasi satuhari setelah pembedahan klien dapat turun sebentar dari tempat tidur dengan bantuanorang lain (Prawirohardjo, 2010)
D al
a m ba b 2 in i ak an di ur ai ka n se ca ra te or iti s m en ge na i
2.1.9 Dampak Masalah
Dampak masalah yang terjadi pada operasi sesar adalah dapat mengakibatkan perdarahan, infeksi puerperal (nifas), luka kandung kemih, emboli paru dan sebagainya sangat jarang terjadi (Sarwono, 2010).
2.2 Konsep Dasar Letak Sunsang
2.2.1 Definisi
2.2.1.1 Letak sungsang adalah letak membujur dengan kepala janin di fundus uteri (Mitiani, 2009).
2.2.1.2 Letak sungsang adalah keadaan dimana janin terletak memanjang (membujur) dengan kepala berada di fundus dan bokong di bawah kavum uteri (Amru, 2011).
2.2.1.3 Letak sungsang adalah letak membujur atau memanjang dari janin dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri, sebelum atau sesudah masuk kedalam pintu atas panggul (Amru, 2011).
2.2.2 Klasifikasi letak sungsang
Klasifikasi presentasi bokong menurut (Liu, 2013) adalah : 2.2.2.1 Ekstensi
Posisi ini paling sering ditemukan yang terjadi sebesar 75%
kejadiaan presentasi bokong pada primigravida dan 50% pada multigravida. Penempelan yang baik terhadap serviks mungkin dilakukan tetapi tungkai yang ekstensi dapat membebat janin yang
menghambat fleksi lateral tubuh. Kelahiran tungkai memerlukan bantuan.
2.2.2.2 Presentasi bokong sempurna
Terjadi terutama pada ibu multigravida dengan diameter pelviks baik atau pada gestasi multipel terdapat resiko prolaps tali pusat. Proses persalinan secara spontan atau mealui ekstermitas bawah yang mudah mungkin dapat dilakukan.
2.2.2.3 Presentasi bokong tidak sempurna
Presentasi ini jarang terjadi, terdapat penempelan yang buruk pada serviks sehingga memiliki resiko yang lebih tinggi terjadinya prolaps taki pusat. Presentasi ini dapat mengindikasikan kesulitan dalam penurunan sehingga direkomendasikan kelahiran dengan sectio caesarea.
2.2.3 Etiologi
Menurut Wiknjosastro (2013), penyebab terjadinya presentasi bokong adalah:
2.2.3.1 Dari faktor ibu
Presentasi bokong disebabkan oleh multiparasitas, plasenta previa dan panggul sempit.
2.2.3.2 Dari faktor janin
1) Hidrosefalus atau anensefalus 2) Gameli
3) Hidramnion atau oligohidramnion 4) Prematuritas
2.2.4 Manifestasi klinis
2.2.4.1 Pergerakan anak terasa oleh ibu di bagian perut bawah, dibawah pusat dan ibu sering mengeluh merasa benda keras (kepala) mendesak tulang iga.
2.2.4.2 Merasa kesakitan di area serviks atau rectal
2.2.4.3 Pada primigravida tidak merasakan janin turun sebelum permulaan kelahiran.
2.2.4.4 Pada palpasi akan teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus uteri. Punggung anak dapat diraba pada salah satu sisi perut dan bagian- bagian kecil pada pihak berlawanan. Di atas simpisis teraba bagian yang kurang bundar dan lunak.
2.2.4.5 Bunyi jantung terdengar pada punggung anak setinggi pusat
2.2.4.6 Pemeriksaan vagina biasanya akan menggambarkan bagian terendah tidak mengalami engaged dan terasa lembut tanpa garis sutura atau formal (DS Baratakoesma, 2015).
2.2.5 Diagnosa banding
Kehamilan dengan letak sunsang dapat didiagnosis dengan kehamilan dengan letak muka. Pada pemeriksaan fisik dengan palpasi leopold masih ditemukan kemiripan. Ini dibedakan dari pemeriksaan dalam yakni pada letak sunsang akan di dapatkan jari yang dimasukkan kedalam anus mengalami rintangan otot dan anus dengan tuberosis iskii sesuai garis lurus. Pada letak muka jari masuk mulut dan tulang pipi membentuk segitiga. Sedangkan dengan USG atau rontgen sangatlah dapat dibedakan.
2.2.6 Komplikasi
Menurut Rukiyah dan Yuliani (2010), komplikasi presentasi bokong meliputi :
2.2.6.1 Bagi ibu
1) Robekan perineum lebih besar
2) Jika ketuban pecah dini dapat terjadi partus lama 3) Infeksi
2.2.6.2 Bagi janin
Ada gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong dan perut lahir karena tali pusat terjepit.
2.2.7 Pemeriksaan Penunjang 2.2.7.1 Anamnesa
Pergerakan anak terasa oleh ibu bagian perut bawah, ibu sering merasa ada benda keras yang mendesak tulang iga dan rasa nyeri pada tulang iga karena kepala janin.
2.2.7.2 Palpasi
Teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus, punggung dapat teraba pada salah satu sisi perut bagian kecil pada sisi yang berlawanan di atas sympisis teraba bagian yang kurang bundar dan lunak.
2.2.7.3 Auskultasi
Denyut jantung janin (DJJ) sepusat atau ditemukan paling jelas pada tempat yang lebih tinggi (sejajar atau lebih tinggi dari pusat).
2.2.7.4 Vagina toucher
Terbagi 3 tonjolan tulang yaitu tubera os ischii dan tulang os sacrum, anus genetalia anak jika odema tidak terlalu besar dan dapat diraba.
2.2.7.5 Perbedaan antara letak sunsang dan kepala pada pemeriksaan
Jika anus posisi terendah maka akan teraba lubang kelic, tidak ada tulang, tidak menghisap. Jika presentasei kaki maka akan teraba patella dan politeal. Pada presentasi mulut maka akan teraba hisapan dijari, teraba rahang dan lidah. Presentasi tangan dan siku : terasa jari panjang, tidak rata, patella (+) (Rukiyah dan Yulianti, 2010).
2.2.8 Pencegahan
Pencegahan agar bayi tidak sunsang dengan cara melakukan posisi knee chest yaitu dengan cara melakukan sujud atau secara tidak sengaja melakukan sujud ketika sholat, dilakukan pada kehamilan sekitar 7-8 bulan kemudian dilakukan 3-4 kali sehari selama 10 menit (Mufdililah, 2009).
2.2.9 Penatalaksanaan
Mengingat bahaya-bahayanya, sebaiknya persalinan dalam letak sunsang harus dihindarkan. Untuk ibu bila pada waktu pemeriksaan antenatal dijumpai letak sunsang menjadi letak kepala. Upaya-upaya tersebut adalah :
2.2.9.1 Posisi knee chest 1) Tujuan
Membenarkan posisi sungsang janin ke arah posisi presentase kepala secara alamiah, dengan pertimbangan kepala lebih berat dari bokong sehingga dengan hukum alam akan mengarah kepintu atas panggul.
2.2.9.2 Persiapan alat 1) Lantai beralas 2) Satu bantal tipis
2.2.9.3 Pelaksanaan 1) Sikap
Posisikan tubuh tengkurap dengan bertumpu pada lutut dan lengan, rebahkan dada sampai menyentuh lantai, kepala dimiringkan di atas lantai.
2) Anjuran
(1) Pada kehamilan sekitar 7-8 bulan
(2) Dilakukan 3-4 kali sehari selama 10 menit, seminggu kemudian periksa ulang
(3) Bila letak janin berubah, posisi knee chest diulangi, bila berhasil perlu difiksasi (diikat) dengan gurita atau stagen agar posisi janin tak berubah kembali (Mufdililah, 2009).
2.2.10 Dampak Masalah
Dampak masalah yang terjadi pada letak sunsang adalah akan ada gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong dan perut lahir karena tali pusat terjepit, dapat terjadi infeksi pada ibu (Rukiyah dan Yulianti, 2010).
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan
2.3.1 Pengkajian 2.3.1.1 Anamnese
1) Identitas Ibu
Didalam identitas yang beresiko tinggi meliputi umur yaitu ibu yang mengalami kehamilan pertama dengan indikasi letak (primigravida), kehamilan dengan indikasi letak yaitu umur diatas 30 tahun (primigravida), nama, tanggal lahir, alamat, no RM , MRS, tanggal pengkajian.
2) Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan yang harus ditanyakan dengan singkat menggunakan bahasa yang dipakai pemberi keterangan. Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan klien datang. biasanya pada kasus post caesarea dengan indikasi letak sunsang klien merasakan beberapa keluhan seperti nyeri bekas luka post sectio caesarea.
3) Riwayat Kesehatan
(1) Riwayat kesehatan sekarang
Untuk mengetahui penyakit yang diderita saat ini , PQRST (Sujiyatini, 2009).
(2) Riwayat penyakit sistemik
Untuk mengetahui apakah klien menderita penyakit seperti jantung, ginjal, asma, hepatitis, DM, hipertensi dan epilepsi atau penyakit lainnya (Sujiyatini, 2009).
(3) Riwayat penyakit keluarga
Untuk mengetahui apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit menular seperti TBC dan hepatitis, menurun seperti jantung dan DM (Sujiyatini, 2009)
(4) Riwayat menstruasi
Untuk mengetahui menarche, siklus, lama, banyaknya, haid teratur atau tidak, sifat darah, disminorhoe atau tidak (Wheeler, 2010).
(5) Riwayat keturunan kembar
Untuk mengetahui ada tidaknya keturunan kembar dalam keluarga (Sujiyatini, 2009).
(6) Riwayat operasi
Untuk mengetahui riwayat operasi yang pernah dijalani (Sujiyatini, 2009).
(7) Riwayat perkawinan
Untuk menetahui status perkawinan kien dan lamanya perkawinan (Wheeler, 2004).
(8) Riwayat kehamilan, peralinan dan nifas yang lalu.
((1) Kehamilan : Untuk mengetahui berapa umur kehamilan ibu dan hasil pemeriksaan kehamilan (Wiknjosastro, 2007).
((2) Persalinan : Spontan atau buatan lahir aterm atau prematur ada perdarahan atau tidak, waktu persalinan ditolong oleh siapa, dimana tempat melahirkan (Wiknjosastro, 2007).
((3) Nifas : Untuk mengetahui hasil akhir persalinan (abortus, lahir hidup, apakah dalam kesehatan yang baik) apakah terdapat komplikasi atau intervensi pada masa nifas dan apakah ibu tersebut mengetahui penyebabnya (Sujiyatini, 2009).
((4) Payudara : Pada pemeriksaan payudara terdapat pembesaran payudara, puting susu tidak masuk, tidak ada benjolan, adanya hiperpigmentasi pada aerola mame dan papilla mamae.
(9) Riwayat kehamilan sekarang
Riwayat kehamilan sekarang perlu dikaji untuk mengetahui apakah ibu resti atau tidak, meliputi:
((1) Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT)
Digunakan untuk mengetahui umur kehamilan (Winkjosastro, 2007).
((2) Hari Perkiraan Lahir (HPL)
Hari untuk mengetahui perkiraan lahir (Winkjosastro, 2007).
((3) Keluhan-keluhan
Untuk mengetahui apakah ada keluhan-keluhan pada trimester I, II, dan III (Winkjosastro, 2007).
((4) Ante Natal Care (ANC)
Mengetahui riwayat ANC, teratur/ tidak, tempat ANC, dan saat kehamilan berapa (Suyanti, 2009).
(10) Riwayat Keluarga Berencana
Untuk mengetahui apakah sebelum kehamilannya ini pernah menggunakan alat kontrasepsi atau tidak, berapa lama penggunaannya (Nursalam, 2009).
4) Pemeriksaan fisik (1) Keadaan umum
Untuk mengetahui keadaan umum apakah baik, sedang, jelek (Prihardjo, 2007). Pada kasus letak sunsang keadaan umum klien baik (Nugroho, 2010).
(2) Kesadaran
Untuk mengetahui tingkat kesadaran klien apakah composmetis, apatis, somnolen, delirium, semi koma dan koma.
Pada kasus ibu bersalin dengan letak sunsang kesadarannya composmentis (Varney, 2009).
(3) Tanda vital
((1) Tekanan darah : Untuk mengetahui faktor resiko hipertensi dan hipotensi. Batas normalnya 120/80 mmHg (Saifuddin, 2010).
((2) Nadi : Untuk mengetahui nadi klien yang dihitung dalam menit (Saifuddin, 2006). Batas normalnya 69-100 x/ menit (Perry, 2005).
((3) Respirasi : Untuk mengetahui frekuensi pernafasan klien yang dihitung dalam 1 menit (Saifuddin, 2010). Batas normalnya 12-22 x/ menit (Perry, 2005).
((4) Suhu : Untuk mengetahui suhu tubuh klien, memungkinkan febris/ infeksi dengan menggunakan skala derajat celcius.
Suhu wanita saat bersalin tidak lebih dari 38º C (Wiknjosastro, 2010).
(4) Pemeriksaan fisik B1-B6 (1) Breath (B1)
((1) Inspeksi : tidak terjadi peningkatan RR, tidak ada retraksi otot bantu nafas, tidak terjadi sesak nafas, pola nafas teratur, tidak menggunakan alat bantu nafas.
((2) Palpasi : pergerakan dinding dada sama, vocal premitus sama.
((3) Perkusi : suara perkusi resonan atau tidak.
((4) Auskultasi : suara nafas vesikuler, tidak ada suara tambahan seperti whezzing atau ronchi.
(2) Blood (B2)
((1) Inspeksi : Anemis (pucat), tidak ada nyeri dada.
((2) Palpasi : CRT < 3 detik, tidak cianosis, akral dingin, takikardia.
((3) Perkusi : Batas jantung normal, tidak ada pembesaran jantung.
((4) Auskultasi : Bunyi S1 dan S2 tunggal, suara jantung regular, tidak ada bunyi jantung abnormal seperti murmur dan gallop.
(3) Brain (B3)
((1) Inspeksi : Kesadaran composmentis (GCS 4-5-6)
((2) Palpasi : Ada luka di area kepala atau tidak, ada ketombe atau tidak.
(4) Bladder (B4)
((1) Inspeksi : Biasanya terpasang kateter, urine jernih, bau khas amoniak, pemeriksaan penungeluaran lochea, warna, bau dan jumlah.
((2) Palpasi : Nyeri tekan uterus yang mungkin ada, penggunaan alat bantu kateter untuk membatasi aktifitas klien ke toilet berhubung untuk mengurangi rasa nyeri Post Op sc
(5) Bowel (B5)
((1) Inspeksi : Mukosa bibir lembab atau kering, bentuk simetris, ada luka Post Op sc pada abdomen bagian bawah, bentuk luka vertikal panjang luka sekitar 15 cm ditutup dengan kasa steril
((2) Palpasi : Ada nyeri tekan pada luka Post Op sc yaitu pada perut bagian bawah.
((3) Perkusi : Normal, didapat timpani apabila terdapat cairan abdomen
((3) Auskultasi : Bising usus menurun 1-5x/menit akibat efek anastesi sehingga terjadi konstipasi
(6) Bone (B6)
((1) Inspeksi : Ada fraktur atau tidak, warna kulit kemerahan atau tidak. Pergerakan klien bebas atau terbatas
((2) Palpasi : Ada nyeri tekan pada luka Post Op sc
Skala kekuatan otot : Ada penurunan kekuatan otot ekstremitas bawah
2.3.1.2 Analisa Data
Langkah awal dari perumusan keperawatan adalah pengelolahan data dan analisa data dengan menggabungkan data satu dengan data lainnya sehingga tergambar fakta (Sulistyowati, 2009).
2.3.2 Diagnosa Keperawatan
2.3.2.1 Nyeri akut b/d terputusnya inkontunitas jaringan
2.3.2.2 Gangguan mobilitas fisik b/d keletihan dan luka dan nyeri pasca operasi.
2.3.2.2 Resiko infeksi b/d faktor resiko : pembedahan (luka bekas operasi)
2.3.3 Perencanaan
Tabel 2.1 Perencanaan, Tujuan dan Kriteria hasil pada klien dengan diagnosa medis post sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang
No.
Dx
Tujuan dan kriteria hasil
Intervensi Rasional
1. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam diharapkan nyeri dapat berkurang.
Kriteria hasil :
1. Klien dan keluarga klien dapat menjelaskan kembali tentang
nyeri dan
penyebab nyeri 2. Klien mau
melakukan teknik relaksasi dan distraksi saat nyeri 3. Klien merasa
nyaman dengan posisi semi fowler 4. Klien dapat
1. Jelaskan pada KLien dan keluarga klien tentang nyeri dan penyebab nyeri 2. Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi dan distraksi saat nyeri
3. Bantu klien menemukan posisi yang nyaman 4. Ajarkan teknik relaksasi
dan distraksi
5. Observasi adanya nyeri tekan pada luka Post Operasi
6. Observasi adanya peningkatan skala nyeri 7. Observasi tanda-tanda
vital
8. Observasi nadi
1. Untuk menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang nyeri 2. Membantu mengurangi
nyeri klien
3. Bisa mengurangi ketegangan otot
4. Bisa mengurangi rasa nyeri klien
5. Untuk mengetahui keadaan klien
6. Untuk mengetahui keadaan klien
7. Untuk mengetahui keadaan klien
8. Untuk memantau keadaan klien
34 D al
a m ba b 2 in i ak an 35
D al
a m ba b 2 in i ak an di ur
mepraktekkan kembali teknik relaksasi dan distraksi
5. Tidak terdapat nyeri tekan pada luka bekas operasi 6. Skala nyeri
berkurang 1-3 7. Tanda-tanda vital
dalam batas normal
8. Nadi normal (80- 90 x/menit)
9. RR normal (16-20 x/menit)
9. Observasi RR
10. Kolaborasi dengan dokter dan tim medis dalam pemberian analgetik
9. Untuk memantau keadaan klien
10. Analgesik dapat membantu menurunkan rasa nyeri
2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam di harapkan mobilisasi klien meningkat dengan :
Kriteria Hasil :
1. Klien mengerti
1. jelaskan tentang tujuan dilakukan mobilisasi
2. Ajarkan teknik mobilisasi
3. Anjurkan klien untuk melakukan mobilisasisecara bertahap
1. Untuk menambah wawasan klien dan member support
2. Untuk melatih mobilisasi klien
3. Untuk meningkatkan mobilisasi
tentang tujuan dilakukan mobilisasi 2. aktivitas fisik klien meningkat
3. mandiri dalam melakukan mobilisasi 4. pergerakan bebas
4. monitor tingkat mobilisasi 4. Untuk mengetahui tingkat mobilisasi klien
No.
Dx
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi Rasional
3. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi selama perawatan.
Kriteria hasil :
1. Klien dan keluarga
klien dapat
menjelaskan kembali tentang infeksi dan penyebab infeksi 2. Klien dan keluarga klien terlihat mau untuk mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan kegiatan apapun
3. Klien dan keluarga
klien dapat
menyebutkan tanda- tanda infeksi
1. Jelaskan pada klien dan keluarga klien tentang infeksi dan penyebab klien 2. Anjurkan klien dan
keluarga untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan apapun
3. Ajarkan pada klien dan keluarga klien tentang tanda-tanda infeksi 4. Observasi tanda ruam
pada luka
5. Observasi pus pada luka klien
6. Observasi luka jahitan.
7. Kolaborasi dalam pemberian antibiotic
1. Untuk menambah pengetahuan klien dan keluarga
2. Untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka klien
3. Untuk memantau tingkat pengetahuan klien dan keluarga
4. Untuk mengetahui keadaan luka klien
5. Untuk mengetahui agar tidak terjadi infeksi Post Operasi
6. Untuk mengetahui perkembangan luka jahitan 7. Untuk mengobati infeksi
4. Tidak ada ruam pada luka klien 5. Tidak ada pus pada luka klien
6. Luka jahitan telihat baik
2.3.4 Pelaksanaan
Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan yang mandiri adalah tindakan keperawatan berdasarkan analisis dan kesimpulan perawat.
Tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan yang didasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan lain. (Mitayani, 2009)
2.3.5 Evaluasi
Merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan yang hendak dicapai (Mitayani, 2009)
2.4 Pathway
Faktor dari janin : 1. Hidrosefalus 2. Gameli 3. Hidramnion 4. Prematuritas Faktor dari ibu :
1. Multiparitas 2. Plasenta 3. Panggul sempit
LETAK SUNSANG
Keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong berada di cavum uteri
Tali pusat terjepit Infeksi Gangguan peredaran
darah plasenta
Pre operasi Post Operasi Post Partum Nifas
Rencana dilakukan pembedahan (SC)
BAB III
TINJAUAN KASUS
Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan maternitas dengan diagnose medis Post Op section caesarea atas indikasi letak sungsang, maka penulis menyajikan suatu kasus yang penulis amati mulai tanggal 25 November 2019 sampai 27 November 2019 dengan data pengkajian pada tanggal 25 November 2019 jam 19.00 WIB. Anamnesa diperoleh dari klien dan file register sebagai berikut
3.1 PENGKAJIAN
Tanggal Masuk : 25-11-2019 Jam : 21.00
Ruang/Kelas : Nifas/ kelas III No. Rekam Medis : 0041xxxx
Pengkajian tanggal : 25-11-2019 Dx. Medik : P3.3, post sc 4 jam Letsu 3.1.1 IDENTITAS KLIEN
Nama : Ny. R
Umur : 38 Tahun
Suku/bangsa : Jawa/ Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Swasta
39
Alamat : Ngabar Sukodani Utara Status perkawinan : Menikah
3.1.2 IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB
Nama : Tn. W
Umur : 45 Tahun
Suku/bangsa : Jawa/ Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Ngabar Sukodani Utara Status perkawinan : Menikah
3.1.3 RIWAYAT KEPERAWATAN
3.1.3.1 Keluhan Utama : Klien mengatakan nyeri perut pada luka operasi 3.1.3.2 Riwayat Masuk Rumah Sakit
Klien mengatakan hari senin tanggal 25 November 2019 saat dirumah perut sudah terasa kenceng-kenceng, sekitar jam 15.00 sore di bawa ke IGD RSUD Bangil di periksa di ruang MNE, letak janin sungsang dan akan segera dilakukan operasi sesar jam 16.00. sekitar pukul 16.30 ibu melahirkan bayi perempuan dengan berat 2500 gram dengan sehat. Ibu dan bayi di pindahkan ke
ruang nifas sekitar jam 19.00 WIB. Saat pengkajian klien mengeluh nyeri akibat luka operasi, nyeri yang dirasakan seperti disayat-sayat pisau dan nyeri pada abdomen bagian bawah dengan skala 7 dan nyeri hilang timbul dan lebih terasa jika dipakai bergerak, POST SC 4 jam.
3.1.4 RIWAYAT OBSTETRI 3.1.4.1 Riwayat Menstruasi
1) Menarche : 13 tahun 5) Usia Kehamilan : 9 Bulan 2) Banyaknya : 1 hari ganti pembalut 3 kali 6) Siklus : Teratur 3) HPHT : 27-02-2019 7) Lamanya : 7 hari 4) TP : 04-12-2019 8) Keluhan : Tidak ada
3.1.4.2 Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas yang lalu :
Daftar Tabel 3.1 Riwayat kehamilan persalinan nifas yang lalu pada Ny. R dengan diagnose medis post section caesarea atau indikasi letak sungsang
Anak Ke Kehamilan Persalinan Komplikasi Nifas Anak
No Usia Umur kehamil
an
Penyak it
Jenis Penolo ng
Penyuli t
Lasera si
Infeks i
Perdara han
Jenis BB PJ
1 18 9 bulan - Normal Dokter - Jahita
n
- - L 1800 49
2 9 9 bulan - Normal Bidan - Jahita
n
- - L 2200 48
3 Hamil ini
9 bulan Sungsa ng
SC Dokter Letak sungsa ng
Opera si
- P 2500 49
3.1.4.3 Genogram
Keterangan : Laki-laki : Perempuan : Klien :
Tinggal saturumah : Garis keluarga : Meninggal :
x
Gambar 3.1 Genogram Keluarga Ny. R dengan diagnose medis Post Sectio Caesarea dengan Indikasi Letak Sungsang Di Ruang Nifas RSUD Bangil Pasuruan
3.1.4.4 Persalinan Sekarang 1) Kala Persalinan
(1) Kala I : tidak di lakukan pengkajian, klien ada di ruang operasi (2) Kala II : tidak dilakukan pengkajian, klien ada diruang operasi (3) Kala III : tidak dilakukan pengkajian, klien ada di ruang operasi (4) Kala IV :
(1)) Keadaan umum : Lemah
(2)) Tanda-tanda vital:
TD : 120/70 mmHg S : 36°C N : 80x/menit RR : 19x/menit (3)) TFU : 2 jari dibawah pusat
(4)) Kontraksi uterus : ( ) Baik ( ) Tidak (5)) Perdarahan : ( ) Ya ( ) Tidak
Jumlah :………
(6)) Perineum : ( ) rupture spontan ( ) episiotomy Lain-lain : Perineum tidak ada bekas episiotomy
(5) Keadaan Bayi (1)) BB : 2500 gram (2)) TB : 49 cm
(3)) Pusat : ( ) Normal ( ) Abnormal
(4)) Perawatan tali pusat ( ) Alkohol 70%
( ) Betadine
( ) Lainnya : Klem tali pusat dan kassa steril
(5)) Anus : Berlubang
(6)) Suhu : 36,7°C (7)) Lingkar Kepala :
Lingkar Sub Occipito Bregnatica : 32 cm Lingkar Fronto Occipitalis : 33 cm Lingkar Mentro Occipitalis : 34 cm (8)) Kelainan Kepala:
Caput succrdanum
Hydrocephalus
Cephal Hematoma
Microcephalus
Lain-lain : Tidak ada kelainan bentuk kepala
(6) Rencana Perawatan Bayi : ( ) Sendiri ( ) Orang tua ( ) Lain-lain
(1) Kesanggupan dan pengetahuan dalam merawat bayi
(1)) Breast care : Klien mengatakan dapat melakukannya sendiri (2)) Perineal Care : Klien sudah memahami tentang cara
membersihkan daerah perineum (kemaluan)
(3)) Nutrisi : Klien mengerti tentang cara pemenuhan kebutuhan nutrisi pada bayi
(4)) Senam Nifas : Klien mengatakan tidak melakukan senam nifas (5)) KB : Klien mengatakan pernah menggunakan KB jenis suntik (6)) Menyusui : Klien mengatakan ASInya belum keluar, karena
klien belum menyusui bayinya 3.1.5 Riwayat Keluarga Berencana
3.1.5.1 Melaksanakan KB : ( ) Ya ( ) Tidak
3.1.5.2 Bila ya jenis kontrasepsinya apa yang digunakan : KB Suntik
3.1.5.3 Sejak kapan menggunakan kontrasepsi : Klien mengatakan pernah menggunakan KB suntik sejak anak pertama lahir
3.1.5.4 Masalah yang terjadi : Tidak ada 3.1.6 Riwayat Kesehatan
3.1.6.1 Penyakit yang pernah dialami ibu : Tidak ada 3.1.6.2 Pengobatan yang didapat : Tidak ada
3.1.6.3 Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada ( ) Penyakit diabetes mellitus
( ) Penyakit jantung ( ) Penyakit hipertensi ( ) Penyakit lainnya
3.1.7 Riwayat Lingkungan
3.1.7.1 Kebersihan : Klien mengatakan lingkungan rumahnya bersih 3.1.7.2 Bahaya : Klien mengatakan lingkungan rumahnya tidak berbahaya 3.1.7.3 Lainnya : Klien berada dilingkungan bersih dan tidak tercemar 3.1.8 Aspek Sosial
3.1.8.1 Persepsi setelah melahirkan : Klien mengatakan bahagia dengan kelahiran anak ketiganya
3.1.8.2 Apakah keadaan ini menimbulkan perubahan terhadap kehidupan sehari-hari : iya, klien akan sibuk mengurus ketiga anaknya
3.1.8.3 Harapan yang ibu inginkan setelah bersalin : Klien mengatakan ingin cepat pulih sehingga bisa merawat bayinya dan segera pulang ke rumah 3.1.8.4 Ibu tinggal bersama siapa : Suami dan anaknya
3.1.8.5 Siapa anak yang terpenting bagi ibu : Klien mengatakan ketiga anaknya sangat penting
3.1.8.6 Sikap anggota keluarga terhadap keadaan saat ini : Klien mengatakan keluarganya sangat mendukung dengan keadaan klien saat ini
3.1.8.7 Keadaan mental menjadi ibu : Klien mengatakan senang karena anak ketiganya adalah perempuan
3.1.9 Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan 3.1.9.1 Merokok : Klien tidak merokok
3.1.9.2 Minuman Keras : Klien tidak mengkonsumsi minuman keras
3.1.9.3 Keterangan obat : Klien tidak ketergantungan obat seperti napza, dll 3.1.10 Pemeriksaan fisik
3.1.10.1 Keadaan umum : Lemah 3.1.10.2 Tekanan darah : 120/70 mmHg 3.1.10.3 Respirasi : 19x/menit
3.1.10.4 Berat Badan : 70 kg
3.1.10.5 Kesadaran : Compos Mentis Nadi : 80x/menit
Suhu : 36°C
Tinggi badan : 159 cm 3.1.10.6 B1 (Breath)
Inspeksi : Bentuk dada simetris kanan dan kiri, susunan ruas tulang belakang normal, pola nafas teratur, tidak ada retraksi otot bantu nafas, tidak ada alat bantu nafas, payudara menonjol, aerola hitam, putting menonjol
Perkusi : Perkusi thoraks sonor
Palpasi : Vocal fremitus normal, susunan ruas tulang belakang normal Auskultasi : Suara nafas vesikuler, tidak ada secret, tidak ada suara nafas tambahan
Lain-lain: Tidak ada
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3.1.10.7 B2 (Blood)
Inspeksi : Tidak ada cianosis, tidak ada clubbing finger, Perkusi : Pekak
Palpasi : Tidak terdapat nyeri dada, irama jantung teratur, tekanan darah bisa meningkat atau menurun, CRT < 2 detik, Pulsasi kuat, JVP normal 3 cm, kecepatan denyut jantung 80x/menit
Auskultasi : Bunyi jantung normal S1 (Lup) S2 (Dup), irama jantung reguler
Lain-lain : Tidak ada
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3.1.10.8 B3 (Brain)
1) Inspeksi : Kesadaran composmentis, orientasi baik, konjungtiva merah muda, pupil isokor, tidak ada kaku kuduk, tidak ada kejang, tidak ada brudinsky
2) Palpasi : Tidak ada nyeri kepala, bentuk kepala normal
3) Istirahat / tidur:
Di Rumah Sakit : Siang 2 jam, Malam 6 jam Di Rumah : Siang 3 jam, Malam 7 jam
Lain-lain : Raut muka tampak menyeringai Masalah keperawatan : Nyeri akut
3.1.10.9 B4 (Bladder)
1) Inspeksi : Bentuk alat kelamin normal, menggunakan kateter, warna urine kuning jernih, berbau khas, terdapat lochea rubra berwarna merah segar, sedikit kotor, frekuensi berkemih 1200cc/24 jam
2) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada perkemihan 3) Libido : Tidak terkaji
Kemauan : Normal ( ) Turun ( ) Meningkat ( ) Kemampuan : Normal ( ) Turun ( ) Meningkat ( )
Lain-lain : Perineum tidak terdapat luka bekas episiotomy, lochea rubra yang keluar berwarna merah segar, klien berada dalam masa nifas, jumlah pengeluaran darah sekitar 1500cc/hari, ganti pembalut 3x/hari.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
3.1.10.10 B5 (Bowel)
1) Inspeksi : Mukosa bibir lembab, bentuk bibir normal tidak ada caries, gigi bersih, kebiasaan gosok gigi 1x sehari di rumah sakit, perasa normal 2) Palpasi : Kontraksi uterus baik, terdapat nyeri tekan pada abdomen Post Operasi, TFU 2 jari dibawah pusat, tidak ada nyeri telan pada tenggorokan, peraba normal
3) Perkusi : Abdomen tympani 4) Auskultasi : Peristaltik 8x/menit
Lain-lain : Klien mengatakan sebelum dilakukan operasi klien mengkosongkan isi rectum dan puasa. Setelah operasi klien masih belum kentut sehingga klien tidak diperbolehkan makan dan minum, setelah di operasi klien belum ke kamar mandi dan belum buang air besar
Masalah keperawatan : Nyeri akut 3.1.10.11 B6 (Bone)
1) Inspeksi : Turgor kulit elastic, warna kulit sawo matang, tidak ada oedema, tampak sulit bergerak, kemampuan pergerakan sendi dan tungkai terbatas, kebutuhan klien masih dibantu keluarga, adanya luka Post Operasi masih terbalut kassa kering, terdapat striae, mammae membesar, Areolla mammae hiperpigmentasi, papilla mammae menonjol, bersih, dan tidak lecet, colostrums tampak keluar sedikit namum belum menyusui ke bayinya
Kekuatan Otot : 5 5
4 4
2) Palpasi : Akral hangat, tidak ada fraktur
Lain-lain : Klien hanya berbaring di tempat tidur, tampak sulit bergerak, aktivitas klien masih di bantu keluarga dan perawat, mika/miki hanya sedikit, terdapat jahitan luka bekas operasi sekitar 15 cm, keadaan luka masih berbalut kassa steril dan kering, kontraksi uterus baik, TFU 2 jari dibawah pusat, klien merasakan nyeri tekan pada luka operasi.
Masalah keperawatan : Hambatan Mobilitas Fisik 3.1.10.12 B7 (Pengindraan)
1) Inspeksi : (1) Mata : pupil isokor, tidak ada alat bantu penglihatan, ketajaman penglihatan kanan dan kiri, reflek cahaya normal, konjungtiva merah muda, sclera berwarna putih, palpebra normal, strabismus tidak ada
(2) Hidung : Normal, mukosa hidung lembab, secret tidak ada, ketajaman penciuman normal
(3) Telinga : Bentuk telinga normal simetris kanan dan kiri, keluhan tidak ada, ketajaman pendengaran baik, alat bantu pendengaran tidak ada Lain-lain : tidak ada
Masalah Keperawatan Tidak ada masalah keperawatan 3.1.10.13 B8 (Endokrin)
1) Inspeksi : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada pembesaran kelenjar parotis, tidak ada luka gangren
Lain-lain :
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan