• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aturan Penggunaan Alif, Waw, dan Ya

N/A
N/A
Hidayatul Fajri

Academic year: 2024

Membagikan "Aturan Penggunaan Alif, Waw, dan Ya"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

KAIDAH

PENGGUNAAN ALIF,

WAW, DAN YA

(2)

Shinta melia 21026070 202320260009

Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Semester 6/ 2024

Universitas Negeri Padang

(3)

Penggunaan Huruf ا ,و Dan ي Sebagai Huruf Pemanjang dan Tekanan Kata

1. Masalah apakah ا,و dan ي dipakai atau tidak dipakai sebagai huruf pemanjang, sama juga, tentu saja dengan masalah tentang suku kata mana yang di dalamnya vokal bahasa Melayu dianggap panjang dan suku kata mana tempat vokal tersebut dianggap pendek.

(4)

1° patokan itu hanya berlaku untuk kata Melayu murni (asli), sebab kata-kata dari bahasa lain pada umumnya ditulis sesuai dengan kaidah nya yaitu 2°. patokan itu berlaku untuk kata majemuk atau bahkan yang bukan majemuk. Sebab dalam merangkai-kan kata panjang vokal Berpikir kritis dalam mengkaji dan mengidentifikasi kaidah penggunaan alif, waw, dan ya dan perubahan panjang vokal disebabkan akhiran sering berubah, maka dari pada itu pada bab ini akan diadakan pembahasan 3°. Orang melayu sendiri sering menyimpang dari patokan-patokan tersebut dalam naskah nya.

(5)

2. I vokal itu panjang atau dengan kata lain huruf ا ,و dan ي harus dipakai sebagai huruf pemanjang dalam hal-hal berikut.

a. Dalam suku kata pertama dalam kata-kata bersuku dua bila suku kata pertama itu tidak ditutup oleh konsonan.

b. Dalam suku kata pra-akhir dalam kata bersuku tiga atau lebih dan tidak ditutup dengan konsonan.

c. yang berakiran pada o, oe, atau i, biasanya dianggap panjang dan ditulis dengan huruf pemanjang و atau ي

(6)

3. II vokal-vokal adalah pendek, maka huruf pemanjang ا,و ,ي tidak berlaku dalam hal bersangkutan.

a. Dalam suku kata tertutup

b. dalam suku akhir sebuah kata, berakhir pada huruf a

c. dengan sendirinya dalam suku-suku kata tempat timbul pepet [...] misalnya سرَ besar. Sebaliknya dalam bahasa melayu minangkabau bunyi e ini diucapkan sebagai a, dan terkadang juga ا nya ditulis; misalnya ڠاان dengan

(7)

4. Dari patokan-patokan yang disebut di sini ternyata bahwa vokal-vokal panjang dalam bahasa melayu hanya timbul dalam suku kata pra-akhir dan akhir kata. Tetapi ada kata dari bahasa lain sepeti sanskerta atau kawi yang mempertahankan panjang vokal aslinya.

Misalnya:

karena ڠارن ; soedara سوَ ا

Kata-kata arab yang berjumlah besar itu dan yang terdapat dalam naskah melayu sama juga harus mempertahankan ejaan aslinya.

(8)

5. Mengenai tekanan perlu dicatat bahwa tekanan itu pada umumnya lemah sekali, karena orang melayu mengucapkan semua suku kata yang tidak seluruhnya datar dengan tekanan yang lebih kurang sama. Melainkan hanya dengan jalan mengucapkan suku kata itu lebih lambat atau lebih tersere.

(9)

6. Bila suku kata pra-akhir mempunyai bunyi e pepet tekanan jatuh pada suku kata terakhir.

7. kata-kata yang di bentuk dengan merangkai akhiran kebanyakan kali mempertahankan tekanan pada suku kata terakhir yang mendapat tekanan dalam kata dasar.

(10)

Perubahan Panjang Vokal dalam Kata Disebabkan oleh Akhiran

1. Akhiran-akhiran yang perlu diperhatikan di sini ialah ڠن an، ئ i

، كن kan، ك koe, م Moe, پ nja; terkadang juga dimasukkan disini ته tah, تن kah, ته lah, yang artinya akan diterangkan kemudian.

2. Untuk menetapkan patokan-patokan yang berkenaan dengan pengaruh akhiran- akhir^ ini atas ejaan, maka akhiran tersebut diperinci menjadi:

(11)

1. Akhiran yang mulai dengan vokal, yaitu ڠن an dan ين i;

2. Akhiran yang mulai dengan konsonan, yaitu semua'akhiran lainnya.

Adapun kata-kata tempat akhiran itu semua ditambahkan, dibagi menjadi;

1. Akhiran yang berakhir pada vokal.

2. Akhiran yang berakhir pada konsonan.

Sesudah pembagian ini patokan-patokan yang berikut dapat ditetapkan; namun oleh orang Melayu sendiri sering diabaikan;

terutama dalam banyak naskah panjang vokal tidak diubah di muka akhiran ،ته ته ,dan تن 1)

(12)

3. I. Bila suatu kata yang berakhir pada vokal mendapat suatu akhiran- tidak perduli apakah akhiran ini mulai dengan vocal atau dengan konsonan - vokal akhir kata tersebut menjadi panjang.

Dan jika dalam suku pra-akhir kata tersebut terdapat vokal panjang, vokal ini menjadi pendek. Dengan sendirinya, jika dalam suku akhir kata sudah ada vocal panjang, maka vokal ini tidak berubah, dan hanya vokal suku praakhir yang menjadi pendek. Jika dalam hal ini suku praakhir bervokal pendek, maka panjang vokal tak berubah.

(13)

4. II. Bila sebuah kata yang berakhir pada konsonan mendapat akhiran yang mulai dengan vokal, maka vokal pendek dalam suku pra-akhir menjadi panjang. Sebaliknya andai kata dalam vocal pra-akhir terdapat vokal panjang, ini menjadi pendek.

Sebab perubahan ini dalam ucapan orang suku akhir kata luluh kepada akhiran dan mengambil-alih vokal awal akhiran tersebut (bandingkan halaman 12 dalam catatan); suku kata akhir yang karena masuknya akhiran. berubah menjadi suku pra-akhir, berhenti sebagai suku tertutup dan harus mendapat vokal panjang.

Misalnya رَ س besar, ڠارارن kebesaran; ڠاانdatang, دتاْرهس mendatangi; تَسه lihat, ڠرَْْن kelihatan.

(14)

5. III. Bila sebuah kata yang berakhir pada satu konsonan.

mendapat akhiran yang mulai dengan konsonan, maka panjang vokal tetap

6. IV. Bila ada kata yang diulang, maka kata itu hanya ditulis sekali dan dibelakangnya ditambahkan angka doewa (garis bawah penerjemah). Bila kata berulang mendapat akhiran, yang tidak mengubah panjang vokal, maka cara penulisan ini dapat dipertahankan dan dengan mudah akhiran tersebut dapat diletakkan di belakang Angka Doewa.

(15)

Tetapi kalau karena akhiran itu berubah panjang vokalnya, maka demi telitinya lebih baik jangan menggunakan Angka Doewa, sebaliknya mengulang kata yang bersangkutan, Karena akhiran hanya berpengaruh pada panjang vokal dalam kata terakhir, sedangkan panjang vokal dalam kata pertama tetap.

7. Kata terkadang di belakang akhiran pertama terkadang bias juga mendapat satu atau dua akhiran lagi 5. Dalam hal itu akhiran- akhiran pertama bersama kata dasar dianggap sebagai satu kata, sedangkan panjang vokal hanya diatur oleh akhiran penghabisan. Jelasnya, kalau bukan akhiran pertama atau kedua yang berujung konsonan dan akhiran berikutnya mulai dengan konsonan.

(16)

Satu contoh cukup untuk menjelaskannya تَپله katanjalah, terjadi dari akhiran پ nja dan ته lah. Oleh akhiran pertama که kata berubah menjadi پرله katanja. Dan Karena akhiran kedua پرله katanja berubah menjadi katanjalah (semuanya menurut patokan I). Kata تاسْهرپه disahoetinjalah 'dijawabnyalah' terjadi dari کارَ

sahoet serta akhiran ين I, پ nja dan ته lah (kecuali awal an di yang tidak menjadi soal disini). Akibat akhiran ين I kata کارَ

sahoet berubah menjadi وسيهو sahoeti (patokan II) Karena akhiran پ nja kata وسيهو menjadi وسپيه sahoetinja. (Patokan I) ; akhirnya oleh akhiran ته lah, maka kata وسپيه berubah menjadi وسْهرپه sahoetinjalah (patok I)

(17)

Tetapi bila akhiran pertama berakhir pada konsonan, pada hal yang kedua mulai dengan konsonan pula, maka akhiran kedua ini tidak membawa perubahan dalam panjang vokal kata dasar (yang lalu hanya ditentukan oleh akhiran pertama), melainkan bersama akhiran ketiga mengikuti patpkan-patokan kata yang berdiri sendiri. Misalnya اسنرْْْهرد dibukakkanjalah (kecuali awalan di) terjadi dari وو س boeka dan akhiran كه kan, پ nja dan ته lah.

Karena akhiran كه kan, maka kata وو س boeka berubah menjadi سكنرن boekakan (patokan I). Oleh akhiran پ panjang vokal dalam kata كنرن س boekakan tidak berubah (patokan III), Dan di peroleh kata ورکْد س tapi oleh akhiran ته ,a dalam akhiran nja menjadi panjang, maka timbullah tulisan كرْْْهرد س dibukakkanjalah.

(18)

Dalam kata پلاَْْد dimakannjalah yang terjadi dari makan dan akhiran پ nja serta ته lah, tidak ditimbulkan perubah dalam panjang vokal (Patokan III), maka tetaplah كرمْد makannja.

Sebaliknya oleh akhiran ته lah bunyi a dalam akhiran -nja menjadi panjang, maka terjadilah كرمَْْد makannjalah. Jika akhiran ته lah, tidak dibuat mempengaruhi panjang vokal, maka contoh- contoh ini tentu saja Tentu saja تَدرلن ,تاسَْپيه ,dan و ْددساکا ,dan كرلاَْْد .

Sementara itu dalam naskah-naskah Melayu tempat patokan- patokan ejaan sering diabaikan terdapat banyak penyimpangan dari peraturan itu, jadi misalnya. Ditemukan تاسپيهو disahoetinja, تاسْهرپيهو disahoetinjalah, dan sebagainya. Khususnya hal ini terjadi dalam kata-kata majemuk yang rumit.

(19)

8. Catatan

1 . Partikel penegas وْو pon sering di rangkaikan dengan کاا itoe, سا ada, ڬل lagi, dan dalam tulisan partikel ini dirangkaikan dengan kata-kata itu. Tetapi pon tetap kata tersendiri dan bukan akhiran dan tidak berpengaruh pada kata pendahulunya. Jadi hendaknya ditulis pun lain kecil kata-kata ڬْيو ْو ,سرو ْو ,اولو ْو bukan dan lagipon ڬْل ْو ,adapon سرو ْو ,itoepon ْ رليوو oleh orang Melayu sering dirangkaikan penulisannya. Misalnya اتاس ْ dan bukan كاس ان dengan dija; تنرَ س dan bukan تنرَ س jang besar; dan sebagainya.

(20)

2. Bila sebuah kata, yang berakhir pada ق mendapat akhiran yang mulai dengan vokal, maka huruf tersebut berubah menjadi ك ,karena dalam hal ini huruf akhir kata dasar luluh dengan akhiran dan karena huruf ق dalam bahasa Melayu tidak lain hanya digunakan sebagai huruf penutup suku kata. . Begitu misalnya, dari kata ادا س banjaq timbul كهرپره kebanjakan; dari اَرل masoeq; تهوامل memasoeki. Jika akhiran mulai dengan konsonan, Maka huruf ق tentu saja tetap; seperti dalam kata كْاَرمل memasoeqkan, dari اَرل masoeq.

(21)

Kesimpulan

Materi ini membahas tentang Kaidah penggunaan Alif, waw, dan ya, yang mana dalam pembahasannya penggunaan Alif, waw, dan ya dan perubahan panjang vokal disebabkan akhiran : Tempat- tempat penggunaan alif, waw, dan ya, Tempat-tempat tidak digunakan alif, wawa, dan ya, dan Perubahan pajang vokal disebabkan akhiran.

(22)

Opini

Pada materi ini membahas tentang Vokal dan harakat dan Konsonan Arab-Melayu, seperti yang telah dibaca bahwa dalam kurikulum pengajaran disekolah-sekolah secara nasional, aksara/ejaan daerah tidak dibelajarkan lagi (Kurikulum 1975), maka dari itu ha ini menjadi hambatan dalam pelajaran filologi yang mana berasal dari aksara/ejaan yang digunakan dalam naskah, sebab untuk hambatan ini hanya satu cara yang bisa digunakan untuk mengatasinya, yaitu mempelajarinya (menguasainya).

Kepada pihak pemerintah harus lebih mengerti bahwa pelajaran atau materi ini sangat penting dan dibutuhkan bagi generasi muda saat ini agar lebih mengenal pembelajaran bahasa (aksara) dan mengerti saat mengidentifikasi sebuah naskah kuno. Sebaiknya pemerintah menghidupkan kembali kurikulum yang mempelajari tentang aksara/ejaan daerah agar generasi saat ini dapat melestarikan naskah kuno dan pengetahuan tentang naskah dapat berlanjut kepada generasi berikutnya.

(23)

Thanks!

Referensi

Dokumen terkait

Kesalahan tersebut meliputi, penggunaan huruf kapital, penggunaan huruf miring, kesalahan penggunaan kata depan, penggunaan partikel, penggunaan angka dan bilangan,

Berdasarkan konteks ayat, penambahan imbuhan awalan ت (ta’) pada hadapan kata dan imbuhan sisipan َا (alif) selepas huruf pertama َْمُـتْـعَـياَـبَـت

Pada tujuh kata jamak taksir di atas, pengurangan huruf dan perubahan bunyi sebagai proses pembentukkan jamak taksir terjadi dengan membuang hamzah, alif, waw, ya,

Dengan aturan perkalian, banyak kata sandi 3 huruf yang tepat dibuat dari 26 kartu huruf tanpa ada yang diulang adalah 26 × 25 × 24 = 15.600 Uraian tersebut menggambarkan

Tidak semua kata dasar tersusun dari huruf-huruf shahîh. Ada di antaranya yang sebagian huruf pokok penyusunnya berupa huruf- huruf ‘illat, yakni huruf alif, wawu,

Karena contoh di atas menunjukkan bahwa huruf terakhirnya merupakan huruf ‘illah (و ،ي ،ا), maka fi’il mudhari’ di atas termasuk dalam mu’tallul akhir.. Berakhiran

:::::ya qowiyu bi fanshurna wau Alif nun::: Dibaca 111x selama 3/ 7 mlm..guna buat kelamin musuh busuk,membuat celaka musuh,dan orang yg memusuhi kita celaka ..penggunaan 3x niatkan

Ulama yg berPendapat bahwa waw, alif, dan ya adalah huruf irab, bukan tanda irab, ditentang dengan logika: “jika kata Ab murab dikarenakan ketiga huruf ini, berarti kata Ab itu mabniy,