• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aturan Kelayakan Program FCF

N/A
N/A
Sagrina Bangun

Academic year: 2024

Membagikan "Aturan Kelayakan Program FCF"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Aturan Kelayakan Program FCF

25 Juni 2020

Daftar Isi

1. Persyaratan Organisasi... 1

2. Persyaratan Areal ... 3

3. Kegiatan yang dapat didanai oleh FCF ... 4

4. Kegiatan yang boleh / tidak boleh dilakukan di areal konservasi ... 4

5. Syarat Pelaporan... 5

1. Persyaratan Organisasi

1.1. Pencatatan secara hukum dan audit keuangan

1.1.1. Penerima hibah dapat berupa organisasi berbasis masyarakat, perusahaaan swasta, perorangan, lembaga swadaya masyarakat (NGO), lembaga riset, universitas atau entitas keagamaan

1.1.2. Lembaga pemerintah tidak dapat menjadi penerima hibah

1.1.3. Penerima hibah harus merupakan lembaga yang tercatat secara hukum, atau seseorang yang tinggal di negara tempat hutan yang akan dilindungi berada

1.1.4. Pengeluaran yang berkaitan dengan kegiatan konservasi harus diaudit oleh pihak ketiga. Hal ini biasanya sudah menjadi kewajiban bagi lembaga yang tercatat secara hukum. Penerima hibah yang berupa perusahaan swasta harus mempersiapkan pernyataan keuangan yang terpisah yang berkaitan dengan kegiatan konservasi yang didanai oleh FCF. Sedangkan NGO dan lembaga non-profit lainnya cukup melakukan audit keuangan untuk keseluruhan lembaganya, tanpa perlu memisahkan pernyataan keuangan untuk dana FCF – meskipun Grants Committee berhak untuk meminta informasi ini.

1.1.5. Dana FCF tidak boleh dimaksudkan untuk meningkatkan keuntungan seseorang atau perusahaan swasta. Dana FCF hanya diperuntukkan untuk kegiatan konservasi yang belum didanai oleh sumber lainnya. Jika penerima hibah (perorangan atau perusahaan swasta) pada akhirnya mendapatkan pemasukan dari areal konservasi yang cukup untuk mendanai kegiatan konservasinya (misalnya melalui penjualan karbon), maka penerima hibah harus

menyampaikan informasi tersebut kepada sekretariat FCF, yang akan berkonsultasi dengan Grants Committee untuk mengambil keputusan terkait keberlanjutan dana FCF untuk kegiatan tersebut.

1.2. Status tenurial

1.2.1. Areal yang dilindungi harus memiliki status tenurial yang memungkinkan untuk kegiatan konservasi setidaknya 20 tahun setelah tanggal pengajuannya ke FCF. Status ini bisa juga berupa ijin yang harus diperbaharui secara berkala.

1.2.2. Penerima hibah harus memiliki hak secara hukum untuk mengelola areal yang akan dilindungi.

Hak ini bisa berupa beberapa jenis, yaitu:

 Kepemilikan areal, dengan hak untuk mengelolanya sebagai areal lindung.

 Ijin sah dari pemerintah untuk mengelola areal tersebut

1.2.3. Apabila penerima hibah bukanlah lembaga yang memiliki hutan tersebut, maka harus

mendapatkan mandat / kontrak dari pemilik hutan untuk melindungi dan atau mengelola areal

(2)

tersebut atas nama pemilik, kontrak ini harus berlaku setidaknya hingga lima tahun. Penerima hibah harus menyampaikan pada secretariat FCF apabila mandate mereka untuk mengelola areal tersebut sudah akan habis atau beresiko untuk tidak diperpanjang.

1.2.4. Areal ini harus diakui oleh pemerintah sebagai areal yang dialokasikan untuk konservasi atau perhutanan sosial. Areal yang merupakan areal lindung yang bersifat permanen, atau sudah dialokasikan sebagai areal lindung hingga akhir perijinannya, akan lebih disukai. Grants Committee dapat menyetujui proyek-proyek di mana status konservasinya masih harus diperpanjang setiap tahunnya, sejauh pemohon hibah dapat menunjukkan bahwa mereka bermaksud untuk terus memperbaharui perijinan ini hingga seterusnya. Dalam situasi tertentu, Grants Committee dapat menyerujui proyek di area di mana pemerintah belum secara resmi menyetujuinya sebagai areal konservasi, pemohon hibah harus menunjukkan bahwa mereka yakin kegiatan konservasi diperbolehkan di areal tersebut (lihat poin 1.2.1 di atas), dan harus membuktikan bahwa pemiliki areal bermaksud untuk melindungi areal ini hingga seterusnya.

1.2.5. Areal yang dimiliki atau dikelola oleh negara, sebagai contoh taman nasional atau hutan lindung, sebenarnya tidak layak untuk menjadi penerima hibah FCF. Grants Committee dapat membuat pengecualian untuk areal yang dikelola oleh negara yang baru saja mendapatkan status konservasi paling lama lima tahun sebelumnya, sebagai contoh yaitu areal yang baru saja dideklarasikan sebagai areal lindung, atau areal yang baru saja berubah fungsi, yakni yang awalnya hutan produksi menjadi hutan lindung negara. Dalam situasi ini, negara atau badan pemerintahan yang mengelola areal harus memiliki perjanjian dengan satu aktor non-negara (LSM, masyarakat atau perusahaan) untuk mengelola areal ini secara bersama-sama; organisasi yang melakukan kerjasama pengelolaan ini akan menjadi penerima hibah. Lembaga pemerintah tidak bisa menjadi penerima hibah.

1.3. Penerima hibah harus memiliki sumber daya manusia dan sumber daya lain yang cukup kuat untuk memastikan bahwa areal ini bisa dilindungi, dengan keterlibatan aktif dari masyarakat yang berada di sekitar areal konservasi. Hal ini mencakup:

1.3.1. Kepemimpinan yang efektif 1.3.2. Patroli hutan yang aktif 1.3.3. Tim patroli hutan yang terlatih

1.3.4. Penggunaan alat SMART1 (atau yang setara dengan itu) oleh tim lapangan

1.3.5. Kemampuan untuk mengelola keuangan yang cukup untuk dapat mengirimkan laporan triwulan kepada FCF dan laporan tahunan kepada auditor

1.3.6. Staf dengan pengetahuan dan kapasitas untuk melibatkan masyarakat dalam kegiatan konservasi

Kegiatan-kegiatan di atas dapat dilakukan oleh pihak ketiga yang dikontrak oleh penerima hibah.

Penerima hibah bertanggungjawab untuk melaporkan bagaimana pihak ketiga tersebut menjalankan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh FCF, dan memastikan bahwa mereka memenuhi kriteria yang dijelaskan dalam dokumen ini.

1.4. Apabila penerima hibah tidak memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk memenuhi syarat pelaporan FCF, mereka dapat bekerjasama dengan pihak ketiga (fiscal sponsor) yang bertugas untuk menerima dan mengelola dana FCF. Dalam kasus ini, fiscal sponsor bertanggungjawab untuk menyampaikan laporan keuangan kepada FCF dan mengikuti persyaratan lainnya. Alokasi maksimal dari dana FCF yang bisa digunakan untuk membiayai fiscal sponsor adalah 20%.

1 SMART tool adalah alat yang dibangun oleh Zoological Society of London dan para ahli lainnya untuk membantu pelaku konservasi dalam memonitor satwa serta mengidentifikasi ancaman seperti perburuan liar dan penyakit menular, untuk menjadikan aktivitas patroli lebih efektif.

(3)

1.5. Kebijakan dan implementasi

1.5.1. Penerima hibah harus memiliki kebijakan yang menyatakan bahwa mereka tidak akan melakukan deforestasi terhadap hutan alam (termasuk areal yang berada di luar areal konservasi), penerima hibah juga harus dapat menjelaskan dengan baik bagaimana mereka mengimplementasikan kebijakan ini.

1.5.2. Penerima hibah dilarang untuk terlibat dalam kegiatan illegal seperti suap-menyuap, korupsi dan perdangan satwa liar.

1.5.3. Staf yang bekerja di areal konservasi tidak diperkenankan menggunakan senjata api.

1.5.4. Penerima hibah dan pihak ketiga yang dikontrak dilarang mengintimidasi masyarakat lokal dan harus berusaha untuk bekerjasama dan membangun hubungan yang kolaboratif dengan masyarakat lokal.

1.6. Analisis resiko dan mitigasi

1.6.1. Penerima hibah harus menunjukkan pemahaman dasar terkait resiko yang dapat

mempengaruhi kesuksesan program konservasi, serta menunjukkan rencana untuk memitigasi resiko tersebut. Hal ini mencakup:

 Apakah ada penggunaan lahan yang berpotensi tumpang tindih dengan areal konservasi (sebagai contoh, kemungkinan tumpang tindih dengan konsesi tambang), resiko apa yang mungkin diakibatkan oleh kondisi ini dan bagaimana penerima hibah berencana untuk mengatasinya.

 Jika pernah terjadi kebakaran hutan dalam jarak 50km dari areal konservasi selama lima tahun terakhir, maka mitigasi terkait kebakaran hutan harus dimasukkan ke dalam proposal hibah.

 Jika hutan ini berada di atas areal gambut yang dikeringkan, maka harus ada penjelasan terkait resiko jangka panjang apa yang mungkin diakibatkan oleh kondisi ini, dan bagaimana penerima hibah dapat membantu memitigasinya.

1.6.2. Untuk areal yang tidak dimiliki oleh masyarakat, masyarakat tetap harus memberikan

dukungannya pada kegiatan konservasi. Penerima hibah harus menjelaskan dan membuktikan hal-hal berikut ini:

 Bagaimana penerima hibah atau perwakilannya berkonsultasi dengan masyarakat terkait rencana dan pemetaan areal yang akan dikonservasi

 Apakah masyarakat lokal mendukung kegiatan konservasi di areal ini, dan

 Bagaimana masyarakat lokal akan dilibatkan dalam kegiatan konservasi di areal ini.

1.6.3. Untuk areal yang tidak dimiliki oleh masyarakat: pemilik atau pemegang ijin lahan dan atau penerima hibah harus memiliki pemahaman yang baik terhadap konteks sosial di areal tersebut, serta potensi konflik lahan yang dapat muncul akibat kegiatan konservasi. Penerima hibah harus menggunakan Studi Latar Belakang Sosial dan Studi Tenurial yang ada dalam Social Requirement dari High Carbon Stock Approach (halaman 6 dan 7 berikut ini:

https://drive.google.com/open?id=1D57ucX3twQrHerUQp_nS8I5gv6jQiBuT) atau studi lainnya yang setara untuk menggambarkan konflik lahan / potensi konflik lahan dengan masyarakat adat dan lokal, serta bagaimana penerima hibah berencana untuk mengatasinya. FCF

menghormati hak masyarakat adat dan lokal terhadap Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa / FPIC). Segala konflik tenurial harus menunjukkan perkembangan untuk mencapai resolusi.

2. Persyaratan Areal

2.1. Tutupan lahan

2.1.1. FCF hanya mendanai areal hutan alam. Tutupan spesies non-lokal bisa mencapai hingga 15%

dari basal area hutan, namun tidak boleh ada special non-lokal yang ditanam di areal konservasi selama durasi hibah FCF.

(4)

2.1.2. Penerima hibah bisa memilih beberapa cara untuk menunjukkan bahwa arealnya masih berhutan; studi HCS dan HCV lengkap tidak diwajibkan. Selama memproses proposal pengajuan hibah, Sekretariat FCF akan melakukan pengecekan tutupan lahan melalui citra satelit. Grants Committee berhak untuk meminta informasi tambahan untuk memastikan bahwa tutupan lahan areal yang diajukan benar-benar berupa hutan alam.

2.2. Luas minimal

2.2.1. Hutan yang dilindungi harus seluas minimal 500 ha dan berada di satu hamparan.

2.3. Additionality / syarat minimal terkait konservasi dari sisi legal

2.3.1. Untuk kegiatan yang berada di areal produksi (sebagai contoh di areal yang dimiliki atau ijinnya dibebankan kepada pihak swasta), FCF hanya bisa men-support areal yang merupakan

tambahan dari total areal yang memang wajib dilindungi oleh pemegang ijin. Sebagai contoh, apabila sebuah perusahaan mengelola 10.000 hektar hutan produksi, dan mereka diwajibkan oleh undang-undang untuk melindungi 2.000 hektar, lantas perusahaan memutuskan untuk melindungi 3.000 hektar, maka FCF hanya bisa mensupport 1.000 hektar-nya.

2.3.2. FCF juga menyukai kegiatan yang dikerjakan di areal konservasi baru, seperti areal yang baru saja mendapatkan status konservasi dalam lima tahun terakhir.

3. Kegiatan yang dapat didanai oleh FCF

3.1. Penyusunan dan implementasi rencana pengelolaan dan monitoring hutan, termasuk monitoring keanekaragaman hayati (dengan menggunakan SMART atau alat lain yang setera) dan dampak sosial 3.2. Pajak, perijinan atau biaya lain yang muncul terkait areal konservasi

3.3. Proses integrasi areal konservasi ke dalam lansekap yang lebih luas, contohnya keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan di level lansekap

3.4. Sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan konservasi

3.5. Biaya yang harus dibayarkan pada pihak ketiga untuk mengelola atau memonitor areal konservasi 3.6. Restorasi areal konservasi dengan menggunakan spesies asli yang memang sudah ada di areal hutan

tersebut

3.7. Re-introduksi fauna asli ke dalam areal konservasi

3.8. Pengembangan kegiatan yang dapat menghasilkan pemasukan, dengan syarat bahwa kegiatan ini memang diperbolehkan untuk dilakukan di areal konservasi (lihat sub-bab selanjutnya)

3.9. Implementasi kegiatan yang bisa menghasilkan sumber daya ekonomi bagi masyarakat lokal, dilakukan di luar areal konservasi, dengan syarat bahwa kegiatan ini memang bagian dari rencana konservasi, sebagai upaya untuk mendapat dukungan dari masyarakat lokal

3.10. Bantuan hukum bagi masyarakat adat dan lokal untuk bisa mendapatkan status tenurial dengan fungsi konservasi, contohnya untuk mengalihkan status lahan dari konsesi perusahaan menjadi hutan yang dikelola oleh masyarakat lokal secara kolektif

3.11. Kegiatan operasional lainnya seperti biaya audit keuangan dan biaya overhead terkait kegiatan konservasi yang dilakukan

4. Kegiatan yang boleh / tidak boleh dilakukan di areal konservasi

4.1. Kegiatan dengan tujuan komersil dan subsisten yang tidak merusak integritas hutan secara jangka panjang diperbolehkan di dalam areal konservasi. Hal ini mencakup:

4.1.1. Pemanfaatan hasil hutan non-kayu secara lestari

4.1.2. Pemanfaatan hasil hutan kayu untuk keperluan pribadi masyarakat lokal (keperluan komersial tidak diperbolehkan), dan hanya boleh untuk spesies kayu yang tidak langka, tidak terancam dan atau tidak hampir punah.

4.1.3. Berburu dan menangkap ikan untuk keperluan pribadi, dan hanya boleh untuk spesies yang tidak langka, tidak terancam dan atau tidak hampir punah.

(5)

4.1.4. Menangkap ikan untuk tujuan komersil diperbolehkan hanya untuk spesies yang tidak langka, terancam dan atau hampir punah. Penerima hibah harus menjelaskan bagaimana kegiatan ini tetap dilakukan dengan pengelolaan yang lestari untuk menjamin terjaganya sumber daya ikan, contohnya melalui undang-undang yang diimplementasikan secara efisien.

4.1.5. Kegiatan eko-turisme yang tidak berlawanan dengan persyaratan lain di bagian ini.

4.2. Tidak diperbolehkan melakukan pemanfaatan hasil hutan kayu untuk keperluan komersil, bahkan jika hal tersebut dilakukan secara lestari.

4.3. Tidak diperbolehkan melakukan perburuan, penangkapan ikan atau pengambilan tanaman yang langka, terancam dan hampir punah.

4.4. Berburu untuk keperluan komersil tidak diperbolehkan di areal konservasi.

4.5. Tidak boleh menanam spesies non-lokal.

4.6. Tidak boleh membudidayakan spesies non-lokal, kecuali jika spesies ini sudah ditanam sebelumnya, dan hanya boleh dibudidayakan hingga maksimal 15% dari basal area hutan. Hal ini berarti bahwa kegiatan agroforestri biasanya tidak diperbolehkan untuk dilakukan di areal konservasi.

5. Syarat Pelaporan

5.1. Setiap triwulan, penerima hibah harus mengirimkan informasi kepada FCF terkait pemanfaatan dana, dengan menggunakan format yang diberikan oleh FCF.

5.2. Penerima hibah harus menyerahkan shapefile areal yang dikonservasi, sehingga FCF bisa memonitornya untuk memastikan tidak adanya deforestasi.

5.3. Penerima hibah harus mengijinkan perwakilan FCF, seperti secretariat, anggota board, anggota Grants Committee, peneliti yang bekerja untuk FCF, atau perwakilan lain untuk mengakses areal ini demi kepentingan audit, kunjungan lapangan ataupun monitoring keanekaragaman hayati.

5.4. Penerima hibah harus menggunakan SMART (atau alat lain yang setara) dan memberikan datanya kepada Sekretariat FCF.

Referensi

Dokumen terkait

terpengaruh oleh manajemen sumber daya manusia (SDM) dengan tujuan memastikan dipenuhinya azas kesesuaian, efektifitas dan efisiensi dan pengolaan sumber daya manusia untuk

Hasil penelitian dengan menggunakan AHP untuk mengetahui pera manajemen sumberdaya manusia diketahui bahwa peran manajemen sumber daya manusia yang paling kuat adalah

1) Sumber daya manusia sebagai pelaksana dan sumber daya fisik yang berupa fasilitas pendukung pelaksanaan program Jampersal sudah cukup memadai, baik dari segi

Indonesia saat ini telah memasuki era MEA.Pekerja indonesia akan menghadapi persaingan.Indonesia memastikan kesiapan Sumber Daya Manusia yang handal dan

pengembangan sumber daya baik dalam pemanfaatan sumber-sumber alam maupun pemanfaatan sumber daya manusia, berupa penyerapan tenaga kerja, selain itu, adanya usaha baru

Tujuan Manual Manual Pengendalian standar pengelolaan Sumber Daya Manusia ini disusun untuk memastikan bahwa pengelolaan sumber daya manusia di Universitas

Dengan adanya hasil ini berarti Kompetensi sumber daya manusia memiliki pengaruh yang cukup kuat dan merupakan faktor yang penting terhadap peningkatan

Secara tradisional, perencanaan sumber daya manusia merupakan aktivitas dalam manajemen sumber daya manusia yang digunakan oleh organisasi untuk memastikan bahwa mereka memiliki jumlah