1 1. Latar Belakang
Notaris merupakan Pejabat Umum yang memiliki wewenang untuk membuat akta otentik. Dalam hal ini masyarakat sangat membutuhkan kehadiran dari jabatan notaris itu sendiri untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan akta otentik sebagai alat bukti yang bersifat autentik mengenai keadaan , peristiwa atau perbuatan hukum.1
Seorang Notaris wajib bersikap amanah , jujur, dan tidak berpihak pada siapapun sebagaimana tertera dalam salah satu isi dalam sumpah jabatan Notaris menurut Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut UUJN).
Pewarisan menggunakan akta wasiat (testamentacte) sudah dikenal sejak jaman Romawi.Bahkan sudah jadi suatu hal yang utama jika ada pewarisan dengan menggunakan akta wasiat. Di masa Romawi dikenal dua macam wasiat yaitu lisan dan tertulis. Pada saat dibuatnya wasiat, harus hadir tujuh orang saksi , hal ini berlaku untuk wasiat lisan maupun wasiat tertulis. Dalam hal ini , para saksi yang menjadi saksi dari wasiat tertulis harus ikut menandatangani surat yang menjadi kehendak terakhir dari pewaris tersebut , dan untuk wasiat lisan ,
1 Habib Adjie, Sekilas Dunia Notaris & PPAT Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 2009 , hlm.22
para saksi tidak perlu menandatangani suratnya , cukup mendengarkan saja apa yang disampaikan pewaris. 2
Wasiat mempunyai beberapa unsur , yang pertama adalah sebuah wasiat harus berbentuk tulisan yang biasanya dicantumkan menjadi sebuah akta atau sesuatu dalam bentuk tertulis. Karena surat wasiat itu mempunyai akibat hukum yang luas dan berlaku setelah pewaris atau pembuat wasiat meninggal.
Unsur wasiat berikutnya yaitu terkait dengan pernyataan terakhir dari si pewaris.
Tindakan Hukum sepihak hanya membutuhkan satu orang saja guna menimbulkan akibat hukum yang akan dikehendaki oleh orang tersebut.
Kemudian unsur yang terakhir adalah menjelaskan tentang wasiat yang akan berlaku dan mempunyai akibat hukum jika si pembuat wasiat meninggal.3
Balai Harta Peninggalan memiliki tugas untuk melakukan penyelesaian pembukaan serta pendaftaran akta wasiat berdasarkan peraturan perundang- undangan. Untuk mewujudkan pendaftaran yang efisiensi tersebut, pada tahun 2014, Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia membuat sistem baru dalam kaitannya dengan pendaftaran wasiat yaitu pendaftaran secara online. Dan untuk regulasi terkait pendaftaran wasiat secara online tersebut juga ada dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 60 tahun 2016. Walaupun saat ini proses pendaftaran Wasiat sudah dilakukan secara Online , Notaris masih wajib untuk datang ke Balai Harta peninggalan ( BHP ) untuk mendaftarkan dan
2Mireille Titisari Miarti Prastuti, Peran dan Tanggung Jawab Notaris Atas Akta Wasiat (Testament Acte) yang dibuat di hadapannya, Tesis, Program Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, 2006.
3J. Satrio,S.H, Hukum Waris, Penerbit Alumni, Bandung1992, hlm. 180
melakukan proses pembukaan secara manual Surat Wasiat tersebut. Aturan tersebut sesuai dengan Pasal 41, 42 OV , Pasal 937 dan 942 BW dan fungsi dari BHP itu sendiri telah ada dalam Keputusan Menteri Kehakiman RI terkait dengan tugas dan fungsi dari Balai Harta Peninggalan (BHP) yang salah satu fungsinya menjelaskan bahwa BHP sesuai regulasi mempunyai tugas untuk melakukan pendaftaran surat wasiat dan penyelesaian pembukaan wasiat. Hal ini juga sudah tertuang dalam Pasal 937 dan Pasal 942 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang pada intinya berisi tentang Notaris yang menyimpan surat wasiat tersebut haruslah membawa wasiat tersebut ke Balai Harta Peninggalan (BHP), karena Notaris tidak berwenang membukanya. Proses dari dibukanya surat wasiat tersebut itu haruslah dibuat sebuah Akta yang biasa disebut dengan Proses Verbal Akta dan isi wasiat tersebut haruslah disebutkan terlebih dahulu.
Kemudian pihak BHP wajib menyerahkan kembali wasiat tersebut kepada notaris setelah wasiat dibuka dan dibuatkan aktanya , karena proses pelaksanaannya memang menjadi kewenangan notaris.
Perlu kita ketahui bersama , menimbulkan suatu hak dan kewajiban bagi seseorang itu termasuk dalam perbuatan hukum yang mempunyai tujuan untuk menimbulkan akibat hukum. Sehingga apabila surat wasiat itu hanya punya satu kualitas saja yang biasa disebut dengan “surat wasiat” , maka yang terjadi adalah wasiat tersebut hanya akan memiliki kualitas sebagai akta di bawah tangan saja , sehingga untuk pembuktiannya masih dianggap belum kuat. Sehingga apabila akan membuat surat wasiat , alangkah baiknya jika punya dua kualitas yaitu
sebagai surat wasiat dan sebagai akta notaris , agar nantinya punya kekuatan hukum yang sempurna.
Bantuan seorang notaris dalam pembuatan akta wasiat sangatlah dibutuhkan , agar wasiat tersebut bisa mendapatkan kekuatan hukum yang mengikat. Notaris juga wajib melindungi dan menyimpan surat-surat atau akta-akta otentik karena itu adalah bagian dari kewajiban dan kewenangan dari seorang notaris dalam proses pembuatan akta wasiat.
Dalam hal ini sesuai dengan Pasal 943 BW bahwa memang seorang notaris haruslah menyimpan surat-surat aslinya , karena setelah si pemberi wasiat tersebut meninggal dunia maka notaris wajib memberitahukan kepada semua pihak yang terkait dan / atau berkepentingan dengan wasiat tersebut. Sehingga sudah sangat jelas bahwa peran notaris dalam pembuatan akta wasiat itu sangat penting karena aktanya akan memiliki kekuatan hukum yang mengikat.
Berkaitan dengan hal tersebut , beberapa Notaris ada yang masih kurang paham terkait dengan proses pendaftaran dan pembukaan surat wasiat ini. Masih ada beberapa Notaris yang kurang mengerti terkait prosedur pendaftaran Wasiat, bahwa tidak hanya didaftarkan dan dilaporkan melalui online saja setelah adanya peraturan baru dari kementerian Hukum dan HAM , tapi pendaftaran dan pembukaannya pun masih wajib dilakukan secara manual dengan datang ke Balai Harta Peninggalan, karena aturan perundang-undangan yaitu BW , UUJN maupun aturan dari BHP itu sendiri masih menerapkan aturan tersebut , dimana dalam hal ini nantinya Notaris akan mendapatkan Akta secara verbal yang diberikan oleh Balai Harta Peninggalan terkait dengan pendaftaran dan
pembukaan Surat Wasiat tersebut. Sehingga tidak bisa serta merta notaris melanggar atau tidak menjalankan aturan tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, maka disini penulis ingin mempelajari dan meneliti lebih mendalam lagi mengenai akta wasiat yang oleh notaris tidak didaftarkan ke Balai Harta Peninggalan akankah nantinya akan tetap sah di mata hukum dan bagaimana bentuk dari perlindungan hukum itu sendiri terhadap si penerima wasiat jika wasiat itu tidak didaftarkan oleh notaris.
Sehingga penulis menyusunnya dalam suatu penulisan thesis dengan Judul
“TANGGUNGJAWAB NOTARIS TERHADAP WASIAT YANG TELAH DIDAFTARKAN KE DAFTAR PUSAT WASIAT TAPI TIDAK DIDAFTARKAN KE BALAI HARTA PENINGGALAN”.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan dari permasalahan di tersebut , maka rumusan yang akan diteliti adalah sebagai berikut:
1. Apakah akta wasiat yang tidak didaftarkan oleh Notaris ke Balai Harta Peninggalan sah menurut hukum ?
2. Apa bentuk perlindungan hukum terhadap penerima wasiat yang akta wasiatnya tidak didaftarkan di Balai Harta Peninggalan ?
3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 3.1. Tujuan Penelitian
1. Untuk menganalisis akta wasiat yang tidak didaftarkan oleh Notaris ke Balai Harta Peninggalan sah menurut hukum;
2. Untuk menganalisis bentuk perlindungan hukum terhadap penerima wasiat yang akta wasiatnya tidak didaftarkan di Balai Harta Peninggalan.
3.2. Manfaat Penelitian 3.2.1. Manfaat Teoritis
Memberikan sumbangan pemikiran pada ilmu Kenotariatan khususnya mengenai pendaftaran dan pembukaan surat wasiat yang masih harus dilakukan di Balai Harta Peninggalan, kemudian hasil daripada penelitian ini dapat memberikan sumbangan saran dalam ilmu pengetahuan hukum.
3.2.2.Manfaat Praktis
1. Bagi Notaris, untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan jabatannya, agar tetap melaksanakan tugasnya sesuai dengan koridor hukum dan aturan perundang-undangan yang telah diatur, lebih tepatnya supaya tetap memperhatikan kewenangan, kewajiban, dan larangan Notaris dalam menjalankan jabatannya. Dan disarankan untuk tetap selalu aktif mengikuti seminar ataupun sosialisasi yang diadakan oleh organisasi inti atau kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan pekerjaan sebagai seorang Notaris.
2. Bagi Balai Harta Peninggalan, untuk dijadikan pedoman agar ke depannya bisa memberikan peringatan kepada notaris yang tidak mendaftarkan surat wasiat di Balai Harta Peninggalan.
Kemudian, lebih baik juga sering diadakan sosialisasi kepada para Notaris maupun masyarakat, terkait dengan fungsi dan kewenangan Balai Harta Peninggalan itu sendiri , agar Notaris atau masyarakat bisa lebih memahami apabila kedepannya ada suatu permasalahan yang ternyata harus diselesaikan melalui lembaga Balai Harta Peninggalan (BHP) ini.
3. Bagi Masyarakat , untuk dijadikan pedoman agar kedepannya mengetahui dengan jelas terkait proses pendaftaran dan pembukaan surat wasiat. Khususnya bagi masyarakat penerima wasiat , agar selalu mengupgrade informasi terkait dengan wasiat dan peran notaris dalam pengurusan sebuah wasiat.
4. Orisinalitas Penelitian
Dalam hal ini penulis mencari beberapa referensi sebuah penelitian dalam bentuk tesis yang pembahasannya terkait dengan pendaftaran wasiat dan perlindungan hukum terhadap pihak yang berkepentingan dengan wasiat yang berkaitan. Dan dari banyaknya judul yang sekiranya serupa dengan penelitian penulis , maka penulis ingin mencari tolak ukur untuk mengukur orisinalitas dari penelitian yang sedang diteliti penulis. Disini penulis telah menemukan tiga judul yang hampir menyerupai penelitian penulis dan yang dipakai sebagai alat ukur
adalah teori dari seorang Estelle Phillips. Berikut pendapat dari seorang Estelle Phillips terkait dengan orisinalitas penelitian , yaitu : 4
a. Saying something nobody has said before;
b. Carrying out empirical work that hasn’t been done made before;
c. Making a synthesis that hasn’t been made before;
d. Using already know material but with a new interpretation;
e. Trying out something in this country that has previously only been done in other countries;
f. Bringing new evidence to bear on an old issue;
g. Being cross-diciplinary and using different methodologies;
h. Taking someone else’s ideas and reinterpreting them in a way no one else has;
i. Looking at areas that people in your discipline haven’t looked at before;
j. Adding to knowledge in a way that hasn’t previously been done before;
k. Looking at existing knowledge and testing it;
l. Playing with words. Putting thing together in ways other haven’t.
Kemudian diterjemahkan sebagai berikut :
a. Mengemukakan sesuatu yang belum pernah dikemukakan sebelumnya;
b. Menyelesaikan pekerjaan empiris yang belum terselesaikan sebelumnya;
c. Membuat sintesa yang tidak pernah dibuat sebelumnya;
d. Menggunakan materi yang sama tapi pendekatannya lain ;
e. Mencoba menerapkan sesuatu dari negara lain di negaranya sendiri ; f. Mengambil teknik tertentu dan menerapkannya di bidang baru;
g. Menggunakan bukti baru untuk menyelesaikan masalah lama;
h. Menjadi ilmu interdisipliner dan menggunakan metodologi yang beda dengan metodologi sebelumnya;
i. Menafsirkan kembali gagasan orang lain dengan penafsiran yang berbeda
j. Menunjukkan sesuatu yang baru dari disiplin ilmu si peneliti yang belum pernah ditunjukkan oleh peneliti sebelumnya;
k. Menambah pengetahuan yang belum pernah dilakukan sebelumnya;
l. Melihat pengetahuan yang ada saat ini dan mengujinya;
m. Menjelaskan serta menguraikan kata-kata. Kemudian kata-kata yang sudah diuraikan tadi disusun dengan cara yang berbeda dan belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.
4Estelle Phillips dalam Rusdianto S, Prinsip Kesatuan Hukum Nasional Dalam Pembentukan Produk Hukum Pemerintah Daerah Otonomi Khusus atau Sementara, Disertasi, Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya, 2016.
Berdasarkan pendapat mengenai ukuran orisinalitas tersebut , maka disini penulis akan menguraikan garis besarnya dari beberapa penelitian yang telah penulis temukan terkait dengan pendaftaran wasiat yang dilakukan oleh Notaris.
Thesis Mireille Titisari Miarti Prastuti yang berjudul “Peran dan tanggungjawab Notaris atas akta wasiat ( testament acte ) yang dibuat dihadapannya”. Penelitian tersebut Menganalisis mengenai seorang notaris yang wajib untuk membuat daftar akta yang terkait dengan wasiat dan membuatnya sesuai dengan urutan waktu pembuatan akta setiap bulannya, kemudian daftar akta wasiat maupun daftar nihil yang berkaitan dengan wasiat dikirim ke Daftar Pusat Wasiat.Pengiriman daftar akta wasiat tersebut dilakukan dalam waktu hari kelima dari minggu pertama dan itu harus dilakukan setiap bulan. Kemudian harus mencatat repertorium tanggal pengiriman wasiat pada akhir bulan.Sehingga bisa disimpulkan bahwa notaris punya peran yang sangat penting dalam proses pembuatan wasiat. Sehingga sesuai dengan uraian tersebut , peneliti akan membahas terkait syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi oleh klien dalam pembuatan akta wasiat agar tetap sah sebagai akta otentik , kemudian apa saja kewajiban yang harus dilakukan notaris setelah membuat akta wasiat dan sejauh mana tanggung jawab seorang notaris terhadap akta wasiat yang dibuatnya.5
Penelitian tersebut berbeda dengan penelitian yang penulis teliti, dimana
5 Mireille Titisari Miarti Prastuti, Peran dan Tanggungjawab Notaris atas akta wasiat ( testament acte ) yang dibuat dihadapannya, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, 2006.
dalam hal ini peneliti melakukan penelitian tentang tanggung jawab Notaris yang tidak mendaftarkan dan melaporkan wasiat ke Balai Harta Peninggalan tetapi sudah didaftarkan ke Daftar Pusat Wasiat, peneliti ingin mengkaji lebih dalam terkait dengan surat wasiat yang tidak didaftarkan ke Balai Harta Peninggalan apakah nantinya akan tetap sah menurut hukum atau tidak dan ingin mengetahui perlindungan hukum terhadap penerima wasiat jika akta wasiatnya tidak didaftarkan di Balai Harta Peninggalan. Sedangkan yang diteliti oleh Mireille Titisari Miarti Prastuti adalah terkait dengan kewajiban Notaris yang seharusnya melaporkan wasiat ke Daftar Pusat Wasiat dan juga untuk akta wasiat yang dibuat dihadapan Notaris , Notaris harus membacakan akta tersebut didepan para saksi dan juga harus segera melapor akta wasiat itu pada instansi yang terkait dan juga pada Balai Harta Peninggalan.
Apabila dikaitkan dengan parameter orisinalitas penelitian seperti yang telah disebutkan oleh Estelle Philip diatas maka penelitian ini dapat menambah pengetahuan yang sebelumnya belum pernah dilakukan.
Thesis Mirza Muhammad dengan judul “Tanggungjawab Notaris dalam pelaksanaan pendaftaran akta wasiat secara online berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.” Penelitian ini menganalisis tentang beberapa notaris yang tidak mendaftarkan wasiat yang dibuatnya secara online. Contohnya saja seperti yang terjadi di daerah Kalimantan timur dan kota samarinda , bahwa sebagian besar notaris tidak mendaftarkan akta wasiatnya secara online. Padahal sesuai dengan regulasi terkait bahwa Notaris mempunyai
kewajiban untuk mengirim daftar akta kepada kementerian dalam hari kelima di minggu pertama dan dilakukan setiap bulannya.Tapi memang di dalam aturan jabatan notaris yang terbaru ini tidak menjelaskan secara spesifik terkait dengan denda dari tiap-tiap keterlambatan pelaporan wasiat dan juga pengiriman pencatatan repertorium tersebut.Padahal sudah jelas terdapat dalam Pasal 943 B.W bahwa notaris wajib memberitahukan wasiat tersebut kepada semua pihak yang berkepentingan didalamnya.6
Penelitian yang ditulis oleh Mirza Muhammad ini berbeda dengan penelitian penulis, dimana disini penulis melakukan penelitian tentang tanggung jawab Notaris yang tidak melaporkan wasiat yang dibuatnya ke Balai Harta Peninggalan tetapi sudah didaftarkan ke Daftar Pusat Wasiat, peneliti ingin mengkaji lebih dalam terkait dengan surat wasiat yang tidak didaftarkan ke Balai Harta Peninggalan apakah nantinya akan tetap sah di mata hukum atau tidak dan ingin mengetahui perlindungan hukum terhadap si penerima wasiat jika akta wasiatnya tidak didaftarkan. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Mirza Muhammad lebih menekankan pada tanggung jawab Notaris yang tidak mendaftarkan wasiat secara online.Apabila dikaitkan dengan parameter orisinalitas penelitian seperti yang telah disebutkan oleh Estelle Philip diatas maka penelitian ini “menambah pengetahuan yang belum pernah dilakukan sebelumnya”.
6 Mirza Muhammad , Tanggunggugat notaris dalam pelaksanaan pendaftaran akta wasiat secara online berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris, Tesis, Pogram studi Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum,Universitas Surabaya,
Thesis Clive Malvin Bayusuta yang berjudul “Peran Notaris dalam pembuatan Akta Wasiat ( Testeman ) di Denpasar”. Penelitian tersebut menganalisis tentang peranan seorang notaris dalam pembuatan akta hibah warisan ( testamen ) , serta mencari informasi tentang prosedur apa saja yang harus dipenuhi seorang Notaris dalam pembuatan akta hibah waris.7
Penelitian yang ditulis oleh Clive Malvin Bayusuta ini berbeda dengan penelitian penulis.dimana disini peneliti melakukan penelitian terkait dengan tanggung jawab seorang Notaris yang tidak melaporkan wasiat ke Balai Harta Peninggalan tetapi sudah didaftarkan ke Daftar Pusat Wasiat, peneliti ingin mengkaji lebih dalam terkait dengan surat wasiat yang tidak didaftarkan ke Balai Harta Peninggalan apakah nantinya akan tetap sah menurut hukum atau tidak dan ingin mengetahui bentuk dari perlindungan hukum terhadap si penerima wasiat jika akta wasiatnya oleh notaris tidak didaftarkan di Balai Harta Peninggalan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Clive Malvin Bayusuta ini lebih menekankan kepada peran seorang Notaris yang tidak memihak siapapun dan bersifat independen , tapi tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang notaris untuk memperhatikan kepentingan semua pihak yang terkait.
5. Tinjauan Pustaka
5.1 Teori Tanggung Jawab
7Clive Malvin Bayusuta, Peran Notaris dalam pembuatan Akta Wasiat ( Testeman ) di Denpasar, Tesis, Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Udayana, 2015.
Dalam teori Hans Kelsen terkait dengan tanggung jawab hukum , dia memaparkan bahwa setiap orang punya tanggungjawab secara hukum atas perbuatan tertentu , dalam hal ini berarti dia bertanggungjawab atas suatu sanksi dalam hal yang bertentangan.8Kemudian Hans Kelsen menjelaskan juga bahwa kekhilafan merupakan kegagalan dalam melakukan kehati-hatian yang diharuskan oleh hukum tersebut dan terkadang kekhilafan dianggap sebagai suatu jenis kesalahan.9
Terdapat dua istilah didalam kamus hukum terkait dengan pertanggungjawaban yang biasa disebut dengan liability dan responsibility.Liability sendiri merupakan suatu istilah hukum dengan cakupan
luas yang menunjuk hampir semua karakter resiko atau sebuah tanggungjawab.
Contohnya seperti kerugian , kejahatan , biaya ataupun kondisi yang mengharuskan atau menciptakan tugas untuk melaksanakan undang-undang.
Sementara Responsibility adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan dari suatu kewajiban termasuk keterampilan , kecakapan , kemampuan dan kewajiban untuk bertanggung jawab atas aturan perundang-undangan.
Untuk pengertian praktisnya ,liability menunjuk pada pertanggungjawaban secara hukum, yaitu tanggung gugat akibat kesalahan yang dilakukan subjek hukum, sementara responsibility terkait dengan pertanggungjawaban politik.10
Ada dua teori dari Kranenburg dan Vegtig terkait pertanggungjawaban
8Hans Kelsen (a), sebagaimana diterjemahkan oleh Somardi, General Theory Of lawand State , Teori Umum Hukum dan Negara, Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif Empirik,BEE Media Indonesia, Jakarta,2007, hlm. 81
9Ibid hlm.83
10Ridwan H.R. dalam Rusdianto Sesung et al., Hukum & Politik Hukum Jabatan Notaris, R.A.De.Rozarie, Surabaya, 2017, hlm. 35.
pejabat , yaitu :
a. Teori fautes personalles, yaitu pejabat wajib menanggung kerugian pihak ketiga atas tindakan pejabat itu sendiri yang dianggap merugikan.Teori ini menyatakan bahwa beban dari tanggung jawab itu dilimpahkan pada manusia itu sendiri selaku pribadi.
b. Teori fautes de service, yaitu bahwa pihak instansi dari pejabat yang terkait wajib dibebankan atas kerugian yang dialami pihak ketiga. Teori ini menjelaskan bahwa beban dari tanggung jawab itu dilimpahkan pada jabatan. Jadi penerapannya adalah kerugian yang timbul itu nantinya disesuaikan terlebih dahulu apakah kesalahan tersebut memang berat atau hanya kesalahan ringan saja, karena berat maupun ringannya suatu kesalahan sangat berimplikasi dan berdampak pada tanggung jawab yang akan ditanggung.11
5.2 Teori Jabatan Notaris
Teori jabatan ini sangat berkaitan dengan teori tanggung jawab hukum (Liability).Secara teori tradisional, ada dua macam tanggung jawab, yaitu pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan (based onfault) dan pertanggungjawaban mutlak (absolut responsibility).12Istilah dari jabatan, pejabat dan pejabat berkaitan dengan wewenang13, maka istilah dari jabatan, pejabat atau pejabat tersebut sebenarnya erat kaitannya dengan wewenang dari
11Ibid, hlm. 36.
12Jimly Asshiddiqie dan Ali Safa’at,Teori Hans Kelsen tentang Hukum, Konstitusi Press,Jakarta, 2006, hlm. 61.
13 Habib, Adjie, Sanksi Perdata & Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik , Refika Aditama, Bandung, 2013, hlm.15
masing-masing pejabat dan jabatan itu sendiri , hal ini dapat dilihat dari aturan hukum yang terkait.14
Jabatan sendiri termasuk sebagai subjek hukum ( persoon ) yaitu pendukung hak dan kewajiban. Dalam aturan Hukum Tata Negara , kekuasaan itu tidak diberikan pada seorang pejabat , tapi diberikan pada sebuah jabatan.
Karena subjek hukum atau pejabat itu bisa berganti-ganti , sementara jabatan itu terus – menerus. Contohnya seorang presiden yang lingkup pekerjaannya tetap dan dibutuhkan oleh suatu negara dan pemerintahan.Jabatan tersebut diisi ataupun dijabat oleh subjek hukum yang dipilih atau diangkat dalam waktu tertentu untuk menjalankan jabatan tersebut, sehingga subjek hukum ini dapat berganti-ganti demi menjalankan jabatan sebagai seorang presiden.15
Pejabat ialah orang yang dapat menjalankan hak dan kewajiban yang didukung oleh jabatan yang ia miliki. Ia sebagai pendukung hak dan kewajiban yang dapat menjamin sebuah jabatan , karena jabatan itu dapat berjalan apabila ada manusia atau subyek hukum yang menjalankannya yang disebut sebagai pejabat. Oleh karenanya suatu Jabatan tidak akan dapat berjalan jika Pejabatnya tidak ada. Segala tindakan yang dilakukan oleh Pejabat merupakan implementasi dari sebuah Jabatan.16
Akta sebagai alat bukti yang mempunyai kekuatan hukum mengikat, harus dibuat oleh Notaris sebagai pejabat yang berwenang. Notaris sendiri merupakan tangan kanan Negara , karena ia menjalankan tugas negara dalam
14 E.Utrecht,Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Balai buku Ichtiar, Djakarta, 1963, hlm. 122
15 Habib, Adjie, Op Cit, 2013, hlm.17
16 Bagir Manan, Teori dan Politik Konstitusi, FH UII Press, Yogyakarta ., 2004.
bidang hukum perdata. Dalam hal ini negara ingin memberikan perlindungan hukumnya kepada masyarakat dalam bidang hukum private yang diserahkan atau dilimpahkan sebagian wewenangnya kepada seorang Notaris yang mempunyai wewenang untuk membuat akta otentik.Dalam hal ini Notaris harus dianggap sebagai pejabat umum yang mengemban tugas.17
Dalam hal ini , notaris berperan mengakomodasi perbuatan hukum perdata yang dilakukan oleh masyarakat. Notaris pada dasarnya tidak mempunyai kedudukan pada lembaga kenegeraan , sehingga dianggap sebagai ahli yang tidak memihak pihak manapun dalam proses pembuatan akta otentik.
Akta yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang yang didalmnya diuraikan secara otentik suatu tindakan hukum yang dilakukan dan disaksikan oleh pejabat Umum yang selaku pembuat akta , maka akta notaris yang dibuat oleh Notaris mampu dan dapat dipertanggungjawabkan dan bisa melindungi pihak yang bersangkutan dalam melakukan suatu perbuatan hukum. Kekuatan akta otentik yang dibuat oleh notaris merupakan pembuktian sempurna bagi pihak yang terkait, maka jika salah satu pihak mengajukan keberatan, maka akta tersebut dapat dibuktikan di pengadilan.
Dalam uraian Pasal 1 Undang-undang Jabatan Notaris , dijelaskan bahwa Notaris merupakan :
a. Pejabat Umum
b. Berwenang Membuat Akta
17Dody Radjasa Waluyo, Kewenangan Notaris Selaku Pejabat Umum, Media Notariat (Menor) Edisi Oktober-Desember 2001, hlm. 63.
c. Otentik
d. Ditentukan Oleh Undang-Undang
Maka Openbare Ambtenaren dairtikan sebagai pejabat yang mempunyai tugas yang berkepentingan dengan public , sehingga tepat jika disebut sebagai pejabat public. Karena tugasnya membuat akta otentik yang melayani kepentingan public dan kualifikasi tersebut diberikan pada seorang Notaris.18
Jabatan Notaris dipandang sangat bermartabat, karena semua perbuatan maupun perilaku Notaris dalam menjalankan jabatannya harus sesuai dengan kode etik notaris.Notaris sendiri memiliki etika profesi yang merupakan etika moral yang dirancang khusus untuk kebaikan profesi yang bersangkutan.19 5.3 Konsep Wasiat
Testament dalam kamus hukum disebut sebagai Surat wasiat atau suatu akta yang berisi tentang pernyataan yang dikehendaki seseorang sebelum ia meninggal dunia , dalam hal ini biasanya terkait dengan Harta Peninggalan.
Dalam hal ini pernyataan kehendak terakhir maksudnya adalah pernyataan yang disampaikan secara sepihak oleh seseorang yang didalamnya terdapat suatu perbuatan hukum yang harus dilaksanakan yang mengandung suatu pembuatan pemindahan hak milik mengenai harta kekayaan dari si pembuat wasiat yang dituangkan dalam bentuk tertulis secara khusus .20
18Habib Adjie, Op Cit, hlm. 27.
19 Sidharta,Moralitas Profesi Hukum suatu Tawaran Kerangka Berpikir, Bandung, Refika Aditama, 2006, hlm., 9.
20 Hartono Soerjopratiknjo, Hukum Waris Testamenter, Seksi Notariat FH UGM,Yogyakarta, 1984, hlm. 18
Wasiat sendiri merupakan suatu keterangan yang disampaikan oleh seseorang yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah akta otentik yang dibuat oleh pejabat yang berwenang yaitu notaris. Surat wasiat sendiri mempunyai dua kualitas yaitu sebagai surat wasiat dan sebagai akta notaris yang otentik.21 6. Metode Penelitian
6.1. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang dipakai penulis adalah penelitian normatif , dimana penelitian ini berkaitan dengan sebuah proses untuk menemukan berbagai aturan hukum maupun prinsip-prinsip hukum serta doktrin-doktrin hukum untuk menjawab beberapa isu hukum yang saat ini sedang dihadapi.22
Peneliti menggunakan tipe penelitian normatif untuk menemukan suatu koherensi yaitu tentang aturan hukum saat ini apakah sudah sesuai dengan norma hukum dan apakah norma yang berisi perintah atau larangan tersebut sudah sesuai dengan prinsip hukum.23
6.2. Pendekatan Masalah
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua metode pendekatan masalah yaitu, diantaranya pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual.
1. Pendekatan Perundangan-Undangan (statute approach)
21GHS Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris,Erlangga,Jakarta, 2004, hlm. 165.
22Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2011 (selanjutnya disebut Peter Mahmud Marzuki I), hlm 35.
23Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum Edisi Revisi, Prenada Media Group, 2014 (selanjutnya disebut Peter Mahmud Marzuki II), hlm. 47.
Di penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan undang- undangan, karena suatu penelitian normatif harus menggunakan peraturan perundang-undangan , untuk menelaah semua regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani saat ini. 24 Pendekatan perundang- undangan ini diperlukan guna mengkaji lebih dalam terkait dengan apakah akta wasiat yang tidak didaftarkan oleh Notaris ke Balai Harta Peninggalan akan tetap sah menurut Hukum dan ingin mengkaji lebih dalam terkait dengan bentuk perlindungan hukum terhadap penerima wasiat jika wasiatnya tidak didaftarkan di Balai Harta Peninggalan.
2. Pendekatan Konseptual (conseptual approach)
Pendekatan konseptual bersumber dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum. Kemudian disini penulis akan menemukan ide-ide yang yang melahirkan pengertian- pengertian hukum, konsep-konsep hukum, dan asas-asas hukum yang relevan dengan isu yang sedang dihadapi.25
Pada pendekatan konseptual , akan dapat ditemukan konsep atau teori baru sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis apakah akta wasiat yang tidak didaftarkan oleh Notaris ke Balai Harta Peninggalan akan tetap sah menurut Hukum dan untuk menganalisis berntuk perlindungan hukum terhadap penerima wasiat yang wasiatnya tidak didaftarkan di Balai Harta Peninggalan.
24Ibid, hlm. 133.
25Ibid, hlm. 135-136.
Permasalahan tersebut kemudian akan dianalisis dengan konsep dan teori yang telah ada sebelumnya. Pada penelitian ini, teori dan konsep yang digunakan diantaranya adalah teori tanggungjawab, teori jabatan Notaris, konsep wasiat dan Konsep Balai Harta Peninggalan (BHP).
6.3. Sumber Bahan Hukum
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan sumber bahan hukum, diantaranya:
6.3.1.Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang sifatnya autoritatif, artinya bahan hukum ini mempunyai otoritas. Bahan- bahan dari hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang- undangan dan putusan-putusan hakim.26
Hukum primer yang akan digunakan pada penelitian penulis diantaranya:
a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
b. Undang-undang Nomor 2 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 30 tahun 2004 tentang jabatan Notaris.
6.3.2 Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder ini terkait dengan semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen
26Ibid, hlm. 181.
resmi.Publikasi ini meliputi buku-buku, teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan.27Di dalam penelitian penulis, bahan hukum sekunder yang digunakan meliputi buku-buku di bidang hukum, makalah- makalah, artikel-artikel, dan tesis.
6.4. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Studi Kepustakaan.Studi kepustakaan adalah suatu alat pengumpulan bahan hukum yang dilakukan melalui bahan hukum tertulis dengan mempergunakan content analysis.28 Sehingga teknik ini mempunyai manfaat untuk bisa mendapatkan landasan teori dengan mengkaji buku-buku, perundang-undangan , arsip dan hasil penelitian lainnya baik melalui media cetak ataupun
Prosedur pengumpulan bahan hukum pada penelitian ini adalah dengan mengumpulkan beberapa bahan hukum , baik itu primer maupun sekunder yang ada kaitannya dengan metode penelitian yang digunakan guna menjawab isu hukum. Pengumpulan bahan hukum oleh penulis dilakukan dengan membaca buku dan perundang-undangan yang telah dimiliki peneliti atau dengan meminjam buku diperpustakaan beberapa kampus yang berkaitan dengan isu yang akan dibahas.
6.5. Analisis Bahan Hukum
Peter Mahmud Marzuki pernah mengutip pendapat dari Philipus M.
27Ibid.
28Ibid , hlm .21.
Hadjon dan menjelaskan bahwa metode deduksi sebagaimana silogisme yang diajarkan Aristoteles itu berpangkal dari pengajuan premis mayor yang sifatnya umum , kemudian diajukan menjadi premis minor yang bersifat khusus.
Kemudian dari kedua premis tersebut ditariklah sebuah kesimpulan atau conclusion.29Maka dalam penelitian ini , penulis memakai analisis bahan hukum secara deduktif , karena akan menjelaskan suatu hal yang bersifat umum dan akan ditarik menjadi suatu hal yang bersifat khusus.
7. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan pada tesis ini, peneliti membagi menjadi empat bagian sebagai berikut:
Bab I, Berisi tentang Pendahuluan yang menguraikan latar belakang pemikiran dasar dari penulis mengenai fakta hukum yang melahirkan isu hukum yang akan diteliti. Isu hukum yang timbul dari fakta hukum tersebut kemudian dirumuskan ke dalam rumusan masalah. Dari rumusan masalah, timbul tujuan penelitian ini dilakukan dengan manfaat penelitian yang akan dirasakan bagi kepentingan akademis dan kepentingan praktisi.Kemudian diterangkan metode penelitian yang digunakan peneliti untuk menganalisis guna menentukan hasil penelitian. Setelah itu menjelaskan sistematika penulisan yang menjelaskan sub- bab dari penelitian yang akan ditulis oleh peneliti.
Bab II, Pembahasan atas rumusan masalah yang pertama yaitu terkait dengan Apakah akta wasiat yang tidak didaftarkan oleh Notaris ke Balai Harta Peninggalan sah menurut hukum
29 Peter Mahmud Marzuki II, op. cit., hlm 14.
Bab III, Pembahasan atas rumusan yang kedua yaitu terkait dengan Apa bentuk perlindungan hukum terhadap penerima wasiat yang akta wasiatnya tidak didaftarkan di Balai Harta Peninggalan
Bab IV, Penutup , yang terdiri dari simpulan atas pembahasan dari rumusan masalah pertama dan kedua, kemudian disebutkan pokok permasalahan dari penelitian yang diteliti demi kemajuan akademis dan praktis.