• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
fadila helmi

Academic year: 2024

Membagikan " BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, semakin banyak dan berkembang jumlah tenaga kesehatan di Indonesia, pun tak sebanding dengan jumlah penduduk indonesia yang kian hari kian terpuruk masalah kesehatan. Tak ayal tak sedikit tenaga kesehatan yang melalaikan tugasnya sebagai manamestinya malah menjerumuskan masyarakat yang awam akan pengobatan medis modern. Banyaknya kasus mall praktik akibat kelalaian dengan sengaja maupun tidak sengaja berpengaruh dengan tingkat pengetahuan masyarakat akan pengobatan medis masa kini. Dengan hanya mempercayai dokter atau bidan (tenaga medis lain) terkadang hanya bisa menurut apa yang dikatakan tanpa tahu apa yang dilakukan.

Makalah Ini disusun agar kita sebagai calon Tenaga Kesehatan di masa yang akan datang tetap memegang teguh prinsip dan kode etik yang telah ditetapkan. Menjalankan profesi sesuai dengan Peraturan perundang-undangan yang sudah disahkan, sehingga tak akan ada yang akan mengesampingkan pentingnya Kode Etik Profesi dengan sagala aturan yang ada didalamnya.

2.1 Rumusan masalah

a) Apa itu Profesi Bidan dalam Tinjauan Fikih?

b) Apa Itu Hukum Ijarah?

c) Apa Itu Jasa Harus Halal

d) Apa Itu Haruskah Seagama Dalam Akada Ijarah e) Bekerja Bagi Wanita

f) Bidan di Zaman Nabi

(2)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Profesi Bidan Dalam Tinjauan Fikih

Agama dapat memberikan petunjuk/pedoman pada umat manusia dalam menjalani hidup meliputi seluruh aspek kehidupan. Selain itu agama juga dapat membantu umat manusia dalam memecahkan berbagai masalah hidup yang sedang dihadapi. Adapun aspek-aspek pendekatan melalui agama dalam memberikan pelayanan kebidanan dan kesehatan diantaranya :

1. Agama memberikan petunjuk kepada manusia untuk selalu menjaga kesehatannya

2. Agama memberikan dorongan batin dan moral yang mendasar dan melandasi cita-cita dan perilaku manusia dalam menjalani kehidupan yang bermanfaat baik bagi dirinya, keluarga, masyarakat serta bangsa.

3. Agama mengharuskan umat manusia untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam segala aktivitasnya

4. Agama dapat menghindarkan umat manusia dari segala hal- hal/perbuatan yang bertentangan dengan ajarannya.

Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting dan strategis terutama dalam penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan angka kesakitan dan kematian Bayi (AKB). Bidan memberikan pelayanan kebidanan yang berkesinambungan dan paripurna, berfokus pada aspek pencegahan, promosi dengan berlandaskan kemitraan dan pemberdayaan masyarakat bersama-sama dengan tenaga kesehatan lainnya untuk senantiasa siap melayani siapa saja yang membutuhkannya, kapan dan dimanapun dia berada. Untuk menjamin kualitas tersebut diperlukan suatu standar profesi sebagai

(3)

acuan untuk melakukan segala tindakan dan asuhan yang diberikan dalam seluruh aspek pengabdian profesinya kepada individu, keluarga dan masyarakat, baik dari aspek input, proses dan output.

Ada beberapa hambatan dalam penempatan bidan di desa antara lain:

1. Umur bidan relatif muda dan bukan dari desa sendiri.

2. Kesulitan menyesuaikan diri di tengah masyarakat.

3. Bidan bukan pegawai negeri sehingga tidak mempunyai penghasilan tetap.

4. Kemampuan desa untuk membangun Polindes masih terbatas sehingga banyak di antara bidan desa tidak mendapat dukungan sarana dari masyarakat.

5. Perkawinan bidan desa yang segera meningkatkan desa dan pindah mengikuti suami.

6. Pendidikan belum mencukupi untuk mampu mandiri sehingga bidan kurang berfungsi.

7. Karena berusia muda, bidan belum mendapat kepercayaan masyarakat sehingga orientasi kepada dukun masih dominan.

2.2 Hukum Ijarah

Secara sederhana, ijarah diartikan sebagai transaksi manfaat atau jasa dengan imbalan tertentu. Dalam Bahasa Arab ijarah berasal dari kata

َر َََجَأ, yang memiliki sinonim dengan: ي َرََْكَأ yang artinya: menyewakan, seperti dalam kalimah ءىَشلا َر ْجَأ (menyewakan sesuatu).

Ali Fikri mengartikan ijarah menurut bahasa dengan: ِةَعَفْنَملا ُعْيَب ْوَأُءا َرَكلا yang artinya: sewa-menyewa atau jual beli manfaat. Bila yang menjadi objek adalah transaksi manfaat atau jasa dari suatu benda, disebut ijarah al-‘ain atau sewa menyewa.

Seperti menyewa rumah untuk ditempati. Bila yang menjadi objek transaksi adalah manfaat atau jasa dari tenaga seseorang, disebut ijarah al-zimmah atau upah mengupah, seperti upah menjahit pakaian.

(4)

Pendapat yang sama juga juga disampaikan oleh Idris Ahmad dalam bukunya yang berjudul Fiqh Syafi’i, bahwa ijarah berarti upah- mengupah. Sedangkan Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnahnya, menjelaskan makna ijarah dengan sewa-menyewa. Ijarah baik dalam bentuk sewa menyewa maupun dalam bentuk upah mengupah itu merupakan muamalah yang telah disyari’atkan dalam Islam.

Dasar Hukum Ijarah

Hukum asal ijarah adalah mubah atau boleh, yaitu apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Islam. Berikut adalah beberapa dasar hukum yang membolehkan ijarah berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis Nabi.

1. QS. Ath-Thalaq ayat 6:

ّنُه َروُجُأ ّنُه ْوُتَائَف ْمُكَل َن ْعَض ْرَأ ْنإإَف Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya.

2. QS. Al-Qashash ayat 26 dan 27:

) ُنْيإمَ ْلا ّيإوَقْلا َت ْرَجْأَتْسإنَمَرْيَخ ّنإإ ُه ْرإجْئَتْسا إتَبَأَياَمُهاَد ْحإإ ْتَلاَق اَه ّىَتَنْبا ىَد ْحإإ َكَحإكْنُأ ْنَأ ُدْي إرُأ ْيّنإ َلاَق (26

ُ ااَءاَشْنإإ ْىإنُدإجَتَس َكْيَلَع ّقُشَأ ْنَأ ُدْي إرُأ اَم َو َكإدْنإع ْنإمَف ا ًرْشَع َتْمَمْتَأ ْنإإَف إجَجإح َيإناَمَث ىإنَرُجْأَت ْنَأ ىَلَع إنْيَت ) َنْيإحإلاّصلا َنإم

27 )

Salah seorang di antara kedua anak perempuan itu berkata: “Hai bapakku upahlah dia, sesungguhnya orang yang engkau upah itu adalah kuat dan terpercaya”. Si bapak ber-kata: “Saya bermaksud menikahkan engkau dengan salah seorang anak perempuanku dengan ketentuan kamu menjadi orang upahan saya selama delapan musim haji”.

3. Hadis Ibnu Abbas:

ُه َر ْجَأ َماّجُحْلا ىَط ْعَأ َو َمّلَس َو إهْيَلَع ُ اا ىّلَص ّيإبّنلا َمَجَت ْحإا :َلاَق اَمُهْنَع ُ اا َي إضَر ٍساّبَع إنْبا إنَع

(5)

Dari Ibnu Abbas r.a. Nabi saw. Berbekam dan beliau memberikan kepada tukang bekam itu upahnya. (HR. Al-Bukhari) 4. Hadis Ibnu ‘Umar

ّفإجَي نَأ َلْبَق ُهَر ْجَأَرْيإجَ ْلَأا ْوُطْعَأ :َمّلَس َو إهْيَلَع ُ اا ىّلَص إ اا ُل ْوُسَر َلاَق :َلاَق اَمُهْنَع ُ اا َي إضَرَرَمُع إنْبا إنَع َو

ُهُق َرَع.

Dari Ibnu ‘Umar r.a. ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: berikanlah kepada tenaga kerja itu upahnya sebelum keringatnya kering. (HR. Ibnu Majah).

2.3 Jasa Harus Halal

Halal (bahasa Arab: للح, translit. ḥalāl, har. 'diperbolehkan') adalah segala objek atau kegiatan yang diizinkan untuk digunakan atau dilaksanakan, dalam agama Islam dan ditujukan biasanya dalam konteks manusia. Istilah ini dalam kosakata sehari-hari lebih sering digunakan untuk menunjukkan makanan dan minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi menurut Islam, menurut jenis makanan dan cara memperolehnya. Pasangan halal adalah thayyib yang berarti 'baik'. Suatu makanan dan minuman tidak hanya halal, tetapi harus thayyib; apakah layak dikonsumsi atau tidak, atau bermanfaatkah bagi kesehatan. Lawan halal adalah haram.

Halal sebagai salah satu dari lima hukum, yaitu: fardhu (wajib), mustahab (disarankan), halal (diperbolehkan), makruh (dibenci), haram (dilarang).

2.4. Segama Dalam Akad Ijarah

Dalam suatu perjanjian sewa-menyewa, penting untuk selalu memperhatikan syarat-syaratnya agar proses transaksi dapat terjalin secara sah. Berikut adalah syarat akad ijarah yang perlu Anda ketahui.

Pihak penyelenggara akad, baik penyewa maupun yang menyewakan tidak atas keterpaksaan. Kemudian, orang yang tidak sah melakukan akad ijarah adalah orang yang belum dewasa atau dalam keadaan tidak sadar.

(6)

Objek yang disewakan harus berwujud sama sesuai dengan realitas dan tidak dilebih-lebihkan, sehingga meminimalisir unsur penipuan.

Kegunaan dari objek yang disewakan merupakan sesuatu yang bersifat mubah (dibolehkan), bukan haram.

Pemberian imbalan atau upah dalam transaksi Ijarah harus berwujud sesuatu yang dapat memberikan keuntungan bagi pihak penyewa.

Dalam Akad Ijarah tidak harus seagama didalam melakukan akad ijarah yang dilakukan.

2.5. Bekerja Bagi Wanita

Zaman sekarang bekerja atau berkarir bagi sebagian wanita, sudah menjadi pilihan. Bahkan menjadi wanita karir adalah dambaan banyak muslimah saat ini. Wanita bekerja atau berkarir tujuannya adalah mencari nafkah keluarga, menyalurkan bakat, dan atau mengaplikasikan ilmu serta keahlian yang dimilikinya.

Ada sebuah diskursus dalam Islam yang sudah sejak dahulu sebenarnya dibahas, yaitu tentang boleh tidaknya wanita bekerja? Bagi sebagian muslim, ada anggapan tugas wanita adalah mengurus urusan rumah tangga. Artinya, kewajiban wanita adalah mengerjakan urusan domestik mulai dari memasak, mencuci, mengurus anak, dan lain-lain.

Bagi mereka, wanita tidak boleh bekerja di luar rumah. Kebutuhan wanita merupakan kewajiban laki-laki untuk memenuhinya. Lantas, benarkah wanita tidak boleh bekerja di luar rumah atau bahkan diharamkan?

Umumnya pembicaraannya menyatakan tentang boleh atau tidak, hanya berkisar pada dalil-dalil apa saja yang digunakan, baik bersumber dari Al- Qur’an atau Hadis dan bagaimana memahami keduanya. Nah, tahukah kalian bahwa di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun, kaum wanita tidak hanya melulu mengurus urusan rumah tangga dan berdiam di rumah-rumah mereka, banyak dari mereka yang aktif melakukan aktivitas lain di luar rumah. Bahkan hal itu telah menjadi

(7)

profesi mereka sehari-hari. Profesi yang memberikan kontribusi terhadap Islam dan ummat.

Berikut ini adalah beberapa profesi wanita pada masa Rasulullah dan sahabat:

1. Pebisnis, Khadijah binti Khuwalid, dialah istri tercinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Khadijah mampu membangun bisnis yang besar dan sukses. Bahkan, beliau menjadi wanita kaya raya dan merekrut banyak orang untuk berbisnis dengannya. Beliau kerap bepergian jauh. Hasil bisnisnya digunakan untuk menunjang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

2. Akademisi dan ulama, Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Salamah, istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang senantiasa mengajarkan hadis-hadis Rasulullah kepada para sahabat lainnya.

3. Perawat, Rufaida Al-Islamiyah. Ia merupakan seorang perawat muslimah yang ikut berjuang dengan para kepahlawanan kaum laki-laki dalam bidang medis.

4. Wirausaha, Zainab binti Jahsy. Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini juga merupakan seorang pebisnis. Ia merupakan seorang perempuan yang memiliki tangan kreatif dengan memproduksi kerajinan tangan. Pekerjaan itu menjadi salah satu profesi para perempuan di masa Nabi Muhammad Shallallahu

‘alaihi wasallam.

5. Petani, Asma binti Abu Bakar mengurusi kebun kurmanya untuk membantu perekonomian rumah tangganya bersama Az-Zubair bin Awwam.

6. Manajemen dan accounting, Syifa bin Abdullah bin Abd Syams.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab sampai sering diminta nasihatnya terkait masalah administrasi manajemen dan keuangan.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu

‘alaihi wasallam bersabda:

(8)

“Janganlah kamu mencegah perempuan-perempuan untuk pergi ke Masjid, sedangkan rumah mereka itu lebih baik bagi mereka”.(HR. Abu Daud. Berkata Hakim: “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.”)

Dalam hadis ini, Rasulullah bahkan melarang seseorang yang tidak membolehkan wanita sholat jamaah di Masjid. Di Masjid sudah pasti banyak orang laki-laki. Bahkan di Masjid Nabawi tidak ada hijab untuk memisahkan pria dan wanita. Sehingga tidak layaklah jika melarang wanita pergi ke Masjid, apalagi sampai bekerja di luar rumah. Tetapi yang paling utama dan mulia bagi wanita adalah rumah mereka.

Bagi wanita yang hendak bekerja di luar rumah, hendaklah menaati hal- hal berikut ini dalam rangka menggapai ridho dan taufik Allah SWT.

1. Seorang wanita bekerja di luar rumah apabila ada kebutuhan untuk itu, tanpa melalaikan tugas pokoknya dalam mengurus rumah tangga.

2. Wanita bekerja setelah mendapatkan ijin dari suami atau orang tuanya.

3. Wanita bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiat perempuan.

4. Wanita bekerja pada tempat kerja yang halal dan tayyib.

5. Menjaga adab dan akhlaknya sebagai wanita Muslimah 2.6. Bidan di Zaman Nabi

Jika kita menilik kembali sejarah, maka kita bisa menemukan beberapa Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki andil dalam dunia kesehatan.walaupun di saat itu belum ada yang benar- benar fokus menjadi dokter atau bidan, kemudian membuka praktek khusus dengan plang nama di rumah mereka. Berikut beberapa dari mereka yang memiliki andil dalam dunia kesehatan.

1.’Aisyah binti Abu Bakar radhiallahu ‘anha

‘Aisyah adalah sosok wanita yang cerdas. Kecerdasan beliau diakui oleh banyak para sahabat dan murid-murid beliau.

Az-Zuhri Berkata,

(9)

“Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah lebih utama.” (Siyar A’lam An-Nubala’ 2/185)

Atha’ berkata,

“Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.” (Siyar A’lam An-Nubala’ 2/185)

Kecerdasan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tercermin dari pintarnya ia juga dalam ilmu kedokteran yang membuat orang lain kagum, ia hanya sekedar mendengar dan menyaksikan tanpa ada yang mengajarkan secara langsung.

Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya yang berkata,

“Sungguh aku telah bertemu dengan Aisyah, maka aku tidak mendapatkan seorangpun yang lebih pintar darinya tentang Al Qur’an, hal-hal yang fardhu, sunnah, sya’ir, yang paling banyak meriwayatkan, sejarah Arab, ilmu nasab, ilmu ini, ilmu itu dan ilmu qhadi dan ilmu kedokteran, maka aku bertanya kepada beliau, “Wahai bibi, kepada siapa anda belajar tentang ilmu kedokteran?” Maka beliau menjawab, “Tatkala aku sakit, maka aku perhatikan gejala-gejalanya dan aku mendengar dari orang-orang menceritakan perihal sakitnya, kemudian aku menghafalnya.” ( Hilyatul Auliya’ 2/49)

Suatu saat Hisyam bin Urwah berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Wahai ibu (ummul mukminin), saya tidak heran/takjub engkau pintar ilmu fiqh karena engkau adalah Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anak Abu Bakar. Saya juga tidak heran/takjub engkau ointar ilmu Sya’ir dan sejarah manusia (Arab) karena engkau adalah anak Abu Bakar dan Abu bakar adalah manusia yang paling pandai (mengenai sya’ir dan sejarah Arab). Akan tetapi saya heran/takjub engkau pintar ilmu kedokteran, bagaimana dan darimana engkau mempelajarinya?

Kemudian ia memegang kedua pundakku dan berkata,

Setiap utusan kabilah yang datang dari berbagai penjuru yang datang untuk mengobati sakit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada akhir

(10)

hayatnya, maka aku mengamati/pelajari dari mereka dan aku mengobati dengan ilmu dari sana.” (Hilyatul Auliya’ 2/50)

Ibnu Abdil Barr Berkata,

“Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqih, ilmu kedokteran, dan ilmu syair.”

2. Ummu Kultsum bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma

Beliau pernah menjadi “bidan” membantu persalinan di masa khalifah Umar bin Khatthab radhillahu ‘anhu. Ya, tepatnya ketika beliau menemani sang suami yaitu khalifah Umar membantu rakyatnya, ketika itu khalifah Umar sedang melakukan kebiasaan rutinnya yaitu “ronda” pada malam hari melihat keadaan rakyatnya. Berikut kisahnya:

Suatu ketika Umar keluar pada malam hari seperti biasanya untuk mengawasi rakyatnya (inilah keadaan setiap pemimpin yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya dalam naungan daulah Islamiyah), beliau melewati suatu desa di Madinah. Tiba-tiba, beliau mendengar suara rintihan seorang wanita yang bersumber dari dalam sebuah gubuk. Di depan pintu, ada seorang laki-laki yang sedang duduk.

Umar mengucapkan salam kepadanya dan bertanya tentang apa yang terjadi. Laki-laki tersebut berkata bahwa dia adalah seorang Badui yang ingin mendapatkan kemurahan Amirul Mukminin. Umar bertanya tentang wanita di dalam gubuk yang beliau dengar rintihannya. Laki-laki tersebut tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah Amirul Mukminin, maka dia menjawab, “Pergilah Anda! Semoga Allah merahmati Anda sehingga mendapatkan hal yang Anda cari, dan janganlah Anda bertanya tentang sesuatu yang tak ada gunanya bagi Anda.”

Umar kembali mengulang-ulang pertanyaannya agar dia dapat membantu kesulitannya, jika mungkin. Laki-laki tersebut menjawab, “Dia adalah istriku yang hendak melahirkan dan tak ada seorang pun yang dapat membantunya.” Umar pergi meninggalkan laki-laki tersebut dan kembali ke rumah dengan segera.

(11)

Beliau masuk menemui istrinya, yakni Ummu Kultsumdan berkata,

“Apakah kamu ingin mendapatkan pahala yang akan Allah limpahkan kepadamu?” Beliau menjawab dalam keadaan penuh antusias dan berbahagia dengan kabar gembira tersebut yang mana beliau merasa mendapatkan kehormatan karenanya, “Apa wujud kebaikan dan pahala tersebut, wahai Umar?” Maka Umar memberitahukan kejadian yang beliau temui, kemudian Ummu Kultsum segera bangkit dan mengambil peralatan untuk membantu melahirkan dan kebutuhan bagi bayi, sedangkan Amirul Mukminin membawa kuali yang di dalamnya ada mentega dan makanan.

Beliau berangkat bersama istrinya hingga sampai ke gubuk tersebut.

Ummu Kultsum masuk ke dalam gubuk dan membantu ibu yang hendak melahirkan, dan beliau bekerja dengan semangat seorang bidan.

Sementara itu, Amirul Mukminin duduk-duduk bersama laki-laki tersebut di luar sambil memasak makanan yang beliau bawa. Tatkala istri laki-laki tadi melahirkan anaknya, Ummu Kultsum secara spontan berteriak dari dalam rumah, “Beritakan kabar gembira kepada temanmu, wahai Amirul Mukminin, bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya seorang anak laki-laki.” Hal itu membuat orang Badui tersebut terperanjat karena ternyata orang di sampingnya yang sedang memasak dan meniup api adalah Amirul Mukminin.

3. Rufaidah binti Sa’ad radhiallahu ‘anha

Beliau terkenal sebagai perawat muslim pertama dizaman rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Wanita berhati mulia ini bernama lengkap Rufaidah binti Sa’ad Bani Aslam Al-Khazraj. Beliau lahir di Yastrib dan tinggal di Madinah. Rufaidah termasuk kaum Anshar, yaitu golongan yang pertama kali menganut Islam di Madinah. Rufaidah mempelajari ilmu keperawatan saat ia bekerja membantu ayahnya yang berprofesi sebagai seorang dokter.

Rufaidah adalah perawat profesional pertama dimasa sejarah islam.

Beliau hidup di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di abad pertama Hijriah/abad ke-8 Sesudah Masehi, dan diilustrasikan

(12)

sebagai perawat teladan, baik dan bersifat empati. Rufaidah seorang pemimpin, organisatoris, mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain.

Dan digambarkan pula memiliki pengalaman klinik yang dapat ditularkan kepada perawat lain, yang dilatih dan bekerja dengannya. Dia tidak hanya melaksanakan peran perawat dalam aspek klinikal semata, namun juga melaksanakan peran komunitas dan memecahkan masalah sosial yang dapat mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit. Rufaidah adalah public health nurse dan social worker, yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam.

Ketika perang Badr, Uhud, Khandaq, dan perang khaibar, Rufaidah menjadi sukarelawan yang merawat korban terluka akibat perang.

Beberapa kelompok wanita dilatihnya untuk menjadi perawat. Dalam perang Khaibar, mereka minta ijin kepada Nabi Muhammad shallallahu

‘alaihi wa sallam , untuk ikut di garis belakang pertempuran agar dapat merawat mereka yang terluka, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengijinkannya. Ketika damai, Rufaidah membangun tenda di luar Masjid Nabawi untuk merawat kaum muslimin yang sakit. Kemudian berkembang, dan berdirilah Rumah Sakit lapangan yang terkenal saat perang dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan korban yang terluka dirawat olehnya. Tercatat pula dalam sejarah saat perang Ghazwat Al-Khandaq, Sa’ad bin Ma’adh yang terluka dan tertancap panah di tangannya, dirawat oleh Rufaidah hingga sembuh.

Beberapa wanita muslim yang terkenal sebagai perawat adalah :

• Ku’ayibat,

• Aminah binti Abi Qays Al-Ghifari,

• Ummu Atiyah Al-Ansariyat, dan

• Nusaibat binti Ka’ab Al-Maziniyat.

Litelatur lain menyebutkan beberapa nama yang terkenal menjadi perawat ketika masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat perang dan damai adalah :

• Rufaidah binti Sa’ad Al-Aslamiyyat,

(13)

• Aminah binti Qays Al-Ghifariyat,

• Ummu Atiyah Al-Anasaiyat,

• Nusaibat binti Ka’ab Al-Amziniyat,

• Zainab dari kaum Bani Awad yang ahli dalam penyakit dan bedah mata.

BAB III

(14)

PENUTUP A. Kesimpulan

Hukum kesehatan yang terkait dengan etika profesi dan pelanyanan kebidanan. Ada keterkaitan atau daerah bersinggunan antara pelanyanan kebidanan, etika dan hukum atau terdapat “grey area”.

Sebagaimana di ketahui bahwa bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan. Sebelum menginjak kehal – hal yang lebih jauh, kita perlu memahami beberapa konsep dasar dibawah ini :

1. Bidan adalah seorang yang telah menyelesaikan Program Pendidikan Bidan yang diakui Negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktek kebidanan di Negara itu.

Dia harus mampu memberikan supervise, asuhan dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hmil, persalinan dan masa pasca persalinan, memimpin persalianan atas tanggung jawab sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak.

2. Pekerjaan itu termaksud pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi orangtua dan meluas kedaerah tertentu dari ginekologi, KB dan Asuhan anak, Rumah Perawatan, dan tempat – tempat pelayanan lainnya (ICM 1990

B. Saran

Sikap etis profesional berarti bekerja sesuai dengan standar, melaksanakan advokasi, keadaan tersebut akan dapat memberi jaminan bagi keselamatan pasen, penghormatan terhadap hak-hak pasen, akan berdampak terhadap peningkatan kualitas asuhan kebidanan.

DAFTAR PUSTAKA

(15)

Ameln,F. 1991. Kapita Selekta Hukum Kedokteran. Grafikatama Jaya:

Jakarta.

Carol Taylor, Carol Lillies, Priscilla Le Mone. 1997. Fundamental Of Nursing Care. Third Edition. Lippicot Philadelpia: New York.

Dahlan, S. 2002. Hukum Kesehatan: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

http://hardinburuhi88.blogspot.com/2014/07/aspek-hukum-dalam-praktik- kebidanan.html

(http://drampera.blogspot.com/2011/06/hukum-kesehatan.html)

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dikuatkan dengan riwayat yang dikeluarkan Ibn Mardawaih dari Abi Hurairah, ia berkata: “ Rasulullah SAW berkata: “Tidaklah orang Yahudi bertemu dengan

Abd bin Humaid bahwa ibnu Rafi’ berkata menceritakan kepada kami Abd Razzaq: memberitakan pada kami Mu’ammar dari al Zuhri dari Ibnu al Musayyab dan Abi Salamah dari

ada beberapa judul drama Korea yang menceritakan tentang penindasan terhadap kaum perempuan, dimana pemeran utama perempuan digambarkan sebagai sosok yang ceroboh, tidak pintar

Usaha pendidikan yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk mengembangkan kemanidirian menjadi sangat penting karena selain problema remaja dalam bentuk perilaku

bersabda: “Dia mati dalam keadaan sebagai seorang pejuang sejati.” Ibnu Syihab berkata: “Kemudian aku bertanya kepada anak lelaki Salamah bin al-Akwa’, dia menceritakan kepadaku,

Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Siti Aisyah terkait pengaruh budaya Korean populer di media sosial terhadap perilaku keagamaan Islam remaja, diperoleh

Ketentuan Pasal 1 ayat (1) RUU KUHP Tahun 2008 menyebutkan asas legalitas dengan redaksional sebagai, “Tiada seorangpun dapat dipidana atau dikenakan tindakan, kecuali perbuatan

Barang siapa yang meminjamnya dan dia tidak ingin membayarnya, maka Allah akan menghilangkan harta tersebut darinya.” HR Al-Bukhaari Berdasarkan pemaparan diatas, maka peneliti