• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I -BAB II

N/A
N/A
Arry Yy

Academic year: 2025

Membagikan "BAB I -BAB II"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL

ANALISIS PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TERHADAP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Program Strata satu (S-1) Manajemen

Oleh:

ARRY PIRMANSYAH NIM : 22.10.089.530.081

PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS INDRAGIRI

2025

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

Kabupaten Indragiri Hulu merupakan salah satu pusat utama produksi kelapa sawit di Provinsi Riau. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Indragiri Hulu (2023), luas areal perkebunan kelapa sawit rakyat mencapai 202,9 ribu hektar. Jika digabungkan dengan lahan yang dikelola oleh perusahaan besar, maka total areal perkebunan kelapa sawit mencakup sekitar 49,8% dari luas wilayah kabupaten. Hal ini menjadikan sektor kelapa sawit sebagai penggerak utama perekonomian daerah sekaligus penyedia lapangan kerja yang signifikan bagi masyarakat setempat.

Meskipun demikian, pesatnya ekspansi sektor perkebunan kelapa sawit tidak lepas dari berbagai persoalan yang kompleks, terutama dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Di satu sisi, industri ini telah berkontribusi nyata terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat. Misalnya, berdasarkan penelitian Fahri et al. (2023), pendapatan rumah tangga petani di Kecamatan Seberida meningkat hingga 35% dalam lima tahun terakhir sebagai dampak dari perluasan perkebunan. Namun, peningkatan ekonomi tersebut tidak datang tanpa konsekuensi. Di sisi lain, laju pertumbuhan sektor ini juga membawa dampak negatif terhadap aspek lingkungan dan sosial, seperti menurunnya kualitas air tanah, rusaknya ekosistem lokal, serta timbulnya berbagai konflik agraria yang meresahkan masyarakat.

(3)

Salah satu isu paling krusial adalah deforestasi akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan. Laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2022) mengungkapkan bahwa Provinsi Riau termasuk dalam tiga besar provinsi dengan tingkat deforestasi tertinggi di Indonesia. Bahkan, ekspansi kelapa sawit diketahui menyumbang sekitar 38% dari total angka deforestasi tahunan di provinsi tersebut. Kondisi ini tentu menjadi peringatan serius terhadap keberlanjutan lingkungan, yang jika tidak ditangani secara tepat akan mengancam keseimbangan ekologis dalam jangka panjang.

Dari sisi struktural, permasalahan lain yang tak kalah penting adalah ketimpangan dalam penguasaan lahan. Studi oleh Mustofa dan Bakce (2023) menunjukkan bahwa sekitar 63% lahan sawit di Indragiri Hulu dikuasai oleh perusahaan besar, sedangkan petani swadaya hanya mengelola sekitar 25%. Ketimpangan ini menyebabkan kesenjangan sosial dan melemahnya posisi tawar petani kecil dalam rantai produksi, serta rendahnya partisipasi masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan strategis terkait tata kelola sumber daya alam.

Permasalahan juga terjadi pada implementasi program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Dalam praktiknya, program CSR sering kali hanya bersifat formalitas. Penelitian oleh Wahyudi (2019) di Desa Simelinang Tebing menemukan bahwa banyak program CSR yang dijalankan belum menjawab kebutuhan riil masyarakat dan tidak

(4)

terintegrasi dengan upaya pemberdayaan ekonomi jangka panjang.

Hal ini menunjukkan bahwa komitmen perusahaan terhadap pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan masih belum optimal.

Konflik sosial akibat tumpang tindih lahan dan lemahnya regulasi agraria turut memperparah situasi. Menurut Sri (2020), dalam periode 2015–2019 terjadi lebih dari 40 kasus konflik agraria antara masyarakat dan perusahaan hanya di Kecamatan Peranap saja.

Fenomena ini menandakan bahwa masih terdapat kelemahan dalam sistem tata kelola pertanahan serta kurangnya ruang dialog yang adil bagi masyarakat sebagai pemangku kepentingan.

Tidak hanya itu, tantangan juga muncul dari aspek teknis produksi. Data dari Yulida et al. (2020) menyebutkan bahwa produktivitas kelapa sawit petani rakyat di Kabupaten Indragiri Hulu hanya mencapai 14 ton per hektar per tahun, jauh di bawah standar nasional yang berada pada kisaran 24 ton per hektar per tahun.

Kesenjangan ini terjadi karena petani masih menghadapi keterbatasan dalam hal akses terhadap teknologi, pembiayaan, serta pelatihan budidaya yang berkelanjutan dan efisien.

Sementara itu, berdasarkan data dari BPS Provinsi Riau (2022), produksi kelapa sawit di Kabupaten Indragiri Hulu mengalami peningkatan, yakni dari 230.849 ton pada tahun 2021 menjadi 232.844 ton pada tahun 2022. Peningkatan ini menunjukkan adanya tren pertumbuhan yang relatif stabil dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

(5)

Tabel 1.1 Grafik Tren produksi kelapa sawit kebupaten indragiri hulu (2018-2022)

Sumber: BPS Provinsi Riau (2023)

Berdasarkan Grafik di atas memperlihatkan bahwa meskipun sempat mengalami fluktuasi, produksi kelapa sawit secara umum cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Kondisi ini memperkuat posisi sektor perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu penggerak utama ekonomi daerah. Namun demikian, data produksi tersebut belum memberikan gambaran utuh mengenai bagaimana pertumbuhan sektor ini berdampak terhadap dimensi sosial dan lingkungan secara bersamaan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang dapat mengkaji secara kuantitatif dan simultan kontribusi sektor ini terhadap pembangunan berkelanjutan.

Dengan mempertimbangkan kompleksitas permasalahan tersebut, sangat diperlukan kajian ilmiah yang mendalam dan komprehensif untuk menganalisis secara simultan dampak pembangunan sektor perkebunan kelapa sawit terhadap tiga pilar

(6)

pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Indragiri Hulu: ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Untuk mendukung penelitian ini maka peneliti memaparkan beberapa penelitian terdahulu yang menganalisis pembaguanan perkebunan kelapa sawit terhadap pembangunan berkelanjutan.

NO Nama / Tahun Peneliti

Judul Penelitian

Variabel

Penelitian Hasil Penelitian

1. Gunawan

Wibisono (2020)

Peran Perkebunan Kelapa Sawit terhadap Perekonomian Wilayah

Kabupaten Indragiri Hulu

X₁: Produksi &

Luas Lahan Sawit

Y: Pertumbuhan Ekonomi

Wilayah

LQ ≥ 1 (sawit = sektor basis), DLQ menunjukkan penurunan produksi, SSA menunjukkan pengaruh negatif shift proporsional;

efek pengganda positif 1,129

terhadap sektor lain.

2. Rani (2025) Dampak kelapa sawit dalam pembangunan berkelanjutan:

Analisis kebijakan publik di

Indonesia

X₁: Kebijakan Kelapa Sawit Y: Ketimpangan Ekonomi-

Lingkungan

Ditemukan

ketidakseimbangan antara kepentingan ekonomi dan

konservasi lingkungan;

kebijakan cenderung mengutamakan pertumbuhan ekonomi ketimbang keberlanjutan jangka panjang.

3. Rahmah &

Napitupulu (2022)

Analisis dampak kebun kelapa sawit terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia

X₁: Ekspansi Perkebunan Y: Indikator SDGs (Ekonomi,

Perkebunan sawit meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi menimbulkan tekanan negatif terhadap

lingkungan dan

(7)

Sumber :Data Diolah

Untuk melihat apakah perkebunan kelapa sawit berdampak terhadap pembanguan berkelanjutan ,maka berdasarkan penjelasan dan penelitian terdahulu tersebut, dilakuakan penelitian lebih lanjut

“ANALISIS PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TERHADAP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU”

1.2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan masalah penelitian pada latar belakang ,maka disusunlah pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana kontribusi sektor perkebunan kelapa sawit terhadap pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Indragiri Hulu ditinjau dari dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan?

2. Sejauh mana sektor perkebunan kelapa sawit meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal di Kabupaten Indragiri Hulu?

Sosial, Lingkungan)

berpotensi

menciptakan konflik sosial.

4. Purnamasar i (2019)

Analisis Identifikasi Peranan Sektor Perkebunan dalam

Pembangunan Wilayah di Kabupaten Indragiri Hulu

X₁: Peran Sektor Perkebunan Y:

Pembangunan Wilayah

Menunjukkan sektor perkebunan

sebagai sektor basis namun tidak menganalisis kontribusinya terhadap dimensi pembangunan berkelanjutan secara spesifik dan kuantitatif.

(8)

3. Apa saja faktor penghambat dan pendukung dalam optimalisasi kontribusi sektor kelapa sawit terhadap pembangunan berkelanjutan di wilayah tersebut?

1.3. TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui sejauh mana sektor perkebunan kelapa sawit berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Indragiri Hulu, dengan melihat pengaruhnya dari tiga sisi utama:

a. Ekonomi (seperti pertumbuhan pendapatan masyarakat, ketersediaan lapangan kerja, dan nilai tambah ekonomi daerah),

b. Sosial (seperti pemerataan manfaat, akses masyarakat terhadap lahan, dan kondisi sosial di lapangan), serta

c. Lingkungan (seperti deforestasi, kerusakan lingkungan, dan keberlangsungan sumber daya alam).

2. Untuk mengukur seberapa besar dampak sektor kelapa sawit terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal, khususnya petani swadaya dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan perkebunan.

3. Untuk mengidentifikasi apa saja hal-hal yang menjadi penghambat dan pendukung dalam mengoptimalkan peran sektor kelapa sawit terhadap pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini termasuk melihat peran pemerintah, lembaga terkait, partisipasi masyarakat, dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dijalankan di daerah tersebut.

(9)

1.4. MANFAAT PELITIAN 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang manajemen pemasaran dan psikologi konsumen, melalui hal-hal berikut:

a. Pengayaan literatur mengenai hubungan antara strategi pemasaran, perilaku konsumen, dan aspek psikologis dalam konteks lokal, khususnya di sektor perkebunan atau agribisnis.

b. Penguatan konsep pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, lingkungan, dan psikologis dalam pengambilan keputusan strategis.

c. Penerapan teori perilaku konsumen, seperti teori motivasi, persepsi nilai, dan loyalitas merek, dalam konteks sektor primer (seperti kelapa sawit).

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak yang terlibat langsung dalam pengelolaan dan pengembangan sektor kelapa sawit maupun sektor-sektor lain yang serupa, antara lain:

a. Bagi pelaku usaha dan manajer pemasaran, penelitian ini dapat menjadi acuan dalam merumuskan strategi pemasaran yang

(10)

lebih efektif dengan mempertimbangkan aspek psikologis konsumen lokal dan dinamika sosial-ekonomi masyarakat.

b. Bagi pemerintah daerah dan pembuat kebijakan, hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk menyusun kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial.

c. Bagi lembaga pendidikan dan akademisi, penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam pengembangan kurikulum atau penelitian lanjutan yang relevan dengan manajemen pemasaran berbasis lokalitas dan perilaku masyarakat.

d. Bagi masyarakat umum, khususnya petani dan komunitas sekitar perkebunan, penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman tentang pentingnya keterlibatan aktif dalam pengelolaan sumber daya, serta bagaimana strategi pemasaran yang tepat.

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESISI

1.5. Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi masa depan dalam memenuhi kebutuhan mereka. Konsep ini diperkenalkan oleh Brundtland Commission (1987) dan mencakup tiga aspek penting: ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Dalam penelitian ini, pembangunan berkelanjutan dianalisis menggunakan pendekatan Triple Bottom Line dari John Elkington (1997), yang menekankan bahwa pembangunan tidak hanya fokus pada keuntungan ekonomi (profit), tetapi juga harus memperhatikan dampak sosial (people) dan kelestarian lingkungan (planet).

1.6. Aspek Ekonomi dalam Pembangunan Berkelanjutan

Aspek ekonomi dalam pembangunan berkelanjutan meliputi peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan sektor ekonomi lokal. Menurut Todaro dan Smith (2012), pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan adalah pertumbuhan yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat secara merata.

Dalam konteks perkebunan kelapa sawit, aspek ekonomi dapat dilihat dari kontribusi sektor ini terhadap PDRB daerah, peluang kerja

(12)

yang tercipta, dan kesejahteraan petani sawit maupun masyarakat sekitar.

1.7. Aspek Sosial dalam Pembangunan Berkelanjutan

Aspek sosial mencakup keadilan dalam distribusi manfaat, akses terhadap sumber daya, serta stabilitas dan keharmonisan dalam masyarakat. Menurut Chambers dan Conway (1992), pembangunan yang berkelanjutan dari sisi sosial harus mampu memberdayakan masyarakat dan mencegah ketimpangan.

Pada sektor kelapa sawit, hal ini bisa dilihat dari bagaimana masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan perkebunan, apakah masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi secara adil, dan apakah terjadi konflik sosial seperti sengketa lahan atau ketimpangan penguasaan tanah.

1.8. Aspek Lingkungan dalam Pembangunan Berkelanjutan

Aspek lingkungan berhubungan dengan bagaimana aktivitas manusia, termasuk sektor perkebunan, mempengaruhi alam. Daly dan Farley (2011) menjelaskan bahwa pembangunan harus tetap menjaga keseimbangan ekosistem agar sumber daya alam tidak rusak atau habis.

Dalam penelitian ini, aspek lingkungan dilihat dari dampak perkebunan kelapa sawit terhadap hutan, kualitas tanah dan air, serta keberadaan keanekaragaman hayati. Isu-isu seperti deforestasi dan degradasi lahan menjadi bagian penting yang dianalisis.

(13)

1.9. Hubungan Antar Variabel (Ekonomi, Sosial, Lingkungan)

Ketiga aspek pembangunan ini saling berkaitan. Misalnya, ketika kegiatan ekonomi dari sektor sawit meningkat, bisa jadi pendapatan masyarakat naik, tapi di sisi lain bisa muncul masalah lingkungan seperti kerusakan hutan. Atau, saat perusahaan meningkatkan keuntungan, apakah masyarakat sekitar juga merasakan dampaknya secara adil? Oleh karena itu, pendekatan pembangunan berkelanjutan harus mampu menyeimbangkan ketiganya.

1.10. Tinjauan Penelitian Sebelumnya

Beberapa penelitian yang berkaitan dengan topik ini antara lain:

Wibisono (2020) meneliti peran sektor kelapa sawit dalam ekonomi daerah menggunakan analisis LQ.

Rahmah & Napitupulu (2022) menunjukkan bahwa kelapa sawit memberi dampak ekonomi positif, tetapi memunculkan konflik sosial.

Rani (2025) membahas dampak lingkungan dan tantangan keberlanjutan dari ekspansi kelapa sawit.

Purnamasari (2019) mengkaji ketimpangan manfaat ekonomi dari sektor perkebunan terhadap masyarakat lokal.

Penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun kelapa sawit memberi manfaat ekonomi, ada tantangan dari sisi sosial dan lingkungan yang perlu dikaji lebih lanjut.

1.11. PENELITIAN TERDAHULU

(14)

1. Wahyuni & Suranto (2021)

Tujuan penelitian ialah untuk menganalisis sejauh mana deforestasi hutan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit berkontribusi terhadap pemanasan global di Indonesia, serta mengkaji kebutuhan kebijakan pengendalian konversi lahan yang mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat daerah.

Metode yang digunakan ialah deskriptif-kuantitatif dengan analisis spasial menggunakan data deforestasi dari citra satelit dan data iklim.

Hasil penelitian ini menunjukkan perluasan kebun sawit di pesisir timur Sumatera menyebabkan konversi besar-besaran lahan hutan, yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan emisi karbon dan pemanasan global.

2. Safitri, Syamsuadi, & Anjani (2025)

Tujuan penelitian ialah untuk mengevaluasi efektivitas Program Riau Hijau sebagai kerangka kebijakan lingkungan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya pada sektor perkebunan kelapa sawit, serta memberikan rekomendasi peran strategis pemerintah daerah dalam pelaksanaannya.

Metode yang di gunakan : Studi kasus kualitatif-deskriptif dengan wawancara mendalam dan dokumentasi kebijakan.

Hasil penelitian program Riau Hijau menunjukkan adaptabilitas tinggi dalam mengakomodasi isu sawit berkelanjutan, namun

(15)

efektivitas implementasi masih dipengaruhi oleh kapasitas kelembagaan dan keterlibatan multi-pihak.

3. Hartanto (2023)

Tujuan penelitian ini ialah untuk mengkaji implementasi prinsip- prinsip sertifikasi ISPO dalam rantai pasok perusahaan kelapa sawit di Indonesia dan menilai sejauh mana prinsip tersebut mendorong tercapainya manajemen rantai pasok yang berkelanjutan.

Metode pada penelitian ini menggunakan survei kuantitatif dengan model evaluatif terhadap perusahaan bersertifikasi ISPO.

Hasil penelitian ini menunjukkan sertifikasi ISPO lebih banyak memenuhi aspek administratif formal dibanding transformasi praktik keberlanjutan di tingkat operasional.

4. Nahriyah (2024)

Tujuan penelitian ialah untuk memahami bagaimana praktik manajemen perkebunan kelapa sawit dapat diarahkan secara sistemik dan integratif menuju keberlanjutan, serta menyusun rekomendasi kebijakan teknis bagi pemerintah daerah sebagai pengawas utama di wilayah produksi sawit.

Metode pada penelitian ini menggunakan analisis dokumen dan observasi lapangan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen berkelanjutan membutuhkan sinergi antarpihak, serta pembentukan unit teknis daerah untuk pengawasan dan integrasi program lingkungan.

5. Sebyar & Wulandari (2023)

(16)

Tujuan penelitian ialah untuk menganalisis kesenjangan sosial ekonomi yang muncul di masyarakat sekitar perkebunan kelapa sawit, serta mengevaluasi efektivitas skema kemitraan dan keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan daerah berbasis sawit.

Analisis pada metode ini menggunakan kuantitatif-deskriptif dengan survei sosial masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan terjadi ketimpangan kesejahteraan antara pekerja perusahaan dan masyarakat lokal non-plasma;

skema kemitraan belum memberikan manfaat merata.

6. Pambudi (2025)

Tujuan dari penelian ini ialah untuk menelaah nilai-nilai etika dan aksiologi yang melekat dalam proses pembangunan sektor perkebunan kelapa sawit, serta mengusulkan kerangka etika pembangunan yang dapat diintegrasikan dalam kebijakan perencanaan daerah.

Analisis normatif menggunakan pendekatan aksiologi dalam studi kebijakan.

Hasil penelitian menunjukkan praktik pembangunan sawit masih dominan teknokratis dan minim nilai etika; perlu pedoman etika pembangunan sawit di daerah.

7. Rani (2025)

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menganalisis dinamika pembentukan kebijakan publik di sektor kelapa sawit dalam

(17)

kerangka pembangunan berkelanjutan, dengan menyoroti ketidak seimbangan antara pengaruh global dan kebutuhan pembangunan lokal.Alat Analisis pada metode ini menggunakan model multiple Streams Framework. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan lebih banyak dipengaruhi kepentingan global (seperti tekanan pasar Eropa) daripada data dan kebutuhan lokal.

8. Nasution, Mulatsih, & Rahma (2023)

Tujuan dari penelitan ini ialah untuk mengevaluasi keberlanjutan sosial dari kemitraan usaha antara petani rakyat dan perusahaan perkebunan kelapa sawit, serta menilai dampaknya terhadap keadilan sosial dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di tingkat daerah.Analisis pada metode ini menggunakan studi kasus dan uji regresi panel.Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi keuntungan tidak seimbang; menimbulkan ketidakadilan sosial di tingkat petani mitra.

9. Said, Akhmad, & Sribianti (2024)

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menganalisis pengaruh produksi dan luas lahan kelapa sawit terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian, serta memberikan masukan bagi pengelolaan lahan dan strategi intensifikasi pertanian di daerah.Analisis pada metode ini menggunakan regresi linier berganda menggunakan data sekunder 2013–2022.

(18)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan dan volume produksi sawit berpengaruh positif signifikan terhadap peningkatan PDRB sektor pertanian di daerah.

10.Farina, Nugraha, & Mulyawan (2024)

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengkaji pengaruh ekspansi perkebunan kelapa sawit terhadap eksistensi hutan adat dan hak masyarakat hukum adat, serta menyusun rekomendasi kebijakan untuk mengintegrasikan perlindungan hutan adat dalam tata ruang dan perizinan perkebunan di tingkat daerah.

Analisis pada metode ini menggunakan studi hukum dan kajian literatur pembangunan berkelanjutan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspansi sawit mengancam eksistensi hutan adat; perlunya perlindungan legal dan integrasi hutan adat ke dalam rencana tata ruang daerah.

1.12. KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran merupakan gambaran secara skematis tentang arah Penelitian yang dilakukan. Berkaitan dengan hal tersebut,perlu diketahui skema penelitian yang menggambarkan faktor- faktor yang mempengaruhi ekonomi,sosial dan lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi pembangunan berkelanjutan. Maka dari ipenelitian kali ini membuat kerangka pikir pada gambar berikut ini:

(19)

1.13. HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan Latar Belakang masalah dan Tinjauan Pustaka yang telah diuraikan diatas, maka Penulis mencoba merumuskan Hipotesis sebagai berikut:

H1: Pembangunan perkebunan kelapa sawit berpengaruh positif secara signifikan terhadap pembangunan ekonomi daerah.

H2: Pembangunan perkebunan kelapa sawit berpengaruh positif secara signifikan terhadap pembangunan sosial masyarakat.

H3: Pembangunan perkebunan kelapa sawit berpengaruh negatif secara signifikan terhadap kualitas lingkungan.

Referensi

Dokumen terkait

Dinas Perkebunan menjamin Penangkaran Benih Multi Maju ini mendapatkan benih kelapa sawit kualitas baik dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Sebab sebelum

sawit Kawasan perkebunan kelapa sawit Kawasan wisata budaya Kawasan hutan produksi/HTI Kawasan pertanian dan perternakan Kawasan potensi minyak/gas alam Kawasan

Dalam perkebunan kelapa sawit, peralatan yang digunakan berpengaruh pada produktivitas kelapa sawit, khususnya pada peralatan yang digunakan dalam kegiatan

Penelitian tentang Sustainable Supply chain dalam bisnis Kelapa Sawit berhubungan erat dengan rangkaian produksi perkebunan kelapa sawit dari tandan buah segar (tbs)

Sedangkan berkurangnya luas hutan primer disebabkan karena adanya konversi hutan oleh masyarakat menjadi perkebunan kelapa, perkebunan kelapa sawit dan tambak, serta

Pada PT Perkebunan Mitra Ogan ( RNI Group ) barang jadi adalah Minyak Kelapa Sawit, perusahaan yang bergerak dibidang produksi Minyak Kelapa Sawit ini juga tentu memerlukan sistem

Berapa nilai ekonomi kawasan perkebunan kelapa sawit yang berasal dari perubahan kawasan hutan di wilayah penelitian berdasarkan metoda pendekatan harga pasar,

Pengolahan kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha perkebunan kelapa sawit, hasil utama yang dapat diperoleh ialah minyak