• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 BAB 4

N/A
N/A
Afrisal Idris

Academic year: 2025

Membagikan "BAB 3 BAB 4"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil

IV.1 Format Batuan Sedimen

FORMAT BATUAN SEDIMEN

Waktu tiba : 07.31 WITA

No. stasiun : Pos I

Warna lapuk : Coklat

Warna segar : Abu-abu

Tekstur : Non-Klastik

Srtuktur : Berlapis

Kekerasan : 7

Komposisi mineral : Kuarsit

Sortasi : Buruk

Permeabilitas : Buruk

Porositas : -

Kemas : Tertutup

Nama Batu : Gamping kuarsa

Keterangan

 Proses terbentuknya : Pengendapan

 Kegunaan : Bahan bangunan

 Posisi batuan :199O42’2,7”E/4O42’34,59”S

 Vegetasi : Pepohonan

 Topografi : Landai

 Elevasi : ±135 MDPL

 Fosil : -

 Ling. pengendapan : Dasar laut

(2)

Waktu tiba : 08.21 WITA

No. stasiun : Pos II

Warna lapuk : Coklat gelap

Warna segar : Abu-abu

Tekstur : Non Klastik

Srtuktur : Tidak Berlapis

Kekerasan : >5,5 -

Komposisi mineral : Kuarsa

Sortasi : Baik

Permeabilitas : Buruk

Porositas : Buruk

Kemas : Tertutup

Nama Batu : Gamping pasir

Keterangan

 Proses terbentuknya : Pengendapan

 Kegunaan : Bahan bangunan

 Posisi batuan : 199O42’2,7”E/ 4O42’6,21”S

 Vegetasi : Rerumputan

 Topografi : Curam

 Elevasi : ± 220 MDPL

 Fosil : -

 Ling. pengendapan : Rawa

(3)

FORMAT BATUAN SEDIMEN

Waktu tiba : 09.02 WITA

No. stasiun : Pos III

Warna lapuk : Coklat orange

Warna segar : Hitam kecoklatan

Tekstur : Klastik

Srtuktur : Berlapis

Kekerasan : >2,5 -

Komposisi mineral : Kuarsit

Sortasi : Baik

Permeabilitas : Buruk

Porositas : Buruk

Kemas : Tertutup

Nama Batu : Serpih

Keterangan

 Proses terbentuknya : Pengendapan

 Kegunaan : Bahan bangunan

 Posisi batuan : 199O42’1,60”E/ 4O42’2,43”S

 Vegetasi : Pepohonan

 Topografi : Curam

 Elevasi : ±250 MDPL

 Fosil : -

 Ling. Pengendapan : Rawa

 Strike : 1550 E

 Dip : 450 N

(4)

Waktu tiba : 10.23 WITA

No. stasiun : Pos IV

Warna lapuk : Abu-abu

Warna segar : Merah muda

Tekstur : Klastik/Non klastik

Srtuktur : Berlapis

Kekerasan : >2,5 -

Komposisi mineral : Kuarsit

Sortasi : Buruk

Permeabilitas : Baik

Porositas : Baik

Kemas : Tertutup

Nama Batu : Pasir

Keterangan

 Proses terbentuknya : Pengendapan

 Kegunaan : Bahan bangunan

 Posisi batuan :199O42’6,48”E/ 4O30'4,32”S

 Vegetasi : Lumut

 Topografi : Landai

 Elevasi : ±100 MDPL

 Fosil : -

 Ling. pengendapan : Sungai

(5)

FORMAT BATUAN SEDIMEN

Waktu tiba : 10.55 WITA

No. stasiun : Pos V

Warna lapuk : Hitam Kecoklatan

Warna segar : Hitam Pekat

Tekstur : Non klastik

Srtuktur : Tidak Berlapis

Kekerasan : >2,5

Komposisi mineral : Carbon

Sortasi : Buruk

Permeabilitas : Baik

Porositas : Baik

Kemas : Tertutup

Nama Batu : Batu Bara

Keterangan

 Proses terbentuknya : Sedimentasi Organik

 Kegunaan : Bahan Bakar Industri

 Posisi batuan : 199042’5,

4”E / 4030’4,59”S

 Vegetasi : Rerumputan

 Topografi : Curam

 Elevasi : ±115 MDPL

 Fosil : -

 Ling. pengendapan : Sungai

(6)

Waktu tiba : 11.16 WITA

No. stasiun : Pos VI

Warna lapuk : Coklat

Warna segar : Abu-Abu

Tekstur : Klastik

Srtuktur : Berlapis

Kekerasan : >5,5

Komposisi mineral :

Sortasi : Buruk

Permeabilitas : Baik

Porositas : Baik

Kemas : Tertutup

Nama Batu : Gamping Bioturbasi

Keterangan

 Proses terbentuknya : Sedimentasi

 Kegunaan : Bahan bangunan

 Posisi batuan :

199 0 425,4” E/4 0 308,37” S

 Vegetasi : Rerumputan

 Topografi : Landai

 Elevasi : ± 95 MDPL

 Fosil : -

 Ling. pengendapan : Sungai

(7)

FORMAT BATUAN METAMORF

Waktu tiba : 07.15 WITA

No. Stasiun : POS VII

Warna Lapuk : Coklat

Warna Segar : Abu-abu

Tekstur : -

Struktur : -

Kekerasan : > 5 – 7,5

Porositas : -

Permeabilitas : -

Nama Mineral Warna Bentuk Mineral

- - -

Nama Batuan : Sekis Hijau

Keterangan

 Kegunaan : -

 Posisi Batuan : -

 Vegetasi : Rawa dan Pepohonan (Lebat)

 Topografi : Curam

 Elevasi : -

 Fosil : -

(8)

Waktu tiba Hari Kedua : 07.15 WITA

No. stasiun : Pos VII

Warna lapuk : Merah Kecoklatan

Warna segar : Merah Crem

Tekstur : Klastik

Srtuktur :

Kekerasan : > 5 – 7,5

Komposisi mineral : -

Sortasi : -

Permeabilitas : -

Porositas : -

Kemas : Tertutup

Nama Batu : Rijang

Keterangan

 Proses terbentuknya : Metamorfosa

 Kegunaan : -

 Posisi batuan : -

 Vegetasi : Rawa dan pepohonan (Lebat)

 Topografi : Curam

 Elevasi : -

 Fosil : -

 Ling. pengendapan : Dasar Laut

(9)

FORMAT BATUAN METAMORF

Waktu tiba : 07.15 WITA

No. Stasiun : POS VIII

Warna Lapuk : Putih Kemerahan Warna Segar : Putih Terang/ Tulang

Tekstur : -

Struktur : -

Kekerasan : > 5,5 - 7

Porositas : -

Permeabilitas : -

Nama Mineral Warna Bentuk Mineral

Kuarsa Putih -

Nama Batuan : Kuarsit

Keterangan

 Kegunaan : Bahan Bangunan

 Posisi Batuan : -

 Vegetasi : Rawa dan Pepohonan (Tinngi, Rapat)

 Topografi : Landai

 Elevasi : -

 Fosil : -

(10)

Dusun Daccipong Desa Anabanua, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Kegiatan praktikum dilakukan selama 2 hari, kami mengambil sampel selama 2 hari.

Pada saat kegiatan di lapangan diperoleh beberapa jenis batuan sedimen dan batuan metamorf.

Pada pos 1 ditemukan sampel batuan yang berwarna lapuk coklat dan warna segarnya adalah abu-abu. Tekstur pada sampel tersebut adalah non-klastik karena pada sampel batuan tersebut terdapat matriks-matriks yang mengikat fragmen yang tidak rapat, dimana menyebabkan permukaan sebuah batu tidak datar. Sampel yang didapat pada batuan ini memiliki struktur yang berlapis karena memiliki keseragaman butir yang seragam dimana hanya butiran yang berwarna lapuk dan butiran yang berwarna terang yang berbeda. Selain itu pada sampel tersebut banyak ditemukan mineral berwarna putih yang diidentifikasi sebagai kuarsa. Berdasarkan ciri-ciri tersebut sampel yang kami peroleh dapat dinamakan batu gamping kuarsa. Gamping kuarsa merupakan jenis batuan sedimen yang lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal. Tetapi karena adanya aktifitas bumi seperti erosi, pelapukan dan deformasi maka yang dulunya berupa lautan sekarang menjadi daratan. Lokasi pengambilan sampel pada pos 1 yakni pada 199042’2,7”E dan 4042’34,59”S dengan vegetasi berada pada sekitar pepohonan yang menjulang tinggi dan rapat dengan singkapan batuan pada daerah dengan topografi landai (±135 MDPL).

Pada pos 2 ditemukan sampel batuan dengan warna lapuk coklat gelap dan warna segarnya keabu-abuan. Tekstur pada batuan ini adalah non-klastik karena dapat dilihat secara langsung keseragaman butirnya. Sampel yang ditemukan tidak memiliki struktur berlapis karena proses pengendapan yang tidak seragam atau adanya gangguan setelah pengendapan. Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat kami simpulkan sampel yang terdapat pada pos 2 adalah batu gamping pasir. Gamping pasir terbentuk melalui proses pengendapan lumpur yang mengandung mineral lempung dan fragmen kecil dari

(11)

lain yang menghasilkan warna dan struktur yang berbeda. Lokasi pengambilan sampel pada pos 2 yakni pada titik koordinat 199o42’2,7”E dan 4o42’6,21”S dengan vegetasi rerumputan pada daerah dengan topografi curam (±220MDPL).

Pada pos 3 ditemukan sampel batuan dengan warna lapuk abu-abu dan warna segar merah mudah. Tesktur pada sampel tersebut klastik karena batuan tersebut memiliki butiran yang tidak mudah hancur. Sampel yang dapatkan memiliki struktur berlapis dengan keseragaman butir. Selain itu pada sampel tersebut tidak ditemukan mineral.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut sampel yang kami peroleh dinamakan serpih. Serpih merupakan jenis batuan sedimen yang dimana terbentuk dari partikel-partikel halus atau butiran halus. Lokasi pengambilan sampel pada pos 3 yakni pada 199042’1,60”E dan 4042’2,43”S dengan vegetasi pepohonan pada daerah topografi curam (±250 MDPL).

Pada pos 4 ditemukan sampel batuan dengan warna lapuk abu-abu dan warna segar merah mudah. Tekstur pada sampel tersebut adalah klastik karena memiliki butiran yang kasar dan berukuran besar. Sampel yang didapatkan memiliki struktur berlapis dengan keseragaman butir. Berdasarkan ciri-ciri tersebut sampel yang kami peroleh dinamakan batu pasir. Batu pasir merupakan jenis batuan sedimen yang dimana lingkungan pengendapannya adalah sungai. Lokasi pengambilan sampel pada pos 4 yakni pada 199042’6,48”E dan 4030’4,32”S dengan vegetasinya lumut pada daerah dengan topografi landai (±100 MDPL).

Pada pos 5 diambil sampel batuan dengan warna lapuk hitam kecoklatandan warna segarnya hitam pekat. Setelah mengamati warna sampel tersebut dapat diidentifikasi bahwa sampel tersebut mengandung karbon yang tinggi, yang memberikan warna gelap pada sampel batuan tersebut. Tekstur pada sampel ini adalah non-klastik karena tidak terdiri dari fragmen atau butiran yang berasal dari batuan lain. Sampel yang didapatkan memiliki struktur tidak berlapis karena tidak ada perbedaan yag signifkan dalam warna, tekstur, atau komposisi di seluruh batuan. Berdasarkan ciri-ciri tersebut sampel yang kami peroleh dinamakan batu bara. Batu bara merupakan jenis batuan

(12)

Pada pos 6 ditemukan sampel batuan dengan warna lapuk coklat dan warna segar abu- abu. Tekstur pada batuan tersebut adalah klastik karena pada sampel batuan tersebut dapat dilihat secara langsung keseragaman butirnya. Sempel yang didapatkan memiliki struktur berlapis dengan keseragaman butir yang sama. Selain itu pada sampel tersebut terdapat proses pelaukan tanah dan sedimen secara biologi. Berdasarkan ciri-ciri tersebut sampel yang kami peroleh dinamakan batu gamping bioturbasi. Gamping bioturbasi merupakan jenis batuan sedimentasi yang dimana lingkungan pengendapannya adalah sungai. Tetapi karena adanya aktivitas bumi seperti erosi, pelapukan dan deformasi maka yang dulunya berupa lautan sekarang menjadi daratan.

Lokasi pengambilan sampel pada pos 6 yakni pada 199042’5,4”E Dan 4030’8,37”S dengan vegetasi berada pada rerumputan yang wilayahnua landai pada daerah dengan topografi landai (±95 MDPL).

Referensi

Dokumen terkait

Kuat tekan sampel CC1 hingga CC6 lebih besar dibandingkan sampel C3 yang memiliki ukuran partikel seragam dan paling besar, kecuali pada sampel CC3.. Hasil analisa

Pada sumur bor APET 12 interval kedalaman 2401,00 - 2413, 80 m (gambar 3.2) terdiri dari batupasir, berwarna cokelat terang, butir sangat halus-sedang, dengan bentuk butir

Na-CMC bersifat biodegradable, tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, butiran atau bubuk yang larut dalam air namun tidak larut dalam larutan organik, memiliki rentang

Hal ini disebabkan oleh semakin besar ukuran batuan segar yang memiliki nilai kadar Ni rendah dengan kadar bagian lapuk yang relatif sama pada intensitas pelapukan dan tingkat

Berdasarkan Tabel IV.7 dapat dilihat bahwa Tipe Massa Batuan 1 yang tersusun oleh batupasir agak lapuk (slightly weathered) mempunyai RMR 69 (batuan dengan kondisi baik), Tipe

antarmuka pada batas antara butiran penyusun massa batuan dengan cairan yang mengisi pori..  Permeabilitas, adalah kemampuan

Daerah Arinem, Kabupaten Garut, Jawa Barat. a) dan b) Inti bor dan sampel batuan lava andesit piroksen yang menunjukkan ubahan subpropilitik berwarna kehijauan. d)

Pengayakan dapat didefinisikan sebagai suatu metode pemisahan berbagai campuran partikel padat sehingga didapat ukuran partikel yang seragam serta terbebas dari kontaminan yang memiliki