• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah Gizi di Indonesia masih sangat memerlukan perhatian khusus dalam penyelesaiannya. Pemantauan pertumbuhan merupakan salah satu kegiatan utama program perbaikan gizi, yang menitik beratkan pada upaya pencegahan dan peningkatan gizi anak.

Soekirman (2000) menyatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya kasus kurang gizi pada masyarakat karena tidak berfungsinya lembaga–

lembaga sosial dalam masyarakat seperti Posyandu. Penurunan aktivitas Posyandu tersebut berakibat pemantauan gizi pada anak dan ibu hamil terabaikan. Salah satu metode penilaian status gizi secara langsung yang paling popular dan dapat diterapkan untuk populasi dengan jumlah sampel besar adalah antropometri.

Optimalisasi kinerja kader posyandu melalui peningkatan keterampilan dan pengetahuan posyandu dalam pengukuran antropometri balita yang benar merupakan salah satu cara langkah agar pendeteksian dini status gizi balita dilakukan dengan tepat. Hasil pengukuran antropometri tidak hanya menjadi informasi bagi masyarakat (ibu) mengenai status gizi dan pertumbuhan anaknya, tetapi juga akan masuk ke dalam pelaporan terpadu puskesmas yang selanjutnya akan menjadi dasar kebijakan bagi pemerintah daerah dan pusat dalam menyelesaikan masalah gizi (Kemenkes, 2011b).

Perkembangan dan peningkatan mutu pelayanan posyandu sangat dipengaruhi oleh peran masyarakat diantaranya adalah kader posyandu, yang salah satunya sebagai perencana pelaksana dan pembina serta sebagai penyuluh untuk memotivasi masyarakat yang berperan serta dalam kegiatan posyandu di wilayahnya. Kemampuan kader dalam memberikan pelayanan kesehatan khususnya melakukan peengukuran antropometri sangat memengaruhi indentifikasi status gizi balita. Lemahnya penguasaan dan keterampilan akan menyebabkan pelaporan yang tidak akurat dalam penyusunan perencanaan program kesehatan selanjutnya. (Nursalam, 2010).

Penelitian Rahayu (2017) di Posyandu Kelurahan Karangasem Yogyakarta menunjukkan bahwa hampir separuh (45,8%) kader memiliki

(2)

2 pengetahuan yang kurang mengenai pengukuran antropometri. Dan juga 25%

kader memiliki keterampilan kurang dalam pengukuran antropometri.

Penelitian Gandaasri (2017) di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Pesanggrahan Jakarta Selatan diperoleh bahwa 100% kader tidak menimbang dengan akurat. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Petronela,dkk 2011, di Desa Pledo menyatakan tingkat presisi kader kurang sebanyak 53,1% dan tingkat akurasi kurang sebanyak 56% dilihat dari sata tersebut kualitas data hasil penimbangan oleh kader masih sangat rendah terutama dalam mengatur posisi bandul timbangan.Menurut data dasar baseline 2018 menunjukkan bahwa 18 kader dari 35 kader di desa Gedogwetan kecamatan Turen tidak terampil dalam melakukan penimbangan berat badan menggunakan baby scale, 27 kader dari 35 kader tidak terampil dalam melakukan pengukuran panjang badan bayi

Dari banyaknya kasus di atas maka perlu adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader agar upaya pendeteksian dini status gizi anak dapat terlaksana dengan baik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan Refreshing kader. Tujuan umum dari refreshing kader adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengukuran antropometri dan penilaian status gizi guna memberikan informasi status gizi balita yang benar dan sesuai standar usianya.

Berdasarkan Latar belakang tersebut maka diperlukan penelitian studi literatur untuk menganalisis sejauh mana Refreshing kader berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam pengukuran antropometri balita.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana Pengaruh Refreshing Kader terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Kader Posyandu dalam Pengukuran Antropometri Balita?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Mengalisis Pengaruh Refreshing Kader Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Keterampilan Kader Posyandu dalam Pengukuran Antropometri Balita.

(3)

3 2. Tujuan Khusus

a. Menguraikan Pengaruh Refreshing Kader terhadap Tingkat Pengetahuan Kader Posyandu dalam Pengukuran Antropometri.

b. Menguraikan Pengaruh Refreshing Kader terhadap Keterampilan Kader Posyandu dalam Pengukuran Antropometri.

c. Menganalisis Pengaruh Refreshing Kader terhadap Pengetahuan Kader Posyandu dalam Pengukuran Antropometri dengan berbagai metode.

d. Menganalisis Pengaruh Refreshing Kader terhadap Keterampilan Kader Posyandu dalam Pengukuran Antropometri dengan berbagai metode.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan untuk merencanakan program intervensi gizi dalam upaya peningkatan pegetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam melakukan pengukuran antropometri balita.

2. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memberikan ilmu pengetahuan tentang Pengaruh Refreshing Kader terhadap pengetahuan dan keterampilan kader posyandu mengenai dalam pengukuran antropometri balita.

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa inisiatif yang telah dilakukan, baik dalam tingkat internasional maupun tingkat nasional, seperti melakukan ratifikasi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sianipar dkk., (2009) didapatkan hasil bahwa sebanyak 63,2% sampel dari total 57 sampel mengalami gangguan menstruasi (siklus

Penerapan dari metode estimasi kesalahan Z 2 ini adalah untuk menunjukkan bagaimana mengestimasi presisi dari solusi elemen tersebut dan bagaimana merealisasikan presisi

Beberapa pegawai juga berpendapat tidak setuju terhadap pernyataan kurangnya komunikasi yang baik antar sesama pegawai dapat dilihat dari hasil survei sebesar 53%

Berdasarkan kondisi Pemilukada Kabupaten Cianjur Tahun 2011 yang dilaksanakan sebanyak dua kali karena terjadi pemungutan suara ulang di empat kecamatan dengan tingkat

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dani dkk (2011) di Fakultas Kedokteran Universitas Riau, menemukan bahwa sebanyak 25% mahasiswa kedokteran yang sedang

Menurut Joko Prayerno Susanto dkk 2017 limbah kelapa sawit yang dihasilkan dalam pengolahan sebanyak 35-40% dari total tandan buah segar TBS, dalam bentuk tandan buah kosong, serat,

Penggunaan gadget dengan jarak kurang dari 30 cm dapat meningkatkan risiko 3 kali lipat terjadinya kelainan refraksi Lestari dkk., 2020 Sehubungan dengan perubahan aktivitas anak di