• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1

A. Latar Belakang

Usia lanjut adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Anggreani N,.11 Johani D.

N., 2019).

Lanjut usia dikelompokkan menjadi tiga yaitu usia 70-75 tahun (young old); usia 75-80 tahun (old); usia lebih dari 80 tahun (very old). Menurut organisasi kesehatan dunia, World Health Organization seseorang disebut lanjut usia (elderly) jika berumur 60-74 tahun (Anggreani N,.11 Johani D. N., 2019). Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ka atas, berdasarkan Undang-Undang No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan

(2)

Lanjut Usia (Zaenurrohman D.H., Riris D.R., 2017). Menurut peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 43 tahun 2004, lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Kementrian Kesehatan RI, 2017). Dari tiga teori di atas dapat disimpulkan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ka atas, dengan fase menurunnya kemampu1an akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Menurut World Health Organization tahun 2016, tahun 2015 dan 2050, proporsi lansia di dunia diperkirakan hampir dua kali lipat dari sekitar 12% sampai 22% (Pragholapati A., Fitri M., 2020).

Menurut World Health Organizationtahun 2016, secara absolut proporsi lansia di dunia terdapat peningkatan dari 900 juta sampai 2 miliar jumlah orang lansia pada tahun 2015-2050, diperkirakan hampir dua kali lipat dari sekitar 12% sampai 22% peningkatannya. Peningkatan tersebut menurut World Health Organization tahun 2016, di mulai dari tahun 2015 hingga 2050 kedepan (Fazriana E., Maria R.D.L., 2021).

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016 jumlah penduduk lansia Indonesia pada tahun 2010 mencapai 18 Juta (7,56%) dan diperkirakan pada tahun 2035 akan mencapai 48 Juta (15, 77%). Jumlah penduduk lansia di Indonesia tersebar di seluruh provinsi dengan 10 urutan provinsi terbanyak sebagai berikut DIY Yogyakarta (13.69%), Jawa tengah (12,09%), Jawa Timur (11,8%), Bali (11,2%), Sumatera Utara (10%), Sumatera Selatan (9%), Sumatera Barat (9%), Jawa Barat (8%), Lampung (8%) dan NTB (7,8%). Populasi lansia

(3)

Jawa Barat tahun 2015 sebanyak 3.790.351 jiwa dan Menurut data Dinkes Kota Bandung tahun 2015, populasi lansia Kota Bandung sebanyak 185.426 jiwa (Fazriana E., Maria R.D.L., 2021). Pada populasi lansia yang semakin meningkat setiap tahunnya terjadi beberapa keluhan pada kesehatan lansia.

Keluhan kesehatan tidak selalu mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari, namun terjadinya keluhan kesehatan dan jenis keluhan yang dialami oleh penduduk dapat menggambarkan tingkat/derajat kesehatan secara kasar (Zaenurrohman D.H., Riris D.R., 2017). Penduduk lansia secara fisiologis akan mengalami proses penuaan secara terus menerus, dengan ditandai menurunnya daya tahan fisik sehingga rentan terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Keadaan ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Penurunan fungsi ini mengakibatkan munculnya berbagai macam masalah gangguan kesehatan lansia terutama penyakit degeneratif seperti penyakit tidak menular, serta rentan terhadap infeksi (Fazriana E., Maria R.D.L., 2021). Kemunduran fungsi organ tubuh khususnya pada lansia menyebabkan kelompok ini rawan terhadap serangan berbagai penyakit kronis, seperti diabetes melitus, stroke, gagal ginjal, kanker, hipertensi, dan jantung (Zaenurrohman D.H., Riris D.R., 2017).

Adapun jenis keluhan kesehatan yang paling banyak dialami lansia adalah keluhan lainnya, yaitu jenis keluhan kesehatan yang secara khusus memang diderita lansia seperti asam urat, darah tinggi, darah rendah, reumatik, diabetes, dan berbagai jenis penyakit kronis lainnya (Zaenurrohman

(4)

D.H., Riris D.R., 2017). Menurut dataWorld Health Organization, di seluruh dunia sekitar 972 juta orang atau 26,4% orang di seluruh dunia mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di negara berkembang, termasuk Indonesia (Zaenurrohman D.H., Riris D.R., 2017). Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 penyakit tertinggi yang diderita lansia usia 55-64 tahun adalah hipertensi dengan prevalensi 55,2%.

Hipertensi merupakan salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM).

Hipertensi adalah kondisi tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Hipertensi juga sering disebut sebagai “silent killer” karena karakter dari penyakit hipertensi tidak menampakan tanda dan gejala yang jelas. Hipertensi bisa menyerang siapa saja baik laki-laki maupun perempuan usia 30-60 tahun (Inda G.L., Nur I, 2018). Hipertensi merupakan penyakit tertinggi yang terjadi pada usia 55-64 tahun di Jawa Barat (21, 26%) (Kemenkes RI, 2018).

Prevalensi hipertensi di kabupaten Bandung menduduki peringkat ke-3 (11,54) setelah kota Sukabumi (12, 53%) dan Kota Bandung (11, 71) (Kemenkes, 2019). Penyakit hipertensi dapat menyebabkan berbagai komplikasi (Zaenurrohman D.H., Riris D.R., 2017).

Komplikasi hipertensi menyebabkan sekitar 9,4 kematian di seluruh dunia setiap tahunnya. Hipertensi menyebabkan setidaknya 45% kematian karena penyakit jantung dan 51% kematian karena penyakit stroke. Kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler, terutama penyakit jantung

(5)

koroner dan stroke diperkirakan akan terus meningkat mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030 (Zaenurrohman D.H., Riris D.R., 2017). Tingginya angka komplikasi pada hipertensi akibat dari penanganan yang tidak efektif atau tidak terkontrol, yang terkait erat dengan perilaku lansia dalam penanganannya (Zulfitri R, 2010).

Hipertensi dapat dicegah dan dikontrol dengan membudayakan perilaku hidup sehat dan terapi farmakologi. Perilaku hidup sehat antara lain seperti mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisi dengan unsur kaya serat, rendah lemak dan rendah natrium (kurang dari 6 gr natrium perhari), berolahraga secara teratur, istirahat yang cukup, berpikir positif, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi alkohol karena rokok dan alkohol dapat meningkatkan resiko hipertensi. Terapi farmakologi dilakukan untuk menurunkan angka morbiditas (jumlah individu yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu) dan mortalitas (jumah kematian akibat penyakit tertentu) bagi para penyakit hipertensi, pemberian terapi farmakologi dilakukan dengan memberikan dosis yang sangat rendah perlahan dan meningkat dengan perlahan sesuai keadaan pasien (Azwar, 2021). Namun kurangnya pengetahuan masyarakat yang memadai tentang hipertensi dan pencegahannya cenderung meningkatkan angka kejadian hipertensi.

Salah satu cara untuk menanggulangi masalah kesehatan adalah dengan pencegahan terjadinya hipertensi bagi masyarakat secara umum dan pencegahan kekambuhan pada penderita hipertensi pada khususnya.

(6)

Pencegahan kekambuhan ataupun pengendalian hipertensi perlu dilakukan oleh semua penderita hipertensi agar tidak terjadi peningkatan tekanan darah yang lebih parah. Tetapi sayangnya tidak semua penderita hipertensi dapat melakukan pengendalian terhadap penyakitnya. Hal ini disebabkan karena tingkat pengetahuan penderita hipertensi tentang pengendalian penyakitnya tidaklah sama (Daeli F.S., 2017).

Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Menurut teori WHO (World Health Organization) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007), salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri (Anggreani N, 2019). Mengenai pengalaman sendiri untuk memperoleh pengetahuan mengenai cara mengontrol hipertensi, lansia diberikan pelayanan kesehatan dengan upaya promotif yaitu serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat prmosi kesehatan dan preventif yaitu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan atau penyakit.

Bentuk pelayanan kesehatan santun lanjut usia yang diberikan di Puskesmas yaitu memberikan pelayanan yang baik, berkualitas dan berkesinambungan untuk dapat menjangkau sebanyak mungkin sasaran lansia yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas, melakukan koordinasi dengan lintas program dengan pendekatan siklus hidup dan melakukan kerjasama dengan lintas sektor, termasuk organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha dengan asas kemitraan.Kelompok lansia atau dikenal juga dengan sebutan

(7)

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lanjut Usia atau Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) adalah suatu wadah pelayanan kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) untuk melayani penduduk lansia dengan menitikberatkan pelayanan kesehatan pada upaya promotif dan preventif (Zaenurrohman D.H., Riris D.R., 2017).

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Puskesmas Babakan Surabaya, Puskesmas Babakan Surabaya menaungi 2 Kelurahan yaitu Babakan Surabaya dan Cicaheum. Pada data yang telah di peroleh, jumlah usia lanjut diatas 60 tahun di Babakan Surabaya terdapat 1.649 orang dan di Cicaheum terdapat 1.531 orang, serta usia lanjut beresiko tinggi di Babakan Surabaya terdapat 522 orang dan di Cicaheum terdapat 479 orang. Kelurahan Babakan Surabaya memiliki 15 RW, dengan data usia lanjut yang umur lebih dari 60 tahun keatas.

Tabel 1.1

Data Lansia > 60 Tahun Keatas di Kelurahan Babakan Surabaya

Jumlah RW Jumlah Lansia

RW 1 62 orang

RW 2 87 orang

RW 3 21 orang

RW 4 53 orang

RW 5 58 orang

RW 6 39 orang

RW 7 141 orang

RW 8 33 orang

RW 9 90 orang

RW 10 25 orang

RW 11 83 orang

(8)

RW 12 20 orang

RW 13 70 orang

RW 14 28 orang

RW 15 216 orang

Informasi yang diperoleh di POSBINDU wilayah RW 15 Kelurahan Babakan Surabaya tentang penyakit hipertensi yang diderita terdapat 31 lansia dengan jenis kelamin perempuan 8 orang dan laki-laki 23 orang, jumlah lansia di wilayah RW 15 Kelurahan Babakan Surabaya Kecamatan Kiacarondong Kota Bandung ada 216 lansia dengan perempuan 97 orang dan laki-laki 119 orang.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dilapangan pada tanggal 25 Maret 2021 di dapatkan informasi dari 5 lansia yang tinggal di wilayah RW 15 mengeluh sakit kepala, pusing, dan lemas. Dari ke lima lansia tersebut terdapat 3 lansia hanya dapat menyebutkan ikan asin sebagai makanan yang tidak boleh dikonsumsi dan menyebutkan bahwa obat hipertensi itu hanya di minum saat gejala muncul saja seperti pusing, jantung berdebar debar dan lemas, dari 5 lansia tersebut tidak mengetahui bahwa obat lansia merupakan obat seumur hidup dan berfungsi untuk menstabilkan serta mencegah kenikan tekanan darah. Populasi dalam penelitian adalah lansia umur lebih dari 60 tahun ke atas dengan riwayat hipertensi di RW 15 Babakan Surabaya Kiaracondong Kota Bandung.

Berdasarkan data di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Gambaran Tingkat Pengetahuan Lansia Mengenai Cara

(9)

Mengontrol Hipertensi di Wilayah RW 15 Kelurahan Babakan Surabaya Kecamatan Kiaracondong Kota Bandung”.

B. Identifikasi Masalah

Adapun yang menjadi identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah

“Bagaimana Gambaran Tingkat Pengetahuan Lansia Mengenai Cara Mengontrol Hipertensi di Wilayah RW 15 Kelurahan Babakan Surabaya Kecamatan Kiaracondong Kota Bandung?”.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Tingkat Pengetahuan Lansia Mengenai Cara Mengontrol Hipertensi di Wilayah RW 15 Kelurahan Babakan Surabaya Kecamatan Kiaracondong Kota Bandung

2. Tujuan khusus

Tujuan khusus penelitian ini untuk mengetahui :

a. Mengidentifikasi gambaran karakteristik lansia di RW 15 Kelurahan Babakan Surabaya Kecamatan Kiaracondong Kota Bandung

(10)

b. Mengidentifikasi pengetahuan lansia mengenai cara mengontrol hipertensi dengan Non Farmakologis

c. Mengidentifikasi pengetahuan lansia mengenai cara mengontrol hipertensi dengan Farmakologis

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Penelitian Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi Ilmu Keperawatan Gerontik dan Keperawatan Medikah Bedah, terutama dalam tingkat pengetahuan tentang peranan penting mengetahui cara mengontrol hipertensi pada lansia.

2. Manfaat Penelitian Secara Praktisi

a. Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan bagi mahasiswa lain, dan tambahan informasi pengetahuan Ilmu Keperawatan Gerontik dan Keperawatan Medikah Bedah, terutama dalam tingkat pengetahuan tentang peranan penting mengetahui cara mengontrol hipertensi pada lansia.

b. Bagi Perawat

(11)

Diharapkan dapat memberikan masukan dalam penyusunan rencana penyuluhan atau pemberian asuhan keperawatan pada lansia tentang cara mengontrol hipertensi.

c. Bagi Puskesmas

Sebagai bahan pemikiran dan masukan, terutama bagi petugas puskesmas untuk dapat memberikan konseling dan penyuluhan tentang mengontrol hipertensi pada lansia di wilayah RW 15 Kelurahan Babakan Surabaya.

d. Bagi Lansia

Diharapkan dapat memahami, mematuhi serta melaksanakan tatalaksana cara mengontrol hipertensi.

e. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan kajian awal dan tambahan referensi dalam pelaksanaan penelitian selanjutnya mengenai cara mengontroll hipertensi.

E. Ruang Lingkup Penelitian 1. Ruang Lingkup Keilmuan

Ruang lingkup penelitian ini yaitu Keperawatan Gerontik dan Keperawatan Medikal Bedah

(12)

2. Ruang Lingkup Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2021 di RW 15 Kelurahan Babakan Surabaya Kecamatan Kiaracondong Kota Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil angket mengenai dampak pola perlakuan overprotection terlalu melindungi orang tua pada perilaku remaja di RW 02 Kelurahan Koto Lua Kecamatan Pauh Kota Padang terungkap

ASSEMBLY - 15th session Agenda item 12 IMO RESOLUTION A.62415 adopted on 19 November 1987 GUIDELINES ON TRAINING FOR THE PURPOSE OF LAUNCHING LIFEBOATS AND RESCUE BOATS FROM SHIPS