• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II Demografi Laporan Tutorial

N/A
N/A
Ahmad Berezky

Academic year: 2024

Membagikan "BAB II Demografi Laporan Tutorial"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II PEMBAHASAN A. Sasaran Belajar

a. Konsep Dasar Kependudukan

b. Konsep dan Implikasi Bonus Demografi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bonus di definisikan sebaga upah tambahan di luar gaji atau upah sebagai hadiah atau perangsang gaji/upah. Yang pelu digaris bawahi mengenai definisi ini adalah tambahan atau hadiah.Kalau kita mendapat tambahan atau upah atau hadiah berarti merupakan suatu keuntungan bagi kita (Dewi, Listyowati & Napitupulu 2018).

Bonus Demografi merupakan fenomena peradaban kependudukan suatu negara di mana, terjadi ledakan jumlah penduduk usia produktif yang dapat menjadi modal dasar dalam pembangunan. Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia bagaimana penanganan Bonus Demografi ini sebab apabila tidak ditangani dengan baik akan menmbulkan kerugian besar bagi Indonesia, dengan demikian Bonus Demografi harus mendapat penanganan yang baik dan komprehensif agar tidak menimbulkan bencana di kemudian hari. ledakan jumlah penduduk akan berimbas pada segala aspek lain dalam berbagai bidang yaitu kependudukan, kesehatan, kesejahteraan, perekonomian, dan lain-lain (Achmad & Sutikno 2020).

1. Pengertian Bonus Demografi

Perubahan struktur umur penduduk dan menurunnya beban ketergantungan memberikan peluang yang disebut bonus demografi. Bonus demografi dikaitkan dengan munculnya suatu kesempatan yang disebut dengan jendela peluang (windows of opportunity) yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Bappenas pada tahun 2017 perkiraan pada tahun 2030-2040,

(2)

Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yaitu jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa (Aji Setiawan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan & Keuangan 2018).

Bonus demografi terjadi pada saat Dependency Ratio pada titik/angka terendah yaitu dibawah 50, yang artinya setiap 100 orang/penduduk usia produksi hanya menanggung kurang dari 50 orang/penduduk usia non produktif. Untuk mencapai Bonus Demografi suatu negara memerlukan waktu yang cukup panjang.

Adanya perubahan struktur penduduk yang mnyebabkan jumlah penduduk usia produktif menjadi jauh lebih banyak daripada jumlah penduduk usia non produktif . Bonus demografi merupakan kesempatan langka yang dialami suatu negara, karena hanya akan terjadi 1 kali atau 2 kali dalam sejarah perjalanan penduduk (Dewi et al. 2018).

2. Implikasi Bonus Demografi pada Ekonomi

Bonus Demografi ini tentu akan membawa dampak sosial- ekonomi. Salah satunya menyebabkan tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk nonproduktif akan sangat rendah, diperkirakan mencapai 44 per 100 penduduk produktif. Hal ini sejalan dengan laporan PBB, yang menyatakan bahwa dibandingkan dengan negara Asia lainnya (Achmad & Sutikno 2020).

Mason (2001), dalam Adioetomo (2005) yang dimaksud dengan bonus demografi adalah keuntungan ekonomi yang disebabkan penurunan rasio ketergantungan sebagai proses penurunan fertilitas jangka panjang. Transisi demografi tersebut menurunkan proporsi penduduk umur muda dan meningkatkan proporsi

(3)

penduduk usia kerja, dan ini menjelaskan hubungan pertumbuhan penduduk dengan pertumbuhan ekonomi. Lebih jauh dikatakan bahwa penurunan proporsi penduduk muda mengurangi besarnya biaya investasi untuk pemenuhan kebutuhannya, sehingga sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan keluarga (Hermawan 2019).

Konsekuensi dari transisi demografi tersebut, di mana jumlah penduduk produktif meningkat lebih banyak dibandingkan penduduk yang tidak produktif memberikan implikasi pada keuntungan ekonomi. Karena ketika beban ketergantungan sangat rendah, terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja yang apabila semuanya terserap dalam kesempatan kerja yang tersedia maka akan meningkatkan total output yang diperoleh. Dengan semua penduduk usia kerja bekerja, maka akan terjadi akumulasi yang lebih besar karena semua tenaga kerja yang bekerja mampu memperbesar tabungan mereka. Tabungan ini akan lebih bermakna jika diinvestasikan untuk kegiatan yang produktif.

Selain itu tenaga kerja yang besar ini dapat ditingkatkan kualitasnya melalui kebijakan investasi yang khusus (Hermawan 2019).

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator makro untuk melihat kinerja perekonomian secara riil di suatu wilayah.

Laju pertumbuhan ekonomi dihitung berdasarkan perubahan PDRB atas dasar harga konstan tahun yang bersangkutan terhadap tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai pertambahan jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh semua lapangan usaha kegiatan ekonomi yang ada di suatu wilayah selama kurun waktu setahun (Hermawan 2019).

Rasio Ketergantungan merupakan variabel Bonus demografi, sedangkan bonus demografi adalah bonus atau peluang (window

(4)

of opportunity) yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan yang dialaminya. Di Indonesia fenomena ini terjadi karena proses transisi demografi yang berkembang sejak beberapa tahun lalu dipercepat oleh keberhasilan kita menurunkan tingkat fertilitas, meningkatkan kualitas kesehatan dan suksesnya program-program pembangunan sejak era Orde Baru hingga sekarang (Hermawan 2019).

3. Bonus Demografi Sebagai Petaka (Bad Impact)

Bonus demografi di Indonesia selain dapat menjadi kebaikan dapat pula menjadi suatu keburukan. Bila bonus demografi yang terjadi dapat tidak dapat dimanfaatkan dengan baik, maka akan menjadi petaka. Negara tidak akan mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang baik, masyarakatnya tidak akan lebih sejahtera, bahkan akan menjadi beban bagi negara (Dewi et al. 2018).

Berdasarkan penelitian Bappenas pada tahun 2017 Indonesia Diperkirakan mengalami bonus demografi pada tahun 2030-2040.

Penyiapan penduduk usia produktif di tahun 2030-2040 harusnya dimulai sejak sebelum tahun 2000. Mereka mereka ini di tahun 2030-2040 adalah penduduk usia produktif yang harus menanggung pendududk usia non poduktif. Penyiapan penduduk usia produktif adalah dari sisi pendidikan dan kesehatan (Dewi et al. 2018).

Dari sisi pendidikan, menurut sensus penduduk tahun 2000 pendidikan pekerja diIndonesia terbesar adalah sekolah dasar.

Begitu pula yang mencari kerja. Dengan rata rata pendidikan di Indonesia baru sampai SMP tampaknya akan susah para penduduk usia produktif ini mencari kerja khususnya untuk sekktor formal sehingga pada akhirnya mereka akan terlempar ke sector informal.

Kalaupun mereka tidak masuk sector informal, maka mereka kan

(5)

mejadi penganggur. Penganggur akan menjadi beban bagi negara (Dewi et al. 2018).

4. Faktor Penentu Keberhasilan Bonus Demografi

Bonus Demografi dapat mendatangkan keuntungan yang besar bagi Indonesia. Dengan persiapan yang baik dan investasi yang tepat, Bonus Demografi bisa mengubah masa depan Indonesia menjadi lebih sejahtera dan maju. Namun keberhasilan dalam memanfaatkan Bonus Demografi sangat dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu:

1) Kualitas pendidikan.

2) Kualitas kesehatan.

3) Ketersediaan lapangan kerja.

4) Konsistensi penurunan angka kelahiran melalui program Keluarga Berencana.

Pada fase Bonus Demografi jumlah anak muda sangat besar sebagai kelompok produktif yang telah memasuki usia kerja.

Sehingga pengelolaan ketenagakerjaan yang baik, menjadi pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah.

Pengelolaan ketenagakerjaan yang baik dengan mempersiapkan angkatan kerja yang berkualitas, akan menentukan keberhasilan pemanfaatan Bonus Demografi. Untuk itu dalam mempersiapkan angkatan kerja yang berkualitas haruslah dilihat dari aspek kualitas pendidikan, kualitas kesehatan dan kecukupan gizi (Achmad & Sutikno 2020).

(6)

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, O. & Sutikno, N., 2020, BONUS DEMOGRAFI DI INDONESIA.

Aji Setiawan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, S. & Keuangan, K., 2018, MENGOPTIMALKAN BONUS DEMOGRAFI UNTUK MENGURANGI TINGKAT KEMISKINAN DI INDONESIA OPTIMIZING DEMOGRAPHIC DIVIDEND TO REDUCE POVERTY RATE IN INDONESIA, vol. 2.

Dewi, S., Listyowati, D. & Napitupulu, B.E., 2018, “BONUS DEMOGRAFI DI INDONESIA : SUATU ANUGERAH ATAU PETAKA,” Agustus, 2(3), 8700.

Hermawan, I., 2019, Analisis Pengaruh Bonus Demografi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Jurnal Aktiva 1(2); 32-48.

Referensi

Dokumen terkait

kenaikan jumlah penduduk yang tidak terkendali, pada suatu saat akan melampaui.. daya dukung lingkungan yaitu kemampuan suatu daerah

1) Jumlah penduduk usia produktif atau usia kerja yang semakin banyak maka tingkat konsumsi akan semakin besar dikarenakan usia produktif yang sudah mampu bekerja

a. Pertumbuhan ekonomi meningkat melebihi jumlah pertumbuhan penduduk.. Sumbangan dari sektor primer meunurun, sedangkan sektor sekunder meningkat, sementara itu sektor

Pada tingkat Taman Kanak-Kanak hingga ke jenjang pendidikan SLTP Kecamatan Bagan Sinembah jumlah sekolah yang tersedia lebih banyak bila dibandingkan dengan sekolah yang terdapat

Pemilihan peralatan hanyalah konsekuensi dari memilih metode terbaik dari sejumlah alternatif yang dihasilkan dari pemeriksaan masalah "memberikan jumlah yang tepat

dengan jumlah hasil penjualan sebesar Q, namun mengingat jumlah penduduk yang semakin banyak dan pendapatan yang meningkat pada jangka panjang maka akan menyebabkan

Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang menunjukan jumlah kelompok usia non produktif (0-15 tahun dan di atas 65 tahun) yang ditanggung oleh kelompok

apabila APB meningkat berarti terjadi peningkatan aktiva produktif bermasa lah dengan persentase lebih besar dibandingkan persentase peningkatan total aktiva