1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pajak mempunyai peran yang sangat penting dalam suatu Negara didalam perkembangan ekonomi. Pajak juga merupakan salah satu sumber penerimaan atau pendapatan suatu Negara yang sangat diharapkan dalam menunjang pembelanjaan dan pembangunan. Pemerintah akan terus meningkatan Penerimaan Negara dari sektor perpajakan dan akan terus menggali potensi pajak yang ada, salah satunya adalah pajak daerah. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2011 yang dimaksud Pajak Daerah yang selanjutnya disebut pajak adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat. Pemerintah daerah juga menilai pajak daerah sebagai salah satu sumber Penerimaan pajak terpenting yang bersumber dari daerah itu sendiri. Penerimaan pajak juga ada kaitannya dengan tingkat kepatuhan wajib pajak, dengan adanya kepatuhan dari wajib pajak maka akan meningkatkan juga Penerimaan pajak daerah.
Penerimaan Pajak Daerah merupakan suatu penerimaan dari pemungutan semua jenis pajak daerah dan juga merupakan sumber pendapatan daerah yang dapat digunakan oleh masing-masing daerah untuk menyelenggarakan kegiatan
pemerintahan dan pembangunan daerah sesuai dengan kepentingannya (Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2011). Salah satu faktor yang mempengaruhi Penerimaan pajak dan yang memberikan kontribusi atau sumbangan terbesar kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk penerimaan pajak daerah yaitu pajak hiburan.
Sesuai Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2011 Pajak hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan. Lebih lanjut dalam Perda tersebut dijelaskan bahwa Wajib pajak hiburan merupakan orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan hiburan. Hiburan sebagaimana dimaksud adalah tontonan film, pagelaran kesenian, musik, tari dan atau busana, kontes kecantikan, binaraga dan sejenisnya, pameran bersifat komersil, diskotik, karoke, klab malam, pub dan sejenisnya, sirkus, akrobat, sulap, permainan bilyar, golf driving, golf lapangan boling, pacuan kuda, kendaraan bermotor, permainan ketangkasan, panti pijat, refleksi, mandi uap/spa, pusat kebugaran (fitness centre), dan pertandingan olahraga. Tarif pajak hiburan bermacam- macam yaitu 7,5%, 10%, 15%, 25%, dan 35% tarif tersebut disesuaikan dengan jenis hiburannya. Selain pajak hiburan faktor lain yang mempengaruhi penerimaan pajak dan yang memberikan kontribusi atau sumbangan terbesar kepada Pemkot Bandung untuk penerimaan pajak daerah yaitu pajak restoran.
Sesuai Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2011 Pajak Restoran adalah pajak yang dipungut atau dikelola oleh pemerintah daerah dan pajak restoran dipungut pajak atas setiap pelayanan yang disediakan oleh restoran. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan penjualan makanan dan atau minuman yang dikonsumsi oleh pembeli baik dikonsumsi di tempat pelayanan maupun di tempat lain. Restoran
adalah fasilitas penyedia makanan atau minuman dengan dipungut bayaran yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin dan seejenisnya termasuk jasa boga atau katering. lebih lanjut dalam Peraturan Daerah (Perda) tersebut dijelaskan bahwa Wajib pajak restoran merupakan orang pribadi atau badan yang mengusahakan restoran. Selain pajak hiburan dan pajak restoran ada juga faktor lain yang mempengaruhi Penerimaan pajak dan yang memberikan kontribusi atau sumbangan terbesar kepada Pemkot Bandung untuk penerimaan pajak daerah yaitu pajak hotel.
Sesuai Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2011 Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan atau peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10. Lebih lanjut dalam Peraturan Daerah (Perda) tersebut dijelaskan bahwa Wajib pajak hotel merupakan orang pribadi atau badan yang mengusahakan hotel. Terdapat beberapa klasifikasi kelas hotel seperti hotel bintang 1 sampai dengan hotel bintang 5, hotel melati 1 sampai dengan hotel melati 3 dan losmen atau penginapan atau rumah kos. Untuk rumah kos yang dikenakan pajak yaitu rumah kos dengan jumlah kamar kos 11 (sebelas) kamar sampai dengan 20 (dua puluh) kamar atau diatas 20 (dua puluh) kamar kos.
Target dan relisasi penerimaan pajak hotel, pajak restoran dan pajak hiburan di Kota Bandung dari tahun ke tahun bersifat fluktuatif atau tidak menentu terkadang meningkat atau bahkan menurun. namun masih ada potensi pajak yang masih belum tergali. penerimaan pajak hotel, pajak restoran dan pajak hiburan
yang masih belum tergali tersebut dikarenakan masih ada wajib pajak hotel, pajak restoran dan pajak hiburan yang masih menunggak dalam pembayaran pajak.
Laporan target dan realisasi Penerimaaan Pajak Daerah kota Bandung dapat dilihat pada gambar I.1 berikut:
Sumber : Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah Kota Bandung
Gambar I.1
Grafik Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung Berdasarkan Gambar I.1 dapat dilihat bahwa Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung selama 3 tahun berturut- turut dari tahun 2014-2016 realisasinya tidak mencapai target yang telah dianggarkan. Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (BPPD) Kota Bandung mencatat bahwa di tahun 2014 target yang dianggarkan sebesar Rp 1.400.000.000.000 tetapi realisasinya hanya mencapai 99,96 % yaitu sebesar Rp 1.399.488.903.872. di tahun 2015 target yang dianggarkan sebesar Rp 1.598.000.000.000 tetapi realisasinya hanya 92,30% yaitu sebesar Rp
- 500.000.000.000 1.000.000.000.000 1.500.000.000.000 2.000.000.000.000 2.500.000.000.000
2012 2013 2014 2015 2016
Target Realisasi
1.474.922.011.948 dan di tahun 2016 target yang dianggarkan sebesar Rp 2.186.416.770.000 tetapi realisasinya hanya sebesar 78,15% yaitu sebesar Rp 1.708.773.753.658.
Salah satu faktor yang terindikasi mempengaruhi Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung adalah pajak hotel, Hal tersebut dibuktikan oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Walakandou (2013:5) yang menunjukkan bahwa pajak hotel memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap PAD di Kota Manado. Hal tersebut diperkuat kembali oleh penelitian Memah (2013:1) menunjukkan bahwa secara keseluruhan kontribusi pajak hotel tahun 2007-2011 memberikan kontribusi yang baik terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Manado.
Target dan realisasi penerimaan pajak hotel pada BPPD Kota Bandung selama lima tahun dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel I.1
Target dan Realisasi Pajak Hotel Periode 2012-2016
Pajak Hotel
Tahun Target Realisasi
2012 Rp99.000.000.000 Rp 142.732.317.105 2013 Rp148.000.000.000 Rp 177.489.473.250 2014 Rp202.850.000.000 Rp 204.152.062.826 2015 Rp260.000.000.000 Rp 215.285.361.236 2016 Rp260.000.000.000 Rp 274.728.642.717 Sumber: Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah
Berdasarkan tabel I.1 dapat diketahui bahwa penerimaan pajak hotel Kota Bandung selama lima tahun rata rata mencapai target hanya saja di tahun 2015 tidak mencapai target, target yang dianggarkan sebesar Rp 260.000.000.000 tetapi realisasinya hanya mencapai 82,80 % yaitu sebesar Rp 215.285.361.236.
Faktor lain yang terindikasi mempengaruhi Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung adalah pajak Restoran. Hal tersebut dibuktikan oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rizqiyah (2013:3-4) menunjukkan bahwa pajak restoran berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Semarang. Hal tersebut diperkuat kembali oleh penelitian Dotulong, dkk (2014:14) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa pajak restoran berdasarkan perhitungan efektivitas pajak restoran Kabupaten Minahasa Utara di ketahui bahwa efektivitas pajak restoran tidak efektif dan belum tercapai secara optimal.
Target dan realisasi penerimaan pajak restoran pada BPPD Kota Bandung selama lima tahun dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel I.2
Target dan Realisasi Pajak Restoran Periode 2012-2016
Pajak Restoran
Tahun Target Realisasi
2012 Rp 78.000.000.000 Rp 97.356.787.188 2013 Rp 102.000.000.000 Rp 118.701.153.436 2014 Rp 140.000.000.000 Rp 142.399.711.301 2015 Rp 170.000.000.000 Rp 181.401.845.806 2016 Rp 235.000.000.000 Rp 241.571.411.389 Sumber:Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah
Berdasarkan tabel I.2 dapat diketahui bahwa penerimaan pajak restoran Kota Bandung selama lima tahun dari 2012-2016 rata-rata mencapai target yang telah dianggarkan.
Faktor lainnya juga yang terindikasi mempengaruhi Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung adalah pajak hiburan. Hal tersebut dibuktikan oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rame dan I. Gusti (2013:5-6) menunjukkan bahwa Penerimaaan pajak hiburan berpengaruh positif dan signifikan terhadap
Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Badung tahun 2001-2010. Hal tersebut diperkuat kembali oleh penelitian Putri, dkk (2014:4) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa pajak hiburan berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Malang.
Target dan realisasi penerimaan pajak restoran pada BPPD Kota Bandung selama lima tahun dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel I.3
Target dan Realisasi Pajak Hiburan Periode 2012-2016
Pajak Hiburan
Tahun Target Realisasi
2012 Rp 30.000.000.000 Rp 34.553.186.144 2013 Rp 35.500.000.000 Rp 37.767.188.531 2014 Rp 45.000.000.000 Rp 40.730.151.211 2015 Rp 60.000.000.000 Rp 50.125.679.231 2016 Rp 68.000.000.000 Rp 69.804.283.446 Sumber:Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah
Berdasarkan tabel I.3 dapat diketahui bahwa penerimaan pajak hiburan Kota Bandung selama lima tahun dari 2012-2016 fluktuatif. Pada dua tahun tersebut yaitu tahun 2014 dan tahun 2015 pajak hiburan Kota Bandung tidak mencapai target. BPPD Kota Bandung menargetkan pajak hiburan tahun 2014 sebesar Rp 45.000.000.000 akan tetapi realisasiya hanya 90,51% yaitu sebesar Rp 40.730.151.211 dan tahun 2015 menargetkan Rp 60.000.000.000 akan tetapi realisasinya hanya mencapai 83,54% yaitu sebesar Rp 50.125.679.231.
Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (BPPD) Kota Bandung merupakan sebuah kantor pemerintahan yang mengelola semua jenis pajak daerah. Menurut Undang-Undang dan Perda serta berdasarkan potensi yang ada terdapat sembilan mata pajak yang dikelola oleh BPPD Kota Bandung terdiri dari Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Parkir,
Pajak Air Tanah, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, Pajak Bumi dan Bangunan. Dari Sembilan mata pajak daerah tersebut pajak hotel, pajak restoran dan pajak hiburan merupakan jenis sektor pajak daerah yang sangat potensial bagi Penerimaan pajak daerah. meskipun penerimaan pajak hotel, pajak restoran dan pajak hiburan memberikan kontribusi terhadap penerimaan pajak yang relative kecil, namun pajak hotel, pajak restoran dan pajak hiburan merupakan sumber penerimaan yang potensial bagi daerah.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul
“
Pengaruh Penerimaan Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Pajak Hiburan Terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung”1.2. Identifikasi dan Rumusan Masalah 1.2.1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis mengidentifikasi masalah yaitu sebagai berikut:
1. Penerimaaan Pajak Hotel di Kota Bandung rata-rata meningkat setiap tahunnya.
2. Penerimaaan Pajak Restoran di Kota Bandung meningkat setiap tahunnya.
3. Pajak Hiburan di Kota Bandung cenderung bersifat fluktuatif setiap tahunnya.
4. Penerimaan pajak daerah di Kota Bandung rata-rata meningkat setiap tahunnya.
1.2.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis merumuskan masalah yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana penerimaan pajak hotel di Kota Bandung?
2. Bagaimana penerimaan pajak restoran di Kota Bandung?
3. Bagaimana penerimaan pajak hiburan di Kota Bandung?
4. Bagaimana penerimaan pajak daerah di Kota Bandung?
5. Seberapa besar pengaruh pajak hotel terhadap penerimaan pajak daerah di Kota Bandung secara parsial?
6. Seberapa besar pengaruh pajak restoran terhadap penerimaan pajak daerah di Kota Bandung secara parsial?
7. Seberapa besar pengaruh pajak hiburan terhadap penerimaan Pajak Daerah di Kota Bandung secara parsial?
8. Seberapa besar pengaruh pajak hotel, pajak restoran dan pajak hiburan terhadap penerimaan pajak daerah di Kota Bandung secara simultan?
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1. Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah adalah untuk mengungkapkan seberapa besar pengaruh Penerimaan pajak hotel, pajak restoran dan pajak hiburan terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung dan untuk memenuhi salah satu persyaratan kelulusan program Sarjana Universitas BSI Bandung.
1.3.2. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui penerimaan pajak hotel di Kota Bandung 2. Mengetahui penerimaan pajak restoran di Kota Bandung 3. Mengetahui penerimaan pajak hiburan di Kota Bandung 4. Mengetahui penerimaan pajak daerah di Kota Bandung
5. Mengetahui seberapa besar pengaruh pajak hotel terhadap penerimaan pajak daerah di Kota Bandung secara parsial
6. Mengetahui seberapa besar pengaruh pajak restoran terhadap penerimaan pajak daerah di Kota Bandung secara parsial
7. Mengetahui seberapa besar pengaruh pajak hiburan terhadap penerimaan pajak daerah di Kota Bandung secara parsial
8. Mengetahui seberapa besar pengaruh pajak hotel, pajak restoran dan pajak hiburan terhadap penerimaan pajak daerah di Kota Bandung secara simultan
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Akademis
Secara akademis diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan ilmu pengetahuan akuntansi khusunya akuntansi pajak mengenai pajak daerah dan akuntansi sektor dan dapat dijadikan bahan informasi dan referensi untuk penelitian yang akan datang
1.4.2. Manfaat Praktis 1. Bagi Instansi
Penelitian ini dapat memberikan masukan, bahan referensi di perpustakan, dan dapat dijadikan bahan penilaian dan pedoman bagi pihak pihak yang berkepentingan
2. Bagi Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan solusi dari masalah yang terjadi dalam suatu kantor pemerintahan tersebut dan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengelolaan pajak daerah agar dapat meningkatkan Penerimaan Pajak Daerah
3. Bagi Penulis
Penelitian ini memberikan manfaat bagi penulis yaitu untuk menambah wawasan pengetahuan serta mengetahui dan memahami bagaimana pelaksanaan tentang pajak daerah Kota Bandung khususnya pajak hotel, pajak restoran dan pajak hiburan
4. Bagi Penelitian Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi guna memiliki pengetahuan yang lebih luas dan dapat dijadikan bahan referensi bagi mahasiswa yang kelak membutuhkan informasi mengenai pajak daerah.