• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 BATUAN SEDIMEN REVISI

N/A
N/A
Putrinabila Kesya

Academic year: 2024

Membagikan "BAB 4 BATUAN SEDIMEN REVISI"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

KOORDINATOR PRAKTIKUM GEOLOGI DASAR

JUMAIN ZAKARIAH, S.T.

NASRUL BELO 09320230292

PRATIKUM GEOLOGI DASAR LABORATORIUM GEOLOGI DASAR PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

(2)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kata Geologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “geo” yang berarti "bumi"

dan “logos” yang artinya ilmu. Geologi adalah Ilmu (sains) yang mempelajari komposisi bumi, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses pembentukannya. Kata

"geologi" pertama kali digunakan oleh Jean-André Deluc dalam tahun 1778 dan diperkenalkan sebagai istilah yang baku oleh Horace Bénédict de Saussure pada tahun 1779. Orang yang mempelajari ilmu geologi disebut geolog atau ahli geologi.

Ahli geologi membantu menemukan dan mengatur sumber daya alam yang ada di bumi, seperti minyak bumi, batu bara, dan juga metal seperti besi, tembaga, dan uranium serta mineral lainnya yang memiliki nilai ekonomi, seperti asbestos, perlit, mika, fosfat, zeolit, tanah liat, pumis, kuarsa, dan silika, dan juga elemen lainnya seperti belerang, klorin, dan helium (Zuhdi, 2019).

Batuan sedimen merupakan batuan yang terbentuk di permukaan bumi pada kondisi temperatur dan tekanan yang rendah. Batuan ini berasal dari batuan yang lebih dahulu terbentuk, yang mengalami pelapukan, erosi, dan kemudian lapukannya diangkut oleh air, udara yang selanjutnya diendapkan dan berakumulasi di dalam cekungan pengendapan, membentuk sedimen. Material-material sedimen itu kemudian terkompaksi, mengeras, mengalami litifikasi, dan terbentuklah batuan sedimen. Dunia pertambangan sangat erat kaitannya dengan ilmu geologi, ilmu geologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai bumi termasuk mengetahui batuan-batuan yang terbentuk dipermukaan bumi. Jenis-jenis batuan yang ada diantaranya adalah batuan batuan sedimen (Mulyo, 2018).

Adapun praktikum kali ini dilakukan secara offline sehingga kami lebih muda untuk membedakan beberapa batuan sedimen. Dimana kami dapat membedakan sifat-sifat tiap batuan sedimen yaitu membedakan non klastik dan klastik. Non klastik yanga memiliki ciri khas pada batuan sedimen yang terdapat warna lapuk, warna segar, tekstur, mineral pembentuk, komposisi, kekompakan, struktur sedimen, nama batuan dan simbol batuan. Sedangkan klastik terdapat warna lapuk, warna segar, tekstur, fragmen pembentuk, matriks, semen, besar butir, pemilahan, kemas,

(3)

porositas, permeabilitas, kekompakan, derajat pembundaran, struktur sedimen, nama dan simbol batuan ini di buat oleh ilmuan tersebut (Hasan Bionauw, 2017).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Batuan Sedimen

Batuan sedimen adalah batuan yang berasal dari batuan beku yang mengalami proses sedimentasi. Proses sedimentasi yang dimaksud adalah pelapukan, transportasi, pengendapan, litifikasi, diagenesa maka terbentuklah batuan sedimen.

Batuan sedimen ada pula yang terbentuk oleh proses kimiawi. Proses kimiawi yang dimaksud adalah pelarutan, evaporasi dan karbonisasi. Dunia pertambangan sangat erat kaitannya dengan ilmu geologi, ilmu geologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai bumi termasuk mengetahui batuan-batuan yang terbentuk dipermukaan bumi. Dalam laporan ini akan dibahas mengenai batuan sedimen. Batuan sedimen adalah terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan batuan yang ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun organisme yang diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi yang mengalami sedimentasi (Juliani, dkk., 2015).

Ada dua tipe sedimen yaitu detritus dan kimiawi. Detritus terdiri dari partikel-partikel padat hasil dari pelapukan mekanis. Sedimen kimiawi terdiri dari mineral sebagai hasil kristalisasi larutan dengan proses aktivitas organisme. Partikel sedimen diklasifikasikan menurut ukuran butir, gravel (termasuk bolder, cobble dan pebble), pasir, lanau dan lempung. Transportasi dari sedimen menyebabkan pembundaran dengan cara abrasi dan pemilahan (sorting). Nilai kebundaran dan sorting sangat tergantung pada ukuran butir, jarak transportasi dan proses pengendapan. Proses litifikasi dari sedimen kemudian menjadi batuan sedimen yang telah terjadi melalui kompaksi dan sedimentasi.

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk oleh konsolidasi sedimen, sebagai material lepas, yang terangkut ke lokasi pengendapan oleh air, angin, es dan longsoran gravitasi, gerakan tanah atau tanah longsor. Batuan sedimen juga dapat terbentuk oleh penguapan larutan kalsium karbonat, silika, garam dan material lain.

Menurut Tucker (1991), 70% batuan di permukaan bumi berupa batuan sedimen.

Tetapi batuan itu hanya 2% dari volume seluruh kerak bumi. Ini berarti bahwa

(4)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA yang tersebar sangat luas di permukaan bumi, tetapi ketebalannya relatif tipis. Saat batuan yang telah terbentuk didalam bumi (batuan beku atau batuan metamorf) mencapai permukaan, maka batuan tersebut akan terpengaruh oleh gaya-gaya eksogen seperti pelapukan oleh angin atau air. Akibatnya, batuan tersebut sedikit demi sedikit akan hancur membentuk beberapa bagian.

Bagian bagian ini ukurannya akan semakin mengecil akibat dari kontak dengan lingkungan sekelilingnya, seperti saling berbenturan dengan batuan sekitarnya. Proses ini disebut proses pelapukan. Semakin jauh batuan tersebut berpindah tempat, ukurannya tentu akan semakin kecil. Hingga pada akhirnya akan mengendap dan membentu suatu batuan baru. Batuan tersebut dikenal sebagai batuan sedimen. Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari hasil pelapukan, transportasi, pengendapan, litifikasi dan diagenesa (Asmaroni, dkk., 2018).

Gambar 2. 1 Batuan sedimen

Berbagai sifat fisik sedimen ditelaah sesuai dengan tujuan dan kegunaannya.

Diantaranya adalah tekstur sedimen yang meliputi ukuran butir (grain size), bentuk butir (partikel shape) dan hubungan antar butir (fabrik), struktur sedimen, komposisi mineral, serta kandungan biota. Dari berbagai sifat fisik tersebut ukuran butir menjadi sangat penting karena umumnya menjadi dasar dalam penamaan sedimen.

Definisi batuan sedimen menurut para ahli:

2.1.1 Menurut Pettijohn (1975), O’Dunn dan Sill (1986)

(5)

Membagi batuan batuan sedimen ini berdasarkan terksturnya yang terbagi ke dalam dua kelompok besar, yakni batuan-batuan sedimen klastik dan juga batuan sedimen non-klastik.

1. Batuan Sedimen Klastik

Disebut juga dengan batuan sedimen detritus, mekanik, eksogen yang merupakan batuan sedimen yang terdiri atas klastik-klastik atau hancuran bebatuan yang mengendap secara alami atau mekanik oleh gaya beratnya sendiri. Batuan jenis ini terbentuk sebagai hasil pengerjaan kembali atau reworkin dari batuan yang sudah ada sebelumnya. Proses pengerjaan kembali yang terjadi sebagai pembentukan batuan ini meliputi pelapukan, erosi, transportasi dan juga redeposisi atau pengendapan kembali. Untuk menunjang proses tersebut dapat terjadi, diperlukan beberapa media yakni air, angin, es dan juga efek gravitasi atau beratnya sendiri.

Khusus untuk media yang terakhir tersebut atau media gravitasi ini sebagai akibat dari longsoran batuan yang telah ada sebelumnya. Yang perlu kita ketahui dari kelompok batuan jenis ini adalah bahwa kelompok batuan ini bersifat fragmental atau terdiri dari butiran-butiran atau pecahan batuan sehingga bertekstur klastik. Contoh dari batuan sedimen klastik ini antara lain batu breksi, konglomerat, batu pasir dan juga batu lempeng. Batu breksi merupakan endapan krikil yang bersudut tajam yang masih dekat dengan tempat asalnya. Batu konglomerat merupakan endapan kerikil yang sudutnya membulat (sudut yang jauh terbawa aliran sungai).

2. Batuan Sedimen Non-Klastik.

Selanjutnya kita akan membahas mengenai jenis kelompok batuan non- klastik. Batuan non-klastik ini merupakan jenis batuan sedimen yang terbentuk sebagai hasil penguapan suatu larutan atau pengendapan material yang berada di tempat itu juga. Proses pembentukan batuan jenis ini bisa terjadi dengan proses kimiawi, biologi ataupun organik, ataupun kombinasi antara keduanya, yakni kombinasi antara kimiawi dan juga organik atau biologi. Proses yang merupakan kombinasi dari keduanya ini disebut dengan biokomia. Proses pembentukan batuan ini yang terjadi secara biologi atau organik merupakan prosen pembentukan yang dilakukan oleh aktivitas alam tertentu yakni oleh tumbuhan maupun binatang.

(6)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA Sebagai contoh dari proses pembentukan batuan ini secara organik adalah pembentukan rumah binatang laut atau karang, terkumpulnya cangkang binatang (fosil) dan terkuburnya kayu-kayuan sebagai akibat penurunan daratan menjadi laut.

2.1.2 Menurut Sanders tahun 1981 dan Tucker 1991

Mengklasifikasikan atau membagi batuan sedimen ini menjadi empat macam yaitu sebagai berikut:

1. Batuan Sedimen Detritus Atau Klastik

Sedimen klastik adalah adalah akumulasi partikel-partikel yang berasal dari pecahan batuan dan sisa kerangka organisme yang telah mati.

2. Batuan Sedimen Kimia

Batuan sedimen kimia merupakan batuan sedimen yang terbentuk melalui proses reaksi kimia, contohnya seperti evaporasi, presitasi dan juga konsentrasi. Contoh dari batuan sedimen kimia ini adalah batu garam, batu gypsum, stalaktit dan juga stalagmit.

3. Batuan Sedimen Organik

Batuan sedimen organik ini juga dikenal sebagai batuan sedimen asal jasad dikarenakan batuan sedimen ini terbentuk dari organisme seperti tumbuhan, hewan yang sudah mati. Batuan sedimen organik merupakan batuan sedimen yang berasal dari sisa-sisa jasad hidup atau dibuat oleh jasad hidup. Golongan batuan jenis ini dapat dipecah menjadi dua macam, yakni sedimen biomekanik dan juga sedimen biokimia.

Sedimen biomekanik merupakan endapan dari sisa-sisa bagian tubuh jasad hidup yang mengendap secara alami karena beratnya sendiri, misalnya adalah batu gamping, kerang, batu numilites dan juga batu gamping berlapis.

Sementara batuan sedimen biokimia merupakan batuan yang terjadi karena adanya proses pengendapan unsur-unsur gamping dan juga silisium dengan batuan makhluk hidup.

Contoh dari batuan ini adalah batu gamping terumbu atau rumah binatang kerang dan juga tanah diatomea atau pengendapan unsur silisium karena didalamnya terdapat karbondioksida dalam air yang banyak diserap oleh ganggang diatomea yang merupakan cirinya.

(7)

4. Batuan Sedimen Klastik Gunung Api

Khusus untuk batuan jenis ini merupakan batuan sedimen yang mempunyai tekstur klastik dengan bahan penyusun utamanya berasal dari hasil kegiatan oleh gunung api.

2.1.3 Menurut Graha (1987)

Batuan sedimen jenis ini merupakan batuan sedimen yang pada umumnya bertekstur non klastik. Graha membagi batuan sedimen ini menjadi empat kelompok juga, yaitu sebagai berikut:

1. Batuan sedimen detritus (klastik/mekanis);

2. Batuan sedimen batubara (organik/ tumbuh-tumbuhan);

3. Batuan sedimen silika;

4. Batuan sedimen karbonat.

Kemudian berdasar pada komposisi penyusun utamanya, batuan sedimen klastik atau bertekstur klastik dapat dibagi lagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. Batuan sedimen silisiklastik. Batuan jenis ini merupakan jenis batuan sedimen klastik yang mineral penyusun utamanya berupa kuarsa dan juga feldspar.

2. Kemudian ada batuan sedimen klastik gunung api. Batuan sedimen gunung api merupakan salah satu jenis batuan sedimen dengan material penyusun utamanya berasal dari hasil kegiatan gunung api, seperti kaca, kristal dan atau litik.

3. Sedimen klastik karbonat atau dikenal sebagai batu gamping klastik. Batuan jenis ini merupakan batuan sedimen klastik dengan mineral penyusun utamanya adalah material karbonat (kalsit).

2.2 Proses Pembentukan Batuan Sedimen

2.2.1 Cara Pembentukan

Proses sedimentasi merupakan proses yang sangat mempengaruhi dalam pembentukan batuan sedimen yang dikarenakan tanpa adanya proses sedimentasi maka tidak akan terbentuk batuan sedimen. Proses sedimentasi diantaranya adalah pelapukan, transportasi dan pengendapan. Pelapukan dapat terjadi secara kimiawi, dapat juga terjadi secara mekanik. Pelapukan kimiawi menyebabkan perubahan susunan mineral akibat pengaruh atmosfer hidrosfer. Di dalamnya melibatkan reaksi kimia seperti proses oksidasi, hidrasi, karbonasi dan pelarutan.

(8)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA Selain perubahan kimia, proses pelapukan juga menyebabkan perubahan struktur dan tingkat kekerasan batuan. Pada pelapukan mekanik, perubahan diakibatkan oleh perbedaan suhu signifikan dan berlangsung secara konstan. Biasanya pelapukan mekanik terjadi pada daerah dengan radiasi matahari yang tinggi. Bentuk dan juga ukuran butir batuan dapat menunjukan seberapa jauh material tersebut tertransportasikan.

Jika batuan belum tertransportasikan terlalu jauh, bentuknya akan menyudut, ukurannya pun berupa bongkahan besar. Semakin jauh tertransportasikan, maka bentuknya akan semakin membundar dan ukurannya pun akan semakin mengecil.

Pengikisan yang terjadi oleh pengaruh air, es, angin dan aktivitas makhluk hidup diatas mengawali pembentukan pada batuan sedimen. Partikel yang terkikis kemudian begerak sesuai dengan media yang mengikutinya. Pada satu titik tertentu berhenti dan menggerombol pada tempat tersebut. Selanjutnya, partikel yang berkumpul mengalami proses pengendapan atau disebut sedimentasi. Ada tiga proses-proses sedimentasi pada batuan, yaitu proses sedimentasi kimiawi, proses sedimentasi mekanik dan proses sedimentasi biologis.

1. Proses Sedimentasi Kimiawi

Proses ini merupakan proses pengendapan yang melalui perubahan komposisi pada mineral-mineral dalam suatu batuan secara kimiawi. Proses sedimentasi kimiawi diakibatkan komponen kimia berasal dari luar masuk menembus pori-pori dan kemudian menjadi bagian dari batuan tersebut.

Contohnya hujan yang terjadi di gunung kapur. Air hujan yang mengandung CO2 meresap ke dalam retakan halus pada batu gamping (CaCO3).

Setelah mineral tersebut masuk dalam batuan, reaksi kimia akan terjadi pada mineral baru dengan mineral yang sudah lama menetap dalam batu.

Setelah terjadi pencampuran akan dilanjutkan dengan kristalisasi yang menjadi proses akhir dalam pembentukan batuan sedimen.

2. Proses Sedimentasi Mekanik

Proses sedimentasi mekanik adalah proses pengendapan disebabkan oleh aktivitas mekanik atau pergerakan banyak hal. Penyebabnya bisa dari air, gravitasi, es, angin atau bahkan pergerakan makhluk hidup dari manusia, tumbuhan dan hewan.

(9)

3. Proses Sedimentasi Biologis (Organik)

Proses sedimentasi biologis atau diakibatkan oleh makhluk hidup adalah karena proses hancurnya bebatuan karena tingkah laku manusia, hewan dan tumbuhan. Sesudah hancur, batuan tersebut menjadi partikel kecil dan terbawa menuju tempat baru sehingga akan beradaptasi dengan lingkungan- lingkungan baru tersebut.

Selanjutnya, partikel yang berkumpul mengalami proses pengendapan atau disebut sedimentasi. Batuan sedimen juga mengalami proses pengompakan dan pemadatan dari endapan menjadi batuan sedimen utuh. Proses pemadatan disebut dengan proses diagenesa. Proses ini terjadi diatara suhu 300°C dan tekanan atmosfer antara 1-2 kilobar atau 300MPa.

2.2.2 Tenaga pengendapan

Berdasarkan pengendapannya, batuan sedimen dibagi menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut:

1. Endapan Aeolis (Aeris)

Proses pengendapan material-material batuan yang dihasilkan dari tenaga angin, contohnya barchan.

2. Endapan Aquatis

Proses pengendapan material-material batuan yang dihasilkan dengan bantuan tenaga air, contohnya delta.

3. Endapan Glasial

Proses pengendapan material-material batuan yang dihasilkan dengan bantuan tenaga es. Proses ini hanya terjadi pada wilayah pegunungan tinggi, salah satu contohnya adalah gletser. Gletser bergerak sangat lambat karena dipengaruhi oleh oleh gaya beratnya sehingga menimbulkan kekuatan yang maha besar untuk menggerus sebuah bentang lahan.

2.2.3 Tempat pengendapan

Berdasarkan tempat pengendapannya, batuan sedimen dibagi ke dalam lima jenis, yaitu sebagai berikut:

1. Sedimen Teristris

(10)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA Jenis batuan sedimen yang diendapkan di daratan yang dipengaruhi oleh tenaga air, es dan angin. Hasil dari proses ini akan menghasilkan sebuah bentukan lahan baru.

2. Sedimen Marine

Jenis batuan sedimen yang diendapkan laut, pada umumnya banyak mengandung mineral karbonat (kapur). Bantuan ini terbentuk dari sisa-sisa cangkang hewan laut, seperti moluska, alga dan foraminifera. Batuan karbonat terbentuk di lingkungan laut dangkal. Contoh sedimen karbonat antara lain batu gamping, dolomit dan kalkarenit.

3. Sedimen Limnis

Batuan yang diendapkan di danau atau rawa yang banyak mengandung unsur-unsur organik.

4. Sedimen Fluvial

Batuan sedimen yang diendapkan di sekitar wilayah sungai dan merupakan akumulasi dari berbagai pengerjaan air sungai. Sedimen fluvial banyak ditemukan di wilayah hilir atau muara sungai, di mana aliran sungai melambat, contohnya delta.

2.3 Klasifikasi Batuan Sedimen

2.3.1 Golongan detritus/klastik

Ada dua golongan detritus yaitu golongan detritus kasar yang merupakan batuan sedimen yang diendapkan dengan proses mekanisme dan golongan detritus halus yang diendapkan di laut dangkal sampai laut dalam (Sapta Aji Waskita, dkk., 2019).

2.3.2 Golongan karbonat

Secara umum dinamakan batu gamping (Limestone) karena komposisi utamanya adalah mineral kalsit (CaCO2). Termasuk pada kelompok ini adalah Dolomit (CaMg (CO3)2). Sumber utama batugamping adalah terumbu (reef), yang berasal dari kelompok binatang laut. Dikenal beberapa jenis batu gamping yaitu Kalkarenit yang merupakan batu pasir dengan butiran gamping/kalsit, Kalsidurit ukuran lebih besar dari 2 mm.

(11)

Batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, algae dan minifera. Atau oleh proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuan yang terbentuk lebih dahulu dan diendapkan disuatu tempat.

2.3.3 Golongan Evaporit

Umumnya batuan ini terdiri dari mineral dan merupakan nama dari batuan tersebut. Misalnya, Anhidirt yaitu garam (CaSO4), Gipsum yaitu garam (CaSO4xH2O), Halit (Rocksalt) yaitu garam NaCl.

2.3.4 Golongan Batubara

Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur-unsur organik yaitu dari tumbuh-tumbuhan.

Karena organik maka berasal dari makhluk hidup. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat tertimbun oleh suatu lapisan-lapisan yang tebal di atasnya sehingga tidak akan memungkinkan terjadinya pelapukan-pelapukan.

Lingkungan terbentuknya batubara adalah lingkungan yang khusus sekali, ia harus memiliki banyak sekali tumbuhan sehingga kalau timbunan itu mati tertumpuk menjadi satu di tempat-tempat tersebut.

2.3.5 Golongan Silika

Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu sedimen, batuan beku maupun batuan malihan (metamorf). Terdiri dari batuan yang umumnya diendapkan pada lingkungan laut dalam, bersifat kimiawi dan kadang-kadang juga berasosiasi dengan organisme seperti halnya radiolarian dan diatomea.

2.4 Tekstur Batuan Sedimen

2.4.1 Tekstur Batuan Sedimen Klastik 1. Warna

Warna dari mineral adalah warna yang terlihat di permukaan yang bersih dan sinar yang cukup. Suatu mineral dapat berwarna terang, transparan (tidak berwarna atau memperlihatkan warna yang berangsur atau berubah). Warna sangat bervariasi, umumnya terjadi karena perbedaan kompisisi kimia atau pengotoran pada mineral. Gores (streak) adalah warna dari serbuk mineral.

Terlihat bila mineral digoreskan pada lempeng kasar porselen meninggalkan warna goresan pada porsele tersebut.

(12)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA Warna adalah suatu cahaya yang kita tangkap dengan mata apabila mineral terkena oleh pantulan dari cahaya atau spektrum cahaya yang dipantulkan oleh mineral-mineral itu sendiri. Warna itu penting untuk membedakan antara warna mineral yang diakibatkan oleh pengotoran dan warna asli dari mineral itu sendiri tanpa campuran warna pengotor mineral.

Warna mineral dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:

a. Warna Isiokhromatik

Umumnya dijumpai pada mineral-mineral, yang tidak tembus cahaya (opaque) atau berkilap logam. Contohnya Magnetit, Galena, Pirit, Pirolusit dan lain-lain.

b. Warna Allokhromatik

Apabila mineral warnanya tidak tetap tergantung terhadap mineral pengotornya, pada umumnya yang dijumpai pada mineral yang tembus

cahaya (transparan) atau berkilap non logam. Contohnya Kuarsa, Gipsum, Kalsit dan lain-lain.

2. Besar butir (grain size)

Ukuran butir batuan sedimen klastik umumnya mengikuti Skala Wentworth (1922). Butir lanau dan lempung tidak dapat diamati dan diukur secara megaskopik. Ukuran butir lanau dapat diketahui jika material itu diraba dengan tangan masih terasa ada butir seperti pasir tetapi sangat halus.

Ukuran butir lempung akan terasa sangat halus dan lembut di tangan.

Tabel 2. 1 Skala Wentworth

NAMA BUTIRAN UKURAN BUTIR (MM)

Bongkah >256

Brangkal 64-256

Kerakal 4-64

Kerikil 2-4

Pasir Sangat Kasar 1-2

Pasir Kasar 0,5-1

Pasir Sedang 0,25-0,5

Pasir Halus 0,125-0,25

(13)

Pasir Sangat Halus 0,06-0,125

Lanau 0,004-0,06

Lempung <0,004

3. Pemilahan (Sorting)

Pemilahan adalah tingkat keseragaman besar butir dalam batuan. Istilah- istilah yang dipakai pada pemilahan adalah “terpilah baik” (butir-butir sama besar), “terpilah sedang” dan “terpilah buruk”.

a. Pemilahan baik, bila ukuran butir di dalam batuan sedimen tersebut seragam. Hal ini biasanya terjadi pada batuan sedimen yang memiliki kemas yang tertutup.

b. Pemilahan sedang, bila ukuran butir di dalam batuan sedimen terdapat yang seragam maupun yang tidak seragam.

c. Pemilahan buruk, bila ukuran butir di dalam batuan sedimen sangat beragam, dari halus hingga kasar.

Gambar 2. 2 Perbandingan pemilahan 4. Kemas (Fabric)

Kemas adalah sifat hubungan antar butir di dalam suatu massa dasar di antara semennya. Istilah-istilah yang dipakai adalah “kemas terbuka”

biasanya digunakan untuk butiran yang tidak saling bersentuhan dan “kemas tertutup” biasanya digunakan untuk butiran yang saling bersentuhan.

(14)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA a. Kemas Tertutup

Bila butiran fragmen di dalam batuan sedimen saling bersentuhan atau bersinggungan atau berhimpitan, satu sama lain (grain/clast supported).

Apabila ukuran butir fragmen ada dua macam (besar dan kecil), maka disebut bimodal clast supported. Bila ukuran butir fragmen ada tiga atau lebih maka disebut polymodal clast supported.

b. Kemas terbuka

Suatu batuan sedimen bisa dikatakan memiliki kemas yang terbuka apabila butiran-butiran fragmennya tidak saling bersentuhan, karena di antaranya terdapat material yang lebih halus yang biasa dikatakan atau disebut dengan matriks. Kemas terbuka adalah hubungan antara massa dasar dan fragmen butiran yang kontras sehingga terlihat fragmen butiran mengambang diatas massa dasar batuan atau butirannya saling bersentuhan sehingga kemungkinan mengandung semen-matrik. Pada batuan sedimen memiliki ciri sehingga kita dapat membedakannya.

Gambar 2. 3 Kenampakan kemas tertutup dan terbuka 5. Kebundaran (roundness)

Kebundaran adalah tingkat kelengkungan dari setiap fragmen/butiran dan Kebundaran adalah nilai membulat atau meruncingnya bagian tepi butiran pada batuan sedimen klastik dibedakan menjadi sedang sampai kasar. Aspek ini mencerminkan tingkat abrasi selama transportasi.

(15)

Batuan sedimen dengan kebundaran atau butir yang membulat berarti proses transportasinya lama dan jauh dari batuan induknya. Begitupun sebaliknya, jika suatu batuan sedimen memiliki kebundaran atau butir yang menyudut itu berarti proses transportasinya hanya sebentar dan tidak jauh atau dekat dari batuan induknya.

Berdasarkan kebundaran atau keruncingan butir sedimen maka Pettijohn, dkk., (1987) membagi kategori kebundaran menjadi enam tingkatan ditunjukkan dengan pembulatan rendah dan tinggi. Keenam kategori kebundaran tersebut yaitu:

a. Sangat meruncing (sangat menyudut) (very angular);

b. Meruncing (menyudut) (angular);

c. Meruncing (menyudut) tanggung (subangular);

d. Membundar (membulat) tanggung (subrounded);

e. Membundar (membulat/rounded);

f. Sangat membundar (membulat) (well-rounded).

Gambar 2. 4 Perbandingan kebundaran 6. Porositas

Porositas adalah perbandingan antara jumlah volume rongga dan volume keseluruhan dari satu batuan tersebut. Dalam hal ini dapat dipakai istilah-

(16)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA istilah kualitatif yang merupakan fungsi dari daya serap batuan terhadap cairan. Porositas ini dapat diuji dengan meneteskan cairan.

Banyak mineral yang mempunyai atau memiliki warna yang khusus atau mempunyai warna ciri khas sendiri, misalnya mineral azurit yang berwarna biru dan mineral epidon yang berwarna kuning hijau dan lain-lain. Istilah- istilah yang dipakai adalah porositas sangat baik (very good), baik (good), sedang (fair) dan buruk (poor). Porositas adalah prosentase total pori-pori dalam tanah yang ditempati oleh air dan udara, dibandingkan dengan volume total dari tanah.

7. Permeabilitas

Permeabilitas dapat didefinisikan sebagai ukuran media yang berpori dan berkemampuan untuk meloloskan/melewatkan fluida. Apabila suatu media berporinya tidak saling berhubungan maka batuan tersebut juga tidak akan mempunyai permeabilitas yang baik. Kelulusan adalah sifat yang harus dimiliki oleh suatu batuan untuk dapat meloloskan air. Jenis permeabilitas pada batuan sedimen yang umum adalah permeabilitas baik, permeabilitas sedang dan permeabilitas buruk.

Gambar 2. 5 Permeabilitas batuan sedimen 8. Semen dan masa dasar

(17)

Semen adalah bahan yang mengikat atau menyatukan butiran. Semen terbentuk pada saat proses pembentukan batuan dan dapat berupa silika, karbonat, oksida besi atau mineral lempung. Masa dasar (matriks) adalah masa dimana butiran/fragmen berada dalam satu kesatuan. Masa dasar terbentuk bersama-sama fragmen pada saat sedimentasi, dapat berupa bahan semen atau butiran yang lebih halus.

Gambar 2. 6 Hubungan antara matriks, semen dan butiran 9. Kompaksi

Batuan sedimen klastik berbutir kasar biasanya terdiri dari fragmen- fragmen dan matriks. Fragmen adalah klastik butiran lebih besar yang tertanam di dalam butiran yang lebih kecil atau matriks. Matriks mungkin berbutir lempung sampai dengan pasir, atau bahkan granule. Sedangkan fragmen berbutir pebble sampai boulder. Mineral utama penyusun batuan silisiklastik adalah mineral silika (kuarsa, opal dan kalsedon), felspar serta mineral-mineral lempung.

Sebagai mineral tambahan adalah mineral berat (turmalin, zirkon), mineral karbonat, klorit dan mika. Untuk batuan klastik gunungapi biasanya ditemukan gelas atau kaca gunung api. Selain mineral, maka di dalam batuan sedimen juga dijumpai fragmen batuan, serta fosil binatang dan fosil tumbuh- tumbuhan. Batuan karbonat (klastik dan non-klastik) tersusun oleh mineral

(18)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA kalsit, cangkang fosil dan kadang-kadang dolomit. Batuan evaporit (non klastik hasil penguapan), utamanya tersusun oleh mineral gipsum (CaSO4.2H2O), anhidrit (CaSO4) dan halit (NaCl).

Batuan sedimen ironstone tersusun oleh mineral oksida besi (hematit, magnetit, limonit, glaukonit dan pirit). Batuan sedimen posfat tersusun oleh mineral apatit. Batubara tersusun oleh mineral karbon. Batuan sedimen silika (chert atau opal) tersusun oleh kuarsa dan kalsedon. Fragmen dan matriks di dalam batuan sedimen lebih menyatu karena adanya bahan semen. Bahan penyemen butiran fragmen dan matriks tersebut adalah material karbonat, oksida besi dan silika. Semen karbonat dicirikan oleh bereaksinya dengan cairan HCl. Semen oksida besi, selain tidak bereaksi dengan HCl secara khas berwarna coklat, Semen silika umumnya tidak berwarna, tidak bereaksi dengan HCl dan batuan yang terbentuk sangat keras. Semen itu tidak selalu dapat diamati secara megaskopik.

2.4.2 Tekstur batuan sedimen non-klastik 1. Warna

Warna dari mineral adalah warna yang terlihat di permukaan yang bersih dan sinar yang cukup. Suatu mineral dapat berwarna terang, transparan (tidak berwarna atau memperlihatkan warna yang berangsur atau berubah). Warna sangat bervariasi, umumnya karena perbedaan kompisisi kimia atau pengotoran pada mineral. Banyak mineral yang mempunyai atau memiliki warna yang khusus atau mempunyai warna ciri khas sendiri, misalnya mineral azurit yang berwarna biru dan mineral epidon yang berwarna kuning hijau dan lain sebagainya.

Gores (streak) adalah warna dari serbuk mineral. Terlihat bila mineral digoreskan pada lempeng kasar porselen meninggalkan warna goresan.

Warna adalah suatu cahaya yang kita tangkap dengan mata apabila mineral terkena oleh pantulan dari cahaya atau spektrum cahaya yang dipantulkan oleh mineral-mineral itu sendiri.

Warna itu penting untuk membedakan antara warna mineral yang diakibatkan oleh pengotoran dan warna asli dari mineral itu sendiri tanpa campuran warna pengotor mineral. Banyak mineral yang mempunyai atau

(19)

memiliki warna yang khusus atau mempunyai warna ciri khas sendiri, misalnya mineral azurit yang berwarna biru dan mineral epidon yang berwarna kuning hijau, dll.

2. Mineral pembentuk

Mineral pembentuk adalah mineral-mineral atau fragmen yang menyusun batuan sedimen non detritus/non klastik.

3. Pencampur

Adanya mineral-mineral pencampur yang jumlahnya sedikit dan tidak selalu menentukan nama batuan.

4. Kekompakan

Kekompakan (induration) adalah sifat fisik batuan sedimen. Istilah yang digunakan untuk kekompakan, yaitu:

a. Sangat padat (Dense);

b. Keras dan padat (Hard);

c. Agak keras, masih tergores paku baja (Medium hard);

d. Mudah tergores dan pecah (Soft);

e. Keras tetapi dapat diremas (Fariable);

2.5 Struktur Sedimen

Struktur sedimen termasuk ke dalam struktur primer, yaitu struktur yang terbentuk pada saat pembentukan batuan. Beberapa struktur sedimen yang dapat diamati pada batuan seperti struktur berlapis.

2.5.1 Bedding

Struktur ini merupakan ciri khas batuan sedimen yang memperlihatkan susunan lapisan-lapisan pada batuan sedimen yang ketebalan lapisan ≥ 1 cm.

2.5.2 Graded-Bedding

Struktur perlapisan bergradasi (graded–bedding), memiliki ciri-ciri ukuran butir penyusun batuan sedimen yang berubah secara gradual, yaitu makin ke atas ukuran butir sedimennya yang semakin halus, dimana pada proses pembentukannya butiran yang lebih besar terendapkan terlebih dahulu sedangkan yang lebih halus terendapkan di atasnya.

2.5.3 Cross-bedding

(20)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA Cross bedding merupakan bentuk perlapisan yang terpotong pada bagian atasnya oleh lapisan berikutnya yang berlainan sudutnya, lapisan ini terdapat pada siltstone. Perlapisan silang siur (cross-bedding), batuan sedimen berstruktur ini memperlihatkan struktur perlapisan yang saling memotong.

2.5.4 Lamination/Laminasi

Lamination merupakan struktur perlapisan (bedding) dengan ketebalan masing-masing lapisan (bed thickness) yang kurang dari 1 cm. ini mengacu pada lapisan sedimen yang menumpuk satu sama lain.

2.5.5 Inverted graded-bedding

Struktur graded-bedding memperlihatkan perubahan gradual butiran yang semakin ke atas semakin halus. Karena suatu pengaruh tertentu, perubahan gradual butiran yang terbalik (makin ke bawah semakin halus) dapat terbentuk pada suatu batuan sedimen dan menyebabkan kenampakan bergradasi terbalik.

2.5.6 Load Cast

Load Cast merupakan suatu struktur dari batuan sedimen yang berupa lekukan di permukaan ataupun tak beraturan karena pengaruh suatu beban di atas batuan-batuan tersebut.

2.5.7 Flute cast

Terbentuk dengan akibat pengikisan dan merupakan ciri dari batuan sedimen sehingga dapat dibedakan misalnya dari endapan turbidit. Suatu struktur batuan sedimen yang berupa gerusan di permukaan lapisan batuan karena dapat pengaruh suatu arus (Victor Mamengko, dkk., 2019).

BAB III

PROSEDUR PERCOBAAN

Pertama-tama siapkan alat dan bahan yang akan kita pakai dalam Praktikum batuan sedimen, kemudian siapkan sample batuan sedimen yang akan kita deskripsikan, sebanyak 7 sample batuan. Pada pendeskripsian batuan sedimen terbagi menjadi dua jenis batuan yaitu batuan sedimen klastik dan batuan sedimen non klastik. Langkah pertama yaitu kita menentukan nomor peraga pada batuan sedimen dengan mengurutkan batuan tersebut lalu kita tulis menggunakan pensil untuk mempermudah jika ada data yang salah.

(21)

Untuk pendeskripsian batuan sedimen klastik, pertama kita lihat warna segar dan warna lapuk. Dalam menentukan warna segar kita perlu memperhatikan dengan seksama belahan batuan yang akan deskripsi, kita melihat warna apa yang paling mendasari atau mendominasi dari batuan tersebut maka itulah warna segarnya. Untuk warna lapuk kita perhatikan warna apa yang menempel pada batuan selain warna segar. Selanjutnya kita tentukan campuran dari batuan sedimen yang dideskripsi, fragmen pembentuk batuan tersebut, matriks, semen, besar butir, pemilahan, derajat pembundaran, kemas apakah batuan sedimen yang dideskripsi merupakan kemas tertutup atau kemas terbuka, lalu kita tentukan porositas dan permeabilitas apakah termasuk baik atau buruk. Lalu kita mendeskripsikan kekompakan batuan sedimen tersebut, kemudian kita tentukan struktur sedimennya apakah berlapis (bedding) atau tidak berlapis, sehingga kita dapat menentukan dan mengetahui nama batuan yang dideskripsi beserta simbol batuannya.

Untuk pendeskripsian batuan sedimen non klastik, pertama kita lihat warna segar dan warna lapuk. Dalam menentukan warna segar kita perlu memperhatikan dengan seksama belahan batuan yang akan deskripsi, kita melihat warna apa yang paling mendasari dari batuan tersebut maka itulah warna segarnya.

Untuk warna lapuk kita perhatikan warna apa yang menempel pada batuan selain warna segar. Selanjutnya kita tentukan mineral pembentuk dari batuan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Batu Konglomerat

No Peraga : 1

Warna Lapuk : Coklat Warna Segar : Abu-Abu

Tekstur : Klastik

Fragmen Pembentuk : Kerikil Kemas : Tertutup

Matriks : - Poranias : Buruk

Semen : Silikat (S1O2) Permabilitas : Buruk Besar Butir : 2-4 mm Kekompakan : Hard

(22)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA

Pemilahan : Buruk

Derajat Pembundaran : Membulat Struktur Sediman : Berlapis

Nama Batuan : Batu Konglomerat Simbol Batuan :

Makassar,05 April 2024

ASISTEN PRAKTIKUM PRAKTIKAN

MUH RIZQULLAH TUNGKA NASRUL BELO 4.1.6 Batu Breksi

No Peraga : 6

Warna Lapuk : Coklat Warna Segar : Abu-Abu

Tekstur : Klastik

Fragen Pembentuk : Kerakal Kemas :Tertutup Matriks : Porositas : Buruk

Semen : Silika Permeabilitas : Buruk Besar Butir : 2-4mm Kekompakan : Hard

Pemilahan : Buruk

Derajat Pembundaran : Menyudut Struktur Sedimen : Berlapis Nama Batuan : Batu Breksi

(23)

Simbol Batuan :

Makassar , 05 April 2024

ASISTEN PRAKTIKUM PRAKTIKAN

MUH RIZQULLQH TUNGKA NASRUL BELO 4.1.8 Serpih

No Peraga : 8

Warna Lapuk : Coklat Warna Segar : Hitam

Tekstur : Klastik

Fragmen Pembentukan: - Kemas : Tertutup Matriks :Lanau Porisitas : Buruk Semen : Karbonat Permeabilitas : Buruk Besar Butir : 4-64 mm Kekompakan : Hard

Pemilahan : Baik

Derajat Pembundaran : Membulat Struktur Sedimen : Berlapis

(24)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA Simbol Batuan :

Makassar, 05 April 2024

ASISTEN PRAKTIKUM PRAKTIKAN

MUH RIZQULLAH TUNGKA NASRUL BELO 4.1.2 Batu Pasir Karbonat

No Peraga : 2

Warna Lapuk : Coklat Warna Segar : Abu-Abu

Tekstur : Klastik

Fragmen Pembentuk : - Kemas : Tertutup

Matriks : Pasir kasar Porositas : Baik

Semen : Karbonat Permeabilitas : Baik

Besar Butir :0,5-1 mm Kekompakan : Hard

Pemilahan : Baik

Derajat Pembundaran: Membulat Struktur Sedimen : Berlapis

Nama Batuan : Batu Pasir Karbonat

(25)

Simbol Batuan :

Makassar, 05 April 2024

ASISTEN PRAKTIKUM PRAKTIKAN

MUH RIZQULLAH TUNGKA NASRUL BELO 4.1.3 Batu Fosil Gastropoda

No Peraga : 3

Warna Lapuk : Coklat Warna Segar : Abu-Abu

Tekstur : Non Klastik

Fragmen Pembentuk : Karbon Komposisi : C4CO3

Kekompakan : Hard

Struktur Sedimen : Tidak Berlapis

Nama Batuan : Batu Fosil Gastropoda Simbol Batuan :

(26)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA Makassar , 05 April 2024

ASISTEN PRAKTIKUM PRAKTIKAN

MUH RIZQULLAH TUNGKA NASRUL BELO

4.1.4 Batu Fosil Kayu

No Peraga : 4

Warna Lapuk : Coklat Warna Segar : Abu-Abu

Tekstur : Non Klastik

Mineral Pembentuk : Silikat

Komposisi : SiO2

Kekompakan : Hard Struktur Sedimen : Berlapis

Nama Batuan : Batu Fosil Kayu Simbol Batuan :

(27)

Makassar, 05 April 2024

ASISTEN PRAKTIKUM PRAKTIKAN

MUH RIZQULLAH TUNGKA NASRUL BELO 4.1.5 Batu Bara

No Peraga : 5

Warna Lapuk : Coklat Warna Segar : Hitam

Tekstur : Non Klastik

Mineral Pembentuk : Masseral

Komposisi : Karbon (C)

Kekompakan : Soft Struktur Sediman : Berlapis Nama Batuan : Batu Bara Simbiol Batuan :

(28)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA Makassar , 05 April 2024

ASISTEN PRAKTIKUM PRAKTIKAN

MUH RIZQULLAH TUNGKA NASRUL BELO 4.1.7 Batu Rijang Hijau

No Peraga : 7

Warna Lapuk : Coklat Warna Segar : Hijau

Tekstur : Non Klastik

Fragmen Pembentuk : Silikat Komposisi : SiO2

Kekompakan : Hard

Struktur Sedimen : Tidak Berlapis Nama Batuan : Batu Rijang Hijau Simbol Batuan : X X X

(29)

Makassar ,05 April 2024

ASISTEN PRAKTIKUM PRAKTIKAN

MUH RIZQULLAH TUNGKA NASRUL BELO

4.2.4 Batu Konglomerat

(30)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA Gambar 4.4 Batu Konglomerat

Pada nomor peraga (4) batuan sedimen yang memiliki warna lapuk berwarna coklat. Akibat kontaminasi alam sekitarnya dan memiliki warna segar atau warna asli berwarna abu-abu, batuan sedimen ini merupakan golongan batuan sedimen kalstik karena memiliki butir. Batuan sedimen ini memiliki pragmen pembentuk yaitu kerakal/matriks lampung, semen atau bahan yang mengikat batuan sedimen ini adalah silika. Karena tidak bereaksi saat di tetesi fluida hcl 0,1 m. Memiliki besar butir yang kasar yaitu 2-4 mm, serta meemiliki tingkat keseragaman butir/pemilahan yang buruk.

Pada derajat peembundaranya atau tingkat kelengkunganya memiliki rounnes membulat ,serta meemiliki struktur sedimen berlapis yang dimana merupakan ciri khas batuan sedimen klastik sampel batuan nomor 6 ini memiliki nama batuan yaitu batu konglomerat dengan simbol batuan batuan ini memiliki kemas terbuka dan memiliki porositas dan permeabilitas yang buruk dengan kekompakan hard.

Batu konglomerat merupakan batuan sedimen klastik yang tersusun atas klastik yang memiliki derajat pembudarannya yaitu membulat, batuan ini memiliki bentukan dari fragmen –fragmen dari proses sedimentasi. Batu konglomerat ini biasanya digunakan sebagai bahan baku agrerat untuk industri jalan, dan bahan bangunan.

4.2.5 Batu Pasir Karbonat

(31)

Gambar 4.5 Batu Pasir Karbonat

Pada nomor peraga (5) batuan sedimen yang memiliki warna lapuk berwarna coklat. Akibat kontaminasi alam sekitarnya dan memiliki warna segar atau warna asli berwarna abu-abu, batuan sedimen ini merupakan golongan batuan sedimen kalstik karena memiliki butir. Batuan sedimen ini memiliki pragmen pembentuk yaitu kerakal/matriks lampung, semen atau bahan yang mengikat batuan sedimen ini adalah karbonat. Karena bereaksi saat di tetesi fluida hcl 0,1 m. Memiliki besar butir yang kasar yaitu 0,5-1 mm, serta memiliki tingkat keseragaman yang berbutir/pemilahan yang baik.

Pada derajat pembundarannya atau tingkat kelengkungannya memiliki rounnes membulat ,serta meemiliki struktur sedimen berlapis yang dimana merupakan ciri khas batuan sedimen klastik sampel batuan nomor 2 ini memiliki nama batuan yaitu batu pasir karbonat dengan simbol batuan batuan ini memiliki kemas tertutup dan memiliki porositas baik dan permeabilitas yang baik dengan kekompakan hard.

Pada batuan pasir karbonat ini mempunyai ciri khas dengan batuan yang lain yaitu pada batuan pasir karbonat ini memiliki warna lapuk yaitu coklat dan warna segar abu-abu batuan sedimen ini mempunyai fragmen-fragmen pembentuk yaitu kerakal atau matriks lampung. Pada batuan ini digunakan sebagai bahan bangunan, batu ini menjadi batuan penyimpan hidrokarbon.

(32)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA 4.2.6 Batu Fosil Gastropoda

Gambar 4.6 Batu Fosil Gastropoda

Selanjutnya kita mengidentifikasi batuan sedimen non klastik. Pertama kita identifikasi warna lapuk dari batuan tersebut dan kita dapati warna coklat sebagai warna lapuknya dan kita juga dapati warna segarnya yaitu warna abu-abu.

Selanjutnya kita identifikasi tekstur dari batuan tersebut dan kita dapati teksturnya adalah non klastik.

Setelah itu kita mencari tahu mineral-mineral setelah diuji mineral pembentuknya adalah karbonat,karena bereaksi pada saat ditetesi fluida hcl 0,1 pada permukaannya. Selanjutnya kita cari tahu komposisi kimia yang terdapat pada batuan tersebut dan kita dapati komposisi kimiannya adalah CaCo3. Setelah itu kita cari tahu atau mengidentifikasi dan uji kekompakkan dari batuan tersebut dan kita dapati kekompakannya adalah hard . Selanjutnya kita identifikasi struktur sedimen dari batuan tersebut dan kita dapati strukturnnya adalah tidak berlapis setelah itu kita perlu tentukan nama batuan tersebut dan kita dapati nama batuan adalah batu fosil gastropoda dengan simbol batuan

Pada batuan gastroppda ini biasa dapat digunakan dalam kehidupan diantaranya sebagai bahan pangan sumber protein hewani ( contoh bellamnya sumatraenesis), dan juga digunakan sebagai bahan industti kerajinan,sebagai bahan hiasan dan sebagai bahan campuran dalam bangunan.

(33)

4.2.5 Batu Fosil Kayu

Gambar 4.5 Batu Fosil Kayu

Selanjutnya kita mengidentifikasi batuan sedimen non klastik. Pertama kita identifikasi warna lapuk dari batuan tersebut dan kita dapati warna coklat sebagai warna lapuknya dan kita juga dapati warna segarnya yaitu warna abu-abu.

Selanjutnya kita identifikasi tekstur dari batuan tersebut dan kita dapati teksturnya adalah non klastik.

Setelah itu kita mencari tahu mineral-mineral setelah diuji mineral pembentuknya adalah silika,karena tidak bereaksi pada saat ditetesi fluida hcl 0,1 pada permukaannya. Selanjutnya kita cari tahu komposisi kimia yang terdapat pada batuan tersebut dan kita dapati komposisi kimiannya adalah Sio2. Setelah itu kita cari tahu atau mengidentifikasi dan uji kekompakkan dari batuan tersebut dan kita dapati kekompakannya adalah hard . Selanjutnya kita identifikasi struktur sedimen dari batuan tersebut dan kita dapati strukturnnya adalah berlapis setelah itu kita perlu tentukan nama batuan tersebut dan kita dapati nama batuan adalah batu fosil kayu dengan simbol batuan

Batuan fosil kayu ini merupakan batuan kayu yang sudahmembatu dimana semua memiliki bahan organiknya yang telah digantikan oleh mineral (silica). Pada batuan ini membatu dimana semua bahan organiknya telah digantikan oleh mineral biasanya sejenis silikat,quartz ,dengan struktut kayu tetap terjaga.

(34)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA 4.2.8 Batu Bara

Gambar 4.8 Batu Bara

Selanjutnya kita mengidentifikasi batuan sedimen non klastik. Pertama kita identifikasi warna lapuk dari batuan tersebut dan kita dapati warna coklat sebagai warna lapuknya dan kita juga dapati warna segarnya yaitu warna hitam warna aslinya pada batuan tersebut . Selanjutnya kita identifikasi tekstur dari batuan tersebut dan kita dapati teksturnya adalah non klastik.

Setelah itu kita mencari tahu mineral-mineral setelah diuji mineral pembentuknya adalah masseral ,karena bereaksi pada saat ditetesi fluida hcl 0,1 pada permukaannya. Selanjutnya kita cari tahu komposisi kimia yang terdapat pada batuan tersebut dan kita dapati komposisi kimiannya adalah karbonat (C). Setelah itu kita cari tahu atau mengidentifikasi dan uji kekompakkan dari batuan tersebut dan kita dapati kekompakannya adalah soft . Selanjutnya kita identifikasi struktur sedimen dari batuan tersebut dan kita dapati strukturnnya adalah berlapis setelah itu kita perlu tentukan nama batuan tersebut dan kita dapati nama batuan adalah batu bara. Dan simbol batuan yaitu adalah .

Batu bara adalah akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang mati dan tidak sempat mengalami pembusuka n secara sempurna yang kemudian terverspasi dengan baik dalam kondisi oksigen misalnya pada bagian bawah dari suatu danau atau end atau sedimen berbutir sangan halus,batu bara dapat digunakan sebagai bahan yang menghasilkan berbagai produk gas.

(35)

2.1 Pembahasan

4.2.1 Batu Breksi

Gambar 4.1 Batu Breksi

Pada nomor peraga (1) batuan sedimen yang memiliki warna lapuk berwarna coklat. Akibat kontaminasi alam sekitarnya dan memiliki warna segar atau warna asli berwarna abu-abu, batuan sedimen ini merupakan golongan batuan sedimen kalstik karena memiliki butir. Batuan sedimen ini memiliki fragmen pembentuk yaitu kerakal/matriks lampung, semen atau bahan yang mengikat batuan sedimen ini adalah silika. Karena tidak bereaksi saat di tetesi fluida hcl 0,1 m. Memiliki besar butir yang kasar yaitu 2-4 mm, serta meemiliki tingkat keseragaman butir/pemilahan yang buruk.

Pada derajat pembundarannya atau tingkat kelengkungannya memiliki rounnes menyudut ,serta memiliki struktur sedimen berlapis yang dimana merupakan ciri khas batuan sedimen klastik sampel batuan nomor 8 ini memiliki nama batuan yaitu batu breksi dengan simbol batuan ini memiliki kemas tertutup dan memiliki porositas yang buruk dan permeabilitas yang buruk dengan kekompakan hard. Pada derajat pembundarannya atau tingkat kelengkungannya memiliki rounnes menyudut ,serta memiliki struktur sedimen berlapi. Batauan ini digunakan sebagai bahan hias dan bangunan. Batu breksi ini bisa digunakan sebagai hiasan misalnya

(36)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA 4.2.2 Rijang Hijau

Gambar 4.2 Batu Rijang Hijau

Selanjutnya kita mengidentifikasi batuan sedimen non klastik. Pertama kita identifikasi warna lapuk dari batuan tersebut dan kita dapati warna coklat sebagai warna lapuknya dan kita juga dapati warna segarnya yaitu warna hijau warna aslinya pada batuan tersebut . Selanjutnya kita identifikasi tekstur dari batuan tersebut dan kita dapati teksturnya adalah non klastik.

Setelah itu kita mencari tahu mineral-mineral setelah diuji mineral pembentuknya adalah silika,karena tidak bereaksi pada saat ditetesi fluida hcl 0,1 pada permukaannya. Selanjutnya kita cari tahu komposisi kimia yang terdapat pada batuan tersebut dan kita dapati komposisi kimiannya adalah Sio3. Setelah itu kita cari tahu atau mengidentifikasi dan uji kekompakkan dari batuan tersebut dan kita dapati kekompakannya adalah hard . Selanjutnya kita identifikasi struktur sedimen dari batuan tersebut dan kita dapati strukturnnya adalah tidak berlapis setelah itu kita perlu tentukan nama batuan tersebut dan kita dapati nama batuan adalah rijang hijau.

Dengan simbol batuan yaitu batuan ini memiliki kekompakan yang yang hard dengan struktur yang tidak berlapis batuan ini termasuk kedalam tekstur non klastik. Pada batuan ini memiliki cri khas yang dapat membedakan dengan batuan struktur sedimen dari batuan tersebut dan kita dapati strukturnnya adalah tidak berlapis setelah itu kita.

(37)

4.2.3 Serpih

Gambar 4.3 Serpih

Pada nomor peraga (3) batuan sedimen yang memiliki warna lapuk berwarna coklat. Akibat kontaminasi alam sekitarnya dan meemiliki warna segar atau warna asli berwarna hitam, batuan sedimen ini merupakan golongan batuan sedimen kalstik karena memiliki butir. Batuan mememiliki matriks yaitu lanau, semen atau bahan yang mengikat batuan sedimen ini adalah karbonat. Karena bereaksi saat di tetesi fluida hcl 0,1 m. Memiliki besar butir yang kasar yaitu 0,004-0,06 mm, serta meemiliki tingkat keseragaman butir atau pemilahan yang baik.

Pada derajat pembundarannya atau tingkat kelengkungannya memiliki rounnes menyudut,serta memiliki struktur sedimen berlapis yang dimana merupakan ciri khas batuan sedimen klastik sampel batuan nomor 4 ini memiliki nama batuan yaitu batu breksi dengan simbol batuan batuan ini memiliki kemas tertutup dan memiliki porositas yang buruk dan permeabilitas yang buruk dengan kekompakan hard.

Pada batuan ini memiliki tingkat keragaman yang baik dengan derajat pembudarannya atau memiliki kelengkungan yang menyudut. Batuan sedimen ini termasuk dalam golongan klastik karena membunyai butiran,batua matriks lanau ,semen dan bahan yang mengikat batuan sedimen ini adalah karbonat ,karena beraksi

-- -- -- -- -- -- ---

(38)

MUH.RIZQULLAH TUNGKA PUTRI NABILA KESYA

Gambar

Gambar 2. 1 Batuan sedimen
Tabel 2. 1 Skala Wentworth
Gambar 2. 2 Perbandingan pemilahan  4.  Kemas (Fabric)
Gambar 2. 3 Kenampakan kemas tertutup dan terbuka 5.  Kebundaran (roundness)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Batu pasir, yang memiliki kenampakan warna yaitu putih kecoklatan, struktur batuannya berlapis, batu pasir memiliki tekstur klastik (tebentuk dari batu yang sudah

Istilah sedimen berasal dari kata sedimentum, yang mempunyai pengertian yaitu material endapan yang terbentuk dari proses pelapukan dan erosi dari suatu material batuan yang ada

Batuan sedimen silisiklastik memiliki beberapa perbedaan dengan batuan karbonat karna proses sedimentasi dan proses proses diagenesa yang berbeda, secara garis

batuan yang terbentuk oleh konsolidasi sedimen, sebagai material lepas, yang terangkut ke lokasi pengendapan oleh air, angin, es dan.. longsoran gravitasi, gerakan

Batuan ini pada awalnya mengalami proses terombakan kemudian tererosi menjadi suatu material sedimen yang lepas lalu tertransportkan dengan jarak

Batubara merupakan kelanjutan suatu proses dari pembentukan gambut dan juga batuan sedimen yang mudah terbakar, berasal dari tumbuhan, berwarna coklat sampai hitam,

Laporan awal praktikum Geologi Fisik Batuan

BATUAN SEDIMEN • Batuan yang terbentuk akibat lithifikasi dari hancuran batuan induk, maupun hasil denudasi atau hasil reaksi kimia maupun hasil kegiatan organisme • Lithifikasi